Showing posts with label Lemari Buku. Show all posts
Showing posts with label Lemari Buku. Show all posts

Monday, April 19, 2010

Oeroeg dan Jalan Panjang Humanisasi



Entah mulai kapan saya jadi suka membaca. Karena kurangnya fasilitas di kota tempat saya tinggal, rasanya tidak ada kegiatan yang lebih menarik selain membaca atau naik sepeda keliling kampung. Berinteraksi dengan teman-teman dan orang-orang yang mayoritas berasal dari keluarga petani yang hidup pas-pasan.

Kegiatan membaca sendiri bermetamorfosis menjadi kebutuhan layaknya makan, minum, dan buang air karena keisengan orang tua yang selalu membawa pulang buku-buku dari kantornya yang sudah tidak digunakan. Alhasil, buku menjadi semacam candu yang mampu mengisi hari-hari membosankan dalam hidup yang saya jalani.

Saat sudah besar dan mulai mencicipi udara ibukota, saya berpikir bahwa betapa beruntungnya dapat menikmati 'kemewahan' membaca buku yang tidak semua teman-teman sepermainan saya dapat merasakannya. Namun begitu, apakah akhirnya saya 'berbeda' dengan teman-teman saya dulu, yang setia main kelereng bersama, mandi di sungai, mencuri tebu di perkebunan atau bahkan memanen buah pisang entah milik siapa, bersama-sama.

Kenangan akan indahnya persahabatan masa kecil di suatu kampung yang jauh dari 'peradaban' tersebut kembali terusik ketika awal bulan lalu saya menghadiahi diri sendiri dengan buku berjudul Oeroeg karya Hella S. Haasse. Buku tersebut saya beli sebagai kompensasi atas kerja keras yang membuat saya naik grade di kantor.

Buku tersebut bercerita tentang kisah persahabatan Oeroeg dan seorang anak Belanda yang dideskripsikan sebagai sosok yang disebut 'Aku'. Keduanya mempunyai tipe kehidupan yang hampir serupa. Lahir dan menghabiskan masa kecil bersama di suatu kampung yang jauh dari fasilitas dan keramaian kota besar. Saat usia tidak lagi mengijinkan mereka untuk disebut anak-anak, timbul perasaan bahwa yang satu lebih 'tinggi' daripada yang lain. Anggapan itu muncul karena perbedaan status sosial. Si Aku anak seorang administrateur perkebunan, berkulit putih, dan sangat Eropa, sedangkan Oeroeg hanya anak seorang mandor, berkulit cokelat, dan inlander.


Perbedaan itu terkatalisasi akibat larangan dari ayah si Aku yang berusaha membatasi pergaulan putranya dan Oeroeg dengan mengirim putranya ke sekolah khusus anak Belanda dan membiayai Oeroeg ke sekolah rendahan biasa, khusus untuk orang-orang pribumi.

Sampai suatu ketika, kegelisahan si Aku mendapat pencerahan dari Gerald Stokman, seorang pegawai perkebunan dan guru privat si Aku, yang kebetulan suka berburu binatang. Gerald Stokman mengatakan 'Macan kumbang berbeda dari monyet, tapi apakah yang satu lebih rendah daripada yang lain? Bagimu ini pertanyaan bodoh, dan kau benar. Pertanyaan ini tetap sama bodohnya bila menyangkut manusia. Perbedaan itu biasa. Setiap orang berbeda. Aku juga berbeda darimu. Tetapi, lebih tinggi atau lebih rendah karena warna kulit wajahmu atau karena siapa ayahmu--itu omong kosong. Oeroeg kawanmu, kan? Kalau memang ia kawanmu--bagaimana bisa ia lebih rendah dibanding kau atau yang lain?' (hal. 64)

Apa yang dialami oleh Oeroeg sampai saat ini masih terjadi. Diskriminasi dalam hal pendidikan pun kerap terjadi baik di Indonesia maupun di Belanda akibat latar belakang sosial dari calon peserta didik. Namun begitu, sebagai negara maju, Belanda sudah lebih dulu 'bangun' dari kesalahan masa lalu seperti ini.

Saat ini, Belanda adalah salah satu pemimpin dunia yang menjamin pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi. Dalam peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) International pada tanggal 10 Desember 2009 lalu, Menteri Luar Negeri Belanda, Maxime Verhagen menyatakan bahwa 'Pria, wanita, anak-anak, tidak peduli siapa mereka, tidak peduli di mana mereka tinggal, tidak peduli apa yang mereka lakukan, memiliki hak-hak dasar sebagai manusia yang tidak dapat diganggu gugat. Pemerintah di seluruh dunia memiliki kewajiban untuk melindungi dan mempromosikan hak-hak universal ini. Tetapi, dalam banyak contoh, mereka gagal melindungi hak warganya. Tanggal 10 Desember menandai perayaan hari Hak Asasi Manusia Internasional di seluruh dunia. Ini bukan hari di mana kita bisa membiarkannya berlalu begitu saja tanpa sedikitpun kita sadari. Hari ini, kita menghormati orang-orang yang berani membela hak-hak mereka dan hak orang lain meskipun perjuangan yang mereka hadapi di banyak negara, dalam situasi yang sangat sulit dan resiko yang besar. Mereka layak mendapat dukungan penuh dari kami.'

Hal-hal yang menjadi kampanye perlindungan HAM tersebut juga dimanifestasikan dalam suatu Pedoman Nasional Sistem Perlindungan Hak Asasi Manusia. Suatu sistem yang dirancang untuk mengaktifkan perlindungan HAM yang efektif dan mengintervensi pembangunan dengan fokus pada infrastruktur HAM. Untuk menjangkau lingkup yang lebih luas, Pemerintah Belanda akan bekerjasama dengan divisi HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan masyarakat sipil untuk membantu dalam perencanaan dan memperkuat penggunaan sistem ini melalui penggunaan ikhtisar manual mengenai indikator praktis, pedoman standar, dan referensi yang menggambarkan Sistem Perlindungan Nasional Hak Asasi Manusia. Melihat kenyataan tersebut, tak heran jika Belanda merupakan pusat dari beberapa Lembaga Internasional Hak Asasi Manusia. Bahkan, salah satu kota di Belanda, Den Haag, Dewan Kotanya berencana membuat kota tersebut sebagai Ibukota Hukum Dunia serta Kota Internasional Perdamaian dan Keadilan.

Di sisi lain, apa yang dikatakan oleh Menteri Luar Negeri Belanda di atas juga diimplementasikan dalam dunia pendidikan. Pemerintah melalui 'Platform Inovasi'-nya merekomendasikan tiga hal yaitu meningkatkan pemasaran pendidikan internasional Belanda sejajar dengan misi-misi ekspansi hubungan perdagangan dengan negara lain, memperluas kesempatan untuk menawarkan kurikulum berbasis Sistem Pendidikan Belanda, dan memfasilitasi pendirian sekolah internasional.

Untuk mencapai tujuan tersebut, kebijakan ilmu pengetahuan Belanda memfokuskan diri pada tiga hal yaitu akuisisi penambahan ruang lingkup dan sumber daya untuk riset fundamental, strategi untuk mempromosikan inovasi, dan memperkuat kekuasaan mengatur diri sendiri dari komunitas ilmiah melalui peningkatan kesempatan karier bagi para peneliti muda terutama perempuan.

Di sini, dapat diketahui bahwa isu-isu kesetaraan gender juga menjadi fokus perjuangan penegakan HAM di Belanda selain persamaan hak dari komunitas warga negara yang berbeda warna kulit, agama, dan status sosial yang lain.


Saya selalu percaya bahwa pendidikan yang baik dan merata akan membawa masyarakat ke dalam persepsi yang positif dalam memandang suatu hal. Maksudnya, jika suatu masyarakat memiliki pendidikan yang layak, kesejahteraan hidup yang memadai, dan pengakuan yang besar terhadap hak-hak dasar yang dimilikinya oleh negara maupun anggota masyarakat yang lain, bukan hal yang mustahil jika masyarakat seperti ini akan mudah untuk diberi pemahaman rasional mengenai isu-isu penghormatan dan penghargaan hak-hak universal yang dimiliki oleh setiap insan di manapun orang tersebut berada. Sangat penting dikembangkan persamaan persepsi bahwa tidak ada komentar negatif yang dibuat untuk mendiskreditkan suatu pihak manapun. Setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, mempunyai hak-hak universal yang sama.

Jika pemahaman yang 'benar' tersebut telah terpatri dalam pola pikir seseorang, maka kecenderungan untuk melabeli sesuatu dengan stereotip tertentu, perlahan-lahan akan terkikis. Seperti misalnya, mengapa warna pink selalu diidentikkan dengan perempuan dan warna biru identik dengan laki-laki? Mengapa anak gadis hanya pantas belajar menari atau balet dan dianggap lain jika hobinya sepak bola? Atau, mengapa perempuan dianggap tidak perlu berpendidikan tinggi sebab kembalinya juga bakal ke dapur? Mengapa orang kulit hitam hanya pantas menjadi budak? Mengapa orang-orang berkulit cokelat hanya cocok menjadi 'warga kelas dua'?

Pandangan-pandangan tradisional yang bersembunyi di balik pembenaran akan kodrat dan dogma dari pemikiran masa lalu, sebenarnya sudah bukan menjadi PR lagi bagi relevansi perkembangan pembangunan dewasa ini. Dari zaman Kartini hingga era reformasi seperti sekarang ini, setiap tanggal 21 April, isu-isu yang diangkat tak jauh-jauh adalah isu tentang kesetaraan gender dan emansipasi. Kalau dipikir lagi, perjuangan yang dilakukan selama ini ternyata masih jalan di tempat jika isu yang diangkat setiap tahun relatif sama.

Memang, dijajah selama 350 tahun oleh Belanda meninggalkan trauma tersendiri bagi sebagian rakyat Indonesia. Namun, kita tidak boleh menutup mata bahwa Belanda sudah lebih dulu 'bangun' dan mengejar ketertinggalannya dan bahu-membahu membangun bangsanya melalui inovasi-inovasi dari kebijakan pemerintahnya. Oleh karena itu, bukan hal mustahil jika pendidikan di Belanda menempati posisi lima besar dalam skala internasional dan akan terus ditingkatkan untuk berada di posisi peringkat di atas lima pada tahun 2015.

Melihat kenyataan itu, kita sebagai bangsa Indonesia harus belajar banyak dari inovasi-inovasi yang dikembangkan oleh pemerintah Belanda untuk diadopsi dengan sistem negeri ini demi terwujudnya kesejahteraan lahir batin seluruh warga negara di mana hak-hak setiap warga negara benar-benar dijamin dan dijunjung tinggi, bukan hanya tertulis dengan rapi dalam format hitam di atas putih, yang biasa kita kenal dengan sebutan Undang-Undang Dasar.

Sanggupkah kita?

Gambar dipinjam dari sini, sono, dan sana.

Wednesday, March 24, 2010

Room to Read, Kisah John Wood Menemukan 'Kesejatian'

Seorang backpacker legendaris pernah berkata, "Certainly, travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent. in the ideas of living." Mungkin perjalanan seperti itulah yang dilakukan oleh John Wood. Perjalanannya yang dilakukan secara backpacker ke Nepal telah membawanya pada pengalaman yang akan mengubah hidupnya selamanya.

John Wood adalah seorang eksekutif senior di perusahaan Microsoft yang rela untuk meninggalkan kenyamanan hidup--kedudukan dan imbalan yang baik, mobil dan pengemudi sehari penuh, pilihan saham, keliling dunia dengan biaya perusahaan--untuk mendedikasikan dirinya, membantu pendidikan anak-anak di dunia ketiga khususnya pada ketersediaan sarana dan prasarana seperti buku-buku, perpustakaan, gedung sekolah, dan lain-lain.

Pertimbangan yang menjadi alasan kuat untuk membenarkan ide 'gila'nya itu adalah 'Apakah sungguh-sungguh penting berapa banyak salinan Windows yang kami jual di Taiwan bulan ini ketika jutaan anak tak memiliki akses pada buku? Bagaimana saya bisa siap mengenai proyek e-commerse kami di Hongkong atau usaha antipembajakan di China, saat tujuh dari sepuluh anak di Nepal menghadapi kebutahurufan seumur hidup. Apakah pekerjaan saya sungguh-sungguh penting? Satu tahun yang sukses hanya akan membantu sebuah perusahaan kaya menjadi semakin kaya. Saya akan menambahkan rekening di bank melebihi apapun yang mungkin saya mimpikan pada usia 35. ... Lihat, kau seharusnya mengakui kepada dirimu sendiri bahwa Microsoft akan kehilangan kau selama satu atau dua bulan. Seseorang akan dengan cepat mengisi tempat kosong itu. Itu berarti seakan kamu tidak pernah bekerja di sana. Tanyakan kepada dirimu sendiri, apakah ada ribuan orang yang mengantri untuk membantu desa-desa miskin membangun sekolah dan perpustakaan? Tak ada yang melakukan pekerjaan itu. Kamu harus bangkit menghadapi tantangan ini." (hal. 53-54).


Berawal dari keprihatinannya melihat semangat para siswa dan guru di Nepal untuk belajar, namun di sisi lain sarana dan prasarana yang mereka miliki begitu minim, John Wood tergerak untuk menghimpun bantuan dari koleganya melalui sebuah email dengan harapan mereka akan ikut berpartisipasi. Seiring berjalannya waktu, kegiatan donasi untuk membantu pendidikan anak-anak di dunia ketiga tersebut berkembang pesat sehingga pada tahun 1999 didirikanlah sebuah organisasi nirlaba dengan nama Room to Read.


Kalau kita lihat postingan terbaru dari website Room to Read di www.roomtoread.org hingga postingan ini diterbitkan, Room to Read telah membantu 1.129 sekolah, mendirikan 9.196 perpustakaan, menerbitkan 433 buku dengan total oplah sebanyak 4,1 juta eksemplar, mendonasikan 7,1 juta buku berbahasa Inggris, mendanai 8.725 beasiswa jangka panjang untuk anak perempuan, dan memberikan kelayakan kehidupan bagi 4,1 juta anak-anak di Banglades, Kamboja, India, Laos, Nepal, Afrika Selatan, Srilanka, Vietnam, dan Zambia.

Melihat pencapaian yang dilakukan oleh John Wood melalui Room to Read, rasanya tidak masuk akal jika kita tahu bahwa awal mula dari organisasi nirlaba yang mendunia dan mempunyai tempat terhormat di kalangan internasional tersebut dimulai dari sebuah email beruntun yang dikirim oleh John Wood kepada para koleganya.


Buku peraih
Academy for Educational Development 'Breaktrough Ideas in Education ' Award 2007 ini memaparkan tentang kisah sukses John Wood membangun organisasi nirlaba Room to Read. Pada dasarnya untuk 'menjual' usaha nirlaba seperti ini diperlukan dua prinsip utama yaitu kemampuan menjual visi dan transparansi dalam pengelolaan dana dari para donatur.

Pengalaman bekerja di Microsoft menuntun John Wood untuk membawa organisasi nirlaba ini sesuai dengan apa yang dicita-citakannya pertama kali saat dia melakukan perjalanan secara
backpacker ke Nepal. Rekruitmen pegawai yang gigih dalam menghimpun dana dan memiliki loyalitas dan integritas tinggi, menjual visi dengan menampilkan foto-foto yang memberikan energi positif bagi masyarakat, dan memberikan laporan secara berkala terhadap semua pencapaian yang telah dilakukan dari dana donasi merupakan beberapa langkah strategis John Wood untuk membuat Room to Read menjadi kredibel sebagai organisasi nirlaba bertaraf dunia.

Apa yang dilakukan John Wood adalah salah satu potret dari usaha seseorang untuk menemukan jalan hidup yang mendatangkan kebahagiaan hakiki. Sesuatu yang oleh Paulo Coelho disebut sebagai pencarian legenda pribadi dalam hidup. Melalui Room to Read, John Wood menemukan legenda pribadi itu. Sebuah media yang menyalurkan bantuan untuk menghadirkan kemungkinan untuk anak-anak di dunia ketiga menikmati pendidikan yang layak demi perkembangan diri pribadi dan kemajuan suatu bangsa di kemudian hari.


Dalam suatu kesempatan, John Wood menulis di buku hariannya: "Tidaklah penting jika kita memiliki kekayaan materi. Apa yang sesungguhnya penting adalah apa yang kita lakukan dengan kekayaan itu? Saya telah mencapai kesuksesan finansial pada usia muda, tetapi itu sebagian besar karena keberuntungan. Saya kebetulan bergabung dengan perusahaan yang tepat. Fakta bahwa saya mempunyai uang tidak menjadikan saya orang yang lebih baik. Yang sungguh-sungguh penting adalah apa yang saya lakukan dengan uang itu." (hal. 18-19)


Hasrat John Wood yang besar untuk berbagi, menghadirkan secercah harapan untuk membantu menghadirkan pendidikan yang layak bagi anak-anak di dunia ketiga, telah memancarkan energi positif yang menggerakkan ribuan orang di seluruh dunia untuk menjadi bagian dari solusi yang dia tawarkan.


Awalnya, hal-hal besar yang mendunia seperti telah terjadi pada Room to Read tersebut tak jarang disanksikan oleh banyak orang untuk menjadi kenyataan. Namun, bukti-bukti yang ada mengatakan bahwa optimisme yang disandingkan dengan kerja keras dan kerjasama yang baik, dapat menghasilkan sesuatu yang bermakna menjadi kenyataan. Maka, tidak salah jika ada peribahasa yang mengatakan bahwa tiada kebahagiaan yang lebih besar daripada kita dapat melakukan sesuatu yang menurut orang lain tidak dapat kita lakukan.


Gambar dipinjam dari
sini.

Sunday, February 14, 2010

Buku, Pesta, dan Cinta ... bersama Soe Hok Gie, Sekali Lagi


Hari ini di
peringati sebagai Hari Kasih Sayang. Sebagian warga di seluruh penjuru dunia menghikmatinya dengan merayakan hari istimewa ini bersama pasangannya, lengkap dengan kado seikat mawar merah atau sebatang cokelat. Ekspresi kasih sayang dapat berupa apa saja dan dapat ditujukan kepada siapa saja. Termasuk kepada tanah air tercinta.

Menghindari acara hiruk pikuk euforia perayaan Hari Valentine di ibukota Jakarta, saya justru belajar mengenai hangatnya sebuah ekspresi cinta kasih melalui sebuah buku. Memang bukan melulu cinta kasih antar insan yang berusaha ditekankan dalam buku ini, melainkan cinta kasih seorang manusia kepada bangsa dan negara tercinta yaitu Indonesia.

Manusia itu bernama Soe Hok Gie, pemuda keturunan Tionghoa yang lahir pada tanggal 16 Desember 1942 di Jakarta yang kemudian dikenal sebagai seorang aktivis mahasiswa. Ia digambarkan sebagai sosok idealis dan berani menentang segala ketidakbenaran, kesewenang-wenangan sikap penguasa dan menyerukan tentang nilai luhur sebuah penghargaan atas nilai-nilai kemanusiaan dan indahnya kejujuran.

Buku yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia, bekerjasama dengan Universitas Indonesia, ILUNI Universitas Indonesia, dan Kompas, serta mendapat dukungan dari berbagai pihak ini, bertujuan untuk menghadirkan kembali sosok Gie yang pernah ada di era tahun 1960-an yang berani melawan tindakan yang dianggap menyengsarakan rakyat, buah dari tingkah polah pemerintah. Keinginan untuk menghadirkan lagi sosok Gie tersebut dilandasi pemikiran bahwa kondisi sosial politik pada saat ini tidak jauh berbeda dengan keadaan di tahun 1960-an. Banyak kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro-rakyat, aparat penegak hukum yang mempermalukan kredibilitasnya, anggota parlemen yang sibuk dengan urusan partai dan kepentingan pribadinya, lupa bahwa mereka duduk di sana dititipi suatu amanah untuk menyalurkan aspirasi rakyat.


Kuali Kenangan tentang Soe Hok Gie

Sebagai sebuah cerita kenangan tentang seseorang dan suatu peristiwa yang terjadi di masa lampau, buku setebal 512 halaman ini dibagi menjadi menjadi lima bagian yang tersusun berdasarkan kedekatan dari kontributor penulis dengan sosok Soe Hok Gie yang menjadi sentral pembahasan baik mengenai kehidupan pribadinya maupun sikap dan pandangannya terhadap suatu permasalahan.

Bagian pertama berisi kenangan Rudy Badil tentang sepak terjangnya bersama teman-teman seperjuangannya yang akan 'keluyuran' menaklukkan gunung Semeru termasuk Soe Hok Gie. Di bagian ini diceritakan tentang lika-liku perjalanan rombongan tersebut mulai dari Jakarta yang naik kereta gerbong barang menuju Surabaya hingga kesulitan-kesulitan yang ditemui saat mendaki Gunung Semeru hingga akhirnya diketahui bahwa Soe Hok Gie dan Idhan Lubis (anggota pendaki yang lain) meninggal di puncak Semeru akibat menghirup gas beracun. Cerita berlanjut tentang proses evakuasi jenasah dari Puncak Semeru yang melibatkan banyak pihak dan mengandung banyak cerita haru dan decak kagum dengan perhatian masyarakat terhadap almarhum Soe Hok Gie.

Bagian kedua berisi tentang Soe Hok Gie dalam kaitannya dengan Gunung Semeru. Di bagian ini diceritakan tentang prosesi pemakaman jenazah Soe Hok Gie setelah berhasil dievakuasi dari Gung Semeru. Selain itu dijelaskan tentang keadaan geografis Gunung Semeru dalam kaitannya untuk menggali ingatan-ingatan tentang Soe Hok Gie saat napak tilas lagi rute pendakian.

Bagian ketiga agak lebih menarik. Di sini banyak kejutan-kejutan yang akhirnya membuka tabir tokoh-tokoh yang namanya disamarkan karena alasan privasi dalam buku Catatan Seorang Demonstran (CSD)-nya daniel Dhakidae. Sebut saja Nurmala Kartini Pandjaitanatau lebih dikenal dengan Kartini Sjahrir dan panggilan akrab Ker. Namanya disamrkan menjadi Sunarti. Di buku ini beliau ingin semuanya menjadi jelas, termasuk kedekatannya dengan Gie. "Siapa yang ganti nama gue jadi Sunarti di buku itu? Gue pernah berteman dengan Gie sejak 1968, karena kita kan pernah jadi mahasiswa Gie tahun 1969" (hal. 147).
Selain hobi membaca buku, Gie juga menyukai film. Selain rajin memutar film di kampusnya, Fakultas Sastra UI Rawamangun (sekarang Universitas Negeri Jakarta). Gie juga sering ke bioskop atau menyatroni kedutaan-kedutaan asing seperti kedutaan Ceko, Rumania, dan Perancis untuk menonton film. (hal. 173).

Bagian keempat berisi tulisan dari 'the angry young man', orang-orang yang tidak secara langsung mengenal Soe Hok Gie karena hidup dalam masa yang berbeda, namun mengagumi kisah hidup dan terinspirasi oleh buah pemikirannya sehingga dapat menggerakkan mereka untuk bertindak dan mengambil peran dalam masyarakat. Yang masuk kategori kontributor penulis ini antara lain ada Riri Riza, sutradara yang pernah mengangkat kisah hidup Soe Hok Gie je layar lebar (hal. 267). Aktor Nicholas Saputra juga turut menyumbangkan tulisan. Tulisannya di sini patut diperhitungkan baik dari segi maupun diksi yang dipilihnya (hal. 277). Selain itu ada Mira Lesmana (hal. 283), N. Riantiarno (hal. 289), dan lain-lain yang isinya antara lain tentang pandangan betapa buah pikiran Soe Hok Gie mampu memberikan inspirasi untuk bergerak menentang segala ketidakadilan.

Bagian kelima adalah tulisan-tulisan Soe Hok Gie yang pernah dimuat di surat kabar era 1960-an. Tulisan-tulisan ini walaupun isinya masih relevan dengan keadaan sekarang, namun sudah tidak terlalu 'berbahaya' saat dipublikasikan sekarang. Namun, ketika kita bicara pada konteks di zaman tulisan tersebut dipublikasikan di media masa, kita akan paham betapa beraninya dan betapa 'gila'-nya Soe Hok Gie dalam menentang segala bentuk ketidakadilan yang melecehkan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Soe Hok Gie ... (bukan) Dewa.

Dalam buku ini Soe Hok Gie menjadi tokoh sentral dalam pembahasannya. Ia dikenang sebagai pribadi yang idealis dan berani menentang ketidakadilan. Dan sepertinya, hal itu telah menjadi pilihan dalam hidupnya. "Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan harus menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya. Kadang, saya takut apa jadinya saya kalau saya patah-patah ..." (hal. xiii).

Pilihan untuk menjadi idealis tak jarang mendorongnya untuk melakukan penentangan. Hal-hal yang berlaku tidak wajar dan mengandung sesuatu yang menyalahi nilai-nilai kebenaran dan kejujuran menjadi sasaran empuknya untuk melakukan aksi protes. Dan sepertinya sikap seperti ini sudah mulai sejak kecil. Soe Hok Gie pernah memprotes gurunya karena suatu materi yang diajarkan menurutnya tidak benar. Karena didebat, guru tersebut naik pitam dengan buntut diturunkannya nilai Soe Hok Gie dalam mata pelajaran tersebut. Dalam catatan hariannya, Soe Hok Gie menulis: "Guru model begituan, yang tidak tahan dikritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau." (hal. 99).

Sama seperti pendapatnya bahwa guru bukan dewa, Soe Hok Gie pun juga bukan manusia sempurna. Segala bentuk diskripsi dalam buku ini yang mengatakan bahwa Soe Hok Gie merupakan pemuda yang luar biasa, luar biasa dalam segala hal, cerdas, brilian, jujur dan terbuka, seorang idealis murni dengan perasaan keadilan yang tajam, bukan bermaksud untuk mengkultusindividukan, tidak juga memaksakan, melainkan menawarkan nilai-nilai keteladanan, terutama integritas dan kebersihan hati.

Sisi lain Soe Hok Gie selain menyukai buku, debat serius tentang politik, adalah betah nongkrong di asrama mahasiswa, 'ngomong jorok', dan nonton blue film yang tak berjudul (hal. 301). Itu sangat manusiawi. Dalam ketegasan dan kekonsistenannya, Soe Hok Gie juga menyimpan kegalauan dalam hati akibat protes-protes yang dilakukannya dan penentangan orang lain terhadap protes itu. Orang jadi menganggapnya 'lain'. Namun, Soe Hok Gie tetap jalan terus, menuntun keidealisannya sampai sejauh-jauhnya.
"Saya berpikir-pikir, mengapa saya harus selalu menjadi orang baik. Sometimes I just want to be myself. Saya tak mau peduli dengan basa-basi. Saya pikir sekali-kali, orang juga harus mengerti perasaan saya. Mengapa harus selalu saya?" (hal. 182).

Kegalauan-kegalauan seperti itu kadang kala membuatnya agak berpikir kembali dengan kritik-kritik yang dilakukannya. Ia merasa kritik-kritiknya tidak mengubah keadaan dan malah membuatnya banyak musuh. Dalam suatu catatan hariannya, kadang-kadang ia merasa kesepian. Kegalauannya ini mendapat reaksi positif dari teman Amerikanya yang mengatakan bahwa "Gie, seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tetapi, sesudah kekuasaan baru ii berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan." (CSD hal. 2-3).

Mungkin, surat dari teman Amerikanya inilah yang kemudian memantabkan hatinya sehingga pendiriannya menjadi teguh untuk memegang prinsip 'lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan'. Prinsip yang selalu ia pegang hingga raga di kandung tanah. Tanah yang diperjuangkan dan dicintainya. Indonesia. Selamanya. Sekalipun banyak orang mengata-ngatainya China.

Gambar dipinjam dari sini dan sono.

Tuesday, December 29, 2009

Curhat-Curhat Fahd Djibran dan Hal-Hal di Luar Dugaan

"Kita sering lupa bahwa cinta adalah kata lain dari saling mendengarkan. Sebab mendengarkan adalah saling membuka diri: saling memberi dan menerima dengan tulus".

Penggalan kata-kata di atas termaktub dalam tulisan berjudul Memoria (hal. 23) dari kumpulan tulisan Fahd Djibran yang berjudul Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya. Jadi, yang kita perlukan hanya duduk dan mendengarkan untuk menikmati narasi linguistik di dalamnya. Dalam buku yang merupakan kompilasi dari 30 tulisan ini, kita diajak berselancar dalam dunia perenungan. Semacam dialog pribadi dengan diri untuk mendapatkan impresi sebagai kesimpulan akhir yang membawa kita pada ingatan-ingatan kecil akan nilai-nilai kemanusiaan, cinta, kontemplasi akan hidup, Tuhan, dan beberapa renik pemikiran filosofis. Kita seolah digiring untuk mencari pegangan, merefleksikan diri di depan cermin, dan sejenak berintrospeksi. Menata ulang pemikiran-pemikiran yang telah terkonsep rapi dalam sebuah jubah kelaziman demi sebuah tujuan indah berupa pengenalan diri pribadi. Penemuan jati diri. "Mungkin kita tak mengenali diri kita sendiri. Mungkin kita 'kehilangan' diri kita sendiri" (hal. 49).

Membaca buku ini kita seperti dikembalikan ke dunia anak-anak di mana animo untuk bertanya dan mempertanyakan sesuatu yang 'tidak biasa' atau 'tidak lazim' sudah lama kita lupakan karena pengaruh adiktif kedewasaan. 'Orang-orang dewasa tak pernah memahami sesuatu seperti apa adanya dan sungguh melelahkan bagi anak-anak kalau selalu harus memberi penjelasan pada mereka' (hal. 110). Tulisan Antoine de Saint-Exupery dalam bukunya The Little Prince yang dikutip di buku ini mengingatkan betapa menariknya mengalami imajinasi seperti layaknya anak-anak yang begitu manisnya dan (tentu saja) tanpa pretensi apa-apa menanyakan dan mempertanyakan sesuatu, seolah-olah dengan tak puasnya menginginkan jawaban-jawaban atas keresahan-keresahan dalam pikiran yang menggelayutinya tanpa merasa perlu khawatir akan perasaan mengalami kekejaman sebuah 'tanda titik'. Sensasi seperti itulah yang dicobahadirkan oleh Fahd Djibran dalam curhat-curhat singkat sebanyak 172 halaman yang diterbitkan oleh Gagas Media ini.

Konsep bertanya dan mempertanyakan sesuatu dalam Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya (konon) merupakan sekuel dari pendahulunya yaitu A Cat in My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa. Sebagai sebuah lanjutan, buku ini menghadirkan sesuatu yang 'agak berat' dari pendahulunya. Tulisan-tulisannya lebih rumit, lebih berisi, dan (kadang-kadang) berpotensi membuat pembaca awam bingung dengan konsep pemikiran yang dicobatawarkan. Pemilihan istilah 'dunia antara' mengingatkan kita akan keresahan-keresahan pemikiran kaum urban di kota-kota besar yang mencari alternatif dari dikotomi-dikotomi yang sering melanda kehidupan mereka dan seringkali memberikan efek keterkungkungan sehingga menuntut sebuah kekuatan pembebasan pikiran. Kebebasan berekspresi seluas-luasnya. Buku ini berpotensi untuk membawa pembebasan tersebut sekaligus memberikan 'PR' baru untuk menilai ulang tentang konsep pemikiran yang sudah terstandardisasi di masyarakat.

Blog: Sebuah Proses Kreatif

Beberapa tulisan di buku ini sebelumnya telah hadir di blognya Fahd Djibran sebagai semacam diskusi terbuka di mana pembaca blog diberi kesempatan untuk berpartisipasi dengan mengirimkan curhatnya dalam sebuah surat elektronik. Sebuah cara unik yang kini juga diterapkan oleh koran Kompas dalam menghadirkan rubrik Kompas Kita di mana seorang narasumber memberikan penjelasan akan suatu permasalahan yang ditanyakan.

Menulis merupakan pengalaman personal bagi seseorang. Ia hadir sebagai sebuah panggilan jiwa yang menuntunnya ke dalam kesadaran bahwa tugas tersebut penting untuk dilaksanakan. Panggilan jiwa tersebut akan menemukan jalannya sendiri melalui sebuah proses kreatif yang menuntut untuk terus-menerus diasah. Menurut Pramoedya Ananta Toer, proses kreatif adalah semata-mata bersifat individual yang bisa terjadi hanya setelah terbentuk mistikum sebagai conditio sine qua non. Mistikum, kebebasan pribadi yang padat (condensed), yang melepaskan pribadi dan dunia di luarnya, yang membuat pribadi tidak terjamah oleh kekuasaan waktu, suatu kondisi di mana yang ada hanya sang pribadi dalam hubungan antara kawula dengan Gusti dengan bukti kegustiannya, tertampillah sang kreator dengan Kreator melalui pernyataan-pernyataannya.

Fahd Djibran tampil dalam khasanah penulisan melalui sebuah proses kreatif di blognya dengan membawa semacam bekal, alasan, dan dorongan yang membuatnya bersemangat untuk terus berproses kreatif. Hal ini juga dibagikan dengan sidang pembaca melalui tulisannya yang berjudul Alasan (hal. 13) dan Dendam Sejarah (hal. 31). Menulis bisa berangkat dari mana saja, bermisi apa saja, dan ingin atau bertujuan ke mana saja. Kevariatifan dari alasan seseorang untuk menulis itulah yang unik dan membuatnya menjadi semacam pengalaman personal yang layak untuk direnungkan.

Karena berangkat dari tulisan-tulisan di blog, kumpulan tulisan ini lebih siap dari segi kemasan. Dalam artian, kesalahan akan tanda baca, ejaan, salah ketik, dan salah cetak dapat diminimalisai karena telah mengalami banyak sekali proses editing dalam perjalanannya dicetak menjadi sebuah buku. Kelemahan tulisan yang dibukukan dari blog salah satunya adalah adanya kebosanan atau perasaan 'tidak seperti sensasi yang didapat saat membacanya pertama kali'. Untuk menghindari hal itu, Fahd sengaja membuat editan dan penambahan tulisan baru yang sebelumnya tidak tampil di blog sehingga secara keseluruhan setelah dicetak menjadi sebuah buku akan kelihatan seolah-olah baru.

Perlu dicatat bahwa buku ini juga mempunyai soundtrack. Sebuah lagu berjudul Curhat Setan yang dibawakan oleh BFDF hadir melengkapi narasi-narasi dalam buku ini. Dalam dunia penerbitan di Indonesia, konsep produk yang menggabungkan antara buku dan musik sudah bukan hal yang baru lagi. Hal serupa juga pernah dilakukan oleh penulis Andrei Aksana (Lelaki Terindah, Cinta Penuh Air Mata, dll) dan Dewi 'Dee' Lestari (Rectoverso). Gabungan dari keduanya merupakan sebuah paduan yang menyatu. Buku dan musik. Dualisme yang satu. Konsep yang juga mengarah kepada refleksi diri bahwa dalam tubuh manusia selalu ada dua jiwa yang tumbuh bersemayam yaitu jiwa malaikat dan jiwa setan. Saat jiwa setan berontak dan mempertanyakan kenyamanan jiwa malaikat, tak ada salahnya untuk menikmati narasi dalam Curhat Setan yang ini. Anda akan sejenak bertanya-tanya sekaligus tersentak untuk mengangguk-angguk atau menggeleng-geleng menikmati sensasi kalimat-kalimatnya.

Seperti penjelasan penyair dan penulis Agus Noor tentang fiksi mini, kumpulan tulisan ini hadir serupa narasi-narasi yang menjelma sebagai seseorang yang tiba-tiba datang dan mengucapkan beberapa patah kata atau beberapa kalimat yang membuat kita terperangah. Dan orang itu mendadak sudah menghilang begitu saja. Meninggalkan kita yang hanya terbelalak, digoda sejuta tanya, dan terus-menerus memikirkan apa yang tadi barusan dikatakan orang itu. Begitulah efek saat menikmati Curhat Setan. Ia seperti satu tamparan yang membuat kita kaget terbelalak.

Gambar dipinjam dari sini.

Wednesday, December 23, 2009

Skenario Go Green untuk Mereka yang Teen

Satu lagi buku menarik untuk remaja hadir dari buah kreativitas Sitta Karina. Buku berjudul Skenario Dunia Hijau dan cerita-cerita lain ini berisi kompilasi cerpen-cerpen Sitta Karina yang dimuat dalam majalah remaja CosmoGirl. Seperti cerita-cerita Sitta sebelumnya, buku yang terdiri atas 208 halaman yang di dalamnya terkumpul 20 cerita pendek ini masih menghadirkan nuansa remaja dengan gaya hidupnya yang serba teen.

Sitta Karina sebagai penulis buku-buku teenlit, masih konsisten dengan gaya penceritaannya yang renyah, bahasa ringan sehingga mudah dimengerti, dan pesan moral yang senantiasa diselipkan di antara kisah-kisahnya yang menarik. Sitta piawai dalam bertutur, mencampurkan antara bahasa Indonesia baku, bahasa Indonesia gaul, dan tentu saja bahasa Inggris tanpa ada kesan yang dipaksakan penempatan kata atau kalimatnya. Ia selalu membuat tokoh-tokoh dan ceritanya merupakan campuran antara modernitas dan lokalitas. Antara yang gaul namun masih mematuhi kaidah-kaidah atau norma dalam masyarakat. Antara gaya yang 'barat' dan keinginan untuk menjadi 'timur'. Intinya Sitta mengajak remaja-remaja Indonesia untuk think globaly and act localy.

Hal-hal tersebut, yang mungkin menjadi ciri khas Sitta dalam menulis cerita-ceritta teenlit, tampak dalam pembuatan nama tokoh seperti Ramakrisna Syadiran, Lira Adinegoro, Heidi Suranto, dan lain-lain. Nama-nama di atas merupakan gabungan antara nama-nama remaja-remaja modern masa kini yang dipadukan dengan nama-nama keluarga Jawa yang memberi kesan urban, timur, dan lokal. Melalui kisahnya, Sitta ingin menunjukkan bahwa menjadi pribadi modern tidak harus segalanya serba kota, berpandangan barat, atau malah mengadopsi nama dan nilai yang kebarat-baratan. Bahwa yang terpenting dari semuanya adalah membuat diri pribadi berkembang sesuai dengan perubahan zaman tanpa harus larut dalam arus globalisasi yang mendorong ke arah negatif dan bertentangan dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Satu hal yang menjadi catatan menarik untuk buku ini adalah adanya tiga cerita inspiratif yang ikut hadir melengkapi buku ini dan membahas isu yang sangat hangat dibicarakan di seluruh dunia. Isu utama tersebut adalah mengenai global warming. Seperti kita ketahui bahwa suhu bumi telah meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir akibat dampak emisi karbon. Maka dari itu, perlu ada usaha berkesinambungan untuk secara sadar membawa pola pikir masyarakat ke arah penanggulangan percepatan kenaikan suhu udara bumi tersebut. Perlu ada upaya nyata dan peran aktif dari masyarakat untuk berperilaku dan mempunyai gaya hidup yang green. Tak terkecuali para remaja.

Melalui cerita pendek yang berjudul Skenario Dunia Hijau, for-REAL, dan Hujan Terakhir, kita diajak untuk kembali merenungkan bahwa dibalik kehidupan remaja yang ceria dan penuh gejolak asmara, selalu saja ada celah yang dapat diambil untuk ikut serta membuat bumi semakin hijau dengan berperilaku dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari yang dijalaninya. Tips-tips seperti tidak merokok, membuang sampah pada tempatnya, menggunakan kertas daur ulang sebagai bungkus belanjaan dan mengurangi penggunaan tas plastik, jalan kaki, sampai dengan pemilihan baju untuk fashion show yang berbahan dasar organic cotton yang lebih ramah lingkungan, hadir sebagai sebuah kampanye hidup sehat dan dapat dijadikan semacam green guide bagi remaja. Efeknya, selain para remaja tahu akan pentingnya isu tersebut, juga membuat mereka sadar bahwa kepedulian mereka untuk alam lingkungan berdampak besar bagi kelangsungan hidup umat manusia. Diharapkan remaja juga mampu menjadi semacam pelopor yang dapat memberikan penerangan dan ujung tombak bagi kesadaran masyarakat akan pentingnya peduli pada lingkungan. Para remaja dapat menularkan kebiasaan baiknya untuk bergaya hidup yang lebih hijau kepada masyarakat melalui lingkup keluarga, obrolan dengan teman sebaya, maupun dalam komunitas diskusi lintas usia.

Dalam buku ini pun tidak melulu bercerita tentang tema lingkungan dan global warming. Tema cinta dan persahabatan tetap menjadi topik dominan dalam cerita-ceritanya. Kisah-kisah patah hati, sibuk dengan urusan sekolah, persaingan memperebutkan pacar, hubungan orang tua-anak, dan kisah-kisah lainnya seperti umumnya terjadi pada usia pubertas bertaburan dalam buku ini. Remaja yang memang menjadi pangsa pasar untuk buku-buku teenlit diajak untuk berpikir ulang, menata pola pikir dan pola sikap, serta mengadopsi nilai-nilai positif dari efek globalisasi tanpa harus kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang berkepribadian luhur. Mendorong untuk berpikiran modern tanpa menghilangkan nuansa lokal dalam setiap kehidupan yang dijalani. Intinya, buku ini bukan hanya untuk hiburan tapi juga dapat digunakan sebagai sarana kampanye perubahan pola pikir bagi remaja. Setidaknya dapat mendorong remaja untuk lebih peduli kepada lingkungan. Baik lingkungan kehidupannya sebagai pribadi makhluk sosial maupun lingkungan alam tempat dirinya berpijak.

Cover buku dipinjam dari sini.

Tuesday, September 15, 2009

Perahu Kertas: Sebuah Pelayaran dalam Dunia Kreatifitas Dewi 'Dee' Lestari

Setelah ditunggu-tunggu kehadirannya dalam versi cetak, buku ke-6 Dewi 'Dee' Lestari yang diberi tajuk Perahu Kertas akhirnya menyapa pembacanya di toko-toko buku. Buku yang sebelumnya pernah diedarkan dalam format WAP oleh sebuah perusahaan content provider tersebut menjelma menjadi sebuah wujud yang nyata dalam bentuk print out atas kolaborasi dari penerbit Bentang Pustaka dan Truedee.

Bila selama ini Dee hadir dan dikenal karena kepiawaiannya merangkai kata dan mengkombinasikannya dengan sains, memfilosofikan suatu kesederhanaan menjadi sesuatu yang menggugah kesadaran, kali ini ia hadir dengan sesuatu yang sedikit berbeda. Dalam Perahu Kertas, Dee tampil dengan bahasa yang ringan, cenderung nge-pop, dengan cerita yang sangat filmis dan penuh drama.

Dari total 444 halaman yang terbagi dalam 46 episode dan setidaknya 85.000 kata ini, ada satu kalimat yang menjadi titik berat pembacaan saya atas novel ini. Sebuah kalimat yang setidaknya dapat merangkum sebuah proses menuju pencapaian sesuatu. Kalimat itu tercantum dalam halaman 46 yaitu 'berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.'

Konsep berputar, bertransformasi menjadi sesuatu yang lain untuk akhirnya menjadi diri sendiri lagi sepertinya tercermin pada diri Dee di Perahu Kertas. Ada semacam sisi Dee yang lain, yang meminta untuk dieksekusi menjadi suatu karya nyata, menunjukkan bahwa daya kreativitas Dee mencakup sisi yang sangat luas. Ia tidak saja membuktikan bahwa seorang penulis tidak seharusnya terkungkung dalam suatu genre atau gaya penceritaan dengan diksi dan bahasa sastrawi yang cenderung melangit. Bahwa penulis harus bebas, mampu menyentuh pembacanya, baik dengan bahasa sastra maupun dengan bahasa populer yang lebih membumi. Melalui Perahu Kertas, Dee berusaha bertransformasi untuk membuktikan hal tersebut.

Sama seperti Dee, tokoh-tokoh dalam Perahu Kertas adalah manusia-manusia yang berada di persimpangan jalan, berusaha menemukan hidup mereka, menemukan peran yang sesuai dalam kehidupan, mencari jati diri, yang tak jarang dalam prosesnya harus bertransformasi menjadi sesuatu yang bertentangan dengan kehendak yang dituntun nuraninya. Ada Keenan, remaja dengan talenta melukis yang luar biasa, mencoba berdamai dengan keinginan ayahnya untuk menempuh pendidikan ekonomi di salah satu universitas di Bandung (hal. 11), yang akhirnya memilih untuk mengikuti suara hatinya dan berusaha untuk menjemput impiannya menjadi pelukis, berkumpul dengan seniman-seniman lukis di Ubud, Bali (hal. 198). Dan ada Kugy, remaja eksentrik dengan bakat menulis dan obsesinya menjadi juru dongeng harus berdamai dengan diri pribadi dan menyadari bahwa hidup belum berpihak kepada dirinya (hal. 207). Untuk menyiasatinya, Kugy membuat suatu dunia imaji sendiri dengan mengirimkan uneg-uneg hatinya melalui pesan yang dikirimkan kepada Neptunus dalam sebuah perahu kertas.

Kedua tokoh tadi dipertemukan dan disubstitusi dengan kehadiran tokoh-tokoh seperti Eko (sepupu Keenan), Noni (sahabat Kugy dari kecil dan ceweknya Eko), Wanda (kurator muda yang dicomblangkan kepada Keenan oleh Eko dan Noni). Konflik kepentingan, perbedaan prioritas dalam menjalani kehidupan, kenangan masa lalu yang membekas dan membeku menjelma dendam, dan solusi alternatif yang melingkupi tokoh-tokoh di atas, hadir lewat karakter-karakter seperti Ojos (a.k.a. Joshua, kekasih Kugy), Poyan dan Luhde (orang-orang yang menjadi keluarga Keenan di Bali), Lena dan Adri (orang tua Keenan), dan Remigius Aditya (bos Kugy yang akhirnya menjadi pacarnya setelah Kugy putus dengan Ojos).

Karakter-karakter di atas berinteraksi, berhubungan satu sama lain, menciptakan jaring laba-laba yang seolah-oleh ruwet namun mudah terurai. Dari sini kita dapat melihat kepiawaian Dee menciptakan kompleksitas dalam alur cerita untuk kemudian menguraikannya secara perlahan dan hati-hati sehingga mengisyaratkan bahwa tokoh-tokoh yang hadir semuanya memiliki peran dalam bangunan cerita dan bukan sebagai figuran asal tempel. Walaupun Perahu Kertas terkesan sebagai kisah cinta yang biasa-biasa saja, kita akan selalu menemukan Dee dalam kepiawaiannya berfilosofi dan bermetafora dalam bercerita, menyembunyikan misi di balik diksi, dan menyematkan pesan ke dalam perasaan.

Proses Kreatif

Membaca sebuah buku sama halnya seperti mencoba berkenalan dengan karakter penulisnya. Menurut Budi Darma, Guru Besar Sastra dari Universitas Negeri Surabaya, dalam bukunya yang berjudul "Bahasa, Sastra, dan Budi Darma" mengatakan bahwa pengarang yang baik adalah pengarang yang mampu menggunakan intuisinya sebagai daya serap, intelektualitasnya sebagai daya rancang, dan kejernihan logikanya sebagai daya seleksi dalam mengolah ide menjadi bangunan cerita yang utuh. Menurut hemat saya, Dee berkualifikasi atas karakter-karakter yang disebutkan oleh Budi Darma di atas. Hal itu dapat kita lihat dalam blog proses kreatifnya dalam menciptakan Perahu Kertas. Blog tersebut dibuat sebagai suatu open kitchen yang mengiringi proses kreatifnya dalam menjalankan 'proyek bunuh diri'-nya itu.

Dari blog tersebut dapat diketahui bahwa kedisiplinan adalah kunci dari kesuksesan. Keberanian berspekulasi adalah langkah yang layak dipertaruhkan demi sebuah aktualisasi diri. Dan pada akhirnya, kehadiran sebuah buku hanya akan ada dari kesetiaan dan kerja keras dari seorang penulis untuk secara serius duduk dan menulis.

Dari blog tersebut juga kita akan tahu kesibukan Dee selama proses penulisan Perahu Kertas, ada banyak jeda, ada peralihan kerja, ada pembagian waktu, dan ada pengorbanan yang harus dibayar. Kadang saya berpikir bahwa Dee kurang fokus dalam mengerjakan Perahu Kertas karena beberapa kali harus diinterupsi dengan proyek-proyek kreatifnya yang lain. Dee terlalu banyak berspekulasi dengan waktu. Namun demikian, sebagai sebuah karya yang layak diapresiasi, Perahu Kertas hadir ke hadapan kita dalam keadaan yang boleh dibilang sangat siap untuk terbit. Hal ini terlihat dari sangat minimnya terjadi kesalahan ejaan atau salah cetak. Dua kali diterbitkan oleh operator seluler, saya yakin Perahu Kertas telah mengalami modifikasi dan perbaikan di sana sini sebagai bagian dari penyempurnaan kemasan.

Salah satu cara bagi saya untuk menilai kualitas karya dari seorang penulis selain dari isinya adalah dari kebenaran ejaan dan kebakuan bahasa sesuai dengan peruntukannya. Hal ini menunjukkan kinerja dan keseriusan dari tiga elemen yaitu penulis, editor, dan penerbit. Dan sungguh suatu kejutan, di antara karya-karya Dee, Perahu Kertas adalah karyanya yang sangat minim terjadi kesalahan penulisan dan ejaan.

Menyangkut isi, pada suatu kesempatan Dee membahas tentang karakter Kugy. Menurutnya tokoh tersebut merupakan representasi dari dirinya yang sampai saat ini belum kesampaian untuk membuat cerita anak-anak. Bagi saya pribadi, tokoh Kugy sangat unik dan lain. Kugy mengingatkan saya pada Strowberry, tokoh utama sebuah sinetron dengan judul serupa yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta sekitar tahun 2000-an dengan pemerannya adalah Rachel Maryam. Dan bukan sebuah kebetulan jika sutradara sinetron tersebut adalah saudara Dee sendiri yaitu Key Simangunsong. Saya rasa ada semacam keterhubungan antara keduanya.

Inilah sedikit dari ulasan mengenai novel terbaru Dee. Perahu Kertas, dengan segala keterbatasan dan kesederhanaannya mampu menyihir para pembacanya untuk tertawa, menangis, terharu, jengkel, dan berbagai macam kesan yang menggantung di perasaan untuk secara sadar hanyut dalam cerita. Sebagai sebuah buku, saya rasa Perahu Kertas layak untuk dijadikan parsel lebaran Anda tahun ini, bukan sekadar sebagai koleksi tapi lebih kepada sebagai sebuah sarana untuk menebarkan Cinta. Karena itulah sebenarnya esensi dari perahu kertas yang dilarungkan oleh Kugy kepada Neptunus, yaitu mengirim pesan-pesan cinta. Dan tak ada yang lebih membahagiakan di dunia ini selain hidup dalam keadaan yang selalu diliputi cinta. Walaupun pada akhirnya Perahu Kertas hanya akan bergoyang sendirian ....

... menanti untuk dibaca.

PS: Baru saya sadari, inisial nama blog saya sama dengan inisial judul embrio Perahu Kertas yaitu KK. Kugy dan Keenan. Keajaiban Kata. Mungkin Perahu Kertas berisi kata-kata ajaib yang membangkitkan. Oleh karena itu, layak bersemayam di blog ini ;=)

Monday, April 06, 2009

The Tales of Beedle The Bard: Dongeng J.K. Rowling Pasca Harry Potter

The Tales of Beedle The Bard. Begitulah judul buku karya J.K. Rowling yang baru saja diterbitkan. Buku dongeng yang ditulis dan diilustrasi sendiri oleh Rowling tersebut menunjukkan bahwa energi kreatifnya tak serta merta surut setelah buku pamungkas Potter mengakhiri kisah bocah penyihir itu.

Bagi yang sudah membaca buku ke tujuh Harry Potter yaitu Harry Potter and The Deathly Hallows, pasti tak asing dengan karya teranyar J.K. Rowling di atas. Ya, The Tales of Beedle The Bard merupakan sebuah buku yang disebutkan dalam the Deathly Hallows, diwariskan oleh Profesor Albus Dumbledore kepada Hermione Granger sebagai suatu sarana atau petunjuk untuk menumpas penyihir hitam paling jahat yang pernah ada di dunia, Lord Voldemord.

Sebagai sebuah buku dongeng, The Tales of Beedle The Bard tak ubahnya sebuah buku dongeng yang sering dibacakan untuk anak-anak Muggle-- komunitas non-penyihir-- di mana tersimpan pesan bahwa kebaikan akan mendapatkan ganjaran dan kejahatan akan mendapat hukuman yang setimpal. Kisah-kisah penyihir masih menjadi acuan karyanya kali ini. Kisah-kisah seperti Sang Penyihir dan Kuali Melompat, Air Mancur Mujur Melimpah, Penyihir Berhati Berbulu, Babbity Rabbity dan Tunggul Terbahak, serta Kisah Tiga Saudara menghiasi buku dongeng setebal 144 halaman yang di Indonesia diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama.

Selain kisah-kisah menarik, buku ini dilengkapi dengan catatan dari Profesor Albus Dumbledore mengenai riwayat dan pandanganpenyihir paling hebat di dunia saat ini tersebut mengenai masing-masing kisah berkenaan dengan pengaruhnya dalam dunia komunitas sihir. Kisah Sang Penyihir dan Kuali Melompat serta Air Mancur Mujur Melimpah merupakan kisah yang sempat membuat sebagian komunitas sihir resah di mana terdapat kisah yang bercerita tentang pro-Muggle, suatu hal yang sangat dihindari oleh komunitas sihir yang berpendapat bahwa darah murni merupakan konsepsi yang harus dijunjung tinggi dan bahwa sihir hanya pantas diajarkan kepada keluarga yang mempunyai darah penyihir secara turun temurun. Muggle merupakan kelompok yang perlu disingkirkan dari komunitas sihir. Keluarga Malfoy adalah salah satu yang mendukung konsep darah murni ini dan menganggap bahwa dongeng-dongeng yang berkisah pro-Muggle sudah selayaknya untuk disingkirkan dari perpustakaan Hogwarts.

Kisah Penyihir Berhati Berbulu merupakan kisah paling kelam karena mengandung sihir hitam layaknya penggunaan Horcrux untuk membelah atau memisahkan jiwa. Kali ini diceritakan bahwa yang dipindahkan atau dipisahkan dari tubuh adalah hati sehingga membuat tubuh yang ditinggalkan menjadi tidak sensitif dan cenderung berbuat layaknya hewan buas. Hal itu terjadi karena adanya pemisahan sesuatu yang seharusnya tak boleh terpisahkan, sesuatu yang melanggar aturan pertama dalam Hukum Fundamental Sihir Adalbert Waffling: Usiklah misteri misteri terdalam--sumber hidup, esensi diri-- hanya jika kau telah siap menanggung konsekuensi paling ekstrem dan paling berbahaya (hal. 86-87).

Kisah Babbity Rabbity dan Tunggul Terbahak menceritakan kisah konyol tentang raja bodoh yang terobsesi menjadi penyihir. Dalam kisah ini dikenalkan pula tentang animagus yaitu penyihir yang dapat berubah menjadi kelinci. Secara umum, Babbity Rabbity mengusung dongeng tradisional yang menceritakan kekuatan penyihir yang mampu berubah wujud.

Bagi saya pribadi Kisah Tiga Saudara merupakan kisah yang paling indah. Walaupun tidak disebutkan di dalam buku The Tales of Beedle The Bard, dalam Harry Potter and The Deathly Hallows disebutkan bahwa Kisah Tiga Saudara mengisahkan tentang tiga bersaudara Peverell yaitu Antioch, Cadmus, dan Ignotus dalam usahanya melawan kematian. Dengan masing-masing mempunyai benda sihir yang dihadiahkan oleh Kematian, mereka menjalani kehidupan sebagai penyihir yang tak terkalahkan. Antioch Peverell dengan Tongkat Elder-nya yang tak terkalahkan dalam duel, Cadmus Peverell dengan Batu Kebangkitan yang mampu menghidupkan orang yang telah mati, dan Ignotus Peverell dengan Jubah Gaib yang sangat populer dalam dunia Harry Potter sebagai benda sihir yang membuat pemakainya tak tampak dan terlindungi dari derasan mantra apapun. Namun, pada akhirnya kematian menguasai semuanya karena pada kodratnya, tak ada makhluk di dunia ini yang luput dari kematian.

Begitulah, lima dongeng yang akan menghadirkan kegembiraan, tawa, dan ketegangan bagi para pembacanya. Selamat membaca kisah apik ini dan resapi pesan yang terkandung di dalamnya. Kita akan mendapatkan semacam konsep umum tentang kebenaran seperti yang dijelaskan Profesor Albus Dumbledore bahwa kebenaran itu indah dan mengerikan, dan karenanya harus diperlakukan dengan amat hati-hati.

Cover buku dikopi dari sini.

Tuesday, December 23, 2008

Tamasya Kata dalam Serangkaian Tanda Tanya

"Hidup yang tidak pernah dipertanyakan, sesungguhnya adalah hidup yang tak pernah layak untuk diteruskan."

Petikan dari ungkapan Socrates di atas menjadi titik berat pembacaan saya ketika membaca buku A Cat in My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa karya Fahd Djibran. Dari total 160 halaman yang berisi 27 tulisan berupa sketsa, prosa, dan cerita, kita akan diajak untuk melakukan dialog dengan diri pribadi mengenai konsep-konsep yang terkadang dianggap remeh dan sepele menjadi sesuatu yang layak untuk didalami maknanya. Apa itu hidup? Apa itu cinta? Apa itu Tuhan?

Dengan sejumlah metafor dan narasi linguistik yang memikat, buku ini menggiring kita untuk mempertanyakan konseptualisasi yang telah terpatri dalam persepsi diri kita atau menjadikan semacam pencerahan atas pemikiran kita untuk mencari kedalaman makna dalam hidup. Makna serupa pintu keluar yang selalu kita cari ketika kita tersesat dalam sebuah labirin ketidakpastian. Alinea ini terdapat pada tulisannya yang berjudul Labirin. Pencarian makna atas hakikat hidup, romantisme cinta, dan hubungan dengan Sang Khalik itulah yang berusaha dijelaskan (atau mungkin dipertanyakan) kepada sidang pembaca.

Menulis tentang hal-hal yang mengusik pemikiran dibutuhkan semacam intuisi dalam berkreativitas. Dan intuisi adalah bakat. Pendidikan atau latihan hanya bersifat menambah ketajaman intuisi. Seperti dikatakan oleh Budi Darma, Guru Besar Sastra Universitas Negeri Surabaya, kekuatan intuitif pada hakikatnya adalah transendental yaitu kekuatan common sense atau akal sehat tanpa penggunaan seperangkat teori dalam pengertian yang formal. Saya kira Fahd memiliki intuisi semacam itu dalam mencipta karya.

Tengok saja tulisannya yang berjudul Tubuh. Dalam tulisan tersebut kita diajak untuk merekonstruksi persepsi secara umum tentang citra cantik. Hal yang menjadi kian destruktif maknanya akibat simbol-simbol yang dikomersialkan melalui media cetak maupun elektronik dalam wadah seperangkat produk perawatan tubuh.

Dalam Pertem(p)u(r)an dengan Tuhan, dengan metafora yang lincah, Fahd mengajak kita merefleksi keimanan kita akan kehadiran Tuhan dalam elemen kehidupan yang kita jalani. Bahwa sebenarnya konsep tentang 'Tuhan itu dekat' seringkali kita antipati dengan sikap menjauhnya kita dari ajaran yang telah diwahyukan kepada umat manusia. Kita seringkali berusaha untuk menghindar dari konsepsi ritual agamis yang menjadi tangga dekatnya rahmat Tuhan.

Skizofrenia menghentak dengan pemikiran tentang konsep dualisme. Kita serasa dijungkirbalikkan dalam suatu relativitas kebenaran pemikiran atas negasi dari suatu konsep yang kita yakini benar. Di sinilah kita ditantang untuk memilih satu di antara dua. Menetapkan pilihan tertentu dan menolak konsep 'antara'. Dari sini terlihat jelas bahwa relativitas tak akan bisa menjelaskan absolutisme.

Pandangan Fahd tentang toleransi dan pasifisme tampak dalam Keberagam(a)an, yang berusaha memberikan secuil makna bahwa perbedaan merupakan rahmat yang di dalamnya terkandung manifestasi keagungan Tuhan.

Saya kira itu saja tulisan dalam buku ini yang patut mendapat apresiasi dan perhatian lebih, namun bukan berarti tulisan yang lain miskin makna, hanya saja mengusung tema dan konsep serupa.

Dengan kemasan kertas daur ulang dan sampul yang cukup merepresentasikan isi, buku ini mampu menghadirkan serangkaian pertanyaan filosofis yang mampu mengetuk pemikiran pembacanya untuk berefleksi, menghadirkan pertanyaan dalam diri akan keimanan, persepsi hidup dan cinta, serta konsep keseharian dalam memandang suatu hal.

Kalau ada yang kurang dari buku ini adalah kurangnya perhatian yang serius dalam hal editing, baik dalam hal ejaan, ketikan, maupun isi terutama penggunaan tanda baca. Dalam hal isi terdapat sedikit kesalahan yang agak menggangu yaitu tentang penemuan bola lampu oleh Alexander Graham Bell (hal. 156). Bukankah sudah jamak diketahui bahwa Alexander Graham Bell adalah penemu pesawat telepon, sedangkan bola lampu ditemukan oleh Thomas Alpha Edison.

Terlepas dari beberapa hal yang luput dari koreksi editor, setelah Si Parasit Lajang karya Ayu Utami dan Filosopi Kopi milik Dewi 'Dee' Lestari yang juga diterbitkan oleh Gagas Media, buku yang memiliki konsep serupa ini layak untuk diapresiasi, bukan hanya untuk sekadar koleksi.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...