Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Saturday, June 19, 2010

Episode #22: Sebuah Pertanyaan

Tuan Pos datang pagi tadi
Mengantar surat beramplop putih
Satu pertanyaan sederhana menantiku di depan pintu
Jika Tuhan memberimu 'kunci' surga
Akankah kamu masih beribadah kepadaNya?

Akupun diam seribu bahasa
Sambil tak hentinya menangisi pertanyaan
yang tak bisa kueja jawabannya

Jadi selama ini
Ibadah ini untuk siapa?
Tuhan ...

atau

....... SURGA!!!

Friday, January 22, 2010

Sajak Api dan Es

Setelah perjalanan yang kita tempuh dengan bersusah payah
Akhirnya kupahami satu hal tentang kita
Bahwa pemikiran yang dulu lurus dan kau anggap kaku
Memang tak pernah bisa kuhentikan untuk kupeluk mesra

Kadang aku juga berpikir
Apa gunanya aku melakukan ini semua
Tak ada seorang pun yang mau dan mampu mengerti tentang keresahanku
Tidak juga kau, manisku
Malaikat yang (katanya) dikirim Tuhan untuk menemaniku ngobrol
Atau sekadar tempat mengadu atas kekesalan yang menemaniku seharian

Topeng-topeng yang dulu kau usulkan untuk kupakai
Sepertinya sudah mulai lusuh dan minta diganti yang baru
Hingga suatu ketika kuputuskan untuk tidak membelinya
Karena topeng-topeng itu mahal harganya

Bolehlah orang bersenandung tentang kemalanganku
Manusia yang mendamba pengasingan demi sebuah nubuat tentang kebenaran
Tak ada yang harus dikhawatirkan untuk itu

Sayangku, aku bahagia sekali melihatmu tersenyum
Sekalipun senyum itu bukan aku yang mengguratnya
Secuil kebahagianmu di sana, cukuplah menjadi candu bahwa kau masih menikmati hidupmu
Seperti dulu yang pernah kau rengekkan kepadaku

Dalam kesendirian akhirnya kumengerti
Keheningan sepertinya larut dalam peluk ciumku pada buku-buku
Hingga waktu sepertinya gagap dalam mengelabui kealphaanku akan ilmu
Oh ... Tuhan, jika takdir yang kau guratkan kepadaku adalah kisah mesra akan kesendirian
Akan kurayakan semuanya dengan gegap gempita
Bahwa semua dunia telah mengamini prinsip hidupku yang mulai membatu
Jika Kau ijinkan suatu saat kumendamba seorang sahaya
Yang Kau kirim dari rusukku yang tersempal nan jauh di sana
Aku akan penuhi naas-Mu yang penuh misteri dan keindahan
Karena kasih-Mu tak tersentuh bahasaku

Sayang, aku senang dengan kenihilanku menaklukkanmu
Akan kujalani hidup yang sederhana ini seperti sedia kala
Seperti saat kau belum mewarnai dunia yang menyelimutiku

Aku akan tetap di sini, sayangku
Menuntun ide-ideku yang sering kamu anggap gila dan tak masuk akal
Sampai ajal memanggilku untuk dipeluknya dengan mesra

Gambar dipinjam dari sini.

Friday, January 15, 2010

Antara Aku, Puisi, dan Sebuah Petualangan


Hidup adalah sebuah proses tentang perjalanan waktu. Cerita tentang suatu alur yang membentuk dongeng yang menuntut untuk selalu diteruskan. Narasi kehidupan akan hadir seiring dengan tertatihnya waktu. Keindahan bahasanya sangat tergantung kepada seberapa beraninya kita mengambil langkah untuk berspekulasi dengan ketidakpastian. Hidup adalah juga lagu yang menanti untuk dinyanyikan. Seberapa getirnya lagu tersebut bermelodi, tetap saja tak akan lupa memberimu kejutan tak terduga akan indahnya suatu filosofi.

Hidup juga berarti rentetan suatu pertanyaan. Seberapa jauhnya dirimu bisa menjawab, tergantung kepada seberapa jauhnya kamu mulai sadar akan hakikat kehidupan. Mencari dan terus mencari tahu, bertanya dan terus bertanya-tanya, serta menduga dan konsisten membuat suatu hipotesis merupakan jembatan untuk mencapai jawaban itu. Jawaban dari suatu pertanyaan sederhana yang bersumber dari satu tanda tanya agung.

Ada kalanya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu terpampang jelas di depan mata. Hadir begitu dekat sehingga tak perlu buang banyak energi untuk mencari tahu. Kadang-kadang jawaban itu juga manja sekali untuk dicari tahu. Ia bersembunyi sebentar agar kita senantiasa bersabar dan menunjukkan integritas untuk mencarinya. Tantangan terbesarnya adalah mencari yang tak dapat dicari dan berusaha menemukan yang tak dapat ditemukan. Itu hanya bisa didapatkan dari proses perjalanan. Perjalanan waktu maupun perjalanan tempat. Pengalaman.

Hidup juga berarti rangkaian suatu tanda titik. Banyak sekali titik-titik di bumi ini yang haus untuk dihubungkan. Dari titik-titik itulah jalan mencari jawaban juga terbentang. Pertanyaan selanjutnya, jika dunia ini penuh dengan titik-titik yang runut untuk dihubungkan dan dicari keterhubungannya, mengapa ada orang yang puas hanya berdiam di satu titik? Kembali ingatanku diterbangkan kepada memori dari petuah agung sang ulama Imam Syafi'i tentang indahnya suatu perjalanan, pergerakan. Sebuah hijrah.

"Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang."

Hijrah. Sebuah perjalanan. Banyak sekali yang akan didapatkan dari rangkaian suatu perjalanan. Jika ada peribahasa janganlah seperti katak dalam tempurung, maka suatu perjalanan yang akan membawamu ke dalam relung-relung kehidupan akan mengajakmu lebih dari sekadar keluar dari tempurung. Kau akan tahu bahwa apa yang terjadi dalam hidupmu, dalam keseharianmu, dalam kelaziman di sekelilingmu mungkin saja lebih baik atau bahkan malah lebih buruk dari apa yang terjadi di tempat lain. Tidakkah kau ingin mencari mutiara-mutiara kebaikan yang tertanam jauh dari tempat di mana dirimu tenang bersemayam?

Ah. Rumah tentu saja. Tempat itu menjanjikan ketenangan dan kenyamanan kehidupan. Tapi, tak pernahkah terlintas di benakmu, bahwa tanda tanya agung juga memberikan PR bagi kita untuk menyadari bahwa dalam suatu ketenangan hidup seringkali tersimpan kehidupan yang melenakan ingatan. Dalam suatu air yang tenang tak ubahnya menyimpan tenaga yang menghanyutkan. Rumah memang suatu zona aman. Tempat berteduh maupun berkembang biak. Menurunkan ketenangan-ketenangan yang akhirnya menjelma kesalahan beruntun berkesinambungan. Menuju kesalahkaprahan.

rindu. aku ini memang selalu rindu untuk pulang. tapi saban kali juga tak betah. petualang sekaligus pencinta rumah

Sebuah dilema menjadi seorang pejalan jauh. Aku lebih suka menyebutnya demikan untuk mewakili petualangan-petualangan kecil yang kulalui demi mencari jawaban atas tantangan dan pertanyaan kehidupan. Di satu sisi, rumah menawarkan kerinduan yang mencandu. Di saat yang lain, rumah serupa kebosanan yang merengek untuk segera ditawarkan. Rumah mengingatkan kita semua akan suatu kegundahan-kegundahan di masa depan. Dilema menjadi tua dan segenap permasalahan hidup yang mengikutinya. Namun inilah yang dinamakan pilihan. Menjadi petualang sekaligus pencinta rumah. Sebuah proses kehidupan yang layak dipilih dan dipertanggungjawabkan yang jarang jadi pilihan kebanyakan orang.

demikianlah musafir: kita takut menjadi tua. namun juga tak pernah bisa kembali menjadi bayi, menjadi kanak-kanak. kecuali bila kita ciptakan lagi kelahiran. di saat halte mau membimbing kita ke peristirahatan

Ah, puisi. Selalu saja dirimu lugu bersolusi. Indah bahasamu seakan menawarkan kerinduanku pada rumah. Engkau mahir menjadi tongkat penunjuk untuk hati dan imanku yang kadang goyah untuk menjadi penjelajah. Sesuai dengan ide yang menari-nari di kepalaku. Bahwa dengan perjalanan yang kulakukan, aku yakin akan menemukan ilmu-ilmu baru, pengetahuan-pengetahuan yang mencengangkan, bertemu dengan bermacam-macam orang dengan beraneka latar belakang. Aku yakin akan menemukan filosofi kehidupan. Memetik pengalaman, membuat penilaian, menimbang-nimbang rasa kehidupan, hingga menarik kesimpulan. Menakar suatu nilai maupun mengadopsi suatu pemikiran.

Karena bukan suatu jalan dari pilihan orang banyak, maka siap-siaplah dirimu dengan konsekuensi yang akan kau terima dari orang-orang awam yang akan menjadi juri dari langkah yang kau pilih. Ah, biasa saja. Mereka memang seperti itu. Jumlahnya mayoritas, mulutnya banyak, dan seringkali mahir mengolok-olok. Karakter yang hanya cocok untuk satu peran dalam sandiwara kehidupan. Menjadi penonton. Lalu, jika dirimu seorang terpelajar, ilmu dan pengetahuan menjadi teman sekaligus sahabat terbaik, kebiasaan bertanya-tanya dan merayakan kebebasan berlogika menjadi tradisimu, akankah dirimu mau menjadi pribadi yang tak akan dikenal oleh siapapun. Manusia yang tertutup oleh jumlah mayoritas dalam komunitas. Silakan kembali pada iman masing-masing. Hanya hati yang tahu dan akan berbisik untuk menunjukkan suatu jawaban besar dari pertanyaan sederhana dalam hidup. Sebuah kenyataan.

Hidup memang jalinan yang menawarkan pilihan-pilihan. Ke mana hatimu bertaut, di situlah oasemu bersemayam. Dalam kepalamu tertanam banyak cahaya yang bertahan untuk membuncah memuntahkan sinar. Begitu pula, terangkum penjara yang menggiringmu ke arah kepicikan berpikir. Karena itu, ikutilah keinginan hati untuk melakukan suatu perjalanan.
Merekam tradisi dan pengalaman untuk dijadikan cermin dalam sebuah bingkai rona kehidupan.

salam bagimu peziarah muda. hatimu telah mencatat peristiwa-peristiwa kecil yang dilupakan dunia. ke mana nyerimu melangkah, ke sana jantungmu mencari

Tidak semua ocehanku layak kau ikuti. Tidak semua tindakanku layak kau lakukan juga. Aku hanyalah seorang yang haus akan sebuah perjalanan. Petualangan-petualangan kecil yang kutemui hanyalah renik dari ketetapan-ketetapan hukum Ilahi dan pesan yang dikidungkan oleh puisi-puisi. Aku yang mencoba merangkai pengalaman dalam hidup hanyalah seorang turis yang bertamasya dalam diri. Demi sebuah pencarian agung dari jawaban yang menggantung di ujung tanda tanya dari proses kehidupan. Pencarian jati diri.


* Puisi dikutip dari Perjalanan Pulang karya Joko Pinurbo dalam buku kumpulan puisinya Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung (Gramedia Pustaka Utama, 2007)

Gambar dipinjam dari sini.

Monday, November 23, 2009

Antri Mati


: Untuk Saverio Ratu

Suatu ketika diriku terdampar di padang yang luas
Kusaksikan banyak sekali manusia berkumpul
Menunggu panggilan
Aku sadar perjalanan yang kulakukan adalah sebuah penjelajahan panjang
Hanya mampir minum seteguk, dalam hari yang sudah mulai lupa kuhitung
Kusaksikan aneka rupa celupan manusia
Menanti jemputan yang belum juga datang
Mereka menari dan menanti, merayakan betapa telatnya Izroil menjemput
Segenap pesta digelar
Tak lupa tuak dan arak untuk hidangan
Sebagai upacara pembuka kenikmatan sebenarnya: berzina dengan sesama pengantri
Ada juga yang harap-harap cemas
Menghitung tasbih sambil komat-kamit berkirim sms kepada Tuhan
"Tuhan, taruh diriku di sisi-Mu"
Ada yang jungkir balik mencium debu
Membujuk Tuhan untuk mengganti rapalan mantra dan doanya dengan sejengkal surga
Lengkap dengan bidadarinya yang--konon--halal dizina
Aku juga bertanya-tanya ke mana perginya Israfil
Ribuan tahun baru berlalu dengan absen alunan terompetnya yang merdu
Tiba-tiba kudengar teriakan dan cacian dari para pengantri
Mereka minta air dan makanan untuk bekal
Karena bekal mereka telah habis tak bersisa
Arak dan tuak sudah habis dikandung badan
Zina juga sudah mulai terasa bosan, hingga kantuk menjelang
Karena hari sudah malam
Air dan makanan tak kunjung datang
Padang yang luas kelihatan gersang
Para pengantri pun kering kerontang
"Apakah ini jamuan yang Kau beri untuk umatmu, wahai Tuhanku", kata seorang pengantri yang duduk di sampingku, meratap kelaparan
"Kau suruh kami mengantri, tapi tak Kau bekali kami uang saku", kata seorang lagi, yang tadi habis berzina sambil sesekali meneguk tuak
Kepala suku pun mulai beraksi
Dia perintahkan orang-orang berpesta lagi
Merapal mantra, melantunkan doa
Membujuk hujan sembari menari seperti orang gila
Tiba-tiba saja hujan ada
Membasahi kami semua seolah membuatnya telanjang
Aku masih di padang yang sama
Menanti jemputan yang suatu saat akan datang
Ketika kuhikmati rintik hujan yang mulai reda
Kudengar ada anak kecil bergumam
"Ternyata Tuhan juga baru saja selesai berpesta"

Gambar dipinjam dari sini.

Thursday, October 22, 2009

Bintang Jatuh

Malam kemarin aku melihat bintang jatuh
Pikiranku berlari memburu kepadamu
Apakah yang kau lakukan malam ini, sayangku?
Aku tak pernah tahu apa yang tersuarakan oleh isi hatimu
Lama sudah kita tidak bersua
Aku rindu dengan manisnya senyumanmu
Rindu dengan kemanjaanmu untuk meminta sesuatu
Kangen akan kehausanmu untuk didongengi
Kadang aku sempat berpikir
Jika kita dipertemukan kembali saat ini,
Masihkah kau seperti yang dulu
Gadis mungil yang sibuk dengan semestanya sendiri
Memainkan peran untuk sesuatu yang abadi: menjadi diri sendiri
Aku mengingatmu seperti hamba yang mengingat sabda tuannya
Aku mengenangmu layaknya kasih pangeran yang mendamba seorang putri
Aku mengagumimu serupa pelukis yang takjub akan ciptaan Ilahi
Aku menyayangimu layaknya penulis yang terpesona akan keindahan bahasa
Tanpa syarat
Terbanglah bersamaku, sayangku
Dalam orbit yang bersama kita pilih
Melintasi imaji angkasa tak berbatas
Berhentilah menjadi bintang jatuh, yang berotasi tanpa mengharap tujuan yang jelas
dan tanpa meninggalkan jejak makna
Kemarilah sayangku, hinggap di pelukan hangatku
Dan leburlah kita jadi satu
Dalam sebuah semesta kecil keabadian .... kehakikian
Jika diberi satu harap
Hanya satu
Aku ingin mengabadikan satu momen bersamamu
Aku ingin ada di situ tanpa pernah tahu kapan waktu kembali
Karena aku ingin kamu, sayangku
Sampai ajal menjemputku


Gambar dipinjam dari sini.

Monday, July 06, 2009

Satu Hari, Untukmu

Untuk Kamu, Adikku yang cantik, yang jauh di sana

Hari ini, kamu bahagia sekali
Hari istimewa yang datang setahun sekali
Baru saja menyapa dan tersenyum lembut

Hari ini penuh sua
Hari ini penuh canda
Momen di mana teman yang hilang ditemukan
Magnet yang menarik kekasih untuk kembali
Bertemu dan bercengkerama
dalam sebuah upacara khidmad yang sederhana

Kue, lilin, kado
Betapa biasanya itu semua
Tak diperlukan suatu kemeriahan untuk mendekati 'makna'
Tak perlu air mata tuk ungkap suka
Semuanya datang sebagai kotak pandora
Yang memberimu sejumput hadiah istimewa

Bahwa hari ini
Satu dunia tunduk di pangkuanmu
Meninggalkan asa ke haribaan putri Hawa

Kau, yang jauh di sana
Tak perlu gundah gulana atau merasa nista
Karena hari ini adalah harimu
Hari yang kau tunggu-tunggu

Hari ulang tahunmu

Serpong, 5 Juli 2009
05 : 05 : 05 WIB

Monday, April 13, 2009

Sang Pendosa

Pernahkah kau dengar
Ada orang bercita-cita mulia menjadi pendosa
Pernah ku dengar cerita
Tentang tetangga sebelah
Yang hobi marah-marah dan gemar minum darah
Atau cerita seorang perempuan
Yang bahagia mengoleksi laki-laki
Untuk dilukis warna belang di hidungnya
Mereka muda
Mereka tidak gila
Dan jika Pak Kyai berfatwa
Bahwa perbuatan mereka akan dihitung sebagai dosa
Yang kelak kan diganjar neraka
Aku hanya berusaha menerka
Bahwa mereka tak begitu pandai matematika

Serpong, 12 April 2009
22 : 17 : 25 WIB

Monday, December 22, 2008

De te Fabula Narratur *

-Untuk DIA yang kuharapkan cintanya-

Simponi itu datang menyapa
Menggugah rasa untuk saling mengalami
Mematut
Sambil tak selesai-selesainya mengurai kenangan yang pernah terukir

Musik alam berdentang dengan lembut
Mengiringi lagu rindu yang terbit di dasar kalbu
Senandung itu akan terus dinyanyikan
Mengantarkan para cupid yang dengan manjanya memetik harpa

Ini semua tentang dirimu
Malaikat kecil yang dikirim Tuhan untuk menggenapi hatiku
Tempat di mana kedamaian berakar berserabut

Aku ingin engkau duduk di sini, Sayang
Menemaniku
Mengurai malam yang diliputi misteri
Aku ingin engkau ada di sini
Menemaniku minum kopi dalam denting sepiring nasi
Agar aku bisa leluasa dan tenang
Mendongengkan kisah peri yang baru selesai kurangkai
Sambil mendendangkan sajak nina bobo
Selagi kau lelap

Sebait doa mengucur dari mulut seorang hamba
Melantun mesra dalam hening nurani

Adalah manusia sudra
Yang mengharap cinta
Dari mata seorang Hawa

Ini bukan puja
Ini bukan sabda
Ini hanyalah cerita
Sekelumit dongeng tentang dirimu
Yang dengan lembut menjajah hatiku

Kamu
Kisah ini tentang kamu
Peri mungil caraka para peri
Temui aku malam ini, Sayang
Dalam alam mimpimu yang sempurna
Kelak kita kan bersua
Menertawakan para cupid yang iri pada kisah kita
Dan selamanya tersenyum
Akan kasih Tuhan
Yang tak disangka-sangka datangnya

Semoga

Serpong, 25 September 2008
13 : 18 : 15 WIB


* Tentang Engkau Dongeng Ini Diceritakan

Lidah Setan

Seribu mulut bersuara serentak
Mendengungkan sorak kebenaran dalam dunia dongeng

Asap hitam mengepul dari mulutmu yang suci
Meracuni setiap nafas
Yang berhembus di palung hati

Malam gelap turun dalam dirimu
Mendendangkan lagu kesunyian yang penuh misteri
Dan setan-setan mulai bersorak
Di lidahmu
Mengalunkan soneta api
Dalam bahasa yang tak kau mengerti

Dan kau hanya terdiam
Membatu dan membisu
Sambil tak hentinya takjub
Akan bahasa setan yang lebih indah dari bahasamu

Asap hitam masih mengepul di mulutmu yang manis
Menyisakan jelaga dalam raga penuh noda

Kepada mulut-mulut yang suci
Berhentilah menyanyi
Menyanyi dalam lagu yang kau tahu kelabu
Saat dawai terakhir kau petik
Waktu sudah jenuh berbisik

Bintaro, 28 Januari 2007
09 : 49 : 15 WIB

Friday, December 19, 2008

Sendiri

Pada mulanya kita hanyalah sendiri
Menunggu orang-orang datang dan pergi
Atau menunggu hari yang pasti berhenti

Di malam sunyi
Malam yang selalu menyisakan teka-teki
Sebuah tanda tanya agung
Menggantung di ujung mimpi
Menggugah sepi dalam dunia imaji

Apakah kau masih di situ?
Bersimpuh dan bersedekah air mata
Menatap hati tanpa cadar
Apakah kau masih di situ?
Membuka mata lebar-lebar
Tuk membendung rasa sabar

Malam ini masih serupa malam lalu
Malam yang menghampiri dengan pasti
Dan Tangan Agung pun perlahan turun
Menerima segala pinta
Yang terucap dari mulut seorang hamba
Apakah kita seorang di antaranya?

Malam masih sepi
Malam masih sunyi
Orang-orang datang dan pergi
Saat hati kan berhenti
Pada akhirnya kita hanyalah sendiri

Nganjuk, 3 Januari 2007
06 : 18 : 12 WIB

Saat Vagina Angkat Bicara

Suaraku, hanyalah nyanyian gagak
Yang menyeruak di ambang malam
Hanya angin berhembus
Mengaburkan setiap asa yang tergurat di ujung pinta

Aku tak pernah tahu
Cawanku isi arak atau madu
Adalah kesucian yang kuanggap ada
Tuk bungkam segala dosa

Bunyi sabit pun menggemuruh
Kuharap dentang setiap lidah yang terpatri di mulutku
Kau dengar di telinga hatimu yang paling curam
Setitik noda tak sanggup kupahami
Jika arti suci tak mampu menjawab tanya

Namun
Aku hanya menunggu
Sebab air mata hanyalah sandiwara
Yang tak sanggup penuhi cawanku

Dengarlah wahai semua
Aku tak henti berteriak

Jakarta, 16 November 2006
23 : 48 : 55 WIB

Buku Harian

-Untuk Anne, Zlata, dan Soe-

Dalam segala kebutaan yang melanda
Kertas kusam itu mulai bicara
Untuk massa, untuk bangsa
Aksaranya diam mencoba berkata
Dengan pena tajam membedah zaman
Membuka rahasia, membeber fakta

Seutas tanda seru agung tertanggal dalam jubah kebebasan
Mengadu prinsip, mengadu nasib
Menyajikan sakramen suci di kandang banci

Setangkai tanda tanya merengkuh asa
Benarkah ini hidup?
Hari sudah ditutup

Jakarta, 15 November 2006
08 : 43 : 35 WIB

Bertanya Pada Sejarah

Jika kau anggap ceritamu tak pernah kering
Kenapa tak kau siram kami dengan kebenaran

Jika kau tak perlu tongkat tuk merayap
Kenapa kau sandang kacamata kuda dengan garang

Jika kau tahu arti kemanusiaan
Kenapa kau dongengkan penderitaan

Jika kau tahu namamu sejarah
Jangan jadikan dunia ini penuh darah

Jakarta, 14 November 2006
21 : 36 : 05 WIB

Thursday, December 18, 2008

Di Ujung Pagi yang Agung

Di ujung pagi yang agung
Detak jam dinding
Menggertakku dengan sebatang pentungan
Kutorehkan pena di selembar kertas putih
Dan hidup pun mulai merayap
Mengais kepingan-kepingan diri
Yang meronta menyetubuh

Matahari bangun dari mimpinya
Menikamkan cahyanya yang suci
Di lubuk relung hatiku
Dan malaikat pun
Mulai ramai datang dan pergi
Menabur harapan untuk mereka yang berani HIDUP

Embun tak hentinya menetes
Menyisakan dongeng-dongeng pengantar tidur
Yang terbang dihembus angin

Keluarlah dari cangkangmu
Dan raihlah mimpimu
Pagi ini tidak datang dua kali
Api dalam hati senantiasa menyala
Menerangi pagi yang selalu ditunggu malam

Jakarta, 7 Januari 2006
09 : 48 : 02 WIB

Wednesday, December 17, 2008

Aku Ingin Melihat Samudera, Saudaraku

Pada akhirnya kita hanya terdiam
Membisu seperti batu
Di tengah riang sorakan setan
Yang membahana
Kita ini debu
Yang terhempas dari tengah Sahara
Mengapa?
Tak tahu
Kita hanyalah anak metamorfosis hidup
Bagaimana bisa?
Hanya Tuhan yang paham
Dan malam pun turun
Menghampiri kita dengan lembut dan mesra
Apakah kau masih terdiam
Termangu
Di balik sajadah kusam yang rindu kau dekap
Yang rindu sorakan air matamu dalam menghamba
Dan malaikat pun menyanyi
Mendendangkan soneta langit
Dalam bahasa yang tak kau mengerti
Dan kau pun masih terdiam
Meratapi nasib yang mulai membisu

Nganjuk, 5 Januari 2006
06 : 01 : 10 WIB

Tuesday, December 16, 2008

Malam Dalam Diam

Pada akhirnya kita hanya terdiam
Membisu seperti batu
Di tengah riang sorakan setan
Yang membahana
Kita ini debu
Yang terhempas dari tengah Sahara
Mengapa?
Tak tahu
Kita hanyalah anak metamorfosis hidup
Bagaimana bisa?
Hanya Tuhan yang paham
Dan malam pun turun
Menghampiri kita dengan lembut dan mesra
Apakah kau masih terdiam
Termangu
Di balik sajadah kusam yang rindu kau dekap
Yang rindu sorakan air matamu dalam menghamba
Dan malaikat pun menyanyi
Mendendangkan soneta langit
Dalam bahasa yang tak kau mengerti
Dan kau pun masih terdiam
Meratapi nasib yang mulai membisu

Nganjuk, 5 Januari 2006
06 : 01 : 10 WIB

Monday, December 15, 2008

Tanda Seru

Aku merasa hidupku penuh tanda seru
Yang datang tiba-tiba menghantu
memecahkan gelas-gelas kaca kebebasan

Hidupku disesaki bayangan
Yang hadir mengaburkan angan
Menanam benih-benih kebencian

Tanda seru
Tak lalu, tak kini
Hadir dalam setiap rombongan mata benalu
Yang memasung, membelenggu
Membuatku membatu
Di tengah simpang empat penuh sesak
Manusia abu-abu

Tanda seru
Haram bagiku mengais haru
Kunantikan puasmu ...
... menghajarku

Nganjuk, 26 Oktober 2005
12 : 04 : 15 WIB

Saturday, December 13, 2008

Kelahiran

Perjumpaan yang pertama menyisakan luka
Diriku bersimbah merah mengatupkan garba
Tak kusangka lahir sebagai pendosa
Mengukir nisan pusara Bunda

Nganjuk, 25 Oktober 2005
14 : 01 : 24 WIB

Friday, December 12, 2008

Saat Senja Tiba Berlalu

Saat senja tiba berlalu
Kulihat waktu menutup hari
Menyapu debu pasir siang dahulu
Menggurat langit awan berbintang

Saat senja tiba berlalu
Tiba saat kumasuk bilik
Menghela kenangan di pagi terbit
Berjumpa kawan sahabat sejati
Menyaksikan dewa mata
Menikam bumi dalam cahya tak beriak

Seandainya kau tau
Saat senja tiba berlalu
Kudengar sayup-sayup seruan-Nya berkumandang
Mendesir hangat dalam kalbu nurani
Membentak kaki segera berdiri
Berlari ...

Seandainya kau merasakan
Saat senja tiba berlalu
Sunyi senyap
Hanya angin yang berbisik
Mengirim pesan suci dari surga
Untuk insan mulia
Yang percaya dunia kelak kan binasa

Seandainya kau menikmati
Saat senja tiba berlalu
Sampai kita saat sujud
Mendekam penuh pinta dalam ringkuk sajadah kusam
Yang tersapu debu pasir siang dahulu
Indah ...
Damai ...
Merasakan anugerah setiap nafas
Yang terlahir di pertiwi agung

Seandainya kau mensyukuri
Saat senja tiba berlalu
Melesat cepat antara kilat
Menghilang dalam kedipan bintang

Saat itu
Saat senja tiba berlalu
Sebelum kututup buku
Kucoba merangkai asa
Yang kan terbit esok hari
Kububuh tanda titik untuk sejarah hari itu
Setelah kutulis
Kata akhir untuk suatu permulaan

Jakarta, 29 April 2005
21 : 22 : 23 WIB
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...