Pilihan buku menunjukkan orang seperti apa orang itu? Waktu surfing di internet untuk blog walking, saya membaca postingan dari sebuah blog yang mengatakan bahwa buku yang menjadi pilihan kita menunjukkan karakter seperti apa kita. Karakter yang di maksud di sini adalah tingkat intelegensia. Jadi, jika orang senang membaca buku-buku semacam teenlit akan dianggap memiliki pola pikir yang kurang deep. Jika orang yang setiap hari kerjaannya menenteng buku-buku tebal semacam Intermediate Accounting atau Statistics for Bussines akan otomatis dianggap sebagai orang yang intelek.Mungkin ada benarnya juga pendapat seperti itu. Tapi tidak 100% benar. Saya berpendapat bahwa pemikiran seseorang itu dipengaruhi oleh seberapa variatifnya sumber bacaan yang telah dilahapnya dan seberapa kreatifnya dia memanfaatkan sumber-sumber tadi untuk mendukung pendapat yang dikemukakan ketika sedang berbicara. Bobot pembicaraan, pembawaan diri, dan sikap atau olah tubuh seseorang saat berbicara itulah yang menentukan seperti apa pola pikir dari yang bersangkutan. Misalnya begini, jika ada orang yang suka membaca buku-buku ringan semacam teenlit, namun mereka senang membaca buku-buku semacam itu hanya digunakan sebagai selingan untuk mengalihkan kejenuhan akibat interaksi yang sangat intens dengan ilmu-ilmu eksakta atau perhitungan ekomonometrika yang rumit. Di satu sisi, karena perhitungan ekonomi atau ilmu-ilmu eksak tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya, maka tidak berarti kalau dirinya menyukai buku-buku seri Mec Cabot yaitu Princess Diary, lantas dengan mudahnya kita menjastifikasi kalau yang bersangkutan berpikiran yang low. Saya pikir, jika ada korelasinya mungkin sangat kecil. Pilihan-pilihan dalam hidup kita, termasuk pilihan terhadap buku memang berpotensi untuk membentuk pola pikir seperti apa kita sebenarnya. Namun, jika orang tersebut tidak pandai untuk memanfaatkan atau menggunakan 'sesuatu' dari buku-buku yang dibacanya, saya kira hal yang sama akan terjadi pula pada orang yang tidak membaca buku tersebut sama sekali. Zero point. Jadi, pola pikir seseorang selain ditentukan dari variatifnya buku yang dibacanya (bukan dipilihnya, memilih tanpa membacanya hanya akan membuat seseorang 'terlihat seperti', bukan 'menjadi', dua hal yang jelas sangat berbeda), juga ditentukan oleh kekreatifan orang tersebut untuk mengaplikasikannya dalam berbagai kesempatan.Seorang politikus misalnya, lebih banyak membaca majalah atau surat kabar yang memberikan bocoran isu politik yang lagi menghangat, bukan berarti jika dia suka membaca buku-buku Harry Potter, tidak berarti dia tidak intelek. Kebetulan saya kenal dengan seorang politikus yang sekarang duduk sebagai anggota Dewan di Senayan. Dia suka sekali dengan serial Harry Potter. Namun, jurnal-jurnal ilmiah pun juga tak ketinggalan dilahapnya. Alhasil, jika berbicara atau sekadar menulis suatu opini di media (atau bahkan di blognya), akan terlihat kapasitansi dari orang tersebut. Orang bisa berpikir bahwa apa yang dikatakannya akan mempunyai dasar yang kuat baik secara teori maupun kenyataannya di lapangan. Jadi, komentar yang keluar darinya pun akan terlihat terlihat tertata, kedengaran intelek, dan dalam. Tidak seperti 'tokoh-tokoh' yang sering kita lihat di acara sidang kasus Century. Saya jadi ingat dengan kutipan ini, two roads diverged in the woods, and I took the one less traveled by. And that has made all the difference. Pilihan-pilihan kita akan selalu membedakan seperti apa kita sebenarnya. Tak masalah bahwa bahan bacaan yang Anda pilih itu merupakan bacaan ringan. Tapi jika Anda mampu mengolah bahan bacaan yang Anda nikmati tadi sesuai dengan bidang yang menjadi konsentrasi Anda, maka Anda pun layak disebut sebagai seorang intelektual ... di bidangnya (tentu saja). Justifikasi bahwa orang yang suka buku-buku ringan merupakan orang yang tidak intelek sungguh tidak seimbang cara penilaiannya. Jadi begini, penilaian hanya pas dilakukan pada bidang yang digeluti dari si pemilih buku tadi. Misalnya begini, jika orang suka sekali membaca buku tentang gambar atau lukisan. Namun, ketika ditanya tentang Raden Saleh atau Affandi saja tidak mengenalnya, apakah itu bisa disebut intelek. Silakan Anda simpulkan. Jika ada orang yang suka membaca buku-buku tentang ekonomi, ketika ditanya tentang analisis perekonomian suatu negara, dengan gamblangnya ia menjelaskan, ya memang sudah seharusnya seperti itu. Akan terlihat aneh jika, seseorang (seperti yang saya jelaskan di atas) kelihatan seperti mempelajari atau menyukai ilmu ekonomi namun ketika dimintai pendapat yang paling sederhana mengenai apa itu makroekonomi tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan, orang seperti itulah bisa dikatakan tidak intelek. Sangat berbeda jika orang yang suka membaca ilmu-ilmu kedokteran, lalu dimintai pendapat tentang laju inflasi dalam hubungannya dengan tingkat pertumbuhan ekonomi, akan dijawab dengan 'ngaco', akan sangat kurang tepat jika menganggap orang tersebut tidak intelek. Jadi, tingkat intelektualitas jika dikaitkan dengan jenis buku yang dipilih, haruslah diseimbangkan dengan kecenderungan dari bidang yang dipilih oleh orang yang bersangkutan. Tidak setiap orang mampu menguasi semua ilmu yang ada di muka bumi ini. Sama halnya dengan tidak ada seorang pun yang tahu segalanya. Menilai seseorang secara tidak proporsional sungguh sangat tidak menyenangkan buat saya pribadi. Apalagi dengan dasar yang lemah. Lebih baik mengamati perlahan-lahan, bukan menjustifikasi secara spontan tanpa penuh pertimbangan. Selamat tenggelam dengan bacaan yang Anda pilih. Anda semua berpotensi menjadi kaum intelektual. Di bidang yang Anda sukai (tentu saja).Gambar dipinjam dari sini.
Dalam suatu kesempatan saya pernah ditanya bagaimana caranya menulis yang baik. Di kesempatan yang lain, saya juga pernah ditanya tentang tips-tips menulis yang mudah dilakukan. Sebenarnya saya agak kurang nyaman untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Pertama, saya merasa belum pandai dan mahir menulis. Apa yang tertuliskan di sini biasanya hanyalah pikiran yang terlintas sekelebatan mata saja. Kedua, saya termasuk orang yang kurang pandai untuk membagi waktu. Berkali-kali sudah membuat jadwal yang (saya pikir) rapi, ternyata malah (dengan sukses) saya langgar sendiri. Walhasil, pekerjaan menulis yang secara sadar diniatkan untuk menulis sebuah buku, sampai saat ini belum terlaksana akibat begitu banyaknya toleransi waktu (baca: kemalasan) yang mendapat tempat. Jadi teringat kata Pablo Picasso yaitu menunda sampai besok apa yang Anda inginkan, bisa membuat Anda mati tanpa melakukan apapun. Wuih, malu sekali.Memang benar, pekerjaan menulis membutuhkan sejumput kreativitas, kedisiplinan yang tinggi, dan kemewahan akan tersedianya waktu luang. Hal-hal yang sebenarnya merupakan sesuatu yang sulit untuk saya dapatkan akhir-akhir ini. Akan tetapi karena menulis sudah menjadi kebiasaan (dan juga panggilan jiwa), walaupun jarang dilakukan tetap saja selalu memanggil dan menggoda untuk segera dilakukan. Menumbuhkan kesukaan untuk menuliskan ide atau pemikiran dalam sebuah bahasa tulis memang bukan hal yang mudah, juga bukan hal yang susah untuk dilakukan. Yang diperlukan hanyalah sebuah sikap penasaran yang terus-menerus dipelihara, untuk selalu bertanya (dan bertanya-tanya) sekaligus belajar untuk mempertanyakan sesuatu. Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat dan animo yang dapat menjadi dorongan bagi pikiran kita untuk senantiasa bertanya dan bertanya. Salah satunya adalah dengan membaca. Membaca apa saja dan di mana saja, melahap berbagai macam dan jenis literatur. Namun, kalau boleh saya bilang, pilihlah beberapa topik yang dianggap paling menarik, paling mendekati passion Anda. Biasa, lebih mudah untuk membaca buku-buku karya para penulis yang Anda idolakan. Yang saya lakukan biasanya adalah membuat daftar buku-buku yang akan saya baca dalam satu bulan ke depan. Buku-buku tersebut di atur sedemikian rupa sehingga pada akhir bulan, semua buku yang masuk daftar sebisa mungkin selesai dibaca. Setelah membaca, biasanya akan timbul pemikiran tentang kesan dari buku yang baru saja kita baca. Mulailah untuk menjadi kritikus dari karya orang lain. Mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan dari karya yang baru saja kita baca. Setelah itu cobalah untuk membuat coretan-coretan sebagai sebuah review atau pendapat tentang kualitas dari buku yang di maksud. Dari review yang Anda buat, akhirnya diketahui tentang kriteria-kriteria dari kualitas karangan yang menurut Anda bagus. Mulai dari persepsi tersebut, mulailah membuat karya sendiri yang kualitasnya mendekati dari apa yang menjadi panduan untuk menilai karya orang lain tersebut. Biasanya, nilai rasa ini yang sering menghantarkan seseorang dari nobody menjadi somebody karena berawal dari ketidakpuasannya membaca karya orang lain sehingga mendorongnya untuk menulis karya sendiri yang lebih sreg di hati.Sarana lain yang mudah bagi kita untuk belajar dan menumbuhkan inspirasi adalah dengan membaca blog para penulis yang sudah mempunyai jam terbang lumayan tinggi dalam dunia penulisan. Di era yang serba digital ini, blog sudah menjadi semacam media yang mudah diakses dan menjamur dalam ranah dunia maya. Dengan adanya kompetisi yang ketat dari para penyadia jasa internet, blog merupakan sarana yang murah meriah untuk belajar menulis sekaligus memublikasikannya kepada khalayak. Beberapa blog yang menarik dan dapat dijadikan alternatif sumber inspirasi adalah blognya Dewi 'Dee' Lestari, Andrea Hirata, Eka Kurniawan dan Ayu Utami. Walaupun ada banyak blog menarik di jagad maya, saya memilih keempat blog di atas karena mereka adalah penulis-penulis favorit saya. Sebenarnya ada satu lagi yaitu Pramoedya Ananta Toer. Tapi karena beliau sudah meninggal dunia, jadi karyanya hanya bisa saya nikmati dalam bentuk buku saja.Para penulis di atas, kerap menuliskan pandangannya baik mengenai kehidupan, kebiasaan, maupun proses kretifnya dalam menulis. Tak jarang dalam beberapa postingan di blognya diselipkan tentang bagaimana tingkah polah perjuangannya dalam menulis dan membangun sebuah karya dari nol. Sampai saat ini saya juga masih penasaran dengan proses kreatif dari Habiburrahman El-Shirazy, penulis fenomenal yang sudah melahirkan karya-karya best seller seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan lain-lain. Sebenarnya saya tidak begitu suka dengan karyanya, tapi saya kagum dengan kerajinan dan kedisiplinannya dalam menulis sehingga kelihatan sangat produktif menelurkan karya-karya baru.Selain blog, ada juga sumber-sumber lain yang dapat dijadikan pilihan yaitu koran, surat kabar, dan majalah. Saya senang dengan dunia kliping. Biasanya, jika ada artikel atau berita menarik yang menurut saya unik dan penting, saya akan mengguntingnya untuk dijadikan kliping. Namun jika majalah tersebut kertasnya agak luks, saya sayang untuk mengguntingnya. Walhasil hanya majalahnya saja yang saya beri sampul agar tidak kusut dan gampang terlipat.Banyak dari teman-teman saya yang bertanya bahwa di kepalanya banyak sekali ide terlintas dan meminta untuk segera ditulis menjadi sebuah karya entah berupa artikel, cerpen, puisi, atau hanya sebuah opini. Namun, kebanyakan dari mereka merasa susah untuk memulai menuliskannya. Yang menjadi pokok persoalan di sini bukan memulainya yang susah, tapi terlampau berkutat dengan segala ide yang bermunculan. Kuncinya adalah dengan menetapkan skala prioritas. Pilih satu topik yang paling menarik bagi Anda. Jika semua topik menarik untuk ditulis, tetap pilih satu saja dari sekian topik menarik tadi untuk mulai ditulis. Mulai satu-satu saja. Karena animo yang menggebu untuk menulis biasanya juga berakibat pada tidak tertuliskannya sama sekali semua ide yang terlintas tadi. Bukankah itu juga akan berpotensi menjadi limbah ide yang sangat disayangkan. Jadi, daripada banyak ide terbuang percuma, lebih baik memilih memulai yang sederhana dahulu. Membuat ulasan atau kritikan terhadap bacaan atau topik berita yang baru saja kita nikmati juga bisa digunakan sebagai sarana untuk menulis.Saya kira, apapun alasannya, yang penting tetapkan disiplin untuk tetap menulis. Tak perlu dihiraukan tentang segala tetek bengek efek menulis yang katanya dapat melegakan pikiran atau menjadi terapi jiwa. Jika sudah tercipta suatu disiplin yang teratur untuk tetap menulis, saya yakin, tak perlu ada alasan susah untuk memulai. Catatan ini bukan sebagai acuan yang HARUS dilakukan. Setiap orang punya cara sendiri-sendiri dalam berproses kreatif dalam menulis. Cari dan nikmati cara yang paling nyaman dan paling efektif untuk membuat Anda dalam menulis. Kuncinya hanya satu. Terus menulis.Gambar dipinjam dari sini.
Tulisan ini bukanlah bagian dari program Carier Coach yang disiarkan oleh Radio Hard Rock Fm Jakarta. Tapi tulisan ini adalah tentang 'pengalaman' dan 'pengamatan' saya dalam bekerja.Ada banyak orang di luaran sana yang berlelah-lelah mencari kerja. Ada banyak manusia di dunia ini yang sedang berjuang untuk memeluk dan menyandang status sebagai manusia yang bekerja. Tapi, tahukah Anda apa yang ada di kepala saya saat ini?Saya sadar bahwa menjadi pegawai negeri merupakan pilihan di mana kita (kadangkala) harus berdamai dengan permasalahan birokratis yang sangat berbelit-belit. Saya paling tidak suka untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam bentuk penguluran waktu. Saya (sangat) tidak suka dengan birokrasi yang berbelit-belit. Dulu, saya pikir instansi yang 'bersih' itu ada. Namun, setelah saya masuk dunia kerja dan mulai berkecimpung dalam dunia birokrasi, perlahan-lahan saya mengamati kinerja dari instansi-instansi di Indonesia ini sangat tidak efektif, banyak terdapat orang yang tidak kompeten menduduki jabatan penting, dan (yang paling krusial) susah sekali untuk menghilangkan praktek korupsi di dalamnya. Untuk yang terakhir, silakan Anda lihat sekeliling Anda baik di lingkungan pekerjaan maupun dalam masyarakat. Ketika mengetahui kenyataan tersebut, pertama kali saya agak shock karena orang-orang yang tadinya (saya pikir) 'bersih', ternyata justru merupakan gembong dari segala kebobrokan birokrasi. Perlu dicatat, saya paling anti untuk berlama-lama berinteraksi dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan, tidak profesional dalam bekerja, memberikan pelayanan secara tebang pilih dan menerapkan praktek sistem tebang pilih. Jadi, bisa Anda bayangkan bahwa saya adalah orang yang paling malas mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan birokratis. Contoh, sampai saat ini saya belum pernah mengurus pembuatan KTP sendiri. Selalu ada yang menguruskan, entah itu orang tua atau saudara saya, tergantung siapa yang tidak sibuk pada saat pembuatan KTP berlangsung. Yang paling parah dan membosankan adalah saat pembuatan SKCK (saya tidak tahu apa istilahnya sekarang). Pertama saya harus meminta tanda tangan (lengkap dengan stempelnya) dari mulai RT sampai dengan Kepala Polres. Dan apakah yang paling membosankan dari semua alur yang saya lalui itu? Saya harus merelakan beberapa rupiah tanpa ketentuan jelas jumlah nominalnya yang biasanya dikatakan dengan bahasa 'yah seikhlasnya saja' tapi jika kita memberikannya sedikit maka bentuk keramahan yang kita dapat juga minimalis. Oh Indonesia ... dengan sedih saya (tetap) mencintaimu.Saya melihat kenyataan yang lain. Bahwa banyak pegawai di instansi di Indonesia itu inginnya mendapatkan bayaran yang tinggi namun pekerjaan yang dilakukan sedikit. Ini mungkin yang membuat pekerjaan senantiasa terulur-ulur dan tidak tepat waktu. Dan jujur saja, saya agak kurang apresiatif untuk menjalin komunikasi dengan manusia-manusia unik macam begini. Dan dari gesture dan bahasa mereka, saya dengan mudah mengenali karakter seperti apa yang mereka pilih bagi kehidupan yang sungguh berharga untuk diisi dengan hal-hal seperti itu.
Saya mungkin agak sedikit merasa bosan dengan pekerjaan yang sedang saya lakukan. Saya bekerja keras, namun sepertinya banyak sekali hal-hal yang tidak sreg di hati, sepertinya menjadi favorit (hampir) semua orang. Beberapa orang melabeli saya dengan stempel "IDEALIS". Dan memang benar, dalam beberapa hal saya memang harus berlaku idealis. Saya pernah membaca buku Catatan Seorang Demonstran, buku harian Soe Hok Gie yang diterbitkan oleh LP3ES pada tahun 1983. Beruntung saya mendapatkan versi asli buku itu (maksudnya bukan repackage yang terbit di tahun 2005). Saya ingat akan salah satu kalimat dalam buku itu bahwa hidup di Indonesia itu hanya ada dua pilihan, yaitu menjadi idealis atau menjadi apatis. Dan saya akan memilih untuk menjadi idealis dengan mengembangkan keidealisan saya sampai sejauh-jauhnya.
Memang banyak sekali penentangan yang saya terima, mulai dari rekan kerja hingga anggota keluarga. Tapi dasar, saya dari dulu punya kuping yang ekstra tebal, hal yang paling baik di dunia ini adalah mengikuti kata hati. Saya kira suara nurani tak akan pernah menjerumuskan pemilik hati itu sendiri.
Saya percaya bahwa ada harga ada mutu. Artinya kalau ingin punya uang lebih ya harus rajin bekerja. Kalau mau uang lebur ya benar-benar harus lembur. Kalau ingin digaji tinggi ya harus rajin bekerja. Namun, di luar itu semua, pekerjaan sebagai pegawai negeri memang bukan jenis pekerjaan yang menerapkan pola seperti di swasta. Maksudnya kalau di swasta, orang yang berprestasi dan lebih giat bekerjalah yang akan mendapatkan penghasilan dan promosi lebih banyak. Tapi kalau sebagai pegawai negeri ya, pintar goblok gaji sama. Tergantung pada golongan dan masa kerja. Inilah kadangkala yang membuat iri pegawai yang masih muda dan produktif. Karena orang-orang yang sudah tua dan tidak produktif namun masa kerjanya sudah lama, mereka-mereka inilah yang penghasilannya besar namun kerjanya minim. Sungguh mengharukan.
Saya tidak ingin menjadi penentang yang radikal. Selama hal-hal yang tidak sejalur dengan pemikiran saya tersebut masih dalam batas wajar, masih saya diamkan saja. Artinya saya lebih memilih untuk berdamai dengan keadaan. Namun, jika keadaan tersebut sudah di luar batas normal, sebisa mungkin saya akan menolaknya. Tapi masih akan saya lakukan dengan cara-cara yang elegan dan (saya berusaha untuk) sesuai dengan aturan yang berlaku. Karena bagaimanapun juga saya lebih nyaman untuk bermain aman. Saya sadar bahwa masuk untuk mendapatkan kerja di sini tidak gampang. (FYI, saya memakai jalur yang legal, tidak memakai uang sepeser pun, dan tidak ada bantuan dari 'orang dalam'). Saya berusaha uuntuk melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Setiap tempat selalu memiliki karakteristik dan keunikannya sendiri. Yang saya inginkan adalah membuat setiap tempat di mana saya berkecimpung dalam pekerjaan tersebut memberikan arti yang baik, menyisakan kesan yang baik, dan senantiasa membuat pekerjaan-pekerjaan tersebut selesai tepat waktu dan benar.
Memang, dari segi penghasilan, pekerjaan saya sekarang terbilang lumayan untuk ukuran bujangan seperti saya. Maka dari itu, sayang sekali jika disia-siakan begitu saja. Tapi, keinginan saya yang paling dalam adalah menjadi penulis, sebulan sekali (atau dua kali) melakukan traveling ke tempat-tempat asing di dunia ini, dan bebas secara finansial. Itu kalau boleh memilih. Dan karena hidup ini selalu menawarkan banyak pilihan, yang sedang saya usahakan saat ini adalah menjadi pegawai negeri yang penulis, yang traveler, (dan semoga) bebas secara finansial. Untuk urusan bebas finansial saya ingin mengusahakannya bukan dari pekerjaan saya yang sekarang, tapi dari pekerjaan menjadi penulis. That's my dream and I hope my dream will come true. So, I can say that my job is (not) my carier. Di sisi yang satu saya tetap ingin pekerjaan itu, di sisi yang lain, saya merasa it's not so me :=)
Jadi, jika sudah mentok dan pusing dengan pekerjaan di kantor, jika sudah muak dengan segala tetek bengek tentang urusan birokrasi yang memuakkan, saya akan memilih untuk mencari-cari tiket murah sebagai sarana penghilang penat. Traveling. Coz my life and my journey are my adventure.
Gambar dipinjam dari sini.
Setelah perjalanan yang kita tempuh dengan bersusah payahAkhirnya kupahami satu hal tentang kitaBahwa pemikiran yang dulu lurus dan kau anggap kakuMemang tak pernah bisa kuhentikan untuk kupeluk mesraKadang aku juga berpikirApa gunanya aku melakukan ini semuaTak ada seorang pun yang mau dan mampu mengerti tentang keresahankuTidak juga kau, maniskuMalaikat yang (katanya) dikirim Tuhan untuk menemaniku ngobrolAtau sekadar tempat mengadu atas kekesalan yang menemaniku seharianTopeng-topeng yang dulu kau usulkan untuk kupakaiSepertinya sudah mulai lusuh dan minta diganti yang baruHingga suatu ketika kuputuskan untuk tidak membelinyaKarena topeng-topeng itu mahal harganyaBolehlah orang bersenandung tentang kemalangankuManusia yang mendamba pengasingan demi sebuah nubuat tentang kebenaranTak ada yang harus dikhawatirkan untuk ituSayangku, aku bahagia sekali melihatmu tersenyumSekalipun senyum itu bukan aku yang mengguratnyaSecuil kebahagianmu di sana, cukuplah menjadi candu bahwa kau masih menikmati hidupmuSeperti dulu yang pernah kau rengekkan kepadakuDalam kesendirian akhirnya kumengertiKeheningan sepertinya larut dalam peluk ciumku pada buku-bukuHingga waktu sepertinya gagap dalam mengelabui kealphaanku akan ilmuOh ... Tuhan, jika takdir yang kau guratkan kepadaku adalah kisah mesra akan kesendirianAkan kurayakan semuanya dengan gegap gempitaBahwa semua dunia telah mengamini prinsip hidupku yang mulai membatuJika Kau ijinkan suatu saat kumendamba seorang sahayaYang Kau kirim dari rusukku yang tersempal nan jauh di sanaAku akan penuhi naas-Mu yang penuh misteri dan keindahanKarena kasih-Mu tak tersentuh bahasakuSayang, aku senang dengan kenihilanku menaklukkanmuAkan kujalani hidup yang sederhana ini seperti sedia kalaSeperti saat kau belum mewarnai dunia yang menyelimutikuAku akan tetap di sini, sayangkuMenuntun ide-ideku yang sering kamu anggap gila dan tak masuk akalSampai ajal memanggilku untuk dipeluknya dengan mesraGambar dipinjam dari sini.
Hidup adalah sebuah proses tentang perjalanan waktu. Cerita tentang suatu alur yang membentuk dongeng yang menuntut untuk selalu diteruskan. Narasi kehidupan akan hadir seiring dengan tertatihnya waktu. Keindahan bahasanya sangat tergantung kepada seberapa beraninya kita mengambil langkah untuk berspekulasi dengan ketidakpastian. Hidup adalah juga lagu yang menanti untuk dinyanyikan. Seberapa getirnya lagu tersebut bermelodi, tetap saja tak akan lupa memberimu kejutan tak terduga akan indahnya suatu filosofi.Hidup juga berarti rentetan suatu pertanyaan. Seberapa jauhnya dirimu bisa menjawab, tergantung kepada seberapa jauhnya kamu mulai sadar akan hakikat kehidupan. Mencari dan terus mencari tahu, bertanya dan terus bertanya-tanya, serta menduga dan konsisten membuat suatu hipotesis merupakan jembatan untuk mencapai jawaban itu. Jawaban dari suatu pertanyaan sederhana yang bersumber dari satu tanda tanya agung. Ada kalanya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu terpampang jelas di depan mata. Hadir begitu dekat sehingga tak perlu buang banyak energi untuk mencari tahu. Kadang-kadang jawaban itu juga manja sekali untuk dicari tahu. Ia bersembunyi sebentar agar kita senantiasa bersabar dan menunjukkan integritas untuk mencarinya. Tantangan terbesarnya adalah mencari yang tak dapat dicari dan berusaha menemukan yang tak dapat ditemukan. Itu hanya bisa didapatkan dari proses perjalanan. Perjalanan waktu maupun perjalanan tempat. Pengalaman.Hidup juga berarti rangkaian suatu tanda titik. Banyak sekali titik-titik di bumi ini yang haus untuk dihubungkan. Dari titik-titik itulah jalan mencari jawaban juga terbentang. Pertanyaan selanjutnya, jika dunia ini penuh dengan titik-titik yang runut untuk dihubungkan dan dicari keterhubungannya, mengapa ada orang yang puas hanya berdiam di satu titik? Kembali ingatanku diterbangkan kepada memori dari petuah agung sang ulama Imam Syafi'i tentang indahnya suatu perjalanan, pergerakan. Sebuah hijrah."Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang."Hijrah. Sebuah perjalanan. Banyak sekali yang akan didapatkan dari rangkaian suatu perjalanan. Jika ada peribahasa janganlah seperti katak dalam tempurung, maka suatu perjalanan yang akan membawamu ke dalam relung-relung kehidupan akan mengajakmu lebih dari sekadar keluar dari tempurung. Kau akan tahu bahwa apa yang terjadi dalam hidupmu, dalam keseharianmu, dalam kelaziman di sekelilingmu mungkin saja lebih baik atau bahkan malah lebih buruk dari apa yang terjadi di tempat lain. Tidakkah kau ingin mencari mutiara-mutiara kebaikan yang tertanam jauh dari tempat di mana dirimu tenang bersemayam?Ah. Rumah tentu saja. Tempat itu menjanjikan ketenangan dan kenyamanan kehidupan. Tapi, tak pernahkah terlintas di benakmu, bahwa tanda tanya agung juga memberikan PR bagi kita untuk menyadari bahwa dalam suatu ketenangan hidup seringkali tersimpan kehidupan yang melenakan ingatan. Dalam suatu air yang tenang tak ubahnya menyimpan tenaga yang menghanyutkan. Rumah memang suatu zona aman. Tempat berteduh maupun berkembang biak. Menurunkan ketenangan-ketenangan yang akhirnya menjelma kesalahan beruntun berkesinambungan. Menuju kesalahkaprahan. rindu. aku ini memang selalu rindu untuk pulang. tapi saban kali juga tak betah. petualang sekaligus pencinta rumahSebuah dilema menjadi seorang pejalan jauh. Aku lebih suka menyebutnya demikan untuk mewakili petualangan-petualangan kecil yang kulalui demi mencari jawaban atas tantangan dan pertanyaan kehidupan. Di satu sisi, rumah menawarkan kerinduan yang mencandu. Di saat yang lain, rumah serupa kebosanan yang merengek untuk segera ditawarkan. Rumah mengingatkan kita semua akan suatu kegundahan-kegundahan di masa depan. Dilema menjadi tua dan segenap permasalahan hidup yang mengikutinya. Namun inilah yang dinamakan pilihan. Menjadi petualang sekaligus pencinta rumah. Sebuah proses kehidupan yang layak dipilih dan dipertanggungjawabkan yang jarang jadi pilihan kebanyakan orang. demikianlah musafir: kita takut menjadi tua. namun juga tak pernah bisa kembali menjadi bayi, menjadi kanak-kanak. kecuali bila kita ciptakan lagi kelahiran. di saat halte mau membimbing kita ke peristirahatanAh, puisi. Selalu saja dirimu lugu bersolusi. Indah bahasamu seakan menawarkan kerinduanku pada rumah. Engkau mahir menjadi tongkat penunjuk untuk hati dan imanku yang kadang goyah untuk menjadi penjelajah. Sesuai dengan ide yang menari-nari di kepalaku. Bahwa dengan perjalanan yang kulakukan, aku yakin akan menemukan ilmu-ilmu baru, pengetahuan-pengetahuan yang mencengangkan, bertemu dengan bermacam-macam orang dengan beraneka latar belakang. Aku yakin akan menemukan filosofi kehidupan. Memetik pengalaman, membuat penilaian, menimbang-nimbang rasa kehidupan, hingga menarik kesimpulan. Menakar suatu nilai maupun mengadopsi suatu pemikiran. Karena bukan suatu jalan dari pilihan orang banyak, maka siap-siaplah dirimu dengan konsekuensi yang akan kau terima dari orang-orang awam yang akan menjadi juri dari langkah yang kau pilih. Ah, biasa saja. Mereka memang seperti itu. Jumlahnya mayoritas, mulutnya banyak, dan seringkali mahir mengolok-olok. Karakter yang hanya cocok untuk satu peran dalam sandiwara kehidupan. Menjadi penonton. Lalu, jika dirimu seorang terpelajar, ilmu dan pengetahuan menjadi teman sekaligus sahabat terbaik, kebiasaan bertanya-tanya dan merayakan kebebasan berlogika menjadi tradisimu, akankah dirimu mau menjadi pribadi yang tak akan dikenal oleh siapapun. Manusia yang tertutup oleh jumlah mayoritas dalam komunitas. Silakan kembali pada iman masing-masing. Hanya hati yang tahu dan akan berbisik untuk menunjukkan suatu jawaban besar dari pertanyaan sederhana dalam hidup. Sebuah kenyataan.Hidup memang jalinan yang menawarkan pilihan-pilihan. Ke mana hatimu bertaut, di situlah oasemu bersemayam. Dalam kepalamu tertanam banyak cahaya yang bertahan untuk membuncah memuntahkan sinar. Begitu pula, terangkum penjara yang menggiringmu ke arah kepicikan berpikir. Karena itu, ikutilah keinginan hati untuk melakukan suatu perjalanan.Merekam tradisi dan pengalaman untuk dijadikan cermin dalam sebuah bingkai rona kehidupan.salam bagimu peziarah muda. hatimu telah mencatat peristiwa-peristiwa kecil yang dilupakan dunia. ke mana nyerimu melangkah, ke sana jantungmu mencariTidak semua ocehanku layak kau ikuti. Tidak semua tindakanku layak kau lakukan juga. Aku hanyalah seorang yang haus akan sebuah perjalanan. Petualangan-petualangan kecil yang kutemui hanyalah renik dari ketetapan-ketetapan hukum Ilahi dan pesan yang dikidungkan oleh puisi-puisi. Aku yang mencoba merangkai pengalaman dalam hidup hanyalah seorang turis yang bertamasya dalam diri. Demi sebuah pencarian agung dari jawaban yang menggantung di ujung tanda tanya dari proses kehidupan. Pencarian jati diri.* Puisi dikutip dari Perjalanan Pulang karya Joko Pinurbo dalam buku kumpulan puisinya Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung (Gramedia Pustaka Utama, 2007)Gambar dipinjam dari sini.
Sebuah dilema besar untuk menulis catatan ini. Pertama karena saya masih (sedikit) tergantung dengan plastik. Kedua, sepertinya saya mengalami kesulitan untuk menghilangkan ketergantungan tersebut walaupun selalu berusaha untuk menguranginya. Tapi karena menurut saya isu ini penting untuk ditulis, jadi tetap saja saya semangat untuk menulisnya.Sudah bukan rahasia umum lagi kalau plastik sudah menjadi teman akrab bagi kita semua. Hampir semua kegiatan yang kita lakukan dalam kehidupan ini bersentuhan dengan yang namanya plastik. Hal tersebut sangat terasa sekali bagi orang-orang yang hidup di lingkungan perkotaan. Bagaimana tidak, tiap kali belanja ke supermarket, plastik adalah sarana yang ampuh walau hanya untuk memindahkan barang dari troli menuju bagasi mobil. Coba Anda bayangkan sejenak. Benarkah hal itu terjadi pada kehidupan Anda? Apakah Anda juga melakukannya?Plastik bagi sebagian kalangan merupakan benda yang sangat bermanfaat. Namun di sisi yang lain, penggunaannya yang berlebihan justru akan mendatangkan masalah baru dalam kesehatan lingkungan. Berapa banyak plastik yang Anda gunakan setiap hari? Jika Anda masih dalam status mahasiswa atau pelajar yang kebetulan tinggal di kos-kosan dan selalu makan di warung, tak jarang yang memilih untuk membungkusnya selalu menggunakan plastik. Jika jumlah makannya sebanyak tiga kali sehari, maka dalam sebulan ada sekitar 90 bungkus plastik yang berpotensi menjadi sampah untuk satu orang yang menggunakannya. Jika dalam suatu komunitas ada 100 orang saja yang makan di warung dan selalu membungkusnya dengan plastik, silakan Anda hitung sendiri dampak sampah plastik yang akan dihasilkan? Jumlah tersebut terus meningkat seiring dengan bertambahnya konsumen plastik.Di lain tempat, misalnya di supermarket, kita akan mendapati para pelayan yang sudah terampilnya mengangsurkan barang-barang belanjaan kita dalam sebuah kantong-kantong plastik. Mereka dengan cekatan membuat belanjaan kita masuk dalam wadah yang tidak kita sadari dapat berpotensi menjadi polutan lingkungan. Dan anehnya, mereka tidak menanyakan apakah ingin membungkusnya dengan kardus atau tidak. Memang hal ini menjadi dilema tersendiri. Pertama karena tidak ingin ribet. Antrian sudah menunggu, jadi diperlukan kepraktisan dalam hal pelayanan. Yang kedua adalah sarana promosi. Plastik belanjaan merupakan sarana promosi yang ampuh terhadap suatu produk agar mudah dikenali masyarakat. Logo yang tertempel di kantong plastik mempunyai daya untuk mendorong masyarakat memiliki hal yang serupa. Yang lebih parah lagi dari keanehan di atas adalah bagaimana mungkin para pelayan tersebut tidak mengisi kantong-kantong plastik tersebut dengan penuh. Baru mengisi dengan beberapa barang sudah mengambil kantong plastik baru untuk mewadahi barang lainnya. Selain itu, ada pula pemisahan untuk barang-barang konsumsi dengan barang-barang perlengkapan mandi sehingga perlu plastik lagi untuk membungkusnya. Percayalah, selama isi dari barang tersebut masih berada dalam kemasannya yang rapat, tidak akan ada kontaminasi antara barang yang satu dengan barang lain yang dimasukkan dalam satu kantong plastik. Jadi mencobalah untuk berpikir bijaksana. Plastik memang kadang kala cantik dipandang dan praktis dalam penggunaannya. Namun, dalam skala besar plastik juga mampu menjadi bumerang bagi kesehatan lingkungan karena plastik merupakan bahan yang sulit untuk diuraikan oleh tanah. Sudah banyak contoh yang terjadi di sekeliling kita berkaitan dengan kejahatan terselubung dari manisnya sebuah kantong plastik. Tentu kita masih ingat dengan jelas bahwa kota Bandung yang sering kita kenal sebagai kota kembang tiba-tiba saja berubah menjadi kota sampah. Dan di antara sampah yang menghiasi kota Bandung tersebut paling banyak adalah sampah plastik. Jadi istilah Bandung sebagai kota kembang bisa jadi dipelesetkan menjadi kota kembang plastik. Miris bukan?Belum lagi kalau kita lihat acara banjir tahunan yang melanda kawasan Jakarta akibat tidak terawatnya daerah sepanjang aliran sungai Ciliwung. Kalau kita lihat lebih seksama, komposisi sampah plastik menempati urutan teratas dalam hal jumlahnya. Belum lagi jumlah sampah yang menggunung di Bandar Gebang, Bekasi. Banyak sekali sampah plastik menumpuk dan menyajikan pemandangan yang sangat tidak sedap dipandang.Sampah plastik memang merupakan sebuah dilema. Di satu sisi sangat dibutuhkan, tapi disisi lain melahirkan PR yang harus dicari solusi pemecahan masalahnya. Walaupun begitu ada langkah-langkah sederhana yang dapat kita lakukan untuk meminimalisasi penggunaan kantong plastik.Pertama, jika akan berbelanja, perkirakan jumlah barang belanjaan Anda. Jika sekiranya jumlahnya banyak lebih baik meminta untuk membungkusnya dengan kardus. Beberapa supermarket sudah memberikan fasilitas bungkus kardus ini. Jika jumlah belanjaannya sedikit lebih baik membawa kantong belanjaan sendiri dari rumah yang bukan sekali pakai. Jika terpaksa harus memakai kantong plastik, usahakan kantong plastik tersebut digunakan dengan maksimal artinya satu kantong plastik diisi dengan bermacam barang sesuai dengan daya tampung dan kekuatan plastik.Kedua, menggunakan plastik dengan seperlunya. Maksudnya, jika sesuatu bisa dibawa tanpa perlu dibungkus dengan plastik, lebih baik dibawa saja tanpa pembungkus plastik. Hal ini bisa kita temui saat belanja buku. Beberapa toko buku sudah mulai sadar jika ada pembeli yang menolak menggunakan kantong plastik. Sebagai alternatif mereka akan memberikan stempel toko pada barcode yang tertempel di bagian sampul buku untuk menandai bahwa buku tersebut telah dibayar lunas.Ketiga, bagi pelajar, mahasiswa, atau siapa saja yang hidup di kos-kosan dan selalu makan di luar, sebaiknya makan di tempat saja. Selama tempat makan yang kita kunjungi cukup memenuhi sanitasi yang layak, saya kira aman-aman saja untuk bersantap di tempat makan. Kalaupun perlu dibungkus, cobalah untuk membungkusnya rame-rame baik dengan teman atau bisa juga digabung dengan belanjaan yang lain.Keempat, menyimpan kantong-kantong plastik yang belum dipakai dan masih layak pakai dan mencoba untuk menggunakannya dengan bijaksana. Usahakan untuk memilih kantong plastik sebagai pilihan terakhir untuk membungkus barang. Selama masih bisa dibungkus dengan kertas, lebih baik dibungkus dengan kertas saja.Kelima, pisahkan sampah plastik dengan sampah yang bisa didaur ulang. Beberapa tempat sampah sudah mengaturnya dengan menyediakan tempat secara terpisah. Jika belum tersedia di tempat Anda, silakan berinisiatif untuk memisahkannya supaya petugas sampah lebih mudah dalam memisahkannya.Keenam, yang ini yang masih menjadi dilema buat saya, untuk membungkus sampah di tempat sampah (sebagai wadah di tempat sampah) gunakan dahulu kertas yang agak tebal sebagai alasnya. Tapi sampai saat ini, saya masih belum menemukan media yang cocok untuk membungkus sampah di tampat sampah sehingga masih menggunakan kantong plastik sebagai alasnya. Jika kebetulan Anda tidak sengaja berada dan sempat-sempatnya membaca tulisan ini, silakan berbagi pengalaman dengan mempostingnya di kolom komentar.Plastik memang bermanfaat. Namun, jika kita tidak bijaksana dalam memanfaatkannya justru akan membawa kita dalam dunia yang penuh plastik. Jika penggunaan plastik tidak terkontrol, sementara produksi plastik kian meningkat, bukan tidak mungkin suatu saat dunia ini akan tertimbun oleh gunungan sampah plastik. Bukankah itu sebuah mimpi buruk? Maka dari itu, sebelum menjadi mimpi buruk, mari kita bangun mimpi yang lebih indah dengan sedikit peduli pada lingkungan sekitar kita. Pada bumi tempat kita berpijak. Salam lestari. ;=)Gambar dipinjam dari sini.
Namanya Subedjo. Biasa dipanggil Pak Bedjo. Pria. Menikah. Seorang Katolik yang (saya rasa) taat. Orangnya sederhana. Tidak neko-neko dan rajin bekerja. Pernah suatu ketika ada olok-olok yang mengatakan bahwa semua pekerjaan yang dilakukan oleh pelaksana, cukuplah Pak Bedjo saja yang mewakilinya.
Pak Bedjo adalah teman kantor saya. Mitra kerja saya dalam mengurusi masalah administrasi di kantor. Satu alasan kuat yang mendorong saya untuk menulis postingan ini hanyalah untuk mengingatkan diri saya pribadi dalam kaitannya dengan pengabdian saya sebagai pegawai di sebuah departemen di Indonesia tercinta ini. Saya pegawai baru. Baru dua tahun berkarya. Sementara Pak Bedjo sudah hampir pensiun. Bulan Agustus tahun ini Pak Bedjo akan mengakhiri masa bekerjanya sebagai pegawai negeri. Namun semangat dan daya juangnya untuk tetap bekerja bolehlah diacungi dua jempol. Mengapa? Karena berdasarkan pengamatan saya, orang yang mau pensiun biasanya semangat bekerjanya semakin luntur. Tidak sesemangat ketika masih muda dulu. Selain itu, banyak sekali pegawai yang akan memasuki dunia pensiun sering mangkir saat jam kerja. Alasannya bisa macam-macam. Mulai terapi ini itu, mengurus ini itu, pokoknya ada saja alasan yang diciptakan agar terbebas dari pekerjaan kantor.
Namun, keadaan yang berbeda terjadi pada diri Pak Bedjo. Mungkin karena kita mempunyai passion yang sama dalam hal kerjaan, dalam artian kita berdua sama-sama merasa bertanggung jawab atas setiap penghasilan yang dibayarkan oleh negara, jadi pergi ke kantor niatannya adalah untuk bekerja. Melakukan sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi kualitas pekerjaan maupun kesediaan untuk berada di ruangan saat jam kerja. Kita juga mempunyai jenis pekerjaan yang hampir sama. Yang pertama mengurusi administrasi seksi. Mulai dari mengadministrasikan surat masuk dan surat keluar, sampai mengurusi bon alat tulis kantor. Selanjutnya adalah mengurusi semua hal yang diminta oleh Kepala Seksi secara insidental. Untuk yang kedua mungkin saya lebih banyak mengalaminya. Secara pekerjaan mungkin lebih banyak saya variasinya. Namun, karena beliau sudah akan memasuki masa pensiun, sementara saya baru pemula, maka sudah sepantasnya penghargaan pegawai paling rajin di kantor untuk tahun 2009 diberikan kepada Pak Bedjo.
Saya tidak keberatan dengan hal itu. Sungguh suatu hal yang sangat bijaksana sekaligus dapat dijadikan teladan bagi siapa saja yang sudah mulai luntur pengabdiannya dan mulai tipis semangatnya dalam bekerja. Mau bayaran gajinya tapi tidak mau bekerja adalah sikap yang kerap dilakukan oleh para pegawai di Indonesia. Kita semua dapat belajar dari sikap Pak Bedjo. Ia tidak banyak bicara. Santun dalam bertutur. Dan hampir selalu berada di ruangan saat jam kerja. Beliau keluar ruangan hanya jika ada keperluan yang sangat mendesak, ada jadwal dinas luar, atau saat akan makan siang. Selebihnya bekerja di ruangan.
Meja kerjanya pun rapi. Tidak acak-acakan seperti kebanyakan meja pegawai lain, yang seringnya sengaja diacak-acak hanya agar dilihat pimpinan supaya kelihatan giat bekerja. Sederhana. Rapi dalam hasil kerja. Pembawaan yang tenang. Saya sedikit banyak belajar dari sikap Pak Bedjo tersebut. Banyak hal yang dapat dipetik dari tingkah sederhananya.
Terutama yang saya bahas di sini adalah tentang tanggung jawab dan integritasnya dalam melakukan pekerjaan. Sistem penggajian pegawai negeri adalah pembayaran di awal. Jadi, dibayar dulu baru bekerja. Bukan bekerja dulu baru dibayar seperti yang diterapkan di swasta. Sistem ini sedikit banyak mempunyai kelemahan. Di antara yang sering terjadi adalah maraknya orang-orang pemalas yang hanya mau menerima gajinya tapi tidak ada produk pekerjaan yang dihasilkan dari pembayaran tersebut. Saya kira keadaan ini banyak sekali ditemukan di semua instansi di Indonesia. Dan masalahnya, pemberhentian pegawai negeri tidak semudah memberhentikan pegawai swasta. Ada banyak sekali rangkaian administrasi yang harus dipenuhi ketika seorang pegawai akan diberhentikan. Jadi, banyak sekali unsur yang akhirnya berpotensi membuat orang malas bekerja.Dan anehnya, hal-hal tersebut sudah dianggap wajar dan biasa saja. Bahwa sudah dimaklumi kalau orang yang mau pensiun biasanya akan mendapatkan semacam perlakuan khusus untuk boleh tidak ada di ruangan, boleh tidak bekerja, boleh melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak hatinya. Beberapa kali menemui orang yang akan pensiun adalah orang-orang yang tidak profesional seperti itu. Mau enaknya saja. Dan kalau sudah begitu, kalau ada yang mengingatkan untuk bekerja akan dengan santai dijawab "yah yang muda-muda saja, saya sudah mau pensiun". Ungkapan yang berpretensi untuk menghindar dari tanggung jawab. Yang menjadi pertanyaan adalah biasanya mereka-mereka inilah yang bayarannya besar karena dalam sistem penggajian pegawai negeri, gaji dibayarkan sesuai dengan golongan dan masa kerja. Otomatis orang-orang yang mau pensiun adalah orang-orang yang penghasilannya (biasanya) besar dan pekerjaannya yang mulai tidak banyak.Sebuah dilema sebenarnya. Namun saya salut dengan apa yang dilakukan oleh Pak Bedjo. Saya juga berharap ritme saya dalam bekerja juga seperti itu. Rajin, rapi, beres, tanggung jawab, dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Karena saya baru mulai memasuki dunia kerja, masih banyak yang akan saya hadapi, masih banyak yang akan saya kerjakan, dan masih banyak tantangan yang akan membentang. Hanya orang-orang yang dari awal mempunyai niatan yang baik dan ikhlas dalam bekerja, berusaha menjaga integritas dan semangat bekerja, jujur dan tanpa pretensi apa-apa dalam melakukan suatu pekerjaan selain untuk menyelesaikan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab, yang akan mendapat predikat sebagai pegawai teladan. Pegawai yang dibutuhkan untuk membawa Indonesia kembali kepada relnya menuju pemimpin peradaban dunia. Semoga saya termasuk satu di antaranya. Menjadi bejo (beruntung) seperti Pak Bedjo, yang sesuai namanya layak mendapatkan julukan superbejo.
Adie Riyanto adalah seseorang yang terobsesi dengan dunia fantasi. Cinta pada perdamaian dan ketenangan hidup. Musik klasik. Scoring film. Orkestra. Ia meyakini apa yang disebut sebagai suara hati dan tak henti-hentinya berusaha menemukan jalan pada kebijaksanaan hidup tertinggi setiap hari. Ia senang pada diskusi. Membicarakan topik-topik menarik dalam kehidupan, mengurai jaring-jaring rumit fenomena hidup, mendiskusikannya dalam cara-cara dan bahasa sederhana untuk mendapatkan satu kesimpulan akhir yang membuatnya kembali termenung, berkaca, dan memaknai hidup yang begitu berharga demi sebuah pencapaian mimpi. Menyukai buku, kertas-kertas, dan perangko. Pemain kelereng kelas satu. Mengamini keheningan. Addicted dengan Harry Potter dan JK. Rowling. Benci pada bawang dan bajaj. Merindukan dunia anak-anak. Mulai belajar menulis buku. Senang difoto dan tersenyum. Selebihnya ia adalah manusia biasa yang mengagumi Indonesia sebagai keanekaragaman yang memesona.Pria. Lajang. Agak sinting. Suka menulis dan membaca. Pegawai negeri. Menyukai traveling. Laptop dan kamera digital adalah sahabat dekatnya. Kadang-kadang ia sulit ditemukan di keramaian. Suatu ketika malah tidak sengaja ditemukan di sudut bioskop. Menyukai buku, film, musik, dan fotografi. Lagi giat-giatnya untuk mencari duit agar bisa tetap jalan-jalan. Jika ingin menemuinya atau sekadar ingin tahu tentangnya silakan berkirim email ke adieriyanto@yahoo.com atau silakan klik saja icon facebook atau twitternya yang ada di bagian sidebar blog ini.
Hari pertama di tahun 2010 baru saja terlewati. Tak ada yang benar-benar berarti hari ini selain kenyataan bahwa semakin bisingnya dunia ini dengan sederet perayaan dan peringatan sebuah tradisi dalam episode kehidupan. Kemarin malam ratusan kembang api bertaburan di angkasa untuk menandai sebuah pergantian tahun. Angkasa yang biasanya mendung tampak absen menghadirkan awan gemawan. Saya kebetulan ada di rumah saja. Tidak ke mana-mana. Menikmati film akhir tahun yang belum sempat saya tonton. Bukannya antisosial tapi lebih kepada menghindari kehirukpikukan. Bagi saya, gegap gempita perayaan pergantian tahun itu tidak harus diisi dengan pesta dan hura-hura. Karena momen tersebut biasa saja. Sama seperti pergantian hari yang biasa.Tapi, datangnya tahun baru juga memberi tantangan baru buat saya. Ini berarti, saya harus mulai sadar juga kalau jatah waktu untuk hadir di dunia juga semakin sedikit. Saya dituntut untuk lebih realistis lagi memandang kehidupan, dalam artian hal-hal yang diinginkan sedikit banyak harus selalu diseimbangkan dengan kemampuan, waktu, dan keadaan yang mendekati kenyataan. Mimpi tetap harus dimiliki. Usaha masih harus terus dilakukan dan diusahakan. Sebenarnya saya tidak ingin membuat sebuah resolusi. Lebih tepatnya tidak biasa. Saya lebih suka menjalani kehidupan bukan mengalir seperti air, tapi teratur terencana tanpa dibebani perasaan membuat resolusi. Untuk hal-hal lain saya bebaskan untuk berjalan sesuai dengan tuntutan keadaan. Namun saya memiliki satu keinginan kecil yang menuntut untuk diubah, dilakukan, dan dicobaterapkan. Keinginan tersebut saya ikuti dari konsep hidup ratu sejagat yaitu 3B. Brain, Beauty, dan Behaviour. Saya pikir ketiga kata itu cukup untuk mewakili beberapa target di tahun 2010 ini.Brain. Tahun ini menjadi semacam tantangan bagi saya untuk bekerja lebih semangat lagi, berkarya lebih serius lagi, dan berprestasi yang lebih tinggi lagi. Ada kehausan untuk membuktikan diri dan keinginan untuk selalu mengekspresikan hal-hal yang menjadi keresahan-keresahan yang mengganjal di hati. Sudah lama sebenarnya saya ingin belajar lagi. Sudah dua tahun saya bekerja dari waktu saya diwisuda. Saya kira, tahun ini sudah waktunya saya kembali ke bangku kuliah. Saya rindu untuk mendengarkan ceramah dosen, berdebat dan berdiskusi dengan para ahli ilmu, mengerjakan tugas-tugas dan makalah serta menemukan teman-teman baru. Tahun ini saya juga ingin memaksimalkan kemampuan bahasa asing saya yang baru setengah-setengah ini. Mempelajari ilmu perpajakan yang lama dilupakan akibat rutinitas. Membaca buku-buku dengan lebih variatif dalam hal tema, jenis, dan bidang ilmu. Tahun ini juga saya berencana untuk serius mengerjakan penulisan buku pertama saya. Semoga tidak berlebihan karena saya pikir semua hal yang saya pilih di atas mendukung dan saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Jadi, yang satu dapat mendukung kelancaran proses yang lainnya.Beauty. Saya adalah orang yang paling cuek dengan yang namanya penampilan. Saya tidak terlalu suka berdandan. Namun, saya pikir setelah saya memasuki dunia kerja, tampil di beberapa acara, bertemu dengan orang-orang yang memiliki kuasa, memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, ada baiknya untuk menampilkan pribadi yang agak sedikit enak dipandang mata. Saya rasa, orang akan senang dilayani dengan pegawai yang rapi, bersih, dan enak dipandang. Maka dari itu, tahun ini (mungkin) akan banyak belanja fashion. Tahun ini saya juga akan mulai memakai kacamata akibat terlalu intensifnya berteman dengan komputer dan mengakrabi buku-buku. Hal ini saya lakukan sebagai upaya preventif agar minus saya yang 0,75 ini tidak bertambah lagi. Saya sebenarnya tidak terlalu suka memakai kacamata. Saya ingin mata saya kembali normal.Behaviour. Ada satu buku yang belum sempat terbaca hingga kini. Buku karya Mien R. Uno ini berjudul Etiket. Saya ingin membacanya tahun ini. Beberapa buku juga sudah saya siapkan untuk dibaca di tahun ini. Beberapa merupakan buku pengembangan diri yang mengarah pada perbaikan perilaku dan pembawaan diri. Saya merasa perlu untuk mempelajari hal-hal tersebut karena sebagai pelayan masyarakat sedikit banyak perilaku saya akan dinilai. Saya juga merasa perlu untuk memperbaiki perilaku saya dalam hubungannya dengan orang tua, saudara, sahabat, rekan kerja, dan orang-orang yang saya temui di berbagai acara. Saya ingin membentuk perilaku kesopanan yang layak, kesantunan yang wajar, dan tingkah laku yang tidak dibuat-buat. Saya rasa kepalsuan yang kadang saya temui di forum pertemanan tidak selayaknya hadir dalam hidup saya di masa yang akan datang.Saya kira itu semua merupakan batasan yang wajar untuk memulai sebuah proses kehidupan menuju hidup di masa yang baru. Ada proses pembelajaran dan transfer ilmu adalah poin penting untuk membuat hidup ini layak untuk dijalani. Saya sadar tantangan saya ke depan tidak gampang lagi. Masih ada PR yang menunggu saya untuk segera diselesaikan. Hal-hal yang jika tidak segera ditangani akan menjadi bumerang bagi diri saya di kemudian hari. Kadang, saya merasa hidup ini terlalu tidak adil untuk sebagian orang. Saya merasa harus menanggung kesalahan dari suatu hal yang tidak saya lakukan. Maka, rencana-rencana tahun ini semoga mendapat ridho dari Allah SWT dan semoga tidak ada halangan yang tiba-tiba saja datang tak terduga.Ada banyak hal terlintas di kepala. Ada banyak hal yang ingin dilakukan. Ada serangkaian hambatan yang menghadang. Di atas semuanya, saya hanya ingin menyajikan suatu bentuk kehidupan di mana saya ditugaskan untuk turun ke dunia ini. Saya sudah mengetahuinya dan saya yakin saya bahagia dengan hidup yang saya pilih. Saya berusaha untuk menjalankan tugas yang saya ampu itu semampu saya. Saya yakin, akan ada hikmah dan kebahagiaan yang lebih besar lagi dari semua usaha yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab.Tahun ini mungkin juga akan menjadi tahun di mana keluhan akan semakin mendapatkan porsi kecilnya. Saya ingin berhenti untuk secara periodik mengeluh dan menyalahkan nasib. Saya rasa mengeluh hanya akan menghambat diri saya untuk bergerak maju, berpikir mandiri, dan bekerja lebih inovatif dan kreatif lagi. Orang yang kerjaannya rajin mengeluh akan menjadi orang yang selamanya kalah, dilupakan oleh zaman, dan dijajah oleh perasaan. Saya tak akan menyerahkan diri saya yang berharga ini menjadi tawanan dan bulan-bulanan dari kebiasaan mengeluh yang saya pikir hanya akan membuat jiwa kita mati.Di tahun baru 2010 ini banyak sekali harapan baru ditambatkan. Namun saya hanya ingin batasan di atas saja. Semoga batasan di atas dapat menjadi tongkat petunjuk yang mampu menuntun saya ke arah kearifan berpikir, kelayakan berperilaku, keberhasilan menapaki mimpi, dan kebahagiaan memaknai kehidupan. Sekali lagi, semoga tidak berlebihan. Itu saja. Gambar dipinjam dari sini.