Showing posts with label Meditasi. Show all posts
Showing posts with label Meditasi. Show all posts

Monday, March 01, 2010

Saraswati dan Penghormatan terhadap Buku

Bulan Februari lalu saya sempat 'keluyuran' ke Bali. Segala sesuatu yang tadinya hanya saya tahu dari obrolan dengan teman, akhirnya dapat saya saksikan dengan mata kepala sendiri. Bali dengan segala kompleksitas akan benturan dengan alam global, masyarakatnya masih setia untuk memegang teguh tradisi yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat.

Saya cukup terkejut ketika membaca sebuah berita mengenai perayaan Saraswati yang berlangsung pada hari Sabtu tanggal 27 Februari 2010 lalu. Perayaan yang ada di pikiran saya adalah sebatas bentuk doa-doa dan penghormatan kepada Yang Maha Kuasa. Ternyata esensi dari perayaan Saraswati lebih dari sekadar penghargaan dan penghormatan kepada ilmu pengetahuan.

Masyarakat Bali melakukan upacara penghormatan terhadap ilmu pengetahuan melalui penghormatan kepada Dewi Saraswati, nama suci dewi ilmu pengetahuan yang digambarkan mempunyai empat lengan yang masing-masing membawa buku, ganitri, wina, dan bunga teratai.
Simbol-simbol tersebut mempunyai arti dan filosofi tersendiri. Buku atau dalam hal ini bisa berarti lontar merupakan representasi dari kitab suci Wedha yang berarti bahwa pengetahuan bersifat universal dan abadi. Ganitri atau tasbih diartikan sebagai simbol kekuatan spiritual melalui meditasi, sebuah penyatuan diri dengan alam semesta. Hal ini dapat dipahami bahwa usaha untuk mempelajari suatu khasanah ilmu pengetahuan haruslah bertujuan sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik, bukan untuk menyebar teror dan kerusakan alam semesta.

Wina berarti kecapi, merupakan simbol dari keindahan atau nilai estetika yang dikandung dalam suatu ilmu pengetahuan. Sedangkan bunga teratai sendiri merupakan simbol kesucian yang mengandung arti dari sebuah esensi kesucian ilmu pengetahuan. Keempat benda yang dipegang Dewi Saraswati tersebut merupakan aspek yang menjadi simbol akan hakikat manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan yakni mampu mengombinasikan nilai-nilai intelektualitas dengan nilai-nilai spiritual penyatuan dengan alam semesta untuk menghikmati suatu keindahan dan kesucian dari ilmu pengetahuan yang akan mendorong pada satu konsepsi tentang hakikat kemanusiaan seseorang di hadapan Tuhan. Bahwa ilmu tak ubahnya merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Saya cukup beruntung diberi satu kalender penanggalan Bali oleh supir saya, yang walaupun kelihatan agak ruwet tapi menarik untuk dipelajari. Hari raya Saraswati diperingati setiap 210 hari yang jatuh setiap Sabtu Umanis Watugunung yang salah satunya jatuh pada tanggal 27 Februari 2010. Pada hari itu kegiatan membaca dan menulis ditiadakan untuk memberikan penghormatan terhadap buku. Semua lontar dan bahan-bahan literasi seperti Kitab Suci Wedha, buku, novel, koran, komik, dan lain-lain dikumpulkan jadi satu untuk dibersihkan dan diberi sesaji seperti beras wangi, air kembang dari tujuh mata air, dan tumpeng.

Pada hari Minggunya, yaitu Minggu Paing wuku Sinta adalah Banyu Pinaruh yang merupakan kelanjutan dari perayaan Saraswati. Sebelum memanjatkan doa, umat Hindu di Bali melakukan ritual mandi suci dan memotong rambut sebagai wujud penyucian diri. Setelah itu, acara pemanjatan doa dilakukan sebelum matahari tegak lurus dengan bumi, memohon agar buku yang disucikan dapat membawa pencerahan, sumber kebajikan dan pengetahuan. Ritual tersebut ditutup dengan prosesi minum air dari tujuh mata air dan jamu yang mengandung enam rasa sebagai wujud ilmu pengetahuan. Terakhir yaitu mandi di laut sebagai simbol untuk pembersihan diri lahir dan batin.

Kalau kita pikir, ribet sekali untuk merawat buku. Tapi bukan itu esensinya. Tradisi merawat buku di Bali merupakan bagian dari ritual agama yang dimanifestasikan dalam perayaan Saraswati. Saya pikir informasi ini penting untuk diketahui oleh masyarakat luas agar lebih peka untuk memerhatikan siklus hidup dari sebuah buku. Bukan ritual minum, mandi, dan pemberian sesaji yang perlu kita teladani sebagai masyarakat umum, namun sikap masyarakat Hindu Bali yang peka terhadap kelangsungan hidup siklus suatu media literasi itulah yang patut kita teladani dan kembangkan.

Jika kita pernah mendengar bahwa koleksi buku sebuah perpustakaan X rusak akibat di makan rayap atau lusuh karena tidak dirawat, sudah saatnya kita membuka mata untuk peka terhadap perawatan buku, berawal dari perhatian bagi buku-buku yang kita miliki atau biasa kita pinjam di perpustakaan.

Saya pernah menulis sebuah catatan tentang sikap saya terhadap buku. Tulisan tersebut berjudul Bersahabat dengan Buku: Sebuah Ritual Kecil Menghargai Buku. Setelah mengetahui seluk beluk tradisi Saraswati, akhirnya saya berpikir bahwa yang saya lakukan tidak jauh berbeda maksudnya dengan apa yang dilakukan masyarakat Bali. Saya jadi berpikir dan sedikit terhenyak. Pantas saja ada keluarga-keluarga tertentu di Bali yang memiliki koleksi lontar atau bahan-bahan literasi kuno yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Saya jadi ingat tentang pelajaran sejarah waktu SMU dulu (saya lulus SMU tahun lalu sih ... xixixixi ... hayah) yang menyatakan bahwa ketika Majapahit runtuh, banyak prajurit, brahmana, maupun budayawan yang lari menyelamatkan diri ke arah timur menuju Bali hingga Lombok dengan membawa lontar-lontar penting untuk diselamatkan. Bahkan, kalau tidak salah, lontar Kitab Negara Kertagama pun ditemukan di Puri Pamotan Cakranegara, Gianyar. Melihat kenyataan tersebut bahwa lontar-lontar 'penting' itu masih terawat hingga kini membuktikan bahwa ada usaha keras dan berkesinambungan untuk merawat suatu bahan literasi. Seperti yang saya katakan di atas bahwa merawat buku tidak harus dengan ritual mantra doa seperti dalam perayaan Saraswati, namun perayaan Saraswati dapat dijadikan cerminan bahwa memberikan sedikit perhatian kapada buku dan membuat siklusnya menjadi panjang dengan merawatnya adalah sebuah langkah luhur sebagai bagian dari pengagungan ilmu pengetahuan. Suatu sarana yang dapat mengajarkan dan mengantarkan kita untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Gambar dipinjam dari sini.

Friday, January 15, 2010

Antara Aku, Puisi, dan Sebuah Petualangan


Hidup adalah sebuah proses tentang perjalanan waktu. Cerita tentang suatu alur yang membentuk dongeng yang menuntut untuk selalu diteruskan. Narasi kehidupan akan hadir seiring dengan tertatihnya waktu. Keindahan bahasanya sangat tergantung kepada seberapa beraninya kita mengambil langkah untuk berspekulasi dengan ketidakpastian. Hidup adalah juga lagu yang menanti untuk dinyanyikan. Seberapa getirnya lagu tersebut bermelodi, tetap saja tak akan lupa memberimu kejutan tak terduga akan indahnya suatu filosofi.

Hidup juga berarti rentetan suatu pertanyaan. Seberapa jauhnya dirimu bisa menjawab, tergantung kepada seberapa jauhnya kamu mulai sadar akan hakikat kehidupan. Mencari dan terus mencari tahu, bertanya dan terus bertanya-tanya, serta menduga dan konsisten membuat suatu hipotesis merupakan jembatan untuk mencapai jawaban itu. Jawaban dari suatu pertanyaan sederhana yang bersumber dari satu tanda tanya agung.

Ada kalanya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu terpampang jelas di depan mata. Hadir begitu dekat sehingga tak perlu buang banyak energi untuk mencari tahu. Kadang-kadang jawaban itu juga manja sekali untuk dicari tahu. Ia bersembunyi sebentar agar kita senantiasa bersabar dan menunjukkan integritas untuk mencarinya. Tantangan terbesarnya adalah mencari yang tak dapat dicari dan berusaha menemukan yang tak dapat ditemukan. Itu hanya bisa didapatkan dari proses perjalanan. Perjalanan waktu maupun perjalanan tempat. Pengalaman.

Hidup juga berarti rangkaian suatu tanda titik. Banyak sekali titik-titik di bumi ini yang haus untuk dihubungkan. Dari titik-titik itulah jalan mencari jawaban juga terbentang. Pertanyaan selanjutnya, jika dunia ini penuh dengan titik-titik yang runut untuk dihubungkan dan dicari keterhubungannya, mengapa ada orang yang puas hanya berdiam di satu titik? Kembali ingatanku diterbangkan kepada memori dari petuah agung sang ulama Imam Syafi'i tentang indahnya suatu perjalanan, pergerakan. Sebuah hijrah.

"Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang."

Hijrah. Sebuah perjalanan. Banyak sekali yang akan didapatkan dari rangkaian suatu perjalanan. Jika ada peribahasa janganlah seperti katak dalam tempurung, maka suatu perjalanan yang akan membawamu ke dalam relung-relung kehidupan akan mengajakmu lebih dari sekadar keluar dari tempurung. Kau akan tahu bahwa apa yang terjadi dalam hidupmu, dalam keseharianmu, dalam kelaziman di sekelilingmu mungkin saja lebih baik atau bahkan malah lebih buruk dari apa yang terjadi di tempat lain. Tidakkah kau ingin mencari mutiara-mutiara kebaikan yang tertanam jauh dari tempat di mana dirimu tenang bersemayam?

Ah. Rumah tentu saja. Tempat itu menjanjikan ketenangan dan kenyamanan kehidupan. Tapi, tak pernahkah terlintas di benakmu, bahwa tanda tanya agung juga memberikan PR bagi kita untuk menyadari bahwa dalam suatu ketenangan hidup seringkali tersimpan kehidupan yang melenakan ingatan. Dalam suatu air yang tenang tak ubahnya menyimpan tenaga yang menghanyutkan. Rumah memang suatu zona aman. Tempat berteduh maupun berkembang biak. Menurunkan ketenangan-ketenangan yang akhirnya menjelma kesalahan beruntun berkesinambungan. Menuju kesalahkaprahan.

rindu. aku ini memang selalu rindu untuk pulang. tapi saban kali juga tak betah. petualang sekaligus pencinta rumah

Sebuah dilema menjadi seorang pejalan jauh. Aku lebih suka menyebutnya demikan untuk mewakili petualangan-petualangan kecil yang kulalui demi mencari jawaban atas tantangan dan pertanyaan kehidupan. Di satu sisi, rumah menawarkan kerinduan yang mencandu. Di saat yang lain, rumah serupa kebosanan yang merengek untuk segera ditawarkan. Rumah mengingatkan kita semua akan suatu kegundahan-kegundahan di masa depan. Dilema menjadi tua dan segenap permasalahan hidup yang mengikutinya. Namun inilah yang dinamakan pilihan. Menjadi petualang sekaligus pencinta rumah. Sebuah proses kehidupan yang layak dipilih dan dipertanggungjawabkan yang jarang jadi pilihan kebanyakan orang.

demikianlah musafir: kita takut menjadi tua. namun juga tak pernah bisa kembali menjadi bayi, menjadi kanak-kanak. kecuali bila kita ciptakan lagi kelahiran. di saat halte mau membimbing kita ke peristirahatan

Ah, puisi. Selalu saja dirimu lugu bersolusi. Indah bahasamu seakan menawarkan kerinduanku pada rumah. Engkau mahir menjadi tongkat penunjuk untuk hati dan imanku yang kadang goyah untuk menjadi penjelajah. Sesuai dengan ide yang menari-nari di kepalaku. Bahwa dengan perjalanan yang kulakukan, aku yakin akan menemukan ilmu-ilmu baru, pengetahuan-pengetahuan yang mencengangkan, bertemu dengan bermacam-macam orang dengan beraneka latar belakang. Aku yakin akan menemukan filosofi kehidupan. Memetik pengalaman, membuat penilaian, menimbang-nimbang rasa kehidupan, hingga menarik kesimpulan. Menakar suatu nilai maupun mengadopsi suatu pemikiran.

Karena bukan suatu jalan dari pilihan orang banyak, maka siap-siaplah dirimu dengan konsekuensi yang akan kau terima dari orang-orang awam yang akan menjadi juri dari langkah yang kau pilih. Ah, biasa saja. Mereka memang seperti itu. Jumlahnya mayoritas, mulutnya banyak, dan seringkali mahir mengolok-olok. Karakter yang hanya cocok untuk satu peran dalam sandiwara kehidupan. Menjadi penonton. Lalu, jika dirimu seorang terpelajar, ilmu dan pengetahuan menjadi teman sekaligus sahabat terbaik, kebiasaan bertanya-tanya dan merayakan kebebasan berlogika menjadi tradisimu, akankah dirimu mau menjadi pribadi yang tak akan dikenal oleh siapapun. Manusia yang tertutup oleh jumlah mayoritas dalam komunitas. Silakan kembali pada iman masing-masing. Hanya hati yang tahu dan akan berbisik untuk menunjukkan suatu jawaban besar dari pertanyaan sederhana dalam hidup. Sebuah kenyataan.

Hidup memang jalinan yang menawarkan pilihan-pilihan. Ke mana hatimu bertaut, di situlah oasemu bersemayam. Dalam kepalamu tertanam banyak cahaya yang bertahan untuk membuncah memuntahkan sinar. Begitu pula, terangkum penjara yang menggiringmu ke arah kepicikan berpikir. Karena itu, ikutilah keinginan hati untuk melakukan suatu perjalanan.
Merekam tradisi dan pengalaman untuk dijadikan cermin dalam sebuah bingkai rona kehidupan.

salam bagimu peziarah muda. hatimu telah mencatat peristiwa-peristiwa kecil yang dilupakan dunia. ke mana nyerimu melangkah, ke sana jantungmu mencari

Tidak semua ocehanku layak kau ikuti. Tidak semua tindakanku layak kau lakukan juga. Aku hanyalah seorang yang haus akan sebuah perjalanan. Petualangan-petualangan kecil yang kutemui hanyalah renik dari ketetapan-ketetapan hukum Ilahi dan pesan yang dikidungkan oleh puisi-puisi. Aku yang mencoba merangkai pengalaman dalam hidup hanyalah seorang turis yang bertamasya dalam diri. Demi sebuah pencarian agung dari jawaban yang menggantung di ujung tanda tanya dari proses kehidupan. Pencarian jati diri.


* Puisi dikutip dari Perjalanan Pulang karya Joko Pinurbo dalam buku kumpulan puisinya Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung (Gramedia Pustaka Utama, 2007)

Gambar dipinjam dari sini.

Tuesday, December 29, 2009

Curhat-Curhat Fahd Djibran dan Hal-Hal di Luar Dugaan

"Kita sering lupa bahwa cinta adalah kata lain dari saling mendengarkan. Sebab mendengarkan adalah saling membuka diri: saling memberi dan menerima dengan tulus".

Penggalan kata-kata di atas termaktub dalam tulisan berjudul Memoria (hal. 23) dari kumpulan tulisan Fahd Djibran yang berjudul Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya. Jadi, yang kita perlukan hanya duduk dan mendengarkan untuk menikmati narasi linguistik di dalamnya. Dalam buku yang merupakan kompilasi dari 30 tulisan ini, kita diajak berselancar dalam dunia perenungan. Semacam dialog pribadi dengan diri untuk mendapatkan impresi sebagai kesimpulan akhir yang membawa kita pada ingatan-ingatan kecil akan nilai-nilai kemanusiaan, cinta, kontemplasi akan hidup, Tuhan, dan beberapa renik pemikiran filosofis. Kita seolah digiring untuk mencari pegangan, merefleksikan diri di depan cermin, dan sejenak berintrospeksi. Menata ulang pemikiran-pemikiran yang telah terkonsep rapi dalam sebuah jubah kelaziman demi sebuah tujuan indah berupa pengenalan diri pribadi. Penemuan jati diri. "Mungkin kita tak mengenali diri kita sendiri. Mungkin kita 'kehilangan' diri kita sendiri" (hal. 49).

Membaca buku ini kita seperti dikembalikan ke dunia anak-anak di mana animo untuk bertanya dan mempertanyakan sesuatu yang 'tidak biasa' atau 'tidak lazim' sudah lama kita lupakan karena pengaruh adiktif kedewasaan. 'Orang-orang dewasa tak pernah memahami sesuatu seperti apa adanya dan sungguh melelahkan bagi anak-anak kalau selalu harus memberi penjelasan pada mereka' (hal. 110). Tulisan Antoine de Saint-Exupery dalam bukunya The Little Prince yang dikutip di buku ini mengingatkan betapa menariknya mengalami imajinasi seperti layaknya anak-anak yang begitu manisnya dan (tentu saja) tanpa pretensi apa-apa menanyakan dan mempertanyakan sesuatu, seolah-olah dengan tak puasnya menginginkan jawaban-jawaban atas keresahan-keresahan dalam pikiran yang menggelayutinya tanpa merasa perlu khawatir akan perasaan mengalami kekejaman sebuah 'tanda titik'. Sensasi seperti itulah yang dicobahadirkan oleh Fahd Djibran dalam curhat-curhat singkat sebanyak 172 halaman yang diterbitkan oleh Gagas Media ini.

Konsep bertanya dan mempertanyakan sesuatu dalam Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya (konon) merupakan sekuel dari pendahulunya yaitu A Cat in My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa. Sebagai sebuah lanjutan, buku ini menghadirkan sesuatu yang 'agak berat' dari pendahulunya. Tulisan-tulisannya lebih rumit, lebih berisi, dan (kadang-kadang) berpotensi membuat pembaca awam bingung dengan konsep pemikiran yang dicobatawarkan. Pemilihan istilah 'dunia antara' mengingatkan kita akan keresahan-keresahan pemikiran kaum urban di kota-kota besar yang mencari alternatif dari dikotomi-dikotomi yang sering melanda kehidupan mereka dan seringkali memberikan efek keterkungkungan sehingga menuntut sebuah kekuatan pembebasan pikiran. Kebebasan berekspresi seluas-luasnya. Buku ini berpotensi untuk membawa pembebasan tersebut sekaligus memberikan 'PR' baru untuk menilai ulang tentang konsep pemikiran yang sudah terstandardisasi di masyarakat.

Blog: Sebuah Proses Kreatif

Beberapa tulisan di buku ini sebelumnya telah hadir di blognya Fahd Djibran sebagai semacam diskusi terbuka di mana pembaca blog diberi kesempatan untuk berpartisipasi dengan mengirimkan curhatnya dalam sebuah surat elektronik. Sebuah cara unik yang kini juga diterapkan oleh koran Kompas dalam menghadirkan rubrik Kompas Kita di mana seorang narasumber memberikan penjelasan akan suatu permasalahan yang ditanyakan.

Menulis merupakan pengalaman personal bagi seseorang. Ia hadir sebagai sebuah panggilan jiwa yang menuntunnya ke dalam kesadaran bahwa tugas tersebut penting untuk dilaksanakan. Panggilan jiwa tersebut akan menemukan jalannya sendiri melalui sebuah proses kreatif yang menuntut untuk terus-menerus diasah. Menurut Pramoedya Ananta Toer, proses kreatif adalah semata-mata bersifat individual yang bisa terjadi hanya setelah terbentuk mistikum sebagai conditio sine qua non. Mistikum, kebebasan pribadi yang padat (condensed), yang melepaskan pribadi dan dunia di luarnya, yang membuat pribadi tidak terjamah oleh kekuasaan waktu, suatu kondisi di mana yang ada hanya sang pribadi dalam hubungan antara kawula dengan Gusti dengan bukti kegustiannya, tertampillah sang kreator dengan Kreator melalui pernyataan-pernyataannya.

Fahd Djibran tampil dalam khasanah penulisan melalui sebuah proses kreatif di blognya dengan membawa semacam bekal, alasan, dan dorongan yang membuatnya bersemangat untuk terus berproses kreatif. Hal ini juga dibagikan dengan sidang pembaca melalui tulisannya yang berjudul Alasan (hal. 13) dan Dendam Sejarah (hal. 31). Menulis bisa berangkat dari mana saja, bermisi apa saja, dan ingin atau bertujuan ke mana saja. Kevariatifan dari alasan seseorang untuk menulis itulah yang unik dan membuatnya menjadi semacam pengalaman personal yang layak untuk direnungkan.

Karena berangkat dari tulisan-tulisan di blog, kumpulan tulisan ini lebih siap dari segi kemasan. Dalam artian, kesalahan akan tanda baca, ejaan, salah ketik, dan salah cetak dapat diminimalisai karena telah mengalami banyak sekali proses editing dalam perjalanannya dicetak menjadi sebuah buku. Kelemahan tulisan yang dibukukan dari blog salah satunya adalah adanya kebosanan atau perasaan 'tidak seperti sensasi yang didapat saat membacanya pertama kali'. Untuk menghindari hal itu, Fahd sengaja membuat editan dan penambahan tulisan baru yang sebelumnya tidak tampil di blog sehingga secara keseluruhan setelah dicetak menjadi sebuah buku akan kelihatan seolah-olah baru.

Perlu dicatat bahwa buku ini juga mempunyai soundtrack. Sebuah lagu berjudul Curhat Setan yang dibawakan oleh BFDF hadir melengkapi narasi-narasi dalam buku ini. Dalam dunia penerbitan di Indonesia, konsep produk yang menggabungkan antara buku dan musik sudah bukan hal yang baru lagi. Hal serupa juga pernah dilakukan oleh penulis Andrei Aksana (Lelaki Terindah, Cinta Penuh Air Mata, dll) dan Dewi 'Dee' Lestari (Rectoverso). Gabungan dari keduanya merupakan sebuah paduan yang menyatu. Buku dan musik. Dualisme yang satu. Konsep yang juga mengarah kepada refleksi diri bahwa dalam tubuh manusia selalu ada dua jiwa yang tumbuh bersemayam yaitu jiwa malaikat dan jiwa setan. Saat jiwa setan berontak dan mempertanyakan kenyamanan jiwa malaikat, tak ada salahnya untuk menikmati narasi dalam Curhat Setan yang ini. Anda akan sejenak bertanya-tanya sekaligus tersentak untuk mengangguk-angguk atau menggeleng-geleng menikmati sensasi kalimat-kalimatnya.

Seperti penjelasan penyair dan penulis Agus Noor tentang fiksi mini, kumpulan tulisan ini hadir serupa narasi-narasi yang menjelma sebagai seseorang yang tiba-tiba datang dan mengucapkan beberapa patah kata atau beberapa kalimat yang membuat kita terperangah. Dan orang itu mendadak sudah menghilang begitu saja. Meninggalkan kita yang hanya terbelalak, digoda sejuta tanya, dan terus-menerus memikirkan apa yang tadi barusan dikatakan orang itu. Begitulah efek saat menikmati Curhat Setan. Ia seperti satu tamparan yang membuat kita kaget terbelalak.

Gambar dipinjam dari sini.

Friday, December 25, 2009

Natal dan Jalan Panjang Menuju Damai

Hari ini umat Kristiani di seluruh dunia merayakan hari raya Natal. Saya seorang muslim. Entah dorongan apa yang membuat saya tergerak untuk menulis catatan ini. Saya menghormati dan menghargai kebebasan beragama. Saya perhatikan, setiap hari Natal tiba, seluruh gereja di Indonesia, baik yang besar maupun yang kecil, baik yang di kota maupun yang di desa, baik yang ramai jemaatnya maupun yang sedikit, dijaga ketat oleh aparat keamanan. Jalan-jalan yang melewati gereja juga dijaga, lengkap dengan beberapa pemeriksaan bagi yang melintas atau bahkan pengalihan jalur lalu lintas.

Memang niatnya baik yaitu untuk menjaga kekhusyukan dalam beribadah. Membuat suasana ibadah menjadi khidmad tanpa ada gangguan. Gangguan. Sepertinya kata ini akrab di telinga kita seiring dengan konflik antaragama yang terjadi di beberapa wilayah tanah air dan beberapa peristiwa teror bom yang sering mewarnai perayaan natal. Yang menjadi permasalahannya adalah mampukah negeri ini menghadirkan momen perayaan natal yang tenang dan penuh kedamaian tanpa ada barikade aparat keamanan? Mampukah negeri ini mengusung kedamaian untuk sejenak berkhidmad dan memberikan keleluasaan saudara kita untuk merayakan Natal? Bukankah esensi dari perayaan natal adalah momen untuk memburu kedamaian?

Damai. Natal dalam damai. Saya pikir semua orang di dunia, semua umat dari semua agama ( atau umat tidak beragama) merindukan dan memburu kedamaian dalam hidupnya. Momen-momen damai menggiring seseorang untuk berpikir lebih jernih, mencerna lebih dalam, dan memaknai sesuatu mendekati kebenaran hakiki. Orang yang tenang pikirannya akan lebih mudah berpikir dan mencari jalan keluar atas permasalahan-permasalahan yang menggelayuti hidup. Hanya orang-orang yang tidak damai hatinya yang tidak pernah benar-benar mampu untuk menikmati hidup yang dititipkan kepadanya.

Perang, konflik, dan segala bentuk perpecahan yang terjadi di belahan bumi merupakan bentuk dari ketidakdamaian sebagian umat dalam memaknai kehidupan. Segala bentuk perdamaian berbenih dari perasaan tenang, hati yang ikhlas, dan pikiran yang teratur. Semua manusia mempunyai potensi untuk berpikir kalut, berpendirian tenang, maupun bermalas logika. Ibaratnya sebuah garis bilangan yang terdiri atas bilangan negatif, nol, bilangan positif. Kemalasan logika terletak dalam sumbu negatif, kedamaian hati dan pikiran ada di titik nol, dan kekalutan pikiran adalah sumbu positif. Pikiran dan hati seseorang bergerak secara fluktuatif mengikuti suasana menyesuaikan diri mengikuti gerak sumbu tersebut. Ada kalanya berada di sumbu positif, tak jarang di sumbu negatif, dan bisa jadi di titik nol. Membuat suasana hati dan pikiran untuk sedikit lebih lama berada di titik nol merupakan tujuan yang wajib direfleksikan dalam kehidupan jika menginginkan momen damai dalam hidup. Hal ini mungkin terjadi jika konsepsi serupa diadopsi oleh banyak orang dalam aktivitas hidupnya.

Momen damai dalam kehidupan tidak hadir melalui sebuah perundingan atau penandatanganan kesepakatan. Damai dalam hidup tidak membutuhkan pahlawan yang menggondol prasasti nobel. Menghadirkan momen damai juga tidak membutuhkan sebuah pelucutan senjata. Momen damai hadir dalam diri setiap manusia yang mampu membawa hatinya bertamasya ke alam titik nol. Momen damai menggiring setiap pribadi untuk mengalami apa yang disebut sebagai kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan sejati. Hidup yang berjalan saat harmoni antara alam jiwa, alam pikiran, alam jasmani, dan alam semesta bersinergi tanpa suatu tendensi untuk saling menguasai, saling melebihi, berlaku superior dari yang lain, memaksakan kehendak mayoritas, berlaku adikuasa, dan menyulut peperangan. Momen damai hadir saat pribadi sembuh dari segala penyakit hati.

Segala bentuk konflik, perang, perpecahan, pertengkaran, dan perkelahian adalah wujud nyata betapa dunia ini diisi oleh orang-orang yang tidak damai. Jika hari ini gereja ramai dikunjungi, siangnya masjid sesak oleh orang ibadah sholat jumat, dan tempat ibadah lainnya seperti vihara, pura, dan klenteng laris dikunjungi jemaat, apakah mereka-mereka mencari di tempat yang salah jika sekembalinya dari rumah ibadah, pribadinya tidak menyisakan paradigma baru akan jiwa yang bersih, damai, dan merindukan keindahan bertoleransi? Saya kira bukan sesederhana itu disimpulkan demikian. Setiap orang yang berkunjung ke rumah ibadah membawa niat dan tujuan yang berbeda. Jadi yang perlu diselaraskan adalah ikhlas dalam niat. Persepsi akan niat yang baik untuk mendamaikan hati dan pikiran melalui tangan Tuhan ini perlu diterapkan pada semua batok pemikiran di kepala masing-masing umat. Perlu pula dibenamkan persepsi untuk qonaah, menerima sesuatu sesuai dengan prosedur dan proporsinya.

Berlaku ikhlas menerima segala saat berinteraksi terhadap sesama manusia seolah-olah sedang bercengkerama dengan Tuhan merupakan sumber potensi pembentuk perdamaian dan ketenangan hidup. Semua bermula dari pembangunan pondasi kualitas hati. Saya jadi ingat perkataan guru agama saya bahwa ada segumpal daging, di mana jika daging itu bagus maka bagus semua seluruhnya, jika daging itu jelek, maka rusaklah semuanya. Itulah hati. Hati menjadi penuntun utama akan kinerja akal pribadi manusia. Kekuasaan nafsu akan sirna jika hati hadir sebagai segumpal pendirian yang kokoh memelihara nilai-nilai nurani.

Tidakkah kita semua merindukan momen-momen damai ini. Di mana tak akan kita dengar jerit tangis kelaparan, tak kita dengar nyanyian peluru meriam, tak kita saksikan kerusakan gedung dan sekolahan. Tidakkah kita mengharapkan suasana suka cita dan gegap gempita sebuah kehidupan baru yang tenang dan bebas dari ancaman dan kemampuan untuk mengancam. Bukankah hakikat natal adalah merayakan kehidupan baru, menyemarakkan dunia damai, dan mengamini sebuah ketenangan hidup. Tidak ada salahnya prinsip 'kasih' diadopsi oleh umat agama lain. Selalu terdapat nilai-nilai universal dalam setiap not-not keindahan dan kedamaian hidup. Tinggal kita saja yang memilih nadanya dan menempatkannya di tempat yang tepat. Membawa diri menerapkan dan menjaga keseimbangan hati sedikit lebih lama di titik nol merupakan tugas berat bagi siapa saja yang merindukan dan ingin menciptakan perdamaian. Sudah saatnya negeri ini mampu untuk menghadirkan momen perayaan hari raya tanpa dihiasi suatu ornamen senapan.

Gambar dipinjam dari sini.

Tuesday, December 08, 2009

Bahasa Sholat, Bahasa Meditasi

Suatu ketika saya mendapatkan pesan pendek yang isinya kurang lebih begini:

Perkataan indah adalah Allah
Lagu merdu adalah adzan
Media terbaik adalah Al-Qur'an
Senam sehat adalah sholat
Diet sempurna adalah puasa
Kebersihan menyegarkan adalah wudhu
Perjalanan indah adalah haji
Khayalan terbaik adalah ingat akan dosa dan taubat

Saya senang membaca isi pesan pendek tersebut. Isinya mencerahkan dan mengingatkan kita untuk selalu istiqomah di jalan Allah. Pesan singkat itu masih tersimpan aman di dalam telepon genggam saya. Rasanya sayang sekali untuk menghapusnya.

Sholat merupakan ritual penghambaan umat muslim kepada Rabb-nya yaitu Allah SWT, Tuhan semesta alam. Kakak saya pernah memberi definisi bahwa sholat itu hiburan. Awalnya saya agak bingung mendengarnya. Jawaban atas kebingungan itu akhirnya saya dapatkan. Bukan dari keikutsertaan pengajian atau membaca suatu buletin. Bukan dari obrolan dengan ulama, apalagi hasil gosipan dengan teman-teman. Jawaban akan kebingungan saya tersebut saya dapatkan dengan 'mengalami' sholat. Suatu pengalaman yang menakjubkan adalah kesan yang kita dapat dari suatu perbuatan yang menimbulkan impresi dalam suatu ingatan. Saya tidak mengatakan bahwa sholat yang saya lakukan sudah sempurna dan khusyuk. Namun, saya merasakan semacam sensasi yang menenangkan ketika menghikmati melakukan wudhu secara perlahan-lahan, menikmati sejuknya air yang menghapus kepenatan. Merasakan tenteramnya jiwa saat merasakan betapa segarnya berwudhu.

Di kesempatan lain, saat melakukan sholat, saya merasakan anggota tubuh saya bergerak dengan lentur, mengikuti semacam irama tarian. Gerakan-gerakan sederhana yang biasanya ketika melakukannya dengan terburu-buru, saya merasa agak pegal setelah selesai sembahyang. Saya tidak tahu penjelasan medis dan ilmiahnya seperti apa, tapi saya sudah pernah merasakannya. Sensasi serupa saya rasakan saat yoga selama setengah jam. Bukankah lama sholat kira-kira paling lama sepuluh menit. Dan hasil instannya adalah ketenangan batin. Sungguh mencengangkan. Mungkin itu juga penjelasan menurut kakak saya, bahwa sholat itu merupakan hiburan. Saya belum pernah menanyakan kembali penjelasannya. Lalu, mengapa ada orang yang tidak damai setelah selesai sholat?

Saya kira penjelasannya akan lebih kompleks lagi. Mungkin lagi banyak masalah. Atau bisa jadi sholatnya tidak sempurna. Atau malah setengah hati saat melakukannya. Saya tidak menganggap sholat saya sudah sempurna. Namun, saya merasakan saat gerakan-gerakan sholat itu saya nikmati, bukan hanya saya ikuti, ada rasa yang hadir dalam pikiran ini untuk lagi dan lagi ingin memperoleh sensasi serupa demi mencapai kekhusyukan beribadah. Saya kira hakikat penghambaan kita kepada Allah bukan hanya merapalkan doa puja puji semata. Saya yakin Allah menghendaki kita menikmati proses penghambaan itu, bukan menganggapnya sebagai beban. Saya tidak tahu apakah sensasi yang saya rasakan juga dialami oleh penganut agama lain saat sedang beribadah. Jika Anda kebetulan nyasar ke blog ini dan membaca tulisan ini, jangan beranggapan bahwa tulisan ini berisi dakwah atau propaganda agama. Saya hanya ingin bertukar pendapat mengenai rasa yang ditimbulkan saat Anda menghadap Tuhan saat sembahyang. Jika berkenan, silakan tinggalkan pesan tentang sensasi yang Anda rasakan saat melakukan ritual ibadah yang Anda jalani di kolom komentar. Mari bertukar pengalaman dan kesan.

Gerakan sholat sebenarnya adalah suatu bentuk meditasi. Gerakan tersebut sebenarnya satu rangkaian dengan berwudhu. Wudhu pada dasarnya adalah sarana untuk melemaskan titik-titik ketegangan dalam tubuh. Itulah mengapa, sebelum tidur disunnahkan berwudhu. Silakan Anda coba, bahwa ketika sebelum tidur Anda mengawalinya dengan berwudhu, kualitas tidur yang Anda dapatkan akan semakin terasa menenangkan.

Tidur yang cukup, makan makanan yang bergizi seimbang, dan diet sehat adalah kombinasi pembentukan pribadi yang sehat. Dalam ilmu agama Islam sebenarnya ketiga hal tersebut juga telah diatur dalam ajarannya. Seperti penggalan isi pesan singkat yang saya terima di atas bahwa senam sehat adalah sholat, diet sempurna adalah puasa, dan kebersihan menyegarkan adalah wudhu, maka perpaduan ketiganya merupakan salah satu alternatif pencegahan terhadap penyakit. Saya pernah belajar mengenai kehidupan seorang bhiksu. Seorang bhiksu berusaha untuk menjaga makanannya. Ia tidak makan daging. Hanya makan roti dan sayuran. Hidupnya pun juga terbilang biasa-biasa saja. Tidak ada pesta pora atau hura-hura. Setiap jengkal kehidupan dihikmati sebagai sebuah perayaan keheningan menuju penyatuan diri dengan alam lingkungan.

Saya juga pernah belajar tentang kehidupan di pondok pesantren. Dalam pondok pesantren yang masih tradisional kadang kala ada yang masih sangat ekstrim dalam hal makanan yang dikonsumsi. Ada yang cuma makan nasi ditambah daun singkong rebus ditambah garam sedikit. Walaupun saya tidak sampai seperti itu, namun saya juga tidak terlalu banyak mengonsumsi daging. Terutama daging kambing dan sapi. Saya rasa asupan yang kita masukkan ke dalam tubuh juga berpengaruh terhadap tingkat kekhusyukan dalam beribadah. Yang saya tahu dari teman-teman saya yang sudah sering dan rutin melakukan meditasi, mereka yang berpola hidup vegetarian akan lebih mudah untuk merasakan sensasi ketenangan dalam meditasi.

Dalam hal ini saya tidak menganjurkan Anda untuk mengikuti apa yang saya lakukan. Saya hanya berusaha membeberkan sedikit alternatif yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan potensi pengistirahatan Anda secara total walaupun dalam keadaan beraktivitas. Wudhu dan sholat sebagai padu padan paket relaksasi. Jika Anda umat muslim dan sudah capek-capek mengeluarkan uang banyak hanya untuk mendapatkan ketenangan pikiran dalam sesi latihan yoga yang membosankan, atau menghabiskan waktu berharga Anda berkumpul bersama keluarga untuk melakukan relaksasi di spa, silakan mencoba untuk memaksimalkan gerakan sholat dan menyempurnakan wudhu Anda. Jika telah merasakan sensasinya, saya yakin Anda dapat berpikir ulang untuk mengalokasikan anggaran rumah tangga untuk keperluan yang lain daripada harus menanamkannya di pusat-pusat kebugaran.

Saya tidak menganggap olahraga di pusat kebugaran itu jelek. Olahraga tetap penting, namun usaha untuk memaksimalkan tujuan demi memperoleh ketenangan batin dan jiwa, bisa juga didapatkan melalui ritual ibadah. Jadi, ibadah yang kita jalani bukan hanya semacam ritual harian yang hanya berarti sebatas ritual semata. Ada semacam filosofi yang menyisip untuk dimengerti. Pernahkan Anda bertanya, mengapa orang sholat harus ada gerakan ruku', harus ada gerakan sujud, ada gerakan berdiri, dan ada gerakan duduk? Mengapa tidak berdiri saja, atau duduk saja, atau sujud saja? Tentu saja penjelasannya tidak hanya ' ya memang sudah begitu dicontohkannya'. Namun penjelasan yang lebih masuk akal adalah karena titik-titik dalam tubuh manusia yang harus dilenturkan dan harus direlaksasi tidak hanya ada di satu bagian tubuh saja. Saya yakin ada sesuatu yang tersembunyi mengenai keajaiban gerakan di balik ritual beribadah itu bagi kesehatan. Hanya saja saya belum tahu namanya.

Ibadah dan aktivitas kehidupan memang harus bersinergi. Alam jiwa, alam pikiran, dan alam jasmani harus bersinergi demi membentuk harmoni yang seimbang. Ketidakseimbangan salah satu darinya bukan tidak mungkin akan mengakibatkan penyakit yang tidak kita inginkan keberadaannya. Namun, ketika kita merasakan suatu ketiadaan harmoni antara tubuh dan jiwa, tidak ada salahnya kita mencoba untuk sejenak merenung, menjemput obat mujarab dari balik sajadah yang terhampar. Wudhu dan sholat bisa menjadi alternatif jalan keluar. Keluar dari hiruk pikuk kepenatan batin dan membebaskannya dengan menggapai kehidupan yang merdeka dalam suatu perayaan keheningan melalui meditasi islami. Selamat mengalami.


Gambar dipinjam dari sini.

Wednesday, December 02, 2009

Selamat Ulang Tahun

Akhirnya semua sampai ke detik ini. Perjalanan mampir minum yang kita lakukan telah menemukan ruang sempit untuk sebuah jeda. Menyadari sepenuh hati bahwa jalan yang dilalui tak selamanya mulus dan nyaman untuk dititi. Selalu saja ada belokan yang menawarkan sejumput kesenangan dan pengalaman.

Apakah ingatanmu masih terpatri bahwa pertama kali menginjak bumi, kau tak lain hanyalah makhluk fana tak berdaya. Segenap kasih dan rengkuhan cinta mengantarmu sampai di sini. Mengurai takdir yang selamanya tercatat dalam sebuah kitab keabadian.

Engkau tak pernah benar-benar sendiri sekalipun kesepian akrab dengan hembus nafasmu. Lilin merah yang menyala lembut tak segan menjadi sahabat, menyadarkanmu dari serangkaian bahak yang khilaf terlontarkan. Cahayanya menghangatkan selaksa selimut yang berjodoh dengan gigil. Mengingatkanmu bahwa hakikat kita makhluk segumpal daging hanyalah individu. Yang hanya tetap satu meski berada di sejumlah tentu.

Seperti hari ini, bertambahnya usia bukan berarti segalanya. Bahwa kau masih bagian dari renik tak berarti tak sepenuhnya kau sadari. Setiap belokan yang kau hampiri dari rangkaian lurus jalan kehidupan telah mengajarkanmu akan nikmatnya tersungkur dan manisnya sebuah kemenangan hidup. Membawamu mengalami bahwa tak selamanya dosa membuatmu merasa tersiksa. Atau membuatmu menyadari bahwa menciptakan pahala tak semudah mengumpatkan sabda.

Sampai detik ini, engkau belum lelah berlari. Engkau adalah makhluk yang komplit terdefinisi. Sekalipun pandai berkelit, pemahamanmu yang baik akan pentingnya sebuah momentum membawamu untuk menciptakan serangkaian perayaan dan segenap pesta. Meski hambar kian terasa, kekeraskepalaanmu untuk memahami semua menjemputmu ke dalam arus absurditas. Kebinasaan tanpa makna. Menyeretmu ke dalam lingkaran setan bahwa setiap waktu patut diberi penanda.

Pengetahuan yang kau anggap mewah menuntunmu dalam kesadaran bahwa beberapa hal memang tak patut untuk diketahui sekalipun penting untuk diimani. Engkau percaya bahwa sakralnya panjat doa pukul 00.00 akan menghadiahimu semacam kemudahan yang akan kau terima sampai dirimu sadar bahwa tak ada sesuatu yang benar-benar berubah sampai pukul 00.00 hadir kembali ... setahun lagi.

Engkau lelah-lelah berencana dan menciptakan serangkaian resolusi. Walau prediksimu tak pernah terikuti evaluasi, kau tetap setia merangkainya. Bahwa 'sadar' yang kau harap, tak selamanya bersinergi dengan ambisi. Kehadiranmu memang selalu menyisakan cerita yang layak diapresiasi. Apakah untuk dipuji atau dicaci. Bahwa kebersamaan yang kita jalin sampai detik ini telah melahirkan sejuta pengalaman dan kenangan yang kokoh terpatri sampai suatu saat moksa ditelan masa.

Aku mengajakmu ke sini. Menikmati setiap detik yang selalu terburu-buru berlari. Bahwa hari ini, segenap bumi tunduk di sini, menghikmati hari istimewa dengan taburan dan panjatan doa mantra. Kau saksikan aneka warna celupan manusia. Yang bernorma dan beragama, begitu juga yang bermuka dua. Semua hadir dan berkumpul di sini. Menyemarakkan hari yang tak benar-benar layak untuk dirayakan. Aku ingin mengabadikan detik ini untukmu dan (terutama) untukku sendiri. Karena detik ini, sekalipun tak banyak berarti, takkan sanggup kita hadirkan kembali.

Lilin merah yang menyala sedari tadi menghangatkan momen ini, berangsur-angsur mulai padam. Menyisakan asap hitam yang menghapus jernihnya hening. Teruslah berjanji membuat jalan ini makin berarti. Karena HIDUP yang kita lalui benar-benar layak untuk kita 'hidupi'. Karena angan yang hinggap dalam benak sangat mumpuni untuk diperjuangkan. Karena semangat yang hendak surut sudah haus untuk dinyalakan kembali. Melalui ingatan tentang hari ini. Hari penting bagi kita. Hari istimewa bagi seluruh dunia. Hari peringatan kedatangan kita ke alam fana. Mengikuti jejak-jejak Adam dan Hawa.

Selamat menikmati. Selamat menghikmati. Selamat mengalami.
'Selamat Ulang Tahun'
Untukku
Untukmu
Untuk kita

Cheers!!!


Gambar dipinjam dari sini dan dari sini.

Monday, October 19, 2009

Menerjemahkan HIDUP

Pekerjaan. Rutinitas. Kebosanan. Pernahkah Anda merasa terperangkap dalam sebuah situasi yang sama selama beberapa hari? Apakah Anda merasa nyaman dengan rutinitas yang selama ini Anda jalani? Apakah Anda pernah merasa pusing dengan kehidupan yang monoton berlaku dalam hidup layaknya sebuah pakem? Jika Anda merasakan hal demikian, yang perlu Anda lakukan hanya satu. DIAM. Mulailah mengevaluasi diri dan mengevaluasi hidup yang Anda jalani. Situasi yang demikian merupakn momen yang sangat tepat untuk melaksanakan sebuah langkah besar dalam diri yaitu merumuskan tujuan Anda berada di alam fana ini.

Mengapa hal itu harus dipertanyakan? Saya merasa perlu untuk membuat tulisan ini karena banyak orang, termasuk saya sendiri mungkin, tidak banyak tahu mengenai tujuannya menjalani kehidupan. Apakah penting? Tentu saja. Karena menurut saya, orang yang semakin cepat tahu dan paham mengenai arah dan tujuan hidupnya, akan lebih teratur dan tertata kehidupannya. Dan seperti yang saya katakan tadi bahwa mengapa hal-hal seperti ini perlu dibahas yaitu karena saya tergelitik dengan perkataan Socrates bahwa 'Hidup yang tidak pernah dipertanyakan, sesungguhnya adalah hidup yang tak pernah layak untuk diteruskan.'

Menyambung perkataan Socrates di atas, saya pribadi mengajak untuk diam sejenak, melemaskan otot-otot agar lebih rileks, mengendurkan pikiran-pikiran yang terlalu fokus untuk sejenak mengevaluasi diri dan belajar merumuskan sesuatu yang mungkin belum pernah terlintas dalam pemikiran Anda yaitu apakah tujuan Anda hidup di dunia? Apabila belum ada jawaban yang terlintas atau apabila pertanyaan tersebut terlalu berat untuk dijawab, Anda tidak perlu bersusah payah untuk menemukan jawabannya. Jawaban yang Anda cari sebenarnya sudah ada dalam diri Anda. Hanya dibutuhkan sedikit keheningan dan sebuah tamasya pribadi ke dalam diri Anda. Itulah saat di mana dialog dengan diri diperlukan demi sebuah pencapaian tujuan yang sebenarnya: penemuan jati diri.

Tulisan ini dibuat bukan untuk memusingkan Anda. Kalau merasa pusing atau malah bingung, Anda bisa berhenti sampai di sini. Saya akan tetap jalan terus. Ide awalnya adalah karena saya, yang belakangan menyadari bahwa hidup yang saya jalani sungguh-sungguh typical dan monoton. Segala rutinitas sepertinya berjalan begitu saja setiap hari hingga saya tanyakan apa sebenarnya esensi dari hidup yang saya jalani. Untuk apa hidup kalau tipe kehidupan yang sama sudah ada atau bahkan sudah banyak yang melakukannya. Jika Anda memilih tipe kehidupan yang sama dengan orang lain (maksudnya sama-sama rutin dan monotonnya sehingga tidak pernah memahami seninya orang hidup), Anda termasuk salah satu pecundang paling sukses di dunia karena setidaknya Anda masih punya rutinitas untuk dijalani. Jika Anda tahu tujuan hidup, Anda paham untuk apa hidup, Anda termasuk manusia yang merangkak menuju kebahagiaan hidup. Kebahagiaan batiniah.

Ketika saya sadari bahwa saya terjebak dalam rutinitas yang melenakan pemikiran, saya mencoba untuk mereka ulang dan membuat peta kehidupan, mencoba menemukan keping-keping jawaban atas keresahan-keresahan dalam pemikiran yang menjadi isu penting dalam hidup yang saya jalani. Sesuatu yang tidak mudah sebetulnya karena selain menuntut kesadaran akan keterbatasan diri, juga menuntut sebuah kebesaran hati untuk melepaskan segala sesuatu yang memang belum menjadi hak hidup kita.

Alam bawah sadar saya agak tersentil sebenarnya saat beberapa hari yang lalu menonton film The Rebound karya Bart Freundlich yang dibintangi oleh Catherine Zeta-Jones dan Justin Bartha. Film ringan sebenarnya. Tapi dari karakter yang diperankan oleh Justin Bartha yaitu sebagai karyawan di sebuah kedai kopi yang akhirnya menjadi pengasuh anak-anak, saya banyak belajar mengenai hidup. Saya menyenangi dunia yang penuh dengan nuansa anak-anak, dongeng-dongeng fantasi, kehangatan keluarga, dan terutama kebiasaan dongeng sebelum tidur.

Kehidupan yang ditampilkan sebenarnya juga merupakan jenis kehidupan yang sederhana. Mungkin karena secara emosional kehidupan tersebut sangat dekat dengan apa yang saya jalani atau pernah saya alami. Ada semacam kerinduan untuk menghadirkan kembali nuansa kehidupan serupa di dalam kehidupan saya yang secara sadar berusaha saya petakan untuk saya jalani di kemudian hari. Sebuah kehidupan di mana semuanya serba sederhana, hangat, dan penuh cinta. Sebuah lembaran hidup yang menuntut saya untuk secara sadar dan ikhlas memberi tanpa berharap untuk mendapatkan hal serupa kembali. Sebuah pilihan hidup yang menawarkan sebuah jawaban bahwa kemewahan tidak selamanya mampu menjadi berhala yang harus diagungkan dan dipuja. Sebuah kehidupan yang memberikan sebuah peran sebagai penabur kasih sayang dan perasaan damai yang mengayomi.

Mungkin inilah yang saya sebut sebagai proses menerjemahkan hidup. Mencoba menguraikan sesuatu yang typical dan monoton menjadi sebuah pemahaman akan sesuatu yang sangat esensial: menemukan hakikat kehidupan. Jika Anda masih bingung mencerna tulisan ini, versi ringkasnya adalah demikian, kemudahan kehidupan yang Anda jalani akan didapatkan jika Anda benar-benar tahu dan paham tentang tujuan Anda hidup di dunia. Cara mendefinisikan tujuan tersebut adalah dengan mengidentifikasi dan merumuskan segala sesuatu yang menjadi passion, menjadi keresahan-keresahan dalam pemikiran yang menuntut sebuah jawaban.

Jika Anda sudah benar-benar yakin dan paham tentang konsep tujuan hidup yang Anda petakan, jalani rumusan tersebut dengan sepenuh hati karena itulah rel kehidupan berikut paket konsekuensi yang sudah Anda pilih. Yakinlah bahwa orang yang hidup berdasarkan pilihan-pilihan yang secara sadar ia tentukan, lebih cepat merasa bahagia daripada mereka yang hidup mengalir saja. Kehidupan yang kita jalani ini sangat berharga dan sangat sederhana. Hanya dibutuhkan satu kode istimewa untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki yang kekal. Suara hati nurani.


Gambar diambil dari sini.

Tuesday, June 09, 2009

Kesejatian

Beberapa hari ini saya membaca ulang buku karangan Dewi ‘Dee’ Lestari yang berjudul Supernova: Akar. Buku tersebut memang menarik, tulisan dengan gaya bahasa yang ‘khas’ Dewi. Tapi dalam beberapa bagian, saya justru agak dipusingkan dengan ajaran agama Budha yang sepertinya seperti benang ruwet. Entah mungkin karena dari awal, bagi saya pribadi, agama yang paling rasional dan bisa diterima dengan akal sehat mulai dari Tuhannya sampai dengan utusannya adalah agama Islam, saya menganggap bahwa agama Budha justru memberikan belenggu bagi pemeluknya untuk menjalani kehidupan.

Dan konsep yang sulit saya terima saat ini adalah masalah Kesejatian. Sampai saat ini saya masih belum jelas benar apa inti atau makna dari kata tersebut. Dalam beberapa literatur yang sudah saya baca, hanya menjelaskan bahwa seseorang yang sudah menemukan kesejatian adalah manusia yang mampu melepaskan diri dari siklus kehidupan. Ia tidak lagi terperangkap dalam suatu perputaran roda kehidupan. Tapi bagaimana bisa?

Satu kosep yang sudah jelas tentang mengapa seseorang memeluk suatu agama tertentu adalah karena iman. Bukan karena ia mengalami. Susah sekali kalau kita harus mengalami baru akhirnya menjadi iman. Karena bagi saya, iman itulah yang akan membimbing kita ke arah pengalaman spiritual. Mengalami. Saya pecaya bahwa tuhan itu ada tanpa saya harus tahu bahwa tuhan itu ada. Maksudnya, dengan demikian bahwa keilahian Tuhan itu akan semakin jelas ketika kita menempatkannya dalam suatu dimensi yang jauh lebih tinggi dari kita, makhluknya. Dan saya kira, pikiran yang paling logis akan setuju apabila saya mengatakan bahwa Tuhan itu harus berbeda dengan makhluk ciptaanNya.

Kembali ke konsep yang di sebut kesejatian tadi, entah suatu saat nanti mungkin saya akan mengetahuinya. Mungkin kesejatian adalah suatu pengalaman batin yang didapatkan seseorang ketika dia berada pada posisi di mana Tuhan sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa Dia ada. Mungkin. Itu hanya definisi saya. Masih sangat hipotetif. Atau bisa jadi kesejatian adalah suatu keadaan di mana kita telah menemukan jati diri atau hakikat hidup sebagai seorang manusia setelah mengalami suatu pengalaman spiritual yang akhirnya mampu memberikan petunjuk atau semacam kompas yang menunjukkan arah hidup yang harus kita tempuh untuk mencapai apa yang menjadi obsesi diri kita yang paling dalam.

Sungguh aneh memang kalau membicarakan topik yang satu ini. Terlalu absurb. Seperti memasuki arena bayang-bayang. Abu-abu. Entah karena memang saya tidak mengimani ajaran tersebut maka saya tidak kunjung menemukan apa yang disebut Kesejatian menurut definisi mereka. Atau mungkin saya sudah mengalami apa yang disebut Kesejatian tadi tanpa saya harus berpusing ria mendefinisikannya atau malah repot-repot memberi nama. Karena satu hal yang saya tahu, bahwa ketika kita berhubungan dengan Tuhan, saya hanya bisa mengatakan bahwa Keindahan Tuhan tak terbahasakan oleh makhluk ciptaanNya. Itu saja.

Friday, February 27, 2009

Monolog

Pada suatu malam yang sunyi dan penuh keheningan, dunia seolah terasa khidmad menunduk, menghentikan rutinitasnya untuk berotasi. Sesosok tubuh yang tak terlapisi selembar pun benang, duduk dalam posisi lotus. Meditasi. Membuat pikiran seolah-olah kosong. Namun, berisi. Kesan paradoks yang melingkupinya seakan hirau terhadap mereka yang tak mengerti. Karena tujuannya hanya satu: melihat ke dalam diri.

Dalam ke-Diri-annya yang terbangun dengan sedikit sakralitas, lahirlah sebuah jiwa yang seakan terpisah namun melekat. Sebuah dualitas yang esa. Dan di situlah esensi laku ini: mencari kebenaran dalam dialog dengan diri. Jiwa yang melekat dengan tubuh berhadapan dengan jiwa yang terlepas dari tubuh.

Kau siapa?

Aku bagian dari dirimu. Bagian dirimu yang hanya akan kau temui dalam sebuah kesadaran meditatif.

Apa bedanya dengan diriku?

Tak ada, kita diciptakan sebagai sesuatu yang tunggal, yang satu melengkapi yang lain sebagaimana yang lain tak dapat hidup tanpa adanya yang satu.

Mengapa dirimu terpisah?

Hanya persepsimu saja yang mengatakan demikian. Rasionalitas kadangkala sangat menjebak. Ilusi seringkali mengekang sebuah absolutisme. Maka dari itu, mulailah untuk membebaskan pikiranmu.

Sebentar, kamu bilang tadi kau bagian dari diriku, sampai di sini aku masih asing tentang dirimu. Aku merasa kau seperti orang lain, dan penjelasanmu sedikit membuatku pusing.

Hahaha ... memang begitulah yang akan dilakukan setiap orang ketika mereka bertanya pada diri sendiri. Ketercengangan. Bingung. Merasa ruwet. Sungguh hal biasa dan sangat umum. Hal terakhir yang diketahui oleh seorang manusia adalah tentang diri mereka sendiri.

Mengapa? Tolong, jangan membuatku merasa lebih bodoh?

Karena manusia jarang sekali yang melihat ke dalam Diri. Untuk sejenak merenung dan melakukan koreksi atas diri. yang sering kau lakukan adalah mengoreksi orang lain, seakan dirimu adalah sosok sempurna dalam dunia yang penuh ilusi ini.

Jiwa yang melekat pada diri terdiam. Walaupun kesadarannya menerima penjelasan jiwa yang bebas, sejuta pertanyaan masih menggantung di mulutnya.

OK. Sekarang aku akan menanyakan satu hal. Apa yang harus aku lakukan?

Diam. Hening. Mengamati. Mendengarkan. Menilai dalam hati tanpa harus menghakimi. Pernahkah kamu berpikir, mengapa raga yang kau tempati mempunyai sepasang mata dan telinga serta hanya punya satu mulut. Karena hal itu mengisyaratkan bahwa yang perlu kau lakukan dalam hidup adalah banyak melihat dan banyak-banyak mendengarkan. Tak perlulah kau bersuara kalau memang tak benar-benar dibutuhkan.

Mengapa? Bukannya segala sesuatu akan lebih jelas jika kita angkat bicara?

Bisa ya, bisa tidak. Ketika jiwa kita terkuasai oleh otoritas mulut dan lidah, segala sesuatu bisa membuncah tanpa kendali yang kuat. Tak bisa dipungkiri, pengalaman membuktikan bahwa lidah kadangkala lebih tajam dari mata pisau. Iblis dan para setan itu, hidup merdeka bergelantungan di sana. Berhati-hatilah.

Ah, mulai sok tau dirimu itu.

Aku tidak memintamu untuk memercayai segala ocehanku. Segalanya kembali padamu. Hidup ini penuh teka-teki. Hanya pilihan-pilihanmulah yang membuatnya layak untuk dijalani. Kau boleh memilih kehidupan dalam alam materialis yang penuh ilusi dan bujukan hawa nafsu. Atau kau boleh juga menjalani hidup dalam konteks kekayaan batin dalam wadah kebahagiaan yang kekal.

Apa itu kekayaan batin dalam wadah kebahagiaan yang kekal? Setahuku tak ada kekekalan di dunia fana ini. Roda kehidupan selalu berputar. Bagaimana kau bisa menjelaskan kebahagiaan itu kekal?

Jiwa yang bebas tersenyum mendengarnya. Lalu diam sejenak. Tak lama kemudian ...

Kebahagiaan yang kekal dibangun dengan pondasi yang baik. Keikhlasan yang menjadi ruh penggeraknya. Takkan pernah lahir suatu kebahagiaan sejati tanpa diliputi keikhlasan yang utuh. Keluh kesah hanya akan meninggalkan kegundahan, kebencian, dan balas dendam. Tak perlu ada kalkulasi dalam dunia keikhlasan. Ini memang bukan hal mudah untuk dijalankan.

Bagaimana melakukannya?

Dengan berlatih.

Caranya?

Tetapkan niat dan buatlah komitmen. tak ada keduanya sama saja dengan pepesan kosong.

Lalu?

Kuasai perutmu.

Apa? Perut? Maksudmu?

Ya. Perut. Tempat bersemayamnya nafsu. Akar segala kejahatan dan kerusakan adalah tak terurusnya nafsu dengan baik. Buatlah makhluk dalam perutmu menjadi jinak dan tak punya kuasa atas jiwamu. Ini akan menjadi sebuah peperangan yang maha dahsyat saat jiwamu melawan nafsumu. Di sinilah kebijaksanaan dirimu akan menjalani ujian.

Stop sebentar. Yang perlu kau tau, aku benci dengan peperangan. Tak adakah cara yang dapat menegekang hawa nafsu tanpa harus berkonfrontasi?

Ada. Selalu ada jalan dalam mengekang hawa nafsu. Puasa.

Hah, apa? Puasa? Aku takkan menyiksa diriku sendiri hanya untuk berdamai dengan sang Nafsu.

Puasa bukan sebuah bentuk penyiksaan diri. Ragamu masih boleh mencecap dan bercengkerama dengan sang Nafsu. Yang kau perlukan hanyalah sebuah pengaturan. Sebuah tatanan yanag memberikan barikade yang jelas di mana nafsu tidak lagi bebas melancarkan aksinya.

Terjadi keheningan sesaat. Jiwa yang melekat pada diri mencoba mencerna penjelasan tersebut.

Kau berkata seolah tak pernah berurusan dengan nafsu.

Siapa bilang aku tak pernah berurusan dengan nafsu. dalam setiap detik yang menggerus waktuku selama hidup, nafsu senantiasa melekat dengan ke-Diri-anku. Hanya saja, tak pernah kuijinkan selamanya jiwaku didaulat menjadi budaknya.

Tapi, mana bisa? Kekuatan nafsu kan kekuatan yang membius? Halusinasi absurb yang membuat orang lalai tanpa merasa lalai.

Pertanyaannya, yang berbicara tadi jasadmu atau jiwamu. Yang menggerakkan pikiranmu itu logikamu, hatimu, atau nafsumu? Berikan batasan yang jelas. Kalau dirimu tahu dengan jelas jawabannya--karena memang harus dirimu sendiri yang menemukan jawabannya--tak akan pernah ada ceritanya, nafsu menguasai jiwamu.

Jiwa yang melekat pada tubuh mulai kacau pikirannya. Mencerna penjelasan dari jiwa yang bebas memang diperlukan sebuah totalitas berpikir dan kejernihan hati. Tak boleh diartikan secara parsial. Dalam keadaan chaos tersebut, dualitas kembali dalam esa. Menyatu. Satu. Memang, seperti dijelaskan oleh para pakar, meditasi bukanlah merupakan sarana mengurangi masalah. dalam beberapa kasus, mediatsi justru menambah masalah.

Saat jiwa dan raga terjalin erat, tak dibutuhkan lagi tali untuk membuatnya menyatu. Pagi telah menjelang. Hidup pun akan dimulai kembali. Tubuh yang termeditasi serentak bangun. Memulai hari dengan serangkaian peperangan yang berkecamuk dalam diri.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...