Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Friday, September 30, 2011

Arisan dan Reuni

Salah satu film favorit saya ;-
Film Arisan karya Nia diNata merupakan salah satu film Indonesia favorit saya. Film ini selain jalan ceritanya menarik juga membuka 'mata' saya akan gaya hidup dan cara bersosialisasi yang 'lain' di semesta bernama Jakarta. Saat masih tinggal di daerah, arisan yang saya kenal adalah arisan-arisan yang biasa diikuti oleh ibu saya. Memang sih, walaupun jenisnya juga macam-macam tapi tak semewah arisan yang populer di kalangan orang kaya ibukota tersebut.

Yang saya tahu sih ada arisan panci, arisan Pon, arisan PKK, arisan Dharma Wanita, dan arisan motor. Dinamakan arisan panci karena pesertanya berharap untuk mendapatkan barang-barang keperluan rumah tangga seperti panci, rantang, wajan, dan lain-lain dari arisan tersebut. Arisan Pon dilakukan mengikuti kesepakatan hari bayarnya bersamaan dengan hari pasaran. Arisan PKK dikenal karena ibu saya eksis menggalang keterampilan ibu-ibu di kelurahan. Ibu saya (terpaksa) ikut arisan Dharma Wanita karena beliau seorang guru (baca: pegawai negeri). Kalau arisan motor saya tahu dari para tetangga yang (tiba-tiba) kaya dan (mendadak) punya motor gara-gara ikut arisan, padahal tidak punya sawah.

Tak pernah sebelumnya saya mengenal jenis arisan seperti arisan cantik, arisan kolektor jam, arisan pecinta kucing, arisan kolektor tas, arisan tujuh belas, arisan dua empat, arisan tiga empat, dan arisan perhiasan 'bling-bling'. Belakangan saya baru tahu ada juga yang namanya arisan 'cowok'. Gak usah dibahas ah. Tak seperti di desa yang pesertanya cuek bebek soal penampilan, arisan di ibukota terbilang 'wah di mana pesertanya punya kostum khusus sesuai dengan tema yang ditetapkan.

Intinya, arisan merupakan media ibu-ibu untuk bersosialisasi dan sejenak melupakan kesibukan rumah tangga. Eh, begitu saya di Jakarta, baru tahu kalau arisan ternyata juga diikuti oleh bapak-bapak. Kalau bukan karena terkait kerjaan, sebenarnya saya males ikut arisan. Selain ajang untuk bersosialisasi, arisan digunakan untuk bertukar informasi, berbagi pengalaman, dan tak lupa, pamer sesuatu. Ini yang bikin males.

Saya jadi ingat dengan acara reuni-reuni yang saya ikuti di Jakarta. Walaupun gak ada arisannya, suasananya mirip sekali dengan suasana arisan. Kumpul-kumpul, makan-makan, foto sana-sini, gosipin ini-itu, dan pamer ini-itu. Kadang males juga mau ikutan. Paling malesnya justru bukan pada bagian bertemu dengan teman lama atau klien-klien baru. Tapi lebih pada capeknya menuju dan pulang dari lokasi diadakannya reuni. Selain itu, saya juga males kalau ada pesertanya yang suka pamer kekayaan baik itu hasil dari uang panas maupun dikumpulkan dari 'uang dingin'.


Kadang saya jadi kepikiran untuk mengadakan arisan turis saat reuni atau ngumpul dengan teman di mana pesertanya adalah orang-orang yang suka jalan-jalan dan kalau narik, uangnya harus digunakan untuk jalan-jalan ke suatu tempat. Pulangnya, peserta tersebut harus membuat laporan atau menulis catatan perjalanannya sebagai oleh-oleh dan bekal untuk berbagi informasi di acara arisan atau reuni berikutnya. Biar ngobrolnya gak melulu pamer kekayaaan, tapi pamer foto (narsis) dan segepok pengalaman berharga selama jalan-jalan.

Jadi, modelnya seperta nabung dulu, terus begitu narik langsung bisa dipakai untuk modal jalan-jalan. Sebenarnya arisan model begini sudah diterapkan oleh pengelola-pengelola 'arisan' untuk memberangkatkan peserta umroh dan naik haji. Pesertanya kan sebenarnya diharuskan untuk melakukan perjalanan jauh dengan biaya yang tidak murah. Makanya pakai arisan dulu untuk ngumpulin duitnya. Bisa dicontoh tuh untuk para backpacker, yang mau jalan baik ala gembel atau dengan gaya juragan.

Yang menyenangkan dari acara arisan plus reuni adalah ngumpul-ngumpulnya. Makan bareng, cerita-cerita lucu, ngomongin orang yang dianggap nyebelin, tukar informasi tentang banyak hal seperti siapa sekarang gandengan si Anu, tempat makan yang enak dan murah, sale barang-barang lucu, dan pertanyaan menyebalkan tentang kapan mau menikah. Di acara arisan atau reuni biasanya juga ada yang jualan barang-barang dan makanan. Mereka bawa sampel barang untuk ditunjukkan ke peserta lain dengan embel-embel 'harga promosi' khusus teman. Eng ing eng. 

Biasanya saya sih menyempatkan diri untuk datang di acara-acara tersebut. Tidak dipungkiri, saya memang butuh bersosialisasi. Kalau pesertanya saya rasa happening dan punya pace yang sama dengan saya, wih pantang untuk dilewatkan. Tapi, akhir-akhir ini saya agak selektif menerima undangan bersosialisasi walaupun dengan embel-embel arisan, reuni, kumpul-kumpul, temu kangen, atau apalah itu. Apalagi kalau yang ngundang adalah teman lama yang udah jarang ketemu, klien lama yang tiba-tiba pengen kerjasama lagi, atau sahabat yang mendadak menggebu-gebu kangen pengen ketemu.

Memang sih, awalnya acaranya ngobrol-ngobrol tentang pengalaman dan 'kangen-kangenan'. Ngajak makan dan memuji keberhasilan pencapaian. Mendengarkan dengan sabar obrolan kita yang paling tidak penting sekalipun. Tapi setelah agak bosan ngobrol, mulailah inti dari undangan tersebut terkuak: nawarin MLM. Ih males. ;-P   

Thursday, June 09, 2011

Women Travel Writers

Travel books from female traveler
Memperingati Hari Kartini seperti hari ini sepertinya sudah terlalu klise jika membahas mengenai emansipasi perempuan ditinjau dari kisah bagaimana seorang Kartini memperjuangkan hak-hak kaum hawa. Pun juga sudah sangat biasa jika saya membahas mengenai bagaimana di setiap tempat Hari Kartini diperingati sebagai hari berkebaya yang menurut saya justru dipertanyakan mengapa Kartini selalu diidentikkan dengan kebaya. Sepertinya, menjadi 'perempuan' Indonesia yang modern dan berpikiran maju seolah terdistorsi dengan keharusan untuk selalu berpenampilan ala Kartini di masa lalu.

Karena senang dengan dunia kreatif tulis-menulis, mau tak mau saya selalu 'terusik' dengan fenomena munculnya penulis-penulis perempuan dalam ranah sastra Indonesia pada dasawarsa terakhir. Dalam karya-karya mereka terdapat semacam pendobrakan terhadap kelaziman yang terjadi dalam masyarakat. Kelaziman ini bisa berarti memang 'benar' adanya, atau juga suatu hal itu memang 'salah' namun didiamkan dalam jangka waktu yang lama sehingga dianggap menjadi benar. Hal-hal yang dulunya dianggap tabu dan 'putih' mulai juga dipertanyakan eksistensinya melalui pertanyaan-pertanyaan filosofis yang tak jarang menuntut para pembaca untuk juga ikut andil mempertanyakan fenomena kehidupan tersebut.

Di lain pihak, dunia perbukuan di Indonesia saat ini juga diwarnai dengan semaraknya penerbitan buku-buku traveling. Jalan-jalan atau tamasya sepertinya sudah mulai menjadi sebuah gaya hidup bagi sebagaian orang di dunia, termasuk juga di Indonesia. Ketika saya bertandang ke toko buku dan berada di rak buku-buku traveling, saya juga mendapati fenomena bahwa kebanyakan dari buku-buku traveling tersebut ditulis oleh perempuan. Apakah ini juga membuktikan bahwa jumlah traveler perempuan lebih banyak daripada traveler laki-laki?

Saya pikir tidak juga. Pernah dalam suatu kesempatan, saat saya mengikuti workshop penulisan kisah perjalanan, ada seorang panelis perempuan yang berkata bahwa 'mengapa banyak sekali traveler perempuan daripada traveler laki-laki adalah hanya karena perempuan lebih 'tidak punya tanggungan' daripada laki-laki. Idealnya kalau laki-laki (yang kelak menjadi suami atau kepala rumah tangga) lebih punya tanggung jawab untuk menghidupi perempuan (yang menjadi istrinya). Sehingga laki-laki (sepertinya) harus punya persiapan yang lebih baik, persediaan tabungan yang lebih banyak, dan kemampuan 'menanggung' yang lebih baik daripada seorang perempuan. Seorang laki-laki punya 'beban' yang sedikit lebih berat jika dibanding perempuan, sehingga urusan traveling atau liburan menjadi urusan ke sekian dan bukan menjadi prioritas atau gaya hidup.

Sebenarnya pandangan ini saya juga kurang setuju. Jumlah traveler laki-laki banyak juga. Cuma, menurut saya, jumlah laki-laki (traveler) yang rajin menulis kisah perjalanannya itu yang jumlahnya (mungkin) lebih sedikit daripada traveler perempuan sehingga kesannya banyak sekali traveler perempuan atau malah acara jalan-jalan didominasi oleh kaum hawa. Tengok saja rak buku-buku travel yang ada di toko-toko buku. Hampir 80% didominasi oleh penulis (traveler) perempuan. Sepertinya, mereka lebih telaten untuk menghitung, mempersiapkan dengan matang, dan menceritakan detail-detail suatu kejadian atau peristiwa yang dialami selama traveling. Mereka menulis dengan rinci tentang akomodasi, baik tiket bus, pesawat, kereta api, hotel hostel, tarif karcis masuk museum, yang jelas sangat jarang bagi seorang laki-laki untuk mengurusinya. 

Melihat fenomena tersebut saya juga iri sekaligus bangga. Bahwa banyak sekali penulis-penulis itu begitu kreatifnya merekam jejak petualangan mereka dalam kisah yang menghibur dan bahkan menginspirasi. Saya juga jadi ngiri karena beberapa dari mereka juga produktif sekali dalam berkarya, memiliki kemampuan analisis bercerita di atas rata-rata, dan berani mengambil resiko dengan menjelajah negeri 'antah-berantah' sendirian. Rasa-rasanya, saya lebih melihat rekam jejak Kartini dari orang-orang yang merasa nyaman dan OK untuk menikmati dan mensyukuri hakikat keperempuanannya sehingga tidak perlu harus menunjukkan identitas dengan atribut-atribut seperti kebaya, memasak, dan 'urusan perempuan' yang lain yang justru menunjukkan kepalsuan yang fana.

Friday, April 15, 2011

Agama, Keterbukaan, dan Ketenangan Hidup

Saat berada di gerbong kereta Bima di Stasiun Gambir, Jakarta, mata saya tak beralih melihat kemegahan Gereja Immanuel yang berdiri gagah di seberang stasiun. Pun, ketika berada di Semarang, saya juga terpesona dengan Gereja Blenduk yang terdapat di Kompleks Kota Tua Semarang. Pikiran saya melayang ke deskripsi dari Pramoedya Ananta Toer melalui tetralogi Pulau Buru-nya yang mendunia. Saya membayangkan, seperti apa jemaat gereja itu, dulu. Sereligius itukah bangsa Belanda?

Kalau dilihat dari sejarah, selama berabad-abad sebenarnya kepercayaan yang dianut bangsa Eropa adalah pra-Kristen. Islam juga jadi bagian dari peradaban Eropa dari abad 8 sampai dengan 15. Sementara agama Kristen baru masuk Eropa pada abad 12, saat kekaisaran Turki Ottoman mengalami kehancuran. Hal itu diimbangi dengan adanya penjagaan perlindungan bangunan gereja sebagai bagian dari warisan budaya dan penghancuran masjid karena tak satupun yang dijadikan situs warisan budaya. Terbukti, dengan banyaknya bangunan berarsitektur Eropa yang bernafaskan nuansa Kristen yang kental. Namun demikian, bagaimanakah Belanda dewasa ini?


Kebanyakan warga Belanda ternyata adalah atheis, kedua terbanyak adalah Kristen, selanjutnya Islam, dan Budha. Betapa uniknya keanekaragaman tersebut. Dan betapa tenangnya menjalani kehidupan pribadi sebagai individu baik dalam kaitannya sebagai makhluk pribadi maupun sebagai makhluk Tuhan (atau bahkan tak berTuhan). Hal itu karena pemerintah Belanda menjunjung tinggi kebebasan hak asasi warganya dalam menjalani kehidupan sesuai dengan keadaan 'ideal' yang ingin dirasakan oleh setiap individu.

Masyarakat pun terbuka menerima segala perbedaan yang ada dan menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah adanya. Pun hal itu ditunjukkannya dengan mengakui keberadaan orang-orang yang dianggap 'berbeda' di negara lain. Tak heran Belanda dianggap sebagai sebuah surga bagi orang yang mempunyai pikiran terbuka dan konsep hidup yang ekstrimnya 'radikal' di negara lain.

Kelompok masyarakat yang mempunyai orientasi seksual berbeda (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) bisa hidup nyaman berdampingan dengan mereka yang 'normal'. Bahkan Belanda dianggap 'berkhianat' bagi 'negara beragama' karena melegalkan perkawinan sejenis. Kalau saya pikir, adanya Sex Museum, Homomonument, Red Light District, pelegalan konsumsi ganja di coffee shop, gerakan Dolle Mina yang menuntut pil KB sebagai salah satu paket asuransi kesehatan adalah bukti dari pewadahan ekspresi kebutuhan warga masyarakat yang disediakan dan dilindungi pemerintah. Sekularisasi masyarakat tersebut timbul dari pemikiran bahwa setiap individu bertanggung jawab terhadap individu itu sendiri, menghargai perbedaan orang lain tanpa suatu penghakiman (bahkan pemaksaan) atas keyakinan tentang konsep hidup yang diyakini paling benar dan nyaman untuk dijalani individu masing-masing.

Pendidikan yang merata juga mendorong pemikiran terbuka tentang konsep pornografi, bahwa tidak semua yang berhubungan dengan ketelanjangan dan seksualitas itu porno. Dalam suatu kesempatan Riri Riza, sutradara kenamaan Indonesia pernah berkata kalau dirinya senang ikut festival film di luar negeri (terutama Rotterdam International Film Festival) karena di situlah karya filmnya utuh tanpa sensor tak beralasan, apalagi bermuatan politis.

Keterbukaan Belanda menawarkan liberalisasi kehidupan yang bertanggung jawab inilah justru yang unik. Di mana, agama di tempatkan sebagai sebuah pilihan dan individu diberi kebebasan memeluk (atau tidak memeluk) serta melindungi secara penuh pilihan tersebut. Mingkin, jenis kehidupan seperti inilah yang dapat menciptakan ketenangan hidup di setiap hati warganya sehingga selalu optimis menjalani kehidupan.

NB: artikel ini diikutkan dalam Kompetiblog Studi di Belanda 2011 yang diadakan oleh Neso Indonesia.

Friday, March 11, 2011

Merasakan Kenyamanan Belanda dari Batavia

Membaca beberapa berita tentang hasil survey lembaga internasional bahwa Belanda (selalu) masuk dalam sepuluh besar sebagai negara paling nyaman untuk ditinggali membuat saya bertanya benarkah demikian adanya? Karena belum pernah menginjakkan kaki di negara tanah rendah tersebut, saya mencoba mengidentifikasikannya melalui jejak Belanda yang ditinggalkan di Batavia (nama Jakarta tempo dulu).

Tak dapat dipungkiri, penjelajahan samudera yang mengantarkan pada berdirinya misi gereja di berbagai belahan dunia, pada akhirnya mendorong Belanda untuk melakukan kolonialisasi sehingga memberi modal besar untuk membangun dan memajukan bangsanya. Belajar dari keadaan negerinya, Belanda selalu berusaha menciptakan 'kenyamanan' di tempat yang akan ditinggali. Konon, Batavia merupakan 'kelinci percobaan' untuk model pembangunan kota New York.

Kalau kita lihat, secara umum konsepnya hampir sama. Pusat pemerintahan yang terletak di Kota Tua Jakarta mengingatkan saya pada Dam Square di mana terdapat lapangan luas yang dikelilingi oleh gedung-gedung sebagai pusat pemerintahan yang memudahkan dalam pengorganisasian segala hal. Bangunan-bangunannya pun berarsitektur dengan nuansa Eropa yang bisa dikenali bergaya Art Deco, Art Nouveau, dan Gothic yang kental dengan agama Kristen Eropa. Konon, gaya arsitektur dan ornamen dari gedung-gedung tersebut dipengaruhi oleh isi dari Al-Kitab. Hal ini menunjukkan bahwa agama dapat mendorong terwujudnya suatu peradaban pada semua kegiatan yang bersifat 'dunia' dilakukan untuk mencapai kedamaian hidup dengan bersinergi pada bagian ritual keagamaan.

Batavia sebagai kota yang bertanah rendah juga kerap diterjang banjir. Tinggal di kota yang keadaannya hampir sama dengan negerinya, membuat Belanda berpikir untuk menanggulangi permasalahan tersebut dengan mengelola sistem tata air melalui pengaturan debit air dan mengalirkannya melalui resapan serta kanal-kanal yang terintegrasi dengan volume debit air dari daerah hulu.

Saya jadi ingat quote yang mengatakan bahwa necessity is the mother of invention. Belanda yang serba 'kekurangan' mendorongnya untuk berpikir keras menciptakan 'dunia' yang nyaman bagi dirinya. Proyek besarnya membangun dam raksasa disertai storm barrier (pelindung badai) di seantero Belanda yang dinamakan Delta Works dan Zuiderzee Works membuatnya terhindar dari ancaman banjir melalui suatu sistem yang menjaga keseimbangan antara badai yang menerpa dengan ketinggian air laut.

Tentu, untuk menciptakan inovasi dan 'keajaiban' tersebut diperlukan usaha keras yang berkesinambungan. Pemerintah Belanda melalui universitas-universitasnya membiayai riset dan program pengembangan ilmu pengetahuan selain untuk mencari solusi atas kebutuhan negerinya, juga menjawab tantangan untuk membuat negerinya bertahan dari perkembangan zaman. Pemerataan dan kemudahan akses pendidikan mendorong terciptannya masyarakat yang terdidik dan terpelajar sehingga bisa kritis dan teratur demi mendukung program pemerintah dalam mewujudkan konsep kesejahteraan hidup yang merata.

Selain itu, saat berada di Rumah Sakit Cikini, Jakarta Pusat, saya juga merasakan 'kesenyapan' suatu bangunan rumah sakit yang ternyata masih mengadopsi sebuah pelayanan kesehatan dari zaman Belanda dengan sistem pengasuhan, artinya menerima pasien dari semua kalangan masyarakat dengan sistem subsidi silang. Di Belanda sendiri, berdasarkan informasi yang saya peroleh dari teman yang sedang studi di sana, pelayanan kesehatan pun sudah dikonsep terbuka untuk semua kalangan dari berbagai macam latar belakang termasuk penghilangan diskriminasi dalam hal keyakinan yang dianut pasien.

Melihat kenyataan tersebut, 'kenyamanan hidup' di Belanda itu memang sengaja diciptakan, bukan hanya karena sebuah keinginan, tapi lebih kepada memaksimalkan anugerah HIDUP dari Tuhan.

NB: artikel ini diikutkan dalam Kompetiblog Studi di Belanda 2011 yang diadakan oleh Neso Indonesia.

Sunday, February 14, 2010

Buku, Pesta, dan Cinta ... bersama Soe Hok Gie, Sekali Lagi


Hari ini di
peringati sebagai Hari Kasih Sayang. Sebagian warga di seluruh penjuru dunia menghikmatinya dengan merayakan hari istimewa ini bersama pasangannya, lengkap dengan kado seikat mawar merah atau sebatang cokelat. Ekspresi kasih sayang dapat berupa apa saja dan dapat ditujukan kepada siapa saja. Termasuk kepada tanah air tercinta.

Menghindari acara hiruk pikuk euforia perayaan Hari Valentine di ibukota Jakarta, saya justru belajar mengenai hangatnya sebuah ekspresi cinta kasih melalui sebuah buku. Memang bukan melulu cinta kasih antar insan yang berusaha ditekankan dalam buku ini, melainkan cinta kasih seorang manusia kepada bangsa dan negara tercinta yaitu Indonesia.

Manusia itu bernama Soe Hok Gie, pemuda keturunan Tionghoa yang lahir pada tanggal 16 Desember 1942 di Jakarta yang kemudian dikenal sebagai seorang aktivis mahasiswa. Ia digambarkan sebagai sosok idealis dan berani menentang segala ketidakbenaran, kesewenang-wenangan sikap penguasa dan menyerukan tentang nilai luhur sebuah penghargaan atas nilai-nilai kemanusiaan dan indahnya kejujuran.

Buku yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia, bekerjasama dengan Universitas Indonesia, ILUNI Universitas Indonesia, dan Kompas, serta mendapat dukungan dari berbagai pihak ini, bertujuan untuk menghadirkan kembali sosok Gie yang pernah ada di era tahun 1960-an yang berani melawan tindakan yang dianggap menyengsarakan rakyat, buah dari tingkah polah pemerintah. Keinginan untuk menghadirkan lagi sosok Gie tersebut dilandasi pemikiran bahwa kondisi sosial politik pada saat ini tidak jauh berbeda dengan keadaan di tahun 1960-an. Banyak kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro-rakyat, aparat penegak hukum yang mempermalukan kredibilitasnya, anggota parlemen yang sibuk dengan urusan partai dan kepentingan pribadinya, lupa bahwa mereka duduk di sana dititipi suatu amanah untuk menyalurkan aspirasi rakyat.


Kuali Kenangan tentang Soe Hok Gie

Sebagai sebuah cerita kenangan tentang seseorang dan suatu peristiwa yang terjadi di masa lampau, buku setebal 512 halaman ini dibagi menjadi menjadi lima bagian yang tersusun berdasarkan kedekatan dari kontributor penulis dengan sosok Soe Hok Gie yang menjadi sentral pembahasan baik mengenai kehidupan pribadinya maupun sikap dan pandangannya terhadap suatu permasalahan.

Bagian pertama berisi kenangan Rudy Badil tentang sepak terjangnya bersama teman-teman seperjuangannya yang akan 'keluyuran' menaklukkan gunung Semeru termasuk Soe Hok Gie. Di bagian ini diceritakan tentang lika-liku perjalanan rombongan tersebut mulai dari Jakarta yang naik kereta gerbong barang menuju Surabaya hingga kesulitan-kesulitan yang ditemui saat mendaki Gunung Semeru hingga akhirnya diketahui bahwa Soe Hok Gie dan Idhan Lubis (anggota pendaki yang lain) meninggal di puncak Semeru akibat menghirup gas beracun. Cerita berlanjut tentang proses evakuasi jenasah dari Puncak Semeru yang melibatkan banyak pihak dan mengandung banyak cerita haru dan decak kagum dengan perhatian masyarakat terhadap almarhum Soe Hok Gie.

Bagian kedua berisi tentang Soe Hok Gie dalam kaitannya dengan Gunung Semeru. Di bagian ini diceritakan tentang prosesi pemakaman jenazah Soe Hok Gie setelah berhasil dievakuasi dari Gung Semeru. Selain itu dijelaskan tentang keadaan geografis Gunung Semeru dalam kaitannya untuk menggali ingatan-ingatan tentang Soe Hok Gie saat napak tilas lagi rute pendakian.

Bagian ketiga agak lebih menarik. Di sini banyak kejutan-kejutan yang akhirnya membuka tabir tokoh-tokoh yang namanya disamarkan karena alasan privasi dalam buku Catatan Seorang Demonstran (CSD)-nya daniel Dhakidae. Sebut saja Nurmala Kartini Pandjaitanatau lebih dikenal dengan Kartini Sjahrir dan panggilan akrab Ker. Namanya disamrkan menjadi Sunarti. Di buku ini beliau ingin semuanya menjadi jelas, termasuk kedekatannya dengan Gie. "Siapa yang ganti nama gue jadi Sunarti di buku itu? Gue pernah berteman dengan Gie sejak 1968, karena kita kan pernah jadi mahasiswa Gie tahun 1969" (hal. 147).
Selain hobi membaca buku, Gie juga menyukai film. Selain rajin memutar film di kampusnya, Fakultas Sastra UI Rawamangun (sekarang Universitas Negeri Jakarta). Gie juga sering ke bioskop atau menyatroni kedutaan-kedutaan asing seperti kedutaan Ceko, Rumania, dan Perancis untuk menonton film. (hal. 173).

Bagian keempat berisi tulisan dari 'the angry young man', orang-orang yang tidak secara langsung mengenal Soe Hok Gie karena hidup dalam masa yang berbeda, namun mengagumi kisah hidup dan terinspirasi oleh buah pemikirannya sehingga dapat menggerakkan mereka untuk bertindak dan mengambil peran dalam masyarakat. Yang masuk kategori kontributor penulis ini antara lain ada Riri Riza, sutradara yang pernah mengangkat kisah hidup Soe Hok Gie je layar lebar (hal. 267). Aktor Nicholas Saputra juga turut menyumbangkan tulisan. Tulisannya di sini patut diperhitungkan baik dari segi maupun diksi yang dipilihnya (hal. 277). Selain itu ada Mira Lesmana (hal. 283), N. Riantiarno (hal. 289), dan lain-lain yang isinya antara lain tentang pandangan betapa buah pikiran Soe Hok Gie mampu memberikan inspirasi untuk bergerak menentang segala ketidakadilan.

Bagian kelima adalah tulisan-tulisan Soe Hok Gie yang pernah dimuat di surat kabar era 1960-an. Tulisan-tulisan ini walaupun isinya masih relevan dengan keadaan sekarang, namun sudah tidak terlalu 'berbahaya' saat dipublikasikan sekarang. Namun, ketika kita bicara pada konteks di zaman tulisan tersebut dipublikasikan di media masa, kita akan paham betapa beraninya dan betapa 'gila'-nya Soe Hok Gie dalam menentang segala bentuk ketidakadilan yang melecehkan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Soe Hok Gie ... (bukan) Dewa.

Dalam buku ini Soe Hok Gie menjadi tokoh sentral dalam pembahasannya. Ia dikenang sebagai pribadi yang idealis dan berani menentang ketidakadilan. Dan sepertinya, hal itu telah menjadi pilihan dalam hidupnya. "Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan harus menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya. Kadang, saya takut apa jadinya saya kalau saya patah-patah ..." (hal. xiii).

Pilihan untuk menjadi idealis tak jarang mendorongnya untuk melakukan penentangan. Hal-hal yang berlaku tidak wajar dan mengandung sesuatu yang menyalahi nilai-nilai kebenaran dan kejujuran menjadi sasaran empuknya untuk melakukan aksi protes. Dan sepertinya sikap seperti ini sudah mulai sejak kecil. Soe Hok Gie pernah memprotes gurunya karena suatu materi yang diajarkan menurutnya tidak benar. Karena didebat, guru tersebut naik pitam dengan buntut diturunkannya nilai Soe Hok Gie dalam mata pelajaran tersebut. Dalam catatan hariannya, Soe Hok Gie menulis: "Guru model begituan, yang tidak tahan dikritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau." (hal. 99).

Sama seperti pendapatnya bahwa guru bukan dewa, Soe Hok Gie pun juga bukan manusia sempurna. Segala bentuk diskripsi dalam buku ini yang mengatakan bahwa Soe Hok Gie merupakan pemuda yang luar biasa, luar biasa dalam segala hal, cerdas, brilian, jujur dan terbuka, seorang idealis murni dengan perasaan keadilan yang tajam, bukan bermaksud untuk mengkultusindividukan, tidak juga memaksakan, melainkan menawarkan nilai-nilai keteladanan, terutama integritas dan kebersihan hati.

Sisi lain Soe Hok Gie selain menyukai buku, debat serius tentang politik, adalah betah nongkrong di asrama mahasiswa, 'ngomong jorok', dan nonton blue film yang tak berjudul (hal. 301). Itu sangat manusiawi. Dalam ketegasan dan kekonsistenannya, Soe Hok Gie juga menyimpan kegalauan dalam hati akibat protes-protes yang dilakukannya dan penentangan orang lain terhadap protes itu. Orang jadi menganggapnya 'lain'. Namun, Soe Hok Gie tetap jalan terus, menuntun keidealisannya sampai sejauh-jauhnya.
"Saya berpikir-pikir, mengapa saya harus selalu menjadi orang baik. Sometimes I just want to be myself. Saya tak mau peduli dengan basa-basi. Saya pikir sekali-kali, orang juga harus mengerti perasaan saya. Mengapa harus selalu saya?" (hal. 182).

Kegalauan-kegalauan seperti itu kadang kala membuatnya agak berpikir kembali dengan kritik-kritik yang dilakukannya. Ia merasa kritik-kritiknya tidak mengubah keadaan dan malah membuatnya banyak musuh. Dalam suatu catatan hariannya, kadang-kadang ia merasa kesepian. Kegalauannya ini mendapat reaksi positif dari teman Amerikanya yang mengatakan bahwa "Gie, seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tetapi, sesudah kekuasaan baru ii berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan." (CSD hal. 2-3).

Mungkin, surat dari teman Amerikanya inilah yang kemudian memantabkan hatinya sehingga pendiriannya menjadi teguh untuk memegang prinsip 'lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan'. Prinsip yang selalu ia pegang hingga raga di kandung tanah. Tanah yang diperjuangkan dan dicintainya. Indonesia. Selamanya. Sekalipun banyak orang mengata-ngatainya China.

Gambar dipinjam dari sini dan sono.

Sunday, January 31, 2010

Pilihan Buku dan Kecenderungan P(em)ikiran

Pilihan buku menunjukkan orang seperti apa orang itu? Waktu surfing di internet untuk blog walking, saya membaca postingan dari sebuah blog yang mengatakan bahwa buku yang menjadi pilihan kita menunjukkan karakter seperti apa kita. Karakter yang di maksud di sini adalah tingkat intelegensia. Jadi, jika orang senang membaca buku-buku semacam teenlit akan dianggap memiliki pola pikir yang kurang deep. Jika orang yang setiap hari kerjaannya menenteng buku-buku tebal semacam Intermediate Accounting atau Statistics for Bussines akan otomatis dianggap sebagai orang yang intelek.

Mungkin ada benarnya juga pendapat seperti itu. Tapi tidak 100% benar. Saya berpendapat bahwa pemikiran seseorang itu dipengaruhi oleh seberapa variatifnya sumber bacaan yang telah dilahapnya dan seberapa kreatifnya dia memanfaatkan sumber-sumber tadi untuk mendukung pendapat yang dikemukakan ketika sedang berbicara. Bobot pembicaraan, pembawaan diri, dan sikap atau olah tubuh seseorang saat berbicara itulah yang menentukan seperti apa pola pikir dari yang bersangkutan.

Misalnya begini, jika ada orang yang suka membaca buku-buku ringan semacam teenlit, namun mereka senang membaca buku-buku semacam itu hanya digunakan sebagai selingan untuk mengalihkan kejenuhan akibat interaksi yang sangat intens dengan ilmu-ilmu eksakta atau perhitungan ekomonometrika yang rumit. Di satu sisi, karena perhitungan ekonomi atau ilmu-ilmu eksak tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya, maka tidak berarti kalau dirinya menyukai buku-buku seri Mec Cabot yaitu Princess Diary, lantas dengan mudahnya kita menjastifikasi kalau yang bersangkutan berpikiran yang low. Saya pikir, jika ada korelasinya mungkin sangat kecil.

Pilihan-pilihan dalam hidup kita, termasuk pilihan terhadap buku memang berpotensi untuk membentuk pola pikir seperti apa kita sebenarnya. Namun, jika orang tersebut tidak pandai untuk memanfaatkan atau menggunakan 'sesuatu' dari buku-buku yang dibacanya, saya kira hal yang sama akan terjadi pula pada orang yang tidak membaca buku tersebut sama sekali. Zero point. Jadi, pola pikir seseorang selain ditentukan dari variatifnya buku yang dibacanya (bukan dipilihnya, memilih tanpa membacanya hanya akan membuat seseorang 'terlihat seperti', bukan 'menjadi', dua hal yang jelas sangat berbeda), juga ditentukan oleh kekreatifan orang tersebut untuk mengaplikasikannya dalam berbagai kesempatan.

Seorang politikus misalnya, lebih banyak membaca majalah atau surat kabar yang memberikan bocoran isu politik yang lagi menghangat, bukan berarti jika dia suka membaca buku-buku Harry Potter, tidak berarti dia tidak intelek. Kebetulan saya kenal dengan seorang politikus yang sekarang duduk sebagai anggota Dewan di Senayan. Dia suka sekali dengan serial Harry Potter. Namun, jurnal-jurnal ilmiah pun juga tak ketinggalan dilahapnya. Alhasil, jika berbicara atau sekadar menulis suatu opini di media (atau bahkan di blognya), akan terlihat kapasitansi dari orang tersebut. Orang bisa berpikir bahwa apa yang dikatakannya akan mempunyai dasar yang kuat baik secara teori maupun kenyataannya di lapangan. Jadi, komentar yang keluar darinya pun akan terlihat terlihat tertata, kedengaran intelek, dan dalam. Tidak seperti 'tokoh-tokoh' yang sering kita lihat di acara sidang kasus Century.

Saya jadi ingat dengan kutipan ini, two roads diverged in the woods, and I took the one less traveled by. And that has made all the difference. Pilihan-pilihan kita akan selalu membedakan seperti apa kita sebenarnya. Tak masalah bahwa bahan bacaan yang Anda pilih itu merupakan bacaan ringan. Tapi jika Anda mampu mengolah bahan bacaan yang Anda nikmati tadi sesuai dengan bidang yang menjadi konsentrasi Anda, maka Anda pun layak disebut sebagai seorang intelektual ... di bidangnya (tentu saja).

Justifikasi bahwa orang yang suka buku-buku ringan merupakan orang yang tidak intelek sungguh tidak seimbang cara penilaiannya. Jadi begini, penilaian hanya pas dilakukan pada bidang yang digeluti dari si pemilih buku tadi. Misalnya begini, jika orang suka sekali membaca buku tentang gambar atau lukisan. Namun, ketika ditanya tentang Raden Saleh atau Affandi saja tidak mengenalnya, apakah itu bisa disebut intelek. Silakan Anda simpulkan. Jika ada orang yang suka membaca buku-buku tentang ekonomi, ketika ditanya tentang analisis perekonomian suatu negara, dengan gamblangnya ia menjelaskan, ya memang sudah seharusnya seperti itu. Akan terlihat aneh jika, seseorang (seperti yang saya jelaskan di atas) kelihatan seperti mempelajari atau menyukai ilmu ekonomi namun ketika dimintai pendapat yang paling sederhana mengenai apa itu makroekonomi tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan, orang seperti itulah bisa dikatakan tidak intelek.

Sangat berbeda jika orang yang suka membaca ilmu-ilmu kedokteran, lalu dimintai pendapat tentang laju inflasi dalam hubungannya dengan tingkat pertumbuhan ekonomi, akan dijawab dengan 'ngaco', akan sangat kurang tepat jika menganggap orang tersebut tidak intelek. Jadi, tingkat intelektualitas jika dikaitkan dengan jenis buku yang dipilih, haruslah diseimbangkan dengan kecenderungan dari bidang yang dipilih oleh orang yang bersangkutan.

Tidak setiap orang mampu menguasi semua ilmu yang ada di muka bumi ini. Sama halnya dengan tidak ada seorang pun yang tahu segalanya. Menilai seseorang secara tidak proporsional sungguh sangat tidak menyenangkan buat saya pribadi. Apalagi dengan dasar yang lemah. Lebih baik mengamati perlahan-lahan, bukan menjustifikasi secara spontan tanpa penuh pertimbangan. Selamat tenggelam dengan bacaan yang Anda pilih. Anda semua berpotensi menjadi kaum intelektual. Di bidang yang Anda sukai (tentu saja).

Gambar dipinjam dari sini.

Thursday, January 14, 2010

Plastik dan Sebuah Dilema Kehidupan

Sebuah dilema besar untuk menulis catatan ini. Pertama karena saya masih (sedikit) tergantung dengan plastik. Kedua, sepertinya saya mengalami kesulitan untuk menghilangkan ketergantungan tersebut walaupun selalu berusaha untuk menguranginya. Tapi karena menurut saya isu ini penting untuk ditulis, jadi tetap saja saya semangat untuk menulisnya.

Sudah bukan rahasia umum lagi kalau plastik sudah menjadi teman akrab bagi kita semua. Hampir semua kegiatan yang kita lakukan dalam kehidupan ini bersentuhan dengan yang namanya plastik. Hal tersebut sangat terasa sekali bagi orang-orang yang hidup di lingkungan perkotaan.

Bagaimana tidak, tiap kali belanja ke supermarket, plastik adalah sarana yang ampuh walau hanya untuk memindahkan barang dari troli menuju bagasi mobil. Coba Anda bayangkan sejenak. Benarkah hal itu terjadi pada kehidupan Anda? Apakah Anda juga melakukannya?

Plastik bagi sebagian kalangan merupakan benda yang sangat bermanfaat. Namun di sisi yang lain, penggunaannya yang berlebihan justru akan mendatangkan masalah baru dalam kesehatan lingkungan. Berapa banyak plastik yang Anda gunakan setiap hari? Jika Anda masih dalam status mahasiswa atau pelajar yang kebetulan tinggal di kos-kosan dan selalu makan di warung, tak jarang yang memilih untuk membungkusnya selalu menggunakan plastik. Jika jumlah makannya sebanyak tiga kali sehari, maka dalam sebulan ada sekitar 90 bungkus plastik yang berpotensi menjadi sampah untuk satu orang yang menggunakannya. Jika dalam suatu komunitas ada 100 orang saja yang makan di warung dan selalu membungkusnya dengan plastik, silakan Anda hitung sendiri dampak sampah plastik yang akan dihasilkan? Jumlah tersebut terus meningkat seiring dengan bertambahnya konsumen plastik.

Di lain tempat, misalnya di supermarket, kita akan mendapati para pelayan yang sudah terampilnya mengangsurkan barang-barang belanjaan kita dalam sebuah kantong-kantong plastik. Mereka dengan cekatan membuat belanjaan kita masuk dalam wadah yang tidak kita sadari dapat berpotensi menjadi polutan lingkungan. Dan anehnya, mereka tidak menanyakan apakah ingin membungkusnya dengan kardus atau tidak. Memang hal ini menjadi dilema tersendiri. Pertama karena tidak ingin ribet. Antrian sudah menunggu, jadi diperlukan kepraktisan dalam hal pelayanan. Yang kedua adalah sarana promosi. Plastik belanjaan merupakan sarana promosi yang ampuh terhadap suatu produk agar mudah dikenali masyarakat. Logo yang tertempel di kantong plastik mempunyai daya untuk mendorong masyarakat memiliki hal yang serupa. Yang lebih parah lagi dari keanehan di atas adalah bagaimana mungkin para pelayan tersebut tidak mengisi kantong-kantong plastik tersebut dengan penuh. Baru mengisi dengan beberapa barang sudah mengambil kantong plastik baru untuk mewadahi barang lainnya. Selain itu, ada pula pemisahan untuk barang-barang konsumsi dengan barang-barang perlengkapan mandi sehingga perlu plastik lagi untuk membungkusnya. Percayalah, selama isi dari barang tersebut masih berada dalam kemasannya yang rapat, tidak akan ada kontaminasi antara barang yang satu dengan barang lain yang dimasukkan dalam satu kantong plastik. Jadi mencobalah untuk berpikir bijaksana.

Plastik memang kadang kala cantik dipandang dan praktis dalam penggunaannya. Namun, dalam skala besar plastik juga mampu menjadi bumerang bagi kesehatan lingkungan karena plastik merupakan bahan yang sulit untuk diuraikan oleh tanah. Sudah banyak contoh yang terjadi di sekeliling kita berkaitan dengan kejahatan terselubung dari manisnya sebuah kantong plastik. Tentu kita masih ingat dengan jelas bahwa kota Bandung yang sering kita kenal sebagai kota kembang tiba-tiba saja berubah menjadi kota sampah. Dan di antara sampah yang menghiasi kota Bandung tersebut paling banyak adalah sampah plastik. Jadi istilah Bandung sebagai kota kembang bisa jadi dipelesetkan menjadi kota kembang plastik. Miris bukan?

Belum lagi kalau kita lihat acara banjir tahunan yang melanda kawasan Jakarta akibat tidak terawatnya daerah sepanjang aliran sungai Ciliwung. Kalau kita lihat lebih seksama, komposisi sampah plastik menempati urutan teratas dalam hal jumlahnya. Belum lagi jumlah sampah yang menggunung di Bandar Gebang, Bekasi. Banyak sekali sampah plastik menumpuk dan menyajikan pemandangan yang sangat tidak sedap dipandang.

Sampah plastik memang merupakan sebuah dilema. Di satu sisi sangat dibutuhkan, tapi disisi lain melahirkan PR yang harus dicari solusi pemecahan masalahnya. Walaupun begitu ada langkah-langkah sederhana yang dapat kita lakukan untuk meminimalisasi penggunaan kantong plastik.

Pertama, jika akan berbelanja, perkirakan jumlah barang belanjaan Anda. Jika sekiranya jumlahnya banyak lebih baik meminta untuk membungkusnya dengan kardus. Beberapa supermarket sudah memberikan fasilitas bungkus kardus ini. Jika jumlah belanjaannya sedikit lebih baik membawa kantong belanjaan sendiri dari rumah yang bukan sekali pakai. Jika terpaksa harus memakai kantong plastik, usahakan kantong plastik tersebut digunakan dengan maksimal artinya satu kantong plastik diisi dengan bermacam barang sesuai dengan daya tampung dan kekuatan plastik.

Kedua, menggunakan plastik dengan seperlunya. Maksudnya, jika sesuatu bisa dibawa tanpa perlu dibungkus dengan plastik, lebih baik dibawa saja tanpa pembungkus plastik. Hal ini bisa kita temui saat belanja buku. Beberapa toko buku sudah mulai sadar jika ada pembeli yang menolak menggunakan kantong plastik. Sebagai alternatif mereka akan memberikan stempel toko pada barcode yang tertempel di bagian sampul buku untuk menandai bahwa buku tersebut telah dibayar lunas.

Ketiga, bagi pelajar, mahasiswa, atau siapa saja yang hidup di kos-kosan dan selalu makan di luar, sebaiknya makan di tempat saja. Selama tempat makan yang kita kunjungi cukup memenuhi sanitasi yang layak, saya kira aman-aman saja untuk bersantap di tempat makan. Kalaupun perlu dibungkus, cobalah untuk membungkusnya rame-rame baik dengan teman atau bisa juga digabung dengan belanjaan yang lain.

Keempat, menyimpan kantong-kantong plastik yang belum dipakai dan masih layak pakai dan mencoba untuk menggunakannya dengan bijaksana. Usahakan untuk memilih kantong plastik sebagai pilihan terakhir untuk membungkus barang. Selama masih bisa dibungkus dengan kertas, lebih baik dibungkus dengan kertas saja.

Kelima, pisahkan sampah plastik dengan sampah yang bisa didaur ulang. Beberapa tempat sampah sudah mengaturnya dengan menyediakan tempat secara terpisah. Jika belum tersedia di tempat Anda, silakan berinisiatif untuk memisahkannya supaya petugas sampah lebih mudah dalam memisahkannya.

Keenam, yang ini yang masih menjadi dilema buat saya, untuk membungkus sampah di tempat sampah (sebagai wadah di tempat sampah) gunakan dahulu kertas yang agak tebal sebagai alasnya. Tapi sampai saat ini, saya masih belum menemukan media yang cocok untuk membungkus sampah di tampat sampah sehingga masih menggunakan kantong plastik sebagai alasnya. Jika kebetulan Anda tidak sengaja berada dan sempat-sempatnya membaca tulisan ini, silakan berbagi pengalaman dengan mempostingnya di kolom komentar.

Plastik memang bermanfaat. Namun, jika kita tidak bijaksana dalam memanfaatkannya justru akan membawa kita dalam dunia yang penuh plastik. Jika penggunaan plastik tidak terkontrol, sementara produksi plastik kian meningkat, bukan tidak mungkin suatu saat dunia ini akan tertimbun oleh gunungan sampah plastik. Bukankah itu sebuah mimpi buruk? Maka dari itu, sebelum menjadi mimpi buruk, mari kita bangun mimpi yang lebih indah dengan sedikit peduli pada lingkungan sekitar kita. Pada bumi tempat kita berpijak. Salam lestari. ;=)

Gambar dipinjam dari sini.

Monday, December 28, 2009

Idealisme Seorang Idealis

Pernahkah Anda berpikir mengapa ada orang yang memilih hidup menjadi pribadi idealis? Padahal tak ada kenyamanan yang ditawarkan kepada seorang idealis. Ia selalu sendiri. Mengakrabi keheningan dan ketenangan berpikir. Tak ada orang yang benar-benar peduli pada dirinya. Bahkan beberapa ada yang malah menganggapnya gila. Menjadi idealis merupakan suatu kemewahan bagi kebanyakan orang. Pilihan yang jarang sekali ditempuh oleh sebagian besar orang.

Konsekuensi yang harus diterima oleh seorang idealis mungkin tidak senyaman sebuah upacara duduk untuk minum teh, menikmati koran pagi, sambil mendengarkan gemercik air mengalir. Hal yang harus diterima oleh seorang idealis adalah kenyataan bahwa hati dan pikirannya senantiasa resah. Memikirkan segala bentuk ketidakharmonisan dalam tatanan kehidupan. Melewatkan kenyataan bahwa peradaban yang akan diwariskan kepada generasi mendatang hanyalah tradisi omong kosong dan ketidakberesan. Tak ada yang membuat seorang idealis tenang sampai semua bersinergi menjadi paduan yang seimbang.

Keidealisan seseorang diuji ketika dihadapkan pada dualisme kepentingan, kenyamanan yang ditawarkan, dan masa depan yang lebih 'enak' dan jelas daripada mengejar suatu ketidakpastian. Orang yang idealis selalu berjalan sendirian. Ia nyaman berada di luar medan, sambil sesekali tertawa menyaksikan teman-teman yang dulu mengaku-ngaku berpaham sama ternyata hanya kedok semata. Ia sadar bahwa pemikiran dan buah budinya hanya menjadi semacam hiasan, yang dipuji dan diapresiasi selama pertarungan untuk kemudian dibenci dan dilupakan setelah kemenangan.

Namun bukan itu yang diharapkan oleh seorang idealis sejati. Ia mengabdikan diri dan pikirannya untuk mengoreksi keadaan, membawakan konsep penyesuaian-penyesuaian yang mendorong timbulnya sinergitas kehidupan. Ia sadar bahwa dirinya selalu sendirian. Tak ada yang benar-benar karib dengan sang idealis selain keheningan. Tak ada kenyataan akan datangnya kemapanan hidup yang dialaminya. Seorang idealis adalah mereka-mereka yang selalu berjuang, bekerja keras, berlari untuk mengejar ketertinggalan seolah setelah itu bisa diam dan membagi secuil harapan.

Seorang idealis juga merupakan pengamat yang handal. Ia mampu melihat mutiara-mutiara ide dalam kehidupan yang bertaburan di setiap tempat yang luput dari perhatian masyarakat awam. Ia berusaha untuk menerjemahkan pengamatannya yang jeli itu ke dalam bahasa-bahasa sederhana yang mudah dimengerti oleh orang-orang kebanyakan. Konsep idealisme dari seorang idealis tersebut belum tentu diterima oleh masyarakat ketika sang idealis masih sanggup bernapas. Tak jarang tentangan dan cacian mampir sebagai hadiah dari sebuah usikan yang mengganggu ketenangan dalam sebuah tatanan yang seolah 'dari luar berbaju megah namun di dalamnya bertubuh lemah'. Karena biasanya, dalam konsep idealisme, sangat ramai memberi ide tentang ironi kehidupan. Ia menggambarkan keadaan timbal balik yang dialami oleh sebuah komunitas atau koloni kehidupan yang tidak seimbang dan menunjukkan ketimpangan. Ia juga memotret gambaran kehidupan yang ganjil dan penuh ketidakadilan.

Konsep idealisme dari seorang idealis hanya mampu menjadi bumbu dan hiasan kehidupan. Ia hadir untuk dipelajari, diagungkan isinya, dan dipuji keunggulan kualitasnya tanpa benar-benar nyata untuk dilaksanakan. Ide dari seorang idealis kadangkala membahayakan. Berbahaya bagi sebagian orang yang merasa terancam akan kebenaran ide tersebut. Oleh sebab itu, biasanya seorang idealis adalah orang-orang yang disingkirkan, berusaha dilenyapkan, atau diasingkan.

Kita tengok saja beberapa contoh idealis yang pernah ada seperti Che Guevara, Tan Malaka, Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, Chairil Anwar, dan lain-lain. Konsep kehidupan yang mereka tawarkan tak jarang mengarah kepada kestabilan kehidupan. Kritikan dilontarkan hanya menuntut sebuah keadaan yang lebih baik dari suatu praktek kesewenangan. Idenya baru diapresiasi dan dinilai bagus saat sang empunya ide sudah tenang ditanam. Tak ada yang benar-benar peduli pada mereka saat napas masih nyaman berhembus dalam raga.

Keadaan lain yang juga menjadi konsekuensi tak terhindarkan dari seorang idealis adalah sulit untuk mendapatkan tempat di hati banyak orang. Bukan dalam arti kebenaran karyanya, namun akseptansi dari masyarakat untuk kenyamanan menerima keadaan. Orang kebanyakan berusaha menghindar dan ingin jauh-jauh menjadi tautan atau berhubungan dengan pribadi idealis. Orang-orang idealis dianggap membahayakan jika berhubungan terlalu dekat dengan anggota keluarga atau dirinya pribadi. Orang lebih suka melihat keberanian seorang pribadi idealis dalam menentang keadaan, memperjuangkan sebuah perubahan, dan menanamkan konsep keidealisannya dalam kerangka berpikir masyarakat luas. Namun, orang tidak bersedia berhubungan terlalu dekat. Itu kenyataan yang diampu oleh seorang yang menjunjung tinggi idealisme dalam berpikir. Ia senantiasa sendiri dalam berjuang dan mempertahankan kesucian dari konsepsi idenya. Ia senang pada ketenangan hidup. Ia merayakan keheningan, mendengarkan jeritan penderitaan dan ketidakadilan sebagai musik kehidupan. Kadang kala, pengasingan adalah surga yang harus diterima oleh pribadi idealis. Menertawakan idenya dibenarkan dan dibahayakan tanpa merasa perlu mendapatkan pujian atau penghargaan.

Seorang idealis lebih memilih di luar sistem agar tidak larut pada kebobrokan sistem yang ada. Ia berjalan terus tanpa henti walau pengasingan telah membayang. Karena seperti kata Soe Hok Gie bahwa lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Pribadi idealis paham benar tentang keadaan tersebut. Kadang sejenak ia meminta jeda, berpikir sesaat, dan introspeksi diri bahwa untuk apa sebenarnya dirinya melakukan hal-hal tersebut. Orang-orang yang dibelanya juga tidak peduli akan perjuangannya. Orang yang ditentangnya mati-matian berusaha menyingkirkannya. Tak ada yang benar-benar berada di sampingnya untuk secara nyata berani berikrar berjuang bersama. Sekali lagi, seorang idealis paham akan kenyataan ini. Paham bahwa pada akhirnya seorang idealis hanyalah pecundang yang kalah perang. Pahlawan yang dilupakan keadilan. Pencetus ide yang diagungkan zaman. Manusia yang selalu dipeluk keheningan. Sebuah kemerdekaan yang nyata dalam ranah kehidupan. Karena pada dasarnya, seorang idealis hanya tumbuh sekali dalam kehidupan seseorang. Seperti kata Chairil Anwar bahwa sekali berarti, sesudah itu mati.

Gambar dipinjam dari sini.

Friday, December 25, 2009

Natal dan Jalan Panjang Menuju Damai

Hari ini umat Kristiani di seluruh dunia merayakan hari raya Natal. Saya seorang muslim. Entah dorongan apa yang membuat saya tergerak untuk menulis catatan ini. Saya menghormati dan menghargai kebebasan beragama. Saya perhatikan, setiap hari Natal tiba, seluruh gereja di Indonesia, baik yang besar maupun yang kecil, baik yang di kota maupun yang di desa, baik yang ramai jemaatnya maupun yang sedikit, dijaga ketat oleh aparat keamanan. Jalan-jalan yang melewati gereja juga dijaga, lengkap dengan beberapa pemeriksaan bagi yang melintas atau bahkan pengalihan jalur lalu lintas.

Memang niatnya baik yaitu untuk menjaga kekhusyukan dalam beribadah. Membuat suasana ibadah menjadi khidmad tanpa ada gangguan. Gangguan. Sepertinya kata ini akrab di telinga kita seiring dengan konflik antaragama yang terjadi di beberapa wilayah tanah air dan beberapa peristiwa teror bom yang sering mewarnai perayaan natal. Yang menjadi permasalahannya adalah mampukah negeri ini menghadirkan momen perayaan natal yang tenang dan penuh kedamaian tanpa ada barikade aparat keamanan? Mampukah negeri ini mengusung kedamaian untuk sejenak berkhidmad dan memberikan keleluasaan saudara kita untuk merayakan Natal? Bukankah esensi dari perayaan natal adalah momen untuk memburu kedamaian?

Damai. Natal dalam damai. Saya pikir semua orang di dunia, semua umat dari semua agama ( atau umat tidak beragama) merindukan dan memburu kedamaian dalam hidupnya. Momen-momen damai menggiring seseorang untuk berpikir lebih jernih, mencerna lebih dalam, dan memaknai sesuatu mendekati kebenaran hakiki. Orang yang tenang pikirannya akan lebih mudah berpikir dan mencari jalan keluar atas permasalahan-permasalahan yang menggelayuti hidup. Hanya orang-orang yang tidak damai hatinya yang tidak pernah benar-benar mampu untuk menikmati hidup yang dititipkan kepadanya.

Perang, konflik, dan segala bentuk perpecahan yang terjadi di belahan bumi merupakan bentuk dari ketidakdamaian sebagian umat dalam memaknai kehidupan. Segala bentuk perdamaian berbenih dari perasaan tenang, hati yang ikhlas, dan pikiran yang teratur. Semua manusia mempunyai potensi untuk berpikir kalut, berpendirian tenang, maupun bermalas logika. Ibaratnya sebuah garis bilangan yang terdiri atas bilangan negatif, nol, bilangan positif. Kemalasan logika terletak dalam sumbu negatif, kedamaian hati dan pikiran ada di titik nol, dan kekalutan pikiran adalah sumbu positif. Pikiran dan hati seseorang bergerak secara fluktuatif mengikuti suasana menyesuaikan diri mengikuti gerak sumbu tersebut. Ada kalanya berada di sumbu positif, tak jarang di sumbu negatif, dan bisa jadi di titik nol. Membuat suasana hati dan pikiran untuk sedikit lebih lama berada di titik nol merupakan tujuan yang wajib direfleksikan dalam kehidupan jika menginginkan momen damai dalam hidup. Hal ini mungkin terjadi jika konsepsi serupa diadopsi oleh banyak orang dalam aktivitas hidupnya.

Momen damai dalam kehidupan tidak hadir melalui sebuah perundingan atau penandatanganan kesepakatan. Damai dalam hidup tidak membutuhkan pahlawan yang menggondol prasasti nobel. Menghadirkan momen damai juga tidak membutuhkan sebuah pelucutan senjata. Momen damai hadir dalam diri setiap manusia yang mampu membawa hatinya bertamasya ke alam titik nol. Momen damai menggiring setiap pribadi untuk mengalami apa yang disebut sebagai kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan sejati. Hidup yang berjalan saat harmoni antara alam jiwa, alam pikiran, alam jasmani, dan alam semesta bersinergi tanpa suatu tendensi untuk saling menguasai, saling melebihi, berlaku superior dari yang lain, memaksakan kehendak mayoritas, berlaku adikuasa, dan menyulut peperangan. Momen damai hadir saat pribadi sembuh dari segala penyakit hati.

Segala bentuk konflik, perang, perpecahan, pertengkaran, dan perkelahian adalah wujud nyata betapa dunia ini diisi oleh orang-orang yang tidak damai. Jika hari ini gereja ramai dikunjungi, siangnya masjid sesak oleh orang ibadah sholat jumat, dan tempat ibadah lainnya seperti vihara, pura, dan klenteng laris dikunjungi jemaat, apakah mereka-mereka mencari di tempat yang salah jika sekembalinya dari rumah ibadah, pribadinya tidak menyisakan paradigma baru akan jiwa yang bersih, damai, dan merindukan keindahan bertoleransi? Saya kira bukan sesederhana itu disimpulkan demikian. Setiap orang yang berkunjung ke rumah ibadah membawa niat dan tujuan yang berbeda. Jadi yang perlu diselaraskan adalah ikhlas dalam niat. Persepsi akan niat yang baik untuk mendamaikan hati dan pikiran melalui tangan Tuhan ini perlu diterapkan pada semua batok pemikiran di kepala masing-masing umat. Perlu pula dibenamkan persepsi untuk qonaah, menerima sesuatu sesuai dengan prosedur dan proporsinya.

Berlaku ikhlas menerima segala saat berinteraksi terhadap sesama manusia seolah-olah sedang bercengkerama dengan Tuhan merupakan sumber potensi pembentuk perdamaian dan ketenangan hidup. Semua bermula dari pembangunan pondasi kualitas hati. Saya jadi ingat perkataan guru agama saya bahwa ada segumpal daging, di mana jika daging itu bagus maka bagus semua seluruhnya, jika daging itu jelek, maka rusaklah semuanya. Itulah hati. Hati menjadi penuntun utama akan kinerja akal pribadi manusia. Kekuasaan nafsu akan sirna jika hati hadir sebagai segumpal pendirian yang kokoh memelihara nilai-nilai nurani.

Tidakkah kita semua merindukan momen-momen damai ini. Di mana tak akan kita dengar jerit tangis kelaparan, tak kita dengar nyanyian peluru meriam, tak kita saksikan kerusakan gedung dan sekolahan. Tidakkah kita mengharapkan suasana suka cita dan gegap gempita sebuah kehidupan baru yang tenang dan bebas dari ancaman dan kemampuan untuk mengancam. Bukankah hakikat natal adalah merayakan kehidupan baru, menyemarakkan dunia damai, dan mengamini sebuah ketenangan hidup. Tidak ada salahnya prinsip 'kasih' diadopsi oleh umat agama lain. Selalu terdapat nilai-nilai universal dalam setiap not-not keindahan dan kedamaian hidup. Tinggal kita saja yang memilih nadanya dan menempatkannya di tempat yang tepat. Membawa diri menerapkan dan menjaga keseimbangan hati sedikit lebih lama di titik nol merupakan tugas berat bagi siapa saja yang merindukan dan ingin menciptakan perdamaian. Sudah saatnya negeri ini mampu untuk menghadirkan momen perayaan hari raya tanpa dihiasi suatu ornamen senapan.

Gambar dipinjam dari sini.

Thursday, December 17, 2009

Paperless

Teman kantor saya selalu bilang, "Berapa banyak pohon ditebang percuma gara-gara kamu salah nge-print laporan?" Kalimat tersebut memang sedikit berlebihan, namun kalau dipikir lagi, ada benarnya juga kalau kita memikirkan ulang dan menilai diri kita pribadi, berapa banyak sebenarnya kertas yang kita pakai setiap hari? Di antara kertas yang kita pakai itu, berapa banyak yang benar-benar berguna?

Suatu kesempatan lain, saya menyaksikan bahwa setiap hari Jumat, masjid kantor saya selalu mengadakan acara sholat Jumat yang dihadiri selain oleh pegawai kantor juga pegawai atau karyawan yang bekerja di sekitar kantor. Karena daya tampung masjid dengan jumlah jemaah yang hadir tidak seimbang, alhasil banyak sekali jamaah yang terpaksa harus rela sholat di halaman masjid. Pihak kantor memang memfasilitasi dengan terpal dan tikar. Namun demikian, setelah sholat Jumat
selesai, kertas-kertas koran alas sholat itu dibiarkan begitu saja tanpa dibersihkan atau dilipat kembali. Saya jadi berkesimpulan bahwa nilai kehidupan kegunaan dari kertas koran tersebut ternyata singkat sekali. Dari pohon dibuat kertas, lalu diproduksi jadi koran, dibaca, setelah itu dipakai buat alas sholat untuk kemudian dibuang. Saya tidak tahu apakah setelah itu oleh petugas kebersihan dikumpulkan untuk direduksi atau dibakar dengan percuma. Namun hati kecil saya mengatakan bahwa telah terjadi kemubaziran atas deforestasi di masjid kantor saya. Itu saja.

Memang penggunaan kertas ini tidak terasa efeknya jika serampangan peruntukannya. Orang kebanyakan lupa tentang siklus darimana kertas berawal. Orang lebih suka permasalahannya teratasi daripada capek meribetkan bahwa penggunaan kertas tidak dihemat. Hal itu terjadi karena kertas murah harganya dan mudah didapat. Artinya, ada anggaran yang menanggung pembelian atau pengadaan kertas tersebut untuk keperluan kantor. Itu baru yang di kantor. Belum yang di rumah atau dalam kehidupan yang kita jalani selain di kantor dan di rumah.

Coba kita pikir lagi. Berapa banyak orang kos di Indonesia. Kalau tiap makan di luar mereka bungkus, dan tiap hari makannya tiga kali sehari, berapa banyak kertas dengan siklus pemakaian pendek sekali. Memang secara kimia, kertas bisa didaur ulang. Tapi, kalau jumlah kertas yang tidak berguna jumlahnya juga banyak, akan terjadi inefisiensi juga pada akhirnya. Maka dari itu, alangkah baiknya kalau kita mulai merevisi ulang segala sesuatu akan hidup kita yang berhubungan dengan kertas. Perlu ada langkah-langkah serius dalam produksi dan pemakaiannya.

Mulai dari yang kecil saja, kalau memang tidak sedang terburu-buru, lebih baik makan di tempat saja, tidak perlu dibungkus. Berkaitan dengan catat-mencatat, kalau memang bisa dicatat dalam bentuk digital (misalnya dalam komputer) tidak perlulah dicetak dalam lembaran kertas kecuali memang hasil cetakannya benar-benar diperlukan. Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah berkaitan dengan produksi dan konsumsi buku. Untuk produksi buku akan saya uraikan di akhir. Perihal konsumsi buku (kegiatan kreatif membaca) hendaknya perlu diterapkan langkah-langkah yang dapat mengondisikan buku tersebut mempunyai masa pakai yang relatif panjang. Dapat dibaca dan dinikmati selama bergenerasi-generasi yaitu dengan membaca tanpa merusaknya. Caranya dapat dilakukan sebagai berikut:
  1. Memberikan sampul pada setiap buku-buku bacaan atau majalah-majalah.
  2. Membaca dengan tanpa membuat buku tersebut menjadi kusut.
  3. Tidak melipat halaman buku untuk membatasi sampai mana buku yang bersangkutan dibaca. Lebih baik selipkan pembatas buku sebagai penanda.
  4. Simpan buku di tempat yang tidak lembab dengan penerangan yang cukup.
  5. Jauhkan buku dari jangkauan hewan-hewan pengerat dengan menempatkannya di tempat yang bersih dan kalau bisa diberi kapur barus.
Yang terakhir sebenarnya ada, tapi mungkin ini hanya berlaku bagi saya, tapi tidak ada salahnya untuk dibagi yaitu tidak meminjamkan buku kepada orang yang kelihatannya tidak suka membaca. Yakinlah, orang-orang seperti ini dari cara memegang buku pun mereka kelihatan kalau tidak bersahabat dengan buku. Alhasil, buku yang bersangkutan rusak, terlipat, atau menjadi kusut. Bukannya saya parno, tapi mungkin agak sedikit mempunyai banyak pengalaman dengan orang-orang jenis demikian.

Berkaitan dengan produksi buku, saya agak gembira melihat produksi buku di Indonesia sudah semakin semarak dengan timbulnya komunitas-komunitas menulis dan membaca. Tiap tahun, ratusan bahkan ribuan judul buku diproduksi di Indonesia, baik itu karya dari penulis-penulis Indonesia maupun terjemahan dari buku-buku berbahasa asing. Memang menyenangkan rasanya dapat berada di antara tumpukan buku. Perpustakaan dan toko buku merupakan surga dan sarangnya ilmu pengetahuan. Di balik itu semua, tingginya produksi buku akan berbanding lurus dengan permintaan kertas. Dan kebutuhan akan kertas yang semakin tinggi berakibat pada semakin banyaknya terjadi deforestasi pada hutan-hutan kita. Menurut Menteri Kehutanan Republik Indonesia Zulkifli Hasan, luas hutan Indonesia mencapai 120 juta hektar. Faktanya, kondisi hutan yang bertahan diperkirakan tinggal 60 juta hektar, bahkan kurang. (Kompas, Sabtu, 26 November 2009). Kalau hal ini tidak menjadi perhatian kita secara serius, bukan hal yang mustahil dalam beberapa tahun lagi, Indonesia akan kehilangan sumber daya hutannya. Hal itu juga berakibat pada jumlah produksi buku.

Sebenarnya, di era yang serba digital ini, banyak sekali tersedia buku-buku dalam bentuk elektronik. Buku-buku tersebut dikenal dengan nama e-book. Banyak sekali judul-judul buku yang sudah dibuat format e-book-nya. Namun demikian, produksi e-book juga menyisakan PR yang juga menjadi masalah serius terutama terhadap masalah hak cipta dan honorarium. Selain itu orang lebih familier dengan buku-buku yang tercetak daripada buku digital. Hal itu terjadi karena buku cetak lebih mudah dan praktis dibaca dan dibawa, sedangkan untuk buku digital masih harus diperlukan perangkat pembantu baca format digital tersebut. Sebenarnya langkah ini bisa dijadikan salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan kertas. Namun demikian, bagi yang belum atau tidak terbiasa, alternatif cara memanfaatkan buku seperti yang saya jelaskan di atas bisa dijadikan rujukan.

Kertas, memang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Kita tidak ingin segala faktor pendukung bagi kelancaran hidup kita terganggu sirkulasi dan ketersediaannya. Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita untuk senantiasa menjadi pribadi yang sadar diri akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan demi terciptanya keselarasan dan keberlangsungan kehidupan kita. Menjadi bijaksana dalam menggunakan kertas menjadi satu dari sekian hal mendasar demi lestarinya alam kita, menjadi satu dari sekian kebajikan hidup yang harus kita jalani demi tercukupinya kebutuhan kita akan kertas tanpa mengganggu kelestarian hutan. Dengan hanya melaksanakan langkah kecil yaitu membuat siklus penggunaan kertas menjadi lebih panjang, Anda telah berkontribusi untuk membuat bumi kita menjadi lebih sehat dan lebih nyaman untuk ditinggali. Mau kan Anda sejenak memikirkannya? Lalu apalagi yang Anda tunggu, sekaranglah waktunya bagi Anda untuk melakukan tindakan nyata demi hijaunya bumi kita tercinta. Salam lestari.

Gambar dipinjam dari sini.

Wednesday, December 09, 2009

Korupsi, Sebuah PR yang Belum Selesai

Membicarakan korupsi di Indonesia sama seperti menegakkan benang kusut. Membahasnya secara tuntas hanya akan berhenti sampai sebatas wacana. Memperdebatkannya dalam sebuah diskusi hanya akan mandek sebagai sebuah obrolan omong kosong yang jauh dari makna. Memperingatinya sebagai hari Anti Korupsi seperti hari ini pun hanya menambah daftar momentum yang sepertinya hanya repetisi atas kebiasaan lama yang hanya sebatas tradisi.

Berbagai formula sudah dan akan diterapkan untuk mengurangi atau (bahkan) menghilangkan praktek korupsi yang berlangsung di Indonesia. Berbagai jurus baru pun juga mulai dibuat dan dipraktekkan untuk membuat celah-celah baru dalam mengembangkan praktek korupsi. Bukannya bersikap pesimis akan proses pemberantasan korupsi, namun untuk saat ini, iklim di Indonesia memang belum sampai pada tahap di mana korupsi akan mendapat perlakuan sebagai mana mestinya.

Penegakan hukum yang seolah setengah hati pun menunjukkan kalau dunia hukum di Indonesia masih tampak seperti banci. Hal ini masih ditambah lagi dengan para birokratnya yang direkrut dengan sistem yang juga korup. Jadi, tak ada pangkal dan ujung kalau membicarakan korupsi. Prestasi-prestasi para penegak hukum seperti dilansir oleh media belum signifikan dengan jumlah kasus yang berlangsung di masyarakat. Dan, kalaupun hal-hal tersebut diusut, penyelesaiannya pun akan berakhir pada kompromi-kompromi yang menghasilkan proses akhir kurang memuaskan bagi masyarakat sebagai pihak yang selalu dikorbankan.

Seperti kita saksikan realitas di sekitar kita, hampir tidak ada rekruitmen pegawai atau pejabat di Indonesia yang bebas dari praktek KKN. Mulai dari pilihan anggota legislatif, eksekutif, sampai dengan rekruitmen pegawai pejabat publik tak jarang yang berujung dengan praktek 'uang bicara' dalam prosesnya. Istilah-istilahnya pun semakin beraneka ragam dan bernama unik. Mulai dari uang pelicin, ucapan terima kasih, sampai dengan yang bersembunyi malu-malu dengan menyebutnya sebagai biaya administrasi. Yang rekruitmennya masih bersih pun, masih tetap ada saja dalam praktek kerjanya yang masih 'nakal' dan main-main dengan sistem.

Kita tak pernah tahu apa sebenarnya yang menjadi kunci dari penyebab tumbuhnya korupsi di Indonesia. Seperti dijelaskan di atas, bahwa kalaupun tahu, tak banyak yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Kita sudah terkubur terlalu dalam di tempat yang memang lahan subur bagi dilakukannya praktek korupsi. Menjadi minoritas sebagai kelompok yang antikorupsi pun hanya sebatas teriakan-teriakan dan jeritan-jeritan yang sudah mulai membosankan untuk didengarkan. Protes-protes dan aksi demonstrasi hanya menjadi simbol penentangan saja. Tak sampai menjadi tonggak awal yang baru akan terciptanya sebuah permulaan yang bersih. Sejarah sudah membuktikan secara berulang-ulang bahwa demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dan masyarakat Indonesia hanya bertujuan untuk melengserkan pemerintahan yang sedang berkuasa, untuk akhirnya digantikan oleh mereka-mereka yang menjadi ujung tombak demonstrasi tersebut. Pada akhirnya pun, praktek korupsi yang dilakukan oleh pejabat sebelumnya akan dilanjutkan oleh pejabat yang baru menggantikannya.

Begitu seterusnya jika membicarakan tentang korupsi. Tak ada hasil yang benar-benar memuaskan terhadap praktek pemberantasan korupsi. Jadi, memperingati hari Anti Korupsi seperti hari ini, mari kita isi dengan sebuah perayaan-perayaan seperti layaknya sebuah tradisi. Mari kita putar kembali kenangan-kenangan lama akan betapa indahnya kompromi-kompromi politik yang meligitimasi praktek korupsi, kenangan akan betapa rapinya praktek korupsi berlangsung, dan tentu saja gambaran yang mencengangkan akan betapa cepat menjamurnya praktek korupsi merambat ke berbagai lini dalam lapisan kehidupan masyarakat di Indonesia. Maka dari itu, hari Anti Korupsi ini mari kita jadikan sebagai momentum untuk berandai-andai saja dan bermimpi bahwa praktek korupsi di Indonesia akan segera hilang diberantas karena dalam keadaan terjaga pun kita selalu berandai-andai dan digiring untuk bermimpi menjadi pribadi yang bersih tanpa pernah diajari cara kerjanya. Karena kita terlalu larut untuk berandai-andai dan bermimpi, maka banyak sekali PR yang belum selesai untuk dikerjakan.

Gambar dipinjam dari sini.

Tuesday, December 08, 2009

Bahasa Sholat, Bahasa Meditasi

Suatu ketika saya mendapatkan pesan pendek yang isinya kurang lebih begini:

Perkataan indah adalah Allah
Lagu merdu adalah adzan
Media terbaik adalah Al-Qur'an
Senam sehat adalah sholat
Diet sempurna adalah puasa
Kebersihan menyegarkan adalah wudhu
Perjalanan indah adalah haji
Khayalan terbaik adalah ingat akan dosa dan taubat

Saya senang membaca isi pesan pendek tersebut. Isinya mencerahkan dan mengingatkan kita untuk selalu istiqomah di jalan Allah. Pesan singkat itu masih tersimpan aman di dalam telepon genggam saya. Rasanya sayang sekali untuk menghapusnya.

Sholat merupakan ritual penghambaan umat muslim kepada Rabb-nya yaitu Allah SWT, Tuhan semesta alam. Kakak saya pernah memberi definisi bahwa sholat itu hiburan. Awalnya saya agak bingung mendengarnya. Jawaban atas kebingungan itu akhirnya saya dapatkan. Bukan dari keikutsertaan pengajian atau membaca suatu buletin. Bukan dari obrolan dengan ulama, apalagi hasil gosipan dengan teman-teman. Jawaban akan kebingungan saya tersebut saya dapatkan dengan 'mengalami' sholat. Suatu pengalaman yang menakjubkan adalah kesan yang kita dapat dari suatu perbuatan yang menimbulkan impresi dalam suatu ingatan. Saya tidak mengatakan bahwa sholat yang saya lakukan sudah sempurna dan khusyuk. Namun, saya merasakan semacam sensasi yang menenangkan ketika menghikmati melakukan wudhu secara perlahan-lahan, menikmati sejuknya air yang menghapus kepenatan. Merasakan tenteramnya jiwa saat merasakan betapa segarnya berwudhu.

Di kesempatan lain, saat melakukan sholat, saya merasakan anggota tubuh saya bergerak dengan lentur, mengikuti semacam irama tarian. Gerakan-gerakan sederhana yang biasanya ketika melakukannya dengan terburu-buru, saya merasa agak pegal setelah selesai sembahyang. Saya tidak tahu penjelasan medis dan ilmiahnya seperti apa, tapi saya sudah pernah merasakannya. Sensasi serupa saya rasakan saat yoga selama setengah jam. Bukankah lama sholat kira-kira paling lama sepuluh menit. Dan hasil instannya adalah ketenangan batin. Sungguh mencengangkan. Mungkin itu juga penjelasan menurut kakak saya, bahwa sholat itu merupakan hiburan. Saya belum pernah menanyakan kembali penjelasannya. Lalu, mengapa ada orang yang tidak damai setelah selesai sholat?

Saya kira penjelasannya akan lebih kompleks lagi. Mungkin lagi banyak masalah. Atau bisa jadi sholatnya tidak sempurna. Atau malah setengah hati saat melakukannya. Saya tidak menganggap sholat saya sudah sempurna. Namun, saya merasakan saat gerakan-gerakan sholat itu saya nikmati, bukan hanya saya ikuti, ada rasa yang hadir dalam pikiran ini untuk lagi dan lagi ingin memperoleh sensasi serupa demi mencapai kekhusyukan beribadah. Saya kira hakikat penghambaan kita kepada Allah bukan hanya merapalkan doa puja puji semata. Saya yakin Allah menghendaki kita menikmati proses penghambaan itu, bukan menganggapnya sebagai beban. Saya tidak tahu apakah sensasi yang saya rasakan juga dialami oleh penganut agama lain saat sedang beribadah. Jika Anda kebetulan nyasar ke blog ini dan membaca tulisan ini, jangan beranggapan bahwa tulisan ini berisi dakwah atau propaganda agama. Saya hanya ingin bertukar pendapat mengenai rasa yang ditimbulkan saat Anda menghadap Tuhan saat sembahyang. Jika berkenan, silakan tinggalkan pesan tentang sensasi yang Anda rasakan saat melakukan ritual ibadah yang Anda jalani di kolom komentar. Mari bertukar pengalaman dan kesan.

Gerakan sholat sebenarnya adalah suatu bentuk meditasi. Gerakan tersebut sebenarnya satu rangkaian dengan berwudhu. Wudhu pada dasarnya adalah sarana untuk melemaskan titik-titik ketegangan dalam tubuh. Itulah mengapa, sebelum tidur disunnahkan berwudhu. Silakan Anda coba, bahwa ketika sebelum tidur Anda mengawalinya dengan berwudhu, kualitas tidur yang Anda dapatkan akan semakin terasa menenangkan.

Tidur yang cukup, makan makanan yang bergizi seimbang, dan diet sehat adalah kombinasi pembentukan pribadi yang sehat. Dalam ilmu agama Islam sebenarnya ketiga hal tersebut juga telah diatur dalam ajarannya. Seperti penggalan isi pesan singkat yang saya terima di atas bahwa senam sehat adalah sholat, diet sempurna adalah puasa, dan kebersihan menyegarkan adalah wudhu, maka perpaduan ketiganya merupakan salah satu alternatif pencegahan terhadap penyakit. Saya pernah belajar mengenai kehidupan seorang bhiksu. Seorang bhiksu berusaha untuk menjaga makanannya. Ia tidak makan daging. Hanya makan roti dan sayuran. Hidupnya pun juga terbilang biasa-biasa saja. Tidak ada pesta pora atau hura-hura. Setiap jengkal kehidupan dihikmati sebagai sebuah perayaan keheningan menuju penyatuan diri dengan alam lingkungan.

Saya juga pernah belajar tentang kehidupan di pondok pesantren. Dalam pondok pesantren yang masih tradisional kadang kala ada yang masih sangat ekstrim dalam hal makanan yang dikonsumsi. Ada yang cuma makan nasi ditambah daun singkong rebus ditambah garam sedikit. Walaupun saya tidak sampai seperti itu, namun saya juga tidak terlalu banyak mengonsumsi daging. Terutama daging kambing dan sapi. Saya rasa asupan yang kita masukkan ke dalam tubuh juga berpengaruh terhadap tingkat kekhusyukan dalam beribadah. Yang saya tahu dari teman-teman saya yang sudah sering dan rutin melakukan meditasi, mereka yang berpola hidup vegetarian akan lebih mudah untuk merasakan sensasi ketenangan dalam meditasi.

Dalam hal ini saya tidak menganjurkan Anda untuk mengikuti apa yang saya lakukan. Saya hanya berusaha membeberkan sedikit alternatif yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan potensi pengistirahatan Anda secara total walaupun dalam keadaan beraktivitas. Wudhu dan sholat sebagai padu padan paket relaksasi. Jika Anda umat muslim dan sudah capek-capek mengeluarkan uang banyak hanya untuk mendapatkan ketenangan pikiran dalam sesi latihan yoga yang membosankan, atau menghabiskan waktu berharga Anda berkumpul bersama keluarga untuk melakukan relaksasi di spa, silakan mencoba untuk memaksimalkan gerakan sholat dan menyempurnakan wudhu Anda. Jika telah merasakan sensasinya, saya yakin Anda dapat berpikir ulang untuk mengalokasikan anggaran rumah tangga untuk keperluan yang lain daripada harus menanamkannya di pusat-pusat kebugaran.

Saya tidak menganggap olahraga di pusat kebugaran itu jelek. Olahraga tetap penting, namun usaha untuk memaksimalkan tujuan demi memperoleh ketenangan batin dan jiwa, bisa juga didapatkan melalui ritual ibadah. Jadi, ibadah yang kita jalani bukan hanya semacam ritual harian yang hanya berarti sebatas ritual semata. Ada semacam filosofi yang menyisip untuk dimengerti. Pernahkan Anda bertanya, mengapa orang sholat harus ada gerakan ruku', harus ada gerakan sujud, ada gerakan berdiri, dan ada gerakan duduk? Mengapa tidak berdiri saja, atau duduk saja, atau sujud saja? Tentu saja penjelasannya tidak hanya ' ya memang sudah begitu dicontohkannya'. Namun penjelasan yang lebih masuk akal adalah karena titik-titik dalam tubuh manusia yang harus dilenturkan dan harus direlaksasi tidak hanya ada di satu bagian tubuh saja. Saya yakin ada sesuatu yang tersembunyi mengenai keajaiban gerakan di balik ritual beribadah itu bagi kesehatan. Hanya saja saya belum tahu namanya.

Ibadah dan aktivitas kehidupan memang harus bersinergi. Alam jiwa, alam pikiran, dan alam jasmani harus bersinergi demi membentuk harmoni yang seimbang. Ketidakseimbangan salah satu darinya bukan tidak mungkin akan mengakibatkan penyakit yang tidak kita inginkan keberadaannya. Namun, ketika kita merasakan suatu ketiadaan harmoni antara tubuh dan jiwa, tidak ada salahnya kita mencoba untuk sejenak merenung, menjemput obat mujarab dari balik sajadah yang terhampar. Wudhu dan sholat bisa menjadi alternatif jalan keluar. Keluar dari hiruk pikuk kepenatan batin dan membebaskannya dengan menggapai kehidupan yang merdeka dalam suatu perayaan keheningan melalui meditasi islami. Selamat mengalami.


Gambar dipinjam dari sini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...