Saat berada di gerbong kereta Bima di Stasiun Gambir, Jakarta, mata saya tak beralih melihat kemegahan Gereja Immanuel yang berdiri gagah di seberang stasiun. Pun, ketika berada di Semarang, saya juga terpesona dengan Gereja Blenduk yang terdapat di Kompleks Kota Tua Semarang. Pikiran saya melayang ke deskripsi dari Pramoedya Ananta Toer melalui tetralogi Pulau Buru-nya yang mendunia. Saya membayangkan, seperti apa jemaat gereja itu, dulu. Sereligius itukah bangsa Belanda?Kalau dilihat dari sejarah, selama berabad-abad sebenarnya kepercayaan yang dianut bangsa Eropa adalah pra-Kristen. Islam juga jadi bagian dari peradaban Eropa dari abad 8 sampai dengan 15. Sementara agama Kristen baru masuk Eropa pada abad 12, saat kekaisaran Turki Ottoman mengalami kehancuran. Hal itu diimbangi dengan adanya penjagaan perlindungan bangunan gereja sebagai bagian dari warisan budaya dan penghancuran masjid karena tak satupun yang dijadikan situs warisan budaya. Terbukti, dengan banyaknya bangunan berarsitektur Eropa yang bernafaskan nuansa Kristen yang kental. Namun demikian, bagaimanakah Belanda dewasa ini?
Kebanyakan warga Belanda ternyata adalah atheis, kedua terbanyak adalah Kristen, selanjutnya Islam, dan Budha. Betapa uniknya keanekaragaman tersebut. Dan betapa tenangnya menjalani kehidupan pribadi sebagai individu baik dalam kaitannya sebagai makhluk pribadi maupun sebagai makhluk Tuhan (atau bahkan tak berTuhan). Hal itu karena pemerintah Belanda menjunjung tinggi kebebasan hak asasi warganya dalam menjalani kehidupan sesuai dengan keadaan 'ideal' yang ingin dirasakan oleh setiap individu.Masyarakat pun terbuka menerima segala perbedaan yang ada dan menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah adanya. Pun hal itu ditunjukkannya dengan mengakui keberadaan orang-orang yang dianggap 'berbeda' di negara lain. Tak heran Belanda dianggap sebagai sebuah surga bagi orang yang mempunyai pikiran terbuka dan konsep hidup yang ekstrimnya 'radikal' di negara lain.Kelompok masyarakat yang mempunyai orientasi seksual berbeda (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) bisa hidup nyaman berdampingan dengan mereka yang 'normal'. Bahkan Belanda dianggap 'berkhianat' bagi 'negara beragama' karena melegalkan perkawinan sejenis. Kalau saya pikir, adanya Sex Museum, Homomonument, Red Light District, pelegalan konsumsi ganja di coffee shop, gerakan Dolle Mina yang menuntut pil KB sebagai salah satu paket asuransi kesehatan adalah bukti dari pewadahan ekspresi kebutuhan warga masyarakat yang disediakan dan dilindungi pemerintah. Sekularisasi masyarakat tersebut timbul dari pemikiran bahwa setiap individu bertanggung jawab terhadap individu itu sendiri, menghargai perbedaan orang lain tanpa suatu penghakiman (bahkan pemaksaan) atas keyakinan tentang konsep hidup yang diyakini paling benar dan nyaman untuk dijalani individu masing-masing.Pendidikan yang merata juga mendorong pemikiran terbuka tentang konsep pornografi, bahwa tidak semua yang berhubungan dengan ketelanjangan dan seksualitas itu porno. Dalam suatu kesempatan Riri Riza, sutradara kenamaan Indonesia pernah berkata kalau dirinya senang ikut festival film di luar negeri (terutama Rotterdam International Film Festival) karena di situlah karya filmnya utuh tanpa sensor tak beralasan, apalagi bermuatan politis.Keterbukaan Belanda menawarkan liberalisasi kehidupan yang bertanggung jawab inilah justru yang unik. Di mana, agama di tempatkan sebagai sebuah pilihan dan individu diberi kebebasan memeluk (atau tidak memeluk) serta melindungi secara penuh pilihan tersebut. Mingkin, jenis kehidupan seperti inilah yang dapat menciptakan ketenangan hidup di setiap hati warganya sehingga selalu optimis menjalani kehidupan.NB: artikel ini diikutkan dalam Kompetiblog Studi di Belanda 2011 yang diadakan oleh Neso Indonesia.
Membaca beberapa berita tentang hasil survey lembaga internasional bahwa Belanda (selalu) masuk dalam sepuluh besar sebagai negara paling nyaman untuk ditinggali membuat saya bertanya benarkah demikian adanya? Karena belum pernah menginjakkan kaki di negara tanah rendah tersebut, saya mencoba mengidentifikasikannya melalui jejak Belanda yang ditinggalkan di Batavia (nama Jakarta tempo dulu).Tak dapat dipungkiri, penjelajahan samudera yang mengantarkan pada berdirinya misi gereja di berbagai belahan dunia, pada akhirnya mendorong Belanda untuk melakukan kolonialisasi sehingga memberi modal besar untuk membangun dan memajukan bangsanya. Belajar dari keadaan negerinya, Belanda selalu berusaha menciptakan 'kenyamanan' di tempat yang akan ditinggali. Konon, Batavia merupakan 'kelinci percobaan' untuk model pembangunan kota New York.
Kalau kita lihat, secara umum konsepnya hampir sama. Pusat pemerintahan yang terletak di Kota Tua Jakarta mengingatkan saya pada Dam Square di mana terdapat lapangan luas yang dikelilingi oleh gedung-gedung sebagai pusat pemerintahan yang memudahkan dalam pengorganisasian segala hal. Bangunan-bangunannya pun berarsitektur dengan nuansa Eropa yang bisa dikenali bergaya Art Deco, Art Nouveau, dan Gothic yang kental dengan agama Kristen Eropa. Konon, gaya arsitektur dan ornamen dari gedung-gedung tersebut dipengaruhi oleh isi dari Al-Kitab. Hal ini menunjukkan bahwa agama dapat mendorong terwujudnya suatu peradaban pada semua kegiatan yang bersifat 'dunia' dilakukan untuk mencapai kedamaian hidup dengan bersinergi pada bagian ritual keagamaan.Batavia sebagai kota yang bertanah rendah juga kerap diterjang banjir. Tinggal di kota yang keadaannya hampir sama dengan negerinya, membuat Belanda berpikir untuk menanggulangi permasalahan tersebut dengan mengelola sistem tata air melalui pengaturan debit air dan mengalirkannya melalui resapan serta kanal-kanal yang terintegrasi dengan volume debit air dari daerah hulu.
Saya jadi ingat quote yang mengatakan bahwa necessity is the mother of invention. Belanda yang serba 'kekurangan' mendorongnya untuk berpikir keras menciptakan 'dunia' yang nyaman bagi dirinya. Proyek besarnya membangun dam raksasa disertai storm barrier (pelindung badai) di seantero Belanda yang dinamakan Delta Works dan Zuiderzee Works membuatnya terhindar dari ancaman banjir melalui suatu sistem yang menjaga keseimbangan antara badai yang menerpa dengan ketinggian air laut.
Tentu, untuk menciptakan inovasi dan 'keajaiban' tersebut diperlukan usaha keras yang berkesinambungan. Pemerintah Belanda melalui universitas-universitasnya membiayai riset dan program pengembangan ilmu pengetahuan selain untuk mencari solusi atas kebutuhan negerinya, juga menjawab tantangan untuk membuat negerinya bertahan dari perkembangan zaman. Pemerataan dan kemudahan akses pendidikan mendorong terciptannya masyarakat yang terdidik dan terpelajar sehingga bisa kritis dan teratur demi mendukung program pemerintah dalam mewujudkan konsep kesejahteraan hidup yang merata.
Selain itu, saat berada di Rumah Sakit Cikini, Jakarta Pusat, saya juga merasakan 'kesenyapan' suatu bangunan rumah sakit yang ternyata masih mengadopsi sebuah pelayanan kesehatan dari zaman Belanda dengan sistem pengasuhan, artinya menerima pasien dari semua kalangan masyarakat dengan sistem subsidi silang. Di Belanda sendiri, berdasarkan informasi yang saya peroleh dari teman yang sedang studi di sana, pelayanan kesehatan pun sudah dikonsep terbuka untuk semua kalangan dari berbagai macam latar belakang termasuk penghilangan diskriminasi dalam hal keyakinan yang dianut pasien.Melihat kenyataan tersebut, 'kenyamanan hidup' di Belanda itu memang sengaja diciptakan, bukan hanya karena sebuah keinginan, tapi lebih kepada memaksimalkan anugerah HIDUP dari Tuhan.NB: artikel ini diikutkan dalam Kompetiblog Studi di Belanda 2011 yang diadakan oleh Neso Indonesia.

Entah mulai kapan saya jadi suka membaca. Karena kurangnya fasilitas di kota tempat saya tinggal, rasanya tidak ada kegiatan yang lebih menarik selain membaca atau naik sepeda keliling kampung. Berinteraksi dengan teman-teman dan orang-orang yang mayoritas berasal dari keluarga petani yang hidup pas-pasan.
Kegiatan membaca sendiri bermetamorfosis menjadi kebutuhan layaknya makan, minum, dan buang air karena keisengan orang tua yang selalu membawa pulang buku-buku dari kantornya yang sudah tidak digunakan. Alhasil, buku menjadi semacam candu yang mampu mengisi hari-hari membosankan dalam hidup yang saya jalani.
Saat sudah besar dan mulai mencicipi udara ibukota, saya berpikir bahwa betapa beruntungnya dapat menikmati 'kemewahan' membaca buku yang tidak semua teman-teman sepermainan saya dapat merasakannya. Namun begitu, apakah akhirnya saya 'berbeda' dengan teman-teman saya dulu, yang setia main kelereng bersama, mandi di sungai, mencuri tebu di perkebunan atau bahkan memanen buah pisang entah milik siapa, bersama-sama.
Kenangan akan indahnya persahabatan masa kecil di suatu kampung yang jauh dari 'peradaban' tersebut kembali terusik ketika awal bulan lalu saya menghadiahi diri sendiri dengan buku berjudul Oeroeg karya Hella S. Haasse. Buku tersebut saya beli sebagai kompensasi atas kerja keras yang membuat saya naik grade di kantor.
Buku tersebut bercerita tentang kisah persahabatan Oeroeg dan seorang anak Belanda yang dideskripsikan sebagai sosok yang disebut 'Aku'. Keduanya mempunyai tipe kehidupan yang hampir serupa. Lahir dan menghabiskan masa kecil bersama di suatu kampung yang jauh dari fasilitas dan keramaian kota besar. Saat usia tidak lagi mengijinkan mereka untuk disebut anak-anak, timbul perasaan bahwa yang satu lebih 'tinggi' daripada yang lain. Anggapan itu muncul karena perbedaan status sosial. Si Aku anak seorang administrateur perkebunan, berkulit putih, dan sangat Eropa, sedangkan Oeroeg hanya anak seorang mandor, berkulit cokelat, dan inlander.
Perbedaan itu terkatalisasi akibat larangan dari ayah si Aku yang berusaha membatasi pergaulan putranya dan Oeroeg dengan mengirim putranya ke sekolah khusus anak Belanda dan membiayai Oeroeg ke sekolah rendahan biasa, khusus untuk orang-orang pribumi.
Sampai suatu ketika, kegelisahan si Aku mendapat pencerahan dari Gerald Stokman, seorang pegawai perkebunan dan guru privat si Aku, yang kebetulan suka berburu binatang. Gerald Stokman mengatakan 'Macan kumbang berbeda dari monyet, tapi apakah yang satu lebih rendah daripada yang lain? Bagimu ini pertanyaan bodoh, dan kau benar. Pertanyaan ini tetap sama bodohnya bila menyangkut manusia. Perbedaan itu biasa. Setiap orang berbeda. Aku juga berbeda darimu. Tetapi, lebih tinggi atau lebih rendah karena warna kulit wajahmu atau karena siapa ayahmu--itu omong kosong. Oeroeg kawanmu, kan? Kalau memang ia kawanmu--bagaimana bisa ia lebih rendah dibanding kau atau yang lain?' (hal. 64)
Apa yang dialami oleh Oeroeg sampai saat ini masih terjadi. Diskriminasi dalam hal pendidikan pun kerap terjadi baik di Indonesia maupun di Belanda akibat latar belakang sosial dari calon peserta didik. Namun begitu, sebagai negara maju, Belanda sudah lebih dulu 'bangun' dari kesalahan masa lalu seperti ini.
Saat ini, Belanda adalah salah satu pemimpin dunia yang menjamin pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi. Dalam peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) International pada tanggal 10 Desember 2009 lalu, Menteri Luar Negeri Belanda, Maxime Verhagen menyatakan bahwa 'Pria, wanita, anak-anak, tidak peduli siapa mereka, tidak peduli di mana mereka tinggal, tidak peduli apa yang mereka lakukan, memiliki hak-hak dasar sebagai manusia yang tidak dapat diganggu gugat. Pemerintah di seluruh dunia memiliki kewajiban untuk melindungi dan mempromosikan hak-hak universal ini. Tetapi, dalam banyak contoh, mereka gagal melindungi hak warganya. Tanggal 10 Desember menandai perayaan hari Hak Asasi Manusia Internasional di seluruh dunia. Ini bukan hari di mana kita bisa membiarkannya berlalu begitu saja tanpa sedikitpun kita sadari. Hari ini, kita menghormati orang-orang yang berani membela hak-hak mereka dan hak orang lain meskipun perjuangan yang mereka hadapi di banyak negara, dalam situasi yang sangat sulit dan resiko yang besar. Mereka layak mendapat dukungan penuh dari kami.'
Hal-hal yang menjadi kampanye perlindungan HAM tersebut juga dimanifestasikan dalam suatu Pedoman Nasional Sistem Perlindungan Hak Asasi Manusia. Suatu sistem yang dirancang untuk mengaktifkan perlindungan HAM yang efektif dan mengintervensi pembangunan dengan fokus pada infrastruktur HAM. Untuk menjangkau lingkup yang lebih luas, Pemerintah Belanda akan bekerjasama dengan divisi HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan masyarakat sipil untuk membantu dalam perencanaan dan memperkuat penggunaan sistem ini melalui penggunaan ikhtisar manual mengenai indikator praktis, pedoman standar, dan referensi yang menggambarkan Sistem Perlindungan Nasional Hak Asasi Manusia. Melihat kenyataan tersebut, tak heran jika Belanda merupakan pusat dari beberapa Lembaga Internasional Hak Asasi Manusia. Bahkan, salah satu kota di Belanda, Den Haag, Dewan Kotanya berencana membuat kota tersebut sebagai Ibukota Hukum Dunia serta Kota Internasional Perdamaian dan Keadilan.
Di sisi lain, apa yang dikatakan oleh Menteri Luar Negeri Belanda di atas juga diimplementasikan dalam dunia pendidikan. Pemerintah melalui 'Platform Inovasi'-nya merekomendasikan tiga hal yaitu meningkatkan pemasaran pendidikan internasional Belanda sejajar dengan misi-misi ekspansi hubungan perdagangan dengan negara lain, memperluas kesempatan untuk menawarkan kurikulum berbasis Sistem Pendidikan Belanda, dan memfasilitasi pendirian sekolah internasional.
Untuk mencapai tujuan tersebut, kebijakan ilmu pengetahuan Belanda memfokuskan diri pada tiga hal yaitu akuisisi penambahan ruang lingkup dan sumber daya untuk riset fundamental, strategi untuk mempromosikan inovasi, dan memperkuat kekuasaan mengatur diri sendiri dari komunitas ilmiah melalui peningkatan kesempatan karier bagi para peneliti muda terutama perempuan.
Di sini, dapat diketahui bahwa isu-isu kesetaraan gender juga menjadi fokus perjuangan penegakan HAM di Belanda selain persamaan hak dari komunitas warga negara yang berbeda warna kulit, agama, dan status sosial yang lain.
Saya selalu percaya bahwa pendidikan yang baik dan merata akan membawa masyarakat ke dalam persepsi yang positif dalam memandang suatu hal. Maksudnya, jika suatu masyarakat memiliki pendidikan yang layak, kesejahteraan hidup yang memadai, dan pengakuan yang besar terhadap hak-hak dasar yang dimilikinya oleh negara maupun anggota masyarakat yang lain, bukan hal yang mustahil jika masyarakat seperti ini akan mudah untuk diberi pemahaman rasional mengenai isu-isu penghormatan dan penghargaan hak-hak universal yang dimiliki oleh setiap insan di manapun orang tersebut berada. Sangat penting dikembangkan persamaan persepsi bahwa tidak ada komentar negatif yang dibuat untuk mendiskreditkan suatu pihak manapun. Setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, mempunyai hak-hak universal yang sama.Jika pemahaman yang 'benar' tersebut telah terpatri dalam pola pikir seseorang, maka kecenderungan untuk melabeli sesuatu dengan stereotip tertentu, perlahan-lahan akan terkikis. Seperti misalnya, mengapa warna pink selalu diidentikkan dengan perempuan dan warna biru identik dengan laki-laki? Mengapa anak gadis hanya pantas belajar menari atau balet dan dianggap lain jika hobinya sepak bola? Atau, mengapa perempuan dianggap tidak perlu berpendidikan tinggi sebab kembalinya juga bakal ke dapur? Mengapa orang kulit hitam hanya pantas menjadi budak? Mengapa orang-orang berkulit cokelat hanya cocok menjadi 'warga kelas dua'?Pandangan-pandangan tradisional yang bersembunyi di balik pembenaran akan kodrat dan dogma dari pemikiran masa lalu, sebenarnya sudah bukan menjadi PR lagi bagi relevansi perkembangan pembangunan dewasa ini. Dari zaman Kartini hingga era reformasi seperti sekarang ini, setiap tanggal 21 April, isu-isu yang diangkat tak jauh-jauh adalah isu tentang kesetaraan gender dan emansipasi. Kalau dipikir lagi, perjuangan yang dilakukan selama ini ternyata masih jalan di tempat jika isu yang diangkat setiap tahun relatif sama.Memang, dijajah selama 350 tahun oleh Belanda meninggalkan trauma tersendiri bagi sebagian rakyat Indonesia. Namun, kita tidak boleh menutup mata bahwa Belanda sudah lebih dulu 'bangun' dan mengejar ketertinggalannya dan bahu-membahu membangun bangsanya melalui inovasi-inovasi dari kebijakan pemerintahnya. Oleh karena itu, bukan hal mustahil jika pendidikan di Belanda menempati posisi lima besar dalam skala internasional dan akan terus ditingkatkan untuk berada di posisi peringkat di atas lima pada tahun 2015.Melihat kenyataan itu, kita sebagai bangsa Indonesia harus belajar banyak dari inovasi-inovasi yang dikembangkan oleh pemerintah Belanda untuk diadopsi dengan sistem negeri ini demi terwujudnya kesejahteraan lahir batin seluruh warga negara di mana hak-hak setiap warga negara benar-benar dijamin dan dijunjung tinggi, bukan hanya tertulis dengan rapi dalam format hitam di atas putih, yang biasa kita kenal dengan sebutan Undang-Undang Dasar.Sanggupkah kita?Gambar dipinjam dari sini, sono, dan sana.