Suatu ketika saya pernah berpikir untuk membotolkan masa kanak-kanak. Sepertinya enak sekali jika kita bisa kembali menikmati keceriaan masa kecil ketika kenyataan menyebutkan bahwa dunia yang kita jalani sudah penuh dengan jenggot dan permasalahan tetek bengek orang dewasa. Teteknya sih enak, bengeknya itu yang membuatnya jadi susah. Tapi tentu saja, kegiatan membotolkan masa kanak-kanak itu hanya mungkin terjadi di dunia Harry Potter. Dunia fantasi Harry Potter memang tumbuh bersamaan dengan masa kecil saya hingga saya menginjak bangku kuliah.
Kenangan tersebut muncul kembali saat minggu lalu saya main-main ke Pulau Tidung, pulau terbesar dalam gugusan pulau di wilayah Kepulauan Seribu, Jakarta. Saya melihat banyak sekali anak-anak dengan senyum dan keceriaan khas mereka yang lucu, gaya bercanda mereka yang polos, dan tingkah polah mereka yang hampir selalu mengundang senyum. Sungguh suatu dunia dalam masa kehidupan manusia yang tak kan pernah berulang. Kadang saya berpikir bahwa sungguh bahagianya berada di masa kehidupan tersebut. Hidup rasanya hanya ada dua hal yaitu bermain dan belajar. Walaupun saya sudah segede gambreng seperti sekarang, di mana teman-teman saya sudah banyak yang menikah dan punya anak, saya justru masih kepikiran betapa menyenangkannya tetap bisa menikmati dunia mereka. Dunia anak-anak yang saya rindukan.
Liburan bagi saya adalah waktu yang enak buat refleksi diri, melihat dari dekat kehidupan orang-orang yang sama sekali tidak saya kenal. Saya biasanya menyempatkan diri untuk bergaul dengan penduduk asli dari suatu tempat yang saya kunjungi dan ngobrol sesuatu baik tentang kehidupan yang dijalaninya maupun suatu topik pembicaraan yang tersebar luas dan sama-sama kami ketahui karena menonton televisi. Dan di antara jenis orang yang selalu menarik untuk diajak ngobrol adalah anak-anak. Mengapa anak-anak? Karena mereka mempunyai jawaban yang polos dan apa adanya. Mereka tidak akan membuat-buat jawaban yang dilontarkannya.Saya 'menemukan' banyak cerita dengan anak-anak Pulau Tidung yang seru-seru. Ketika saya ke sana (pas hari Sabtu) mereka baru saja pulang dari sekolah. Mereka ada yang masih mengenakan seragam saat bermain atau waktu membantu orang tuanya melayani pengunjung. Dengan pakaian pramuka, mereka lari sana-sini untuk mencari persediaan sepeda yang masih bisa disewakan untuk pengunjung pulau. Ada pula sekumpulan anak-anak lucu yang membantu orang tuanya menawarkan penginapan di rumahnya. Mereka ini memang sudah ganti baju dan lebih siap menyambut pendatang. Dengan gaya polosnya mereka menawarkan rumah-rumah orang tua mereka untuk menginap. Baju mereka pun lucu-lucu.
Ada sekumpulan anak yang memakai kostumnya Persija dan Persib. Di kostumnya Jakmania itu ada ungkapan yang bisa membuat suporter Persib telinganya merah. Tapi anehnya mereka rukun-rukun saja tuh. Senang sekali melihat mereka hidup damai seperti itu. Lebih senang lagi kalau suporter Persija dan Persib juga serukun mereka. Soalnya biar kalau nonton bola di Sanayan jadi aman dan tenang sentosa. Soalnya tiap ada pertandingan bola, kok bawaannya parang, sangkur, gir motor, samurai, dan sejenisnya. Ini mau berangkat nonton bola atau mau perang ya? Selain itu saya menemui ada anak-anak yang dari penampilannya terlihat kucel dan jarang mandi. Ia jalan bareng adiknya yang kebetulan membawa pianika. Busyet, anak sekecil itu, di sebuah pulau yang tidak terlalu besar, mainannya sudah pianika. Saya waktu seumuran dia mainannya baru kelereng dan gedebok pisang. Saya baru main piano saat kelas 5 SD, waktu mau lomba Siswa Teladan tingkat Kabupaten.
Kebayang kan, kalau saya waktu itu tidak ikut lomba, sepertinya juga tidak bakalan punya piano. Kedua anak ini saya ajak ngobrol, ternyata sang kakak baru kelas 2 SD, dan ia sengaja main-main dengan adiknya ke Pulau Tidung kecil sehabis sekolah. Sayang adik rupanya. Dan melihat penampilan yang kelihatannya jarang diperhatikan orang tuanya ini, akhirnya mereka saya ajak untuk foto bersama. Dengan wajah sumringah berseri-seri mereka kelihatan senang. Walaupun sudah main pianika sejak usia itu, sang adik ternyata tidak bercelana hehehe. Setelah berjalan lagi beberapa lama, kami akhirnya sampai di sebuah jembatan. Kata acara televisi Celebrity on Vacation jembatan itu dinamakan Jembatan Cinta. What? Tidak ada cerita dan petunjuk yang mengarah ke situ kok. Jadi, saya abaikan saja. Toh, bagi saya jembatan itu lebih asyik tanpa nama. Dan karena keasyikannya, saya sampai suka berlama-lama berada di jembatan itu (terutama di bagian yang jembatannya menggembung ke atas).
Soalnya di bawah situ suka ada anak-anak kecil yang berenang dan berteriak memanggil orang-orang lewat di jembatan dengan 'cepek om, cepek om' yang artinya meminta uang receh. Mereka mengharapkan pengunjung pulau yang lewat di situ melemparkan uang receh ke laut dan mereka akan dengan sigap menyelam untuk mencari uang tersebut. Cukup menghibur dan menurut saya mereka adalah anak-anak yang pandai berenang secara alami. Secara saya sudah gede gini tidak bisa berenang. Dan saya lihat, beberapa dari mereka ada yang masih memakai baju seragam artinya begitu jam pulang sekolah mereka langsung nyebur ke situ untuk 'bekerja'.Menurut Pak Asmari, penduduk Pulau Tidung yang kebetulan satu perahu dengan saya, mengatakan bahwa pulau ini baru mulai ramai sekitar tiga bulanan yang lalu. Jadi, bisa dikatakan bahwa pulau ini baru saja bergeliat sebagai salah satu kunjungan wisata. Dan bisa dipastikan ke depannya akan banyak sekali kesempatan bagi penduduknya mendapatkan penghasilan melalui pariwisata ini. Tidak dapat disangkal pula bahwa anak-anak di sini juga mengalami ancaman yang tak terlihat dari menggeliatnya iklim pariwisata Pulau Tidung itu.Karena sekolah di pulau ini sangat terbatas, walaupun ada SD, SMP, dan SMK, tapi tetap saja ada ancaman anak-anaknya bisa malas sekolah jika uang yang berusaha orang tua mereka dapatkan mendadak berdatangan. Bisa-bisa anak bisa menjadi aset untuk membantu orang tua dan malah tidak bersekolah karena sudah mampu diajak mencari uang. Ini penting menjadi konsen bagi Dinas Pariwisata DKI Jakarta, Kementerian Urusan Peranan Wanita dan Perlindungan Anak, dan Komnas Perlindungan Anak ke depannya. Semoga tidak terjadi. Tapi saya agak khawatir jika itu terjadi. Kehilangan masa kanak-kanak itu sangat menyakitkan. Saya tidak mau anak-anak ini merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan dalam kehidupan mereka yang seharusnya tidak perlu mereka rasakan. Saya tetap ingin anak-anak ini bermain dan belajar sesuai dengan tingkat usia mereka. Dan ketika sudah capek keliling pulau, saya bertemu dengan senyum polos anak-anak di bawah ini, yang mengajarkan kepada saya bahwa kebahagian hidup itu sebenarnya terletak dekat sekali dengan kita, hadir dalam setiap waktu yang kita lalui dalam bentuk kehidupan sederhana yang mengasyikkan. Saya jadi tersenyum sendiri dan merenung, mengapa saya begitu jauh-jauh mencari ketenangan hidup dan penghilang stres jika solusinya sudah ada di depan mata. Tapi saya kira, saya memang harus ke sini dulu untuk mendapatkan jawaban itu. Dan anak-anak inilah yang mengajarkannya kepada saya. Dengan kesederhanaan dan kepolosan mereka. Kesederhanaan dan kepolosan dunia anak-anak yang selalu saya rindukan. Duh, senangnya menjadi anak-anak dan menikmati berada di usia itu.
Anak-anak pulau dengan kesederhanaan dan kepolosannya,begitu senang saat saya foto ;=)
Akhirnya perjalanan pun dimulai. Seperti postingan saya sebelumnya, dari awal niatan saya jalan-jalan adalah tanpa ikut paket tour yang banyak ditawarkan melalui situs jejaring sosial facebook maupun Kaskus. Sebelumnya saya sempat tertarik dengan paket yang ditawarkan oleh seseorang yang melakukan tagging foto panorama Pulau Tidung di facebook. Tapi setelah dipikir-pikir kok ternyata mahal ya jika diitung dengan akomodasi yaitu taksi dan perahu.
Maka, dengan pertimbangan bahwa kalau pun tidak dapat penginapan, kita rela untuk tidur di emper pelabuhan, emper sekolah, atau masjid. Bahkan salah satu teman saya sudah ngomong, jika terpaksa tidak mendapatkan penginapan, ia rela untuk camping dan tidur seadanya di tepi pantai. Mendengar hal itu, saya jadi semakin yakin karena menemukan teman yang mau diajak jalan dengan budget pas-pasan. Saya pikir, perjalanan saya kali ini akan lebih terasa suasana adventurousnya. Kami tiba di pelabuhan Angke saat lampu-lampu jalanan masih terang. Langit di angkasa menyala merah akibat radiasi lampu-lampu ibukota yang menyala kelewat terang. Setelah sholat subuh dan melakukan ritual pagi (saya termasuk yang suka kena morningsick alias hoek-hoek kalau pagi), teman-teman pun saya giring untuk segera masuk ke pelabuhan. Di situ ternyata sudah ramai pengunjung. Ada berderet kapal-kapal nelayan dengan berbagai tujuan di Kepulauan Seribu di antaranya yaitu ke Pulau Tidung, Pulau Pramuka, Pulau Bidadari, Pulau Unrust, dan lainnya. Perahu tujuan kami yaitu ke Pulau Tidung ternyata sudah siap dan hampir penuh. Melihat buritan yang masih lega saya pun mengode teman-teman untuk lewat perahu yang lagi parkir menuju perahu yang menuju ke Pulau Tidung.Setelah semua mendapat tempatnya masing-masing, kami pun sibuk sendiri-sendiri untuk membuat tempatnya paling nyaman sendiri. Saya lebih memilih di bangku pinggir paling belakang. Selain bisa melihat laut lepas tanpa penghalang, saya pikir melihat buih hasil baling-naling menarik juga. Dan setelah perahu mencukupi untuk membuat nahkodanya untung, akhirnya berangkat juga.Awalnya saya masih berkutat ngobrol ngalor ngidul dengan teman-teman saya, mengambil gambar dengan background yang bagus untuk diuplod di facebook. Setelah saya rasa cukup, saya pun pindah tempat duduk dan mencari teman ngobrol yang bukan dari gerombolan saya.
Inilah yang saya sukai saat jalan-jalan. Mengenal orang-orang baru yang sama sekali asing dan belum pernah saya kenal sebelumnya. Orang 'asing' pertama yang saya ajak ngobrol bernama Pak Asmari. Berawal dari tanya-tanya tentang nama-nama pulau dan jaring-jaring atau tempat pembudidayaan kerang yang kami lalui, akhirnya obrolan merembet ke topik tentang kehidupan pribadi.Dan coba tebak apa pekerjaan Pak Asmari ini? Beliau ini adalah seorang trantib. What? trantib. Pertama kali mendengarnya saya langsung berdesir hehehe. Secara kata itu selalu mendengungkan konotasi orang-orang yang 'membersihkan' manusia-manusia tak tahu aturan dan memanfaatkan jalanan umum untuk 'jualan' baik arti sebenarnya maupun arti kiasan.Pak Asmari sudah menikah tapi belum memiliki momongan dan ketika saya tanya ternyata beliau ini sedang ada acara di lapangan Monas dari satu minggu lalu. Baru bisa pulang setelah acara selesai. Beliau mengikuti acara gladi bersih untuk pergantian pemerintahan seorang petinggi pemerintahan di Pemda DKI. Tak jelas saya DKI bagian mana. Yang jelas, beliau diundang untuk mengamankan prosesi acara tersebut."Saya sudah seminggu ada di Jakarta, dan baru pulang sekarang. Kalau dinas ke luar pulau seperti ini, saya berat di ongkos mas, soalnya antara uang jalan dengan pengeluaran selama di kota gak imbang", kata Pak Asmari berkeluh kesah. Jika tidak sedang bertugas, Pak Asmari melaut. Dan ketika kita enak-enaknya ngobrol, tiba-tiba perahu yang kita tumpangi berhenti mendadak. Saya sudah khawatir saja. Soalnya perahu tersebut mogok, terombang-ambing di tengah laut, karena ada sampah yang nyangkut di baling-baling. Tak berapa lama, ada satu bapak-bapak yang tiba-tiba nyemplung ke laut dan menyelam, membersihkan sampah di baling-baling dengan peralatan selam seadanya. Wadew, apa gak takut tenggelam ya? Secara kan lautnya dalem. Mungkin karena hidup matinya ada di laut akhirnya menjadi biasa saja melakukan hal-hal yang menurut saya ekstrim seperti itu.Setelah dicek dan ternyata tak ada apa-apa, akhirnya perahu pun jalan kembali. Dan bapak-bapak penyelam (saya lupa tidak sempat menanyakan namanya) dengan santainya duduk di sebelah saya dan menyalakan rokok. Sesimpel itu kehidupan mereka. Jika belum jelas, mana Pak Asmari dan mana Pak Penyelam silakan cek foto saya yang paling atas, yang pakai topi adalah Pak Penyelam.
Pak Penyelam memang kegiatan sehari-harinya adalah ojek perahu seperti ini yang bertugas untuk membersihkan baling-baling yang tersangkut sampah. Saya jadi berpikir, orang-orang ini berjalan hilir mudik setiap hari mengarungi lautan dengan resiko yang tidak biasa. Mereka bekerja dengan ketulusan demi menghidupi keluarga mereka di pulau.Dan dari obrolan singkat itu, saya iseng-iseng untuk menanyakan bahwa bolehkah saya menginap di rumahnya. Kali ini Pak Asmari yang saya tanya. Tadinya beliau menjawab tidak bisa soalnya rumahnya memang tidak diniatkan untuk penginapan. Tapi beliau mencoba membantu saya dengan menanyakan rumah saudaranya kalau-kalau bisa digunakan untuk menginap saya dan teman-teman. Saya bilang saya perlu melihat rumahnya dulu soalnya bisa jadi saya cocok dengan suasana dan harganya, namun teman-teman saya kurang cocok. Saya jadi tahu bahwa meskipun hidupnya kelihatan susah, orang-orang pulau hobi banget untuk menelepon. Soalnya ketika saya tawarkan pulsa saya untuk menelepon saudaranya itu, beliau dengan cepat menjawab bahwa pulsanya masih banyak. Busyet. Trantib banyak pulsa rupanya. Akhirnya, biar tidak ribet dan menghindari sikap tidak enak (terus terang saya jadi tidak enak jika ternyata rumah yang ditawarkan tidak cocok setelah pulsanya keluar) saya akhirnya ngomong saja begini, Pak daripada bapak habis pulsa, mending kita tunggu saja, sebentar lagi perahu segera berlabuh, kita lihat saja dulu rumahnya. Eh si bapaknya jawab, gak apa-apa mas, santai saja sama saya. Wow, betapa ramahnya. Semoga bukan keramahan yang dibuat-buat. Dan akhirnya, kita kembali ke obrolan dengan grup masing-masing. Saya dengan teman-teman saya dan Pak Asmari dengan Pak Penyelam.Dari obrolan singkat tersebut saya jadi tahu bahwa hidup di pulau tidak selalu menemui fasilitas-fasilitas yang memudahkan kita untuk hidup. Di manapun kita tinggal, kita akan selalu menemui bentuk perjuangan untuk bertahan hidup. Tinggal bagaimana kita menjadikan bentuk perjuangan tersebut menjadi enak untuk dinikmati. Ketulusan menghargai orang lain kadangkala bisa diberikan dengan cara sederhana yaitu dengan memberikan informasi sejelas-jelasnya tanpa ada pretensi apa-apa. Jika informasi tersebut tidak mengandung efek yang membahayakan, tak ada salahnya berbagi informasi kepada sesama. Transfer ilmu yang paling efektif kadang kala bisa terjadi melalui obrolan ringan yang sama sekali tidak kita sadari bahwa sebenarnya mempunyai arti yang tidak biasa bagi kehidupan kita.Saya jadi berpikir, bahwa apa yang saya lakukan belum apa-apa karena saya mudah mendapatkan fasilitas yang saya inginkan asal punya uang. Tidak perlu menunggu sampai besok untuk bisa pergi ke mana-mana gara-gara tempat tinggal saya tak terpisahkan lautan untuk sampai ke ibukota. Saya sebenarnya lebih 'bebas' daripada kedua bapak-bapak yang saya temui di perahu. Dengan pemikiran tersebut akhirnya perahu yang kami tumpangi merapat di dermaga Pulau Tidung yang sudah ramai dengan penduduk yang menjemput orang-orang yang sudah memesan rumah mereka untuk penginapan. Welcome to Tidung Island, welcome to a little piece of heaven. PS: Pada perjalanan kali ini saya cukup beruntung bisa melihat ikan lumba-lumba di laut lepas dan ikan cucut yang meluncur-luncur di atas permukaan air. Senangnya. ;=)
Aku diam. Malam sepi. Pemandangan yang ada hanyalah langit-langit dengan cicak yang lari ke sana ke mari menangkap nyamuk. Meskipun kutahu malam di luar sana belum usai, aku berusaha untuk segera menamatkannya. Berhenti di satu titik untuk melebur ke alam mimpi.
Aku capek. Aku lelah. Aku tak habis pikir. Betapa menggilanya hidup yang harus dijalani seorang manusia. Aku menyaksikan kehidupan malam tadi. Betapa banyak kepalsuan yang ditampilkan untuk sekadar mendapatkan sematan bernama pujian. Aku tertawa. Lebih banyak merasa miris. Tak kuhiraukan seorang pelacur yang menggodaku menjadi pendosa. Tak juga kudengarkan khotbah Sang Pendeta yang mengobral surga. Aku ingin sebuah kehidupan yang serba biasa. Tak ada yang perlu dilebih-lebihkan. Apalagi direkayasa.
Seperti malam ini. Masih kutatap langit-langit bercicak itu, sambil berpikir, jika diijinkan untuk memilih jenis kehidupan seperti apa yang layak dijalani, aku akan memilih hidup dalam kewajaran. Tak perlu ada plus atau minus. Tak ada positif dan negatif. Tak ada mayoritas dan minoritas. Dualisme perbedaan itulah yang selama ini menuntunku pada serangkaian perdebatan tanpa arti. Menjadikanku semacam budak sains yang seolah tahu segalanya. Atau mungkin, menjadikanku semacam robot yang paling keras kepala yang pernah ada di muka bumi.
Malam masih sepi. Tak ada jangkrik berderik. Atau musik berhentak. Perhatianku teralih ke sudut ruangan. Tempat bertumpuknya macam-macam buku terdiam mengonggok. Menunggu untuk dijamah. Buku-buku itulah mungkin yang layak diberikan penghargaan atau mungkin disematkan pujian. Ia layak disebut teman. Serta mumpuni disebut setan. Tak tahu apakah terlalu sarkastis diriku menyebutnya. Tapi setelah kupikir-pikir, ia juga layak disebut dosen. Dengan mata kuliah bernama keegoisan. Lama diriku menatapnya. Tak pernah terpikirkan olehku seperti itu. Setidaknya sampai malam ini.
Mataku belum terpejam. Perut sang cicak juga rupanya belum terpuaskan. Apakah enaknya menjadi pendosa? Tiba-tiba pikiran itu mengejutkanku. Lalu, apa juga menariknya menjadi pertapa? Tak pernah terlintas di pikiranku untuk menjadi keduanya. Walaupun tak menutup kemungkinan sekelumit hidupku pernah mencicip keduanya. Entah sengaja, entah tidak. Namun setelah kupikir-pikir, hidupku--juga hidup semua orang-- adalah fusi keduanya. Pendosa dan pertapa. Meski beda komposisi. Tapi yang sungguh membuatku tak habis pikir, mengapa orang begitu mudahnya memberikan label pada orang lain? Memberikan penilaian seolah dirinya adalah juri-juri dunia yang tugasnya adalah menempelkan sebuah papan nama pada diri orang lain--yang dalam beberapa hal tidak mereka kenal dengan baik.
Ia pendosa, selayaknya di neraka. Si Anu pertapa, sangat pantas masuk surga. Lalu, manusia yang bukan pendosa dan bukan pertapa tempatnya di mana?
Pikiran tersebut seperti hendak membisikkan sebuah jawaban atau mantra pengantar tidur. Sebuah pikiran kecil terlintas, yang membuatku tersenyum, sambil perlahan-lahan melemaskan diri, menempatkan tubuh dalam posisi yang nyaman untuk berbaring. Pikiran itu adalah sebuah jawaban atas pertanyaan yang baru saja melintas.
Di dunia
Pada suatu malam yang sunyi dan penuh keheningan, dunia seolah terasa khidmad menunduk, menghentikan rutinitasnya untuk berotasi. Sesosok tubuh yang tak terlapisi selembar pun benang, duduk dalam posisi lotus. Meditasi. Membuat pikiran seolah-olah kosong. Namun, berisi. Kesan paradoks yang melingkupinya seakan hirau terhadap mereka yang tak mengerti. Karena tujuannya hanya satu: melihat ke dalam diri.
Dalam ke-Diri-annya yang terbangun dengan sedikit sakralitas, lahirlah sebuah jiwa yang seakan terpisah namun melekat. Sebuah dualitas yang esa. Dan di situlah esensi laku ini: mencari kebenaran dalam dialog dengan diri. Jiwa yang melekat dengan tubuh berhadapan dengan jiwa yang terlepas dari tubuh.
Kau siapa?
Aku bagian dari dirimu. Bagian dirimu yang hanya akan kau temui dalam sebuah kesadaran meditatif.
Apa bedanya dengan diriku?
Tak ada, kita diciptakan sebagai sesuatu yang tunggal, yang satu melengkapi yang lain sebagaimana yang lain tak dapat hidup tanpa adanya yang satu.
Mengapa dirimu terpisah?
Hanya persepsimu saja yang mengatakan demikian. Rasionalitas kadangkala sangat menjebak. Ilusi seringkali mengekang sebuah absolutisme. Maka dari itu, mulailah untuk membebaskan pikiranmu.
Sebentar, kamu bilang tadi kau bagian dari diriku, sampai di sini aku masih asing tentang dirimu. Aku merasa kau seperti orang lain, dan penjelasanmu sedikit membuatku pusing.
Hahaha ... memang begitulah yang akan dilakukan setiap orang ketika mereka bertanya pada diri sendiri. Ketercengangan. Bingung. Merasa ruwet. Sungguh hal biasa dan sangat umum. Hal terakhir yang diketahui oleh seorang manusia adalah tentang diri mereka sendiri.
Mengapa? Tolong, jangan membuatku merasa lebih bodoh?
Karena manusia jarang sekali yang melihat ke dalam Diri. Untuk sejenak merenung dan melakukan koreksi atas diri. yang sering kau lakukan adalah mengoreksi orang lain, seakan dirimu adalah sosok sempurna dalam dunia yang penuh ilusi ini.
Jiwa yang melekat pada diri terdiam. Walaupun kesadarannya menerima penjelasan jiwa yang bebas, sejuta pertanyaan masih menggantung di mulutnya.
OK. Sekarang aku akan menanyakan satu hal. Apa yang harus aku lakukan?
Diam. Hening. Mengamati. Mendengarkan. Menilai dalam hati tanpa harus menghakimi. Pernahkah kamu berpikir, mengapa raga yang kau tempati mempunyai sepasang mata dan telinga serta hanya punya satu mulut. Karena hal itu mengisyaratkan bahwa yang perlu kau lakukan dalam hidup adalah banyak melihat dan banyak-banyak mendengarkan. Tak perlulah kau bersuara kalau memang tak benar-benar dibutuhkan.
Mengapa? Bukannya segala sesuatu akan lebih jelas jika kita angkat bicara?
Bisa ya, bisa tidak. Ketika jiwa kita terkuasai oleh otoritas mulut dan lidah, segala sesuatu bisa membuncah tanpa kendali yang kuat. Tak bisa dipungkiri, pengalaman membuktikan bahwa lidah kadangkala lebih tajam dari mata pisau. Iblis dan para setan itu, hidup merdeka bergelantungan di sana. Berhati-hatilah.
Ah, mulai sok tau dirimu itu.
Aku tidak memintamu untuk memercayai segala ocehanku. Segalanya kembali padamu. Hidup ini penuh teka-teki. Hanya pilihan-pilihanmulah yang membuatnya layak untuk dijalani. Kau boleh memilih kehidupan dalam alam materialis yang penuh ilusi dan bujukan hawa nafsu. Atau kau boleh juga menjalani hidup dalam konteks kekayaan batin dalam wadah kebahagiaan yang kekal.
Apa itu kekayaan batin dalam wadah kebahagiaan yang kekal? Setahuku tak ada kekekalan di dunia fana ini. Roda kehidupan selalu berputar. Bagaimana kau bisa menjelaskan kebahagiaan itu kekal?
Jiwa yang bebas tersenyum mendengarnya. Lalu diam sejenak. Tak lama kemudian ...
Kebahagiaan yang kekal dibangun dengan pondasi yang baik. Keikhlasan yang menjadi ruh penggeraknya. Takkan pernah lahir suatu kebahagiaan sejati tanpa diliputi keikhlasan yang utuh. Keluh kesah hanya akan meninggalkan kegundahan, kebencian, dan balas dendam. Tak perlu ada kalkulasi dalam dunia keikhlasan. Ini memang bukan hal mudah untuk dijalankan.
Bagaimana melakukannya?
Dengan berlatih.
Caranya?
Tetapkan niat dan buatlah komitmen. tak ada keduanya sama saja dengan pepesan kosong.
Lalu?
Kuasai perutmu.
Apa? Perut? Maksudmu?
Ya. Perut. Tempat bersemayamnya nafsu. Akar segala kejahatan dan kerusakan adalah tak terurusnya nafsu dengan baik. Buatlah makhluk dalam perutmu menjadi jinak dan tak punya kuasa atas jiwamu. Ini akan menjadi sebuah peperangan yang maha dahsyat saat jiwamu melawan nafsumu. Di sinilah kebijaksanaan dirimu akan menjalani ujian.
Stop sebentar. Yang perlu kau tau, aku benci dengan peperangan. Tak adakah cara yang dapat menegekang hawa nafsu tanpa harus berkonfrontasi?
Ada. Selalu ada jalan dalam mengekang hawa nafsu. Puasa.
Hah, apa? Puasa? Aku takkan menyiksa diriku sendiri hanya untuk berdamai dengan sang Nafsu.
Puasa bukan sebuah bentuk penyiksaan diri. Ragamu masih boleh mencecap dan bercengkerama dengan sang Nafsu. Yang kau perlukan hanyalah sebuah pengaturan. Sebuah tatanan yanag memberikan barikade yang jelas di mana nafsu tidak lagi bebas melancarkan aksinya.
Terjadi keheningan sesaat. Jiwa yang melekat pada diri mencoba mencerna penjelasan tersebut.
Kau berkata seolah tak pernah berurusan dengan nafsu.
Siapa bilang aku tak pernah berurusan dengan nafsu. dalam setiap detik yang menggerus waktuku selama hidup, nafsu senantiasa melekat dengan ke-Diri-anku. Hanya saja, tak pernah kuijinkan selamanya jiwaku didaulat menjadi budaknya.
Tapi, mana bisa? Kekuatan nafsu kan kekuatan yang membius? Halusinasi absurb yang membuat orang lalai tanpa merasa lalai.
Pertanyaannya, yang berbicara tadi jasadmu atau jiwamu. Yang menggerakkan pikiranmu itu logikamu, hatimu, atau nafsumu? Berikan batasan yang jelas. Kalau dirimu tahu dengan jelas jawabannya--karena memang harus dirimu sendiri yang menemukan jawabannya--tak akan pernah ada ceritanya, nafsu menguasai jiwamu.
Jiwa yang melekat pada tubuh mulai kacau pikirannya. Mencerna penjelasan dari jiwa yang bebas memang diperlukan sebuah totalitas berpikir dan kejernihan hati. Tak boleh diartikan secara parsial. Dalam keadaan chaos tersebut, dualitas kembali dalam esa. Menyatu. Satu. Memang, seperti dijelaskan oleh para pakar, meditasi bukanlah merupakan sarana mengurangi masalah. dalam beberapa kasus, mediatsi justru menambah masalah.
Saat jiwa dan raga terjalin erat, tak dibutuhkan lagi tali untuk membuatnya menyatu. Pagi telah menjelang. Hidup pun akan dimulai kembali. Tubuh yang termeditasi serentak bangun. Memulai hari dengan serangkaian peperangan yang berkecamuk dalam diri.