Showing posts with label Jejak Langkah. Show all posts
Showing posts with label Jejak Langkah. Show all posts

Wednesday, February 23, 2011

Bertamu di Rumah Allah

MASJID BAYUR, MANINJAU
Setiap kali berkunjung ke suatu daerah, saya hampir selalu menyempatkan diri untuk sholat di masjid yang terkenal di daerah tersebut. Bukannya apa-apa, tapi bagi saya, masjid yang paling 'utama' di suatu tempat, dalam asumsi saya merupakan masjid yang paling beragam pengunjungnya. Banyak orang yang bukan penduduk setempat melakukan ibadah di tempat yang sama. Dan bagi saya pribadi, pemandangan orang (asing) yang lalu lalang, terlihat heterogen, dan tak saling mengenal satu sama lain, namun terhubungkan dengan satu kodifikasi bahasa dalam ritual pemujaan kepada Sang Khalik merupakan bentuk keindahan hakiki yang menunjukkan bahwa persamaan kedudukan manusia di hadapan Tuhannya merupakan sesuatu yang mutlak dan tak terbantahkan. Hanya tingkat ketakwaannya saja yang menjadi pembeda antara satu dengan yang lainnya.Ketika melihat suatu jamaah sholat sedang khusuk menegakkan tiang agama, saya kadang berpikir, seandainya hidup yang kita jalani mendasarkan diri pada filosofi sholat, maka betapa harmonisnya jenis kehidupan yang tercipta di muka bumi. Perasaan takjub sekaligus prihatin kerap saya rasakan saat berkunjung ke masjid-masjid tersebut. Ada satu perasaan yang hadir namun sulit terbahasakan dengan sempurna saat melihat jamaah, datang dalam berbagai warna kehidupan, berbeda latar belakang, menggunakan atribut pakaian yang bermacam-macam, duduk dan bersujud dalam satu bahasa yang sama, serta mengamini doa sang imam. Namun, rasa miris juga teralami saat tahu, paska kekhusukan yang baru saja dilakukan dalam sederet doa dan permohonan yang dilantunkan harus berbayar hilangnya sepasang sandal atau tertukarnya barang di tempat penitipan. Saya kadang ikut prihatin jika melihat mereka-mereka yang baru saja kehilangan dan harus rela pulang tanpa alas kaki. Lebih miris lagi, saat saya bertandang ke Provinsi Sumatera Barat, saya melihat banyak sekali masjid didirikan hingga saya tak pernah merasa kesulitan untuk mencari masjid. Namun, di sisi yang lain, masjid-masjid tersebut sepi 'pengunjung'. Pertanyaannya, untuk apa didirikan banyak masjid, dengan kapasitas yang tidak tanggung-tanggung mampu menampung ratusan bahkan ribuan jamaah namun secara rutin hanya 'dihuni' oleh beberapa orang, termasuk takmir masjidnya? Apakah ini sebuah bentuk kemubaziran? Atau hal ini merupakan ekses dari banyaknya materi yang tak tersalurkan dengan efektif. Entahlah, saya hanya berusaha mereka-reka saja kemungkinan yang ada.
MASJID AGUNG JAWA TENGAH


Umumnya, masjid yang saya kunjungi merupakan bangunan yang terintegrasikan dengan gedung untuk hajatan. Orang dapat menyewa tempat tersebut untuk beberapa saat sehingga tahapan acara seperti pernikahan dapat dilaksanakan dengan menghemat waktu dan biaya. Akad nikah bisa dilakukan di dalam bangunan masjid sementara untuk resepsi diadakan di gedung yang letaknya bersebelahan dengan masjid tersebut. Beberapa kali saya menghadiri pernikahan teman yang letaknya di masjid model seperti itu. Tapi, dibalik efektifitas tersebut tentu saja menunggu sebuah harga yang variatif, tergantung dari model dan tingkat kemewahan dari gedung dan pesta yang diadakan. Untuk mesjid dengan 'aula' yang kapasitasnya terbatas tentu berbeda dengan gedung yang dengan daya tampung seperti lapangan sepak bola. Dan pemilihan mesjid dengan kapasitas daya tampung aulanya di satu sisi juga menunjukkan 'kelas' dari orang-orang yang sedangan mempunyai hajat. Saya pernah merasakannya saat berkunjung dan datang di acara nikahan teman kantor yang diadakan di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang. Dan saya juga menanti-nanti acara nikahan kakak saya Bulan Juni nanti yang rencananya akan diadakan di aula Masjid Agung Jawa Timur, Surabaya.Lain masjid lain pula ceritanya. Saat waktu sholat sudah hampir habis, sementara kita masih di jalan, masjid 'seadanya' yang jadi pilihan. Dan karena saya sedang tugas di daerah Jakarta Pusat, saya langsung meminta supir mengarahkan mobil ke Mesjid Cut Mutia. Sebenarnya saya sudah lama tahu keberadaan masjid ini dan sudah lama ingin sholat di dalamnya. Tapi, saat lewat masjid ini, saya sudah sholat dan waktu sholat berikutnya masih lama, sementara saya harus segera berada di tempat lain untuk urusan pekerjaan.Alhasil, keinginan itu belum pernah tersampaikan sampai saat saya merasa 'kebelet' sholat.
MASJID CUT MEUTIA, JAKARTA
Sebenarnya tak ada yang istimewa dari masjid ini selain merupakan masjid dengan arsitektur art deco gaya Belanda dengan jendela dan pintu yang tinggi-tinggi. Ada kesan mewah berbalut klasik sekaligus 'angkuh' karena merupakan warisan kolonial. Namun di sisi yang sama, masjid ini kelihatan terlalu kecil jika dilihat dari letaknya yang berada di kawasan elitis Menteng. Kadang, pantas juga masjid ini tidak terlalu besar (tidak ada penambahan kapasitas daya tampung) karena mungkin (sekali lagi saya katakan mungkin) orang sini jarang yang sholat jamaah di masjid ini. Yang saya lihat justru kebanyakan sopir taksi banyak sekali yang menggunakannya sebagai tempat melepas lelah dan beberapa pengunjung malah terlihat tidur dengan pulasnya. kalau tidak percaya, datanglah ke masjid ini sekitar pukul dua siang. Lantainya akan penuh dengan orang tidur dengan nyenyaknya. Pertanyaannya, apakah di masjid ini tidak ada larangan untuk tidur di dalam masjid?
MASJID RAYA MEDAN

Masjid yang ingin sekali saya datangi sejak SD adalah Masjid Raya Medan. Saya ingin mengunjunginya hanya karena masjid tersebut merupakan gambar sampul dari buku-buku Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam yang saya miliki waktu SD dulu. Rasa-rasanya masjid tersebut kelihatan megah sekali sampai saya ingin merasakan untuk sholat di dalamnya.Memang sih, kalau kita lihat dari luar masjid ini tampah megah dan indah. Tapi coba datang ke sini pas hari Jumat. Entah karena cuek atau kasihan, banyak sekali kesemrawutan yang terlihat di halamannya. Pertama, tentu banyaknya pengemis ini sungguh membuat miris dan prihatin. Setiap saya ke mesjid di suatu daerah untuk sholat Jumat, biasanya pengemis-pengemis itu duduk berderet di sisi luar (kanan kiri) pintu masuk, bukan di halaman masjid. Tapi di sini justru duduknya di pelataran masjid. Jadi, pemandangannya seperti orang lagi jualan sesuatu gitu padahal yang didasarkan adalah kantong-kantong untuk tempat sedekah. Yang kedua, adanya preman penitipan sandal yang mengganggu ketenangan ibadah. Di tempat saya tinggal, sandal atau sepatu di letakkan di sebarang tempat aman-aman saja artinya kecil kemungkinannya untuk dicuri. Tapi kalau di sini, lebih baik Anda membayar uang Rp. 1000,00 rupiah kepada preman atau anak-anak kecil penjaga sandal itu daripada pulang dengan kaki telanjang. Yang ketiga soal kamar mandi dan tempat wudhu. Untuk ukuran sebuah Masjid Raya, masjid ini memiliki toilet dan tempat wudhu yang menyusahkan bagi pengunjung, baik karena keadaannya yang memprihatinkan maupun letak bangunannya yang tidak terintegrasi dengan bangunan masjid. Saya jadi berpikir, betapa tidak nyamannya kalau tiba-tiba saja ada jamaah yang batal wudhunya karena kentut.Satu lagi masjid yang ingin saya datangi sejak kecil. Masjid itu adalah masjid Istiqlal di Jakarta. Masjid ini ingin saya kunjungi karena saya nonton acara video klip adzan magrib di televisi. Rasanya teduh sekali bisa sujud di dalam masjid ini.
MASJID ISTIQLAL, JAKARTA
Dan benar saja, masuk ke masjid ini pertama kali untuk sholat dhuhur, seperti merasakan oase di tengah padang gurung. Rasanya sejuk setelah ditimpa panasnya kota Jakarta.Masjid Istiqlal itu unik, saya tak melihat ada AC di dindingnya, tapi arsitektur bangunannya mengondisikan tempat tersebut memang didesain untuk menciptakan kenyamanan bagi pengunjungnya untuk beribadah tanpa memikirkan betapa panasnya keadaan di luarnya. Tapi, yang membuat tercengang adalah bangunan ini bersebelahan dengan gereja Katolik terbesar di Indonesia. Ini menunjukkan kalau toleransi beragama benar-benar dijunjung tinggi. Kepentingan ibadah kepada Sang Khalik merupakan kepantingan individu yang sesuai dengan keyakinan yang dianut. Tidak boleh ada intervensi, tekanan, atau pemaksaan dari siapapun juga.

Sebenarnya, banyak sekali masjid yang sudah saya kunjungi namun tidak saya sebutkan di sini. Beberapa di antaranya karena 'tak sengaja' saya datangi saat batas akhir waktu sholat segera tiba. Tapi saya juga punya sedikit harap, kalau punya umur panjang dan diberi kesempatan, saya ingin sekali mengunjungi Masjid Agung Surabaya, Masjid Raya Banda Aceh, Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, masjid-masjid di Turki, dan masjid-masjid yang lain. Sepertinya berada di masjid tak ubahnya seperti mencecap surga kecil yang damai. Mungkin, sesederhana itulah kenikmatan surga bagi saya, saat berada di suatu tempat dalam wujud penghambaan kepada Sang Khalik tanpa diliputi perasaan was-was atau ketergesaan. Tapi sebuah perasaan tenang yang menenteramkan hati, membawa ketenangan jiwa.

Friday, June 25, 2010

Episode #30: Meet and Greet with Trinity (The Naked Traveler)

Jalan-jalan. Apa enaknya sih? Tadinya saya memang sudah suka jalan-jalan. Tapi acara jalan-jalan saya masih sebatas jalan-jalan biasa. Maksudnya tidak dengan gaya backpacking, tidak seperti seorang traveller, dan jauh sekali dikategorikan sebagai sebuah acara petualangan. Paling banter jalan-jalannya masuk dalam kategori rekreasi yang lazimnya dilakukan oleh siswa SMP atau anak kuliah yang mengadakan acara karyawisata. Begitu masuk dalam kejamnya dunia Jakarta, tahulah saya beberapa orang yang suka jalan-jalan dalam arti yang lebih menarik, lebih ada tantangannya, dan lebih punya seni. Dan saya sudah beberapa kali jalan-jalan ala itu.

Seninya jalan-jalan bukannya dalam bentuk bisa menikmati pemandangan indah, menginap di hotel mewah, atau naik transportasi kelas eksekutif. Yang dimaksud seninya jalan-jalan di sini adalah pengalaman-pengalaman yang tidak bisa didapat kalau kita ikut paket tour. Jadi, jalan-jalan yang dilakukan di sini adalah jalan-jalan independen yang musti kita siap-siapin semuanya sendiri. Mulai dari reservasi tiket, penginapan, dan lain-lain. Kejadian yang dialami pun juga macam-macam. Kadang kejebak macet, pesawat yang delay, dapat hotel dengan harga yang miring, makan di tempat yang murah meriah tapi enak, kenal dan bercengkarama dengan orang yang sama sekali asing sebelumnya, atau mengalami pengalaman pahit seperti ketemu hantu, dicopet, dan lain-lain.

Selain karena sharing pengalaman dengan teman-teman sesama penyuka jalan-jalan, saya membaca buku The Naked Traveller karya Trinity. Dari buku ini, banyak sekali ide atau keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat yang pernah dikunjungi oleh Trinity dengan gaya jalan-jalannya yang unik dan 'lucu' saat diceritakan. Eh, setalah 3 bulan saya beli bukunya, tiba-tiba ada pengumuman dia akan datang dalam acara sharing jalan-jalan di Teras Kota, BSD, Serpong, Tangerang Selatan. Wah daerah jajahan itu. Asik asik asik. Akhirnya pada Kamis sore tanggal 24 Juni 2010 saya meniatkan untuk datang di acara tersebut. Selain pengen tahu pengalamannya langsung tentang jalan-jalan, tanda tangan di bukunya, saya juga pengen minta foto buat nyirik-nyirikin teman-teman yang kenal dengan Trinity juga.

Sore menjelang, kerjaan kantor selesai. Pas banget buat capcus ke tkp. But, too bad. It was rainy outside. Akhirnya ditunda dulu. Sholat magrib dan 'dandan' dikit karena memang gak sempet mandi. (kayaknya gak ada yang tahu soal ini). Setelah hujan reda, akhirnya sampai juga. Seperti biasa Teras Kota sudah ramai dengan pengunjung. Tapi, setelah saya perhatikan, ternyata kebanyakan adalah anak-anak ABG usia SMU. Yah, pantesan, ini kan ada acara Terakustik, acara musik anak-anak BSD di Teras Kota. Ditambah pula ada nobar Piala Dunia. Wah asik banget jadinya.
Setelah itu, daripada bete sendiri, saya memutuskan untuk ikut dalam euforia acara anak-anak ABG ini. Yah, berasa tuir sih, secara yang ada di sini (kebanyakan setelah saya perhatikan) anaknya menye-menye gitu dan heboh kalau ketemu ama temen-temen se-gengnya. Lah, padahal tadi kan baru ketemu di sekolah. Capek deh banget kan nglihatnya. Dengan pasang muke gaul saya ikutan menghambur di kerumunan sambil sesekali cekrak-cekrek kalau ada 'objek' bagus. Dan kalau musiknya lagi asik dan break dancenya asik, badan seperti gerak-gerak sendiri buat ikutan nge-dance. Musiknya happening sekali untuk acara-acara kayak gini. Berasa seperti ada di dalam diskotik. Begitu kira-kira ada 4 peserta yang perform dance mereka, acara diselingi dengan talkshow. Inilah sebenarnya yang saya tunggu-tunggu. Ternyata Trinity tidak sendirian. Ada beberapa orang backpacker yang juga ikut sharing dalam acara ini. Tapi maaf, saya lupa namanya. Terlalu sibuk dan terpesona dengan anak-anak muda yang meskipun dingin dan berhujan gini, masih juga gaya pakai tanktop dan celana pendek. Saya saja pakai pakaian lengkap plus jaket jeans. Acara berlangsung lancar, setelah acara-acara dance yang kata orang-orang 'acara gak jelas' (tapi saya suka kok), acara talkshow mungkin agak lebih 'down' secara sharingnya adalah kegiatan backpacker. Bagi anak-anak kota ini, menurut saya ini, jarang banget yang punya keinginan kuat untuk jalan-jalan dengan cara itu. Kebanyakan lebih suka jalan-jalan rame seperti rekreasi atau tamasya keluarga yang fun dan gak mau capek. Sebenarnya kalau boleh mengulang waktu, saya ingin memulai acara backpackeran ketika masih muda (usia sekolah at least SMU) karena lebih banyak waktu luang dan belum banyak masalah yang perlu dipikirkan. Yang diperlukan saat backpackeran sebenarnya hanyalah niat dan kemauan untuk langsung jalan saja tanpa banyak pemikiran ini itu. Soalnya kalau banyak sekali pertimbangannya, saya yakin kegiatan tersebut justru tidak akan terlaksana.

Dan surpraise dari acara ini, begitu giliran Trinity akan diajak ngobrol, hujan tiba-tiba datang dengan derasnya. Perabot panggung dan sound system dipindah ke dalam ruangan. Panelis diungsikan ke tempat yang lebih nyaman. Dan penonton yang budiman disuruh mencari tempat berteduh sendiri-sendiri. Ya elah. Tadinya saya udah jiper aja kalau sampai gak dapet foto dan tanda tangan Trinity, secara saya sudah bela-belain datang, bisa terlambat nonton bola, yang mana kalau nyampai rumah sebelum jam 9 malem, alamat tv bakal on line dengan sinetron. Oh no. Hujan masih bergulir deras. Para penonton masih asik gosip sana gosip sini. Dan saya semakin terasa jadi orang aneh di antara alien-alien ABG ini. Saya perhatikan, Trinity sedang bercengkerama dengan sepasang suami istri Tionghoa sambil tak henti-hentinya ngebul. Hahaha. Menjelang acara piala dunia mulai, belum ada tanda-tanda hujan reda dan acara akan di mulai. Panitia sepertinya sibuk untuk mengarrange ulang acara untuk dipindahkan ke dalam ruangan.

Saya yang mulai bete, akhirnya mulai mencari-cari cara supaya dapat tanda tangan dan foto-foto agar pulang tidak dengan tangan hampa. Saya mencari-cari panitia yang kelihatan paling sibuk, itu saya anggap sebagai koordinator acara atau ketua panitia. Kebetean saya mulai bertambah saat Trinity diungsikan ke dalam Hotel Santika. Yah bisa batal foto-foto dong. Akhirnya, saya samperin satu orang yang belakangan saya tahu namanya Edwin. Saya minta diantarkan ke dalam untuk minta tanda tangan. Dengan muka welcome si Ebing (panggilan si Edwin) mengajak saya masuk ke Hotel Santika yang ternyata menuju ke ruang rapat di basement (bukan di kamar hotel, yailah). Dan di situlah sodara-sodara saya ketemu dengan yang namanya Trinity Traveller itu. Horay.

Pertanyaan standar pun di sampaikan. Dari mana tahu acara ini, bagian buku mana yang paling menarik, dan blablabla. Karena saya sendirian di sini (semuanya panitia soalnya) jadi agak sedikit gugup jawabnya, padahal sih karena kedinginan dan belum makan dari siang. Kalau saya perhatikan Trinity memang -maaf- gendut, udah jelas dong. Saya jadi teringat dengan tokoh kartun favorit saya, Baby Huey. Tapi, memang saya akui pintar. Kelihatan dari bahasanya. Dan satu hal, mandiri. Biasanya orang-orang seperti ini menyukai tantangan dan jarang disepelekan oleh orang lain, bicaranya ceplas-ceplos, dan gaul. Saya juga merasa nyaman berada di antara orang-orang ini karena (sepertinya) tidak menye-menye, well in education, dan easy going. Setelah acara tanda tangan di kedua buku The Naked Traveller dan foto-foto (saya belum punya buku Duo Hippo Dinamis, saya gak suka komik), semua orang keluar dari ruangan sempit ini menuju Teras Kota. Sedianya acara akan dilanjutkan di dalam ruangan, tapi karena acara piala dunia juga sudah mulai, maka panitia memutuskan mengganti acara serupa di kemudian hari.

Saya dan Trinity

Bagi saya acara ini gak sia-sia. Saya sudah dapet foto bareng, tanda tangan, dan sedikit sharing tentang pengalaman berbackpackeran. Karena acara piala dunia sudah mulai, saya langsung melesat ke hall utama Teras Kota, mencari tempat paling nyaman buat nonton, dan ikut dalam euforia piala dunia. Wah bakal seru ni, secara yang maen Slovakia vs Italia. Asik asik asik. Walaupun begitu, setelah Slovakia menang 3-2 atas Italia, saya pulang dengan hati riang. Gak papa deh Italia kalah, yang penting udah ketemu Trinity (lho?).

Siapa tahu suatu saat bisa nonton bola langsung di daratan Eropa dan foto-foto sama pemain-pemain bola dengan tahu caranya jalan-jalan asik. Siapa tahu kan? hehehe ;=)

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2010 di Teras Kota, BSD, Serpong

Narsis dulu saat break. yahay ;=)

Thursday, June 24, 2010

Episode #29: Cerita dari Bilik Toilet (1)

Pergi ke manapun saya ketika sedang trip, tempat pertama yang saya cari adalah toilet. Mau berangkat ke terminal, stasiun, atau bandara biasanya ke toilet dulu. Begitu sampai di tempat-tempat tersebut, setelah cek tiket, jadwalnya ya ke toilet. Setelah naik moda transportasinya, biasanya sih begitu sampai musti ke toilet juga. Haduh. Sepertinya hidup ini tak mau jauh-jauh dari toilet.

Berangkat dari blusak-blusuk di bermacam-macam toilet, mulai toilet stasiun, terminal, bandara, pom bensin, hotel, rumah penginapan, bus, kereta, warung, sampai di mal, bioskop, losmen, rumah orang gak kenal, saya jadi mengenal macam-macam toilet. Ada toilet nyaman yang membuat saya jadi gak nyadar kalau kelamaan di kamar mandi. Ada juga toilet bau dan jorok yang membuat saya gak jadi melakukan 'tugas' saya di situ. Kalau lagi jalan ke rumah, kontrakan, kos-kosan, atau ke mana gitu biasanya sih yang saya lihat toiletnya dulu. Kalau toiletnya bersih, ya berarti orang yang punya juga rajin dan cinta kebersihan. Kalau kotor berarti ya ... gitu deh.

Toilet yang pernah saya pakai terbilang unik-unik. Ada yang bak penampungannya tinggi sehingga musti usaha kalau ambil air pas jongkok, ada juga yang bak penampungannya ceper (baca: rendah) sehingga musti hati-hati agar kalau pipis gak nyiprat ke bak. Ada yang kamar mandinya luas seukuran kamar saya di rumah, ada pula yang ukurannya kecil kayak gudang tempat menyimpan sapu. Ada yang berair asin dan rata-rata berair pam. Ada yang 'sepi', ada pula yang berhantu.

Toilet berhantu kan kedengarannya serem ya. Tapi sebenarnya kalau kita gak bikin ulah dan bersikap wajar, makhluk di alam lain itu juga gak bakalan ganggu kok. Ceritanya begini, beberapa teman trip saya ada yang mempunyai kemampuan untuk melihat makhluk-makhluk halus seperti itu. Entah dari mana mereka belajar mengasah kemampuan supranaturalnya saya tak begitu paham. Dan dari merekalah cerita-cerita toilet 'berpenghuni' mulai sedikit mengganggu trip saya.

Pertama, waktu liburan di Pulau Belitung, kita menginap di salah satu hotel yang langsung menghadap pantai. Alasannya supaya kalau pagi dan sore bisa jogging tak jauh-jauh dari kamar. Katanya sih hotel itu milik anak salah satu mantan presiden RI. Wadeh, pantesan bagus. Dan tarifnya selangit. Untung kita rame-rame, jadi harganya bisa dibagi rame-rame pula. Kasurnya memang empuk, saya yang kecapekan kelayaban seharian langsung tepar waktu nyium aroma bantalnya. Dan yang paling membuat nyaman adalah kamar mandinya yang seluas ruang keluarga dengan atap yang sebagian membuka langsung ke langit. Jadi, kalau kita mandi di showernya, serasa mandi telanjang di lapangan terbuka. Namun demikian, pas malam datang, tiba-tiba si Ari bilang 'pren, temenin gue ke toilet, gue gak berani pipis sendirian.' Saya dan teman-teman langsung pada ketawa-ketiwi dong, secara dia udah tuwir masak takut pipis sendiri. Apa mau dipegangin coba. Ternyata, setalah selesai ditemenin, dia bilang 'di toilet itu ada hantunya. hantunya cewek, taringnya panjang, ada tanduknya, udah gitu di ujung bibirnya ada darah ngalir kayak iler, rambutnya panjang. yang bikin ngeri bukan itu, tapi matanya. Matanya awas terus gak berkedip mengarah ke sini. ke aku maksudnya'. Lah dalah. Uka-uka ini namanya.

Padahal niatnya nginep di sini kan mencari sedikit kenyamanan. Udah gitu semua pada jiper ketakutan ke toilet. Tapi untungnya hantu iblis wanita itu cuma ada di kamar si Ari. Di kamar yang saya tempati bebas hantu. Hahaha. Secara raja hantunya nginep di sini. Si Bambang maksudnya, si hantu laut. Namun begitu, setiap kali mau ke toilet biasanya semua lampu saya nyalakan, suara tivi saya besarkan, dan selalu ngobrol dengan teman walaupun ketutup ama pintu dan tembok. Duh. Dan segala sensasi uka-uka itu akan berakhir setelah tepar tidur semua dan tak lama kemudian pagi menjelang.

Trip Uka-uka versi hantu toilet yang kedua saya alami saat trip ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Waktu trip ke situ memang kita gak ikut paket tour. Jadi berangkat dari rumah langsung ke Tidung via Muara Angke. Gak jelas mau nginep di mana pokoknya kalau sampai gak dapet penginepan, kita mau tidur di masjid atau di pelabuhan. Tapi, pas di perahu, saya ngobrol dengan salah satu penumpang yang ternyata penduduk asli Tidung. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, saya tanya apakah saya dan teman-teman boleh nginep di rumahnya. Ternyata rumahnya sudah penuh, tapi ada rumah saudaranya yang available. Begitu sampai, melihat rumahnya, dan ternyata harganya cocok dengan kantong kita, akhirnya kita check in.

Dan mulailah acara 'keajaiban-keajaiban' itu. Waktu kita lagi ngobrol di depan tv, si Bambang melihat kemasan air mineral 1 liter mulai bisa berdiri dengan miring. Tapi dia diam saja. Dia kucek-kucek matanya takut salah lihat eh setelah dilihat lagi, botolnya tetep saja berdiri dengan miring. Busyet. Setelah malam menjelang, tiba-tiba si Bambang bilang 'entar jangan pada tidur dulu ya sebelum gue tidur. trus lampu ruang tamu jangan dimatiin'. Semua pada mikir kenapa si Bambang tiba-tiba jadi aneh. Karena semua sudah pada ngantuk, jawabannya baru kami ketahui keesokan harinya. Di pojokan deket kulkas yang menuju kamar mandi, ada cewek yang nglihatin terus. Ciri-cirinya juga gitu, mata melotot, bertanduk, bibir ngiler darah di ujungnya, dan tak henti-hentinya menahan kedip. Mampus. Dia naik turun menyusuri dinding sambil melotot ke arah kita. Bagus deh. Nanti kalau mau ke kamar mandi biar ditemenin sekalian.

Yang sial kalau masalah hantu-hantuan tetap saja si Bambang. Semua sudah pada tidur, termasuk Bambang sudah mimpi indah lengkap dengan suara ngoroknya yang bising kayak bajaj. Tiba-tiba saja, Suhaidi merasa kedinginan. Ia gak bisa tidur karena kipas anginnya menyala terus dan lampunya terlalu terang. Diam-diam dia matikan kipas angin dan lampu ruang tamu. Barulah Suhaidi bisa tidur pulas sampai pagi. Di sisi yang lain, Bambang musti tidur dalam lampu terang dan kipas angin menyala. Karena kepanasan (dosanya keluar ini hahaha) si Bambang tiba-tiba kebangun. 'Sial' katanya. Kalau sudah bangun dia susah tidur lagi. Apalagi yang lain-lain sudah tepar semua. Itulah saat-saat si Bambang 'main mata' bareng si hantu. Eh selidik punya selidik dia tidak tidur sampai anak-anak bangun keesokan paginya.

Untung acara trip keburu selesai, setelah mandi dan rapi, kita cepat-cepat balik ke Jakarta karena ada salah satu anggota trip yang harus ibadah. Yah, Tuhan memberkati. Hehehe. ;=)

PS: Baru nyadar, hantu-hantu pada gentayangan soalnya yang trip hantu laut semua.

Wednesday, June 23, 2010

Episode #28: Trip Bareng Bule (2)

Pada tanggal 06 November 1999, tiga orang Indonesia bernama Andrew Darwis, Ronald, dan Budi berhasil membuat situs forum komunitas maya yang diberi nama Kaskus. Berawal dari kasak-kusuk (asal nama forum ini), kaskus awalnya dibuat karena hobi dan berawal dari komunitas kecil di kalangan teman-teman mereka. Kini, kaskus merupakan komunitas maya terbesar di Indonesia, dengan anggota lebih dari 1.620.000 orang, tidak hanya tinggal di Indonesia tapi juga di mancanegara, berasal dari berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga orang dewasa.

Dan berawal dari kasak-kusuk juga, setelah lama tidak jalan-jalan saya ditawari oleh teman saya untuk sailing trip dari Mataram, Lombok ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Informasi ini dia peroleh juga dari kaskus. Setelah saya cek, dari segi waktu dan harga sepertinya sesuai dengan kantong saya yang bisa mengakomodasi trip kelas backpacker, maka saya mengiyakan saja ajakan tersebut. Waktu itu saya tidak tanya, siapa saja yang bakalan ikut sailing trip ini. Mengingat rute yang akan ditempuh cukup jauh, saya yakin yang ikut adalah manusia-manusia tahan banting juga. Dan saya juga mengira kalau yang ikutan kebanyakan adalah orang Indonesia.

Begitu sampai di meeting point daerah Senggigi, barulah saya nyadar. Yang senang dengan jenis traveling sail adventure kayak gini justru orang bule. Teman saya si Bambang tiba-tiba nyeletuk 'wah kok yang ikut bule semua ya, mana orang Indonesianya'. Karena kami pikir yang bakal ikutan trip adalah orang Indonesia juga, jadi tak perlu khawatir masalah semuanya. Eh ternyata bareng bule. Si Bambang udah jiper duluan karena gak bisa bahasa Inggris. Si Jefry milih melihat situasi daripada ikutan panik. Saya, wah senang sekali akhirnya bisa trip bareng bule. Mana di sini bulenya cantik-cantik, ganteng-ganteng, bersih, masih muda lagi (kelihatannya sih usianya gak jauh beda). Berbeda dengan bule yang ada di perahu saya, bule-bule di perahu sebelah udah tua-tua, gembrot, bulu-bulu di tubuhnya awut-awutan, hahaha, wah senangnya dapat perahu yang ini.

Jadi, setelah acara shock pertama tripnya bareng bule, si Bambang mau tidak mau mulai pasang aksi bete takut dicuekin. Tapi tenang saja, saya dan Jefry tak akan nyuekin teman sendiri. Kami akhirnya berangkat dari Senggigi ke Labuan Lombok memulai trip kita ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Beranggotakan 11 orang, kami serasa keluarga dari beragam bangsa. Unity in Diversity.
Terdiri dari 3 orang Indonesia (saya, Jefry Hutapea, dan Bambang Dwi Sampurno), 4 orang Inggris (Jamie Hernon, Emily Thomas, Joe Heron, dan Dena Bembridge), 2 orang Perancis (Biebie dan May), dan 2 orang Kanada (Mitchell Jay dan Andre Bagel). Baru kali ini saya 'hidup' bareng orang asing dan belajar banyak tentang kebudayaan mereka termasuk bahasa, kebiasaan, sifat-sifat, dan mulai terbiasa dengan segala sesuatu yang awalnya sangat asing atau hanya saya tahu dari buku, film, berita di televisi, dan surat kabar. Bagaimana tidak, kami akan ada di perahu ukuran 4 x 12 meter ini selama 4 hari bersama. Mengarungi laut dengan ombak yang tak terprediksi.

Untungnya, bule-bule di sini ramah-ramah. Mereka senang berbagi pengalaman dan pengetahuan. Tentang tempat-tempat yang pernah dikunjungi, tentang keadaan negeri masing-masing berikut pandangannya terhadap negara asal. Tentang makanan, tentang hobi, dan kesukaan dalam hidup. Dan yang paling membuat saya senang, mereka-mereka ini memiliki kebiasaan dan kesukaan yang hampir sama dengan saya yaitu sama-sama suka baca buku. Jenis buku yang dibaca pun tak jauh beda. Wah klop banget jadinya. Jadi, begitu malam datang, setelah acara makan malam, kita semua sibuk dengan dunianya masing-masing, tenggelam dalam dunia buku yang dibawa dari rumah. Acaranya membaca dan membaca. Semua sibuk membaca, kecuali dua setan sialan teman saya dari Jakarta (Benk dan Jefry) yang sudah siap ngorok begitu sudah tidak ada yang perlu dikerjakan. Paling banter, mereka berdua akan maen kartu remi sebagai pembunuh waktu.

Trip bareng bule kali ini juga terbilang unik, mengingat ini adalah pertama kalinya kita hidup bersama dalam ruang sempit perahu ketinting. Pertama soal makanan. Karena trip ini memang 'dijual' untuk pangsa pasar bule, maka tak heran jika semua-muanya hampir-hampir adalah untuk mengakomodasi kehidupan bule sehari-hari. Sebelum berangkat mbak-mbak operator trip ini bilang, lebih baik bawa bekal roti atau apa daripada nanti gak cocok makanannya, secara perjalanan ini jauh, bakalan ada di perahu terus, dan gak akan nemui warung kecuali sudah merepet di Labuan Bajo. Kalau bisa, nyetok air mineral juga karena air tawar yang disediakan juga sedikit. Kebiasaan yang sudah-sudah, bule-bule kampret itu suka makai air tawar buat bilasan. Si Bambang kembali jiper mendengar penjelasan tersebut. Dia yang orang Sunda mendadak bisa nyletuk dalam bahasa Jawa 'waduh, kalo tripnya bareng buleh sih gue gak masalah, tapi kalau menunya menu londo semua, wah bisa budhal kabeh isi wetengku'. Akhirnya, daripada salah langkah, kita beli beberapa bungkus roti, biskuit, dan air mineral. Yah, kok jadi rempong gini ya jadinya. Tapi karena tidak terlalu berat, akhirnya saya bawa kantong plastik penuh cemilan ini.

Ketika menjemput salah satu rombongan di daerah Lombok Timur pun , orang-orang pada beli perlengkapan lain, termasuk kartu remi, obat-obatan seperti obat flu, lotion anti nyamuk, antimo, dan tentu saja, beberapa kaleng bir bintang sebagai penghangat. Hohoho. Dan itu yang membuat saya agak kaget di perahu. Secara saya gak minum-minum begituan, melihat semua kru pada minum bir kayak minum air mineral saja jadi agak jiper juga. Yang saya agak kagumi adalah si Jamie bisa buka tutup botol bir dengan sandalnya. Seperti sebuah atraksi akrobatik, semua pada tercengang, bagaimana bisa dia melakukan itu dengan mudahnya. Yang lebih membuat saya shock (lebay mode on) adalah Emily yang katanya guru SD itu minum bir dari botol kayak minum cocacola saja. Gubrak. Guru SD minum bir. Kalau di Indonesia bisa dapat komentar macam-macam itu. Kalau saya sih ya sudah. Maksudnya, urusan minum bir kan urusan pribadinya. Dan itu dilakukan di luar dunia kerjanya kok. Lah, kalau dia minum-minumnya di dalam kelas itu baru musti mutilasi. Hehehe.

Kedua adalah kebiasaan dalam hal tidur. Cuaca ketika kita sailing trip berubah-ubah. Kadang-kadang cerah, sinar matahari menyapa hangat dibarengi angin sepoi-sepoi. Kadang-kadang hujan lebat disertai ombak yang bergelombang. Hidup mati sepertinya tergantung pada nahkoda perahu kita. Suhu pun berubah-ubah secara drastis. Siang panasnya minta ampun sampai-sampai kasur jadi lembab dan bau keringat. Jika malam, dinginnya sampai menusuk tulang. Saat jam tidur sudah mulai (jam berapa ya itu?), saya sudah siap makai pakaian lengkap. Karena suhunya duingin banget (pernah sampai mencapai suhu 18 derajat Celcius), saya pakai kaos plus jaket, training, dan selimut sampai menutupi ujung kaki. Untuk kepala saya pakai tudung kepala, itu pun muka musti ditutupin ke sela-sela tas karena emang duingin banget. Begitu sudah ngambil posisi nyaman, saya pun mulai tidur. Tapi, dinginnya malam bener-bener membuat kami agak kurang nyaman saat tidur. Saya tengok kanan kiri. Buset. Si bule-bule itu malah pada telanjang. Hampir semuanya tidurnya cuma pakai kolor doang. Kulitnya jadi berubah kemerahan semua seperti orang biduran. Hahaha. Sebelah kiri saya si Benk (wah pemandangan gak sedap ini) dan sebelah kanan saya si Dena (xixixixi yummy). Tapi kita hampir-hampir gak pernah saling menatap. Soalnya pada merem semua, lampu kalau malem dimatikan. Paling pol saya bisa menatap punggungnya (dan mereka-reka apa yang ada dibaliknya hehehe. Naughty).

Mungkin inilah momen yang bagi mereka agak aneh untuk orang Asia, khususnya Indonesia. Bagi kita mungkin tidur dengan pakaian lengkap sudah menjadi hal yang wajar, tapi bagi mereka tidur ya musti harus menanggalkan baju. At least pakai kolor doang. Kalau saya sih pada suhu segitu jelas gak kuat kalau musti shirtless pas tidur. Kalau di Jakarta dengan suhu yang puanas (di malam hari sekalipun) mungkin masih rasional saya gak pakai baju (cuma pakai sarung doang ternyata enak lho, sriwing-sriwing hehehe). Suatu pagi Emily bilang ke saya, bagi orang Inggris, suhu segini sudah termasuk hangat. What the hell? Ya Allah, berkatilah kami. Terima kasih karena tinggal di negeri yang disapa sinar matahari setiap hari.

Ketiga adalah masalah bladder problem. Karena tak biasa dengan suhu dingin terus-menerus, kami memang punya masalah dengan kemauan untuk pipis melulu. Mengingat akan sailing trip dalam waktu yang lama, setiap sore saya mencoba untuk mengatur agar pas malam tiba (dengan ombaknya yang gedhe itu), saya tidak merasa perlu untuk ke kamar mandi. Fyi, kalau mau ke kamar mandi musti merangkak melewati bule-bule yang lagi leyeh-leyeh, plus lampu mati, plus musti pegangan erat-erat biar gak jatuh. Udah gitu letak kamar mandinya ada di ujung buritan, kecil pula, dan ada di dek bawah. Menyiksa diri bener (lebih lengkapnya akan saya tulis di postingan tersendiri). Kalau masalah toilet-toiletan, paling sial si Beng. Saya sudah menyelesaikan 'tugas' saya pas sore. Jadi aman. Si Benk bilang 'kok gue belum ngrasa kudu buang air besar ya'. Dan begitu malam tiba (pukul 1 malem kalau gak salah), saat ombaknya gedhe banget, si Benk mulai terasa harus menjalankan 'tugas'nya. Baggooosss. Gak kebanyang Benk yang segede gajah musti merangkak di antara bule plus duduk di toilet 'setengah badan' dalam keadaan terguncang-guncang. Pasti asyik sekali. ;=)

Orang yang bangunnya paling pagi adalah si May, bule Perancis yang seksi itu. Jam 4 pagi dia sudah bangun buat pipis. Habis itu, setengah jam kemudian baru saya, karena harus sholat subuh. Lainnya karena memang berbeda agama (atau juga gak memeluk salah satu agama) ya bangunnya setelah matahari udah sepenggalah. Inilah mungkin yang sudah saya kenal dari kebiasaan bule saat saya trip ke Bali. Malamnya dugam-dugem, minum-minum, dan ngobrol-ngobrol sampai
tipsy, habis itu molor sampai siang.

Yang paling menyenangkan dari trip dengan bule adalah orangnya sangat efektif dan on time. Mereka tidak berusaha mencampuri urusan orang lain. Tahu banget kapan waktunya bersosialisasi dan paham benar bahwa orang lain juga punya saat 'me time' dalam satu hari yang dijalaninya. Jadi, pas maen bareng ya kita haha hihi bareng, tapi begitu sibuk dengan dunianya sendiri seperti baca buku, menulis notes di catatan masing-masing, main-mainin laptop, ya masing-masing dari kita tidak berusaha untuk mencari tahu apa yang dilakukan apalagi sampai menginterupsi, yang bisa disangka mengusik kebebasan orang lain. Untungnya, semua orang di sini sudah 'tahu sama tahu'. Dan semua berjalan secara wajar. Keramahan disampaikan sesuai dengan porsinya. Bukan ramah rajin menjamah.

Kadang-kadang teman senasib seperjalanan seperti ini bisa menjadi lebih baik daripada sahabat atau saudara yang jauh. Karena hampir kemana-mana bareng, makan bareng, tidur bareng, hiking bareng, tracking bareng, waktu sailing trip yang cuma seminggu jadi tak terasa saat perahu kita merapat di dermaga Labuan Bajo karena kita musti berpisah untuk melanjutkan trip kita masing-masing. Yang paling membuat saya terngiang, pas mau balik ke Jakarta via pelabuan Sape, salah satu kru bilang bahwa kita dicariin sama bule-bule itu pas gathering malam sebelumnya di Gardena. Yah, karena itu malam terakhir kita di Labuan Bajo, gak asik dong kalau cuma makan-makan seafood di restoran. Kita punya agenda lain sendiri yang lebih asyik tentunya. Thawaf keliling kota, sambil mencicipi setiap lokasi 'asyik' di kota yang jadi gerbang masuknya Taman Nasional Komodo.

Trip sama bule jika dapatnya teman yang 'sehati' seperti ini memang mengasyikkan. Saya jadi ingin sekali trip atau tinggal di luar negeri untuk beberapa waktu. Yah, semoga kesampaian dalam hidup saya kelak. Makanya, gak ada salahnya kok belajar bahasa Inggris, maen-maen facebook atau twitter, atau kaskus. Ya siapa tahu juga, berawal dari kasak-kusuk di blog ini, tiba-tiba ada yang ngajak buat trip ke Eropa. Ngarep. Yayay ;=)

Saya dan teman-teman saat tracking di Pulau Rinca
Nusa Tenggara Timur
(great honour to Benk and Jefry for taking a nice picture)

Tuesday, June 22, 2010

Episode #27: Trip Bareng Bule (1)

Apa menariknya sih trip bareng bule? Dulu, waktu masih SMP, teman-teman saya tamasya ke Jogja, mengunjungi Borobudur, Keraton Jogja, Prambanan, dan begitu sudah masuk sekolah lagi dibawalah beberapa foto kenangannya bareng bule. Waktu SMU juga gitu. Teman-teman saya ke Bali dan begitu udah masuk sekolah lagi, dengan bangganya bilang 'ini lho foto-foto saya bareng bule'.

Hah, apa menariknya coba? Dulu waktu masih sekolah keinginan untuk kenal bule hampir-hampir gak ada. Pertama, karena dulu belum bisa bahasa Inggris. Kedua, karena (katanya) bule itu bau. Begitu saya 'menjajah' Jakarta dan mulai menginvasi mal-mal, mulailah saya tahu macam-macam bule, dari bule ganteng sampai bule cantik, dari yang kaya sampai yang kere, dari yang pebisnis sampai yang turis semua ada dan tumplek blek di Jakarta. Wah, teman-teman saya bisa ngiler foto ama bule nih? pikir saya.

Anyway, tadinya tidak kepikiran hidup saya bakal berhubungan dengan bule. Tapi sejak senang jalan-jalan dan menyadari bahwa kemampuan bahasa Inggris itu penting, mau gak mau saya musti sekali-kali ngobrol dengan bule untuk melatih kemampuan speaking dan listening.

Waktu ke Belitong, saya belum begitu berani ngobrol dengan bule. Cuma 'say hey' saja. Pas ke Bali baru agak berani. Berangkat dengan teman-teman akhirnya nyampai juga saya ke Pulau Dewata. Sejak di bandara Soekarno-Hatta, saya tertarik dengan sekelompok anak muda yang unik-unik (wajahnya mirip dengan boneka barbie). Selidik punya selidik, ternyata mereka berasal dari Jerman. Pantas saja. Bangsa Arya memang selalu perfecto untuk tampilan fisik.

Selama di Bali pun, entah bagaimana, yang paling sering jalan bareng kami adalah bule Jerman. Di hotel tempat kami menginap pun banyak bule Jermannya. Ceritanya suatu pagi saat sarapan nasi goreng bareng teman-teman, ada cewek Jerman cantik duduk sendirian dengan anggunnya. Dari gelagat dan 'tanda' matanya sih mengundang saya untuk join ke mejanya. Setelah terjadi beberapa kali kontak mata dan lempar senyum, saya berniat menghampiri mejanya. Tapi, begitu saya mau beranjak, tiba-tiba dia menguap dengan mulut selebar kuda nil. Huuuaaahhhh. Glek. Bener-bener kebo. Langsung deh saya konsentrasi dengan telor mata sapi yang terhidang di depan saya.

Malam di Bali bisa lain lagi. Di sinilah saya pertama kali lihat orang ciuman sampai denger bunyinya. Plok. Hehehe. Saking kerasnya bibirnya bertabrakan. Haduh, jontor gak tuh bibir ampe bunyi gitu. Legian menjadi jalan penuh bule, dengan mayoritas orang Australia yang merajai setiap diskotek di sepanjang jalan. Mereka sudah seperti pemilik area itu saking seringnya nongkrong di situ. Sampai-sampai pas saya mau foto di depan welcome board-nya Paddy's Club, si bule Australia gak mau menyingkir barang sebentar. Padahal saya sudah meminta dengan sopan lho. Lengkap dengan please di belakangnya. Huft. Dasar bule Australianya sengak banget, akhirnya saya yang milih menyingkir duluan. Eh, begitu kita mau off ke hotel (waktu itu jam 2 pagi WITA), ketemu lagi sama bule-bule Jerman yang ketemu di Soekarno-Hatta kemarin. Wah kuat bener tu bule dugemnya.

Banyak bule saya temui di Bali. Bule India bahasanya relatif mudah dimengerti. Mungkin karena orang Asia, jadi dialeknya gak jauh beda dan bahasanya kedengaran seperti Singlish (Singapore English). Paling jorok menurut saya adalah bule Korea. Mungkin pas saya trip ke Bali bertepatan dengan liburnya orang Korea sampai-sampai mau ke mana-mana yang menuhin adalah orang-orang Korea. Saya katakan jorok karena kalau pas bilasan habis berenang, air kerannya diputer paling gedhe. Jadi airnya melimpah ke mana-mana di kamar ganti. Udah gitu, kalau ganti baju, pintunya jarang ada yang ditutup. Yah naked gitu. Nggilani pol. Pengen muntah bener saya.

Kisah saya dengan bule Jerman rupanya belum berakhir. Sepulang dari Bali, dua minggu kemudian saya trip ke Pangandaran, Jawa Barat. Di situ saya ketemu lagi dengan bule Jerman. Kita berenang bareng sambil ngobrol-ngobrol di Pantai Batu Karas yang lautnya lumayan tenang. Awalnya sih saya di pinggir. Mungkin karena keasyikan ngobrol, tak terasa ban yang saya tumpangi terbawa arus hingga ke tengah. Mampus. Saya gak bisa berenang pula. Dengan tersengal-sengal saya berusaha mencari bantuan. 'Tolong tolong, help help, somebody help me'.

Parahnya orang yang paling deket adalah si bule Jerman itu. Saya minta tolong ke dia untuk ditarik ke pinggir karena gak bisa berenang. Dan tau gak ekspresinya gimana? Datar dan biasa saja. Kampret. Dia bilang saya becanda gak bisa berenang. Hah, udah megap-megap gini masih dikira becanda. Akhirnya saya teriak lagi manggil-manggil teman saya yang lagi asyik latihan surfing. Untunglah bantuang datang. Si Amir yang pandai berenang itu menggeret saya ke pinggir dengan kakinya yang bau, lengkap dengan tawa terbahak-bahak akibat dicuekin si bule Jerman. Penderitaan saya belum berakhir. Begitu sampai ke pinggir, ban yang saya tumpangi terbalik. Saya jatuh terjungkal dengan kepala di dalam air dan kaki nyangkut di ban. Bagus deh. Air laut masuk semua ke kuping dan mulut. Yah nasib. Untung saya gak norak pengen foto bareng bule segala. Bisa tambah malu ni muka hehehe. ;=)

Episode #26: Pengalaman Pertama Naik Pesawat

Sesuatu yang dilakukan pertama kali dalam hidup, biasanya mendatangkan perasaan campur aduk. Misalnya, pertama kali saya belajar naik sepeda, dada ini rasanya berdebar-debar, antara bahagia bisa naik sepeda seperti teman-teman dan deg-degan karena takut jatuh dan nabrak pagar tetangga. Pas pertama kali belajar sepeda motor juga seperti itu. Perasaan deg-degannya lebih besar daripada saat belajar naik sepeda. Kali ini karena bahagia akhirnya bisa naik motor sambil mainin klakson sak enak udele dewe dan paling takut kalau simpangan ama mobil.

Perasaan deg-degan karena melakukan sesuatu pertama kali dalam hidup seperti itu muncul lagi saat mau naik pesawat terbang. Sudah lama saya menjadi bulan-bulanan teman-teman karena belum pernah naik pesawat terbang. Kebanyakan teman kuliah saya sudah pernah naik pesawat terbang. Teman-teman kantor saya juga sudah banyak yang sudah. Kedua orang tua dan saudara saya semuanya sudah pernah naik pesawat terbang. Cuma saya yang masih setia naik bus atau kereta api kalau ke mana-mana.

Adalah Ari Subagya, salah satu teman di kantor yang tiba-tiba saja mengajak saya naik pesawat. Dia adalah orang yang nantinya membuat saya jadi ketagihan jalan-jalan walaupun sendirian. Berbekal pengalaman yang sama, dikumpulkanlah 6 orang yang sama-sama belum pernah naik pesawat. Alasannya sederhana: biar tidak saling mengejek gara-gara baru naik pesawat. Halah. Gak penting banget. Setelah itung-itung budget, saya akhirnya mengiyakan ajakan Ari untuk mencoba naik pesawat. Dan tujuan kita pertama kali adalah Pulau Belitong.

Mengapa Pulau Belitong dipilih pertama? Karena film yang lagi happening saat itu adalah Sang Pemimpi, ringtone handphone saya adalah Komidi Putar-nya Bonita (salah satu soundtrack Sang Pemimpi), dan karena salah satu teman kantor kita (namanya Suhaidi) lagi pulang kampung di Belitong sana. Pas kan, jadi gak perlu ada acara-acara nyasar segala jika ada guide penduduk setempat.

Setelah tiket pulang pergi Jakarta-Tanjung Pandan-Jakarta di tangan (saya naik Sriwijaya Air, the one and only pesawat ke Belitong waktu itu), entah bagaimana berita saya mau 'terbang' jadi bocor ke semua orang (aargghh ini yang paling saya benci). Ke mana-mana saya jalan, pertanyaan seperti 'waduh, mau jalan-jalan ya', 'wadew, mau naik pesawat ya', dan pertanyaan sejenis mulai terlontar. Gangguan mulai datang. Yang paling parah 3 hari sebelum berangkat saya sudah mulai gak bisa tidur (lebay.com).

Itu sih belum seberapa. Dua hari sebelum berangkat, mulai tambah lagi parno saya. Ibu-ibu yang hobi gosip mulai membuat 'masalah'. Dengan bijaknya menasihati saya, 'Adie, kamu mau jalan-jalan naik pesawat ya? Udah ijin ama ibumu belum? Ijin dulu dong, kan mau pergi jauh, naik pesawat pula, orang kan gak tau, sekarang cuaca lagi buruk kayak gini. Hujan terus tiap hari, mana petirnya gedhe-gedhe lagi'. Busyet. Kesannya kayak mau mati aja waktu mau naik pesawat. Udah gitu temen-temen lain yang seumuran pada ngledekin lagi 'Adie, udah nulis surat wasiat belum, siapa tau diperlukan'. Hahaha. Sepertinya doanya kok jelek-jelek amat ya.

Akhirnya hari H datang juga. Subuh menjelang dan saya pun berangkat ke bandara. Ternyata sudah ramai sekali, padahal jam 6 pagi belum juga berdentang. Setelah cek tiket akhirnya boarding juga. Dan sebelum masuk pesawat, keluar dong penyakit norak saya. Foto di depan pesawat. Wajib dong hukumnya. Secara ini kan penerbangan pertama saya hehehe.

Setelah di dalam pesawat, apa yang saya lakukan. Berdoa, berdoa, dan berdoa. Dan ini menjadi kebiasaan (wajib) saya saat bepergian naik transportasi apapun. Cuma kalau di pesawat, selain doa sendiri biasanya saya baca buku doa yang tersedia di kursi. Saat komat-kamit sendiri, si Ari dan gerombolannya ketawa cekikikan gara-gara tingkah parno saya. Pesawat tingkat landas dengan mulus dan hati tenang sentosa. Pas kira-kira di atas kepulauan Seribu agak ke utara dikit tiba-tiba saja pesawat goyang-goyang gara-gara nabrak awan. Hadewh. Tangan saya refleks pegangan kursi dan mulut komat-komit kayak dukun. Hahaha. (Si Ari dan kawan-kawan cekikikan lagi di seberang ngliatin saya, kampret bener). Dan setelah beberapa kali acara 'nabrak awan' dan komat-kamit, akhirnya kami mendarat dengan sempurna di Bandara H. AS. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan. Alhamdulillah.

Seperti juga acara jalan-jalan yang membuat candu, naik pesawat pun bikin saya ketagihan untuk mencoba lagi dan lagi. Sama ritualnya seperti sebelumnya, cuma setelah-setalahnya saya jadi agak tidak parno lagi kalau naik pesawat. Saya sudah mulai mahir booking tiket, jadi rajin searching tiket promo, mulai bisa relaks saat menikmati delay jadwal keberangkatan, mulai relaks saat melihat pramugari-pramugari yang cantik-cantik itu memeragakan alat bantu darurat atau menawarkan suvenir, dan mulai tau momen yang pas kapan harus foto di depan pesawat. Hehehe. Dan paling parah ni, pas penerbangan yang terakhir saya lakukan, saya sudah mulai berani main kartu di dalam pesawat di ketinggian 36.000 kaki. (Gimana mainnya coba? I just knew it ;=P )

Ah, ngomongin naik pesawat, saya jadi ingin sekali naik Airbusnya Garuda Indonesia. Kapan ya kira-kira? ;=)

Wednesday, June 16, 2010

Episode #19: Wisata Kuliner = Makan-Makan Enak

Polisi, dokter, atau pegawai pajak. Kalau dulu waktu kecil sudah ada acara televisi yang namanya Wisata Kuliner, saya mungkin kalau ditanya apa cita-citanya waktu SD akan menjawab pengen sekali menjadi Pak Bondan (Winarno). Sejak menonton acara itu saya langsung menjadi penonton setia. Jadi, sampai sekarang setiap Sabtu pagi jam 7.30 WIB, saya sudah standby di depan tipi hanya untuk melihat Pak Bondan ngomong 'mak nyus' sambil menikmati sarapan pagi saya yang gak ada mak nyus-mak nyusnya sama sekali. Apakah semua makanan yang dinikmati sama Pak Bondan itu memang benar-benar mak nyus. Kadang iya kadang tidak.

Karena sekarang (sedikit-sedikit) sudah punya duit sendiri buat jalan-jalan, jadi (kebetulan) tahu tempat-tempat yang dikunjungi Pak Bondan. Saya katakan, tidak semuanya makanan yang dinikmati Pak Bondan itu enak. Saya gak tahu ya, mungkin karena dikunjungi Pak Bondan, warung atau rumah makan itu jadi laris. Karena laris, pelayanan dan kualitas rasa kurang diperhatikan. Padahal kan kalau dipikir, orang pergi ke warung atau rumah makan kan untuk membeli 'rasa' bukan membeli 'bekas' kunjungan Pak Bondan.

Kalau saya mau jalan-jalan biasanya suka browsing dulu makanan-makanan apa yang khas di daerah yang akan saya kunjungi. Karena gak setiap hari bisa ke daerah situ, rugi kan kalau tidak mencobanya. Sampai saat ini, makanan yang selalu mengundang saya untuk terus datang berkunjung adalah es krim ragusa di Jalan Veteran, Jakarta. Selain gak jauh-jauh dari tempat tinggal, harganya murah, esnya uenak, dan rasanya tetap terjaga meskipun udah lama gak dateng-dateng lagi ke situ. Unrecommended buat makanan-makanan yang dijual di emperannya. Udah (di)mahal(-mahalin), gak enak pula rasanya (kecuali mungkin otak-otaknya ya yang agak lumayan). Yang paling unik, pas mau bayar di kasir, ternyata masin kasirnya masih pakai 'kalkulator' jaman Belanda. Sayang gak sempat foto-foto di sana. Selain tempatnya sempit, takut dikira norak, hehehe.

Makanan yang menjadi favorit saya yang lain adalah pisang ijo. Ini asalnya dari Sulawesi Tenggara. Saya mencicipinya pertama kali waktu acara perayaan daerah pas jaman kuliah. Karena yang jualan teman-teman sendiri, saya akhirnya bisa mendapatkan hidangan spesial ini. Saya hanya berharap suatu saat bisa menikmati pisang ijo di tempat asalnya.

Kalau lagi ngumpul dengan keluarga atau ikut acara perpisahan orang-orang kantor, tempat makan yang dijabanin paling-paling restoran Sunda. Dan seperti sudah bisa ditebak, menunya sih sudah sangat familier saking seringnya dinikmati. Saya selalu menikmati gurami asem manisnya. Daripada digoreng, gurami lebih terasa mak nyus kalau dibumbu. Selain itu cumi dan udang goreng cocok juga dicocol dengan sambel pedasnya. Hhhhmmm ... yummy. Tapi, dari sekian kali 'pesta' makan-makan yang pernah saya ikuti, saya selalu ketiban sial untuk menghabiskan menu. Alasannya klise. Saya orangnya paling anti tidak menghabiskan makanan. Dari kecil 'pengetahuan' dari orang tua ditanamkan ke kepala saya agar selalu menghabiskan makanan yang sudah dipesan. Mubazir kalau dibuang percuma. Awalnya sih asik-asik saja. Tapi, suatu ketika kok menu di meja makan masih banyak sekali, sementara menu pesanan saya yang terdiri dari udang goreng, tempe mendoan, gurami asem manis, dan jus alpukat belum habis. Alhasil, saya diam-diam membujuk teman-teman kantor yang cewek untuk membungkusnya.

Memang sih, untuk ukuran standar, menu makanan Sunda bisa dikatakan murah meriah. Apalagi kalau yang diajak makan 'bangsa kurawa'. Saya pernah trip bareng teman-teman ke Bandung. Dan setiap kali mau makan selalu ke restoran Sunda. Sudah bosan rasanya perut ini kemasukan makanan serupa yang itu-itu saja. Kalau tidak cermat menghitungnya, bisa-bisa jebol ni isi kantong. Tapi, karena itu trip kita pertama bisa rame-rame dalam jumlah formasi lengkap, selalu ada excuse untuk sebuah kebersamaan.

Saya, makan di daerah Dago, Bandung.

Kalau diceritakan semuanya, makan-makan emang selalu nikmat. Karena bagi saya menu makan apa saja, asal halal ya langsyung masuk saja. Tapi, lidah memang tak bisa bohong. Saya pernah ke Belitong dan membuktikan rasa kopi manggar yang katanya enak banget. Karena dari kecil suka mencicipi kopi (belajar dari mulai nenek sampai ibu), saya kok menilai kopi manggar itu kayak uyuh jaran (kencing kuda). Maaf lo ya bagi yang suka kopi manggar. Menurut ajaran kopi dari nenek, kopi manggar mempunyai kriteria seperti itu. Jangan tanya apakah saya sudah pernah minum kencing kuda, tapi kopinya itu benar-benar encer. Pokoknya I just knew it.

Acara makan-makan yang paling tidak enak adalah ketika kita masuk ke warung kejut. Tahun baru 1997 saya dan keluarga menginap dan berlibur di kota Malang. Kami semua mau menikmati acara pergantian tahun di alun-alun kota. Ibu saya yang pengin sekali makan bakso akhirnya mengajak kita makan bakso di salah satu warung tenda. Mungkin karena melihat kami kelihatan bukan orang Malang, kami merasa terkejut ketika mau bayar. Harga sebuah pentol bakso jadi Rp. 5000,00. Busyet. Benar-benar gak jadi ngerasa kenyang deh. Makanya, pelajaran berharga buat saya saat udah gede seperti sekarang, kalau mau makan yang aman dengan kemampuan isi kantong ya masuk aja warung atau tempat makan yang menunya udah ada daftar harganya.

Yang paling pusing adalah kalau trip ke tempat yang kebanyakan penduduknya nonmuslim. Memikirkan masalah halal haram memang jadi hal krusial sesuai dengan agama yang saya peluk. Dan, saya agak rewel mengenai makan ini waktu trip ke Bali. Terus terang walaupun Bali itu tempatnya luas, tapi waktu kunjungan yang pertama, saya hampir selalu khawatir saat mau makan. Takut ada babinya, takut nyembelihnya gak baca bismillah, pokoknya agak ribetlah. Nyari amannya, saya biasanya meminta teman-teman untuk nyari makan ke tempat-tempat standar seperti KFC. Tapi, makan ayam goreng begituan terus-terusan kan bosen juga. Akhirnya supaya aman, kita biasanya milih menu-menu seafood. Selain enak, semua barang laut kan halal di makan. Saya hanya berdoa semoga saja menu-menu lezat tersebut tidak mengandung minyak babi waktu masaknya.

Makan di dalam ruangan memang mengasyikkan. Tapi makan di luar ruangan, apalagi di tepi pantai sungguh mengesankan dan menyenangkan. Walaupun sering makan di tepi pantai, tidak semuanya menawarkan kesenangan dan pengalaman yang sama. Saya pernah makan di tepi pantai di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Menunya sih standar seafood, mulai dari dari ikan bakar dan udang atau ikan goreng. Tapi kok ya gak elit banget. Anginnya kenceng banget. Dan musti pakai jaket tebal biar gak kedinginan. Ini sebelas dua belas dengan pantai di Pangandaran. Walaupun lebih enak dari menu Pulau Tidung, tetep aja suasananya kurang mengena.

Makan di Angke pun juga enak. Namanya juga ditraktir apa sih yang gak enak coba. Walaupun menunya lezat, tapi melihat sampah dan penjual ikan lalu-lalang di pasar ikan, kok ya jadi jiper sekali melihatnya. Apalagi lalat-lalat ijo seperti menari-nari di depan kita. hihihi. Yikes.

Yang paling berkesan memang makan di Pantai Jimbaran. Menunya sih sama. Rasanya juga tidak jauh beda dengan seafood masakan Sunda atau Pangandaran. Tapi menurut saya suasananya yang paling membuat makan di sini terkesan 'mahal'. Kami makan di atas pasir pantai yang putih dan lembut, dihembus angin pantai yang sepoi-sepoi (tapi anehnya gak dingin tuh), dan yang paling asik ni, ada pengamen yang memainkan musik dengan classynya. Saya berasa seperti orang kaya menikmati makan di situ. Apalagi waktu saya request lagunya Jason Mraz yang berjudul Lucky, mereka memainkannya dengan soulfull. Bener-benar lucky sekali saya bisa menikmati makan-makan yang enak-enak. Mengutip kata-kata salah satu teman saya di kantor, saya hanya berdoa agar makanan-makanan yang saya makan tidak jadi penyakit.

Saya, makan malam di Pantai Jimbaran, Bali

Tuesday, June 15, 2010

Episode #18: Kolam Renang yang Membuat Kangen

Ok ngaku. Saya memang tidak (baca: belum) bisa berenang. Tapi, nasib baik memberikan kesempatan kepada saya untuk mencicipi kolam renang-kolam renang terbaik (dan mewah) yang ada di negeri ini. Ceritanya begini, karena saya suka traveling, karena budget saya tidak banyak, karena saya doyan blusak-blusuk ke tempat-tempat yang jarang dikunjungi orang, dan yang terpenting, karena saya tidak tahu malu. Yang terakhir itu tips bego-begoan dari saya. Soalnya, bagi kaum yang berduit tidak banyak, kapan lagi coba bisa nyemplung kolam renang mewah, kalau enggak menyasarkan diri ke resort-resort yang disediakan untuk para bule.

Suatu ketika saya ke Bali rame-rame bareng teman-teman kantor. Dari awal saya memang selalu siap dengan baju ganti kalau mengunjungi suatu tempat. Alasannya, kalau baju kena najis bisa langsung ada gantinya dan tidak perlu harus repot-repot minta tolong teman untuk minjam baju ganti. Dan saya baru tahu kalau supir yang membawa mobil kami mengantarkan rombongan orang-orang eror ini ke suatu tempat 'mewah' yang belum kami dengar sebelumnya. Begitu lihat tempatnya, lah kok besar banget, lah kok kayak hotel gini, langsunglah pertanyaan paling krusial muncul. Bayar gak ya masuk ke tempat ini? Selidik punya selidik ternyata gratis. Wah, senangnya. Langsung deh blusak-blusuk ke dalam ruangan. Ternyata hall tersebut tersambung dengan ruang belakang yang ada kolam renangnya.

Terbitlah tingkah ndeso saya. Tadinya saya agak sedikit canggung. Pasalnya, yang ada di situ kebanyakan adalah orang-orang bule Jepang dan Korea (atau sejenisnya yaitu Taiwan, Hongkong, dan lain-lain. Saya tidak tahu bedanya). Teman saya yang 'usil' langsung nanyain, mana Miyabinya? Memang sih, ada cewek putih seksi asal Jepang yang kulitnya putih banget, baik yang ketutup, maupun kebuka, kayak susu. Persis susu. Heran, kok bisa ya kulitnya putih merata seperti itu. Tapi sayang, seribu sayang dia bareng ibunya. Jadi tak bisa diganggu-ganggu. Karena hari sudah mulai sore dan akan segera hujan, saya langsung nyemplung saja. Saya pikir, karena yang kenal dengan saya di area itu cuma teman-teman saya, maka beranilah saya buka baju dan nyebur ke kolam bersama para bule. Wah senangnya. Saya satu-satunya pribumi yang ada di kolam itu. hehehe. Kolamnya nyaman sekali karena selain airnya bening, lokasinya ada di atas tebing. Jadi kalau difoto, seperti berbatasan langsung dengan laut. Jika kita duduk menghadap laut, serasa jadi raja yang melihat negerinya dari atas singgasana. Ih, senangnya.

Kolam renang lain yang enak (dan indah) menurut saya ada di Belitung. Januari lalu saya sempat 'kabur' ke negerinya Laskar Pelangi. Dan setelah pergi sana-sini nyari penginapan, akhirnya kami memutuskan untuk patungan menginap di hotel yang dekat dengan pantai. Pertimbangannya, selain dekat dengan lokasi syuting film di Pantai Tanjung Tinggi yang banyak batu granit besar-besar, dekat pula dengan pantai yang garis pantainya panjang. Jadi, bangun pagi waktu udara segar, bisa langsung jogging di pantai. Sebuah compliment bagi kami, ternyata hotel tersebut juga ada kolam renang pinggir pantai yang asik banget sehingga setelah capek berenang (baca: main air) di laut bisa langsung main air dan leyeh-leyeh di pinggir kolam sambil menikmati indahnya laut di depan mata.

Yang paling menarik dari jalan-jalan adalah bergaul dengan orang setempat yang belum pernah kita kenal sebelumnya. Selain bisa belajar tentang kebiasaan suatu daerah, juga bisa tahu tentang tempat-tempat wisata yang tidak masuk dalam kategori turisme artinya tempat wisata tersebut tidak masuk atau tidak disebutkan dalam brosur-brosur pariwisata atau di web-web tentang objek wisata.
Saya pernah merasakannya waktu di Belitong. Ada satu sungai atau lebih tepatnya rawa yang dibedeng dengan suatu pukat besar dari besi untuk menyaring sampah atau menghindari buaya. Konon, rawa-rawa di Belitong masih suka ada buayanya. Ingat kan film Laskar Pelangi. Yang menyenangkan dari 'kolam renang' itu adalah airnya bener-bener air sungai yang mengalir dari sumbernya. Dasar sungainya pun berupa pasir putih yang lembut. Jadi bukan batu kerikil yang bergeronjal. Kebayang kan betapa segarnya mandi di situ. Serasa ada di jacuzy yang nyaman. Cuma saya kadang keburu parno dengan adanya buaya yang bebas jalan-jalan. Ini akibat sering nonton film Hollywood jaman dulu yang judulnya Crocodile. Takut dimakan buaya, kan saya belum kawin. ;=)

Orang Jakarta kalau pusing dan penat larinya kalau gak ke Puncak ya belanja-belanji ke Bandung. Kalau saya sih males harus macet-macetan untuk ke tempat tersebut kecuali kalau rame-rame bareng teman dan sekaligus ada acara. Tempat asyik saya untuk 'ngabur' kalau sedang penat adalah ke Garut. Kenapa Garut? Karena tempatnya sepi, agak 'desa' dengan nuansa pegunungan dan sawah membentang. Dan yang membuatnya semakin menggoda adalah adanya pemandian air panasnya. Tadinya kami mau mencoba kolam renang air panas. Tapi begitu melongok tempatnya ternyata harus bayar dan banyak banget orang yang mandi di sono, kami mengurungkan niat untuk ikutan nyebur di kolam. Tambah lagi saat kami tahu kalau orang-orang yang nyebur di kolam air panas adalah mereka-mereka yang sedang mengikuti terapi penyembuhan penyakit kulit. Jiper. Bleaght. Jijik banget kan. Akhirnya kita patungan nyewa bungalow yang ada pemandian air panasnya. Wah, karena jarang-jarang ketemu dengan yang begian di Jakarta, saya sampai betah berlama-lama berendam di kolam air panas sempai magrib menjelang. Beruntung pula jadi umat muslim. Belum puas berendam sampai sore, paginya setelah sholat subuh saya bela-belain berendam air panas saat yang masih ngorok. Badan rasanya jadi fresh. Pikiran dan segala penat lenyap. Otot-otot jadi tidak kaku. Benar-benar serasa di spa walaupun cuma berendam dan leyeh-leyeh. Tapi, saya gak bosan tuh. ;=)

Lain lagi ceritanya kalau saya pulang kampung. Lebaran merupakan momen wajib buat kumpul-kumpul dengan keluarga dan kerabat. Tapi kalau tiap hari cuma kumpul-kumpul kan gak asik. Akhirnya musti cabut keluar dari rumah. Tempat di Nganjuk yang layak buat disatroni mana lagi kalau bukan air terjun Sedudo. Airnya duingin banget sampai membuat badan saya jadi menggigil. Sangat kontras dengan mata air panas di Garut yang cozy banget. Tapi karena ini kampung halaman dan saya merasa terpanggil untuk menyebarkannya kepada orang lain, akhirnya mandi dan berfotolah saya di sini.

Saya di Air Terjun Sedudo

Entah mengapa saya senang sekali kalau jalan-jalan ke Sedudo. Serasa ada momen magis yang selalu menarik saya untuk mengunjungi air terjun itu. Dan katanya nih, sekali katanya, mungkin karena mitos atau apa, kalau mandi di Sedudo jadi awet muda. Bagi saya yang selalu berpikiran logis, terang aja jadi awet muda, kalau pikiran tenang (rileks), badan bersih dan segar otomatis gak gampang sakit. Kalau gak gampang sakit, tentulah kelihatan awet muda. Tapi gak tahu juga sih jika memang ada kekuatan supranatural yang mempengaruhinya. Kalau untuk kebaikan, saya amini saja deh.

Selain Air Terjun Sedudo, jika liburan ke Nganjuk, saya biasanya menyempatkan diri untuk naik sepeda ke hutan yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah. Selain terhibur dengan hijaunya pepohonan, putih buih sungai, hamparan sawah membentang, pohon kelapa menjulang di berbagai tempat, terakhir saya akan mandi di sebuah sumber air yang jernih di tengah hutan. Namanya sumber air Ubalan.
Sumber air ini dimanfaatkan penduduk sekitar untuk keperluan sehari-hari seperti sumber air minum (fyi: sumber air ini sudah diolah oleh PDAM) dan mengairi sawah. Pantas saja, dalam setahun bisa panen padi sampai 3 kali. Belum lagi bawang merahnya. Pokoknya, hasil pertanian dan kehutanan di daerah ini banyak dirasakan manfaatnya oleh orang-orang di daerah saya. Gemah ripah loh jinawi deh pokoknya. Ijo royo-royo menikmati panorama hutan jati di kanan kirinya. Serasa ada di tengah tempat yang dikelilingi gunung. Sebuah bonus, dekat tempat sumber air itu ada gua. Tapi saya bosan pergi ke gua itu. Selain harus ngesot lagi sejauh 1 km lagi secara menanjak, begitu nyampe gua, tempatnya serem banget. Serasa ikut uka-uka. Makanya saya lebih tertarik untuk mandi di kolamnya saja daripada jungle tracking ke gua.

Jalan-jalan memang tidak harus mahal. Mandi di kolam renang pun tidak harus yang mewah-mewah. Tapi kalau beruntung dan mau blusak-blusuk, ya nikmatnya seperti yang saya ceritakan di atas. Terakhir saya baru nyadar kalau di hotel tempat saya menginap waktu di Bali ada kolam renang yang Ok banget. Tapi berhubung kolam tersebut penuh dengan bule cewek, tante-tante yang notabene suka ngorok, minum bir, dan duduknya ngangkang, saya menikmatinya pas hanya mau berangkat trip keliling pulau saja. Selebihnya ogah kalau musti nyebur bareng bule itu. Zina mata. Aih. Gak usah banyak omong. Saya mau leyeh-leyeh dulu. Hehehe. Mumpung kolam renangnya sepi. ;=)

Leyeh-leyeh di pinggir kolam renang.
Kangen dengan suasana ini. ;=)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...