Showing posts with label June Blogging Series. Show all posts
Showing posts with label June Blogging Series. Show all posts

Friday, June 25, 2010

Episode #30: Meet and Greet with Trinity (The Naked Traveler)

Jalan-jalan. Apa enaknya sih? Tadinya saya memang sudah suka jalan-jalan. Tapi acara jalan-jalan saya masih sebatas jalan-jalan biasa. Maksudnya tidak dengan gaya backpacking, tidak seperti seorang traveller, dan jauh sekali dikategorikan sebagai sebuah acara petualangan. Paling banter jalan-jalannya masuk dalam kategori rekreasi yang lazimnya dilakukan oleh siswa SMP atau anak kuliah yang mengadakan acara karyawisata. Begitu masuk dalam kejamnya dunia Jakarta, tahulah saya beberapa orang yang suka jalan-jalan dalam arti yang lebih menarik, lebih ada tantangannya, dan lebih punya seni. Dan saya sudah beberapa kali jalan-jalan ala itu.

Seninya jalan-jalan bukannya dalam bentuk bisa menikmati pemandangan indah, menginap di hotel mewah, atau naik transportasi kelas eksekutif. Yang dimaksud seninya jalan-jalan di sini adalah pengalaman-pengalaman yang tidak bisa didapat kalau kita ikut paket tour. Jadi, jalan-jalan yang dilakukan di sini adalah jalan-jalan independen yang musti kita siap-siapin semuanya sendiri. Mulai dari reservasi tiket, penginapan, dan lain-lain. Kejadian yang dialami pun juga macam-macam. Kadang kejebak macet, pesawat yang delay, dapat hotel dengan harga yang miring, makan di tempat yang murah meriah tapi enak, kenal dan bercengkarama dengan orang yang sama sekali asing sebelumnya, atau mengalami pengalaman pahit seperti ketemu hantu, dicopet, dan lain-lain.

Selain karena sharing pengalaman dengan teman-teman sesama penyuka jalan-jalan, saya membaca buku The Naked Traveller karya Trinity. Dari buku ini, banyak sekali ide atau keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat yang pernah dikunjungi oleh Trinity dengan gaya jalan-jalannya yang unik dan 'lucu' saat diceritakan. Eh, setalah 3 bulan saya beli bukunya, tiba-tiba ada pengumuman dia akan datang dalam acara sharing jalan-jalan di Teras Kota, BSD, Serpong, Tangerang Selatan. Wah daerah jajahan itu. Asik asik asik. Akhirnya pada Kamis sore tanggal 24 Juni 2010 saya meniatkan untuk datang di acara tersebut. Selain pengen tahu pengalamannya langsung tentang jalan-jalan, tanda tangan di bukunya, saya juga pengen minta foto buat nyirik-nyirikin teman-teman yang kenal dengan Trinity juga.

Sore menjelang, kerjaan kantor selesai. Pas banget buat capcus ke tkp. But, too bad. It was rainy outside. Akhirnya ditunda dulu. Sholat magrib dan 'dandan' dikit karena memang gak sempet mandi. (kayaknya gak ada yang tahu soal ini). Setelah hujan reda, akhirnya sampai juga. Seperti biasa Teras Kota sudah ramai dengan pengunjung. Tapi, setelah saya perhatikan, ternyata kebanyakan adalah anak-anak ABG usia SMU. Yah, pantesan, ini kan ada acara Terakustik, acara musik anak-anak BSD di Teras Kota. Ditambah pula ada nobar Piala Dunia. Wah asik banget jadinya.
Setelah itu, daripada bete sendiri, saya memutuskan untuk ikut dalam euforia acara anak-anak ABG ini. Yah, berasa tuir sih, secara yang ada di sini (kebanyakan setelah saya perhatikan) anaknya menye-menye gitu dan heboh kalau ketemu ama temen-temen se-gengnya. Lah, padahal tadi kan baru ketemu di sekolah. Capek deh banget kan nglihatnya. Dengan pasang muke gaul saya ikutan menghambur di kerumunan sambil sesekali cekrak-cekrek kalau ada 'objek' bagus. Dan kalau musiknya lagi asik dan break dancenya asik, badan seperti gerak-gerak sendiri buat ikutan nge-dance. Musiknya happening sekali untuk acara-acara kayak gini. Berasa seperti ada di dalam diskotik. Begitu kira-kira ada 4 peserta yang perform dance mereka, acara diselingi dengan talkshow. Inilah sebenarnya yang saya tunggu-tunggu. Ternyata Trinity tidak sendirian. Ada beberapa orang backpacker yang juga ikut sharing dalam acara ini. Tapi maaf, saya lupa namanya. Terlalu sibuk dan terpesona dengan anak-anak muda yang meskipun dingin dan berhujan gini, masih juga gaya pakai tanktop dan celana pendek. Saya saja pakai pakaian lengkap plus jaket jeans. Acara berlangsung lancar, setelah acara-acara dance yang kata orang-orang 'acara gak jelas' (tapi saya suka kok), acara talkshow mungkin agak lebih 'down' secara sharingnya adalah kegiatan backpacker. Bagi anak-anak kota ini, menurut saya ini, jarang banget yang punya keinginan kuat untuk jalan-jalan dengan cara itu. Kebanyakan lebih suka jalan-jalan rame seperti rekreasi atau tamasya keluarga yang fun dan gak mau capek. Sebenarnya kalau boleh mengulang waktu, saya ingin memulai acara backpackeran ketika masih muda (usia sekolah at least SMU) karena lebih banyak waktu luang dan belum banyak masalah yang perlu dipikirkan. Yang diperlukan saat backpackeran sebenarnya hanyalah niat dan kemauan untuk langsung jalan saja tanpa banyak pemikiran ini itu. Soalnya kalau banyak sekali pertimbangannya, saya yakin kegiatan tersebut justru tidak akan terlaksana.

Dan surpraise dari acara ini, begitu giliran Trinity akan diajak ngobrol, hujan tiba-tiba datang dengan derasnya. Perabot panggung dan sound system dipindah ke dalam ruangan. Panelis diungsikan ke tempat yang lebih nyaman. Dan penonton yang budiman disuruh mencari tempat berteduh sendiri-sendiri. Ya elah. Tadinya saya udah jiper aja kalau sampai gak dapet foto dan tanda tangan Trinity, secara saya sudah bela-belain datang, bisa terlambat nonton bola, yang mana kalau nyampai rumah sebelum jam 9 malem, alamat tv bakal on line dengan sinetron. Oh no. Hujan masih bergulir deras. Para penonton masih asik gosip sana gosip sini. Dan saya semakin terasa jadi orang aneh di antara alien-alien ABG ini. Saya perhatikan, Trinity sedang bercengkerama dengan sepasang suami istri Tionghoa sambil tak henti-hentinya ngebul. Hahaha. Menjelang acara piala dunia mulai, belum ada tanda-tanda hujan reda dan acara akan di mulai. Panitia sepertinya sibuk untuk mengarrange ulang acara untuk dipindahkan ke dalam ruangan.

Saya yang mulai bete, akhirnya mulai mencari-cari cara supaya dapat tanda tangan dan foto-foto agar pulang tidak dengan tangan hampa. Saya mencari-cari panitia yang kelihatan paling sibuk, itu saya anggap sebagai koordinator acara atau ketua panitia. Kebetean saya mulai bertambah saat Trinity diungsikan ke dalam Hotel Santika. Yah bisa batal foto-foto dong. Akhirnya, saya samperin satu orang yang belakangan saya tahu namanya Edwin. Saya minta diantarkan ke dalam untuk minta tanda tangan. Dengan muka welcome si Ebing (panggilan si Edwin) mengajak saya masuk ke Hotel Santika yang ternyata menuju ke ruang rapat di basement (bukan di kamar hotel, yailah). Dan di situlah sodara-sodara saya ketemu dengan yang namanya Trinity Traveller itu. Horay.

Pertanyaan standar pun di sampaikan. Dari mana tahu acara ini, bagian buku mana yang paling menarik, dan blablabla. Karena saya sendirian di sini (semuanya panitia soalnya) jadi agak sedikit gugup jawabnya, padahal sih karena kedinginan dan belum makan dari siang. Kalau saya perhatikan Trinity memang -maaf- gendut, udah jelas dong. Saya jadi teringat dengan tokoh kartun favorit saya, Baby Huey. Tapi, memang saya akui pintar. Kelihatan dari bahasanya. Dan satu hal, mandiri. Biasanya orang-orang seperti ini menyukai tantangan dan jarang disepelekan oleh orang lain, bicaranya ceplas-ceplos, dan gaul. Saya juga merasa nyaman berada di antara orang-orang ini karena (sepertinya) tidak menye-menye, well in education, dan easy going. Setelah acara tanda tangan di kedua buku The Naked Traveller dan foto-foto (saya belum punya buku Duo Hippo Dinamis, saya gak suka komik), semua orang keluar dari ruangan sempit ini menuju Teras Kota. Sedianya acara akan dilanjutkan di dalam ruangan, tapi karena acara piala dunia juga sudah mulai, maka panitia memutuskan mengganti acara serupa di kemudian hari.

Saya dan Trinity

Bagi saya acara ini gak sia-sia. Saya sudah dapet foto bareng, tanda tangan, dan sedikit sharing tentang pengalaman berbackpackeran. Karena acara piala dunia sudah mulai, saya langsung melesat ke hall utama Teras Kota, mencari tempat paling nyaman buat nonton, dan ikut dalam euforia piala dunia. Wah bakal seru ni, secara yang maen Slovakia vs Italia. Asik asik asik. Walaupun begitu, setelah Slovakia menang 3-2 atas Italia, saya pulang dengan hati riang. Gak papa deh Italia kalah, yang penting udah ketemu Trinity (lho?).

Siapa tahu suatu saat bisa nonton bola langsung di daratan Eropa dan foto-foto sama pemain-pemain bola dengan tahu caranya jalan-jalan asik. Siapa tahu kan? hehehe ;=)

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2010 di Teras Kota, BSD, Serpong

Narsis dulu saat break. yahay ;=)

Thursday, June 24, 2010

Episode #29: Cerita dari Bilik Toilet (1)

Pergi ke manapun saya ketika sedang trip, tempat pertama yang saya cari adalah toilet. Mau berangkat ke terminal, stasiun, atau bandara biasanya ke toilet dulu. Begitu sampai di tempat-tempat tersebut, setelah cek tiket, jadwalnya ya ke toilet. Setelah naik moda transportasinya, biasanya sih begitu sampai musti ke toilet juga. Haduh. Sepertinya hidup ini tak mau jauh-jauh dari toilet.

Berangkat dari blusak-blusuk di bermacam-macam toilet, mulai toilet stasiun, terminal, bandara, pom bensin, hotel, rumah penginapan, bus, kereta, warung, sampai di mal, bioskop, losmen, rumah orang gak kenal, saya jadi mengenal macam-macam toilet. Ada toilet nyaman yang membuat saya jadi gak nyadar kalau kelamaan di kamar mandi. Ada juga toilet bau dan jorok yang membuat saya gak jadi melakukan 'tugas' saya di situ. Kalau lagi jalan ke rumah, kontrakan, kos-kosan, atau ke mana gitu biasanya sih yang saya lihat toiletnya dulu. Kalau toiletnya bersih, ya berarti orang yang punya juga rajin dan cinta kebersihan. Kalau kotor berarti ya ... gitu deh.

Toilet yang pernah saya pakai terbilang unik-unik. Ada yang bak penampungannya tinggi sehingga musti usaha kalau ambil air pas jongkok, ada juga yang bak penampungannya ceper (baca: rendah) sehingga musti hati-hati agar kalau pipis gak nyiprat ke bak. Ada yang kamar mandinya luas seukuran kamar saya di rumah, ada pula yang ukurannya kecil kayak gudang tempat menyimpan sapu. Ada yang berair asin dan rata-rata berair pam. Ada yang 'sepi', ada pula yang berhantu.

Toilet berhantu kan kedengarannya serem ya. Tapi sebenarnya kalau kita gak bikin ulah dan bersikap wajar, makhluk di alam lain itu juga gak bakalan ganggu kok. Ceritanya begini, beberapa teman trip saya ada yang mempunyai kemampuan untuk melihat makhluk-makhluk halus seperti itu. Entah dari mana mereka belajar mengasah kemampuan supranaturalnya saya tak begitu paham. Dan dari merekalah cerita-cerita toilet 'berpenghuni' mulai sedikit mengganggu trip saya.

Pertama, waktu liburan di Pulau Belitung, kita menginap di salah satu hotel yang langsung menghadap pantai. Alasannya supaya kalau pagi dan sore bisa jogging tak jauh-jauh dari kamar. Katanya sih hotel itu milik anak salah satu mantan presiden RI. Wadeh, pantesan bagus. Dan tarifnya selangit. Untung kita rame-rame, jadi harganya bisa dibagi rame-rame pula. Kasurnya memang empuk, saya yang kecapekan kelayaban seharian langsung tepar waktu nyium aroma bantalnya. Dan yang paling membuat nyaman adalah kamar mandinya yang seluas ruang keluarga dengan atap yang sebagian membuka langsung ke langit. Jadi, kalau kita mandi di showernya, serasa mandi telanjang di lapangan terbuka. Namun demikian, pas malam datang, tiba-tiba si Ari bilang 'pren, temenin gue ke toilet, gue gak berani pipis sendirian.' Saya dan teman-teman langsung pada ketawa-ketiwi dong, secara dia udah tuwir masak takut pipis sendiri. Apa mau dipegangin coba. Ternyata, setalah selesai ditemenin, dia bilang 'di toilet itu ada hantunya. hantunya cewek, taringnya panjang, ada tanduknya, udah gitu di ujung bibirnya ada darah ngalir kayak iler, rambutnya panjang. yang bikin ngeri bukan itu, tapi matanya. Matanya awas terus gak berkedip mengarah ke sini. ke aku maksudnya'. Lah dalah. Uka-uka ini namanya.

Padahal niatnya nginep di sini kan mencari sedikit kenyamanan. Udah gitu semua pada jiper ketakutan ke toilet. Tapi untungnya hantu iblis wanita itu cuma ada di kamar si Ari. Di kamar yang saya tempati bebas hantu. Hahaha. Secara raja hantunya nginep di sini. Si Bambang maksudnya, si hantu laut. Namun begitu, setiap kali mau ke toilet biasanya semua lampu saya nyalakan, suara tivi saya besarkan, dan selalu ngobrol dengan teman walaupun ketutup ama pintu dan tembok. Duh. Dan segala sensasi uka-uka itu akan berakhir setelah tepar tidur semua dan tak lama kemudian pagi menjelang.

Trip Uka-uka versi hantu toilet yang kedua saya alami saat trip ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Waktu trip ke situ memang kita gak ikut paket tour. Jadi berangkat dari rumah langsung ke Tidung via Muara Angke. Gak jelas mau nginep di mana pokoknya kalau sampai gak dapet penginepan, kita mau tidur di masjid atau di pelabuhan. Tapi, pas di perahu, saya ngobrol dengan salah satu penumpang yang ternyata penduduk asli Tidung. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, saya tanya apakah saya dan teman-teman boleh nginep di rumahnya. Ternyata rumahnya sudah penuh, tapi ada rumah saudaranya yang available. Begitu sampai, melihat rumahnya, dan ternyata harganya cocok dengan kantong kita, akhirnya kita check in.

Dan mulailah acara 'keajaiban-keajaiban' itu. Waktu kita lagi ngobrol di depan tv, si Bambang melihat kemasan air mineral 1 liter mulai bisa berdiri dengan miring. Tapi dia diam saja. Dia kucek-kucek matanya takut salah lihat eh setelah dilihat lagi, botolnya tetep saja berdiri dengan miring. Busyet. Setelah malam menjelang, tiba-tiba si Bambang bilang 'entar jangan pada tidur dulu ya sebelum gue tidur. trus lampu ruang tamu jangan dimatiin'. Semua pada mikir kenapa si Bambang tiba-tiba jadi aneh. Karena semua sudah pada ngantuk, jawabannya baru kami ketahui keesokan harinya. Di pojokan deket kulkas yang menuju kamar mandi, ada cewek yang nglihatin terus. Ciri-cirinya juga gitu, mata melotot, bertanduk, bibir ngiler darah di ujungnya, dan tak henti-hentinya menahan kedip. Mampus. Dia naik turun menyusuri dinding sambil melotot ke arah kita. Bagus deh. Nanti kalau mau ke kamar mandi biar ditemenin sekalian.

Yang sial kalau masalah hantu-hantuan tetap saja si Bambang. Semua sudah pada tidur, termasuk Bambang sudah mimpi indah lengkap dengan suara ngoroknya yang bising kayak bajaj. Tiba-tiba saja, Suhaidi merasa kedinginan. Ia gak bisa tidur karena kipas anginnya menyala terus dan lampunya terlalu terang. Diam-diam dia matikan kipas angin dan lampu ruang tamu. Barulah Suhaidi bisa tidur pulas sampai pagi. Di sisi yang lain, Bambang musti tidur dalam lampu terang dan kipas angin menyala. Karena kepanasan (dosanya keluar ini hahaha) si Bambang tiba-tiba kebangun. 'Sial' katanya. Kalau sudah bangun dia susah tidur lagi. Apalagi yang lain-lain sudah tepar semua. Itulah saat-saat si Bambang 'main mata' bareng si hantu. Eh selidik punya selidik dia tidak tidur sampai anak-anak bangun keesokan paginya.

Untung acara trip keburu selesai, setelah mandi dan rapi, kita cepat-cepat balik ke Jakarta karena ada salah satu anggota trip yang harus ibadah. Yah, Tuhan memberkati. Hehehe. ;=)

PS: Baru nyadar, hantu-hantu pada gentayangan soalnya yang trip hantu laut semua.

Wednesday, June 23, 2010

Episode #28: Trip Bareng Bule (2)

Pada tanggal 06 November 1999, tiga orang Indonesia bernama Andrew Darwis, Ronald, dan Budi berhasil membuat situs forum komunitas maya yang diberi nama Kaskus. Berawal dari kasak-kusuk (asal nama forum ini), kaskus awalnya dibuat karena hobi dan berawal dari komunitas kecil di kalangan teman-teman mereka. Kini, kaskus merupakan komunitas maya terbesar di Indonesia, dengan anggota lebih dari 1.620.000 orang, tidak hanya tinggal di Indonesia tapi juga di mancanegara, berasal dari berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga orang dewasa.

Dan berawal dari kasak-kusuk juga, setelah lama tidak jalan-jalan saya ditawari oleh teman saya untuk sailing trip dari Mataram, Lombok ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Informasi ini dia peroleh juga dari kaskus. Setelah saya cek, dari segi waktu dan harga sepertinya sesuai dengan kantong saya yang bisa mengakomodasi trip kelas backpacker, maka saya mengiyakan saja ajakan tersebut. Waktu itu saya tidak tanya, siapa saja yang bakalan ikut sailing trip ini. Mengingat rute yang akan ditempuh cukup jauh, saya yakin yang ikut adalah manusia-manusia tahan banting juga. Dan saya juga mengira kalau yang ikutan kebanyakan adalah orang Indonesia.

Begitu sampai di meeting point daerah Senggigi, barulah saya nyadar. Yang senang dengan jenis traveling sail adventure kayak gini justru orang bule. Teman saya si Bambang tiba-tiba nyeletuk 'wah kok yang ikut bule semua ya, mana orang Indonesianya'. Karena kami pikir yang bakal ikutan trip adalah orang Indonesia juga, jadi tak perlu khawatir masalah semuanya. Eh ternyata bareng bule. Si Bambang udah jiper duluan karena gak bisa bahasa Inggris. Si Jefry milih melihat situasi daripada ikutan panik. Saya, wah senang sekali akhirnya bisa trip bareng bule. Mana di sini bulenya cantik-cantik, ganteng-ganteng, bersih, masih muda lagi (kelihatannya sih usianya gak jauh beda). Berbeda dengan bule yang ada di perahu saya, bule-bule di perahu sebelah udah tua-tua, gembrot, bulu-bulu di tubuhnya awut-awutan, hahaha, wah senangnya dapat perahu yang ini.

Jadi, setelah acara shock pertama tripnya bareng bule, si Bambang mau tidak mau mulai pasang aksi bete takut dicuekin. Tapi tenang saja, saya dan Jefry tak akan nyuekin teman sendiri. Kami akhirnya berangkat dari Senggigi ke Labuan Lombok memulai trip kita ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Beranggotakan 11 orang, kami serasa keluarga dari beragam bangsa. Unity in Diversity.
Terdiri dari 3 orang Indonesia (saya, Jefry Hutapea, dan Bambang Dwi Sampurno), 4 orang Inggris (Jamie Hernon, Emily Thomas, Joe Heron, dan Dena Bembridge), 2 orang Perancis (Biebie dan May), dan 2 orang Kanada (Mitchell Jay dan Andre Bagel). Baru kali ini saya 'hidup' bareng orang asing dan belajar banyak tentang kebudayaan mereka termasuk bahasa, kebiasaan, sifat-sifat, dan mulai terbiasa dengan segala sesuatu yang awalnya sangat asing atau hanya saya tahu dari buku, film, berita di televisi, dan surat kabar. Bagaimana tidak, kami akan ada di perahu ukuran 4 x 12 meter ini selama 4 hari bersama. Mengarungi laut dengan ombak yang tak terprediksi.

Untungnya, bule-bule di sini ramah-ramah. Mereka senang berbagi pengalaman dan pengetahuan. Tentang tempat-tempat yang pernah dikunjungi, tentang keadaan negeri masing-masing berikut pandangannya terhadap negara asal. Tentang makanan, tentang hobi, dan kesukaan dalam hidup. Dan yang paling membuat saya senang, mereka-mereka ini memiliki kebiasaan dan kesukaan yang hampir sama dengan saya yaitu sama-sama suka baca buku. Jenis buku yang dibaca pun tak jauh beda. Wah klop banget jadinya. Jadi, begitu malam datang, setelah acara makan malam, kita semua sibuk dengan dunianya masing-masing, tenggelam dalam dunia buku yang dibawa dari rumah. Acaranya membaca dan membaca. Semua sibuk membaca, kecuali dua setan sialan teman saya dari Jakarta (Benk dan Jefry) yang sudah siap ngorok begitu sudah tidak ada yang perlu dikerjakan. Paling banter, mereka berdua akan maen kartu remi sebagai pembunuh waktu.

Trip bareng bule kali ini juga terbilang unik, mengingat ini adalah pertama kalinya kita hidup bersama dalam ruang sempit perahu ketinting. Pertama soal makanan. Karena trip ini memang 'dijual' untuk pangsa pasar bule, maka tak heran jika semua-muanya hampir-hampir adalah untuk mengakomodasi kehidupan bule sehari-hari. Sebelum berangkat mbak-mbak operator trip ini bilang, lebih baik bawa bekal roti atau apa daripada nanti gak cocok makanannya, secara perjalanan ini jauh, bakalan ada di perahu terus, dan gak akan nemui warung kecuali sudah merepet di Labuan Bajo. Kalau bisa, nyetok air mineral juga karena air tawar yang disediakan juga sedikit. Kebiasaan yang sudah-sudah, bule-bule kampret itu suka makai air tawar buat bilasan. Si Bambang kembali jiper mendengar penjelasan tersebut. Dia yang orang Sunda mendadak bisa nyletuk dalam bahasa Jawa 'waduh, kalo tripnya bareng buleh sih gue gak masalah, tapi kalau menunya menu londo semua, wah bisa budhal kabeh isi wetengku'. Akhirnya, daripada salah langkah, kita beli beberapa bungkus roti, biskuit, dan air mineral. Yah, kok jadi rempong gini ya jadinya. Tapi karena tidak terlalu berat, akhirnya saya bawa kantong plastik penuh cemilan ini.

Ketika menjemput salah satu rombongan di daerah Lombok Timur pun , orang-orang pada beli perlengkapan lain, termasuk kartu remi, obat-obatan seperti obat flu, lotion anti nyamuk, antimo, dan tentu saja, beberapa kaleng bir bintang sebagai penghangat. Hohoho. Dan itu yang membuat saya agak kaget di perahu. Secara saya gak minum-minum begituan, melihat semua kru pada minum bir kayak minum air mineral saja jadi agak jiper juga. Yang saya agak kagumi adalah si Jamie bisa buka tutup botol bir dengan sandalnya. Seperti sebuah atraksi akrobatik, semua pada tercengang, bagaimana bisa dia melakukan itu dengan mudahnya. Yang lebih membuat saya shock (lebay mode on) adalah Emily yang katanya guru SD itu minum bir dari botol kayak minum cocacola saja. Gubrak. Guru SD minum bir. Kalau di Indonesia bisa dapat komentar macam-macam itu. Kalau saya sih ya sudah. Maksudnya, urusan minum bir kan urusan pribadinya. Dan itu dilakukan di luar dunia kerjanya kok. Lah, kalau dia minum-minumnya di dalam kelas itu baru musti mutilasi. Hehehe.

Kedua adalah kebiasaan dalam hal tidur. Cuaca ketika kita sailing trip berubah-ubah. Kadang-kadang cerah, sinar matahari menyapa hangat dibarengi angin sepoi-sepoi. Kadang-kadang hujan lebat disertai ombak yang bergelombang. Hidup mati sepertinya tergantung pada nahkoda perahu kita. Suhu pun berubah-ubah secara drastis. Siang panasnya minta ampun sampai-sampai kasur jadi lembab dan bau keringat. Jika malam, dinginnya sampai menusuk tulang. Saat jam tidur sudah mulai (jam berapa ya itu?), saya sudah siap makai pakaian lengkap. Karena suhunya duingin banget (pernah sampai mencapai suhu 18 derajat Celcius), saya pakai kaos plus jaket, training, dan selimut sampai menutupi ujung kaki. Untuk kepala saya pakai tudung kepala, itu pun muka musti ditutupin ke sela-sela tas karena emang duingin banget. Begitu sudah ngambil posisi nyaman, saya pun mulai tidur. Tapi, dinginnya malam bener-bener membuat kami agak kurang nyaman saat tidur. Saya tengok kanan kiri. Buset. Si bule-bule itu malah pada telanjang. Hampir semuanya tidurnya cuma pakai kolor doang. Kulitnya jadi berubah kemerahan semua seperti orang biduran. Hahaha. Sebelah kiri saya si Benk (wah pemandangan gak sedap ini) dan sebelah kanan saya si Dena (xixixixi yummy). Tapi kita hampir-hampir gak pernah saling menatap. Soalnya pada merem semua, lampu kalau malem dimatikan. Paling pol saya bisa menatap punggungnya (dan mereka-reka apa yang ada dibaliknya hehehe. Naughty).

Mungkin inilah momen yang bagi mereka agak aneh untuk orang Asia, khususnya Indonesia. Bagi kita mungkin tidur dengan pakaian lengkap sudah menjadi hal yang wajar, tapi bagi mereka tidur ya musti harus menanggalkan baju. At least pakai kolor doang. Kalau saya sih pada suhu segitu jelas gak kuat kalau musti shirtless pas tidur. Kalau di Jakarta dengan suhu yang puanas (di malam hari sekalipun) mungkin masih rasional saya gak pakai baju (cuma pakai sarung doang ternyata enak lho, sriwing-sriwing hehehe). Suatu pagi Emily bilang ke saya, bagi orang Inggris, suhu segini sudah termasuk hangat. What the hell? Ya Allah, berkatilah kami. Terima kasih karena tinggal di negeri yang disapa sinar matahari setiap hari.

Ketiga adalah masalah bladder problem. Karena tak biasa dengan suhu dingin terus-menerus, kami memang punya masalah dengan kemauan untuk pipis melulu. Mengingat akan sailing trip dalam waktu yang lama, setiap sore saya mencoba untuk mengatur agar pas malam tiba (dengan ombaknya yang gedhe itu), saya tidak merasa perlu untuk ke kamar mandi. Fyi, kalau mau ke kamar mandi musti merangkak melewati bule-bule yang lagi leyeh-leyeh, plus lampu mati, plus musti pegangan erat-erat biar gak jatuh. Udah gitu letak kamar mandinya ada di ujung buritan, kecil pula, dan ada di dek bawah. Menyiksa diri bener (lebih lengkapnya akan saya tulis di postingan tersendiri). Kalau masalah toilet-toiletan, paling sial si Beng. Saya sudah menyelesaikan 'tugas' saya pas sore. Jadi aman. Si Benk bilang 'kok gue belum ngrasa kudu buang air besar ya'. Dan begitu malam tiba (pukul 1 malem kalau gak salah), saat ombaknya gedhe banget, si Benk mulai terasa harus menjalankan 'tugas'nya. Baggooosss. Gak kebanyang Benk yang segede gajah musti merangkak di antara bule plus duduk di toilet 'setengah badan' dalam keadaan terguncang-guncang. Pasti asyik sekali. ;=)

Orang yang bangunnya paling pagi adalah si May, bule Perancis yang seksi itu. Jam 4 pagi dia sudah bangun buat pipis. Habis itu, setengah jam kemudian baru saya, karena harus sholat subuh. Lainnya karena memang berbeda agama (atau juga gak memeluk salah satu agama) ya bangunnya setelah matahari udah sepenggalah. Inilah mungkin yang sudah saya kenal dari kebiasaan bule saat saya trip ke Bali. Malamnya dugam-dugem, minum-minum, dan ngobrol-ngobrol sampai
tipsy, habis itu molor sampai siang.

Yang paling menyenangkan dari trip dengan bule adalah orangnya sangat efektif dan on time. Mereka tidak berusaha mencampuri urusan orang lain. Tahu banget kapan waktunya bersosialisasi dan paham benar bahwa orang lain juga punya saat 'me time' dalam satu hari yang dijalaninya. Jadi, pas maen bareng ya kita haha hihi bareng, tapi begitu sibuk dengan dunianya sendiri seperti baca buku, menulis notes di catatan masing-masing, main-mainin laptop, ya masing-masing dari kita tidak berusaha untuk mencari tahu apa yang dilakukan apalagi sampai menginterupsi, yang bisa disangka mengusik kebebasan orang lain. Untungnya, semua orang di sini sudah 'tahu sama tahu'. Dan semua berjalan secara wajar. Keramahan disampaikan sesuai dengan porsinya. Bukan ramah rajin menjamah.

Kadang-kadang teman senasib seperjalanan seperti ini bisa menjadi lebih baik daripada sahabat atau saudara yang jauh. Karena hampir kemana-mana bareng, makan bareng, tidur bareng, hiking bareng, tracking bareng, waktu sailing trip yang cuma seminggu jadi tak terasa saat perahu kita merapat di dermaga Labuan Bajo karena kita musti berpisah untuk melanjutkan trip kita masing-masing. Yang paling membuat saya terngiang, pas mau balik ke Jakarta via pelabuan Sape, salah satu kru bilang bahwa kita dicariin sama bule-bule itu pas gathering malam sebelumnya di Gardena. Yah, karena itu malam terakhir kita di Labuan Bajo, gak asik dong kalau cuma makan-makan seafood di restoran. Kita punya agenda lain sendiri yang lebih asyik tentunya. Thawaf keliling kota, sambil mencicipi setiap lokasi 'asyik' di kota yang jadi gerbang masuknya Taman Nasional Komodo.

Trip sama bule jika dapatnya teman yang 'sehati' seperti ini memang mengasyikkan. Saya jadi ingin sekali trip atau tinggal di luar negeri untuk beberapa waktu. Yah, semoga kesampaian dalam hidup saya kelak. Makanya, gak ada salahnya kok belajar bahasa Inggris, maen-maen facebook atau twitter, atau kaskus. Ya siapa tahu juga, berawal dari kasak-kusuk di blog ini, tiba-tiba ada yang ngajak buat trip ke Eropa. Ngarep. Yayay ;=)

Saya dan teman-teman saat tracking di Pulau Rinca
Nusa Tenggara Timur
(great honour to Benk and Jefry for taking a nice picture)

Tuesday, June 22, 2010

Episode #27: Trip Bareng Bule (1)

Apa menariknya sih trip bareng bule? Dulu, waktu masih SMP, teman-teman saya tamasya ke Jogja, mengunjungi Borobudur, Keraton Jogja, Prambanan, dan begitu sudah masuk sekolah lagi dibawalah beberapa foto kenangannya bareng bule. Waktu SMU juga gitu. Teman-teman saya ke Bali dan begitu udah masuk sekolah lagi, dengan bangganya bilang 'ini lho foto-foto saya bareng bule'.

Hah, apa menariknya coba? Dulu waktu masih sekolah keinginan untuk kenal bule hampir-hampir gak ada. Pertama, karena dulu belum bisa bahasa Inggris. Kedua, karena (katanya) bule itu bau. Begitu saya 'menjajah' Jakarta dan mulai menginvasi mal-mal, mulailah saya tahu macam-macam bule, dari bule ganteng sampai bule cantik, dari yang kaya sampai yang kere, dari yang pebisnis sampai yang turis semua ada dan tumplek blek di Jakarta. Wah, teman-teman saya bisa ngiler foto ama bule nih? pikir saya.

Anyway, tadinya tidak kepikiran hidup saya bakal berhubungan dengan bule. Tapi sejak senang jalan-jalan dan menyadari bahwa kemampuan bahasa Inggris itu penting, mau gak mau saya musti sekali-kali ngobrol dengan bule untuk melatih kemampuan speaking dan listening.

Waktu ke Belitong, saya belum begitu berani ngobrol dengan bule. Cuma 'say hey' saja. Pas ke Bali baru agak berani. Berangkat dengan teman-teman akhirnya nyampai juga saya ke Pulau Dewata. Sejak di bandara Soekarno-Hatta, saya tertarik dengan sekelompok anak muda yang unik-unik (wajahnya mirip dengan boneka barbie). Selidik punya selidik, ternyata mereka berasal dari Jerman. Pantas saja. Bangsa Arya memang selalu perfecto untuk tampilan fisik.

Selama di Bali pun, entah bagaimana, yang paling sering jalan bareng kami adalah bule Jerman. Di hotel tempat kami menginap pun banyak bule Jermannya. Ceritanya suatu pagi saat sarapan nasi goreng bareng teman-teman, ada cewek Jerman cantik duduk sendirian dengan anggunnya. Dari gelagat dan 'tanda' matanya sih mengundang saya untuk join ke mejanya. Setelah terjadi beberapa kali kontak mata dan lempar senyum, saya berniat menghampiri mejanya. Tapi, begitu saya mau beranjak, tiba-tiba dia menguap dengan mulut selebar kuda nil. Huuuaaahhhh. Glek. Bener-bener kebo. Langsung deh saya konsentrasi dengan telor mata sapi yang terhidang di depan saya.

Malam di Bali bisa lain lagi. Di sinilah saya pertama kali lihat orang ciuman sampai denger bunyinya. Plok. Hehehe. Saking kerasnya bibirnya bertabrakan. Haduh, jontor gak tuh bibir ampe bunyi gitu. Legian menjadi jalan penuh bule, dengan mayoritas orang Australia yang merajai setiap diskotek di sepanjang jalan. Mereka sudah seperti pemilik area itu saking seringnya nongkrong di situ. Sampai-sampai pas saya mau foto di depan welcome board-nya Paddy's Club, si bule Australia gak mau menyingkir barang sebentar. Padahal saya sudah meminta dengan sopan lho. Lengkap dengan please di belakangnya. Huft. Dasar bule Australianya sengak banget, akhirnya saya yang milih menyingkir duluan. Eh, begitu kita mau off ke hotel (waktu itu jam 2 pagi WITA), ketemu lagi sama bule-bule Jerman yang ketemu di Soekarno-Hatta kemarin. Wah kuat bener tu bule dugemnya.

Banyak bule saya temui di Bali. Bule India bahasanya relatif mudah dimengerti. Mungkin karena orang Asia, jadi dialeknya gak jauh beda dan bahasanya kedengaran seperti Singlish (Singapore English). Paling jorok menurut saya adalah bule Korea. Mungkin pas saya trip ke Bali bertepatan dengan liburnya orang Korea sampai-sampai mau ke mana-mana yang menuhin adalah orang-orang Korea. Saya katakan jorok karena kalau pas bilasan habis berenang, air kerannya diputer paling gedhe. Jadi airnya melimpah ke mana-mana di kamar ganti. Udah gitu, kalau ganti baju, pintunya jarang ada yang ditutup. Yah naked gitu. Nggilani pol. Pengen muntah bener saya.

Kisah saya dengan bule Jerman rupanya belum berakhir. Sepulang dari Bali, dua minggu kemudian saya trip ke Pangandaran, Jawa Barat. Di situ saya ketemu lagi dengan bule Jerman. Kita berenang bareng sambil ngobrol-ngobrol di Pantai Batu Karas yang lautnya lumayan tenang. Awalnya sih saya di pinggir. Mungkin karena keasyikan ngobrol, tak terasa ban yang saya tumpangi terbawa arus hingga ke tengah. Mampus. Saya gak bisa berenang pula. Dengan tersengal-sengal saya berusaha mencari bantuan. 'Tolong tolong, help help, somebody help me'.

Parahnya orang yang paling deket adalah si bule Jerman itu. Saya minta tolong ke dia untuk ditarik ke pinggir karena gak bisa berenang. Dan tau gak ekspresinya gimana? Datar dan biasa saja. Kampret. Dia bilang saya becanda gak bisa berenang. Hah, udah megap-megap gini masih dikira becanda. Akhirnya saya teriak lagi manggil-manggil teman saya yang lagi asyik latihan surfing. Untunglah bantuang datang. Si Amir yang pandai berenang itu menggeret saya ke pinggir dengan kakinya yang bau, lengkap dengan tawa terbahak-bahak akibat dicuekin si bule Jerman. Penderitaan saya belum berakhir. Begitu sampai ke pinggir, ban yang saya tumpangi terbalik. Saya jatuh terjungkal dengan kepala di dalam air dan kaki nyangkut di ban. Bagus deh. Air laut masuk semua ke kuping dan mulut. Yah nasib. Untung saya gak norak pengen foto bareng bule segala. Bisa tambah malu ni muka hehehe. ;=)

Episode #26: Pengalaman Pertama Naik Pesawat

Sesuatu yang dilakukan pertama kali dalam hidup, biasanya mendatangkan perasaan campur aduk. Misalnya, pertama kali saya belajar naik sepeda, dada ini rasanya berdebar-debar, antara bahagia bisa naik sepeda seperti teman-teman dan deg-degan karena takut jatuh dan nabrak pagar tetangga. Pas pertama kali belajar sepeda motor juga seperti itu. Perasaan deg-degannya lebih besar daripada saat belajar naik sepeda. Kali ini karena bahagia akhirnya bisa naik motor sambil mainin klakson sak enak udele dewe dan paling takut kalau simpangan ama mobil.

Perasaan deg-degan karena melakukan sesuatu pertama kali dalam hidup seperti itu muncul lagi saat mau naik pesawat terbang. Sudah lama saya menjadi bulan-bulanan teman-teman karena belum pernah naik pesawat terbang. Kebanyakan teman kuliah saya sudah pernah naik pesawat terbang. Teman-teman kantor saya juga sudah banyak yang sudah. Kedua orang tua dan saudara saya semuanya sudah pernah naik pesawat terbang. Cuma saya yang masih setia naik bus atau kereta api kalau ke mana-mana.

Adalah Ari Subagya, salah satu teman di kantor yang tiba-tiba saja mengajak saya naik pesawat. Dia adalah orang yang nantinya membuat saya jadi ketagihan jalan-jalan walaupun sendirian. Berbekal pengalaman yang sama, dikumpulkanlah 6 orang yang sama-sama belum pernah naik pesawat. Alasannya sederhana: biar tidak saling mengejek gara-gara baru naik pesawat. Halah. Gak penting banget. Setelah itung-itung budget, saya akhirnya mengiyakan ajakan Ari untuk mencoba naik pesawat. Dan tujuan kita pertama kali adalah Pulau Belitong.

Mengapa Pulau Belitong dipilih pertama? Karena film yang lagi happening saat itu adalah Sang Pemimpi, ringtone handphone saya adalah Komidi Putar-nya Bonita (salah satu soundtrack Sang Pemimpi), dan karena salah satu teman kantor kita (namanya Suhaidi) lagi pulang kampung di Belitong sana. Pas kan, jadi gak perlu ada acara-acara nyasar segala jika ada guide penduduk setempat.

Setelah tiket pulang pergi Jakarta-Tanjung Pandan-Jakarta di tangan (saya naik Sriwijaya Air, the one and only pesawat ke Belitong waktu itu), entah bagaimana berita saya mau 'terbang' jadi bocor ke semua orang (aargghh ini yang paling saya benci). Ke mana-mana saya jalan, pertanyaan seperti 'waduh, mau jalan-jalan ya', 'wadew, mau naik pesawat ya', dan pertanyaan sejenis mulai terlontar. Gangguan mulai datang. Yang paling parah 3 hari sebelum berangkat saya sudah mulai gak bisa tidur (lebay.com).

Itu sih belum seberapa. Dua hari sebelum berangkat, mulai tambah lagi parno saya. Ibu-ibu yang hobi gosip mulai membuat 'masalah'. Dengan bijaknya menasihati saya, 'Adie, kamu mau jalan-jalan naik pesawat ya? Udah ijin ama ibumu belum? Ijin dulu dong, kan mau pergi jauh, naik pesawat pula, orang kan gak tau, sekarang cuaca lagi buruk kayak gini. Hujan terus tiap hari, mana petirnya gedhe-gedhe lagi'. Busyet. Kesannya kayak mau mati aja waktu mau naik pesawat. Udah gitu temen-temen lain yang seumuran pada ngledekin lagi 'Adie, udah nulis surat wasiat belum, siapa tau diperlukan'. Hahaha. Sepertinya doanya kok jelek-jelek amat ya.

Akhirnya hari H datang juga. Subuh menjelang dan saya pun berangkat ke bandara. Ternyata sudah ramai sekali, padahal jam 6 pagi belum juga berdentang. Setelah cek tiket akhirnya boarding juga. Dan sebelum masuk pesawat, keluar dong penyakit norak saya. Foto di depan pesawat. Wajib dong hukumnya. Secara ini kan penerbangan pertama saya hehehe.

Setelah di dalam pesawat, apa yang saya lakukan. Berdoa, berdoa, dan berdoa. Dan ini menjadi kebiasaan (wajib) saya saat bepergian naik transportasi apapun. Cuma kalau di pesawat, selain doa sendiri biasanya saya baca buku doa yang tersedia di kursi. Saat komat-kamit sendiri, si Ari dan gerombolannya ketawa cekikikan gara-gara tingkah parno saya. Pesawat tingkat landas dengan mulus dan hati tenang sentosa. Pas kira-kira di atas kepulauan Seribu agak ke utara dikit tiba-tiba saja pesawat goyang-goyang gara-gara nabrak awan. Hadewh. Tangan saya refleks pegangan kursi dan mulut komat-komit kayak dukun. Hahaha. (Si Ari dan kawan-kawan cekikikan lagi di seberang ngliatin saya, kampret bener). Dan setelah beberapa kali acara 'nabrak awan' dan komat-kamit, akhirnya kami mendarat dengan sempurna di Bandara H. AS. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan. Alhamdulillah.

Seperti juga acara jalan-jalan yang membuat candu, naik pesawat pun bikin saya ketagihan untuk mencoba lagi dan lagi. Sama ritualnya seperti sebelumnya, cuma setelah-setalahnya saya jadi agak tidak parno lagi kalau naik pesawat. Saya sudah mulai mahir booking tiket, jadi rajin searching tiket promo, mulai bisa relaks saat menikmati delay jadwal keberangkatan, mulai relaks saat melihat pramugari-pramugari yang cantik-cantik itu memeragakan alat bantu darurat atau menawarkan suvenir, dan mulai tau momen yang pas kapan harus foto di depan pesawat. Hehehe. Dan paling parah ni, pas penerbangan yang terakhir saya lakukan, saya sudah mulai berani main kartu di dalam pesawat di ketinggian 36.000 kaki. (Gimana mainnya coba? I just knew it ;=P )

Ah, ngomongin naik pesawat, saya jadi ingin sekali naik Airbusnya Garuda Indonesia. Kapan ya kira-kira? ;=)

Monday, June 21, 2010

Episode #25: I Love Indonesia

Dengan cara apa sebenarnya yang paling efektif untuk mengekspresikan bentuk kecintaan kepada Indonesia tercinta? Pertanyaan ini sebenarnya lebih tepat dilontarkan saat refleksi peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Tapi, beberapa waktu lalu saya mendengar teman-teman saya sedang sibuk menjelajah Indonesia dalam rangka Program Aku Cinta Indonesia yang diselenggarakan oleh Detik.com.

Senang sekali rasanya bisa jalan-jalan. Apalagi salah satu mimpi saya adalah bisa keliling Indonesia. Syukur-syukur bisa gratis. Tapi kalau tidak dapat gratisannya ya semoga diberi rezeki yang cukup supaya bisa tetap jalan-jalan.
Lalu, apakah yang membuat kegiatan jalan-jalan bisa menumbuhkan rasa cinta kepada negeri Indonesia tanah air tercinta.

Suatu ketika saya sempat berkenalan dengan buku berjudul Eat Pray Love karya Elizabeth Gilbert. Buku ini tentang pelepasan seseorang terhadap simbol-simbol kesuksesan yang biasa dialami orang dalam hidup baik meliputi karir, keluarga bahagia, harta melimpah, dan derajat yang tinggi di masyarakat untuk kemudian melakukan pencarian jati diri di Italia (eat = makan-makan enak dan menikmati kuliner Italia yang memang sangat kaya), India (pray = beribadah, mengenal Tuhan melalui suatu pengasahan spiritual dalam yoga), dan Indonesia (love = pencarian cinta yang 'konon' memang tumbuh subur dalam 'surga-surga' kecil di Indonesia).

Buku tersebut sempat membuat saya bangga bahwa suatu tempat di muka bumi yang katanya merupakan sarang teroris disebut sebagai tempat untuk mencari cinta. Cinta di sini saya artikan bukan dalam arti hubungan lelaki perempuan tapi lebih kepada kasih kepada sesama. Saya pernah berkunjung ke Bali dan berdasarkan pada apa yang saya rasakan, ada tempat-tempat di Bali yang dapat membawa ketenangan batin bagi saya untuk sejenak melupan rutinitas, rehat sejenak dari keruwetan ibukota, dan berusaha berada di 'titik nol' dalam diri.

Mungkin bukan itu yang disebut sebagai menemukan diri. Tapi merasakan sejenak jiwa dan fisik kita jauh dari segala kepenatan hidup cukup untuk membawa semangat baru saat kembali beraktivitas dan bergelut dengan rutinitas. Saya tak tahu pasti, apakah itu efek liburan. Saat sebelum liburan dimulai, biasanya darah ini gampang sekali mendidih, saya menjadi mudah tersinggung dan marah-marah, lebih banyak cemberut, dan badan terasa membawa karung bermuatan tiga ton. Namun, setelah pulang liburan biasanya saya jadi murah senyum, semangat untuk menerima tantangan, dan berusaha mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya tanpa merasa perlu marah-marah.

Mungkin itu juga yang membuat saya berpikir bahwa kecintaan kepada negeri Indonesia tercinta bisa tumbuh dari mana saja. Melihat wilayah Indonesia dari dekat, ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi sama sekali, kadang-kadang bisa mendatangkan perasaan syukur bahwa sebenarnya apa yang sudah kita punya merupakan madu yang layak untuk dinikmati, bukan untuk dicela gara-gara melihat ada tempat lain yang (mungkin) menurut orang lain lebih menarik daripada Indonesia. Selain itu, melihat dari dekat wilayah-wilayah di Indonesia bisa mendatangkan perasaan bahwa ternyata Indonesia itu luas, makanya jangan biarkan sekalipun orang-orang asing menguasai sejengkal wilayah di Indonesia.

Memang kalau kita lihat, masih banyak kesenjangan antara wilayah Indonesia Barat dengan wilayah Indonesia Timur. Infrastruktur dan pembangunan sumber daya (alam maupun manusia) masih belum merata. Ini merupakan PR bagi bangsa kita di masa ini.

Sebagai orang Indonesia, entah mengapa sampai saat ini saya belum merasa tertarik untuk travelling ke luar negeri selain untuk sekolah. Teman-teman saya sudah berusaha mendorong-dorong saya untuk membuat paspor supaya bisa berangkat ramai-ramai ke Singapura atau Pucket. Tapi, saya kok lebih suka jika diajak keluyuran ke wilayah-wilayah di Indonesia saja. Jika ada waktu, dana, dan ajakan teman, saya lebih suka memasukkan tempat-tempat seperti Sikuai, Danau Toba, Derawan, Kakaban, Tana Toraja, Wakatobi, Bunaken, Raja Ampat, Kelimutu, dan Rote dalam daftar tunggu acara jalan-jalan saya berikutnya daripada ke Singapura atau Kuala Lumpur.

Yang jadi permasalahan saya sebagai orang Indonesia yang masuk kategori 'biasa-biasa' saja, menjadi agak berat jika datang ke wilayah Indonesia yang kebanyakan didatangi oleh para bule. Karena charge-nya bisa pakai dolar atau euro. Jalan-jalan ala gembel pun bisa terasa males kalau ternyata jatuhnya bakal mahal juga biayanya. Tapi walaupun begitu, jalan-jalan itu penting. Manfaatkan cuti. Tidak ada salahnya mencoba mencari, melihat, dan mengamati kehidupan orang-orang yang jauh dari keseharian kita dan ambil nilai-nilai kehidupan yang tersaji di dalam perjalanan itu.

Indah, jelek, bagus, cantik, hijau, biru, subur, gersang, terang, gelap. Itu semua mungkin akan kamu temui. Dan sadarkah dirimu kalau itu adalah negerimu tercinta Indonesia. Mulailah menikmatinya. ;=)

Gambar dipinjam dari sini.

Sunday, June 20, 2010

Episode #24: Sex

This year lebaran will be a very boring moment cos full of questions about marriage. I don't like to speak it too much. Cos, right now, I'm happy with my own life-my single status. I don't know why, in Indonesia, especially in Java community, gossiping someone or making a chat with each other means a duty. Fortunately, if the topic is about marriage, a crowd of women can take a several time to forget their duty to serve their own family. Cuih, so boring and yikes to know abaut this phenomenon.

Actually, I don't care about what people says, but as a social climber, I have to take a part in some of public event, not only in my job's world, but also in my 'real life'. This makes me so hard to ignore on how people think about something. Naturally, I'm a carring people. But, I don't like to be point of view in this crazy world. You know, I just want to be a free people. Trully free from something else that not really closed to me.

And if you want to know abaut my marital status, I still single. But don't worry about this, I want to be a good husband someday. But not now. I'm not ready enough to be a part of a small new family cos I think this is the time that my old family, I mean, my parents, my brother, my cousins, my uncle, my aunt, and my friends feel that I'm not alone. And I want to enjoy my single status right now. The important thing should you know (espicially for cute, beautiful, young, smart, and good in religion girls), I'm trying to find you, a good choise for me to build a good, small, and happy family to create a big and warm love from a small part of our effort.

But I don't want to marry you right now. Maybe two or three years later. Time flies honey. It doesn't matter to me if you don't agree with my choise. But, everyone, not just me, must have a good plan to get a great happiness and meaningfull in their life. Hohoho, why I suddenly speak about marriage. It must be because lots of my friend have just married. They said that their life after getting a marital status was very happy than single life. In my mind (and also theirs mind), it source to one thing: sex.

Maybe it's very unpolite to speak about sex in this uncommon forum. But my blog is so personal for me. One more time, if you don't like its content, you can leave this blog without reading or even leaving some comments. But, I'm very greatfull if you wanna speak to me abaout your own experience when you build your marital status. I just want to learn as much as I can about this subject.

Yes, sex is one of the most important thing to say and speak about. But, lots of people would be very shy to speak about this lovely subject. Maybe, because in Indonesia, this is very unpolite if you speak abaut sex when you still underage. It's so silly. Your voice can't be count not because of your competency but from your own unidentified sign.

Back to our subject: Sex. Someday, I have been reading a book about sex. The title of this book is Marriage for Happiness (Menikah untuk Bahagia, in Bahasa). This book of sex guide is base on Islamic way of life. I read this book coz, just like I said before, I want to learn this subject, start form the theory of course, and then, if Allah said yes, two or maybe three years later, I will marry a lovely girl who match with me. Cheerfully to think about that lovely moment. Yayay. As I read this book, the theory is so closed to our life. We can identify of a girl or a man who may match to our choise by seeing some sign in their body language. So much smile to enjoy this funny and useful book. I recommend this book to you who still single and in the way to find your groom.

But, in my opinion, after I read this book, sex itself, has some purpose. I don't mention one by one coz I don't try to be a f*cking spoiler. Just read it by yourself. When I identify, some poeple have a big desire and some other have a small. A happy marriage one should choose an equal between them to their relation. I don't know the detail but this opinion is quite logic. If you have a great desire on sex activity, choose your girl or boy who may related to you. Don't choose 'the wrong' relation if you want to get the greatest satisfaction on sex.

On the other hand, I see some people unmarriage. I think they choose their own life. And I see the poeple who love to be alone, even in their old living, is the most independent people at all. They never be a paracit not only to their friend but also to their family. And they are so happy. In Indonesia, when your age was 30 years old and you haven't yet marriage, your neighbor will take you to the hottest topic to speak about to their lovely and pleasant gossip time. The most important think I want to ask is Does he/her need a sex? When they need to express their sex desire, where will they express their big desire? I don't let you to think a yikes topic, but this is just my curiousity itself of this topic. Hehehe, you can see how funny and so seriously to speak about sex.

Ok, while I find and read farther information about sex, I think this is enough for this note. Don't do sex in front of your parent and your own camera. It's very dangerous. And, don't do it when you still unmarriage. Sex before marriage is strictly prohibited.

The picture is taken from this site.

Episode #23: Absurdnya Sebuah Ucapan Selamat

Situs jejaring sosial seperti facebook sepertinya telah menjadi semacam candu bagi saya sampai-sampai pas kebangun tidur pada tengah malam, hal yang pertama dilakukan adalah melihat jam dan up date-an status. Kebiasaan yang tidak baik memang. Dan saya sudah berusaha mengubahnya dengan meletakkan handphone biasa (artinya tidak bisa untuk koneksi internet) di samping bantal saya selain setumpuk buku yang jadi pengantar tidur. Membaca status-status tak penting itu kadang saya juga agak jengah. Pasalnya hal-hal remeh temeh saja harus ditulis layaknya infotainment melansir berita tak penting para artis ibukota.

Selain melihat status biasanya saya juga mengecek siapa yang sedang berulang tahun di hari itu. Tapi, melihat teman saya yang jumlahnya ribuan itu kok jadi males juga jika yang berulang tahun dalam hari itu banyak. Pasalnya, bukan apa-apa, tapi karena dari sekian ribu itu hanya beberapa saja yang saya pernah bertemu langsung dengan manusianya. Lainnya maya. Paling males lagi jika tahu tulisan di wall teman yang rajin sekali memberi ucapan selamat sejak pagi-pagi sekali. Sepertinya ada satu poin istimewa yang membuatnya menjadi semakin 'lain' jika menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat.

Dan ucapan biasa atau standar ucapan selamat di facebook adalah kalimat seperti 'hi, selamat ulang tahun ya, wish u all de best', 'met ultah ya, WUATB', dan ucapan-ucapan sejenis yang serupa dengan itu. Bagi mereka itu biasa. Bagi saya kok ya basi banget ya. Maksudnya, kalau Anda membaca ucapan yang sama, dari orang yang sama, selama berhari-hari dalam satu tahun, tidakkah Anda berpikir kalau ucapan itu hanya penuh basa-basi belaka. Dan itulah yang sangat tidak saya sukai di dunia ini. Hidup penuh basa-basi, biar kelihatan bagus di luar tapi masam di dalamnya.

Dan untuk kasus saya, mengucapkan selamat ulang tahun kepada teman di facebook merupakan hal yang luar biasa. Kalau memang tidak terlalu kenal biasanya saya tidak mengucapkannya, apalagi jika yang ulang tahun adalah seorang figur publik. Mending di balas, di baca pun kadang tidak. Jika melihat banyak ucapan seperti itu, paling-paling cuma menulis status 'temans, terima kasih ya ucapannya, maaf tidak bisa dibalas satu-satu'. Begitulah biasanya. Sebiasa ucapan yang dilontarkan seperti kebiasaan. Nyaris tak meninggalkan jejak makna sedikitpun.

Maaf, mungkin ada sebagian yang tidak setuju dengan pendapat saya ini. Tapi itulah yang saya rasakan. Bagi saya, memberikan ucapan selamat ulang tahun itu layaknya menghadiahi seseorang sebuah doa di hari (yang dianggap) istimewa. Jadi harus dilakukan dengan wajar, penuh dengan khidmat, dan tidak palsu. Ucapan yang ditulis nyaris sama kepada semua orang yang sedang berulang tahun menunjukkan bahwa ucapan tersebut hanya mandeg sebatas menjadi formalitas penyedab atau bumbu pertemanan. Lainnya itu nonsense.

Pernah suatu ketika terbersit niat untuk menghilangkan tanggal kelahiran di facebook. Alasannya supaya mata saya tidak terganggu membaca status atau ucapan yang sangat biasa itu. Tapi niat itu hanya sebatas niat. Belum saya laksanakan hingga saat ini. Dan saya pun masih menjalankan kebiasaan lama saya untuk tidak mengucapkan selamat ulang tahun kepada sembarang orang jika memang tidak terlalu kenal. Selain biar tidak dikira SKSD, ya biar tidak kecanduan untuk melakukan sesuatu yang tidak perlu. Dan inilah saya, seseorang yang mulai belajar menjadi pribadi yang efektif dan berusaha berkreatif sesuai dengan jalan pikiran yang menurut keyakinan saya benar. Selamat berhari Minggu. ;=)

Saturday, June 19, 2010

Episode #22: Sebuah Pertanyaan

Tuan Pos datang pagi tadi
Mengantar surat beramplop putih
Satu pertanyaan sederhana menantiku di depan pintu
Jika Tuhan memberimu 'kunci' surga
Akankah kamu masih beribadah kepadaNya?

Akupun diam seribu bahasa
Sambil tak hentinya menangisi pertanyaan
yang tak bisa kueja jawabannya

Jadi selama ini
Ibadah ini untuk siapa?
Tuhan ...

atau

....... SURGA!!!

Friday, June 18, 2010

Episode #21: Belajar Bahasa Inggris

Sepertinya sudah mendekati titik nadir bahwa belajar bahasa Inggris memang mutlak diperlukan dalam hidup saya. Ada beberapa kejadian dan alasan yang saya alami selama satu tahun ke belakang sehingga membuat saya berpikir 'inilah saatnya bahasa Inggris harus menjadi bagian dari bahasa sehari-hari dalam hidup saya'. Sudah bukan saatnya pula menganggap bahwa penggunaan bahasa Inggris hanya untuk sok-sokan. Biar dikata orang modern, sok wertern, tidak menghargai bahasa sendiri, atau sebutan lain, mulai saat ini saya akan tutup telinga saja.

Kejadian yang memaksa untuk belajar bahasa Inggris adalah:

Traveling. Karena suka jalan-jalan, persoalan bahasa merupakan masalah yang biasanya kerap saya hadapi saat traveling. Pesan tiket, bahasa dalam kertas tiket, buku-buku petunjuk traveling, blog-blog para traveler kebanyakan berbahasa Inggris. Pas ke Bali, hampir semua informasi, pamflet, brosur, menu makanan menggunakan bahasa Inggris. Di sana pun, seperti surganya para turis asing. Saya sempet barengan pas naik pesawat dan dugem dengan para bule Jerman dan India.

Kalau bertemu teman jalan sama bule-bule gitu, biar komunikasi lancar, bahasa Inggris harus OK biar tidak terlalu banyak eee eee eee kalau pas ngobrol dengan bule. Catatan: bule kebanyakan tidak akan merespon obrolan orang terlalu lama mencari kata-kata. Itu dianggapnya bahwa orang yang gagap bahasa Inggris dianggap tidak menghormati lawan bicara. Nah lo? Saya pernah mengalaminya saat berenang di laut selatan di Pantai Pangandaran. Waktu itu ban yang saya tumpangi terseret ombak ke tengah. Karena saya belum bisa berenang, makanya saya minta tolong ke bule-bule Jerman yang saya ajak ngobrol pas saya masih di pantai tadi. Dan (bodohnya saya) karena bahasa Inggris saya kurang lancar, si bule merasa apa yang saya omongkan itu merupakan jokes garing ala remaja. Mulai saat itu saya mulai merasa bahasa Inggris penting bagi hidup saya.

Membaca. Sepertinya saya sudah sering membahas topik ini. Tapi, mungkin interest saya terhadap buku sedikit bergeser. Untuk memenuhi hasrat yang besar akan bahasa Inggris, mulai sekarang sedikit demi sedikit saya mulai membeli buku-buku berbahasa Inggris. Selain untuk koleksi, sekalian untuk belajar dan memperbanyak kosakata juga. Ya memang sih, jika dilihat dari harga, buku-buku berbahasa Inggris memang harganya lebih mahal secara di Indonesia masih merupakan buku impor. Jikapun, buku bahasa Inggris itu terbitan Indonesia, harganya juga ikut-ikutan harga buku impor. Sigh.

Sekolah. Cita-cita saya dari dulu adalah bisa sekolah di luar negeri. Negara-negera yang ingin sekali saya kunjungi banyak sekali. Melihat mahalnya biaya untuk bisa ke sana, beasiswa sepertinya adalah jalan satu-satu yang terpikirkan saat ini karena saya bukan (baca: belum termasuk orang kaya), bukan anak orang kaya, dan belum memiliki uang dalam jumlah besar untuk membiayai keinginan saya tersebut. Berbekal dari pengalaman teman-teman saya yang saat ini (cukup beruntung) bisa sekolah di luar negeri, sepertinya bahasa Inggris merupakan jembatan bagi siapa saja yang berniat menjalin atau mencari hubungan dengan dunia internasional.

Menulis. Hobi menulis juga merupakan alasan mengapa saya harus belajar bahasa Inggris. Selain karena kemampuan tulis-menulis dalam bahasa Inggris merupakan kemampuan yang harus dimiliki jika ingin belajar di luar negeri, jika kamu ingin blogmu dibaca oleh orang asing, akan lebih baik jika tidak mengandalkan google translator untuk menerjemahkan tulisan-tulisan kita. Terakhir jika tahu dengan rencana Andrea Hirata berikut seabreg agendanya adalah mengikuti festival sastra di forum internasional dan ikut kelas writing program di Iowa University, Amerika, saya merasa perlu belajar bahasa Inggris secara sungguh-sungguh sebagai persiapan jika tahun depan saya bisa ikut Summer Course di Belanda. Sepertinya menyenangkan jika tulisan-tulisan kita bisa dibaca oleh beragam kalangan, berbagai tingkat usia, bermacam-macam bangsa, di seantero penjuru dunia. Kapan ya saya bisa seperti itu?

Nonton film. Salah satu kesukaan saya yang lain adalah menonton film. Beberapa bulan terakhir saya mulai mencoba menikmati suatu film tanpa tergantung pada teks yang biasa menyertai suatu adegan. Bukannya sok aksi, tapi belajar listening kan harus dari berbagai macam sisi kehidupan. Dan bertambah mudah suatu pembelajaran jika kita menikmati cara-cara yang diambil merupakan kegiatan yang berhubungan erat dengan kebutuhan hidup kita.

Dan apakah yang saya lakukan untuk bisa berbahasa Inggris:

Sepertinya untuk sampai pada tingkat mahir butuh waktu yang agak lama jika partner incrime untuk belajar bahasa Inggris di lingkungan sekitar sangat sedikit. Untuk itu (seperti yang saya katakan di atas) saya mulai membeli buku-buku dengan teks bahasa Inggris, pinjam (secara diam-diam) kaset listening pembelajaran bahasa Inggris milik bapak kos hehehe, dan join di situs-situs yang menawarkan cara-cara berbahasa Inggris di sini.

Mengatur waktu. Dan sepertinya bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk memulai. Saya pilih bulan Ramadhan karena (mungkin) saya akan punya sedikit waktu luang untuk dialokasikan dalam waktu belajar saya di tengah kesibukan. Sengaja saya menghindari memasukkan lagu sebagai media belajar bahasa Inggris soalnya bisa lupa suasana jika sudah menyanyi. Pengalaman menunjukkan bahwa jika menyanyi, dunia seakan hening mendengarkan suara Giant (baca: Jayen, tokoh di serial Doraemon). Tahu kan maksudnya.

So, English is very important to your future. Let's learn, speak, and tray to make English as a part of our life. Cheers!!! ;=)

Thursday, June 17, 2010

Episode #20: Belajar (menjadi) Kreatif

Akhir-akhir ini saya merasa energi kreatif dalam diri berkurang dan terus-menerus berkurang. Buku di rak banyak sekali yang belum terbaca. Tulisan yang ingin ditulis juga beberapa kali malah urung untuk dituliskan. Saya jadi bertanya-tanya, ada apa dengan diri saya? Terlalu banyak pikiran, terlalu banyak yang diurusi, (seolah-olah) begitu terbatasnya waktu. Suatu ketika, saya ingin sekali keluar dari segala kungkungan rutinitas yang membelenggu.

Berteman dengan orang-orang kreatif memang menyenangkan. Kadang saya agak iri dengan kebebesan ekspresi yang mereka miliki. Sepertinya mereka tak pernah kekeringan ide untuk melakukan aktivitas yang membuat hidupnya kian berwarna. Saya mengetahuinya dari situs-situs jejaring sosial yang menampakkan status-status dari para figur kreatif tersebut. Dan lebih mencengangkan buat saya karena beberapa orang yang saya anggap kreatif tersebut, tahun ini, sudah mengeluarkan hasil kreativitas mereka. Saya hanya berpikir sejenak, kok bisa ya mereka sebegitu efektifnya membagi waktu dan berkontemplasi dengan dirinya sendiri untuk menikmati me time dan melakukan kegiatan produktif yang (tak jarang) menginspirasi.


Tahun lalu saya ketemu dengan Dewi 'Dee' Lestari saat peluncuran buku terbarunya yaitu Perahu Kertas. Sebelumnya saya juga mengikuti proses kreatif dari blognya. Dunia menulis sepertinya memang dunia yang menurut saya menarik. Pernah dalam satu momen perenungan, saya ingin suatu saat nanti (at least dalam 2 tahun mendatang) saya punya buku yang diterbitkan. Dunia kreativitas merupakan dunia yang menuntut diri kita mengerahkan segenap upaya baik fisik maupun pikiran, mencari, membuat, dan menciptakan suatu bentuk masterpiece yang mampu menunjukkan identitas diri si pencipta karya kreativitas tadi.
Namun demikian, seorang pekerja kreatif juga dituntut untuk mempertanggungjawabkan buah pikirnya itu kepada masyarakat. Artinya, jika seseorang berani untuk menunjukkan karya kreativitasnya kepada khayalak, karya itu setidaknya harus orisinal, bukan jiplakan. Blog pun bagi saya merupakan karya kreativitas yang dapat menunjukkan identitas dari penulis blog itu. Oleh karena itu, tulisan di blog juga harus orisinal. Kalaupun ada tulisan bagus yang layak untuk disebarkan dan menurut si empunya blog layak untuk ditampilkan dalam blognya, hal itu tidak termasuk penjiplakan asal saja dicantumkan sumber dari mana data tersebut diambil.

Minggu kemarin saya baru saja menyelesaikan membaca buku Oh My Goodness, Buku Pintar Seorang Kreatif Junkies karya Yoris Sebastian. Buku itu menurut saya dapat menumbuhkan sisi-sisi kreatif dari seorang yang tak kreatif sekalipun, menjadi orang yang dapat memunculkan ide-ide kreatifnya jika mau secara tekun melakukan setiap latihan yang ditunjukkan dalam buku. Berangkat dari ide, kreativitas menuntut untuk dilakukan secara bertahap, diasah pelan-pelan secara periodik, dan dilatih secara teratur dan terencana.

Setelah membaca buku tersebut, saya jadi ingat dengan proyek menulis buku saya yang pertama (yang sampai sekarang belum selesai-selesai). Saya jadi bertanya(-tanya), ke manakah energi kreatif saya selama ini? Kok sepertinya menguap tanpa jejak. Waktu hilang berganti dan kesempatan datang dan pergi seolah tak kenal kata permisi. Dari dulu, menulis buku merupakan salah satu mimpi saya. Sudah banyak inspirasi datang dan pergi layaknya teman lama yang bertamu setelah pergi berpisah, dulu. Tapi, semangat untuk menuangkan ide dalam kata-kata seperti tersedat di kata pertama dan teraborsi begitu saja tanpa merasa pernah ingin untuk lahir ke alam biner.

Mungkin juga karena saya suka jalan-jalan, yang membuat saya kurang fokus untuk menciptakan karya kreativitas. Tapi kalau boleh dibilang, Trinity juga suka jalan-jalan dan dia rajin menulis pengalaman jalan-jalannya di blog. Alhasil, setelah sekian lama masa jalan-jalannya ke berbagai daerah, dia sudah menerbitkan buku sebanyak 3 judul. Keren kan.

Jadi yang paling penting untuk menciptakan karya kreatif adalah menumbuhkan niat dan minat, terus fokus pada apa yang kita niatkan itu. Ada banyak alasan yang mungkin membenarkan dan menyuguhkan beragam ide untuk beralasan agar kita selalu menunda-nunda kegiatan menulis. Tapi, jika hari minggu tiba dan teman-teman saya (baik kenal di dunia nyata maupun maya) memberitahukan jika tulisannya dimuat di media cetak nasional, perasaan 'tertusuk' dan tergugah semangat menulis kembali hadir.

Apalagi bulan ini. Mungkin, bulan Juni atau bulan yang ada di sekitarnya (Mei dan Juli), banyak sekali teman saya yang meluncurkan buku terbarunya. Seperti saya perlihatkan di sebagian gambar yang saya uplod di blog ini menunjukkan bahwa teman-teman saya tersebut sangat produktif, mampu menggunakan waktu luangnya di sela-sela kesibukannya yang juga padat seperti saya. Dari kenyataan itu, saya jadi berpikir ulang. Bagaimana mereka bisa membuat waktu menjadi sangat efektif untuk dijalani, sehingga bisa melakukan hampir semua urusan yang harus dikerjakan tanpa mengurangi minat sedikitpun untuk selalu konsisten dalam berkarya.
Masih dari buku Oh My Goodness, saya jadi paham bahwa menjadi 'beda' itu memang penting. Memang tahap selanjutnya setelah kita memilih menjadi orang yang 'beda', orang akan menilai negatif, menjadi lain, dan akan dianggap aneh. Tapi kalau saya pikir, menjadi orang kreatif adalah saat kita mampu membuat sesuatu yang 'lain' dari apa yang sudah ada kebanyakan. Dan untuk itulah orang-orang yang ingin menjadi orang kreatif harus sedikit berpikir di luar kebiasaan. Karena tidak semua orang mampu berpikiran sejalan, bisa jadi tingkat akseptasi dari buah karya yang dihasilkan oleh seorang pekerja kreatif mendapatkan respon bermacam-macam dalam masyarakat.

Saat ini, saya sedang belajar bagaimana orang-orang (yang menurut saya) kreatif berkarya. Saya sedang membaca bukunya Andrea Hirata, Ayu Utami, Raditya Dika, dan beberapa penulis lain yang baru saja menerbitkan buku mereka. Dan sepertinya, karya Andrea Hirata layak untuk dijadikan pembelajaran. Satu hal yang juga layak dicontoh setelah saya membaca karya-karya Andrea Hirata, jika ingin menjadi orang kreatif, terutama di bidang tulis-menulis, kita hendaknya mau mengamati keadaan yang ada di sekeliling. Hal-hal yang oleh mata kebanyakan orang dianggap biasa saja, bisa jadi merupakan sumber inspirasi yang mampu membangkitkan semangat untuk terus menulis.

Terus terang saya agak kagum dengan Andrea Hirata. Memang sih, pada beberapa bagian tulisannya agak membosankan, di bagian yang lain ia bisa mendiskripsikan sesuatu secara filmis, di bagian lainnya lagi kerja editornya sangat acak-acakan, tapi secara umum, untuk tulisan-tulisan cerita edukatif inspiratif , namanya layak untuk dimasukkan dalam daftar. Ya sudahlah, daripada saya ngoceh ngalor ngidul, mending saya melanjutkan utang membaca buku-buku yang sampai saat ini belum terselesaikan.

PS: Membaca juga merupakan kerja kreatif. Dan menulis serta membaca merupakan saudara kembar, jadi musti dilakukan secara seimbang jika ingin menjadi pribadi kreatif secara total. OK, happy reading. ;=)

Wednesday, June 16, 2010

Episode #19: Wisata Kuliner = Makan-Makan Enak

Polisi, dokter, atau pegawai pajak. Kalau dulu waktu kecil sudah ada acara televisi yang namanya Wisata Kuliner, saya mungkin kalau ditanya apa cita-citanya waktu SD akan menjawab pengen sekali menjadi Pak Bondan (Winarno). Sejak menonton acara itu saya langsung menjadi penonton setia. Jadi, sampai sekarang setiap Sabtu pagi jam 7.30 WIB, saya sudah standby di depan tipi hanya untuk melihat Pak Bondan ngomong 'mak nyus' sambil menikmati sarapan pagi saya yang gak ada mak nyus-mak nyusnya sama sekali. Apakah semua makanan yang dinikmati sama Pak Bondan itu memang benar-benar mak nyus. Kadang iya kadang tidak.

Karena sekarang (sedikit-sedikit) sudah punya duit sendiri buat jalan-jalan, jadi (kebetulan) tahu tempat-tempat yang dikunjungi Pak Bondan. Saya katakan, tidak semuanya makanan yang dinikmati Pak Bondan itu enak. Saya gak tahu ya, mungkin karena dikunjungi Pak Bondan, warung atau rumah makan itu jadi laris. Karena laris, pelayanan dan kualitas rasa kurang diperhatikan. Padahal kan kalau dipikir, orang pergi ke warung atau rumah makan kan untuk membeli 'rasa' bukan membeli 'bekas' kunjungan Pak Bondan.

Kalau saya mau jalan-jalan biasanya suka browsing dulu makanan-makanan apa yang khas di daerah yang akan saya kunjungi. Karena gak setiap hari bisa ke daerah situ, rugi kan kalau tidak mencobanya. Sampai saat ini, makanan yang selalu mengundang saya untuk terus datang berkunjung adalah es krim ragusa di Jalan Veteran, Jakarta. Selain gak jauh-jauh dari tempat tinggal, harganya murah, esnya uenak, dan rasanya tetap terjaga meskipun udah lama gak dateng-dateng lagi ke situ. Unrecommended buat makanan-makanan yang dijual di emperannya. Udah (di)mahal(-mahalin), gak enak pula rasanya (kecuali mungkin otak-otaknya ya yang agak lumayan). Yang paling unik, pas mau bayar di kasir, ternyata masin kasirnya masih pakai 'kalkulator' jaman Belanda. Sayang gak sempat foto-foto di sana. Selain tempatnya sempit, takut dikira norak, hehehe.

Makanan yang menjadi favorit saya yang lain adalah pisang ijo. Ini asalnya dari Sulawesi Tenggara. Saya mencicipinya pertama kali waktu acara perayaan daerah pas jaman kuliah. Karena yang jualan teman-teman sendiri, saya akhirnya bisa mendapatkan hidangan spesial ini. Saya hanya berharap suatu saat bisa menikmati pisang ijo di tempat asalnya.

Kalau lagi ngumpul dengan keluarga atau ikut acara perpisahan orang-orang kantor, tempat makan yang dijabanin paling-paling restoran Sunda. Dan seperti sudah bisa ditebak, menunya sih sudah sangat familier saking seringnya dinikmati. Saya selalu menikmati gurami asem manisnya. Daripada digoreng, gurami lebih terasa mak nyus kalau dibumbu. Selain itu cumi dan udang goreng cocok juga dicocol dengan sambel pedasnya. Hhhhmmm ... yummy. Tapi, dari sekian kali 'pesta' makan-makan yang pernah saya ikuti, saya selalu ketiban sial untuk menghabiskan menu. Alasannya klise. Saya orangnya paling anti tidak menghabiskan makanan. Dari kecil 'pengetahuan' dari orang tua ditanamkan ke kepala saya agar selalu menghabiskan makanan yang sudah dipesan. Mubazir kalau dibuang percuma. Awalnya sih asik-asik saja. Tapi, suatu ketika kok menu di meja makan masih banyak sekali, sementara menu pesanan saya yang terdiri dari udang goreng, tempe mendoan, gurami asem manis, dan jus alpukat belum habis. Alhasil, saya diam-diam membujuk teman-teman kantor yang cewek untuk membungkusnya.

Memang sih, untuk ukuran standar, menu makanan Sunda bisa dikatakan murah meriah. Apalagi kalau yang diajak makan 'bangsa kurawa'. Saya pernah trip bareng teman-teman ke Bandung. Dan setiap kali mau makan selalu ke restoran Sunda. Sudah bosan rasanya perut ini kemasukan makanan serupa yang itu-itu saja. Kalau tidak cermat menghitungnya, bisa-bisa jebol ni isi kantong. Tapi, karena itu trip kita pertama bisa rame-rame dalam jumlah formasi lengkap, selalu ada excuse untuk sebuah kebersamaan.

Saya, makan di daerah Dago, Bandung.

Kalau diceritakan semuanya, makan-makan emang selalu nikmat. Karena bagi saya menu makan apa saja, asal halal ya langsyung masuk saja. Tapi, lidah memang tak bisa bohong. Saya pernah ke Belitong dan membuktikan rasa kopi manggar yang katanya enak banget. Karena dari kecil suka mencicipi kopi (belajar dari mulai nenek sampai ibu), saya kok menilai kopi manggar itu kayak uyuh jaran (kencing kuda). Maaf lo ya bagi yang suka kopi manggar. Menurut ajaran kopi dari nenek, kopi manggar mempunyai kriteria seperti itu. Jangan tanya apakah saya sudah pernah minum kencing kuda, tapi kopinya itu benar-benar encer. Pokoknya I just knew it.

Acara makan-makan yang paling tidak enak adalah ketika kita masuk ke warung kejut. Tahun baru 1997 saya dan keluarga menginap dan berlibur di kota Malang. Kami semua mau menikmati acara pergantian tahun di alun-alun kota. Ibu saya yang pengin sekali makan bakso akhirnya mengajak kita makan bakso di salah satu warung tenda. Mungkin karena melihat kami kelihatan bukan orang Malang, kami merasa terkejut ketika mau bayar. Harga sebuah pentol bakso jadi Rp. 5000,00. Busyet. Benar-benar gak jadi ngerasa kenyang deh. Makanya, pelajaran berharga buat saya saat udah gede seperti sekarang, kalau mau makan yang aman dengan kemampuan isi kantong ya masuk aja warung atau tempat makan yang menunya udah ada daftar harganya.

Yang paling pusing adalah kalau trip ke tempat yang kebanyakan penduduknya nonmuslim. Memikirkan masalah halal haram memang jadi hal krusial sesuai dengan agama yang saya peluk. Dan, saya agak rewel mengenai makan ini waktu trip ke Bali. Terus terang walaupun Bali itu tempatnya luas, tapi waktu kunjungan yang pertama, saya hampir selalu khawatir saat mau makan. Takut ada babinya, takut nyembelihnya gak baca bismillah, pokoknya agak ribetlah. Nyari amannya, saya biasanya meminta teman-teman untuk nyari makan ke tempat-tempat standar seperti KFC. Tapi, makan ayam goreng begituan terus-terusan kan bosen juga. Akhirnya supaya aman, kita biasanya milih menu-menu seafood. Selain enak, semua barang laut kan halal di makan. Saya hanya berdoa semoga saja menu-menu lezat tersebut tidak mengandung minyak babi waktu masaknya.

Makan di dalam ruangan memang mengasyikkan. Tapi makan di luar ruangan, apalagi di tepi pantai sungguh mengesankan dan menyenangkan. Walaupun sering makan di tepi pantai, tidak semuanya menawarkan kesenangan dan pengalaman yang sama. Saya pernah makan di tepi pantai di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Menunya sih standar seafood, mulai dari dari ikan bakar dan udang atau ikan goreng. Tapi kok ya gak elit banget. Anginnya kenceng banget. Dan musti pakai jaket tebal biar gak kedinginan. Ini sebelas dua belas dengan pantai di Pangandaran. Walaupun lebih enak dari menu Pulau Tidung, tetep aja suasananya kurang mengena.

Makan di Angke pun juga enak. Namanya juga ditraktir apa sih yang gak enak coba. Walaupun menunya lezat, tapi melihat sampah dan penjual ikan lalu-lalang di pasar ikan, kok ya jadi jiper sekali melihatnya. Apalagi lalat-lalat ijo seperti menari-nari di depan kita. hihihi. Yikes.

Yang paling berkesan memang makan di Pantai Jimbaran. Menunya sih sama. Rasanya juga tidak jauh beda dengan seafood masakan Sunda atau Pangandaran. Tapi menurut saya suasananya yang paling membuat makan di sini terkesan 'mahal'. Kami makan di atas pasir pantai yang putih dan lembut, dihembus angin pantai yang sepoi-sepoi (tapi anehnya gak dingin tuh), dan yang paling asik ni, ada pengamen yang memainkan musik dengan classynya. Saya berasa seperti orang kaya menikmati makan di situ. Apalagi waktu saya request lagunya Jason Mraz yang berjudul Lucky, mereka memainkannya dengan soulfull. Bener-benar lucky sekali saya bisa menikmati makan-makan yang enak-enak. Mengutip kata-kata salah satu teman saya di kantor, saya hanya berdoa agar makanan-makanan yang saya makan tidak jadi penyakit.

Saya, makan malam di Pantai Jimbaran, Bali
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...