Tuesday, November 10, 2009

Antara Hero dan Superhero

10 November 1945 - 10 November 2009
Hari ini bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Hari ini bangsa Indonesia (merasa) bangga akan jasa-jasa para pahlawannya. Hari ini bangsa Indonesia merayakan bahwa dirinya pernah punya pahlawan. Hari ini bangsa Indonesia (sangat) membutuhkan (jiwa) pahlawan.

Perayaan dan upacara adalah satu kegiatan yang sering dilakukan saat peringatan akan suatu hari istimewa. Hari ini adalah Hari Pahlawan. Dalam satu hari, suasana haru seakan melebur dengan rasa cinta tanah air yang (sesaat) membuncah gara-gara terbawa suasana. Kalau dipikir-pikir, perlukah sebenarnya memperingati Hari Pahlawan? Apakah para pahlawan itu, yang telah berkorban jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia menginginkan dirinya dikenang dan dirayakan? Tidakkah lebih penting bahwa peringatan Hari Pahlawan itu berlangsung dalam bentuk tindakan praktis dengan memberikan pembuktian bahwa tak diperlukan gegap gempita sebuah perayaan namun cukup dengan bahu-membahu melakukan sesuatu seperti apa yang mereka lakukan sesuai dengan zaman ini.

Kalau Anda ditanya, apa sebenarnya pahlawan itu? Siapa yang berhak menyandang gelar pahlawan? Pentingkah sebenarnya menyandang gelar pahlawan? Bagi saya pribadi kata pahlawan hanyalah sebuah label sematan. Cap yang diberikan oleh orang atau kelompok orang bahwa yang bersangkutan telah berjasa.
Namanya juga label, bukan tidak mungkin terjadi salah dalam memberikannya, kurang tepat dalam penyematannya, dan ada kemungkinan kurang pas saat label itu dicapkan pada orang yang bersangkutan. Banyak sekali orang yang menginginkan dirinya untuk disebut sebagai seorang pahlawan. Dan anehnya, ada beberapa orang yang sangat senang dan nyaman, seperti ada kesan menikmati, disebut sebagai pahlawan. Padahal beban berat ada di pundak orang-orang yang secara sadar menginginkan label pahlawan tersemat di namanya.

Hari pahlawan yang setiap tahun diperingati oleh bangsa Indonesia terkesan hanya seremonial saja. Sepertinya semakin ke sini, semakin terasa kalau Indonesia miskin pahlawan. Yang terjadi pada tanggal 10 November setiap tahunnya adalah upacara, pengumandangan lagu-lagu kebangsaan dan kepahlawanan, orasi tentang kebesaran jiwa pahlawan, dan tentu saja himbauan untuk meneladani jiwa kepahlawanan tanpa diikuti oleh tindakan nyata yang menyertainya dalam konteks kehidupan sehari-hari di masyarakat. Hasilnya, pulang upacara hanya capek kepanasan saja yang didapat. Tak ada yang benar-benar membekas untuk secara sadar ingin, mau, mampu, dan secara ikhlas berani menjadi dan menerima konsekuensi sebagai manusia yang berjiwa pahlawan.

Hero dan Superhero

Sesuatu yang seolah sama tapi kalau kita tinjau ulang kedua istilah tersebut sangat berbeda maknanya. Walaupun kalau kita merujuk pada artian harfiah, keduanya akan sama-sama dipahami sebagai pahlawan.

Hero adalah pahlawan. Ia melakukan tindakan nyata dan tindakannya itu bermanfaat bagi orang banyak. Artinya pengorbanan seorang hero akan dilihat oleh khalayak. Hasil jerih payahnya juga akan mendapat apresiasi dari orang-orang yang menyaksikan keheroikan dari kinerja si hero. Selalu akan ada orang-orang yang setia memberikan bantuan dan dukungan di balik punggung sang hero. Karena banyaknya hal yang dapat mengantarkan seseorang untuk menjadi hero, banyak pula bermunculan hero-hero palsu. Atau hero gadungan, orang yang kehero-heroan, dan bahkan mengherokan diri. Memang disadari bahwa hero mempunyai suatu jasa yang patut diapresiasi dan diberi penghargaan yang setimpal atas pengabdian yang diberikan. Dan jasa itu memang nyata. Artinya, khalayak dapat melihat, mendengar, dan merasakan dengan jelas atas keheroan dari seorang hero. Mungkin hampir semua dari kita pernah berperan sebagai hero ini di dalam kehidupan yang kita jalani.

Lain hero, lain pula superhero. Superhero memang pahlawan. Tapi tidak semua hero layak disebut superhero. Ada tuntutan yang mungkin sulit untuk dilepaskan oleh hero-hero di dunia ini untuk layak disebut superhero. Sama seperti hero, superhero juga melakukan tindakan nyata dan tindakannya juga bermanfaat bagi orang banyak. Tapi tidak setiap tindakan superhero mendapat apresiasi dari masyarakat. Bahkan tidak menutup kemungkinan sang superhero mendapat cacian karena tingkah polahnya dianggap berseberangan dengan kehendak suatu kelompok yang lebih mayor. Seorang superhero mau dan mampu melepaskan identitas keheroannya. Ia hanya ingin melihat orang lain menikmati hasil dari sikap heronya tanpa merasa perlu untuk mendeklarasikan siapa sebenarnya dirinya. Dan tentu saja, seorang superhero selalu berjalan sendirian. Ia tak merasa perlu untuk mendapat dukungan dahulu dari sebuah komunitas. Yang menjadi motor penggerak keheroannya hanyalah jeritan kebenaran.

Seorang superhero mau dan menerima hakikat kesendiriannya sebagai seorang superhero. Ia pandai memisahkan kehidupan pribadinya sebagai seorang 'ia' sang manusia biasa dengan kehidupan superheronya. Ia tidak hanyut terbawa arus euforia genggap gempita saat khalayak mengelu-elukan prestasinya karena masyarakat tahunya adalah ia sebagai superhero bukan sebagai ia yang manusia biasa. Tidak menutup kemungkinan bahwa saat jubah keheroannya ditanggalkan, ia akan mendapat perlakuan yang sangat tidak berkenan dari masyarakat yang telah dibelanya. Karena seorang superhero sadar satu hal: ia akan selalu berjalan sendirian. Berjuang habis-habisan untuk kemudian ditinggalkan oleh yang dibelanya.

Saya bersimpati dengan tokoh komik superhero Spiderman. Dia adalah satu-satunya superhero yang hidupnya boleh dibilang biasa-biasa saja. Tidak kaya dan tidak memaksakan diri untuk kaya dengan cara yang sangat tidak terhormat. Ia percaya pada kemampuan sendiri. Dalam urusan pekerjaan pun demikian. Ia tidak mau diterima kerja dalam suatu perusahaan hanya karena mempunyai koneksi 'orang dalam' yang bagus. Ia bersyukur atas hidup yang dimiliki dan dijalaninya.

Indonesia yang merindukan superhero

Malam kemarin saya menyempatkan diri mengunjungi studio XXI untuk menonton film District 13 Ultimatum. Film tersebut disutradarai oleh Patrick Alessandrin dan dibintangi oleh David Belle serta Cyril Raffell. Film yang sangat menarik. Saya agak sedikit terkejut karena cerita dalam film tersebut agak-agak serupa dengan apa yang tengah terjadi di bumi pertiwi. Ceritanya tentang konspirasi pembunuhan polisi oleh oknum kepolisian juga yang bertujuan untuk mengadu domba suatu komunitas kulit hitam agar daerah yang ditinggali oleh komunitas tersebut dapat dimodernisasi untuk suatu bangunan yang lebih apik.

Pikiran saya kembali melintas ke beberapa dekade silam saat saya masih duduk di bangku SD. Dulu saya sering sekali nonton film India. Film India yang sarat dengan nyanyian dan tarian itu kebanyakan juga sering menceritakan tentang kinerja aparat kepolisian yang tidak beres. Saya percaya bahwa bahasa film adalah bahasa yang mudah diadopsi oleh masyarakat banyak karena paling tidak gambaran kehidupan yang ditampilkan dalam sebuah film merepresentasikan sebagian kecil dari wajah yang memang terjadi di dunia nyata.

Merangkai tiga film tadi, saya jadi berpikir sejenak, apakah semua polisi itu jelek perilakunya? Apakah semua pegawai peradilan itu berperilaku melenceng dari aturan yang ditetapkan? Saya yakin dalam diri pribadi manusia selalu ada potensi baik dan buruk. Bagian mana yang dominan akan muncul sebagai watak dari seseorang tergantung dari kehendak yang bersangkutan dan juga pengaruh lingkungan. Walaupun saya sering mendapat kesan yang tidak baik akan kinerja kepolisian, saya percaya bahwa tidak semua polisi itu tidak profesional. Mereka berbuat begitu karena tekanan kelompok mayoritas. Dan sebagaimana lazimnya sebuah arus deras, kelompok minoritas hanya punya dua pilihan yaitu ikut arus atau tertindas.

Dan kebanyakan orang akan memilih untuk ikut arus daripada mengedepankan sisi idealismenya. Saya juga yakin hal serupa juga terjadi di hampir semua instansi pemerintahan walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa instansi di bidang hukum dan peradilan menempati urutan paling atas kekurangberesan kinerjanya.

Suatu jaring-jaring kesalahan yang terjadi berlarut-larut, perjanjian konspirasi kejahatan yang dilakukan berjamaah, dan rencana terselubung yang merugikan bangsa dan negara mau tidak mau akan berpotensi menjadi boomerang bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Inilah yang mungkin kurang disadari oleh mereka-mereka yang terlibat dalam suatu tindak pidana korupsi.

Menjadi superhero seperti yang saya deskripsikan di atas memang tidak mudah. Orang kebanyakan sudah tidak kuat ketika mengalami hidup dalam kesusahan. Sifat manusiawi dari manusia saat ini mungkin adalah 'susah melihat orang senang, dan senang melihat orang kesusahan'. Sangat susah sekali ternyata menjadi orang baik di negeri yang katanya ramah ini. Mungkin ungkapan ramah = RAjin menjaMAH tepat dilabelkan bagi manusia Indonesia yang tidak kuat menempa hidupnya menjadi orang yang baik.

Solusi terbaik dari permasalahan yang berlarut-larut dan (sepertinya) berpotensi menjadi permasalahan yang hidup terus-menerus ini adalah perlu adanya suatu langkah tegas dan destruktif terhadap jaring-jaring kejahatan nasional tersebut. Berlomba-lomba untuk menjadikan diri pribadi menjadi orang baik sebaik-baiknya. Dengan mencetak diri pribadi menjadi orang yang baik, jujur, berintegritas tinggi, dan menjunjung tinggi amanah dengan penuh tanggung jawab berarti turut andil dalam memberikan pasokan orang baik di dalam kehidupan. Yang dibutuhkan bagi bangsa sakit ini sekarang adalah memperbanyak jumlah orang baik untuk membentuk jaringan-jaringan yang profesional di bidangnya di masa mendatang. Jika dominasi orang-orang baik dan berintegritas tinggi ada di segala bidang, saya yakin tak ada konspirasi kejahatan yang ujung-ujungnya sangat mencederai kepentingan nasional.

Tidak ada salahnya untuk meneladani langkah-langkah hidup para superhero walaupun itu bukan satu-satunya cara. Akan tetapi bisa dijadikan salah satu alternatif dan juga nasihat bijak bagi orang-orang yang sekarang sedang mengemban tampuk pimpinan dalam instansi negara dan yang mewakili rakyat, bahwa beranilah untuk menjadi pahlawan, tunjukkan bahwa orasi-orasi yang didengungkan saat acara pemilihan umum menjadi dorongan yang kuat untuk mengedepankan potensi sisi baik dalam diri menuju ke arah jiwa hidup seorang superhero: memberikan kebahagian, keamanan, dan kesejahteraan kepada khalayak tanpa merasa perlu untuk mendapatkan apa-apa dari orang-orang yang dibelanya. Karena seorang manusia berjiwa superhero adalah mereka yang selalu setia dan teguh memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Bukan mereka-meraka yang berteriak lantang di garis depan layaknya seorang ksatria seolah-olah menyuarakan keadilan namun berjiwa banci saat mengalami kejahatannya terbongkar.

Percayalah, tak ada ruginya meneladani sifat dan sikap hero ataupun superhero. Menjadi orang baik.

Gambar dipinjam dari sini.

Thursday, October 22, 2009

Bintang Jatuh

Malam kemarin aku melihat bintang jatuh
Pikiranku berlari memburu kepadamu
Apakah yang kau lakukan malam ini, sayangku?
Aku tak pernah tahu apa yang tersuarakan oleh isi hatimu
Lama sudah kita tidak bersua
Aku rindu dengan manisnya senyumanmu
Rindu dengan kemanjaanmu untuk meminta sesuatu
Kangen akan kehausanmu untuk didongengi
Kadang aku sempat berpikir
Jika kita dipertemukan kembali saat ini,
Masihkah kau seperti yang dulu
Gadis mungil yang sibuk dengan semestanya sendiri
Memainkan peran untuk sesuatu yang abadi: menjadi diri sendiri
Aku mengingatmu seperti hamba yang mengingat sabda tuannya
Aku mengenangmu layaknya kasih pangeran yang mendamba seorang putri
Aku mengagumimu serupa pelukis yang takjub akan ciptaan Ilahi
Aku menyayangimu layaknya penulis yang terpesona akan keindahan bahasa
Tanpa syarat
Terbanglah bersamaku, sayangku
Dalam orbit yang bersama kita pilih
Melintasi imaji angkasa tak berbatas
Berhentilah menjadi bintang jatuh, yang berotasi tanpa mengharap tujuan yang jelas
dan tanpa meninggalkan jejak makna
Kemarilah sayangku, hinggap di pelukan hangatku
Dan leburlah kita jadi satu
Dalam sebuah semesta kecil keabadian .... kehakikian
Jika diberi satu harap
Hanya satu
Aku ingin mengabadikan satu momen bersamamu
Aku ingin ada di situ tanpa pernah tahu kapan waktu kembali
Karena aku ingin kamu, sayangku
Sampai ajal menjemputku


Gambar dipinjam dari sini.

Monday, October 19, 2009

Menerjemahkan HIDUP

Pekerjaan. Rutinitas. Kebosanan. Pernahkah Anda merasa terperangkap dalam sebuah situasi yang sama selama beberapa hari? Apakah Anda merasa nyaman dengan rutinitas yang selama ini Anda jalani? Apakah Anda pernah merasa pusing dengan kehidupan yang monoton berlaku dalam hidup layaknya sebuah pakem? Jika Anda merasakan hal demikian, yang perlu Anda lakukan hanya satu. DIAM. Mulailah mengevaluasi diri dan mengevaluasi hidup yang Anda jalani. Situasi yang demikian merupakn momen yang sangat tepat untuk melaksanakan sebuah langkah besar dalam diri yaitu merumuskan tujuan Anda berada di alam fana ini.

Mengapa hal itu harus dipertanyakan? Saya merasa perlu untuk membuat tulisan ini karena banyak orang, termasuk saya sendiri mungkin, tidak banyak tahu mengenai tujuannya menjalani kehidupan. Apakah penting? Tentu saja. Karena menurut saya, orang yang semakin cepat tahu dan paham mengenai arah dan tujuan hidupnya, akan lebih teratur dan tertata kehidupannya. Dan seperti yang saya katakan tadi bahwa mengapa hal-hal seperti ini perlu dibahas yaitu karena saya tergelitik dengan perkataan Socrates bahwa 'Hidup yang tidak pernah dipertanyakan, sesungguhnya adalah hidup yang tak pernah layak untuk diteruskan.'

Menyambung perkataan Socrates di atas, saya pribadi mengajak untuk diam sejenak, melemaskan otot-otot agar lebih rileks, mengendurkan pikiran-pikiran yang terlalu fokus untuk sejenak mengevaluasi diri dan belajar merumuskan sesuatu yang mungkin belum pernah terlintas dalam pemikiran Anda yaitu apakah tujuan Anda hidup di dunia? Apabila belum ada jawaban yang terlintas atau apabila pertanyaan tersebut terlalu berat untuk dijawab, Anda tidak perlu bersusah payah untuk menemukan jawabannya. Jawaban yang Anda cari sebenarnya sudah ada dalam diri Anda. Hanya dibutuhkan sedikit keheningan dan sebuah tamasya pribadi ke dalam diri Anda. Itulah saat di mana dialog dengan diri diperlukan demi sebuah pencapaian tujuan yang sebenarnya: penemuan jati diri.

Tulisan ini dibuat bukan untuk memusingkan Anda. Kalau merasa pusing atau malah bingung, Anda bisa berhenti sampai di sini. Saya akan tetap jalan terus. Ide awalnya adalah karena saya, yang belakangan menyadari bahwa hidup yang saya jalani sungguh-sungguh typical dan monoton. Segala rutinitas sepertinya berjalan begitu saja setiap hari hingga saya tanyakan apa sebenarnya esensi dari hidup yang saya jalani. Untuk apa hidup kalau tipe kehidupan yang sama sudah ada atau bahkan sudah banyak yang melakukannya. Jika Anda memilih tipe kehidupan yang sama dengan orang lain (maksudnya sama-sama rutin dan monotonnya sehingga tidak pernah memahami seninya orang hidup), Anda termasuk salah satu pecundang paling sukses di dunia karena setidaknya Anda masih punya rutinitas untuk dijalani. Jika Anda tahu tujuan hidup, Anda paham untuk apa hidup, Anda termasuk manusia yang merangkak menuju kebahagiaan hidup. Kebahagiaan batiniah.

Ketika saya sadari bahwa saya terjebak dalam rutinitas yang melenakan pemikiran, saya mencoba untuk mereka ulang dan membuat peta kehidupan, mencoba menemukan keping-keping jawaban atas keresahan-keresahan dalam pemikiran yang menjadi isu penting dalam hidup yang saya jalani. Sesuatu yang tidak mudah sebetulnya karena selain menuntut kesadaran akan keterbatasan diri, juga menuntut sebuah kebesaran hati untuk melepaskan segala sesuatu yang memang belum menjadi hak hidup kita.

Alam bawah sadar saya agak tersentil sebenarnya saat beberapa hari yang lalu menonton film The Rebound karya Bart Freundlich yang dibintangi oleh Catherine Zeta-Jones dan Justin Bartha. Film ringan sebenarnya. Tapi dari karakter yang diperankan oleh Justin Bartha yaitu sebagai karyawan di sebuah kedai kopi yang akhirnya menjadi pengasuh anak-anak, saya banyak belajar mengenai hidup. Saya menyenangi dunia yang penuh dengan nuansa anak-anak, dongeng-dongeng fantasi, kehangatan keluarga, dan terutama kebiasaan dongeng sebelum tidur.

Kehidupan yang ditampilkan sebenarnya juga merupakan jenis kehidupan yang sederhana. Mungkin karena secara emosional kehidupan tersebut sangat dekat dengan apa yang saya jalani atau pernah saya alami. Ada semacam kerinduan untuk menghadirkan kembali nuansa kehidupan serupa di dalam kehidupan saya yang secara sadar berusaha saya petakan untuk saya jalani di kemudian hari. Sebuah kehidupan di mana semuanya serba sederhana, hangat, dan penuh cinta. Sebuah lembaran hidup yang menuntut saya untuk secara sadar dan ikhlas memberi tanpa berharap untuk mendapatkan hal serupa kembali. Sebuah pilihan hidup yang menawarkan sebuah jawaban bahwa kemewahan tidak selamanya mampu menjadi berhala yang harus diagungkan dan dipuja. Sebuah kehidupan yang memberikan sebuah peran sebagai penabur kasih sayang dan perasaan damai yang mengayomi.

Mungkin inilah yang saya sebut sebagai proses menerjemahkan hidup. Mencoba menguraikan sesuatu yang typical dan monoton menjadi sebuah pemahaman akan sesuatu yang sangat esensial: menemukan hakikat kehidupan. Jika Anda masih bingung mencerna tulisan ini, versi ringkasnya adalah demikian, kemudahan kehidupan yang Anda jalani akan didapatkan jika Anda benar-benar tahu dan paham tentang tujuan Anda hidup di dunia. Cara mendefinisikan tujuan tersebut adalah dengan mengidentifikasi dan merumuskan segala sesuatu yang menjadi passion, menjadi keresahan-keresahan dalam pemikiran yang menuntut sebuah jawaban.

Jika Anda sudah benar-benar yakin dan paham tentang konsep tujuan hidup yang Anda petakan, jalani rumusan tersebut dengan sepenuh hati karena itulah rel kehidupan berikut paket konsekuensi yang sudah Anda pilih. Yakinlah bahwa orang yang hidup berdasarkan pilihan-pilihan yang secara sadar ia tentukan, lebih cepat merasa bahagia daripada mereka yang hidup mengalir saja. Kehidupan yang kita jalani ini sangat berharga dan sangat sederhana. Hanya dibutuhkan satu kode istimewa untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki yang kekal. Suara hati nurani.


Gambar diambil dari sini.

Tuesday, September 15, 2009

Perahu Kertas: Sebuah Pelayaran dalam Dunia Kreatifitas Dewi 'Dee' Lestari

Setelah ditunggu-tunggu kehadirannya dalam versi cetak, buku ke-6 Dewi 'Dee' Lestari yang diberi tajuk Perahu Kertas akhirnya menyapa pembacanya di toko-toko buku. Buku yang sebelumnya pernah diedarkan dalam format WAP oleh sebuah perusahaan content provider tersebut menjelma menjadi sebuah wujud yang nyata dalam bentuk print out atas kolaborasi dari penerbit Bentang Pustaka dan Truedee.

Bila selama ini Dee hadir dan dikenal karena kepiawaiannya merangkai kata dan mengkombinasikannya dengan sains, memfilosofikan suatu kesederhanaan menjadi sesuatu yang menggugah kesadaran, kali ini ia hadir dengan sesuatu yang sedikit berbeda. Dalam Perahu Kertas, Dee tampil dengan bahasa yang ringan, cenderung nge-pop, dengan cerita yang sangat filmis dan penuh drama.

Dari total 444 halaman yang terbagi dalam 46 episode dan setidaknya 85.000 kata ini, ada satu kalimat yang menjadi titik berat pembacaan saya atas novel ini. Sebuah kalimat yang setidaknya dapat merangkum sebuah proses menuju pencapaian sesuatu. Kalimat itu tercantum dalam halaman 46 yaitu 'berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.'

Konsep berputar, bertransformasi menjadi sesuatu yang lain untuk akhirnya menjadi diri sendiri lagi sepertinya tercermin pada diri Dee di Perahu Kertas. Ada semacam sisi Dee yang lain, yang meminta untuk dieksekusi menjadi suatu karya nyata, menunjukkan bahwa daya kreativitas Dee mencakup sisi yang sangat luas. Ia tidak saja membuktikan bahwa seorang penulis tidak seharusnya terkungkung dalam suatu genre atau gaya penceritaan dengan diksi dan bahasa sastrawi yang cenderung melangit. Bahwa penulis harus bebas, mampu menyentuh pembacanya, baik dengan bahasa sastra maupun dengan bahasa populer yang lebih membumi. Melalui Perahu Kertas, Dee berusaha bertransformasi untuk membuktikan hal tersebut.

Sama seperti Dee, tokoh-tokoh dalam Perahu Kertas adalah manusia-manusia yang berada di persimpangan jalan, berusaha menemukan hidup mereka, menemukan peran yang sesuai dalam kehidupan, mencari jati diri, yang tak jarang dalam prosesnya harus bertransformasi menjadi sesuatu yang bertentangan dengan kehendak yang dituntun nuraninya. Ada Keenan, remaja dengan talenta melukis yang luar biasa, mencoba berdamai dengan keinginan ayahnya untuk menempuh pendidikan ekonomi di salah satu universitas di Bandung (hal. 11), yang akhirnya memilih untuk mengikuti suara hatinya dan berusaha untuk menjemput impiannya menjadi pelukis, berkumpul dengan seniman-seniman lukis di Ubud, Bali (hal. 198). Dan ada Kugy, remaja eksentrik dengan bakat menulis dan obsesinya menjadi juru dongeng harus berdamai dengan diri pribadi dan menyadari bahwa hidup belum berpihak kepada dirinya (hal. 207). Untuk menyiasatinya, Kugy membuat suatu dunia imaji sendiri dengan mengirimkan uneg-uneg hatinya melalui pesan yang dikirimkan kepada Neptunus dalam sebuah perahu kertas.

Kedua tokoh tadi dipertemukan dan disubstitusi dengan kehadiran tokoh-tokoh seperti Eko (sepupu Keenan), Noni (sahabat Kugy dari kecil dan ceweknya Eko), Wanda (kurator muda yang dicomblangkan kepada Keenan oleh Eko dan Noni). Konflik kepentingan, perbedaan prioritas dalam menjalani kehidupan, kenangan masa lalu yang membekas dan membeku menjelma dendam, dan solusi alternatif yang melingkupi tokoh-tokoh di atas, hadir lewat karakter-karakter seperti Ojos (a.k.a. Joshua, kekasih Kugy), Poyan dan Luhde (orang-orang yang menjadi keluarga Keenan di Bali), Lena dan Adri (orang tua Keenan), dan Remigius Aditya (bos Kugy yang akhirnya menjadi pacarnya setelah Kugy putus dengan Ojos).

Karakter-karakter di atas berinteraksi, berhubungan satu sama lain, menciptakan jaring laba-laba yang seolah-oleh ruwet namun mudah terurai. Dari sini kita dapat melihat kepiawaian Dee menciptakan kompleksitas dalam alur cerita untuk kemudian menguraikannya secara perlahan dan hati-hati sehingga mengisyaratkan bahwa tokoh-tokoh yang hadir semuanya memiliki peran dalam bangunan cerita dan bukan sebagai figuran asal tempel. Walaupun Perahu Kertas terkesan sebagai kisah cinta yang biasa-biasa saja, kita akan selalu menemukan Dee dalam kepiawaiannya berfilosofi dan bermetafora dalam bercerita, menyembunyikan misi di balik diksi, dan menyematkan pesan ke dalam perasaan.

Proses Kreatif

Membaca sebuah buku sama halnya seperti mencoba berkenalan dengan karakter penulisnya. Menurut Budi Darma, Guru Besar Sastra dari Universitas Negeri Surabaya, dalam bukunya yang berjudul "Bahasa, Sastra, dan Budi Darma" mengatakan bahwa pengarang yang baik adalah pengarang yang mampu menggunakan intuisinya sebagai daya serap, intelektualitasnya sebagai daya rancang, dan kejernihan logikanya sebagai daya seleksi dalam mengolah ide menjadi bangunan cerita yang utuh. Menurut hemat saya, Dee berkualifikasi atas karakter-karakter yang disebutkan oleh Budi Darma di atas. Hal itu dapat kita lihat dalam blog proses kreatifnya dalam menciptakan Perahu Kertas. Blog tersebut dibuat sebagai suatu open kitchen yang mengiringi proses kreatifnya dalam menjalankan 'proyek bunuh diri'-nya itu.

Dari blog tersebut dapat diketahui bahwa kedisiplinan adalah kunci dari kesuksesan. Keberanian berspekulasi adalah langkah yang layak dipertaruhkan demi sebuah aktualisasi diri. Dan pada akhirnya, kehadiran sebuah buku hanya akan ada dari kesetiaan dan kerja keras dari seorang penulis untuk secara serius duduk dan menulis.

Dari blog tersebut juga kita akan tahu kesibukan Dee selama proses penulisan Perahu Kertas, ada banyak jeda, ada peralihan kerja, ada pembagian waktu, dan ada pengorbanan yang harus dibayar. Kadang saya berpikir bahwa Dee kurang fokus dalam mengerjakan Perahu Kertas karena beberapa kali harus diinterupsi dengan proyek-proyek kreatifnya yang lain. Dee terlalu banyak berspekulasi dengan waktu. Namun demikian, sebagai sebuah karya yang layak diapresiasi, Perahu Kertas hadir ke hadapan kita dalam keadaan yang boleh dibilang sangat siap untuk terbit. Hal ini terlihat dari sangat minimnya terjadi kesalahan ejaan atau salah cetak. Dua kali diterbitkan oleh operator seluler, saya yakin Perahu Kertas telah mengalami modifikasi dan perbaikan di sana sini sebagai bagian dari penyempurnaan kemasan.

Salah satu cara bagi saya untuk menilai kualitas karya dari seorang penulis selain dari isinya adalah dari kebenaran ejaan dan kebakuan bahasa sesuai dengan peruntukannya. Hal ini menunjukkan kinerja dan keseriusan dari tiga elemen yaitu penulis, editor, dan penerbit. Dan sungguh suatu kejutan, di antara karya-karya Dee, Perahu Kertas adalah karyanya yang sangat minim terjadi kesalahan penulisan dan ejaan.

Menyangkut isi, pada suatu kesempatan Dee membahas tentang karakter Kugy. Menurutnya tokoh tersebut merupakan representasi dari dirinya yang sampai saat ini belum kesampaian untuk membuat cerita anak-anak. Bagi saya pribadi, tokoh Kugy sangat unik dan lain. Kugy mengingatkan saya pada Strowberry, tokoh utama sebuah sinetron dengan judul serupa yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta sekitar tahun 2000-an dengan pemerannya adalah Rachel Maryam. Dan bukan sebuah kebetulan jika sutradara sinetron tersebut adalah saudara Dee sendiri yaitu Key Simangunsong. Saya rasa ada semacam keterhubungan antara keduanya.

Inilah sedikit dari ulasan mengenai novel terbaru Dee. Perahu Kertas, dengan segala keterbatasan dan kesederhanaannya mampu menyihir para pembacanya untuk tertawa, menangis, terharu, jengkel, dan berbagai macam kesan yang menggantung di perasaan untuk secara sadar hanyut dalam cerita. Sebagai sebuah buku, saya rasa Perahu Kertas layak untuk dijadikan parsel lebaran Anda tahun ini, bukan sekadar sebagai koleksi tapi lebih kepada sebagai sebuah sarana untuk menebarkan Cinta. Karena itulah sebenarnya esensi dari perahu kertas yang dilarungkan oleh Kugy kepada Neptunus, yaitu mengirim pesan-pesan cinta. Dan tak ada yang lebih membahagiakan di dunia ini selain hidup dalam keadaan yang selalu diliputi cinta. Walaupun pada akhirnya Perahu Kertas hanya akan bergoyang sendirian ....

... menanti untuk dibaca.

PS: Baru saya sadari, inisial nama blog saya sama dengan inisial judul embrio Perahu Kertas yaitu KK. Kugy dan Keenan. Keajaiban Kata. Mungkin Perahu Kertas berisi kata-kata ajaib yang membangkitkan. Oleh karena itu, layak bersemayam di blog ini ;=)

Monday, September 14, 2009

Meet and Greet with Dewi 'Dee' Lestari

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Kesempatan untuk bertemu dengan seseorang yang piawai dalam menulis. Seseorang yang sebelumnya hanya saya kenal lewat karya-karyanya baik dari buku, mp3, atau dari berita-berita di televisi maupun surat kabar. Seseorang yang selalu saya ikuti tulisan-tulisannya di blog. Seseorang yang merupakan salah satu penulis favorit saya dari Indonesia selain Andrea Hirata, Ayu Utami, dan Pramoedya Ananta Toer. Seseorang yang kehadirannya terasa nyata sehingga menisbikan hubungan di dunia maya bisa mewujud dalam alam realitas. Seseorang itu adalah Dewi 'Dee' Lestari.

Bertempat di Ruang Serba Guna, Gramedia Matraman, Jakarta, saya dapat bertemu langsung dengan Dee--nama pena Dewi Lestari. Kalau penulis sekaliber Dee pernah menulis di blognya tentang pertemuannya dengan Vikram Seth sebagai A Night with Vikram, saya sebagai seseorang yang baru mulai berkarya merasa cukup ketika berada di level saat ini menyebut pertemuan dengan Dee sebagai An Afternoon with Dee. Seperti biasa, keinginan saya untuk datang ke acara tersebut didasari oleh keinginan untuk mendapatkan tanda tangan pada buku-buku karyanya yang sudah saya miliki.



Adie, Dee, Buku-Buku, dan Sebuah Buku Testimonial Penulis ;=)


Adie dan Dee, sama-sama suka membaca dan menulis ;=)

Awalnya saya malas untuk datang karena jarak yang harus saya tempuh cukup jauh yaitu dari BSD City, Serpong ke Jakarta dan harus ganti tiga kendaraan dengan trayek yang berbeda. Belum lagi kemacetan yang tidak terdeteksi kapan datangnya. Selain itu, ini adalah bulan Ramadhan. Dan apakah yang lebih membuat malas keluar rumah jika perut lapar, panas yang menggila, dan kemacetan bereuni jadi satu?

Tapi apa boleh buat, siaran radio Hard Rock Fm beberapa hari sebelumnya mengatakan bahwa Dee akan cuti beberapa bulan untuk melahirkan. Artinya, acara tersebut akan menjadi akhir roadshow bukunya sebelum masa cuti. Dan artinya pula, semakin kecil kemungkinan saya untuk bertemu dan minta tanda tangan karena kita tak pernah tahu apa yang terjadi esok hari yang sangat mungkin terjadi benturan kepentingan dan jadwal kegiatan. Tiba-tiba dorongan untuk berangkat mendadak sangat besar. Akhirnya berangkatlah saya menuju Gramedia Matraman. And guess what? Tol Jakarta-Tangerang sangat bersahabat alias lancar jaya. Panas matahari tertutup awan mendung dan angin bertiup meneduhkan. Saya merasa alam sedang berencana untuk memudahkan jalan saya bertemu Dee.

Ketika saya sampai di Gramedia Matraman, semua panitia dan Dee sendiri sudah ada di tempat dan sedang menyiapkan penampilannya. Beberapa saat kemudian, acarapun dimulai. Sebenarnya, seperti sebuah acara jumpa penulis yang saya datangi, acara tersebut biasa saja, namun bobot pembicaraannya yang menurut saya berbeda. Dee, seperti biasa, dengan lugas dan lancarnya berbicara, menjawab pertanyaan dari moderator, dan beberapa pertanyaan dari peserta yang hadir, termasuk saya sendiri, dengan sedikit-sedikit membumbui dengan kalimat-kalimat filosofis yang menyejukkan dan menginspirasi, dan tentu saja tak lupa menyanyikan lagu Perahu Kertas sebagai pencair suasana.

Kalau saya pikir, memang begitulah tugas seorang penulis sejati. Ungkapan bahwa seorang penulis dianggap mati ketika karyanya diterbitkan saya rasa kurang pas. Justru, seorang penulis harus mampu berdiri tegak dan menjembatani sebuah karya yang diciptakannya agar dipahami oleh sidang pembaca. Sebuah karya yang menurut Dee disebut 'anak jiwa' harus dituntun, diantarkan, untuk kemudian dilepaskan ke sidang pembaca sehingga memberikan kesan bahwa karya tersebut memang siap berinteraksi di tangan khalayak. Dari sini sebenarnya kita bisa belajar sebuah proses bisnis dan keterampilan berkarya. Kombinasi dari keduanya merupakan rumus ampuh untuk membuat sebuah karya diterima dengan baik oleh sidang pembaca yaitu karya yang bagus dan bermutu serta promosi yang terencana.

Dari pembicaraan dengan Dee di acara tersebut, saya juga belajar satu hal tentang menulis. Jika seseorang memang berencana untuk menjadi penulis, mulailah dengan menjadi pengamat yang baik. Penulis yang baik adalah juga pengamat yang baik. Amati segala hal termasuk yang remeh temeh sekalipun. Hal-hal yang menurut penglihatan orang lain dianggap bukan barang berharga, justru di situlah sebenarnya mutiara-mutiara ide yang berkilauan menunggu untuk dijumputi oleh orang yang peka dalam mengamati. Wow, you know my prend, I think I'm on the right path karena beberapa orang teman dan orang-orang terdekat menganggap saya aneh dengan kebiasaan-kebiasaan kecil yang saya lakukan demi melancarkan kegiatan saya dalam menulis seperti membuat kliping dan mengumpulkan nama-nama yang akan saya pakai sebagai nama karekter dari cerita yang akan saya tulis. Tapi, karena dari sononya memang sudah terlahir sebagai manusia super cuek, saya tidak begitu peduli dengan pandangan-pandangan tersebut.

Akhirnya, tibalah pada acara book signing. Ini juga menjadi hal yang lucu buat saya. Kepulangan saya terakhir kali ke rumah orang tua, sebelum kembali ke Jakarta lagi, seperti ada yang mendorong-dorong untuk membawa buku-buku Dee yang sudah saya miliki. Hati saya seakan berbisik, "Bawa saja, siapa tahu kali ini bisa ketemu langsung dan minta tanda tangan kepada Dee." Pada kesempatan yang lain, saat saya jalan-jalan di pasar murah, saya menemukan buku Supernova: Akar dengan lambang Om Kara di sampulnya yang saya cari kesana kemari di toko-toko buku terkenal dan terlengkap di Jakarta, ternyata tersembunyi di balik tumpukan majalah-majalah bekas dengan kondisi masih baru pula. Kalau dipikir-pikir, you know, it was really like a message from the universe. Segala sesuatunya seperti bersatu dan terkomando oleh suatu perintah alam semesta bahwa memang kali inilah kesempatan saya untuk bertemu dan memperoleh tanda tangan dari Dee.


Koleksi buku saya, semuanya bertanda tangan Dee


Ini salah satu tanda tangan Dee di buku Perahu Kertas

Kali ini memang saya patut bersyukur bahwa dari sekian peserta yang hadir di acara tersebut yang umumnya mendapat satu atau dua tanda tangan, saya sendiri mendapatkan tujuh tanda tangan. Enam di buku karya Dee dan satu di buku testimonial kumpulan tanda tangan dari penulis-penulis yang pernah saya jumpai. Termasuk di antaranya Andrea Hirata, Djenar Maesa Ayu, Nova Riyanti Yusuf, Habiburahman El Shirazy, Kurnia Effendi dan lain-lain. Saya seperti menyaksikan mereka semua hadir begitu dekat dengan saya, tidak di atas panggung, tapi di dalam sebuah buku testimonial yang sederhana. Di buku testimonial itu, Dee menulis: SEMOGA MENJADI DIRI TANPA BERPUTAR DULU. Sungguh filosofis karena isinya berkebalikan dengan nasib dari tokoh-tokoh dalam novel Perahu Kertas di mana dituliskan bahwa mereka harus "berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi menjadi diri kita lagi."


Buku Testimonial Tanda Tangan Penulis dengan tanda tangan Dee di antaranya ;=)

Selanjutnya ada foto bersama. Satu hal yang akan membuat teman-teman dekat saya berteriak histeris 'tttiiidddaaakkk' secara berlebihan karena berkeinginan untuk bertemu Dee juga namun terhalang oleh samudera yang luas membentang. "Apa boleh buat teman, malaikat juga tahu aku sudah dipertemukan dengan Dee. Jangan ngiri ya, suatu saat kesempatan itu akan datang untukmu."

Setelah selesai minta tanda tangan dan foto bersama, saya duduk-duduk sebentar, menata buku-buku saya ke dalam tas, sambil menunggu waktu berbuka puasa. Beberapa dari yang hadir tampak mengamati saya dan agak terheran-heran bahwa saya mendapatkan tanda tangan untuk semua buku-buku Dee yang saya miliki. Mereka juga heran melihat buku-buku saya semuanya bersampul rapi tanpa lipatan padahal semuanya sudah terbaca paling tidak dua kali. Bahkan untuk Supernova KPBJ dan Akar serta Filosofi Kopi sudah dibaca paling tidak lima kali, tapi masih terlihat baru. Itulah sebenarnya yang harus dilakukan oleh seorang pembaca buku yang baik yaitu memperlakukan sebuah buku layaknya mitra, bukan budak. Jadi harus diperlakukan sedemikian rupa sehingga isinya bisa terserap tanpa merusak fisik dari buku tersebut agar berfungsi secara berkelanjutan bagi generasi-generasi mendatang.

Saya selalu berpandangan bahwa buku seharusnya berada di tangan yang paling bisa menghargainya dan tidak hanya diletakkan tanpa dibaca, mengumpulkan debu dalam almari yang terlupakan. Setelah selesai semua, tibalah waktu berbuka puasa. Saya pun segera berbuka dan sholat maghrib kemudian pulang. Di perjalanan pulang dari Jakarta ke BSD City, Serpong, saya menyadari satu hal, tol Jakarta-Tangerang yang tadi siang ketika saya berangkat, macetnya minta ampun sampai kelihatan parkir dari Lippo sampai dengan pintu tol Karang Tengah, malam itu lancar jaya tanpa hambatan. Wow, my prend, life can be pretty amazing sometimes. Sepertinya hari ini, satu semesta sedang tersenyum tulus kepada Adie Riyanto untuk bertemu dengan Dewi 'Dee' Lestari. Alhamdulillah semua berjalan lancar.


PS: Kalau suatu saat mbak Dewi membaca tulisan ini, saya ingin berterima kasih sekali lagi untuk semuanya dan semoga account Facebook saya segera di-approve secepatnya (sudah empat bulan awaiting confirmation mbak hehehe thanks ;=0 )

Monday, August 24, 2009

Tentang Nama, Tentang Cerita

Minggu. Pekerjaan rumah telah selesai. Ramadhan. Percayalah, tak banyak tanggungan yang harus dilakukan oleh remaja tanggung yang baru lulus kuliah seperti saya, di hari libur yang penuh keceriaan ini. Karena bulan puasa dan cuaca yang panas, niat untuk bersosialisasi dengan teman-teman saya urungkan. Selain karena malas keluar rumah, ada satu keinginan kuat di diri ini untuk menghindari pembicaraan tak penting dan pemborosan waktu. Saya iseng-iseng membaca majalah favorit saya waktu kuliah, Reader's Digest.

Di salah satu halaman majalah tersebut, saya menemukan salah satu kutipan dari Albert Einstein yaitu 'Hal terindah yang dapat manusia alami adalah misteri. Itu adalah sumber dari segala bentuk seni dan ilmu pengetahuan. Mereka yang tidak mengenal misteri--tidak pernah berhenti untuk mempertanyakan atau mengagumi sesuatu--berarti dia telah meninggal karena matanya telah tertutup. Mengetahui dan merasakan bahwa ada banyak hal yang tidak kita pahami adalah inti dari segala bentuk kepercayaan.' Misteri. Kata itu sendiri kadang-kadang membuat bulu kuduk berdiri. Seakan ada kesan mistis yang melingkupinya. Berkenaan dengan hal itu, saya juga percaya bahwa hidup yang kita lalui juga misteri. Tak ada yang pernah tahu secara pasti apa yang akan terjadi atau tidak terjadi di kemudian hari. Oleh karena itu manusia, tak terkecuali saya, mempunyai semacam harapan dan doa (tentu saja) untuk melewati setiap ketidakpastian menuju sebuah kebermaknaan hidup. Saya memilih hidup yang bermakna daripada hidup yang bahagia karena saya pikir kebahagiaan hidup sangat relatif parameternya, sementara hidup yang penuh makna biasanya tak jauh-jauh dari kepuasan batin. Dan tak ada yang lebih membahagiakan dalam hidup ini selain terpenuhinya kepuasan batin kita.

Di waktu luang seperti ini, tak ada teman yang mampu memuaskan batin saya selain buku. Bukannya saya antisosial, tapi seperti saya katakan tadi, saya lagi tidak ingin keluar rumah. Sejak kecil saya memang suka membaca. Saya mempunyai sebuah perpustakaan pribadi yang koleksinya selain pemberian dari ayah, saya kumpulkan dengan membeli buku dari tabungan pribadi. Setelah sekian lama kegiatan tersebut saya lakukan, sampailah saya pada satu momen di mana saya duduk diam, mematut, dan memandangi perpustakaan tersebut. Pikiran saya mulai bergerak dan bertanya-tanya. Di antara ribuan buku yang tersimpan rapi di perpustakaan itu, tak ada (atau belum ada) satupun buku yang saya tulis sendiri. Belum ada. Mungkin ada beberapa tulisan yang berjilid dan sempat memenangkan beberapa sayembara penulisan saat SMU dan kuliah. Namun, yang secara spesifik berbentuk buku dengan nama Adie Riyanto tertulis di sampulnya, belum bertengger di perpustakaan tersebut. Sebuah ironi kalau saya pikir-pikir.

Berangkat dari hal tersebut, rasa-rasanya, tak ada hal yang menyenangkan selain menulis. Ya, harapan saya saat ini, yang mempunyai daya dorong sangat kuat dan meminta untuk segera dimobilisasi adalah menjadi seorang penulis.

Sindrom JK. Rowling.

Jakarta, 31 Januari 2004. Perkenalan pertama dengan JK. Rowling. Sebenarnya buku Harry Potter sendiri sudah saya kenal saat saya masih duduk di bangku SLTP. Akan tetapi, karena ayah saya menyarankan untuk membeli buku-buku tes lulus Ebtanas dahulu daripada buku cerita, akhirnya menurutlah sang anak tercinta ini. Baru ketika euforia film Harry Potter and The Prisoner of Azkaban melanda negeri ini, bersamaan dengan serangkaian tes-tes masuk perguruan tinggi, mulailah saya mengenal Harry Potter dan 'ibunya'. Saya tidak pernah tahu pasti mengapa saya menyukai cerita Harry Potter. Mungkin ketika saya membaca ulasan, biografi tak resmi, artikel, atau apapun menyangkut karier kepenulisan dan proses kreatif dari JK. Rowling, saya menemukan semacam benang merah atau ada semacam chemistry antara kita berdua menyangkut kehidupan masa kecil. Saya senang mengumpulkan kata-kata. Saya suka menulis jawaban uraian yang panjang-panjang. Sampai saat saya lulus kuliah--seingat saya--belum pernah ada yang mengalahkan panjang jawaban uraian saya. Dan selain itu semua, saya suka membuat nama-nama. Saya menikmati saat menciptakan nama-nama tersebut. Setidaknya, sudah lebih dari 200-an nama saya ciptakan untuk cerita-cerita yang akan saya tulis.

Saya merasa ada semacam malignant imagination dari JK. Rowling yang tumbuh dalam diri saya. Mulai saat itu, perburuan segala sesuatu yang berhubungan dengan JK. Rowling dan Harry Potter pun dimulai. Karena buku-buku Harry Potter terbilang tidak murah, maka untuk menyiasatinya urusan perut pun harus ditawar. Buku-buku serial Harry Potter dan buku-buku yang berhubungan dengannya, majalah, poster, tongkat sihir, dan pernak-perniknya akhirnya hadir menciptakan semesta mungil dunia Hogwarts di rumah.

Semua itu saya lakukan atas dasar kesukaan dan keinginan untuk belajar dari kepiawaian JK. Rowling dalam menulis. Pernah suatu ketika, dalam tidur saya bermimpi diundang ke istananya JK. Rowling bersama anak-anak beruntung dari seluruh penjuru dunia. Saya diberikan buku yang isinya dapat memudahkan saya dalam menulis cerita. Pada kesempatan lain, saya juga pernah bermimpi bahwa Gilderoy Lockhard, tokoh penulis dalam buku Harry Potter and The Chamber of Secrets, menghadiahi saya sebuah pena bulu burung merak yang biasa ia gunakan untuk menandatangani buku-buku karyanya dalam berbagai kesempatan. Mungkin ini yang dimaksud Bob Proctor dalam buku The Secret karya Rhonda Byrne bahwa 'segala sesuatu yang datang ke dalam hidup Anda, ditarik oleh Anda ke dalam hidup Anda. Dan segala sesuatu itu tertarik ke Anda oleh citra-citra yang Anda pelihara dalam benak; oleh apa yang Anda pikirkan. Apapun yang berlangsung dalam benak, Anda menariknya ke diri Anda'.

Saya merasa bahwa apapun yang saya lakukan dan ke manapun saya pergi, tanpa terduga-duga, saya menemukan arti atau makna di balik kata dan nama yang dipakai JK. Rowling dalam membangun jalinan cerita Harry Potter. Saya tidak tahu apakah mimpi dan serangkaian peristiwa kebetulan tersebut terjadi karena saya kelewat obsesif dengan JK. Rowling. Yang jelas setelah mimpi tersebut, saya jadi berpikir bahwa jika Inggris mempunyai JK. Rowling dan Amerika mempunyai Christopher Paolini sebagai penulis cerita fantasi, saya berharap suatu saat Indonesia punya seorang Adie Riyanto untuk mewakilinya.

Perihal Nama (Belakang).

Sampai saat ini, saya tidak tahu apa arti nama lengkap saya. Walaupun Shakespeare berkata apalah arti sebuah nama, bagi saya nama adalah doa. Pernah suatu ketika saya bertanya kepada ayah, apakah arti nama Riyanto pada nama belakang saya. Saya tak ingat lagi apa jawaban beliau waktu itu, yang jelas nama itu berarti bagus atau baik. Setidaknya menurut pemikiran ayah saya. Akhirnya, untuk menyenangkan hati ini, dibuatlah definisi hipotetif dari nama belakang saya itu. Riyanto = Ganteng. Jadi, Adie Riyanto berarti Adie Ganteng.

Jangan mengira saya biangnya orang narsis, tapi karena saya memang tidak tahu artinya, lebih baik menciptakan situasi yang dapat menciptakan dorongan atau semangat berkarya daripada tenggelam dalam alam pikiran yang stagnan. Tak bergerak.

Seiring berjalannya waktu dan masuknya saya ke Jakarta untuk menuntut ilmu, terbentang pula akses saya ke arah bidang yang saya sukai. Buku. Film. Fotografi. Musik. Selain kuliah, saya menyibukkan diri pada kegiatan yang saya sukai tersebut. Di atas itu semua, saya mulai menyadari bahwa pada bidang-bidang yang saya sukai tersebut banyak sekali tokoh-tokoh yang (secara tidak sengaja saya ketahui) memiliki nama belakang persis dengan nama belakang saya. Sebut saja Andi Rianto (musisi), Tukul Riyanto (populer dengan nama Tukul Arwana, komedian), Garin Nugroho Riyanto (sutradara), A. Riyanto (pencipta lagu, penyanyi), dan lain-lain. Belakangan saya baru tahu kalau ternyata Mbah Surip mempunyai nama belakang Riyanto juga. Nama asli Mbah Surip adalah Urip Achmad Riyanto. Wew, blessing name. Saya tidak tahu apakah ini yang dimaksud dengan sinkronisitas dalam ranah kehidupan.

Namun begitu, saya jadi paham juga akhirnya bahwa saya terpaksa berdamai dengan diri pribadi akan kenyataan yang ada. Maaf, bukannya saya mau mengoreksi fisik seseorang, tapi dari sederet nama-nama populer di ranah hiburan tanah air yang saya sebutkan di atas, semuanya menunjukkan bahwa secara fisik jauh dari kesan ganteng. Jadi, definisi hipotetif bahwa Riyanto = Ganteng terpatahkan dengan sebuah studi empiris kecil-kecilan. Tak usah tertawa. Karena saya pun tidak. Karena memang tak ada yang perlu ditertawakan.

Selain kesadaran akan definisi nama belakang tersebut di atas, saya juga menyadari satu hal. Belum ada nama penulis di Indonesia dengan nama belakang Riyanto (seingat saya lho). Garin Nugroho memang saya ketahui pernah menulis beberapa buku, tapi Garin lebih tersohor sebagai sutradara film daripada sebagai penulis. Buku-buku yang ditulis Garin pun berupa buku non-fiksi. Bukan fiksi. Jadi, kalau hipotesis saya kali ini benar, maka belum ada penulis di Indonesia yang mempunyai nama belakang Riyanto.

Oleh karena itu, sama seperti pendapat Albert Einstein di awal tulisan ini, bahwa hidup itu penuh dengan misteri, maka tak ada yang tahu juga kalau suatu saat nama Adie Riyanto ikut hadir dan berjajar dengan Riyanto-Riyanto populer di atas sebagai seorang penulis kenamaan. Menerima kenyataan tersebut, saya hanya ketawa-ketawa sendiri dalam hati dan bersyukur bahwa waktu berbuka puasa sudah hampir tiba. Alhamdulillah.


Lucky me
Cheers to everyone ;=)


~Adie Riyanto~

Tuesday, August 18, 2009

Membaca: Dari Hobi Menjadi Kebutuhan


Hari Sabtu kemarin, tanggal 15 Agustus 2009, saya iseng-iseng memperbarui status Facebook. Saya menulis bahwa pada saat itu saya sedang membaca buku Arok Dedes karangan Pramoedya Ananta Toer. Beberapa saat kemudian beberapa komentar bermunculan menanyakan perihal kebiasaan saya dalam membaca. Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa kalau kita memperbincangkan mengenai kegiatan membaca. Begitu pun, tak ada yang spesial menyangkut diri saya dalam kaitannya dengan membaca.

Saya tak tahu pasti apa yang membuat saya suka membaca. Keinginan itu seperti sebuah keinginan yang tiba-tiba muncul. Konsep tiba-tiba yang seakan-akan menimbulkan dorongan yang kuat inilah kadang-kadang yang sering mengejutkan diri saya sendiri untuk membaca. Tak ada paksaan atau intervensi dari pihak manapun layaknya sebuah pelaksanaan suatu kewajiban. Pun juga, tak ada hadiah atau penghargaan apapun yang siap menanti setelah sebuah buku selesai dibaca. Tak ada. Bisa dibilang, kegiatan membaca yang saya lakukan merupakan kegiatan personal yang telah memberikan semacam morfin dalam menjalani hari-hari ini.

Apakah kebiasaan membaca bisa ditumbuhkan? Saya kira semua kegiatan, baik itu baik untuk dilakukan maupun jelek sehingga harus ditinggalkan mempunyai potensi menjadi sikap hidup jika terjadi repetisi tanpa kita sadari. Orang yang biasa berbohong, selalu melakukan pengulangan-pengulangan atas kebiasaannya berbohong. Orang yang senang bergosip, sehingga setiap saat selalu tak lepas dari kegiatan menggosip, lama-kelamaan akan menjadi orang yang ahli gosip. Begitu pula dengan kegiatan membaca. Kebiasaan membaca bisa diinjeksikan kepada orang yang tidak suka membaca melalui perilaku-perilaku yang mendorong ke arah sikap sadar baca.

Untuk memulainya memang agak berat. Apalagi 'media' penginjeksian ini adalah orang dewasa yang notabene semakin banyak godaan untuk melakukan hal lain yang mungkin lebih menarik daripada membelai lembaran-lembaran kertas. Namun bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Yang diperlukan di sini adalah perihal sikap 'kecenderungan' dalam membaca. Kecenderungan membaca di sini maksudnya adalah menghimpun semua energi dan daya upaya untuk memberikan perhatian khusus terhadap kegiatan membaca. Kecenderungan membaca sendiri dapat ditumbuhkan dengan keteraturan. Hal ini bisa dilakukan dengan menyediakan waktu setiap hari untuk membaca. Untuk awal-awal dalam menumbuhkan minat baca, tak perlu waktu yang lama atau bacaan yang berat demi terciptanya keteraturan. Namun lebih kepada pendisiplinan diri untuk secara ajeg dan rutin melaksanakan kegiatan tersebut. Pilih waktu yang tepat dan tempat yang nyaman serta jauh dari jangkauan segala sesuatu yang dapat mengalihkan perhatian dari kegiatan membaca.

Apabila keteraturan itu juga sulit untuk dilaksanakan, hal yang perlu diambil adalah 'pemaksaan diri'. Pemaksaan diri di sini tentunya dalam arti yang positif karena pada dasarnya sesuatu yang lahir dari keterpaksaan akan membawa dampak pada keprematuran hasil. Misalnya begini, kondisikan bahwa 'jika saya tidak membaca hari ini, saya harus melakukan sesuatu yang sangat saya benci'. Bentuknya bisa bervariasi namun intinya adalah memberikan semacam hukuman bagi diri pribadi atas pelanggaran komitmen yang telah dibuat sendiri.

Selanjutnya memang tak ada hasil jika tak ada perbuatan. Hal yang paling penting dari ini semua adalah membaca itu sendiri. Hal-hal yang saya tulis di atas hanya semacam katalis atau jembatan menuju ke arah kebiasaan membaca.

Di atas itu semua, kebiasaan membaca bisa tumbuh jika diawali dengan niat yang baik. Sesuatu yang baik harus diawali dengan niat yang tulus, tanpa tendensi apapun, dan tanpa harapan untuk dipuji atau diberi penghargaan. Selain itu kebiasaan membaca juga bisa tumbuh manakala buku yang kita baca adalah hasil dari membeli sendiri, bukan buku pinjaman karena ketika kita menyadari bahwa buku yang kita beli tidak murah harganya, kita akan merasa sayang apabila buku tersebut hanya tersimpan rapi di almari. Mungkin ini juga yang membuat saya terdorong untuk menjadikan membaca sebagai sebuah kebutuhan hidup layaknya makan, minum, dan buang air. Dan juga kata-kata Joseph Brodsky selalu terpatri dalam benak saya bahwa 'kejahatan yang lebih buruk dari membakar buku ialah tidak membacanya'. Selamat membaca. ;=)


* Gambar diambil dari sini.