Showing posts with label Kuali Kenangan. Show all posts
Showing posts with label Kuali Kenangan. Show all posts

Wednesday, April 28, 2010

'Buku yang Baik' Berbuah Hadiah Buku

Minggu kemarin saya iseng-iseng menanggapi pengumuman yang dilakukan oleh teman 'ketemu di facebook' yang mengatakan kalau ada yang berminat menulis harapan terhadap suatu buku yang dia tawarkan akan mendapatkan buku yang dimaksud, lengkap dengan tanda tangan penulisnya. Teman tersebut bernama Rampa Maega. Berasal dari Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Seorang kristiani yang 'jatuh cinta' dengan sosok Nabi Muhammad SAW. Pengumuman tersebut seperti ini bunyinya "Buat teman2 yang ingin mendapatkan novel Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan Hujan (by Tasaro GK), silakan kirimkan catatan pendek tentang harapan atau yg sejenisnya pada buku ini ke inbox FB saya. 5 catatan 'terbaik' akan mendapatkan 1 novel M,LPH lengkap dengan TTD penulisnya dan akan dikirimkan langsung ke alamat masing2. ... Gratiisss..!!! Ditunggu hingga Senin pagi, 19 Apr 2010.'' Pengumuman itu diposting tanggal 17 April 2010 jam 10.03 pagi.

Karena berbagai kesibukan pekerjaan, saya baru bisa membuat tulisan hari Senin pagi tanggal 19 April 2010, sehabis sholat subuh. Mendekati deadline pula. Saya sudah berpikir bahwa periode kompetisi ini akan terlewatkan karena saya baru akan mengikutinya secara mendadak. Namun begitu akhirnya saya putuskan untuk ikut saja. Memang benar kalau ada istilah bahwa necessity is the mother of invention. Maka, di saat-saat genting seperti itulah mungkin otak saya jadi bekerja agak sedikit maksimal demi mengakuisisi apa yang disebut sebagai naluri kompetitif. Tulisan itu berjudul Buku yang Baik. Dan inilah tulisan saya yang saya ikutan untuk menanggapi tantangan dari Rampa Maega.
Buku yang Baik

Saya suka membaca sejak kecil. Kebiasaan ini terus termobilisasi hingga akhirnya menjadi kebutuhan hidup layaknya makan, minum, dan buang air. Berangkat dari kesukaan akan bahan bacaan dan (beberapa kali) memberikan review untuk sebuah buku, saya jadi sering beranalisis tentang indikasi sebuah buku dikatakan baik melalui cetakan pertama. Mengapa? Karena cetakan pertama merupakan representasi dari kinerja tiga elemen yang menjadi 'dalang' terbitnya sebuah buku. Penulis yang menyajikan konsep cerita, editor yang memberikan koreksi, dan penerbit yang berlaku sebagai akselerator. Maka saya agak mempertanyakan kredibilitas sebuah buku berikut kru di belakangnya jika di cetakan pertama banyak terjadi kesalahan teknis baik salah ketik, salah ejaan, salah tanda baca, dan lain-lain.

Mengikuti proses penulisan novel Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan melalui blog Tasaro GK rasa-rasanya buku ini dipersiapkan dengan serius. Soal kualitas, saya belum tahu karena belum membacanya. Mengingat subyek yang dibahas adalah sosok yang 'agung', di luar masalah teknis yang saya sebutkan di atas, saya hanya berharap bahwa deskripsi dalam buku ini tidak berpotensi menggiring pembaca (Muslim) justru menisbatkan atau mengagungkan secara berlebihan sosok Muhammad sebagai Nabi daripada Allah SWT sebagai Rabb seluruh alam semesta. Buku-buku tipe seperti ini hanya berpotensi menjadi dua macam, menggiring kepada kecintaan dan penguatan iman Islam atau malah berpotensi menyesatkan dan mendorong pada pengkhultusan seorang 'utusan'. Termasuk golongan yang manakah novel ini? Ah, saya tak sabar untuk segera membacanya.
Itulah tulisan yang saya kirimkan. Dan kira-kira dua jam setelah saya kirim di inbox Rampa Maega, saya mendapat notivikasi di facebook yang mengatakan kalau nama Adie Riyanto merupakan salah satu penerima buku tersebut. Wah senang sekali rasanya mendapatkan buku yang baru saja dilempar di pasaran. Bertanda tangan penulisnya pula. Beginilah berita gembira itu hadir "Selamat kpd Axn Azhar, Indra J. Santoso, Wianti Aisyah, Dedi Setiawan, & Adie Riyanto. Masing2 akan mendapatkan satu novel Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan by Tasaro Gk. Silakan mengirimkan alamat lengkap beserta nomor tlpn yang bisa dihubungi ke inbox FB saya. Terima kasih buat partisipasi teman2 semua dan mohon maaf bila ada yang kurang berkenan."

Dan, dengan ajaibnya dua hari setelah pengumuman, novel bertanda tangan itu sampai juga ke tangan saya. Inilah buku tersebut.
Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan
(baru saja diberi baju)

Menanti untuk dibaca dan diapresiasi

Sebenarnya buku-buku di kamar saya masih banyak yang belum (sempat) terbaca. Biasanya saya selalu membuat antrian buku mana yang dibaca lebih dulu. Tapi, karena buku ini saya rasa masih 'hangat' dan sepertinya menarik untuk dibaca, akhirnya antrian menjadi tergeser sedikit setelah buku ini datang.

Saya belum tahu apakah kesan yang akan saya dapat. Paling tidak jika bukunya tidak menarik, buku itu akan tetap saya perlakukan dengan baik. Saya pernah tahu seseorang yang ketika membaca buku dan buku tersebut karya penulis terkenal, namun karena isinya sangat banyak terdapat kesalahan tulis, salah cetak, salah ejaan, dan kesalahan editorial yang lain, buku yang ia baca langsung dilempar ke tempat sampah. Dan tahukah kamu kalau buku tersebut bertanda tangan penulisnya pula. Sayang banget kan sebenarnya. Tulisan itu bisa dibaca di sini. Semoga hal-hal seperti itu tidak akan terjadi dalam kehidupan saya.

Spesial untuk Adie Riyanto
(jangan ngiri ya semuanya)

Dengan datangnya buku ini, selain membawa pemikiran tentang kegiatan membaca yang akan saya lakukan ke depan, juga memberikan sentilan terhadap kelangsungan kehidupan kreatif yang saya jalani. Saya jadi bertanya-tanya, kapan buku saya selesai ditulis ya? Sebuah tamparan personal yang (kadang) menyakitkan ketika berhadapan dengan kenyataan. Sering saya malam-malam sebelum tidur masih disibukkan dengan pemikiran seperti ini, berhari-hari.

Melihat proses kreatif yang dilakukan oleh teman-teman saya (dari status yang mereka tulis di facebook) saya jadi agak sedikit iri dengan produktivitas yang mereka miliki. Setidaknya ada tiga atau empat orang yang draft tulisannya sudah siap untuk dicetak menjadi buku. Bahkan ada yang sudah tinggal menunggu waktu edar saja. Mantab sekali. Mungkin, saya sedang disibukkan dengan kerjaan kantor sehingga sering mengabaikan apa yang menjadi kesukaan saya yaitu menulis. Ditambah lagi persiapan masuk kuliah lagi juga cukup menyita waktu untuk menulis.

Tapi, biar bagaimanapun, saya tetap akan berusaha untuk menyelesaikan apa yang sudah saya rencanakan yaitu menulis. Fokus, tekun, dan bekerja keras. Itu mungkin jawaban dari ini semua. Saya hanya berharap bahwa kriteria 'buku yang baik' seperti saya tulis di atas bisa juga saya wujudkan.

Selain membaca, saat ini saya lagi konsentrasi untuk mengikuti lomba blog yang diadakan oleh Neso Indonesia. Siapa tau kalau menang saya bisa ikut mencicipi kuliah di Belanda. Yah, namanya juga ikhtiar, semoga saja saya bisa. Amin. Tulisan saya yang diikutkan lomba bisa dibaca di sini. Silakan tinggalkan komentar, tanggapan, atau apalah. Semoga berkenan.

Sekarang saatnya untuk berproses kreatif. Semoga banyak ide bermunculan datang. Terima kasih sekali lagi untuk Rampa Maega dan Tasaro Gk untuk hadiah bukunya.

PS: pada saat menulis catatan ini, saya sudah menikmati buku Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan sampai dengan halaman 76, bab 12. Desas Desus.

Wednesday, March 03, 2010

Jejak Langkah Sang Petualang

Seorang backpacker legendaris pernah berkata, "Certainly, travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living."

Dan sampai saat ini, saya belum tergoda untuk menggunakan jasa travel agent untuk memenuhi hasrat untuk jalan-jalan.

I think the world is like a book. Those who do not travel only read one page. So yes, I would have been a traveller. And a reader, of course.

Karena tergolong baru, inilah beberapa foto yang mewakili daerah atau tempat 'keluyuran' saya selama ini.

Keluyuran ke Bundaran HI, waktu masih ndeso, kurang afdhol kalau belum ke sini


Wisata Kota Tua, Jakarta
Ikutan World Book Day, sekalian pelesiran ;=)


Di kebun buah Mekarsari
Serasa jadi Poison Ivy ... lol


Di pantai Anyer, Serang
Akhirnya nama Adie tertulis juga di pantai
(www.gakpenting.com)


Ikutan rafting di Citarik bareng emak-emak dan om-om hehehe
(dengan sangat terpaksa, tapi seru juga kok)


Mengeyahkan diri dari kepenatan ibukota
saya kabur ke Garut


Udah lama pengen ke Bandung, akhirnya kesampaian juga
Welcome to Dago street handsome hehehe


Obyek wisata kebanggaan Kota Nganjuk
Air Terjun Sedudo
(katanya sih kalau mandi di sini bisa awet muda xixixixi)


Pengalaman pertama keluar pulau Jawa, selain ke Madura
Belitong Island, Buminya Laskar Pelangi


Berasa jadi orang kaya hehehe,
mencicipi kolam renang mewahnya Om Tommy Suharto di Bali


Dan ini dia, terakhir kalinya saya traveling, sebelum kembali disibukkan dengan pekerjaan,
ke Green Canyon di Pangandaran

Pengen traveling lagi sebenarnya, tapi belum menemukan waktu yang tepat.
Semoga segera terlaksana. Amin.

Monday, September 14, 2009

Meet and Greet with Dewi 'Dee' Lestari

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Kesempatan untuk bertemu dengan seseorang yang piawai dalam menulis. Seseorang yang sebelumnya hanya saya kenal lewat karya-karyanya baik dari buku, mp3, atau dari berita-berita di televisi maupun surat kabar. Seseorang yang selalu saya ikuti tulisan-tulisannya di blog. Seseorang yang merupakan salah satu penulis favorit saya dari Indonesia selain Andrea Hirata, Ayu Utami, dan Pramoedya Ananta Toer. Seseorang yang kehadirannya terasa nyata sehingga menisbikan hubungan di dunia maya bisa mewujud dalam alam realitas. Seseorang itu adalah Dewi 'Dee' Lestari.

Bertempat di Ruang Serba Guna, Gramedia Matraman, Jakarta, saya dapat bertemu langsung dengan Dee--nama pena Dewi Lestari. Kalau penulis sekaliber Dee pernah menulis di blognya tentang pertemuannya dengan Vikram Seth sebagai A Night with Vikram, saya sebagai seseorang yang baru mulai berkarya merasa cukup ketika berada di level saat ini menyebut pertemuan dengan Dee sebagai An Afternoon with Dee. Seperti biasa, keinginan saya untuk datang ke acara tersebut didasari oleh keinginan untuk mendapatkan tanda tangan pada buku-buku karyanya yang sudah saya miliki.



Adie, Dee, Buku-Buku, dan Sebuah Buku Testimonial Penulis ;=)


Adie dan Dee, sama-sama suka membaca dan menulis ;=)

Awalnya saya malas untuk datang karena jarak yang harus saya tempuh cukup jauh yaitu dari BSD City, Serpong ke Jakarta dan harus ganti tiga kendaraan dengan trayek yang berbeda. Belum lagi kemacetan yang tidak terdeteksi kapan datangnya. Selain itu, ini adalah bulan Ramadhan. Dan apakah yang lebih membuat malas keluar rumah jika perut lapar, panas yang menggila, dan kemacetan bereuni jadi satu?

Tapi apa boleh buat, siaran radio Hard Rock Fm beberapa hari sebelumnya mengatakan bahwa Dee akan cuti beberapa bulan untuk melahirkan. Artinya, acara tersebut akan menjadi akhir roadshow bukunya sebelum masa cuti. Dan artinya pula, semakin kecil kemungkinan saya untuk bertemu dan minta tanda tangan karena kita tak pernah tahu apa yang terjadi esok hari yang sangat mungkin terjadi benturan kepentingan dan jadwal kegiatan. Tiba-tiba dorongan untuk berangkat mendadak sangat besar. Akhirnya berangkatlah saya menuju Gramedia Matraman. And guess what? Tol Jakarta-Tangerang sangat bersahabat alias lancar jaya. Panas matahari tertutup awan mendung dan angin bertiup meneduhkan. Saya merasa alam sedang berencana untuk memudahkan jalan saya bertemu Dee.

Ketika saya sampai di Gramedia Matraman, semua panitia dan Dee sendiri sudah ada di tempat dan sedang menyiapkan penampilannya. Beberapa saat kemudian, acarapun dimulai. Sebenarnya, seperti sebuah acara jumpa penulis yang saya datangi, acara tersebut biasa saja, namun bobot pembicaraannya yang menurut saya berbeda. Dee, seperti biasa, dengan lugas dan lancarnya berbicara, menjawab pertanyaan dari moderator, dan beberapa pertanyaan dari peserta yang hadir, termasuk saya sendiri, dengan sedikit-sedikit membumbui dengan kalimat-kalimat filosofis yang menyejukkan dan menginspirasi, dan tentu saja tak lupa menyanyikan lagu Perahu Kertas sebagai pencair suasana.

Kalau saya pikir, memang begitulah tugas seorang penulis sejati. Ungkapan bahwa seorang penulis dianggap mati ketika karyanya diterbitkan saya rasa kurang pas. Justru, seorang penulis harus mampu berdiri tegak dan menjembatani sebuah karya yang diciptakannya agar dipahami oleh sidang pembaca. Sebuah karya yang menurut Dee disebut 'anak jiwa' harus dituntun, diantarkan, untuk kemudian dilepaskan ke sidang pembaca sehingga memberikan kesan bahwa karya tersebut memang siap berinteraksi di tangan khalayak. Dari sini sebenarnya kita bisa belajar sebuah proses bisnis dan keterampilan berkarya. Kombinasi dari keduanya merupakan rumus ampuh untuk membuat sebuah karya diterima dengan baik oleh sidang pembaca yaitu karya yang bagus dan bermutu serta promosi yang terencana.

Dari pembicaraan dengan Dee di acara tersebut, saya juga belajar satu hal tentang menulis. Jika seseorang memang berencana untuk menjadi penulis, mulailah dengan menjadi pengamat yang baik. Penulis yang baik adalah juga pengamat yang baik. Amati segala hal termasuk yang remeh temeh sekalipun. Hal-hal yang menurut penglihatan orang lain dianggap bukan barang berharga, justru di situlah sebenarnya mutiara-mutiara ide yang berkilauan menunggu untuk dijumputi oleh orang yang peka dalam mengamati. Wow, you know my prend, I think I'm on the right path karena beberapa orang teman dan orang-orang terdekat menganggap saya aneh dengan kebiasaan-kebiasaan kecil yang saya lakukan demi melancarkan kegiatan saya dalam menulis seperti membuat kliping dan mengumpulkan nama-nama yang akan saya pakai sebagai nama karekter dari cerita yang akan saya tulis. Tapi, karena dari sononya memang sudah terlahir sebagai manusia super cuek, saya tidak begitu peduli dengan pandangan-pandangan tersebut.

Akhirnya, tibalah pada acara book signing. Ini juga menjadi hal yang lucu buat saya. Kepulangan saya terakhir kali ke rumah orang tua, sebelum kembali ke Jakarta lagi, seperti ada yang mendorong-dorong untuk membawa buku-buku Dee yang sudah saya miliki. Hati saya seakan berbisik, "Bawa saja, siapa tahu kali ini bisa ketemu langsung dan minta tanda tangan kepada Dee." Pada kesempatan yang lain, saat saya jalan-jalan di pasar murah, saya menemukan buku Supernova: Akar dengan lambang Om Kara di sampulnya yang saya cari kesana kemari di toko-toko buku terkenal dan terlengkap di Jakarta, ternyata tersembunyi di balik tumpukan majalah-majalah bekas dengan kondisi masih baru pula. Kalau dipikir-pikir, you know, it was really like a message from the universe. Segala sesuatunya seperti bersatu dan terkomando oleh suatu perintah alam semesta bahwa memang kali inilah kesempatan saya untuk bertemu dan memperoleh tanda tangan dari Dee.


Koleksi buku saya, semuanya bertanda tangan Dee


Ini salah satu tanda tangan Dee di buku Perahu Kertas

Kali ini memang saya patut bersyukur bahwa dari sekian peserta yang hadir di acara tersebut yang umumnya mendapat satu atau dua tanda tangan, saya sendiri mendapatkan tujuh tanda tangan. Enam di buku karya Dee dan satu di buku testimonial kumpulan tanda tangan dari penulis-penulis yang pernah saya jumpai. Termasuk di antaranya Andrea Hirata, Djenar Maesa Ayu, Nova Riyanti Yusuf, Habiburahman El Shirazy, Kurnia Effendi dan lain-lain. Saya seperti menyaksikan mereka semua hadir begitu dekat dengan saya, tidak di atas panggung, tapi di dalam sebuah buku testimonial yang sederhana. Di buku testimonial itu, Dee menulis: SEMOGA MENJADI DIRI TANPA BERPUTAR DULU. Sungguh filosofis karena isinya berkebalikan dengan nasib dari tokoh-tokoh dalam novel Perahu Kertas di mana dituliskan bahwa mereka harus "berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi menjadi diri kita lagi."


Buku Testimonial Tanda Tangan Penulis dengan tanda tangan Dee di antaranya ;=)

Selanjutnya ada foto bersama. Satu hal yang akan membuat teman-teman dekat saya berteriak histeris 'tttiiidddaaakkk' secara berlebihan karena berkeinginan untuk bertemu Dee juga namun terhalang oleh samudera yang luas membentang. "Apa boleh buat teman, malaikat juga tahu aku sudah dipertemukan dengan Dee. Jangan ngiri ya, suatu saat kesempatan itu akan datang untukmu."

Setelah selesai minta tanda tangan dan foto bersama, saya duduk-duduk sebentar, menata buku-buku saya ke dalam tas, sambil menunggu waktu berbuka puasa. Beberapa dari yang hadir tampak mengamati saya dan agak terheran-heran bahwa saya mendapatkan tanda tangan untuk semua buku-buku Dee yang saya miliki. Mereka juga heran melihat buku-buku saya semuanya bersampul rapi tanpa lipatan padahal semuanya sudah terbaca paling tidak dua kali. Bahkan untuk Supernova KPBJ dan Akar serta Filosofi Kopi sudah dibaca paling tidak lima kali, tapi masih terlihat baru. Itulah sebenarnya yang harus dilakukan oleh seorang pembaca buku yang baik yaitu memperlakukan sebuah buku layaknya mitra, bukan budak. Jadi harus diperlakukan sedemikian rupa sehingga isinya bisa terserap tanpa merusak fisik dari buku tersebut agar berfungsi secara berkelanjutan bagi generasi-generasi mendatang.

Saya selalu berpandangan bahwa buku seharusnya berada di tangan yang paling bisa menghargainya dan tidak hanya diletakkan tanpa dibaca, mengumpulkan debu dalam almari yang terlupakan. Setelah selesai semua, tibalah waktu berbuka puasa. Saya pun segera berbuka dan sholat maghrib kemudian pulang. Di perjalanan pulang dari Jakarta ke BSD City, Serpong, saya menyadari satu hal, tol Jakarta-Tangerang yang tadi siang ketika saya berangkat, macetnya minta ampun sampai kelihatan parkir dari Lippo sampai dengan pintu tol Karang Tengah, malam itu lancar jaya tanpa hambatan. Wow, my prend, life can be pretty amazing sometimes. Sepertinya hari ini, satu semesta sedang tersenyum tulus kepada Adie Riyanto untuk bertemu dengan Dewi 'Dee' Lestari. Alhamdulillah semua berjalan lancar.


PS: Kalau suatu saat mbak Dewi membaca tulisan ini, saya ingin berterima kasih sekali lagi untuk semuanya dan semoga account Facebook saya segera di-approve secepatnya (sudah empat bulan awaiting confirmation mbak hehehe thanks ;=0 )

Friday, January 09, 2009

Kelaziman ataukah Kezaliman

Liburan Natal dan Tahun Baru telah usai. Banyak harapan ditambatkan di tahun yang baru ini. Namun banyak pula kenangan yang tersemat di dalam benak terkait masa yang baru saja ditinggalkan. Terinspirasi oleh film 3 hari untuk selamanya karya Riri Riza, saya mengiyakan ajakan seorang teman untuk pulang dengan mengendarai mobil. Rabu, 24 Desember 2008, jam 11.30 WIB, kami meninggalkan kota Jakarta menuju Nganjuk, Jawa Timur.

Pemeran Yusuf dalam film 3 hari untuk selamanya ;=P

Dalam angan-angan saya, perjalanan ini akan menjadi sebuah perjalanan bermakna, penuh kebebasan, dan menjadi pengalaman yang mengesankan. Karena meninggalkan Jakarta sebelum jam bedol kota dimulai, alhasil kemacetan lalu lintas tak pernah menyapa kami selama perjalanan.

Akan tetapi, perjalanan yang menyenangkan tersebut beberapa kali diinterupsi dengan adanya kehadiran polisi-polisi lalu lintas yang menurut iklannya di televisi adalah 'melayani dan mengabdi' kepada masyarakat.

Pertama kali diberhentikan di ruas jalan tol Jakarta Utara. Dengan dalih plat nomor mobil yang kami tumpangi tidak sesuai dengan aturan berkendaraan, polisi-polisi itu berusaha untuk menilang kami. Dengan berbagai alasan kami mencoba berdalih bahwa kami memang benar. Namun, karena teman saya enggan menemui keribetan birokrasi tilang-menilang dengan polisi, akhirnya selesailah permasalahan tersebut dengan senyuman Proklamator kita. Perjalanan kembali lancar. Yang kedua adalah di daerah Ngawi. Kami diberhentikan sekawanan polisi karena dianggap melanggar rambu-rambu lalu lintas. Padahal tak sedikitpun kami merasa melanggar. Jelas ini mengada-ada.

Sifat mengada-ada dan mencari-cari kesalahan seperti inilah yang membuat saya tidak nyaman. Apa sih sebenarnya motifnya? Kalau dipikir-pikir, setiap ada liburan panjang, baik libur sekolah, libur hari besar, maupun ada momen-momen keramaian, selalu saja ada oknum polisi yang mencari uang jajan tambahan.

Pengalaman serupa juga pernah saya alami saat masih SLTP, SMU, dan waktu masih duduk di bangku kuliah. Setelah sekian lama namun praktek-praktek tersebut masih saja berlangsung. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah hal semacam itu sudah menjadi sebuah kelaziman dan keniscayaan? Ataukah sebuah kezaliman yang berseragamkan tugas dan wewenang?

Bukannya saya mendiskreditkan profesi ini, tapi tulisan ini dibuat untuk memberikan sedikit pencerahan bagi perbaikan pengabdian dan pelayanan jajaran kepolisian. Mari kita urai satu persatu.

Rekruitment. Rekruitment anggota kepolisian untuk scaba adalah dari lulusan SMU dan sederajat yang memenuhi 'syarat'. Selain kecapakan calon polisi, sudah jamak diketahui masyarakat bahwa diperlukan pundi-pundi yang tidak sedikit untuk mengantongi profesi ini. Maka tidak menutup kemungkinan bahwa kinerjanya sangat erat dipengaruhi oleh masalah keuangan. Hal itu dilakukan baik untuk memulihkan uang sewaktu 'syarat' masuk maupun sebagai tradisi sebagian oknum polisi untuk mempercepat pemasukan uang jajan dengan cara instan.

Kinerja. Banyak kinerja polisi yang memberatkan masyarakat. Pembuatan SIM pun juga terdapat beberapa kejanggalan. Bukankah biaya pembuatan dengan biaya perpanjangan SIM itu berbeda, yang tentu saja lebih murah biaya perpanjangannya. Namun kenyataannya di lapangan adalah sama saja.

Lalu ketika papa saya dulu kecelakaan sepeda motor, waktu mama akan meminta sepeda motor kami untuk dilakukan perbaikan, mama saya diminta untuk membayar sejumlah uang sebagai jaminan peminjaman barang bukti. Lho? Aneh kan, padahal waktu itu posisi papa adalah sebagai korban yang ditabrak. Seharusnya kan malah dibantu sama polisi, ini malah diporoti. Dan masih banyak kejadian-kejadian serupa yang tak terhitung jumlahnya dan terjadi hampir setiap hari.

Pemeriksaan yang mengganggu kenyamanan berlalu lintas

Hal-hal seperti itulah yang membuat citra polisi yang sebenarnya mulia sebagai pengabdi dan pengayom masyarakat menjadi kian terpuruk akibat ulah beberapa oknum polisi yang berbuat tercela menjadi 'bajak darat' bagi pengguna jalan.

Saya harap dengan datangnya tahun baru 2009 ini, layak dijadikan momen untuk berefleksi, dilakukan pembenahan dalam birokrasi kepolisian demi terciptanya personil-personil polisi yang tangguh, bercitra baik yang mampu memberikan pengabdian, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat sehingga orang-orang yang memang berencana menghindari kepenatan dalam pekerjaan, tidak bertambah penat lagi dengan kehadiran momok jalanan yang bernama polisi selama berlalu lintas di jalan raya.

Tugas yang tidak mudah untuk jajaran kepolisian, namun bukan tidak mungkin untuk dilaksanakan.

Monday, December 22, 2008

Meet and Greet with Andrea Hirata

Sungguh suatu kesempatan langka untuk bertemu dengan seorang Andrea Hirata. Penulis tetralogi Laskar Pelangi ini merupakan tokoh yang sedang hangat diperbincangkan seiring dengan kesuksesan buku dan film dengan judul serupa. Sebuah kebetulan yang menguntungkan bagi saya bahwa kesempatan itu menghampiri saya begitu saja. Berkat sebuah pertemuan dadakan dengan Ferdi Setiawan (wartawan DAAI TV, sebuah stasiun TV berlangganan di Jakarta), sebuah tempat di mobilnya tersedia untuk saya tempati menuju sebuah kafe di Plasa Senayan.


Di situlah saya bertemu langsung dengan Andrea Hirata. Kesan pertama yang saya tangkap bahwa sosoknya memang cerdas dengan diksi yang dia pilih sebagai bahan obrolan singkat kami. Tak ada yang istimewa dalam pertemuan tersebut, mengingat waktu yang tersedia juga tidak mengizinkan kami menguasai obrolan tersebut sendirian dengan sang narasumber. Setelah berbincang-bincang singkat, menandatangani buku, dan berfoto, Andrea Hirata akhirnya meninggalkan kelompok kami dan melanjutkan wawancara dengan beberapa rekan wartawan yang lain.

(Sesama Penulis ;=) )

Hangat, singkat, dan inspiratif. Itulah rasa yang saya peroleh saat bertemu langsung dengan penulis kelahiran tanah Belitong ini. Rasa yang menumbuhkan hasrat serupa untuk menghasilkan suatu mahakarya.

Buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata
lengkap dengan tanda tangan penulisnya
spesial buat saya ;=)

Sejumput intuisi, sejuta inspirasi, dan segenap semangat mendorong saya untuk menghasilkan sebuah karya. Sebuah tantangan telah muncul di depan mata. Saya sadar bahwa kegiatan menulis merupakan sebuah kerja keras yang akan menguras energi dan waktu. Dua hal paling berharga untuk manusia-manusia sosialita yang sudah mencicipi manisnya kota Jakarta. Selain itu, menurut saya, menulis merupakan sebuah kegiatan intelektual yang berdisiplin.

Tak akan pernah lahir suatu karya tanpa kerja keras dan keseriusan dalam berkarya. Dan yang lebih penting, tak akan pernah ada suatu karya tanpa kita sadar untuk duduk dan mulai menulis. Untuk yang terakhir ini, saya sadar akan konsekuensi yang akan saya hadapi karena waktu merupakan sebuah kemewahan, maka akan ada sejuta alasan untuk menghadirkan keheningan, akan ada pengurangan momen kebersamaan, dan tentunya akan semakin dekat pada apa yang disebut sebagai hasil suatu keteguhan dari proyek realisasi mimpi.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...