Tuesday, June 15, 2010

Episode #18: Kolam Renang yang Membuat Kangen

Ok ngaku. Saya memang tidak (baca: belum) bisa berenang. Tapi, nasib baik memberikan kesempatan kepada saya untuk mencicipi kolam renang-kolam renang terbaik (dan mewah) yang ada di negeri ini. Ceritanya begini, karena saya suka traveling, karena budget saya tidak banyak, karena saya doyan blusak-blusuk ke tempat-tempat yang jarang dikunjungi orang, dan yang terpenting, karena saya tidak tahu malu. Yang terakhir itu tips bego-begoan dari saya. Soalnya, bagi kaum yang berduit tidak banyak, kapan lagi coba bisa nyemplung kolam renang mewah, kalau enggak menyasarkan diri ke resort-resort yang disediakan untuk para bule.

Suatu ketika saya ke Bali rame-rame bareng teman-teman kantor. Dari awal saya memang selalu siap dengan baju ganti kalau mengunjungi suatu tempat. Alasannya, kalau baju kena najis bisa langsung ada gantinya dan tidak perlu harus repot-repot minta tolong teman untuk minjam baju ganti. Dan saya baru tahu kalau supir yang membawa mobil kami mengantarkan rombongan orang-orang eror ini ke suatu tempat 'mewah' yang belum kami dengar sebelumnya. Begitu lihat tempatnya, lah kok besar banget, lah kok kayak hotel gini, langsunglah pertanyaan paling krusial muncul. Bayar gak ya masuk ke tempat ini? Selidik punya selidik ternyata gratis. Wah, senangnya. Langsung deh blusak-blusuk ke dalam ruangan. Ternyata hall tersebut tersambung dengan ruang belakang yang ada kolam renangnya.

Terbitlah tingkah ndeso saya. Tadinya saya agak sedikit canggung. Pasalnya, yang ada di situ kebanyakan adalah orang-orang bule Jepang dan Korea (atau sejenisnya yaitu Taiwan, Hongkong, dan lain-lain. Saya tidak tahu bedanya). Teman saya yang 'usil' langsung nanyain, mana Miyabinya? Memang sih, ada cewek putih seksi asal Jepang yang kulitnya putih banget, baik yang ketutup, maupun kebuka, kayak susu. Persis susu. Heran, kok bisa ya kulitnya putih merata seperti itu. Tapi sayang, seribu sayang dia bareng ibunya. Jadi tak bisa diganggu-ganggu. Karena hari sudah mulai sore dan akan segera hujan, saya langsung nyemplung saja. Saya pikir, karena yang kenal dengan saya di area itu cuma teman-teman saya, maka beranilah saya buka baju dan nyebur ke kolam bersama para bule. Wah senangnya. Saya satu-satunya pribumi yang ada di kolam itu. hehehe. Kolamnya nyaman sekali karena selain airnya bening, lokasinya ada di atas tebing. Jadi kalau difoto, seperti berbatasan langsung dengan laut. Jika kita duduk menghadap laut, serasa jadi raja yang melihat negerinya dari atas singgasana. Ih, senangnya.

Kolam renang lain yang enak (dan indah) menurut saya ada di Belitung. Januari lalu saya sempat 'kabur' ke negerinya Laskar Pelangi. Dan setelah pergi sana-sini nyari penginapan, akhirnya kami memutuskan untuk patungan menginap di hotel yang dekat dengan pantai. Pertimbangannya, selain dekat dengan lokasi syuting film di Pantai Tanjung Tinggi yang banyak batu granit besar-besar, dekat pula dengan pantai yang garis pantainya panjang. Jadi, bangun pagi waktu udara segar, bisa langsung jogging di pantai. Sebuah compliment bagi kami, ternyata hotel tersebut juga ada kolam renang pinggir pantai yang asik banget sehingga setelah capek berenang (baca: main air) di laut bisa langsung main air dan leyeh-leyeh di pinggir kolam sambil menikmati indahnya laut di depan mata.

Yang paling menarik dari jalan-jalan adalah bergaul dengan orang setempat yang belum pernah kita kenal sebelumnya. Selain bisa belajar tentang kebiasaan suatu daerah, juga bisa tahu tentang tempat-tempat wisata yang tidak masuk dalam kategori turisme artinya tempat wisata tersebut tidak masuk atau tidak disebutkan dalam brosur-brosur pariwisata atau di web-web tentang objek wisata.
Saya pernah merasakannya waktu di Belitong. Ada satu sungai atau lebih tepatnya rawa yang dibedeng dengan suatu pukat besar dari besi untuk menyaring sampah atau menghindari buaya. Konon, rawa-rawa di Belitong masih suka ada buayanya. Ingat kan film Laskar Pelangi. Yang menyenangkan dari 'kolam renang' itu adalah airnya bener-bener air sungai yang mengalir dari sumbernya. Dasar sungainya pun berupa pasir putih yang lembut. Jadi bukan batu kerikil yang bergeronjal. Kebayang kan betapa segarnya mandi di situ. Serasa ada di jacuzy yang nyaman. Cuma saya kadang keburu parno dengan adanya buaya yang bebas jalan-jalan. Ini akibat sering nonton film Hollywood jaman dulu yang judulnya Crocodile. Takut dimakan buaya, kan saya belum kawin. ;=)

Orang Jakarta kalau pusing dan penat larinya kalau gak ke Puncak ya belanja-belanji ke Bandung. Kalau saya sih males harus macet-macetan untuk ke tempat tersebut kecuali kalau rame-rame bareng teman dan sekaligus ada acara. Tempat asyik saya untuk 'ngabur' kalau sedang penat adalah ke Garut. Kenapa Garut? Karena tempatnya sepi, agak 'desa' dengan nuansa pegunungan dan sawah membentang. Dan yang membuatnya semakin menggoda adalah adanya pemandian air panasnya. Tadinya kami mau mencoba kolam renang air panas. Tapi begitu melongok tempatnya ternyata harus bayar dan banyak banget orang yang mandi di sono, kami mengurungkan niat untuk ikutan nyebur di kolam. Tambah lagi saat kami tahu kalau orang-orang yang nyebur di kolam air panas adalah mereka-mereka yang sedang mengikuti terapi penyembuhan penyakit kulit. Jiper. Bleaght. Jijik banget kan. Akhirnya kita patungan nyewa bungalow yang ada pemandian air panasnya. Wah, karena jarang-jarang ketemu dengan yang begian di Jakarta, saya sampai betah berlama-lama berendam di kolam air panas sempai magrib menjelang. Beruntung pula jadi umat muslim. Belum puas berendam sampai sore, paginya setelah sholat subuh saya bela-belain berendam air panas saat yang masih ngorok. Badan rasanya jadi fresh. Pikiran dan segala penat lenyap. Otot-otot jadi tidak kaku. Benar-benar serasa di spa walaupun cuma berendam dan leyeh-leyeh. Tapi, saya gak bosan tuh. ;=)

Lain lagi ceritanya kalau saya pulang kampung. Lebaran merupakan momen wajib buat kumpul-kumpul dengan keluarga dan kerabat. Tapi kalau tiap hari cuma kumpul-kumpul kan gak asik. Akhirnya musti cabut keluar dari rumah. Tempat di Nganjuk yang layak buat disatroni mana lagi kalau bukan air terjun Sedudo. Airnya duingin banget sampai membuat badan saya jadi menggigil. Sangat kontras dengan mata air panas di Garut yang cozy banget. Tapi karena ini kampung halaman dan saya merasa terpanggil untuk menyebarkannya kepada orang lain, akhirnya mandi dan berfotolah saya di sini.

Saya di Air Terjun Sedudo

Entah mengapa saya senang sekali kalau jalan-jalan ke Sedudo. Serasa ada momen magis yang selalu menarik saya untuk mengunjungi air terjun itu. Dan katanya nih, sekali katanya, mungkin karena mitos atau apa, kalau mandi di Sedudo jadi awet muda. Bagi saya yang selalu berpikiran logis, terang aja jadi awet muda, kalau pikiran tenang (rileks), badan bersih dan segar otomatis gak gampang sakit. Kalau gak gampang sakit, tentulah kelihatan awet muda. Tapi gak tahu juga sih jika memang ada kekuatan supranatural yang mempengaruhinya. Kalau untuk kebaikan, saya amini saja deh.

Selain Air Terjun Sedudo, jika liburan ke Nganjuk, saya biasanya menyempatkan diri untuk naik sepeda ke hutan yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah. Selain terhibur dengan hijaunya pepohonan, putih buih sungai, hamparan sawah membentang, pohon kelapa menjulang di berbagai tempat, terakhir saya akan mandi di sebuah sumber air yang jernih di tengah hutan. Namanya sumber air Ubalan.
Sumber air ini dimanfaatkan penduduk sekitar untuk keperluan sehari-hari seperti sumber air minum (fyi: sumber air ini sudah diolah oleh PDAM) dan mengairi sawah. Pantas saja, dalam setahun bisa panen padi sampai 3 kali. Belum lagi bawang merahnya. Pokoknya, hasil pertanian dan kehutanan di daerah ini banyak dirasakan manfaatnya oleh orang-orang di daerah saya. Gemah ripah loh jinawi deh pokoknya. Ijo royo-royo menikmati panorama hutan jati di kanan kirinya. Serasa ada di tengah tempat yang dikelilingi gunung. Sebuah bonus, dekat tempat sumber air itu ada gua. Tapi saya bosan pergi ke gua itu. Selain harus ngesot lagi sejauh 1 km lagi secara menanjak, begitu nyampe gua, tempatnya serem banget. Serasa ikut uka-uka. Makanya saya lebih tertarik untuk mandi di kolamnya saja daripada jungle tracking ke gua.

Jalan-jalan memang tidak harus mahal. Mandi di kolam renang pun tidak harus yang mewah-mewah. Tapi kalau beruntung dan mau blusak-blusuk, ya nikmatnya seperti yang saya ceritakan di atas. Terakhir saya baru nyadar kalau di hotel tempat saya menginap waktu di Bali ada kolam renang yang Ok banget. Tapi berhubung kolam tersebut penuh dengan bule cewek, tante-tante yang notabene suka ngorok, minum bir, dan duduknya ngangkang, saya menikmatinya pas hanya mau berangkat trip keliling pulau saja. Selebihnya ogah kalau musti nyebur bareng bule itu. Zina mata. Aih. Gak usah banyak omong. Saya mau leyeh-leyeh dulu. Hehehe. Mumpung kolam renangnya sepi. ;=)

Leyeh-leyeh di pinggir kolam renang.
Kangen dengan suasana ini. ;=)

4 comments:

  1. ayo kapan ndik sedudo maneh bareng kotaangin.com

    hohohho....

    ReplyDelete
  2. @ Ndop : ayo, pas libur Lebaran saja insya Allah. Pas lebaran saja saya bisa pulang kampung hehehe ;=)

    ReplyDelete
  3. @ Putu : insya Allah, semoga bisa pulang hehehe ;=)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...