Tuan Pos datang pagi tadiMengantar surat beramplop putihSatu pertanyaan sederhana menantiku di depan pintu
Jika Tuhan memberimu 'kunci' surga
Akankah kamu masih beribadah kepadaNya?
Akupun diam seribu bahasa
Sambil tak hentinya menangisi pertanyaan
yang tak bisa kueja jawabannya
Jadi selama ini
Ibadah ini untuk siapa?
Tuhan ...
atau
....... SURGA!!!
Seperti kata Ralph Waldo Emerson pada gambar di atas, hidup saya saat ini mungkin sedang diliputi dengan dunia imajinasi. Bukan dunia imajinasi seperti yang tertuang dalam film-film fantasi tapi imajinasi tentang suatu peristiwa atau keadaan yang akan terjadi dalam kehidupan yang saya jalani. Entah namanya apa, yang jelas akhir-akhir ini pikiran saya sering diliputi oleh khayalan-khayalan yang semula saya yakini akan terjadi dalam hidup ternyata bernilai nisbi.
Hidup yang saya jalani selalu berlandaskan pada perasaan percaya diri dan optimisme. Itulah sihir ampuh yang mampu menjadi semacam kafein bagi pikiran saya untuk senantiasa bergerak maju, berkreatif dalam taraf yang (mungkin) mencengangkan bagi sebagian orang. Tapi, setelah melalui proses pengendapan dan serangkaian perenungan, ternyata apa yang saya imajinasikan ternyata memang sulit (setidaknya belum) untuk diwujudkan dalam kenyataan.
Dua kali mengalami kekalahan dalam kompetisi blog yang memiliki taraf internasional membuat saya jadi berpikir ulang, mungkin memang taraf saya baru tingkat nasional saja. Namun demikian, ketika saya membaca buku Profesor Yohanes Surya yang berjudul Mestakung, ada satu teori yang saya ingat dan sepertinya terpatri dalam memori saya ini, bahwa jika kita bekerja, berpikir, dan melakukan sesuatu sehingga segala apa yang kita lakukan sepertinya mengarah pada hal yang kita pikirkan, seluruh semesta ini seperti tertarik suatu gaya atau energi yang dapat membantu mewujudkan apa yang sedang kita lakukan.
Misalnya seperti ini, dulu sewaktu saya mengikuti lomba menulis tingkat dunia yang panitianya berpusat di Jerman, dunia kehidupan yang saya lalui seolah-oleh juga mengarah pada Jerman semata. Mulai dari kejadian yang tiba-tiba mengarahkan saya ke gantungan kostum klub sepak bola Jerman, melakukan blogwalking yang ternyata tersasar ke blog seorang temannya teman saya yang sudah ke Jerman, pergi ke toko buku dan pameran buku pun seolah-olah ada yang mendorong kaki saya dan mengarahkan mata saya untuk melihat buku-buku tentang latihan bahasa Jerman. Terakhir yang menjadi gong dan pukulan besarnya adalah salah satu teman keluyuran saya tiba-tiba saja mengabari kalau dirinya sudah berada di Jerman dan dengan sengaja memameri saya foto-fotonya di facebook.Apakah saya termasuk orang yang obsesif?Mungkin juga. Tapi saya selalu berpegang pada prinsip dan hukum kekuatan energi seperti dalam Mestakung. Kejadian serupa pun terjadi juga beberapa minggu yang lalu yaitu ketika saya sedang konsentrasi dan giat-giatnya untuk mengejar beasiswa summer course di Utrech University, Belanda. Semuanya terasa seolah-olah mendukung langkah saya dan mencoba memberikan 'tanda' bahwa apa yang saya lakukan sudah berada di jalannya. Contohnya bukan hal yang disengaja ketika berada di salah satu mart besar ibukota, apa yang tampak oleh mata saya pertama kali adalah kostum sepak bola nasional Belanda. Ketika membaca-baca buku atau surat kabar, yang muncul adalah informasi atau berita yang ada sangkut pautnya dengan Belanda, baik kultur masyarakatnya, pesona daerahnya, sekolah dan sistem pendidikannya, sampai dengan maskapai penerbangan menuju Belanda berikut informasi bagaimana proses pengajuan visanya. Sebagian yang saya tulis di atas merupakan beberapa renik yang seolah-olah 'menghantui' langkah saya untuk bisa dan terus semangat dalam mendapatkan hadiah studi di Belanda.Namun apa daya, keputusan juri tidak dapat diganggu gugat. Segala yang terjadi sudah berlalu. Dan saya mendapat sedikit pemikiran yang menjentik diri ini untuk sejenak berefleksi atas potongan-potongan kejadian yang menjadi mozaik dan memberikan warna bagi hidup yang saya jalani. Saya jadi berpikir bahwa mungkin saya harus lebih mempersiapkan modal saya untuk pergi ke luar negeri. Persiapan materi tentu bukan persoalan biasa yang menjadi catatan dan PR tersendiri bagi saya. Yang kedua adalah soal bahasa. Walaupun mampu berbahasa Inggris namun kenyataannya waktu ketemu langsung dengan bule Jerman saat keluyuran di Bali dan Pangandaran, bahasa Inggris saya bisa dikatakan berantakan. Ini yang patut jadi catatan merah juga, mungkin saya hanya pede bicara Inggris dengan orang Indonesia saja. Atau pede ngomong Inggris dengan bule hanya pada saat chatting di facebook saja, tapi ketika bertatap muka langsung, ada semacam perasaan nervous atau apa yang membuat lidah ini kelu sehingga tak sanggup untuk menjawab pertanyaan sederhana tentang di mana letak money changer berada. Padahal pada saat santai, untuk menunjukkan direction ke suatu tempat bisa ngecipris ngalor ngidul.Yang lebih penting dari itu semua, sepertinya saya diajari untuk tidak terlalu bergantung kepada orang lain dan lebih bisa hidup mandiri. Termasuk dalam berkreatif dalam dunia blog. Meminta-minta komentar dari orang yang kadang tidak kenal, walaupun mengasyikkan, kok sepertinya cheapshit sekali. Itu mungkin nanti yang (tidak) akan saya lakukan jika mengikuti suatu kompetisi lagi. Saya hanya terus berdoa dan berusaha bahwa setiap apa yang saya lakukan murni dari hati dan bersumber dari hasrat pribadi, bukan karena bujukan dari seorang teman atau orang lain. Saya senang dengan apa yang saya lakukan. Namun, saya mulai agak mempertanyakan segala sesuatu yang dipetakan oleh imajinasi saya. Sepertinya, jika imajinasi ini terlalu liar dan tak terbendung, beban pikiran yang akan disangga pun juga terlalu berat. Saya tidak ingin melakukannya lagi. Tapi, terlebih dari itu semua, saya menyenangi imajinasi. Jadi, dilema traumatis untuk tidak mau distir imajinasi juga tercampur dengan keinginan kuat untuk berimajinasi. Pusing kan.Saya juga pusing karena jangan-jangan apa yang saya ocehkan dari tadi tak lebih dari omong kosong yang disetting oleh makhluk tak bernama namun terasa ada yaitu imajinasi. Silakan merayakan imajinasi Anda sendiri. Selamat mengalami. Gambar dipinjam dari sini.
Bulan Februari lalu saya sempat 'keluyuran' ke Bali. Segala sesuatu yang tadinya hanya saya tahu dari obrolan dengan teman, akhirnya dapat saya saksikan dengan mata kepala sendiri. Bali dengan segala kompleksitas akan benturan dengan alam global, masyarakatnya masih setia untuk memegang teguh tradisi yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat.Saya cukup terkejut ketika membaca sebuah berita mengenai perayaan Saraswati yang berlangsung pada hari Sabtu tanggal 27 Februari 2010 lalu. Perayaan yang ada di pikiran saya adalah sebatas bentuk doa-doa dan penghormatan kepada Yang Maha Kuasa. Ternyata esensi dari perayaan Saraswati lebih dari sekadar penghargaan dan penghormatan kepada ilmu pengetahuan. Masyarakat Bali melakukan upacara penghormatan terhadap ilmu pengetahuan melalui penghormatan kepada Dewi Saraswati, nama suci dewi ilmu pengetahuan yang digambarkan mempunyai empat lengan yang masing-masing membawa buku, ganitri, wina, dan bunga teratai. Simbol-simbol tersebut mempunyai arti dan filosofi tersendiri. Buku atau dalam hal ini bisa berarti lontar merupakan representasi dari kitab suci Wedha yang berarti bahwa pengetahuan bersifat universal dan abadi. Ganitri atau tasbih diartikan sebagai simbol kekuatan spiritual melalui meditasi, sebuah penyatuan diri dengan alam semesta. Hal ini dapat dipahami bahwa usaha untuk mempelajari suatu khasanah ilmu pengetahuan haruslah bertujuan sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik, bukan untuk menyebar teror dan kerusakan alam semesta.Wina berarti kecapi, merupakan simbol dari keindahan atau nilai estetika yang dikandung dalam suatu ilmu pengetahuan. Sedangkan bunga teratai sendiri merupakan simbol kesucian yang mengandung arti dari sebuah esensi kesucian ilmu pengetahuan. Keempat benda yang dipegang Dewi Saraswati tersebut merupakan aspek yang menjadi simbol akan hakikat manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan yakni mampu mengombinasikan nilai-nilai intelektualitas dengan nilai-nilai spiritual penyatuan dengan alam semesta untuk menghikmati suatu keindahan dan kesucian dari ilmu pengetahuan yang akan mendorong pada satu konsepsi tentang hakikat kemanusiaan seseorang di hadapan Tuhan. Bahwa ilmu tak ubahnya merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Saya cukup beruntung diberi satu kalender penanggalan Bali oleh supir saya, yang walaupun kelihatan agak ruwet tapi menarik untuk dipelajari. Hari raya Saraswati diperingati setiap 210 hari yang jatuh setiap Sabtu Umanis Watugunung yang salah satunya jatuh pada tanggal 27 Februari 2010. Pada hari itu kegiatan membaca dan menulis ditiadakan untuk memberikan penghormatan terhadap buku. Semua lontar dan bahan-bahan literasi seperti Kitab Suci Wedha, buku, novel, koran, komik, dan lain-lain dikumpulkan jadi satu untuk dibersihkan dan diberi sesaji seperti beras wangi, air kembang dari tujuh mata air, dan tumpeng.Pada hari Minggunya, yaitu Minggu Paing wuku Sinta adalah Banyu Pinaruh yang merupakan kelanjutan dari perayaan Saraswati. Sebelum memanjatkan doa, umat Hindu di Bali melakukan ritual mandi suci dan memotong rambut sebagai wujud penyucian diri. Setelah itu, acara pemanjatan doa dilakukan sebelum matahari tegak lurus dengan bumi, memohon agar buku yang disucikan dapat membawa pencerahan, sumber kebajikan dan pengetahuan. Ritual tersebut ditutup dengan prosesi minum air dari tujuh mata air dan jamu yang mengandung enam rasa sebagai wujud ilmu pengetahuan. Terakhir yaitu mandi di laut sebagai simbol untuk pembersihan diri lahir dan batin.Kalau kita pikir, ribet sekali untuk merawat buku. Tapi bukan itu esensinya. Tradisi merawat buku di Bali merupakan bagian dari ritual agama yang dimanifestasikan dalam perayaan Saraswati. Saya pikir informasi ini penting untuk diketahui oleh masyarakat luas agar lebih peka untuk memerhatikan siklus hidup dari sebuah buku. Bukan ritual minum, mandi, dan pemberian sesaji yang perlu kita teladani sebagai masyarakat umum, namun sikap masyarakat Hindu Bali yang peka terhadap kelangsungan hidup siklus suatu media literasi itulah yang patut kita teladani dan kembangkan.Jika kita pernah mendengar bahwa koleksi buku sebuah perpustakaan X rusak akibat di makan rayap atau lusuh karena tidak dirawat, sudah saatnya kita membuka mata untuk peka terhadap perawatan buku, berawal dari perhatian bagi buku-buku yang kita miliki atau biasa kita pinjam di perpustakaan.Saya pernah menulis sebuah catatan tentang sikap saya terhadap buku. Tulisan tersebut berjudul Bersahabat dengan Buku: Sebuah Ritual Kecil Menghargai Buku. Setelah mengetahui seluk beluk tradisi Saraswati, akhirnya saya berpikir bahwa yang saya lakukan tidak jauh berbeda maksudnya dengan apa yang dilakukan masyarakat Bali. Saya jadi berpikir dan sedikit terhenyak. Pantas saja ada keluarga-keluarga tertentu di Bali yang memiliki koleksi lontar atau bahan-bahan literasi kuno yang diwariskan dari generasi ke generasi.Saya jadi ingat tentang pelajaran sejarah waktu SMU dulu (saya lulus SMU tahun lalu sih ... xixixixi ... hayah) yang menyatakan bahwa ketika Majapahit runtuh, banyak prajurit, brahmana, maupun budayawan yang lari menyelamatkan diri ke arah timur menuju Bali hingga Lombok dengan membawa lontar-lontar penting untuk diselamatkan. Bahkan, kalau tidak salah, lontar Kitab Negara Kertagama pun ditemukan di Puri Pamotan Cakranegara, Gianyar. Melihat kenyataan tersebut bahwa lontar-lontar 'penting' itu masih terawat hingga kini membuktikan bahwa ada usaha keras dan berkesinambungan untuk merawat suatu bahan literasi. Seperti yang saya katakan di atas bahwa merawat buku tidak harus dengan ritual mantra doa seperti dalam perayaan Saraswati, namun perayaan Saraswati dapat dijadikan cerminan bahwa memberikan sedikit perhatian kapada buku dan membuat siklusnya menjadi panjang dengan merawatnya adalah sebuah langkah luhur sebagai bagian dari pengagungan ilmu pengetahuan. Suatu sarana yang dapat mengajarkan dan mengantarkan kita untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Gambar dipinjam dari sini.

Hari ini diperingati sebagai Hari Kasih Sayang. Sebagian warga di seluruh penjuru dunia menghikmatinya dengan merayakan hari istimewa ini bersama pasangannya, lengkap dengan kado seikat mawar merah atau sebatang cokelat. Ekspresi kasih sayang dapat berupa apa saja dan dapat ditujukan kepada siapa saja. Termasuk kepada tanah air tercinta.Menghindari acara hiruk pikuk euforia perayaan Hari Valentine di ibukota Jakarta, saya justru belajar mengenai hangatnya sebuah ekspresi cinta kasih melalui sebuah buku. Memang bukan melulu cinta kasih antar insan yang berusaha ditekankan dalam buku ini, melainkan cinta kasih seorang manusia kepada bangsa dan negara tercinta yaitu Indonesia.Manusia itu bernama Soe Hok Gie, pemuda keturunan Tionghoa yang lahir pada tanggal 16 Desember 1942 di Jakarta yang kemudian dikenal sebagai seorang aktivis mahasiswa. Ia digambarkan sebagai sosok idealis dan berani menentang segala ketidakbenaran, kesewenang-wenangan sikap penguasa dan menyerukan tentang nilai luhur sebuah penghargaan atas nilai-nilai kemanusiaan dan indahnya kejujuran.Buku yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia, bekerjasama dengan Universitas Indonesia, ILUNI Universitas Indonesia, dan Kompas, serta mendapat dukungan dari berbagai pihak ini, bertujuan untuk menghadirkan kembali sosok Gie yang pernah ada di era tahun 1960-an yang berani melawan tindakan yang dianggap menyengsarakan rakyat, buah dari tingkah polah pemerintah. Keinginan untuk menghadirkan lagi sosok Gie tersebut dilandasi pemikiran bahwa kondisi sosial politik pada saat ini tidak jauh berbeda dengan keadaan di tahun 1960-an. Banyak kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro-rakyat, aparat penegak hukum yang mempermalukan kredibilitasnya, anggota parlemen yang sibuk dengan urusan partai dan kepentingan pribadinya, lupa bahwa mereka duduk di sana dititipi suatu amanah untuk menyalurkan aspirasi rakyat.
Kuali Kenangan tentang Soe Hok GieSebagai sebuah cerita kenangan tentang seseorang dan suatu peristiwa yang terjadi di masa lampau, buku setebal 512 halaman ini dibagi menjadi menjadi lima bagian yang tersusun berdasarkan kedekatan dari kontributor penulis dengan sosok Soe Hok Gie yang menjadi sentral pembahasan baik mengenai kehidupan pribadinya maupun sikap dan pandangannya terhadap suatu permasalahan.Bagian pertama berisi kenangan Rudy Badil tentang sepak terjangnya bersama teman-teman seperjuangannya yang akan 'keluyuran' menaklukkan gunung Semeru termasuk Soe Hok Gie. Di bagian ini diceritakan tentang lika-liku perjalanan rombongan tersebut mulai dari Jakarta yang naik kereta gerbong barang menuju Surabaya hingga kesulitan-kesulitan yang ditemui saat mendaki Gunung Semeru hingga akhirnya diketahui bahwa Soe Hok Gie dan Idhan Lubis (anggota pendaki yang lain) meninggal di puncak Semeru akibat menghirup gas beracun. Cerita berlanjut tentang proses evakuasi jenasah dari Puncak Semeru yang melibatkan banyak pihak dan mengandung banyak cerita haru dan decak kagum dengan perhatian masyarakat terhadap almarhum Soe Hok Gie.Bagian kedua berisi tentang Soe Hok Gie dalam kaitannya dengan Gunung Semeru. Di bagian ini diceritakan tentang prosesi pemakaman jenazah Soe Hok Gie setelah berhasil dievakuasi dari Gung Semeru. Selain itu dijelaskan tentang keadaan geografis Gunung Semeru dalam kaitannya untuk menggali ingatan-ingatan tentang Soe Hok Gie saat napak tilas lagi rute pendakian.Bagian ketiga agak lebih menarik. Di sini banyak kejutan-kejutan yang akhirnya membuka tabir tokoh-tokoh yang namanya disamarkan karena alasan privasi dalam buku Catatan Seorang Demonstran (CSD)-nya daniel Dhakidae. Sebut saja Nurmala Kartini Pandjaitanatau lebih dikenal dengan Kartini Sjahrir dan panggilan akrab Ker. Namanya disamrkan menjadi Sunarti. Di buku ini beliau ingin semuanya menjadi jelas, termasuk kedekatannya dengan Gie. "Siapa yang ganti nama gue jadi Sunarti di buku itu? Gue pernah berteman dengan Gie sejak 1968, karena kita kan pernah jadi mahasiswa Gie tahun 1969" (hal. 147).Selain hobi membaca buku, Gie juga menyukai film. Selain rajin memutar film di kampusnya, Fakultas Sastra UI Rawamangun (sekarang Universitas Negeri Jakarta). Gie juga sering ke bioskop atau menyatroni kedutaan-kedutaan asing seperti kedutaan Ceko, Rumania, dan Perancis untuk menonton film. (hal. 173).Bagian keempat berisi tulisan dari 'the angry young man', orang-orang yang tidak secara langsung mengenal Soe Hok Gie karena hidup dalam masa yang berbeda, namun mengagumi kisah hidup dan terinspirasi oleh buah pemikirannya sehingga dapat menggerakkan mereka untuk bertindak dan mengambil peran dalam masyarakat. Yang masuk kategori kontributor penulis ini antara lain ada Riri Riza, sutradara yang pernah mengangkat kisah hidup Soe Hok Gie je layar lebar (hal. 267). Aktor Nicholas Saputra juga turut menyumbangkan tulisan. Tulisannya di sini patut diperhitungkan baik dari segi maupun diksi yang dipilihnya (hal. 277). Selain itu ada Mira Lesmana (hal. 283), N. Riantiarno (hal. 289), dan lain-lain yang isinya antara lain tentang pandangan betapa buah pikiran Soe Hok Gie mampu memberikan inspirasi untuk bergerak menentang segala ketidakadilan. Bagian kelima adalah tulisan-tulisan Soe Hok Gie yang pernah dimuat di surat kabar era 1960-an. Tulisan-tulisan ini walaupun isinya masih relevan dengan keadaan sekarang, namun sudah tidak terlalu 'berbahaya' saat dipublikasikan sekarang. Namun, ketika kita bicara pada konteks di zaman tulisan tersebut dipublikasikan di media masa, kita akan paham betapa beraninya dan betapa 'gila'-nya Soe Hok Gie dalam menentang segala bentuk ketidakadilan yang melecehkan nilai-nilai luhur kemanusiaan.Soe Hok Gie ... (bukan) Dewa.Dalam buku ini Soe Hok Gie menjadi tokoh sentral dalam pembahasannya. Ia dikenang sebagai pribadi yang idealis dan berani menentang ketidakadilan. Dan sepertinya, hal itu telah menjadi pilihan dalam hidupnya. "Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan harus menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya. Kadang, saya takut apa jadinya saya kalau saya patah-patah ..." (hal. xiii).Pilihan untuk menjadi idealis tak jarang mendorongnya untuk melakukan penentangan. Hal-hal yang berlaku tidak wajar dan mengandung sesuatu yang menyalahi nilai-nilai kebenaran dan kejujuran menjadi sasaran empuknya untuk melakukan aksi protes. Dan sepertinya sikap seperti ini sudah mulai sejak kecil. Soe Hok Gie pernah memprotes gurunya karena suatu materi yang diajarkan menurutnya tidak benar. Karena didebat, guru tersebut naik pitam dengan buntut diturunkannya nilai Soe Hok Gie dalam mata pelajaran tersebut. Dalam catatan hariannya, Soe Hok Gie menulis: "Guru model begituan, yang tidak tahan dikritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau." (hal. 99).Sama seperti pendapatnya bahwa guru bukan dewa, Soe Hok Gie pun juga bukan manusia sempurna. Segala bentuk diskripsi dalam buku ini yang mengatakan bahwa Soe Hok Gie merupakan pemuda yang luar biasa, luar biasa dalam segala hal, cerdas, brilian, jujur dan terbuka, seorang idealis murni dengan perasaan keadilan yang tajam, bukan bermaksud untuk mengkultusindividukan, tidak juga memaksakan, melainkan menawarkan nilai-nilai keteladanan, terutama integritas dan kebersihan hati. Sisi lain Soe Hok Gie selain menyukai buku, debat serius tentang politik, adalah betah nongkrong di asrama mahasiswa, 'ngomong jorok', dan nonton blue film yang tak berjudul (hal. 301). Itu sangat manusiawi. Dalam ketegasan dan kekonsistenannya, Soe Hok Gie juga menyimpan kegalauan dalam hati akibat protes-protes yang dilakukannya dan penentangan orang lain terhadap protes itu. Orang jadi menganggapnya 'lain'. Namun, Soe Hok Gie tetap jalan terus, menuntun keidealisannya sampai sejauh-jauhnya."Saya berpikir-pikir, mengapa saya harus selalu menjadi orang baik. Sometimes I just want to be myself. Saya tak mau peduli dengan basa-basi. Saya pikir sekali-kali, orang juga harus mengerti perasaan saya. Mengapa harus selalu saya?" (hal. 182).Kegalauan-kegalauan seperti itu kadang kala membuatnya agak berpikir kembali dengan kritik-kritik yang dilakukannya. Ia merasa kritik-kritiknya tidak mengubah keadaan dan malah membuatnya banyak musuh. Dalam suatu catatan hariannya, kadang-kadang ia merasa kesepian. Kegalauannya ini mendapat reaksi positif dari teman Amerikanya yang mengatakan bahwa "Gie, seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tetapi, sesudah kekuasaan baru ii berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan." (CSD hal. 2-3).Mungkin, surat dari teman Amerikanya inilah yang kemudian memantabkan hatinya sehingga pendiriannya menjadi teguh untuk memegang prinsip 'lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan'. Prinsip yang selalu ia pegang hingga raga di kandung tanah. Tanah yang diperjuangkan dan dicintainya. Indonesia. Selamanya. Sekalipun banyak orang mengata-ngatainya China. Gambar dipinjam dari sini dan sono.
Hidup adalah sebuah proses tentang perjalanan waktu. Cerita tentang suatu alur yang membentuk dongeng yang menuntut untuk selalu diteruskan. Narasi kehidupan akan hadir seiring dengan tertatihnya waktu. Keindahan bahasanya sangat tergantung kepada seberapa beraninya kita mengambil langkah untuk berspekulasi dengan ketidakpastian. Hidup adalah juga lagu yang menanti untuk dinyanyikan. Seberapa getirnya lagu tersebut bermelodi, tetap saja tak akan lupa memberimu kejutan tak terduga akan indahnya suatu filosofi.Hidup juga berarti rentetan suatu pertanyaan. Seberapa jauhnya dirimu bisa menjawab, tergantung kepada seberapa jauhnya kamu mulai sadar akan hakikat kehidupan. Mencari dan terus mencari tahu, bertanya dan terus bertanya-tanya, serta menduga dan konsisten membuat suatu hipotesis merupakan jembatan untuk mencapai jawaban itu. Jawaban dari suatu pertanyaan sederhana yang bersumber dari satu tanda tanya agung. Ada kalanya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu terpampang jelas di depan mata. Hadir begitu dekat sehingga tak perlu buang banyak energi untuk mencari tahu. Kadang-kadang jawaban itu juga manja sekali untuk dicari tahu. Ia bersembunyi sebentar agar kita senantiasa bersabar dan menunjukkan integritas untuk mencarinya. Tantangan terbesarnya adalah mencari yang tak dapat dicari dan berusaha menemukan yang tak dapat ditemukan. Itu hanya bisa didapatkan dari proses perjalanan. Perjalanan waktu maupun perjalanan tempat. Pengalaman.Hidup juga berarti rangkaian suatu tanda titik. Banyak sekali titik-titik di bumi ini yang haus untuk dihubungkan. Dari titik-titik itulah jalan mencari jawaban juga terbentang. Pertanyaan selanjutnya, jika dunia ini penuh dengan titik-titik yang runut untuk dihubungkan dan dicari keterhubungannya, mengapa ada orang yang puas hanya berdiam di satu titik? Kembali ingatanku diterbangkan kepada memori dari petuah agung sang ulama Imam Syafi'i tentang indahnya suatu perjalanan, pergerakan. Sebuah hijrah."Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang."Hijrah. Sebuah perjalanan. Banyak sekali yang akan didapatkan dari rangkaian suatu perjalanan. Jika ada peribahasa janganlah seperti katak dalam tempurung, maka suatu perjalanan yang akan membawamu ke dalam relung-relung kehidupan akan mengajakmu lebih dari sekadar keluar dari tempurung. Kau akan tahu bahwa apa yang terjadi dalam hidupmu, dalam keseharianmu, dalam kelaziman di sekelilingmu mungkin saja lebih baik atau bahkan malah lebih buruk dari apa yang terjadi di tempat lain. Tidakkah kau ingin mencari mutiara-mutiara kebaikan yang tertanam jauh dari tempat di mana dirimu tenang bersemayam?Ah. Rumah tentu saja. Tempat itu menjanjikan ketenangan dan kenyamanan kehidupan. Tapi, tak pernahkah terlintas di benakmu, bahwa tanda tanya agung juga memberikan PR bagi kita untuk menyadari bahwa dalam suatu ketenangan hidup seringkali tersimpan kehidupan yang melenakan ingatan. Dalam suatu air yang tenang tak ubahnya menyimpan tenaga yang menghanyutkan. Rumah memang suatu zona aman. Tempat berteduh maupun berkembang biak. Menurunkan ketenangan-ketenangan yang akhirnya menjelma kesalahan beruntun berkesinambungan. Menuju kesalahkaprahan. rindu. aku ini memang selalu rindu untuk pulang. tapi saban kali juga tak betah. petualang sekaligus pencinta rumahSebuah dilema menjadi seorang pejalan jauh. Aku lebih suka menyebutnya demikan untuk mewakili petualangan-petualangan kecil yang kulalui demi mencari jawaban atas tantangan dan pertanyaan kehidupan. Di satu sisi, rumah menawarkan kerinduan yang mencandu. Di saat yang lain, rumah serupa kebosanan yang merengek untuk segera ditawarkan. Rumah mengingatkan kita semua akan suatu kegundahan-kegundahan di masa depan. Dilema menjadi tua dan segenap permasalahan hidup yang mengikutinya. Namun inilah yang dinamakan pilihan. Menjadi petualang sekaligus pencinta rumah. Sebuah proses kehidupan yang layak dipilih dan dipertanggungjawabkan yang jarang jadi pilihan kebanyakan orang. demikianlah musafir: kita takut menjadi tua. namun juga tak pernah bisa kembali menjadi bayi, menjadi kanak-kanak. kecuali bila kita ciptakan lagi kelahiran. di saat halte mau membimbing kita ke peristirahatanAh, puisi. Selalu saja dirimu lugu bersolusi. Indah bahasamu seakan menawarkan kerinduanku pada rumah. Engkau mahir menjadi tongkat penunjuk untuk hati dan imanku yang kadang goyah untuk menjadi penjelajah. Sesuai dengan ide yang menari-nari di kepalaku. Bahwa dengan perjalanan yang kulakukan, aku yakin akan menemukan ilmu-ilmu baru, pengetahuan-pengetahuan yang mencengangkan, bertemu dengan bermacam-macam orang dengan beraneka latar belakang. Aku yakin akan menemukan filosofi kehidupan. Memetik pengalaman, membuat penilaian, menimbang-nimbang rasa kehidupan, hingga menarik kesimpulan. Menakar suatu nilai maupun mengadopsi suatu pemikiran. Karena bukan suatu jalan dari pilihan orang banyak, maka siap-siaplah dirimu dengan konsekuensi yang akan kau terima dari orang-orang awam yang akan menjadi juri dari langkah yang kau pilih. Ah, biasa saja. Mereka memang seperti itu. Jumlahnya mayoritas, mulutnya banyak, dan seringkali mahir mengolok-olok. Karakter yang hanya cocok untuk satu peran dalam sandiwara kehidupan. Menjadi penonton. Lalu, jika dirimu seorang terpelajar, ilmu dan pengetahuan menjadi teman sekaligus sahabat terbaik, kebiasaan bertanya-tanya dan merayakan kebebasan berlogika menjadi tradisimu, akankah dirimu mau menjadi pribadi yang tak akan dikenal oleh siapapun. Manusia yang tertutup oleh jumlah mayoritas dalam komunitas. Silakan kembali pada iman masing-masing. Hanya hati yang tahu dan akan berbisik untuk menunjukkan suatu jawaban besar dari pertanyaan sederhana dalam hidup. Sebuah kenyataan.Hidup memang jalinan yang menawarkan pilihan-pilihan. Ke mana hatimu bertaut, di situlah oasemu bersemayam. Dalam kepalamu tertanam banyak cahaya yang bertahan untuk membuncah memuntahkan sinar. Begitu pula, terangkum penjara yang menggiringmu ke arah kepicikan berpikir. Karena itu, ikutilah keinginan hati untuk melakukan suatu perjalanan.Merekam tradisi dan pengalaman untuk dijadikan cermin dalam sebuah bingkai rona kehidupan.salam bagimu peziarah muda. hatimu telah mencatat peristiwa-peristiwa kecil yang dilupakan dunia. ke mana nyerimu melangkah, ke sana jantungmu mencariTidak semua ocehanku layak kau ikuti. Tidak semua tindakanku layak kau lakukan juga. Aku hanyalah seorang yang haus akan sebuah perjalanan. Petualangan-petualangan kecil yang kutemui hanyalah renik dari ketetapan-ketetapan hukum Ilahi dan pesan yang dikidungkan oleh puisi-puisi. Aku yang mencoba merangkai pengalaman dalam hidup hanyalah seorang turis yang bertamasya dalam diri. Demi sebuah pencarian agung dari jawaban yang menggantung di ujung tanda tanya dari proses kehidupan. Pencarian jati diri.* Puisi dikutip dari Perjalanan Pulang karya Joko Pinurbo dalam buku kumpulan puisinya Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung (Gramedia Pustaka Utama, 2007)Gambar dipinjam dari sini.
Sebuah dilema besar untuk menulis catatan ini. Pertama karena saya masih (sedikit) tergantung dengan plastik. Kedua, sepertinya saya mengalami kesulitan untuk menghilangkan ketergantungan tersebut walaupun selalu berusaha untuk menguranginya. Tapi karena menurut saya isu ini penting untuk ditulis, jadi tetap saja saya semangat untuk menulisnya.Sudah bukan rahasia umum lagi kalau plastik sudah menjadi teman akrab bagi kita semua. Hampir semua kegiatan yang kita lakukan dalam kehidupan ini bersentuhan dengan yang namanya plastik. Hal tersebut sangat terasa sekali bagi orang-orang yang hidup di lingkungan perkotaan. Bagaimana tidak, tiap kali belanja ke supermarket, plastik adalah sarana yang ampuh walau hanya untuk memindahkan barang dari troli menuju bagasi mobil. Coba Anda bayangkan sejenak. Benarkah hal itu terjadi pada kehidupan Anda? Apakah Anda juga melakukannya?Plastik bagi sebagian kalangan merupakan benda yang sangat bermanfaat. Namun di sisi yang lain, penggunaannya yang berlebihan justru akan mendatangkan masalah baru dalam kesehatan lingkungan. Berapa banyak plastik yang Anda gunakan setiap hari? Jika Anda masih dalam status mahasiswa atau pelajar yang kebetulan tinggal di kos-kosan dan selalu makan di warung, tak jarang yang memilih untuk membungkusnya selalu menggunakan plastik. Jika jumlah makannya sebanyak tiga kali sehari, maka dalam sebulan ada sekitar 90 bungkus plastik yang berpotensi menjadi sampah untuk satu orang yang menggunakannya. Jika dalam suatu komunitas ada 100 orang saja yang makan di warung dan selalu membungkusnya dengan plastik, silakan Anda hitung sendiri dampak sampah plastik yang akan dihasilkan? Jumlah tersebut terus meningkat seiring dengan bertambahnya konsumen plastik.Di lain tempat, misalnya di supermarket, kita akan mendapati para pelayan yang sudah terampilnya mengangsurkan barang-barang belanjaan kita dalam sebuah kantong-kantong plastik. Mereka dengan cekatan membuat belanjaan kita masuk dalam wadah yang tidak kita sadari dapat berpotensi menjadi polutan lingkungan. Dan anehnya, mereka tidak menanyakan apakah ingin membungkusnya dengan kardus atau tidak. Memang hal ini menjadi dilema tersendiri. Pertama karena tidak ingin ribet. Antrian sudah menunggu, jadi diperlukan kepraktisan dalam hal pelayanan. Yang kedua adalah sarana promosi. Plastik belanjaan merupakan sarana promosi yang ampuh terhadap suatu produk agar mudah dikenali masyarakat. Logo yang tertempel di kantong plastik mempunyai daya untuk mendorong masyarakat memiliki hal yang serupa. Yang lebih parah lagi dari keanehan di atas adalah bagaimana mungkin para pelayan tersebut tidak mengisi kantong-kantong plastik tersebut dengan penuh. Baru mengisi dengan beberapa barang sudah mengambil kantong plastik baru untuk mewadahi barang lainnya. Selain itu, ada pula pemisahan untuk barang-barang konsumsi dengan barang-barang perlengkapan mandi sehingga perlu plastik lagi untuk membungkusnya. Percayalah, selama isi dari barang tersebut masih berada dalam kemasannya yang rapat, tidak akan ada kontaminasi antara barang yang satu dengan barang lain yang dimasukkan dalam satu kantong plastik. Jadi mencobalah untuk berpikir bijaksana. Plastik memang kadang kala cantik dipandang dan praktis dalam penggunaannya. Namun, dalam skala besar plastik juga mampu menjadi bumerang bagi kesehatan lingkungan karena plastik merupakan bahan yang sulit untuk diuraikan oleh tanah. Sudah banyak contoh yang terjadi di sekeliling kita berkaitan dengan kejahatan terselubung dari manisnya sebuah kantong plastik. Tentu kita masih ingat dengan jelas bahwa kota Bandung yang sering kita kenal sebagai kota kembang tiba-tiba saja berubah menjadi kota sampah. Dan di antara sampah yang menghiasi kota Bandung tersebut paling banyak adalah sampah plastik. Jadi istilah Bandung sebagai kota kembang bisa jadi dipelesetkan menjadi kota kembang plastik. Miris bukan?Belum lagi kalau kita lihat acara banjir tahunan yang melanda kawasan Jakarta akibat tidak terawatnya daerah sepanjang aliran sungai Ciliwung. Kalau kita lihat lebih seksama, komposisi sampah plastik menempati urutan teratas dalam hal jumlahnya. Belum lagi jumlah sampah yang menggunung di Bandar Gebang, Bekasi. Banyak sekali sampah plastik menumpuk dan menyajikan pemandangan yang sangat tidak sedap dipandang.Sampah plastik memang merupakan sebuah dilema. Di satu sisi sangat dibutuhkan, tapi disisi lain melahirkan PR yang harus dicari solusi pemecahan masalahnya. Walaupun begitu ada langkah-langkah sederhana yang dapat kita lakukan untuk meminimalisasi penggunaan kantong plastik.Pertama, jika akan berbelanja, perkirakan jumlah barang belanjaan Anda. Jika sekiranya jumlahnya banyak lebih baik meminta untuk membungkusnya dengan kardus. Beberapa supermarket sudah memberikan fasilitas bungkus kardus ini. Jika jumlah belanjaannya sedikit lebih baik membawa kantong belanjaan sendiri dari rumah yang bukan sekali pakai. Jika terpaksa harus memakai kantong plastik, usahakan kantong plastik tersebut digunakan dengan maksimal artinya satu kantong plastik diisi dengan bermacam barang sesuai dengan daya tampung dan kekuatan plastik.Kedua, menggunakan plastik dengan seperlunya. Maksudnya, jika sesuatu bisa dibawa tanpa perlu dibungkus dengan plastik, lebih baik dibawa saja tanpa pembungkus plastik. Hal ini bisa kita temui saat belanja buku. Beberapa toko buku sudah mulai sadar jika ada pembeli yang menolak menggunakan kantong plastik. Sebagai alternatif mereka akan memberikan stempel toko pada barcode yang tertempel di bagian sampul buku untuk menandai bahwa buku tersebut telah dibayar lunas.Ketiga, bagi pelajar, mahasiswa, atau siapa saja yang hidup di kos-kosan dan selalu makan di luar, sebaiknya makan di tempat saja. Selama tempat makan yang kita kunjungi cukup memenuhi sanitasi yang layak, saya kira aman-aman saja untuk bersantap di tempat makan. Kalaupun perlu dibungkus, cobalah untuk membungkusnya rame-rame baik dengan teman atau bisa juga digabung dengan belanjaan yang lain.Keempat, menyimpan kantong-kantong plastik yang belum dipakai dan masih layak pakai dan mencoba untuk menggunakannya dengan bijaksana. Usahakan untuk memilih kantong plastik sebagai pilihan terakhir untuk membungkus barang. Selama masih bisa dibungkus dengan kertas, lebih baik dibungkus dengan kertas saja.Kelima, pisahkan sampah plastik dengan sampah yang bisa didaur ulang. Beberapa tempat sampah sudah mengaturnya dengan menyediakan tempat secara terpisah. Jika belum tersedia di tempat Anda, silakan berinisiatif untuk memisahkannya supaya petugas sampah lebih mudah dalam memisahkannya.Keenam, yang ini yang masih menjadi dilema buat saya, untuk membungkus sampah di tempat sampah (sebagai wadah di tempat sampah) gunakan dahulu kertas yang agak tebal sebagai alasnya. Tapi sampai saat ini, saya masih belum menemukan media yang cocok untuk membungkus sampah di tampat sampah sehingga masih menggunakan kantong plastik sebagai alasnya. Jika kebetulan Anda tidak sengaja berada dan sempat-sempatnya membaca tulisan ini, silakan berbagi pengalaman dengan mempostingnya di kolom komentar.Plastik memang bermanfaat. Namun, jika kita tidak bijaksana dalam memanfaatkannya justru akan membawa kita dalam dunia yang penuh plastik. Jika penggunaan plastik tidak terkontrol, sementara produksi plastik kian meningkat, bukan tidak mungkin suatu saat dunia ini akan tertimbun oleh gunungan sampah plastik. Bukankah itu sebuah mimpi buruk? Maka dari itu, sebelum menjadi mimpi buruk, mari kita bangun mimpi yang lebih indah dengan sedikit peduli pada lingkungan sekitar kita. Pada bumi tempat kita berpijak. Salam lestari. ;=)Gambar dipinjam dari sini.
Namanya Subedjo. Biasa dipanggil Pak Bedjo. Pria. Menikah. Seorang Katolik yang (saya rasa) taat. Orangnya sederhana. Tidak neko-neko dan rajin bekerja. Pernah suatu ketika ada olok-olok yang mengatakan bahwa semua pekerjaan yang dilakukan oleh pelaksana, cukuplah Pak Bedjo saja yang mewakilinya.
Pak Bedjo adalah teman kantor saya. Mitra kerja saya dalam mengurusi masalah administrasi di kantor. Satu alasan kuat yang mendorong saya untuk menulis postingan ini hanyalah untuk mengingatkan diri saya pribadi dalam kaitannya dengan pengabdian saya sebagai pegawai di sebuah departemen di Indonesia tercinta ini. Saya pegawai baru. Baru dua tahun berkarya. Sementara Pak Bedjo sudah hampir pensiun. Bulan Agustus tahun ini Pak Bedjo akan mengakhiri masa bekerjanya sebagai pegawai negeri. Namun semangat dan daya juangnya untuk tetap bekerja bolehlah diacungi dua jempol. Mengapa? Karena berdasarkan pengamatan saya, orang yang mau pensiun biasanya semangat bekerjanya semakin luntur. Tidak sesemangat ketika masih muda dulu. Selain itu, banyak sekali pegawai yang akan memasuki dunia pensiun sering mangkir saat jam kerja. Alasannya bisa macam-macam. Mulai terapi ini itu, mengurus ini itu, pokoknya ada saja alasan yang diciptakan agar terbebas dari pekerjaan kantor.
Namun, keadaan yang berbeda terjadi pada diri Pak Bedjo. Mungkin karena kita mempunyai passion yang sama dalam hal kerjaan, dalam artian kita berdua sama-sama merasa bertanggung jawab atas setiap penghasilan yang dibayarkan oleh negara, jadi pergi ke kantor niatannya adalah untuk bekerja. Melakukan sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi kualitas pekerjaan maupun kesediaan untuk berada di ruangan saat jam kerja. Kita juga mempunyai jenis pekerjaan yang hampir sama. Yang pertama mengurusi administrasi seksi. Mulai dari mengadministrasikan surat masuk dan surat keluar, sampai mengurusi bon alat tulis kantor. Selanjutnya adalah mengurusi semua hal yang diminta oleh Kepala Seksi secara insidental. Untuk yang kedua mungkin saya lebih banyak mengalaminya. Secara pekerjaan mungkin lebih banyak saya variasinya. Namun, karena beliau sudah akan memasuki masa pensiun, sementara saya baru pemula, maka sudah sepantasnya penghargaan pegawai paling rajin di kantor untuk tahun 2009 diberikan kepada Pak Bedjo.
Saya tidak keberatan dengan hal itu. Sungguh suatu hal yang sangat bijaksana sekaligus dapat dijadikan teladan bagi siapa saja yang sudah mulai luntur pengabdiannya dan mulai tipis semangatnya dalam bekerja. Mau bayaran gajinya tapi tidak mau bekerja adalah sikap yang kerap dilakukan oleh para pegawai di Indonesia. Kita semua dapat belajar dari sikap Pak Bedjo. Ia tidak banyak bicara. Santun dalam bertutur. Dan hampir selalu berada di ruangan saat jam kerja. Beliau keluar ruangan hanya jika ada keperluan yang sangat mendesak, ada jadwal dinas luar, atau saat akan makan siang. Selebihnya bekerja di ruangan.
Meja kerjanya pun rapi. Tidak acak-acakan seperti kebanyakan meja pegawai lain, yang seringnya sengaja diacak-acak hanya agar dilihat pimpinan supaya kelihatan giat bekerja. Sederhana. Rapi dalam hasil kerja. Pembawaan yang tenang. Saya sedikit banyak belajar dari sikap Pak Bedjo tersebut. Banyak hal yang dapat dipetik dari tingkah sederhananya.
Terutama yang saya bahas di sini adalah tentang tanggung jawab dan integritasnya dalam melakukan pekerjaan. Sistem penggajian pegawai negeri adalah pembayaran di awal. Jadi, dibayar dulu baru bekerja. Bukan bekerja dulu baru dibayar seperti yang diterapkan di swasta. Sistem ini sedikit banyak mempunyai kelemahan. Di antara yang sering terjadi adalah maraknya orang-orang pemalas yang hanya mau menerima gajinya tapi tidak ada produk pekerjaan yang dihasilkan dari pembayaran tersebut. Saya kira keadaan ini banyak sekali ditemukan di semua instansi di Indonesia. Dan masalahnya, pemberhentian pegawai negeri tidak semudah memberhentikan pegawai swasta. Ada banyak sekali rangkaian administrasi yang harus dipenuhi ketika seorang pegawai akan diberhentikan. Jadi, banyak sekali unsur yang akhirnya berpotensi membuat orang malas bekerja.Dan anehnya, hal-hal tersebut sudah dianggap wajar dan biasa saja. Bahwa sudah dimaklumi kalau orang yang mau pensiun biasanya akan mendapatkan semacam perlakuan khusus untuk boleh tidak ada di ruangan, boleh tidak bekerja, boleh melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak hatinya. Beberapa kali menemui orang yang akan pensiun adalah orang-orang yang tidak profesional seperti itu. Mau enaknya saja. Dan kalau sudah begitu, kalau ada yang mengingatkan untuk bekerja akan dengan santai dijawab "yah yang muda-muda saja, saya sudah mau pensiun". Ungkapan yang berpretensi untuk menghindar dari tanggung jawab. Yang menjadi pertanyaan adalah biasanya mereka-mereka inilah yang bayarannya besar karena dalam sistem penggajian pegawai negeri, gaji dibayarkan sesuai dengan golongan dan masa kerja. Otomatis orang-orang yang mau pensiun adalah orang-orang yang penghasilannya (biasanya) besar dan pekerjaannya yang mulai tidak banyak.Sebuah dilema sebenarnya. Namun saya salut dengan apa yang dilakukan oleh Pak Bedjo. Saya juga berharap ritme saya dalam bekerja juga seperti itu. Rajin, rapi, beres, tanggung jawab, dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Karena saya baru mulai memasuki dunia kerja, masih banyak yang akan saya hadapi, masih banyak yang akan saya kerjakan, dan masih banyak tantangan yang akan membentang. Hanya orang-orang yang dari awal mempunyai niatan yang baik dan ikhlas dalam bekerja, berusaha menjaga integritas dan semangat bekerja, jujur dan tanpa pretensi apa-apa dalam melakukan suatu pekerjaan selain untuk menyelesaikan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab, yang akan mendapat predikat sebagai pegawai teladan. Pegawai yang dibutuhkan untuk membawa Indonesia kembali kepada relnya menuju pemimpin peradaban dunia. Semoga saya termasuk satu di antaranya. Menjadi bejo (beruntung) seperti Pak Bedjo, yang sesuai namanya layak mendapatkan julukan superbejo.
Hari pertama di tahun 2010 baru saja terlewati. Tak ada yang benar-benar berarti hari ini selain kenyataan bahwa semakin bisingnya dunia ini dengan sederet perayaan dan peringatan sebuah tradisi dalam episode kehidupan. Kemarin malam ratusan kembang api bertaburan di angkasa untuk menandai sebuah pergantian tahun. Angkasa yang biasanya mendung tampak absen menghadirkan awan gemawan. Saya kebetulan ada di rumah saja. Tidak ke mana-mana. Menikmati film akhir tahun yang belum sempat saya tonton. Bukannya antisosial tapi lebih kepada menghindari kehirukpikukan. Bagi saya, gegap gempita perayaan pergantian tahun itu tidak harus diisi dengan pesta dan hura-hura. Karena momen tersebut biasa saja. Sama seperti pergantian hari yang biasa.Tapi, datangnya tahun baru juga memberi tantangan baru buat saya. Ini berarti, saya harus mulai sadar juga kalau jatah waktu untuk hadir di dunia juga semakin sedikit. Saya dituntut untuk lebih realistis lagi memandang kehidupan, dalam artian hal-hal yang diinginkan sedikit banyak harus selalu diseimbangkan dengan kemampuan, waktu, dan keadaan yang mendekati kenyataan. Mimpi tetap harus dimiliki. Usaha masih harus terus dilakukan dan diusahakan. Sebenarnya saya tidak ingin membuat sebuah resolusi. Lebih tepatnya tidak biasa. Saya lebih suka menjalani kehidupan bukan mengalir seperti air, tapi teratur terencana tanpa dibebani perasaan membuat resolusi. Untuk hal-hal lain saya bebaskan untuk berjalan sesuai dengan tuntutan keadaan. Namun saya memiliki satu keinginan kecil yang menuntut untuk diubah, dilakukan, dan dicobaterapkan. Keinginan tersebut saya ikuti dari konsep hidup ratu sejagat yaitu 3B. Brain, Beauty, dan Behaviour. Saya pikir ketiga kata itu cukup untuk mewakili beberapa target di tahun 2010 ini.Brain. Tahun ini menjadi semacam tantangan bagi saya untuk bekerja lebih semangat lagi, berkarya lebih serius lagi, dan berprestasi yang lebih tinggi lagi. Ada kehausan untuk membuktikan diri dan keinginan untuk selalu mengekspresikan hal-hal yang menjadi keresahan-keresahan yang mengganjal di hati. Sudah lama sebenarnya saya ingin belajar lagi. Sudah dua tahun saya bekerja dari waktu saya diwisuda. Saya kira, tahun ini sudah waktunya saya kembali ke bangku kuliah. Saya rindu untuk mendengarkan ceramah dosen, berdebat dan berdiskusi dengan para ahli ilmu, mengerjakan tugas-tugas dan makalah serta menemukan teman-teman baru. Tahun ini saya juga ingin memaksimalkan kemampuan bahasa asing saya yang baru setengah-setengah ini. Mempelajari ilmu perpajakan yang lama dilupakan akibat rutinitas. Membaca buku-buku dengan lebih variatif dalam hal tema, jenis, dan bidang ilmu. Tahun ini juga saya berencana untuk serius mengerjakan penulisan buku pertama saya. Semoga tidak berlebihan karena saya pikir semua hal yang saya pilih di atas mendukung dan saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Jadi, yang satu dapat mendukung kelancaran proses yang lainnya.Beauty. Saya adalah orang yang paling cuek dengan yang namanya penampilan. Saya tidak terlalu suka berdandan. Namun, saya pikir setelah saya memasuki dunia kerja, tampil di beberapa acara, bertemu dengan orang-orang yang memiliki kuasa, memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, ada baiknya untuk menampilkan pribadi yang agak sedikit enak dipandang mata. Saya rasa, orang akan senang dilayani dengan pegawai yang rapi, bersih, dan enak dipandang. Maka dari itu, tahun ini (mungkin) akan banyak belanja fashion. Tahun ini saya juga akan mulai memakai kacamata akibat terlalu intensifnya berteman dengan komputer dan mengakrabi buku-buku. Hal ini saya lakukan sebagai upaya preventif agar minus saya yang 0,75 ini tidak bertambah lagi. Saya sebenarnya tidak terlalu suka memakai kacamata. Saya ingin mata saya kembali normal.Behaviour. Ada satu buku yang belum sempat terbaca hingga kini. Buku karya Mien R. Uno ini berjudul Etiket. Saya ingin membacanya tahun ini. Beberapa buku juga sudah saya siapkan untuk dibaca di tahun ini. Beberapa merupakan buku pengembangan diri yang mengarah pada perbaikan perilaku dan pembawaan diri. Saya merasa perlu untuk mempelajari hal-hal tersebut karena sebagai pelayan masyarakat sedikit banyak perilaku saya akan dinilai. Saya juga merasa perlu untuk memperbaiki perilaku saya dalam hubungannya dengan orang tua, saudara, sahabat, rekan kerja, dan orang-orang yang saya temui di berbagai acara. Saya ingin membentuk perilaku kesopanan yang layak, kesantunan yang wajar, dan tingkah laku yang tidak dibuat-buat. Saya rasa kepalsuan yang kadang saya temui di forum pertemanan tidak selayaknya hadir dalam hidup saya di masa yang akan datang.Saya kira itu semua merupakan batasan yang wajar untuk memulai sebuah proses kehidupan menuju hidup di masa yang baru. Ada proses pembelajaran dan transfer ilmu adalah poin penting untuk membuat hidup ini layak untuk dijalani. Saya sadar tantangan saya ke depan tidak gampang lagi. Masih ada PR yang menunggu saya untuk segera diselesaikan. Hal-hal yang jika tidak segera ditangani akan menjadi bumerang bagi diri saya di kemudian hari. Kadang, saya merasa hidup ini terlalu tidak adil untuk sebagian orang. Saya merasa harus menanggung kesalahan dari suatu hal yang tidak saya lakukan. Maka, rencana-rencana tahun ini semoga mendapat ridho dari Allah SWT dan semoga tidak ada halangan yang tiba-tiba saja datang tak terduga.Ada banyak hal terlintas di kepala. Ada banyak hal yang ingin dilakukan. Ada serangkaian hambatan yang menghadang. Di atas semuanya, saya hanya ingin menyajikan suatu bentuk kehidupan di mana saya ditugaskan untuk turun ke dunia ini. Saya sudah mengetahuinya dan saya yakin saya bahagia dengan hidup yang saya pilih. Saya berusaha untuk menjalankan tugas yang saya ampu itu semampu saya. Saya yakin, akan ada hikmah dan kebahagiaan yang lebih besar lagi dari semua usaha yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab.Tahun ini mungkin juga akan menjadi tahun di mana keluhan akan semakin mendapatkan porsi kecilnya. Saya ingin berhenti untuk secara periodik mengeluh dan menyalahkan nasib. Saya rasa mengeluh hanya akan menghambat diri saya untuk bergerak maju, berpikir mandiri, dan bekerja lebih inovatif dan kreatif lagi. Orang yang kerjaannya rajin mengeluh akan menjadi orang yang selamanya kalah, dilupakan oleh zaman, dan dijajah oleh perasaan. Saya tak akan menyerahkan diri saya yang berharga ini menjadi tawanan dan bulan-bulanan dari kebiasaan mengeluh yang saya pikir hanya akan membuat jiwa kita mati.Di tahun baru 2010 ini banyak sekali harapan baru ditambatkan. Namun saya hanya ingin batasan di atas saja. Semoga batasan di atas dapat menjadi tongkat petunjuk yang mampu menuntun saya ke arah kearifan berpikir, kelayakan berperilaku, keberhasilan menapaki mimpi, dan kebahagiaan memaknai kehidupan. Sekali lagi, semoga tidak berlebihan. Itu saja. Gambar dipinjam dari sini.
Tak biasanya saya menulis sebuah catatan akhir tahun. Kali ini saya tergerak untuk menulisnya karena dorongan untuk membantu saya melakukan sebuah koreksi. Introspeksi kecil-kecilan sebagai pengingat tentang sejauh mana hidup 365 hari ke belakang yang baru saja saya sudahi. Waktu. Suatu misteri yang kadang membuat saya lari terbirit-birit karena merasa dikejar oleh sesuatu. Yang membuat saya berhenti demi membentuk jeda. Seringnya molor demi meninabobokan kemalasan.
Akhirnya hari ini datang juga. Ujung dari tahun 2009 yang menyisakan bermacam memori. Kalau diingat-ingat, banyak sekali kejadian berharga terjadi dalam hidup saya di tahun ini. Ada bermacam perasaan bercampur aduk mengisi relung hati. Capeknya hakikat sebuah kerja keras, terbayarnya sebuah keteguhan hati, tercapainya suatu keinginan yang menggebu, didapatnya sebuah kemenangan dalam beberapa kompetisi, pengalaman yang tak terlupakan, dan ingatan akan betapa berharganya sebuah kehidupan untuk secara sadar dijalani dengan sepenuh hati.
Tahun ini bisa jadi membawa saya kepada perasaan yang patut disyukuri. Beberapa pencapaian berhasil saya raih. Tahun ini saya diangkat sebagai pegawai negeri sipil di Departemen Keuangan. Status yang membuat saya mempunyai hak serupa dengan pagawai lainnya dan tanggung jawab penuh sebagai seorang abdi negara. Tahun ini saya diajarkan HIDUP tentang manisnya sebuah kemandirian berpikir. Mendorong saya untuk mengusahakan agar jangan sampai tergantung kepada orang lain, baik kepada orang tua, saudara, maupun sahabat. Karena hidup yang sangat tergantung kepada orang lain akan membawamu ke alam kemalasan. Mendorongmu untuk menempatkan pikiran bahwa kenyamananmu dalam berusaha akan selalu mendapat jaminan dan bantuan dari orang lain. Sungguh suatu pilihan hidup yang akan membawa siapa saja ke jurang kehancuran.
Tahun ini bisa jadi merupakan tahun prestasi buat saya. Banyak pekerjaan selesai saya kerjakan. Kampanye program Sunset Policy yang dicanangkan oleh Direktorat Jenderal Pajak, penerimaan SPT Tahunan tahun 2008, dan sederet pekerjaan rutin saya di kantor rapi saya selesaikan sesuai dengan tenggat waktu. Beberapa perlombaan penulisan berhasil saya menangkan, dari penulisan resensi buku, artikel, sampai dengan blog. Dan gongnya adalah disematkannya predikat inspiring blog pada blog ini oleh Tim Internet Sehat.
Tahun ini banyak sekali orang-orang yang ingin saya temui akhirnya terlaksana. Sebagian terjadi secara kebetulan, sebagian karena kesadaran. Saya bertemu dengan penulis Donny Dirgantoro (5 cm) dan sastrawan Seno Gumira Ajidarma. Keduanya tidak sengaja saya layani saat akan membuat NPWP. Sungguh suatu kesempatan langka. Tahun ini saya juga bertemu dengan Kurnia Effendi, penulis dari Bandung yang cerpen-cerpennya sering saya nikmati bersama cerianya hari minggu pagi di koran langganan saya. Tahun ini saya bertemu dengan salah satu penulis favorit saya, Dewi 'Dee' Lestari, mendapatkan tanda tangan untuk semua bukunya dan kesempatan untuk foto bersama. Tahun ini saya juga bertemu dengan orang-orang luar biasa yang sebelumnya tidak saya kenal. Orang-orang dengan passion sama yang mencintai buku, film, musik, dan fotografi. Hal-hal yang sangat saya sukai dalam mewarnai hidup ini.
Namun, bagi saya hal-hal itu masih jauh dari maksimal jika dibandingkan dengan potensi yang saya miliki. Saya merasa tahun ini juga banyak kemalasan mendapatkan kemewahan. Banyak waktu luang terbuang percuma tanpa meninggalkan sesuatu yang berarti. Tidur yang melebihi durasi daripada yang seharusnya layak saya dapatkan. Perasaan malas-malasan masih mendapat angin segar untuk tahun ini tanpa saya sadar telah mengalaminya.
Ingin rasanya memutar kembali waktu untuk menambal hal-hal yang kurang berarti, mengisi waktu luang dengan sesuatu yang lebih baik daripada tidur, fokus terhadap hal-hal yang menjadi prioritas, dan tentu saja menghindari untuk meninggalkan banyak dosa yang dilakukan. Ingin sekali menghapus kenangan yang tidak baik akan pahitnya sebuah pertengkaran dan perasaan bersalah akibat telah melakukan perbuatan dosa. Kenangan-kenangan tersebut sekalipun keadaan telah membaik dan berjalan seperti biasa namun masih menyisakan perasaan menyesal kenapa harus terjadi.
Tahun ini saya kembali diingatkan oleh waktu bahwa buku yang ingin saya tulis belum kunjung selesai. Walaupun sudah mendapat dorongan semangat dari sahabat-sahabat saya, orang-orang yang saya kagumi, penulis-penulis yang saya apresiasi karyanya, dan orang-orang lain yang baru saya kenal lewat facebook, ada rasa yang kurang terisi di benak saya bahwa pekerjaan menulis sebuah buku menuntut suatu energi kreatif yang besar, tenaga yang prima, dan waktu luang yang leluasa. Hal-hal yang menjadi kemewahan hidup bagi saya. Mungkin tahun 2010 saya harus fokus jika ingin benar-benar bisa mewujudkan mimpi saya tersebut.
Ada banyak kejadian lain yang mungkin sedikit membuat saya terhenyak. Berita sedih yang sempat mampir di email, sms, dan facebook saya akan kepergian teman dan orang-orang yang saya kenal. Mereka seakan mengingatkan bahwa memang begitulah kehidupan. Indah dan layak untuk diperjuangkan dan diisi, untuk kemudian harus rela kita tinggalkan. Tak ada yang benar-benar berarti dari sebuah kebinasaan. Dunia ini betapapun indahnya, betapapun menawarkan kenikmatan dan kemewahan, betapapun menyediakan kebahagiaan, tetap saja mengandung ilusi yang menyesatkan. Maka, yang harus diingat-ingat adalah bahwa segala rutinitas yang membunuh waktu bisa jadi akan menggiringmu ke alam kelalaian. Ada hal-hal yang lebih berarti selain kenikmatan sebuah pekerjaan. Kehangatan akan indahnya keluarga yang harmonis, hubungan timbal balik yang hangat antara orang tua dan anak, kesetiaan untuk saling memiliki di antara para saudara, dan perasaan untuk saling tolong-menolong, membina hubungan baik dengan teman dan relasi merupakan hal-hal yang lebih baik untuk diusahakan.
Tahun 2009 ini memberikan sedikit nafas lega akan beberapa pencapaian dan menyisakan PR yang menjadi tantangan di tahun 2010. Saya akhirnya sadar bahwa masih banyak yang harus dilakukan, diusahakan, dan diperjuangkan. Masih banyak yang harus dipelajari dan dibagi. Saya juga sadar bahwa betapa banyak keinginan, betapa sedikitnya pencapaian, dan betapa singkatnya durasi yang diberikan. Semoga sisa semangat tahun ini menjadi benih semangat baru yang lebih besar sebagai modal untuk meraih impian di masa mendatang. Amin.
Gambar dipinjam dari sini.
"Kita sering lupa bahwa cinta adalah kata lain dari saling mendengarkan. Sebab mendengarkan adalah saling membuka diri: saling memberi dan menerima dengan tulus".Penggalan kata-kata di atas termaktub dalam tulisan berjudul Memoria (hal. 23) dari kumpulan tulisan Fahd Djibran yang berjudul Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya. Jadi, yang kita perlukan hanya duduk dan mendengarkan untuk menikmati narasi linguistik di dalamnya. Dalam buku yang merupakan kompilasi dari 30 tulisan ini, kita diajak berselancar dalam dunia perenungan. Semacam dialog pribadi dengan diri untuk mendapatkan impresi sebagai kesimpulan akhir yang membawa kita pada ingatan-ingatan kecil akan nilai-nilai kemanusiaan, cinta, kontemplasi akan hidup, Tuhan, dan beberapa renik pemikiran filosofis. Kita seolah digiring untuk mencari pegangan, merefleksikan diri di depan cermin, dan sejenak berintrospeksi. Menata ulang pemikiran-pemikiran yang telah terkonsep rapi dalam sebuah jubah kelaziman demi sebuah tujuan indah berupa pengenalan diri pribadi. Penemuan jati diri. "Mungkin kita tak mengenali diri kita sendiri. Mungkin kita 'kehilangan' diri kita sendiri" (hal. 49).Membaca buku ini kita seperti dikembalikan ke dunia anak-anak di mana animo untuk bertanya dan mempertanyakan sesuatu yang 'tidak biasa' atau 'tidak lazim' sudah lama kita lupakan karena pengaruh adiktif kedewasaan. 'Orang-orang dewasa tak pernah memahami sesuatu seperti apa adanya dan sungguh melelahkan bagi anak-anak kalau selalu harus memberi penjelasan pada mereka' (hal. 110). Tulisan Antoine de Saint-Exupery dalam bukunya The Little Prince yang dikutip di buku ini mengingatkan betapa menariknya mengalami imajinasi seperti layaknya anak-anak yang begitu manisnya dan (tentu saja) tanpa pretensi apa-apa menanyakan dan mempertanyakan sesuatu, seolah-olah dengan tak puasnya menginginkan jawaban-jawaban atas keresahan-keresahan dalam pikiran yang menggelayutinya tanpa merasa perlu khawatir akan perasaan mengalami kekejaman sebuah 'tanda titik'. Sensasi seperti itulah yang dicobahadirkan oleh Fahd Djibran dalam curhat-curhat singkat sebanyak 172 halaman yang diterbitkan oleh Gagas Media ini.Konsep bertanya dan mempertanyakan sesuatu dalam Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya (konon) merupakan sekuel dari pendahulunya yaitu A Cat in My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa. Sebagai sebuah lanjutan, buku ini menghadirkan sesuatu yang 'agak berat' dari pendahulunya. Tulisan-tulisannya lebih rumit, lebih berisi, dan (kadang-kadang) berpotensi membuat pembaca awam bingung dengan konsep pemikiran yang dicobatawarkan. Pemilihan istilah 'dunia antara' mengingatkan kita akan keresahan-keresahan pemikiran kaum urban di kota-kota besar yang mencari alternatif dari dikotomi-dikotomi yang sering melanda kehidupan mereka dan seringkali memberikan efek keterkungkungan sehingga menuntut sebuah kekuatan pembebasan pikiran. Kebebasan berekspresi seluas-luasnya. Buku ini berpotensi untuk membawa pembebasan tersebut sekaligus memberikan 'PR' baru untuk menilai ulang tentang konsep pemikiran yang sudah terstandardisasi di masyarakat.Blog: Sebuah Proses KreatifBeberapa tulisan di buku ini sebelumnya telah hadir di blognya Fahd Djibran sebagai semacam diskusi terbuka di mana pembaca blog diberi kesempatan untuk berpartisipasi dengan mengirimkan curhatnya dalam sebuah surat elektronik. Sebuah cara unik yang kini juga diterapkan oleh koran Kompas dalam menghadirkan rubrik Kompas Kita di mana seorang narasumber memberikan penjelasan akan suatu permasalahan yang ditanyakan.Menulis merupakan pengalaman personal bagi seseorang. Ia hadir sebagai sebuah panggilan jiwa yang menuntunnya ke dalam kesadaran bahwa tugas tersebut penting untuk dilaksanakan. Panggilan jiwa tersebut akan menemukan jalannya sendiri melalui sebuah proses kreatif yang menuntut untuk terus-menerus diasah. Menurut Pramoedya Ananta Toer, proses kreatif adalah semata-mata bersifat individual yang bisa terjadi hanya setelah terbentuk mistikum sebagai conditio sine qua non. Mistikum, kebebasan pribadi yang padat (condensed), yang melepaskan pribadi dan dunia di luarnya, yang membuat pribadi tidak terjamah oleh kekuasaan waktu, suatu kondisi di mana yang ada hanya sang pribadi dalam hubungan antara kawula dengan Gusti dengan bukti kegustiannya, tertampillah sang kreator dengan Kreator melalui pernyataan-pernyataannya. Fahd Djibran tampil dalam khasanah penulisan melalui sebuah proses kreatif di blognya dengan membawa semacam bekal, alasan, dan dorongan yang membuatnya bersemangat untuk terus berproses kreatif. Hal ini juga dibagikan dengan sidang pembaca melalui tulisannya yang berjudul Alasan (hal. 13) dan Dendam Sejarah (hal. 31). Menulis bisa berangkat dari mana saja, bermisi apa saja, dan ingin atau bertujuan ke mana saja. Kevariatifan dari alasan seseorang untuk menulis itulah yang unik dan membuatnya menjadi semacam pengalaman personal yang layak untuk direnungkan. Karena berangkat dari tulisan-tulisan di blog, kumpulan tulisan ini lebih siap dari segi kemasan. Dalam artian, kesalahan akan tanda baca, ejaan, salah ketik, dan salah cetak dapat diminimalisai karena telah mengalami banyak sekali proses editing dalam perjalanannya dicetak menjadi sebuah buku. Kelemahan tulisan yang dibukukan dari blog salah satunya adalah adanya kebosanan atau perasaan 'tidak seperti sensasi yang didapat saat membacanya pertama kali'. Untuk menghindari hal itu, Fahd sengaja membuat editan dan penambahan tulisan baru yang sebelumnya tidak tampil di blog sehingga secara keseluruhan setelah dicetak menjadi sebuah buku akan kelihatan seolah-olah baru.Perlu dicatat bahwa buku ini juga mempunyai soundtrack. Sebuah lagu berjudul Curhat Setan yang dibawakan oleh BFDF hadir melengkapi narasi-narasi dalam buku ini. Dalam dunia penerbitan di Indonesia, konsep produk yang menggabungkan antara buku dan musik sudah bukan hal yang baru lagi. Hal serupa juga pernah dilakukan oleh penulis Andrei Aksana (Lelaki Terindah, Cinta Penuh Air Mata, dll) dan Dewi 'Dee' Lestari (Rectoverso). Gabungan dari keduanya merupakan sebuah paduan yang menyatu. Buku dan musik. Dualisme yang satu. Konsep yang juga mengarah kepada refleksi diri bahwa dalam tubuh manusia selalu ada dua jiwa yang tumbuh bersemayam yaitu jiwa malaikat dan jiwa setan. Saat jiwa setan berontak dan mempertanyakan kenyamanan jiwa malaikat, tak ada salahnya untuk menikmati narasi dalam Curhat Setan yang ini. Anda akan sejenak bertanya-tanya sekaligus tersentak untuk mengangguk-angguk atau menggeleng-geleng menikmati sensasi kalimat-kalimatnya.Seperti penjelasan penyair dan penulis Agus Noor tentang fiksi mini, kumpulan tulisan ini hadir serupa narasi-narasi yang menjelma sebagai seseorang yang tiba-tiba datang dan mengucapkan beberapa patah kata atau beberapa kalimat yang membuat kita terperangah. Dan orang itu mendadak sudah menghilang begitu saja. Meninggalkan kita yang hanya terbelalak, digoda sejuta tanya, dan terus-menerus memikirkan apa yang tadi barusan dikatakan orang itu. Begitulah efek saat menikmati Curhat Setan. Ia seperti satu tamparan yang membuat kita kaget terbelalak. Gambar dipinjam dari sini.
Hari ini umat Kristiani di seluruh dunia merayakan hari raya Natal. Saya seorang muslim. Entah dorongan apa yang membuat saya tergerak untuk menulis catatan ini. Saya menghormati dan menghargai kebebasan beragama. Saya perhatikan, setiap hari Natal tiba, seluruh gereja di Indonesia, baik yang besar maupun yang kecil, baik yang di kota maupun yang di desa, baik yang ramai jemaatnya maupun yang sedikit, dijaga ketat oleh aparat keamanan. Jalan-jalan yang melewati gereja juga dijaga, lengkap dengan beberapa pemeriksaan bagi yang melintas atau bahkan pengalihan jalur lalu lintas.Memang niatnya baik yaitu untuk menjaga kekhusyukan dalam beribadah. Membuat suasana ibadah menjadi khidmad tanpa ada gangguan. Gangguan. Sepertinya kata ini akrab di telinga kita seiring dengan konflik antaragama yang terjadi di beberapa wilayah tanah air dan beberapa peristiwa teror bom yang sering mewarnai perayaan natal. Yang menjadi permasalahannya adalah mampukah negeri ini menghadirkan momen perayaan natal yang tenang dan penuh kedamaian tanpa ada barikade aparat keamanan? Mampukah negeri ini mengusung kedamaian untuk sejenak berkhidmad dan memberikan keleluasaan saudara kita untuk merayakan Natal? Bukankah esensi dari perayaan natal adalah momen untuk memburu kedamaian?Damai. Natal dalam damai. Saya pikir semua orang di dunia, semua umat dari semua agama ( atau umat tidak beragama) merindukan dan memburu kedamaian dalam hidupnya. Momen-momen damai menggiring seseorang untuk berpikir lebih jernih, mencerna lebih dalam, dan memaknai sesuatu mendekati kebenaran hakiki. Orang yang tenang pikirannya akan lebih mudah berpikir dan mencari jalan keluar atas permasalahan-permasalahan yang menggelayuti hidup. Hanya orang-orang yang tidak damai hatinya yang tidak pernah benar-benar mampu untuk menikmati hidup yang dititipkan kepadanya.Perang, konflik, dan segala bentuk perpecahan yang terjadi di belahan bumi merupakan bentuk dari ketidakdamaian sebagian umat dalam memaknai kehidupan. Segala bentuk perdamaian berbenih dari perasaan tenang, hati yang ikhlas, dan pikiran yang teratur. Semua manusia mempunyai potensi untuk berpikir kalut, berpendirian tenang, maupun bermalas logika. Ibaratnya sebuah garis bilangan yang terdiri atas bilangan negatif, nol, bilangan positif. Kemalasan logika terletak dalam sumbu negatif, kedamaian hati dan pikiran ada di titik nol, dan kekalutan pikiran adalah sumbu positif. Pikiran dan hati seseorang bergerak secara fluktuatif mengikuti suasana menyesuaikan diri mengikuti gerak sumbu tersebut. Ada kalanya berada di sumbu positif, tak jarang di sumbu negatif, dan bisa jadi di titik nol. Membuat suasana hati dan pikiran untuk sedikit lebih lama berada di titik nol merupakan tujuan yang wajib direfleksikan dalam kehidupan jika menginginkan momen damai dalam hidup. Hal ini mungkin terjadi jika konsepsi serupa diadopsi oleh banyak orang dalam aktivitas hidupnya.Momen damai dalam kehidupan tidak hadir melalui sebuah perundingan atau penandatanganan kesepakatan. Damai dalam hidup tidak membutuhkan pahlawan yang menggondol prasasti nobel. Menghadirkan momen damai juga tidak membutuhkan sebuah pelucutan senjata. Momen damai hadir dalam diri setiap manusia yang mampu membawa hatinya bertamasya ke alam titik nol. Momen damai menggiring setiap pribadi untuk mengalami apa yang disebut sebagai kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan sejati. Hidup yang berjalan saat harmoni antara alam jiwa, alam pikiran, alam jasmani, dan alam semesta bersinergi tanpa suatu tendensi untuk saling menguasai, saling melebihi, berlaku superior dari yang lain, memaksakan kehendak mayoritas, berlaku adikuasa, dan menyulut peperangan. Momen damai hadir saat pribadi sembuh dari segala penyakit hati.Segala bentuk konflik, perang, perpecahan, pertengkaran, dan perkelahian adalah wujud nyata betapa dunia ini diisi oleh orang-orang yang tidak damai. Jika hari ini gereja ramai dikunjungi, siangnya masjid sesak oleh orang ibadah sholat jumat, dan tempat ibadah lainnya seperti vihara, pura, dan klenteng laris dikunjungi jemaat, apakah mereka-mereka mencari di tempat yang salah jika sekembalinya dari rumah ibadah, pribadinya tidak menyisakan paradigma baru akan jiwa yang bersih, damai, dan merindukan keindahan bertoleransi? Saya kira bukan sesederhana itu disimpulkan demikian. Setiap orang yang berkunjung ke rumah ibadah membawa niat dan tujuan yang berbeda. Jadi yang perlu diselaraskan adalah ikhlas dalam niat. Persepsi akan niat yang baik untuk mendamaikan hati dan pikiran melalui tangan Tuhan ini perlu diterapkan pada semua batok pemikiran di kepala masing-masing umat. Perlu pula dibenamkan persepsi untuk qonaah, menerima sesuatu sesuai dengan prosedur dan proporsinya.Berlaku ikhlas menerima segala saat berinteraksi terhadap sesama manusia seolah-olah sedang bercengkerama dengan Tuhan merupakan sumber potensi pembentuk perdamaian dan ketenangan hidup. Semua bermula dari pembangunan pondasi kualitas hati. Saya jadi ingat perkataan guru agama saya bahwa ada segumpal daging, di mana jika daging itu bagus maka bagus semua seluruhnya, jika daging itu jelek, maka rusaklah semuanya. Itulah hati. Hati menjadi penuntun utama akan kinerja akal pribadi manusia. Kekuasaan nafsu akan sirna jika hati hadir sebagai segumpal pendirian yang kokoh memelihara nilai-nilai nurani.Tidakkah kita semua merindukan momen-momen damai ini. Di mana tak akan kita dengar jerit tangis kelaparan, tak kita dengar nyanyian peluru meriam, tak kita saksikan kerusakan gedung dan sekolahan. Tidakkah kita mengharapkan suasana suka cita dan gegap gempita sebuah kehidupan baru yang tenang dan bebas dari ancaman dan kemampuan untuk mengancam. Bukankah hakikat natal adalah merayakan kehidupan baru, menyemarakkan dunia damai, dan mengamini sebuah ketenangan hidup. Tidak ada salahnya prinsip 'kasih' diadopsi oleh umat agama lain. Selalu terdapat nilai-nilai universal dalam setiap not-not keindahan dan kedamaian hidup. Tinggal kita saja yang memilih nadanya dan menempatkannya di tempat yang tepat. Membawa diri menerapkan dan menjaga keseimbangan hati sedikit lebih lama di titik nol merupakan tugas berat bagi siapa saja yang merindukan dan ingin menciptakan perdamaian. Sudah saatnya negeri ini mampu untuk menghadirkan momen perayaan hari raya tanpa dihiasi suatu ornamen senapan.Gambar dipinjam dari sini.
Suatu ketika saya mendapatkan pesan pendek yang isinya kurang lebih begini:
Perkataan indah adalah Allah
Lagu merdu adalah adzan
Media terbaik adalah Al-Qur'an
Senam sehat adalah sholat
Diet sempurna adalah puasa
Kebersihan menyegarkan adalah wudhu
Perjalanan indah adalah haji
Khayalan terbaik adalah ingat akan dosa dan taubat
Saya senang membaca isi pesan pendek tersebut. Isinya mencerahkan dan mengingatkan kita untuk selalu istiqomah di jalan Allah. Pesan singkat itu masih tersimpan aman di dalam telepon genggam saya. Rasanya sayang sekali untuk menghapusnya.
Sholat merupakan ritual penghambaan umat muslim kepada Rabb-nya yaitu Allah SWT, Tuhan semesta alam. Kakak saya pernah memberi definisi bahwa sholat itu hiburan. Awalnya saya agak bingung mendengarnya. Jawaban atas kebingungan itu akhirnya saya dapatkan. Bukan dari keikutsertaan pengajian atau membaca suatu buletin. Bukan dari obrolan dengan ulama, apalagi hasil gosipan dengan teman-teman. Jawaban akan kebingungan saya tersebut saya dapatkan dengan 'mengalami' sholat. Suatu pengalaman yang menakjubkan adalah kesan yang kita dapat dari suatu perbuatan yang menimbulkan impresi dalam suatu ingatan. Saya tidak mengatakan bahwa sholat yang saya lakukan sudah sempurna dan khusyuk. Namun, saya merasakan semacam sensasi yang menenangkan ketika menghikmati melakukan wudhu secara perlahan-lahan, menikmati sejuknya air yang menghapus kepenatan. Merasakan tenteramnya jiwa saat merasakan betapa segarnya berwudhu.
Di kesempatan lain, saat melakukan sholat, saya merasakan anggota tubuh saya bergerak dengan lentur, mengikuti semacam irama tarian. Gerakan-gerakan sederhana yang biasanya ketika melakukannya dengan terburu-buru, saya merasa agak pegal setelah selesai sembahyang. Saya tidak tahu penjelasan medis dan ilmiahnya seperti apa, tapi saya sudah pernah merasakannya. Sensasi serupa saya rasakan saat yoga selama setengah jam. Bukankah lama sholat kira-kira paling lama sepuluh menit. Dan hasil instannya adalah ketenangan batin. Sungguh mencengangkan. Mungkin itu juga penjelasan menurut kakak saya, bahwa sholat itu merupakan hiburan. Saya belum pernah menanyakan kembali penjelasannya. Lalu, mengapa ada orang yang tidak damai setelah selesai sholat?
Saya kira penjelasannya akan lebih kompleks lagi. Mungkin lagi banyak masalah. Atau bisa jadi sholatnya tidak sempurna. Atau malah setengah hati saat melakukannya. Saya tidak menganggap sholat saya sudah sempurna. Namun, saya merasakan saat gerakan-gerakan sholat itu saya nikmati, bukan hanya saya ikuti, ada rasa yang hadir dalam pikiran ini untuk lagi dan lagi ingin memperoleh sensasi serupa demi mencapai kekhusyukan beribadah. Saya kira hakikat penghambaan kita kepada Allah bukan hanya merapalkan doa puja puji semata. Saya yakin Allah menghendaki kita menikmati proses penghambaan itu, bukan menganggapnya sebagai beban. Saya tidak tahu apakah sensasi yang saya rasakan juga dialami oleh penganut agama lain saat sedang beribadah. Jika Anda kebetulan nyasar ke blog ini dan membaca tulisan ini, jangan beranggapan bahwa tulisan ini berisi dakwah atau propaganda agama. Saya hanya ingin bertukar pendapat mengenai rasa yang ditimbulkan saat Anda menghadap Tuhan saat sembahyang. Jika berkenan, silakan tinggalkan pesan tentang sensasi yang Anda rasakan saat melakukan ritual ibadah yang Anda jalani di kolom komentar. Mari bertukar pengalaman dan kesan.
Gerakan sholat sebenarnya adalah suatu bentuk meditasi. Gerakan tersebut sebenarnya satu rangkaian dengan berwudhu. Wudhu pada dasarnya adalah sarana untuk melemaskan titik-titik ketegangan dalam tubuh. Itulah mengapa, sebelum tidur disunnahkan berwudhu. Silakan Anda coba, bahwa ketika sebelum tidur Anda mengawalinya dengan berwudhu, kualitas tidur yang Anda dapatkan akan semakin terasa menenangkan.
Tidur yang cukup, makan makanan yang bergizi seimbang, dan diet sehat adalah kombinasi pembentukan pribadi yang sehat. Dalam ilmu agama Islam sebenarnya ketiga hal tersebut juga telah diatur dalam ajarannya. Seperti penggalan isi pesan singkat yang saya terima di atas bahwa senam sehat adalah sholat, diet sempurna adalah puasa, dan kebersihan menyegarkan adalah wudhu, maka perpaduan ketiganya merupakan salah satu alternatif pencegahan terhadap penyakit. Saya pernah belajar mengenai kehidupan seorang bhiksu. Seorang bhiksu berusaha untuk menjaga makanannya. Ia tidak makan daging. Hanya makan roti dan sayuran. Hidupnya pun juga terbilang biasa-biasa saja. Tidak ada pesta pora atau hura-hura. Setiap jengkal kehidupan dihikmati sebagai sebuah perayaan keheningan menuju penyatuan diri dengan alam lingkungan.
Saya juga pernah belajar tentang kehidupan di pondok pesantren. Dalam pondok pesantren yang masih tradisional kadang kala ada yang masih sangat ekstrim dalam hal makanan yang dikonsumsi. Ada yang cuma makan nasi ditambah daun singkong rebus ditambah garam sedikit. Walaupun saya tidak sampai seperti itu, namun saya juga tidak terlalu banyak mengonsumsi daging. Terutama daging kambing dan sapi. Saya rasa asupan yang kita masukkan ke dalam tubuh juga berpengaruh terhadap tingkat kekhusyukan dalam beribadah. Yang saya tahu dari teman-teman saya yang sudah sering dan rutin melakukan meditasi, mereka yang berpola hidup vegetarian akan lebih mudah untuk merasakan sensasi ketenangan dalam meditasi.
Dalam hal ini saya tidak menganjurkan Anda untuk mengikuti apa yang saya lakukan. Saya hanya berusaha membeberkan sedikit alternatif yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan potensi pengistirahatan Anda secara total walaupun dalam keadaan beraktivitas. Wudhu dan sholat sebagai padu padan paket relaksasi. Jika Anda umat muslim dan sudah capek-capek mengeluarkan uang banyak hanya untuk mendapatkan ketenangan pikiran dalam sesi latihan yoga yang membosankan, atau menghabiskan waktu berharga Anda berkumpul bersama keluarga untuk melakukan relaksasi di spa, silakan mencoba untuk memaksimalkan gerakan sholat dan menyempurnakan wudhu Anda. Jika telah merasakan sensasinya, saya yakin Anda dapat berpikir ulang untuk mengalokasikan anggaran rumah tangga untuk keperluan yang lain daripada harus menanamkannya di pusat-pusat kebugaran.
Saya tidak menganggap olahraga di pusat kebugaran itu jelek. Olahraga tetap penting, namun usaha untuk memaksimalkan tujuan demi memperoleh ketenangan batin dan jiwa, bisa juga didapatkan melalui ritual ibadah. Jadi, ibadah yang kita jalani bukan hanya semacam ritual harian yang hanya berarti sebatas ritual semata. Ada semacam filosofi yang menyisip untuk dimengerti. Pernahkan Anda bertanya, mengapa orang sholat harus ada gerakan ruku', harus ada gerakan sujud, ada gerakan berdiri, dan ada gerakan duduk? Mengapa tidak berdiri saja, atau duduk saja, atau sujud saja? Tentu saja penjelasannya tidak hanya ' ya memang sudah begitu dicontohkannya'. Namun penjelasan yang lebih masuk akal adalah karena titik-titik dalam tubuh manusia yang harus dilenturkan dan harus direlaksasi tidak hanya ada di satu bagian tubuh saja. Saya yakin ada sesuatu yang tersembunyi mengenai keajaiban gerakan di balik ritual beribadah itu bagi kesehatan. Hanya saja saya belum tahu namanya.
Ibadah dan aktivitas kehidupan memang harus bersinergi. Alam jiwa, alam pikiran, dan alam jasmani harus bersinergi demi membentuk harmoni yang seimbang. Ketidakseimbangan salah satu darinya bukan tidak mungkin akan mengakibatkan penyakit yang tidak kita inginkan keberadaannya. Namun, ketika kita merasakan suatu ketiadaan harmoni antara tubuh dan jiwa, tidak ada salahnya kita mencoba untuk sejenak merenung, menjemput obat mujarab dari balik sajadah yang terhampar. Wudhu dan sholat bisa menjadi alternatif jalan keluar. Keluar dari hiruk pikuk kepenatan batin dan membebaskannya dengan menggapai kehidupan yang merdeka dalam suatu perayaan keheningan melalui meditasi islami. Selamat mengalami. Gambar dipinjam dari sini.