Showing posts with label Proses Kreatif. Show all posts
Showing posts with label Proses Kreatif. Show all posts

Friday, June 18, 2010

Episode #21: Belajar Bahasa Inggris

Sepertinya sudah mendekati titik nadir bahwa belajar bahasa Inggris memang mutlak diperlukan dalam hidup saya. Ada beberapa kejadian dan alasan yang saya alami selama satu tahun ke belakang sehingga membuat saya berpikir 'inilah saatnya bahasa Inggris harus menjadi bagian dari bahasa sehari-hari dalam hidup saya'. Sudah bukan saatnya pula menganggap bahwa penggunaan bahasa Inggris hanya untuk sok-sokan. Biar dikata orang modern, sok wertern, tidak menghargai bahasa sendiri, atau sebutan lain, mulai saat ini saya akan tutup telinga saja.

Kejadian yang memaksa untuk belajar bahasa Inggris adalah:

Traveling. Karena suka jalan-jalan, persoalan bahasa merupakan masalah yang biasanya kerap saya hadapi saat traveling. Pesan tiket, bahasa dalam kertas tiket, buku-buku petunjuk traveling, blog-blog para traveler kebanyakan berbahasa Inggris. Pas ke Bali, hampir semua informasi, pamflet, brosur, menu makanan menggunakan bahasa Inggris. Di sana pun, seperti surganya para turis asing. Saya sempet barengan pas naik pesawat dan dugem dengan para bule Jerman dan India.

Kalau bertemu teman jalan sama bule-bule gitu, biar komunikasi lancar, bahasa Inggris harus OK biar tidak terlalu banyak eee eee eee kalau pas ngobrol dengan bule. Catatan: bule kebanyakan tidak akan merespon obrolan orang terlalu lama mencari kata-kata. Itu dianggapnya bahwa orang yang gagap bahasa Inggris dianggap tidak menghormati lawan bicara. Nah lo? Saya pernah mengalaminya saat berenang di laut selatan di Pantai Pangandaran. Waktu itu ban yang saya tumpangi terseret ombak ke tengah. Karena saya belum bisa berenang, makanya saya minta tolong ke bule-bule Jerman yang saya ajak ngobrol pas saya masih di pantai tadi. Dan (bodohnya saya) karena bahasa Inggris saya kurang lancar, si bule merasa apa yang saya omongkan itu merupakan jokes garing ala remaja. Mulai saat itu saya mulai merasa bahasa Inggris penting bagi hidup saya.

Membaca. Sepertinya saya sudah sering membahas topik ini. Tapi, mungkin interest saya terhadap buku sedikit bergeser. Untuk memenuhi hasrat yang besar akan bahasa Inggris, mulai sekarang sedikit demi sedikit saya mulai membeli buku-buku berbahasa Inggris. Selain untuk koleksi, sekalian untuk belajar dan memperbanyak kosakata juga. Ya memang sih, jika dilihat dari harga, buku-buku berbahasa Inggris memang harganya lebih mahal secara di Indonesia masih merupakan buku impor. Jikapun, buku bahasa Inggris itu terbitan Indonesia, harganya juga ikut-ikutan harga buku impor. Sigh.

Sekolah. Cita-cita saya dari dulu adalah bisa sekolah di luar negeri. Negara-negera yang ingin sekali saya kunjungi banyak sekali. Melihat mahalnya biaya untuk bisa ke sana, beasiswa sepertinya adalah jalan satu-satu yang terpikirkan saat ini karena saya bukan (baca: belum termasuk orang kaya), bukan anak orang kaya, dan belum memiliki uang dalam jumlah besar untuk membiayai keinginan saya tersebut. Berbekal dari pengalaman teman-teman saya yang saat ini (cukup beruntung) bisa sekolah di luar negeri, sepertinya bahasa Inggris merupakan jembatan bagi siapa saja yang berniat menjalin atau mencari hubungan dengan dunia internasional.

Menulis. Hobi menulis juga merupakan alasan mengapa saya harus belajar bahasa Inggris. Selain karena kemampuan tulis-menulis dalam bahasa Inggris merupakan kemampuan yang harus dimiliki jika ingin belajar di luar negeri, jika kamu ingin blogmu dibaca oleh orang asing, akan lebih baik jika tidak mengandalkan google translator untuk menerjemahkan tulisan-tulisan kita. Terakhir jika tahu dengan rencana Andrea Hirata berikut seabreg agendanya adalah mengikuti festival sastra di forum internasional dan ikut kelas writing program di Iowa University, Amerika, saya merasa perlu belajar bahasa Inggris secara sungguh-sungguh sebagai persiapan jika tahun depan saya bisa ikut Summer Course di Belanda. Sepertinya menyenangkan jika tulisan-tulisan kita bisa dibaca oleh beragam kalangan, berbagai tingkat usia, bermacam-macam bangsa, di seantero penjuru dunia. Kapan ya saya bisa seperti itu?

Nonton film. Salah satu kesukaan saya yang lain adalah menonton film. Beberapa bulan terakhir saya mulai mencoba menikmati suatu film tanpa tergantung pada teks yang biasa menyertai suatu adegan. Bukannya sok aksi, tapi belajar listening kan harus dari berbagai macam sisi kehidupan. Dan bertambah mudah suatu pembelajaran jika kita menikmati cara-cara yang diambil merupakan kegiatan yang berhubungan erat dengan kebutuhan hidup kita.

Dan apakah yang saya lakukan untuk bisa berbahasa Inggris:

Sepertinya untuk sampai pada tingkat mahir butuh waktu yang agak lama jika partner incrime untuk belajar bahasa Inggris di lingkungan sekitar sangat sedikit. Untuk itu (seperti yang saya katakan di atas) saya mulai membeli buku-buku dengan teks bahasa Inggris, pinjam (secara diam-diam) kaset listening pembelajaran bahasa Inggris milik bapak kos hehehe, dan join di situs-situs yang menawarkan cara-cara berbahasa Inggris di sini.

Mengatur waktu. Dan sepertinya bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk memulai. Saya pilih bulan Ramadhan karena (mungkin) saya akan punya sedikit waktu luang untuk dialokasikan dalam waktu belajar saya di tengah kesibukan. Sengaja saya menghindari memasukkan lagu sebagai media belajar bahasa Inggris soalnya bisa lupa suasana jika sudah menyanyi. Pengalaman menunjukkan bahwa jika menyanyi, dunia seakan hening mendengarkan suara Giant (baca: Jayen, tokoh di serial Doraemon). Tahu kan maksudnya.

So, English is very important to your future. Let's learn, speak, and tray to make English as a part of our life. Cheers!!! ;=)

Thursday, June 17, 2010

Episode #20: Belajar (menjadi) Kreatif

Akhir-akhir ini saya merasa energi kreatif dalam diri berkurang dan terus-menerus berkurang. Buku di rak banyak sekali yang belum terbaca. Tulisan yang ingin ditulis juga beberapa kali malah urung untuk dituliskan. Saya jadi bertanya-tanya, ada apa dengan diri saya? Terlalu banyak pikiran, terlalu banyak yang diurusi, (seolah-olah) begitu terbatasnya waktu. Suatu ketika, saya ingin sekali keluar dari segala kungkungan rutinitas yang membelenggu.

Berteman dengan orang-orang kreatif memang menyenangkan. Kadang saya agak iri dengan kebebesan ekspresi yang mereka miliki. Sepertinya mereka tak pernah kekeringan ide untuk melakukan aktivitas yang membuat hidupnya kian berwarna. Saya mengetahuinya dari situs-situs jejaring sosial yang menampakkan status-status dari para figur kreatif tersebut. Dan lebih mencengangkan buat saya karena beberapa orang yang saya anggap kreatif tersebut, tahun ini, sudah mengeluarkan hasil kreativitas mereka. Saya hanya berpikir sejenak, kok bisa ya mereka sebegitu efektifnya membagi waktu dan berkontemplasi dengan dirinya sendiri untuk menikmati me time dan melakukan kegiatan produktif yang (tak jarang) menginspirasi.


Tahun lalu saya ketemu dengan Dewi 'Dee' Lestari saat peluncuran buku terbarunya yaitu Perahu Kertas. Sebelumnya saya juga mengikuti proses kreatif dari blognya. Dunia menulis sepertinya memang dunia yang menurut saya menarik. Pernah dalam satu momen perenungan, saya ingin suatu saat nanti (at least dalam 2 tahun mendatang) saya punya buku yang diterbitkan. Dunia kreativitas merupakan dunia yang menuntut diri kita mengerahkan segenap upaya baik fisik maupun pikiran, mencari, membuat, dan menciptakan suatu bentuk masterpiece yang mampu menunjukkan identitas diri si pencipta karya kreativitas tadi.
Namun demikian, seorang pekerja kreatif juga dituntut untuk mempertanggungjawabkan buah pikirnya itu kepada masyarakat. Artinya, jika seseorang berani untuk menunjukkan karya kreativitasnya kepada khayalak, karya itu setidaknya harus orisinal, bukan jiplakan. Blog pun bagi saya merupakan karya kreativitas yang dapat menunjukkan identitas dari penulis blog itu. Oleh karena itu, tulisan di blog juga harus orisinal. Kalaupun ada tulisan bagus yang layak untuk disebarkan dan menurut si empunya blog layak untuk ditampilkan dalam blognya, hal itu tidak termasuk penjiplakan asal saja dicantumkan sumber dari mana data tersebut diambil.

Minggu kemarin saya baru saja menyelesaikan membaca buku Oh My Goodness, Buku Pintar Seorang Kreatif Junkies karya Yoris Sebastian. Buku itu menurut saya dapat menumbuhkan sisi-sisi kreatif dari seorang yang tak kreatif sekalipun, menjadi orang yang dapat memunculkan ide-ide kreatifnya jika mau secara tekun melakukan setiap latihan yang ditunjukkan dalam buku. Berangkat dari ide, kreativitas menuntut untuk dilakukan secara bertahap, diasah pelan-pelan secara periodik, dan dilatih secara teratur dan terencana.

Setelah membaca buku tersebut, saya jadi ingat dengan proyek menulis buku saya yang pertama (yang sampai sekarang belum selesai-selesai). Saya jadi bertanya(-tanya), ke manakah energi kreatif saya selama ini? Kok sepertinya menguap tanpa jejak. Waktu hilang berganti dan kesempatan datang dan pergi seolah tak kenal kata permisi. Dari dulu, menulis buku merupakan salah satu mimpi saya. Sudah banyak inspirasi datang dan pergi layaknya teman lama yang bertamu setelah pergi berpisah, dulu. Tapi, semangat untuk menuangkan ide dalam kata-kata seperti tersedat di kata pertama dan teraborsi begitu saja tanpa merasa pernah ingin untuk lahir ke alam biner.

Mungkin juga karena saya suka jalan-jalan, yang membuat saya kurang fokus untuk menciptakan karya kreativitas. Tapi kalau boleh dibilang, Trinity juga suka jalan-jalan dan dia rajin menulis pengalaman jalan-jalannya di blog. Alhasil, setelah sekian lama masa jalan-jalannya ke berbagai daerah, dia sudah menerbitkan buku sebanyak 3 judul. Keren kan.

Jadi yang paling penting untuk menciptakan karya kreatif adalah menumbuhkan niat dan minat, terus fokus pada apa yang kita niatkan itu. Ada banyak alasan yang mungkin membenarkan dan menyuguhkan beragam ide untuk beralasan agar kita selalu menunda-nunda kegiatan menulis. Tapi, jika hari minggu tiba dan teman-teman saya (baik kenal di dunia nyata maupun maya) memberitahukan jika tulisannya dimuat di media cetak nasional, perasaan 'tertusuk' dan tergugah semangat menulis kembali hadir.

Apalagi bulan ini. Mungkin, bulan Juni atau bulan yang ada di sekitarnya (Mei dan Juli), banyak sekali teman saya yang meluncurkan buku terbarunya. Seperti saya perlihatkan di sebagian gambar yang saya uplod di blog ini menunjukkan bahwa teman-teman saya tersebut sangat produktif, mampu menggunakan waktu luangnya di sela-sela kesibukannya yang juga padat seperti saya. Dari kenyataan itu, saya jadi berpikir ulang. Bagaimana mereka bisa membuat waktu menjadi sangat efektif untuk dijalani, sehingga bisa melakukan hampir semua urusan yang harus dikerjakan tanpa mengurangi minat sedikitpun untuk selalu konsisten dalam berkarya.
Masih dari buku Oh My Goodness, saya jadi paham bahwa menjadi 'beda' itu memang penting. Memang tahap selanjutnya setelah kita memilih menjadi orang yang 'beda', orang akan menilai negatif, menjadi lain, dan akan dianggap aneh. Tapi kalau saya pikir, menjadi orang kreatif adalah saat kita mampu membuat sesuatu yang 'lain' dari apa yang sudah ada kebanyakan. Dan untuk itulah orang-orang yang ingin menjadi orang kreatif harus sedikit berpikir di luar kebiasaan. Karena tidak semua orang mampu berpikiran sejalan, bisa jadi tingkat akseptasi dari buah karya yang dihasilkan oleh seorang pekerja kreatif mendapatkan respon bermacam-macam dalam masyarakat.

Saat ini, saya sedang belajar bagaimana orang-orang (yang menurut saya) kreatif berkarya. Saya sedang membaca bukunya Andrea Hirata, Ayu Utami, Raditya Dika, dan beberapa penulis lain yang baru saja menerbitkan buku mereka. Dan sepertinya, karya Andrea Hirata layak untuk dijadikan pembelajaran. Satu hal yang juga layak dicontoh setelah saya membaca karya-karya Andrea Hirata, jika ingin menjadi orang kreatif, terutama di bidang tulis-menulis, kita hendaknya mau mengamati keadaan yang ada di sekeliling. Hal-hal yang oleh mata kebanyakan orang dianggap biasa saja, bisa jadi merupakan sumber inspirasi yang mampu membangkitkan semangat untuk terus menulis.

Terus terang saya agak kagum dengan Andrea Hirata. Memang sih, pada beberapa bagian tulisannya agak membosankan, di bagian yang lain ia bisa mendiskripsikan sesuatu secara filmis, di bagian lainnya lagi kerja editornya sangat acak-acakan, tapi secara umum, untuk tulisan-tulisan cerita edukatif inspiratif , namanya layak untuk dimasukkan dalam daftar. Ya sudahlah, daripada saya ngoceh ngalor ngidul, mending saya melanjutkan utang membaca buku-buku yang sampai saat ini belum terselesaikan.

PS: Membaca juga merupakan kerja kreatif. Dan menulis serta membaca merupakan saudara kembar, jadi musti dilakukan secara seimbang jika ingin menjadi pribadi kreatif secara total. OK, happy reading. ;=)

Wednesday, April 28, 2010

'Buku yang Baik' Berbuah Hadiah Buku

Minggu kemarin saya iseng-iseng menanggapi pengumuman yang dilakukan oleh teman 'ketemu di facebook' yang mengatakan kalau ada yang berminat menulis harapan terhadap suatu buku yang dia tawarkan akan mendapatkan buku yang dimaksud, lengkap dengan tanda tangan penulisnya. Teman tersebut bernama Rampa Maega. Berasal dari Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Seorang kristiani yang 'jatuh cinta' dengan sosok Nabi Muhammad SAW. Pengumuman tersebut seperti ini bunyinya "Buat teman2 yang ingin mendapatkan novel Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan Hujan (by Tasaro GK), silakan kirimkan catatan pendek tentang harapan atau yg sejenisnya pada buku ini ke inbox FB saya. 5 catatan 'terbaik' akan mendapatkan 1 novel M,LPH lengkap dengan TTD penulisnya dan akan dikirimkan langsung ke alamat masing2. ... Gratiisss..!!! Ditunggu hingga Senin pagi, 19 Apr 2010.'' Pengumuman itu diposting tanggal 17 April 2010 jam 10.03 pagi.

Karena berbagai kesibukan pekerjaan, saya baru bisa membuat tulisan hari Senin pagi tanggal 19 April 2010, sehabis sholat subuh. Mendekati deadline pula. Saya sudah berpikir bahwa periode kompetisi ini akan terlewatkan karena saya baru akan mengikutinya secara mendadak. Namun begitu akhirnya saya putuskan untuk ikut saja. Memang benar kalau ada istilah bahwa necessity is the mother of invention. Maka, di saat-saat genting seperti itulah mungkin otak saya jadi bekerja agak sedikit maksimal demi mengakuisisi apa yang disebut sebagai naluri kompetitif. Tulisan itu berjudul Buku yang Baik. Dan inilah tulisan saya yang saya ikutan untuk menanggapi tantangan dari Rampa Maega.
Buku yang Baik

Saya suka membaca sejak kecil. Kebiasaan ini terus termobilisasi hingga akhirnya menjadi kebutuhan hidup layaknya makan, minum, dan buang air. Berangkat dari kesukaan akan bahan bacaan dan (beberapa kali) memberikan review untuk sebuah buku, saya jadi sering beranalisis tentang indikasi sebuah buku dikatakan baik melalui cetakan pertama. Mengapa? Karena cetakan pertama merupakan representasi dari kinerja tiga elemen yang menjadi 'dalang' terbitnya sebuah buku. Penulis yang menyajikan konsep cerita, editor yang memberikan koreksi, dan penerbit yang berlaku sebagai akselerator. Maka saya agak mempertanyakan kredibilitas sebuah buku berikut kru di belakangnya jika di cetakan pertama banyak terjadi kesalahan teknis baik salah ketik, salah ejaan, salah tanda baca, dan lain-lain.

Mengikuti proses penulisan novel Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan melalui blog Tasaro GK rasa-rasanya buku ini dipersiapkan dengan serius. Soal kualitas, saya belum tahu karena belum membacanya. Mengingat subyek yang dibahas adalah sosok yang 'agung', di luar masalah teknis yang saya sebutkan di atas, saya hanya berharap bahwa deskripsi dalam buku ini tidak berpotensi menggiring pembaca (Muslim) justru menisbatkan atau mengagungkan secara berlebihan sosok Muhammad sebagai Nabi daripada Allah SWT sebagai Rabb seluruh alam semesta. Buku-buku tipe seperti ini hanya berpotensi menjadi dua macam, menggiring kepada kecintaan dan penguatan iman Islam atau malah berpotensi menyesatkan dan mendorong pada pengkhultusan seorang 'utusan'. Termasuk golongan yang manakah novel ini? Ah, saya tak sabar untuk segera membacanya.
Itulah tulisan yang saya kirimkan. Dan kira-kira dua jam setelah saya kirim di inbox Rampa Maega, saya mendapat notivikasi di facebook yang mengatakan kalau nama Adie Riyanto merupakan salah satu penerima buku tersebut. Wah senang sekali rasanya mendapatkan buku yang baru saja dilempar di pasaran. Bertanda tangan penulisnya pula. Beginilah berita gembira itu hadir "Selamat kpd Axn Azhar, Indra J. Santoso, Wianti Aisyah, Dedi Setiawan, & Adie Riyanto. Masing2 akan mendapatkan satu novel Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan by Tasaro Gk. Silakan mengirimkan alamat lengkap beserta nomor tlpn yang bisa dihubungi ke inbox FB saya. Terima kasih buat partisipasi teman2 semua dan mohon maaf bila ada yang kurang berkenan."

Dan, dengan ajaibnya dua hari setelah pengumuman, novel bertanda tangan itu sampai juga ke tangan saya. Inilah buku tersebut.
Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan
(baru saja diberi baju)

Menanti untuk dibaca dan diapresiasi

Sebenarnya buku-buku di kamar saya masih banyak yang belum (sempat) terbaca. Biasanya saya selalu membuat antrian buku mana yang dibaca lebih dulu. Tapi, karena buku ini saya rasa masih 'hangat' dan sepertinya menarik untuk dibaca, akhirnya antrian menjadi tergeser sedikit setelah buku ini datang.

Saya belum tahu apakah kesan yang akan saya dapat. Paling tidak jika bukunya tidak menarik, buku itu akan tetap saya perlakukan dengan baik. Saya pernah tahu seseorang yang ketika membaca buku dan buku tersebut karya penulis terkenal, namun karena isinya sangat banyak terdapat kesalahan tulis, salah cetak, salah ejaan, dan kesalahan editorial yang lain, buku yang ia baca langsung dilempar ke tempat sampah. Dan tahukah kamu kalau buku tersebut bertanda tangan penulisnya pula. Sayang banget kan sebenarnya. Tulisan itu bisa dibaca di sini. Semoga hal-hal seperti itu tidak akan terjadi dalam kehidupan saya.

Spesial untuk Adie Riyanto
(jangan ngiri ya semuanya)

Dengan datangnya buku ini, selain membawa pemikiran tentang kegiatan membaca yang akan saya lakukan ke depan, juga memberikan sentilan terhadap kelangsungan kehidupan kreatif yang saya jalani. Saya jadi bertanya-tanya, kapan buku saya selesai ditulis ya? Sebuah tamparan personal yang (kadang) menyakitkan ketika berhadapan dengan kenyataan. Sering saya malam-malam sebelum tidur masih disibukkan dengan pemikiran seperti ini, berhari-hari.

Melihat proses kreatif yang dilakukan oleh teman-teman saya (dari status yang mereka tulis di facebook) saya jadi agak sedikit iri dengan produktivitas yang mereka miliki. Setidaknya ada tiga atau empat orang yang draft tulisannya sudah siap untuk dicetak menjadi buku. Bahkan ada yang sudah tinggal menunggu waktu edar saja. Mantab sekali. Mungkin, saya sedang disibukkan dengan kerjaan kantor sehingga sering mengabaikan apa yang menjadi kesukaan saya yaitu menulis. Ditambah lagi persiapan masuk kuliah lagi juga cukup menyita waktu untuk menulis.

Tapi, biar bagaimanapun, saya tetap akan berusaha untuk menyelesaikan apa yang sudah saya rencanakan yaitu menulis. Fokus, tekun, dan bekerja keras. Itu mungkin jawaban dari ini semua. Saya hanya berharap bahwa kriteria 'buku yang baik' seperti saya tulis di atas bisa juga saya wujudkan.

Selain membaca, saat ini saya lagi konsentrasi untuk mengikuti lomba blog yang diadakan oleh Neso Indonesia. Siapa tau kalau menang saya bisa ikut mencicipi kuliah di Belanda. Yah, namanya juga ikhtiar, semoga saja saya bisa. Amin. Tulisan saya yang diikutkan lomba bisa dibaca di sini. Silakan tinggalkan komentar, tanggapan, atau apalah. Semoga berkenan.

Sekarang saatnya untuk berproses kreatif. Semoga banyak ide bermunculan datang. Terima kasih sekali lagi untuk Rampa Maega dan Tasaro Gk untuk hadiah bukunya.

PS: pada saat menulis catatan ini, saya sudah menikmati buku Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan sampai dengan halaman 76, bab 12. Desas Desus.

Wednesday, January 27, 2010

Menulis dan (teruslah) Menulis

Dalam suatu kesempatan saya pernah ditanya bagaimana caranya menulis yang baik. Di kesempatan yang lain, saya juga pernah ditanya tentang tips-tips menulis yang mudah dilakukan. Sebenarnya saya agak kurang nyaman untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Pertama, saya merasa belum pandai dan mahir menulis. Apa yang tertuliskan di sini biasanya hanyalah pikiran yang terlintas sekelebatan mata saja. Kedua, saya termasuk orang yang kurang pandai untuk membagi waktu. Berkali-kali sudah membuat jadwal yang (saya pikir) rapi, ternyata malah (dengan sukses) saya langgar sendiri. Walhasil, pekerjaan menulis yang secara sadar diniatkan untuk menulis sebuah buku, sampai saat ini belum terlaksana akibat begitu banyaknya toleransi waktu (baca: kemalasan) yang mendapat tempat. Jadi teringat kata Pablo Picasso yaitu menunda sampai besok apa yang Anda inginkan, bisa membuat Anda mati tanpa melakukan apapun. Wuih, malu sekali.

Memang benar, pekerjaan menulis membutuhkan sejumput kreativitas, kedisiplinan yang tinggi, dan kemewahan akan tersedianya waktu luang. Hal-hal yang sebenarnya merupakan sesuatu yang sulit untuk saya dapatkan akhir-akhir ini. Akan tetapi karena menulis sudah menjadi kebiasaan (dan juga panggilan jiwa), walaupun jarang dilakukan tetap saja selalu memanggil dan menggoda untuk segera dilakukan. Menumbuhkan kesukaan untuk menuliskan ide atau pemikiran dalam sebuah bahasa tulis memang bukan hal yang mudah, juga bukan hal yang susah untuk dilakukan. Yang diperlukan hanyalah sebuah sikap penasaran yang terus-menerus dipelihara, untuk selalu bertanya (dan bertanya-tanya) sekaligus belajar untuk mempertanyakan sesuatu.

Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat dan animo yang dapat menjadi dorongan bagi pikiran kita untuk senantiasa bertanya dan bertanya. Salah satunya adalah dengan membaca. Membaca apa saja dan di mana saja, melahap berbagai macam dan jenis literatur. Namun, kalau boleh saya bilang, pilihlah beberapa topik yang dianggap paling menarik, paling mendekati passion Anda. Biasa, lebih mudah untuk membaca buku-buku karya para penulis yang Anda idolakan. Yang saya lakukan biasanya adalah membuat daftar buku-buku yang akan saya baca dalam satu bulan ke depan. Buku-buku tersebut di atur sedemikian rupa sehingga pada akhir bulan, semua buku yang masuk daftar sebisa mungkin selesai dibaca.

Setelah membaca, biasanya akan timbul pemikiran tentang kesan dari buku yang baru saja kita baca. Mulailah untuk menjadi kritikus dari karya orang lain. Mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan dari karya yang baru saja kita baca. Setelah itu cobalah untuk membuat coretan-coretan sebagai sebuah review atau pendapat tentang kualitas dari buku yang di maksud. Dari review yang Anda buat, akhirnya diketahui tentang kriteria-kriteria dari kualitas karangan yang menurut Anda bagus. Mulai dari persepsi tersebut, mulailah membuat karya sendiri yang kualitasnya mendekati dari apa yang menjadi panduan untuk menilai karya orang lain tersebut. Biasanya, nilai rasa ini yang sering menghantarkan seseorang dari nobody menjadi somebody karena berawal dari ketidakpuasannya membaca karya orang lain sehingga mendorongnya untuk menulis karya sendiri yang lebih sreg di hati.

Sarana lain yang mudah bagi kita untuk belajar dan menumbuhkan inspirasi adalah dengan membaca blog para penulis yang sudah mempunyai jam terbang lumayan tinggi dalam dunia penulisan. Di era yang serba digital ini, blog sudah menjadi semacam media yang mudah diakses dan menjamur dalam ranah dunia maya. Dengan adanya kompetisi yang ketat dari para penyadia jasa internet, blog merupakan sarana yang murah meriah untuk belajar menulis sekaligus memublikasikannya kepada khalayak. Beberapa blog yang menarik dan dapat dijadikan alternatif sumber inspirasi adalah blognya Dewi 'Dee' Lestari, Andrea Hirata, Eka Kurniawan dan Ayu Utami. Walaupun ada banyak blog menarik di jagad maya, saya memilih keempat blog di atas karena mereka adalah penulis-penulis favorit saya. Sebenarnya ada satu lagi yaitu Pramoedya Ananta Toer. Tapi karena beliau sudah meninggal dunia, jadi karyanya hanya bisa saya nikmati dalam bentuk buku saja.

Para penulis di atas, kerap menuliskan pandangannya baik mengenai kehidupan, kebiasaan, maupun proses kretifnya dalam menulis. Tak jarang dalam beberapa postingan di blognya diselipkan tentang bagaimana tingkah polah perjuangannya dalam menulis dan membangun sebuah karya dari nol. Sampai saat ini saya juga masih penasaran dengan proses kreatif dari Habiburrahman El-Shirazy, penulis fenomenal yang sudah melahirkan karya-karya best seller seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan lain-lain. Sebenarnya saya tidak begitu suka dengan karyanya, tapi saya kagum dengan kerajinan dan kedisiplinannya dalam menulis sehingga kelihatan sangat produktif menelurkan karya-karya baru.

Selain blog, ada juga sumber-sumber lain yang dapat dijadikan pilihan yaitu koran, surat kabar, dan majalah. Saya senang dengan dunia kliping. Biasanya, jika ada artikel atau berita menarik yang menurut saya unik dan penting, saya akan mengguntingnya untuk dijadikan kliping. Namun jika majalah tersebut kertasnya agak luks, saya sayang untuk mengguntingnya. Walhasil hanya majalahnya saja yang saya beri sampul agar tidak kusut dan gampang terlipat.

Banyak dari teman-teman saya yang bertanya bahwa di kepalanya banyak sekali ide terlintas dan meminta untuk segera ditulis menjadi sebuah karya entah berupa artikel, cerpen, puisi, atau hanya sebuah opini. Namun, kebanyakan dari mereka merasa susah untuk memulai menuliskannya. Yang menjadi pokok persoalan di sini bukan memulainya yang susah, tapi terlampau berkutat dengan segala ide yang bermunculan. Kuncinya adalah dengan menetapkan skala prioritas. Pilih satu topik yang paling menarik bagi Anda. Jika semua topik menarik untuk ditulis, tetap pilih satu saja dari sekian topik menarik tadi untuk mulai ditulis. Mulai satu-satu saja. Karena animo yang menggebu untuk menulis biasanya juga berakibat pada tidak tertuliskannya sama sekali semua ide yang terlintas tadi. Bukankah itu juga akan berpotensi menjadi limbah ide yang sangat disayangkan. Jadi, daripada banyak ide terbuang percuma, lebih baik memilih memulai yang sederhana dahulu. Membuat ulasan atau kritikan terhadap bacaan atau topik berita yang baru saja kita nikmati juga bisa digunakan sebagai sarana untuk menulis.

Saya kira, apapun alasannya, yang penting tetapkan disiplin untuk tetap menulis. Tak perlu dihiraukan tentang segala tetek bengek efek menulis yang katanya dapat melegakan pikiran atau menjadi terapi jiwa. Jika sudah tercipta suatu disiplin yang teratur untuk tetap menulis, saya yakin, tak perlu ada alasan susah untuk memulai. Catatan ini bukan sebagai acuan yang HARUS dilakukan. Setiap orang punya cara sendiri-sendiri dalam berproses kreatif dalam menulis. Cari dan nikmati cara yang paling nyaman dan paling efektif untuk membuat Anda dalam menulis. Kuncinya hanya satu. Terus menulis.

Gambar dipinjam dari sini.

Monday, November 30, 2009

Jalan Panjang Menuju Surga Ubud

Membaca dan menulis sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari saya. Seperti pernah saya tulis dalam postingan saya terdahulu, membaca sudah menjadi kebutuhan hidup layaknya makan, minum, dan buang air. Sedangkan menulis saat ini, sedang menjadi hobi yang terus-menerus meminta untuk diasah. Sejak memiliki netbook, gairah untuk menulis dalam diri saya semakin meningkat. Writing is my passion. Mungkin itu ungkapan yang dapat mewakili representasi dari animo menulis yang saya alami. Saat ini saya tidak akan berbicara banyak akan kegiatan kreatif saya dalam membaca. Pertama karena sudah terlalu sering saya membahas perihal membaca. Yang kedua, karena membaca sudah seperti semacam kebutuhan, rasanya tidak perlu mendapat porsi lebih untuk membahas sesuatu yang sudah dilakukan secara periodik atau setiap hari.

Menulis bagi saya adalah semacam terapi jiwa. Entah mengapa, setelah selesai menulis, walaupun itu hanya mengisi folder curhat di netbook, rasanya ada semacam perasaan plong yang menjalar di diri ini. Pikiran seakan lepas seperti kalau kita mengungkapkan isi hati, memuntabkan amarah, atau tertawa terbahak-bahak. Menulis juga menjadi semacam alternatif untuk membunuh waktu luang. Karena keasyikan untuk menulis, rasanya saya ingin diberi tambahan deposit waktu dalam sehari agar mempunyai waktu sedikit lebih lama untuk menulis.

Dari kecil saya memang suka menulis. Walaupun tidak ada satupun anggota keluarga saya yang berprofesi sebagai penulis, pekerjaan menulis rasa-rasanya bisa saya jadikan semacam profesi sampingan dalam hidup. Saat ini saya sedang membaca buku Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang dari jilid satu sampai dengan jilid empat. Isinya adalah proses kreatif dari para penulis-penulis Indonesia yang karya-karyanya sudah diterbitkan dan mendapatkan pengakuan. Menarik sekali membaca kisah-kisah mereka dalam berproduksi untuk menghasilkan karya. Ada yang menganggap dirinya tinggi maksudnya menganggap bahwa kerja menulis atau bersastra hanyalah privilage dari orang-orang yang ngerti sastra, walaupun tidak dengan kata-kata yang langsung terus terang, namun dapat dirasakan dari diksi yang beliau pilih. Ada yang cukup rendah hati, bahwa pekerjaan menulis adalah pekerjaan biasa saja yang dapat dikerjakan oleh semua orang asalkan rajin berlatih dan terus menerus mengasah kemampuannya dalam mengolah bahasa. Saya sedikit banyak belajar dari pengalaman mereka. Terutama sekali saya suka penjelasan Pak A.A. Navis, penulis cerpen Robohnya Surau Kami karena beliau menjelaskan proses kreatifnya dengan bahasa yang lugas, sederhana, tidak bertele-tele, dan mudah dimengerti. Dan tentu saja, tulisannya tersebut tidak terlalu memberikan jarak dari pembacanya, maksudnya diksi yang beliau gunakan seakan-akan orang yang akan membaca tulisan tersebut adalah sepadan. Beliau menempatkan dirinya sebagai mitra yang sedang membagi ilmu dan pengalamannya dalam berproses kreatif untuk menulis.
Saya memang belum selesai membaca ke-empat jilid buku tersebut. Sampai saat saya menulis catatan ini, saya baru sampai pada jilid ke dua. Menyenangkan sekali memang rasanya kalau kita bisa menulis.

Mengacu pada para penulis yang sepertinya menganggap tinggi dirinya setelah ‘kerja sastra’ yang dilakoninya, saya ingat perkataan Ratih Kumala, penulis buku Kronik Betawi, bahwa seseorang yang belum mumpuni, artinya belum mempunyai kerja nyata dalam dunia kepenulisan hendaknya tidak perlu menganggap tinggi dirinya seolah-olah sudah menjadi sastrawan besar. Saya setuju dengan pendapatnya. Sampai saat ini, saya memang belum menghasilkan buku. Tapi saya akan berusaha untuk mengarah ke sana. Maka dari itu, saya berusaha untuk tidak membuang-buang waktu dan tenaga saya untuk melakukan hal-hal yang tidak perlu, yang mungkin akan menghambat jalan saya dalam berproses kreatif untuk menulis. Saya sebenarnya enggan untuk memberi komentar terhadap segala tulisan teman-teman saya yang minta untuk dikomentari. Yang pertama karena kita sama-sama sedang belajar. Menurut saya, ketika kita sedang belajar menulis, dan kita bermaksud untuk menuju ke arah produksi buku, saya rasa minta komentar atau kritik saran tidak perlu terlampau penting. Karena bisa jadi alih-alih memberi semangat kepada calon penulis yang bagus, akan berpotensi juga untuk menghancurkan semangat calon penulis tersebut untuk terus menulis. Yang kedua, dalam taraf saya sekarang, saya belum mempunyai reputasi apapun di bidang kepenulisan. Apalagi sastra. Jadi, saya merasa kurang pantas untuk dimintai pendapatnya dalam menilai bagus tidaknya sebuah karya. Biasanya, saya akan memberi komentar agar calon penulis yang bersangkutan terus semangat untuk menulis.

Menulis bagi saya juga semacam pembuktian atas pencarian jati diri. Saya benar-benar ingin untuk membuktikan diri bahwa saya mampu membuat cerita yang bagus dan bermutu. Saya yakin bahwa apapun yang saya pikirkan penting untuk ditulis. Saya tidak menganggap bahwa apa yang akan saya tulis adalah sesuatu yang brilian atau berpotensi menakjubkan orang lain. Tulisan ini murni untuk diri saya sendiri. Inisiatif itu datang karena adanya keinginan untuk menuruti keegoisan dahaga pribadi untuk menulis cerita akibat serangkaian perjalanan panjang membaca dan menonton film. Ada semacam dorongan di diri ini yang mengatakan bahwa saya juga mampu melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh orang lain di belahan lain dunia.

Memang, saya ingin sekali keliling dunia. Namun, saya tidak ingin perjalanan keliling dunia tersebut hanya berupa kunjungan wisata. Ada keinginan untuk berkomunikasi lebih jauh dengan orang-orang di luar negeri, bertukar pikiran dan ide, serta menjalin tali persaudaraan sehingga kunjungan yang saya lakukan akan mempunyai cerita dan kesan tersendiri. Oleh karena itu saya belajar menulis. Saya ingin menulis cerita yang bagus, yang dapat dibaca, diapresiasi, dan dinikmati oleh semua orang di seluruh dunia sehingga hal itu memungkinkan saya untuk roadshow ke beberapa negara. Saya melihat pengalaman JK. Rowling, Stephenie Meyer, dan Christopher Paolini saat mereka keliling dunia untuk mempromosikan bukunya. Selain itu tentu saja, ada festival-festival buku yang mengundang penulis-penulis dari seluruh dunia untuk berkumpul, duduk dalam satu meja membicarakan topik-topik dalam dunia literasi. Sungguh menyenangkan bisa menikmati pengalaman menarik seperti itu.

Berbicara mengenai festival yang dapat mengumpulkan penulis-penulis dari seluruh dunia, ada satu festival di Indonesia yang mewadahinya. Festival itu bernama Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Sebuah acara tahunan pertemuan penulis dunia dengan penulis Indonesia yang diselenggarakan di Ubud, Bali atas prakarsa Janet da Neefe yang bernaung di bawah Yayasan Mudra Swari Saraswati.

Saya mengenal Janet da Neefe karena tidak sengaja melihat akun facebooknya ada di daftar teman milik teman saya. Saya baru tahu kalau Janet (panggilan akrab Janet da Neefe) adalah Direktur Eksekutif UWRF. Waktu itu saya iseng menambahkan dia sebagai teman karena melihat dia adalah seorang cewek bule Australia yang cantik dan seksi. Baru-baru ini, saya baca profilnya di Kompas (edisi Minggu 11 Oktober 2009), ternyata dia adalah dewinya Ubud, anggun sekali mengenakan kebaya Bali.

Menurut berita-berita di koran UWRF sebenarnya sama seperti acara jumpa penulis yang biasa saya datangi di Jakarta, bedanya jumpa penulisnya kebanyakan adalah penulis dari luar negeri. Tentu saja bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris. Dengan reputasi tersebut tentunya UWRF mempunyai nilai tersendiri dan menjadi mimpi sebagian penulis tanah air agar karyanya dapat dinikmati oleh publik yang lebih luas. Artinya UWRF dapat menjadi jalan bagi penulis-penulis Indonesia untuk memperkenalkan karyanya di forum international.

Walaupun UWRF bukan satu-satunya jalan, tapi saya pikir suatu saat nanti, saya ingin sekali datang ke sana. Bukan sebagai peserta, tapi sebagai panelis yang diundang untuk mempresentasikan karya saya. Memang saat itu masih jauh dan saya sudah membuangnya jauh-jauh saat sedang berproduksi seperti ini. Tapi paling tidak saya sudah menyiapkan arah dan tujuan saya melangkah. Saya yakin bahwa kerja orang yang punya rencana lebih baik daripada kerja dadakan. Dan saya menyiapkannya dari sekarang. Saya agak sedikit iri dengan orang-orang yang saya kenal telah lebih dahulu diundang ke Ubud. Kalau saya perhatikan mereka-mereka adalah orang-orang yang bekerja keras mewujudkan mimpinya. Mereka kebanyakan adalah orang-orang yang keras kepala. Tidak mendengarkan celaan orang lain yang bermaksud untuk meremehkan dan mematahkan semangat. Dan hasilnya sudah bisa nilai dari kehebatan karya-karya mereka, buah dari kebebalan mengahadapi celaan yang tak beralasan.

Ubud memang menjadi primadona tensendiri bagi para pecinta buku dan mereka-mereka yang aktif dalam dunia literasi. Ibaratnya UWRF menjadi semacam tiket bagi penulis-penulis lokal untuk go international. Banyak mimpi diharapkan dan digantungkan dari UWRF. Sepertinya penulis Indonesia kurang afdhol kalau belum diundang di Ubud.

Selain magnet UWRF, ada rahasia kecil yang ingin saya bagi mengenai kenapa saya ingin berkunjung ke Ubud. Kata teman-teman saya, di Ubud ada tempat relaksasi dan tempat yoga yang nyaman sekali. Cocok sebagai sarana self healing dan media brainstrorming. Inilah yang menyebabkan Ubud dianggap sebagai surga untuk berkesenian. Self healing merupakan sarana untuk mengharmonikan medan magnet dalam tubuh dengan jiwa (soul) seseorang. Cara ini ditempuh sebagai upaya untuk menyatukan pikiran, ketenangan jiwa, dan harmoni alam. Efeknya sungguh luar biasa. Dampak dari stres akibat kepenatan hidup bisa berangsur-angsur menurun, peredaran darah lancar, dan tentu saja pikiran menjadi jernih. Pikiran yang jernih merupakan modal utama untuk melakukan brainstorming ide. Saya menyukai gabungan kedua konsep tersebut. Rasanya harmonisasi alam pikiran dengan olah jiwa tersebut dapat membuat kita mendapatkan sesuatu dengan bekerja keras tanpa kita merasa terlalu terbebani dengan apa yang tengah kita lakukan. Sebuah paket komplit yang menyatu menjadi paduan sempurna bagi para komuters Jakarta yang setiap harinya bersinggungan dengan deadline pekerjaan dan kemacetan lalu lintas.

Begitulah, betapa menakjubkannya hubungan menulis dengan mimpi untuk ke Ubud. Suatu jalan panjang yang layak dititi dengan kesungguhan dan kerja keras demi terwujudnya mimpi. Masih banyak hal perlu dipelajari, masih banyak waktu untuk koreksi diri, masih banyak jeda untuk mengambil sikap, dan tentu saja masih banyak yang harus dipersiapkan untuk ke Ubud. Jalan menuju kemerdekaan jiwa. Melalui medium kekuatan bahasa. Keajaiban kata.


Gambar dipinjam dari sini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...