Thursday, December 31, 2009

Catatan Akhir Tahun

Tak biasanya saya menulis sebuah catatan akhir tahun. Kali ini saya tergerak untuk menulisnya karena dorongan untuk membantu saya melakukan sebuah koreksi. Introspeksi kecil-kecilan sebagai pengingat tentang sejauh mana hidup 365 hari ke belakang yang baru saja saya sudahi. Waktu. Suatu misteri yang kadang membuat saya lari terbirit-birit karena merasa dikejar oleh sesuatu. Yang membuat saya berhenti demi membentuk jeda. Seringnya molor demi meninabobokan kemalasan.

Akhirnya hari ini datang juga. Ujung dari tahun 2009 yang menyisakan bermacam memori. Kalau diingat-ingat, banyak sekali kejadian berharga terjadi dalam hidup saya di tahun ini. Ada bermacam perasaan bercampur aduk mengisi relung hati. Capeknya hakikat sebuah kerja keras, terbayarnya sebuah keteguhan hati, tercapainya suatu keinginan yang menggebu, didapatnya sebuah kemenangan dalam beberapa kompetisi, pengalaman yang tak terlupakan, dan ingatan akan betapa berharganya sebuah kehidupan untuk secara sadar dijalani dengan sepenuh hati.

Tahun ini bisa jadi membawa saya kepada perasaan yang patut disyukuri. Beberapa pencapaian berhasil saya raih. Tahun ini saya diangkat sebagai pegawai negeri sipil di Departemen Keuangan. Status yang membuat saya mempunyai hak serupa dengan pagawai lainnya dan tanggung jawab penuh sebagai seorang abdi negara. Tahun ini saya diajarkan HIDUP tentang manisnya sebuah kemandirian berpikir. Mendorong saya untuk mengusahakan agar jangan sampai tergantung kepada orang lain, baik kepada orang tua, saudara, maupun sahabat. Karena hidup yang sangat tergantung kepada orang lain akan membawamu ke alam kemalasan. Mendorongmu untuk menempatkan pikiran bahwa kenyamananmu dalam berusaha akan selalu mendapat jaminan dan bantuan dari orang lain. Sungguh suatu pilihan hidup yang akan membawa siapa saja ke jurang kehancuran.

Tahun ini bisa jadi merupakan tahun prestasi buat saya. Banyak pekerjaan selesai saya kerjakan. Kampanye program Sunset Policy yang dicanangkan oleh Direktorat Jenderal Pajak, penerimaan SPT Tahunan tahun 2008, dan sederet pekerjaan rutin saya di kantor rapi saya selesaikan sesuai dengan tenggat waktu. Beberapa perlombaan penulisan berhasil saya menangkan, dari penulisan resensi buku, artikel, sampai dengan blog. Dan gongnya adalah disematkannya predikat inspiring blog pada blog ini oleh Tim Internet Sehat.

Tahun ini banyak sekali orang-orang yang ingin saya temui akhirnya terlaksana. Sebagian terjadi secara kebetulan, sebagian karena kesadaran. Saya bertemu dengan penulis Donny Dirgantoro (5 cm) dan sastrawan Seno Gumira Ajidarma. Keduanya tidak sengaja saya layani saat akan membuat NPWP. Sungguh suatu kesempatan langka. Tahun ini saya juga bertemu dengan Kurnia Effendi, penulis dari Bandung yang cerpen-cerpennya sering saya nikmati bersama cerianya hari minggu pagi di koran langganan saya. Tahun ini saya bertemu dengan salah satu penulis favorit saya, Dewi 'Dee' Lestari, mendapatkan tanda tangan untuk semua bukunya dan kesempatan untuk foto bersama. Tahun ini saya juga bertemu dengan orang-orang luar biasa yang sebelumnya tidak saya kenal. Orang-orang dengan passion sama yang mencintai buku, film, musik, dan fotografi. Hal-hal yang sangat saya sukai dalam mewarnai hidup ini.

Namun, bagi saya hal-hal itu masih jauh dari maksimal jika dibandingkan dengan potensi yang saya miliki. Saya merasa tahun ini juga banyak kemalasan mendapatkan kemewahan. Banyak waktu luang terbuang percuma tanpa meninggalkan sesuatu yang berarti. Tidur yang melebihi durasi daripada yang seharusnya layak saya dapatkan. Perasaan malas-malasan masih mendapat angin segar untuk tahun ini tanpa saya sadar telah mengalaminya.

Ingin rasanya memutar kembali waktu untuk menambal hal-hal yang kurang berarti, mengisi waktu luang dengan sesuatu yang lebih baik daripada tidur, fokus terhadap hal-hal yang menjadi prioritas, dan tentu saja menghindari untuk meninggalkan banyak dosa yang dilakukan. Ingin sekali menghapus kenangan yang tidak baik akan pahitnya sebuah pertengkaran dan perasaan bersalah akibat telah melakukan perbuatan dosa. Kenangan-kenangan tersebut sekalipun keadaan telah membaik dan berjalan seperti biasa namun masih menyisakan perasaan menyesal kenapa harus terjadi.

Tahun ini saya kembali diingatkan oleh waktu bahwa buku yang ingin saya tulis belum kunjung selesai. Walaupun sudah mendapat dorongan semangat dari sahabat-sahabat saya, orang-orang yang saya kagumi, penulis-penulis yang saya apresiasi karyanya, dan orang-orang lain yang baru saya kenal lewat facebook, ada rasa yang kurang terisi di benak saya bahwa pekerjaan menulis sebuah buku menuntut suatu energi kreatif yang besar, tenaga yang prima, dan waktu luang yang leluasa. Hal-hal yang menjadi kemewahan hidup bagi saya. Mungkin tahun 2010 saya harus fokus jika ingin benar-benar bisa mewujudkan mimpi saya tersebut.

Ada banyak kejadian lain yang mungkin sedikit membuat saya terhenyak. Berita sedih yang sempat mampir di email, sms, dan facebook saya akan kepergian teman dan orang-orang yang saya kenal. Mereka seakan mengingatkan bahwa memang begitulah kehidupan. Indah dan layak untuk diperjuangkan dan diisi, untuk kemudian harus rela kita tinggalkan. Tak ada yang benar-benar berarti dari sebuah kebinasaan. Dunia ini betapapun indahnya, betapapun menawarkan kenikmatan dan kemewahan, betapapun menyediakan kebahagiaan, tetap saja mengandung ilusi yang menyesatkan. Maka, yang harus diingat-ingat adalah bahwa segala rutinitas yang membunuh waktu bisa jadi akan menggiringmu ke alam kelalaian. Ada hal-hal yang lebih berarti selain kenikmatan sebuah pekerjaan. Kehangatan akan indahnya keluarga yang harmonis, hubungan timbal balik yang hangat antara orang tua dan anak, kesetiaan untuk saling memiliki di antara para saudara, dan perasaan untuk saling tolong-menolong, membina hubungan baik dengan teman dan relasi merupakan hal-hal yang lebih baik untuk diusahakan.

Tahun 2009 ini memberikan sedikit nafas lega akan beberapa pencapaian dan menyisakan PR yang menjadi tantangan di tahun 2010. Saya akhirnya sadar bahwa masih banyak yang harus dilakukan, diusahakan, dan diperjuangkan. Masih banyak yang harus dipelajari dan dibagi. Saya juga sadar bahwa betapa banyak keinginan, betapa sedikitnya pencapaian, dan betapa singkatnya durasi yang diberikan. Semoga sisa semangat tahun ini menjadi benih semangat baru yang lebih besar sebagai modal untuk meraih impian di masa mendatang. Amin.

Gambar dipinjam dari sini.

Wednesday, December 30, 2009

Inspiring Blog: Sebuah Kejutan Akhir Tahun

Buku agenda belum selesai ditutup. Kalender belum tuntas melewati hari terakhir. Terompet juga belum mulai ditiup. Namun, germerlap kembang api telah membuncah dalam diri saya saat pagi tadi mendapatkan ucapan selamat dari beberapa teman di blog, email, facebook, dan jejaring sosial lainnya. Hari ini saya mendapati blog ini terpilih sebagai penerima penghargaan Internet Sehat Blog Award 2009 periode minggu kelima Desember 2009 untuk kategori inspiring blog.

Sebenarnya saya agak kaget karena terus terang saya sedang fokus dengan pekerjaan kantor yang memang menumpuk di meja kerja akibat cuti minggu lalu. Saya iseng mengirimkan email ke panitia blog award saat istirahat siang karena hari Senin lalu diberitahu oleh rekan kerja saya bahwa blog temannya berhasil mendapat penghargaan dari Internet Sehat Blog Award 2009. Ternyata, keinginan untuk mencoba-coba itulah yang mengantarkan saya mendapatkan penghargaan ini.

Saya akrab dengan dunia blog sejak setahun yang lalu. Niat awalnya memang tidak untuk diikutkan kompetisi. Blog bagi saya lebih seperti teman berbagi. Sahabat yang asyik diajak ngobrol sambil minum kopi. Media yang nyaman untuk menuangkan gagasan dan tempat untuk berlama-lama menghadirkan diskusi. Sampai saat saya menulis catatan ini, pada dasarnya saya ingin menciptakan sebuah ruang dialog. Terutama dialog dengan diri pribadi. Sebuah komunikasi dua arah dalam satu tubuh melalui dunia maya. Sebuah perjalanan ke dalam diri untuk mendapatkan pengalaman berintrospeksi. Menemukan jati diri. Selain itu, saya tidak ingin segala sesuatu yang berkecamuk dalam pikiran saya hilang tanpa jejak, menguap tanpa bekas, dan terlupakan begitu saja. Di atas semuanya saya hanya ingin berbagi. Memberi sekelumit ide sederhana ini untuk meramaikan sesi diskusi.

Ada saat-saat dalam hidup di mana keinginan untuk membuktikan diri berlabuh dengan penghidupan potensi. Keinginan untuk menulis di blog muncul saat saya berencana belajar menulis sebuah buku. Blog hadir sebagai media untuk berlatih, di mana setiap orang bebas hadir dan pergi, meninggalkan komentar atau hanya mengintip sejenak. Saya tidak terlalu banyak berharap bahwa blog saya akan dibaca oleh banyak orang. Saya bukan artis atau seorang figur publik. Saya hanya ingin menulis dan menulis. Karena menulis membuat saya senang. Kepuasan batin ini terasa nyata saat sebuah tulisan selesai saya tulis dan saya puas dengan hasil akhirnya. Paling tidak menurut saya jika tulisan tersebut dimuat di media, tak banyak yang akan mengkritik dan tak banyak pula yang akan menganggapnya bagus. Sampai suatu ketika, salah satu penulis favorit saya, Dewi 'Dee' Lestari hadir di blog ini dan memberi sedikit komentar. Selain itu, beberapa teman dekat dan saudara saya juga turut andil dalam memberikan semangat dan apresiasi terhadap tulisan-tulisan saya. Dari situ saya yakin bahwa semangat ngeblog dalam diri saya tumbuh seiring dengan semakin banyaknya buku-buku yang saya lahap dan semakin seringnya saya nimbrung dalam beberapa acara diskusi buku.

Blog bagi saya akhirnya berkontemplasi sebagai media yang secara sadar dihadirkan untuk bahan diskusi, arena pembagian ide dan pemikiran, lahan pengungkapan pendapat, dan tentu saja, ajang untuk mengekspresikan diri. Beberapa penyesuaian akhirnya sedikit diterapkan. Bebarapa tulisan yang memang ditulis asal-asalan diseleksi untuk masuk blog jurnal. Tulisan-tulisan yang memang ada tujuannya dan berpotensi untuk diapresiasi hadir di blog ini. Saya sengaja untuk mempertahankan desain blog yang sederhana ini. Saya yakin bahwa blog yang bagus hadir bukan karena 'baju'nya yang semarak tapi karena isinya yang berpotensi menimbulkan impresi bagi siapa saja yang membacanya. Blog yang bagus berisi karya orisinal yang dapat dipertanggungjawabkan dari penulis blog atau pemuatan karya orang lain sesuai dengan kaidah dan etika tentang hak cipta. Blog yang bagus juga menyediakan tautan di mana seseorang yang tidak sengaja kesasar ke blog kita akhirnya bertemu dengan tongkat penunjuknya melalui link yang kita sajikan.

Soal isi bisa variatif. Blog ini sebenarnya tidak melulu membahas tentang isu-isu pemanasan global. Ada banyak hal lain yang menarik minat saya untuk menulis di blog. Pada dasarnya saya menyukai buku, film, musik, dan fotografi. Kisah-kisah dan mozaik kehidupan, nyanyian kemanusiaan, dan apresiasi terhadap kebermaknaan hidup hadir di blog ini baik berupa artikel, puisi, resensi buku, prosa, atau tulisan-tulisan lain yang tak ada pakemnya sehingga sulit sekali diberi nama. Saya memilih hal-hal tersebut karena memang hal tersebut saya rasa dekat dengan setiap orang, penting untuk ditulis, dan saya senang menuliskannya. Ada sedikit alasan yang terbersit untuk membagi segala sesuatu yang luput teramati oleh orang kebanyakan akibat terlalu sederhananya suatu persoalan sehingga mudah untuk dilupakan. Bukankah setiap kita mudah sekali untuk melupakan hal remeh-temeh? Mungkin, tulisan-tulisan di blog ini semacam remeh-temeh sederhana yang mengajak kembali ke ingatan semula.

Penghargaan sebagai inspiring blog dari Internet Sehat Blog Award 2009 merupakan semacam katalis bagi saya untuk lebih semangat lagi dalam menulis dan senantiasa memperbaiki kualitas dan keanekaragaman topik tulisan. Jujur, saya terkejut karena yang biasa berkunjung ke blog ini adalah teman-teman dekat saya, orang yang saya minta datang berkunjung, atau mereka-mereka yang secara tidak sengaja tersesat ke sini akibat arahan tuan Google. Hari ini saya perhatikan dari penanda mata-mata, blog saya diintip lebih dari 200 pengunjung dalam sehari, dikunjungi baik dari dalam negeri hingga luar negeri, dari Eropa hingga Australia, dari Afrika Selatan hingga Amerika, dari Nganjuk hingga London. Sungguh suatu kehormatan mendapatkan kesempatan bagi blog ini untuk sejenak melintas di hadapan pembaca sekalian.

Terima kasih kepada Tim Internet Sehat yang telah memilih blog ini sebagai pemenang Internet Sehat Blog Award 2009 periode minggu kelima Desember 2009. Sungguh sebuah kejutan akhir tahun yang tak diduga-duga sebelumnya. Terima kasih juga kepada teman-teman atas semua kunjungan, komentar, kritikan, saran, dan segala bentuk apresiasi atas tulisan-tulisan di blog ini baik melalui sms, email, facebook, twitter, dan lainnya. Suatu kehormatan dan penghargaan bagi diri saya untuk bisa berbagi dengan kalian semua. Mari kita hiasi dunia maya ini dengan coretan-coretan. Kita ramaikan semaraknya perayaan beride dan berpendapat. Kedepankan etika dan penuhi tanggung jawab moral atas setiap karya yang kita postingkan di blog. Karena ketika suara tak lagi didengar, usul tak lagi mendapatkan tempat, dan pendapat tak lagi diapresiasi di dunia nyata, blog hadir sebagai sebuah oase yang menggiringmu ke alam diam, sambil menyalak nyaring dalam dunia kata. Seperti hal yang selalu saya yakini bahwa kata-kata yang diramu dan disusun menjadi suatu padanan yang apik dapat menimbulkan sensasi permenungan dan meninggalkan impresi yang membekas di hati. Kata-kata berpotensi mengandung sihir yang lebih kuat untuk memprovokasi, mengandung energi untuk menggerakkan, dan membawamu bertamasya dalam diam. Menyelami setiap makna dan mengambil jejak yang tertinggal dalam sebuah keindahan bahasa. Keajaiban Kata.

Gambar dipinjam dari sini.

Tuesday, December 29, 2009

Curhat-Curhat Fahd Djibran dan Hal-Hal di Luar Dugaan

"Kita sering lupa bahwa cinta adalah kata lain dari saling mendengarkan. Sebab mendengarkan adalah saling membuka diri: saling memberi dan menerima dengan tulus".

Penggalan kata-kata di atas termaktub dalam tulisan berjudul Memoria (hal. 23) dari kumpulan tulisan Fahd Djibran yang berjudul Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya. Jadi, yang kita perlukan hanya duduk dan mendengarkan untuk menikmati narasi linguistik di dalamnya. Dalam buku yang merupakan kompilasi dari 30 tulisan ini, kita diajak berselancar dalam dunia perenungan. Semacam dialog pribadi dengan diri untuk mendapatkan impresi sebagai kesimpulan akhir yang membawa kita pada ingatan-ingatan kecil akan nilai-nilai kemanusiaan, cinta, kontemplasi akan hidup, Tuhan, dan beberapa renik pemikiran filosofis. Kita seolah digiring untuk mencari pegangan, merefleksikan diri di depan cermin, dan sejenak berintrospeksi. Menata ulang pemikiran-pemikiran yang telah terkonsep rapi dalam sebuah jubah kelaziman demi sebuah tujuan indah berupa pengenalan diri pribadi. Penemuan jati diri. "Mungkin kita tak mengenali diri kita sendiri. Mungkin kita 'kehilangan' diri kita sendiri" (hal. 49).

Membaca buku ini kita seperti dikembalikan ke dunia anak-anak di mana animo untuk bertanya dan mempertanyakan sesuatu yang 'tidak biasa' atau 'tidak lazim' sudah lama kita lupakan karena pengaruh adiktif kedewasaan. 'Orang-orang dewasa tak pernah memahami sesuatu seperti apa adanya dan sungguh melelahkan bagi anak-anak kalau selalu harus memberi penjelasan pada mereka' (hal. 110). Tulisan Antoine de Saint-Exupery dalam bukunya The Little Prince yang dikutip di buku ini mengingatkan betapa menariknya mengalami imajinasi seperti layaknya anak-anak yang begitu manisnya dan (tentu saja) tanpa pretensi apa-apa menanyakan dan mempertanyakan sesuatu, seolah-olah dengan tak puasnya menginginkan jawaban-jawaban atas keresahan-keresahan dalam pikiran yang menggelayutinya tanpa merasa perlu khawatir akan perasaan mengalami kekejaman sebuah 'tanda titik'. Sensasi seperti itulah yang dicobahadirkan oleh Fahd Djibran dalam curhat-curhat singkat sebanyak 172 halaman yang diterbitkan oleh Gagas Media ini.

Konsep bertanya dan mempertanyakan sesuatu dalam Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya (konon) merupakan sekuel dari pendahulunya yaitu A Cat in My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa. Sebagai sebuah lanjutan, buku ini menghadirkan sesuatu yang 'agak berat' dari pendahulunya. Tulisan-tulisannya lebih rumit, lebih berisi, dan (kadang-kadang) berpotensi membuat pembaca awam bingung dengan konsep pemikiran yang dicobatawarkan. Pemilihan istilah 'dunia antara' mengingatkan kita akan keresahan-keresahan pemikiran kaum urban di kota-kota besar yang mencari alternatif dari dikotomi-dikotomi yang sering melanda kehidupan mereka dan seringkali memberikan efek keterkungkungan sehingga menuntut sebuah kekuatan pembebasan pikiran. Kebebasan berekspresi seluas-luasnya. Buku ini berpotensi untuk membawa pembebasan tersebut sekaligus memberikan 'PR' baru untuk menilai ulang tentang konsep pemikiran yang sudah terstandardisasi di masyarakat.

Blog: Sebuah Proses Kreatif

Beberapa tulisan di buku ini sebelumnya telah hadir di blognya Fahd Djibran sebagai semacam diskusi terbuka di mana pembaca blog diberi kesempatan untuk berpartisipasi dengan mengirimkan curhatnya dalam sebuah surat elektronik. Sebuah cara unik yang kini juga diterapkan oleh koran Kompas dalam menghadirkan rubrik Kompas Kita di mana seorang narasumber memberikan penjelasan akan suatu permasalahan yang ditanyakan.

Menulis merupakan pengalaman personal bagi seseorang. Ia hadir sebagai sebuah panggilan jiwa yang menuntunnya ke dalam kesadaran bahwa tugas tersebut penting untuk dilaksanakan. Panggilan jiwa tersebut akan menemukan jalannya sendiri melalui sebuah proses kreatif yang menuntut untuk terus-menerus diasah. Menurut Pramoedya Ananta Toer, proses kreatif adalah semata-mata bersifat individual yang bisa terjadi hanya setelah terbentuk mistikum sebagai conditio sine qua non. Mistikum, kebebasan pribadi yang padat (condensed), yang melepaskan pribadi dan dunia di luarnya, yang membuat pribadi tidak terjamah oleh kekuasaan waktu, suatu kondisi di mana yang ada hanya sang pribadi dalam hubungan antara kawula dengan Gusti dengan bukti kegustiannya, tertampillah sang kreator dengan Kreator melalui pernyataan-pernyataannya.

Fahd Djibran tampil dalam khasanah penulisan melalui sebuah proses kreatif di blognya dengan membawa semacam bekal, alasan, dan dorongan yang membuatnya bersemangat untuk terus berproses kreatif. Hal ini juga dibagikan dengan sidang pembaca melalui tulisannya yang berjudul Alasan (hal. 13) dan Dendam Sejarah (hal. 31). Menulis bisa berangkat dari mana saja, bermisi apa saja, dan ingin atau bertujuan ke mana saja. Kevariatifan dari alasan seseorang untuk menulis itulah yang unik dan membuatnya menjadi semacam pengalaman personal yang layak untuk direnungkan.

Karena berangkat dari tulisan-tulisan di blog, kumpulan tulisan ini lebih siap dari segi kemasan. Dalam artian, kesalahan akan tanda baca, ejaan, salah ketik, dan salah cetak dapat diminimalisai karena telah mengalami banyak sekali proses editing dalam perjalanannya dicetak menjadi sebuah buku. Kelemahan tulisan yang dibukukan dari blog salah satunya adalah adanya kebosanan atau perasaan 'tidak seperti sensasi yang didapat saat membacanya pertama kali'. Untuk menghindari hal itu, Fahd sengaja membuat editan dan penambahan tulisan baru yang sebelumnya tidak tampil di blog sehingga secara keseluruhan setelah dicetak menjadi sebuah buku akan kelihatan seolah-olah baru.

Perlu dicatat bahwa buku ini juga mempunyai soundtrack. Sebuah lagu berjudul Curhat Setan yang dibawakan oleh BFDF hadir melengkapi narasi-narasi dalam buku ini. Dalam dunia penerbitan di Indonesia, konsep produk yang menggabungkan antara buku dan musik sudah bukan hal yang baru lagi. Hal serupa juga pernah dilakukan oleh penulis Andrei Aksana (Lelaki Terindah, Cinta Penuh Air Mata, dll) dan Dewi 'Dee' Lestari (Rectoverso). Gabungan dari keduanya merupakan sebuah paduan yang menyatu. Buku dan musik. Dualisme yang satu. Konsep yang juga mengarah kepada refleksi diri bahwa dalam tubuh manusia selalu ada dua jiwa yang tumbuh bersemayam yaitu jiwa malaikat dan jiwa setan. Saat jiwa setan berontak dan mempertanyakan kenyamanan jiwa malaikat, tak ada salahnya untuk menikmati narasi dalam Curhat Setan yang ini. Anda akan sejenak bertanya-tanya sekaligus tersentak untuk mengangguk-angguk atau menggeleng-geleng menikmati sensasi kalimat-kalimatnya.

Seperti penjelasan penyair dan penulis Agus Noor tentang fiksi mini, kumpulan tulisan ini hadir serupa narasi-narasi yang menjelma sebagai seseorang yang tiba-tiba datang dan mengucapkan beberapa patah kata atau beberapa kalimat yang membuat kita terperangah. Dan orang itu mendadak sudah menghilang begitu saja. Meninggalkan kita yang hanya terbelalak, digoda sejuta tanya, dan terus-menerus memikirkan apa yang tadi barusan dikatakan orang itu. Begitulah efek saat menikmati Curhat Setan. Ia seperti satu tamparan yang membuat kita kaget terbelalak.

Gambar dipinjam dari sini.

Monday, December 28, 2009

Idealisme Seorang Idealis

Pernahkah Anda berpikir mengapa ada orang yang memilih hidup menjadi pribadi idealis? Padahal tak ada kenyamanan yang ditawarkan kepada seorang idealis. Ia selalu sendiri. Mengakrabi keheningan dan ketenangan berpikir. Tak ada orang yang benar-benar peduli pada dirinya. Bahkan beberapa ada yang malah menganggapnya gila. Menjadi idealis merupakan suatu kemewahan bagi kebanyakan orang. Pilihan yang jarang sekali ditempuh oleh sebagian besar orang.

Konsekuensi yang harus diterima oleh seorang idealis mungkin tidak senyaman sebuah upacara duduk untuk minum teh, menikmati koran pagi, sambil mendengarkan gemercik air mengalir. Hal yang harus diterima oleh seorang idealis adalah kenyataan bahwa hati dan pikirannya senantiasa resah. Memikirkan segala bentuk ketidakharmonisan dalam tatanan kehidupan. Melewatkan kenyataan bahwa peradaban yang akan diwariskan kepada generasi mendatang hanyalah tradisi omong kosong dan ketidakberesan. Tak ada yang membuat seorang idealis tenang sampai semua bersinergi menjadi paduan yang seimbang.

Keidealisan seseorang diuji ketika dihadapkan pada dualisme kepentingan, kenyamanan yang ditawarkan, dan masa depan yang lebih 'enak' dan jelas daripada mengejar suatu ketidakpastian. Orang yang idealis selalu berjalan sendirian. Ia nyaman berada di luar medan, sambil sesekali tertawa menyaksikan teman-teman yang dulu mengaku-ngaku berpaham sama ternyata hanya kedok semata. Ia sadar bahwa pemikiran dan buah budinya hanya menjadi semacam hiasan, yang dipuji dan diapresiasi selama pertarungan untuk kemudian dibenci dan dilupakan setelah kemenangan.

Namun bukan itu yang diharapkan oleh seorang idealis sejati. Ia mengabdikan diri dan pikirannya untuk mengoreksi keadaan, membawakan konsep penyesuaian-penyesuaian yang mendorong timbulnya sinergitas kehidupan. Ia sadar bahwa dirinya selalu sendirian. Tak ada yang benar-benar karib dengan sang idealis selain keheningan. Tak ada kenyataan akan datangnya kemapanan hidup yang dialaminya. Seorang idealis adalah mereka-mereka yang selalu berjuang, bekerja keras, berlari untuk mengejar ketertinggalan seolah setelah itu bisa diam dan membagi secuil harapan.

Seorang idealis juga merupakan pengamat yang handal. Ia mampu melihat mutiara-mutiara ide dalam kehidupan yang bertaburan di setiap tempat yang luput dari perhatian masyarakat awam. Ia berusaha untuk menerjemahkan pengamatannya yang jeli itu ke dalam bahasa-bahasa sederhana yang mudah dimengerti oleh orang-orang kebanyakan. Konsep idealisme dari seorang idealis tersebut belum tentu diterima oleh masyarakat ketika sang idealis masih sanggup bernapas. Tak jarang tentangan dan cacian mampir sebagai hadiah dari sebuah usikan yang mengganggu ketenangan dalam sebuah tatanan yang seolah 'dari luar berbaju megah namun di dalamnya bertubuh lemah'. Karena biasanya, dalam konsep idealisme, sangat ramai memberi ide tentang ironi kehidupan. Ia menggambarkan keadaan timbal balik yang dialami oleh sebuah komunitas atau koloni kehidupan yang tidak seimbang dan menunjukkan ketimpangan. Ia juga memotret gambaran kehidupan yang ganjil dan penuh ketidakadilan.

Konsep idealisme dari seorang idealis hanya mampu menjadi bumbu dan hiasan kehidupan. Ia hadir untuk dipelajari, diagungkan isinya, dan dipuji keunggulan kualitasnya tanpa benar-benar nyata untuk dilaksanakan. Ide dari seorang idealis kadangkala membahayakan. Berbahaya bagi sebagian orang yang merasa terancam akan kebenaran ide tersebut. Oleh sebab itu, biasanya seorang idealis adalah orang-orang yang disingkirkan, berusaha dilenyapkan, atau diasingkan.

Kita tengok saja beberapa contoh idealis yang pernah ada seperti Che Guevara, Tan Malaka, Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, Chairil Anwar, dan lain-lain. Konsep kehidupan yang mereka tawarkan tak jarang mengarah kepada kestabilan kehidupan. Kritikan dilontarkan hanya menuntut sebuah keadaan yang lebih baik dari suatu praktek kesewenangan. Idenya baru diapresiasi dan dinilai bagus saat sang empunya ide sudah tenang ditanam. Tak ada yang benar-benar peduli pada mereka saat napas masih nyaman berhembus dalam raga.

Keadaan lain yang juga menjadi konsekuensi tak terhindarkan dari seorang idealis adalah sulit untuk mendapatkan tempat di hati banyak orang. Bukan dalam arti kebenaran karyanya, namun akseptansi dari masyarakat untuk kenyamanan menerima keadaan. Orang kebanyakan berusaha menghindar dan ingin jauh-jauh menjadi tautan atau berhubungan dengan pribadi idealis. Orang-orang idealis dianggap membahayakan jika berhubungan terlalu dekat dengan anggota keluarga atau dirinya pribadi. Orang lebih suka melihat keberanian seorang pribadi idealis dalam menentang keadaan, memperjuangkan sebuah perubahan, dan menanamkan konsep keidealisannya dalam kerangka berpikir masyarakat luas. Namun, orang tidak bersedia berhubungan terlalu dekat. Itu kenyataan yang diampu oleh seorang yang menjunjung tinggi idealisme dalam berpikir. Ia senantiasa sendiri dalam berjuang dan mempertahankan kesucian dari konsepsi idenya. Ia senang pada ketenangan hidup. Ia merayakan keheningan, mendengarkan jeritan penderitaan dan ketidakadilan sebagai musik kehidupan. Kadang kala, pengasingan adalah surga yang harus diterima oleh pribadi idealis. Menertawakan idenya dibenarkan dan dibahayakan tanpa merasa perlu mendapatkan pujian atau penghargaan.

Seorang idealis lebih memilih di luar sistem agar tidak larut pada kebobrokan sistem yang ada. Ia berjalan terus tanpa henti walau pengasingan telah membayang. Karena seperti kata Soe Hok Gie bahwa lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Pribadi idealis paham benar tentang keadaan tersebut. Kadang sejenak ia meminta jeda, berpikir sesaat, dan introspeksi diri bahwa untuk apa sebenarnya dirinya melakukan hal-hal tersebut. Orang-orang yang dibelanya juga tidak peduli akan perjuangannya. Orang yang ditentangnya mati-matian berusaha menyingkirkannya. Tak ada yang benar-benar berada di sampingnya untuk secara nyata berani berikrar berjuang bersama. Sekali lagi, seorang idealis paham akan kenyataan ini. Paham bahwa pada akhirnya seorang idealis hanyalah pecundang yang kalah perang. Pahlawan yang dilupakan keadilan. Pencetus ide yang diagungkan zaman. Manusia yang selalu dipeluk keheningan. Sebuah kemerdekaan yang nyata dalam ranah kehidupan. Karena pada dasarnya, seorang idealis hanya tumbuh sekali dalam kehidupan seseorang. Seperti kata Chairil Anwar bahwa sekali berarti, sesudah itu mati.

Gambar dipinjam dari sini.

Friday, December 25, 2009

Natal dan Jalan Panjang Menuju Damai

Hari ini umat Kristiani di seluruh dunia merayakan hari raya Natal. Saya seorang muslim. Entah dorongan apa yang membuat saya tergerak untuk menulis catatan ini. Saya menghormati dan menghargai kebebasan beragama. Saya perhatikan, setiap hari Natal tiba, seluruh gereja di Indonesia, baik yang besar maupun yang kecil, baik yang di kota maupun yang di desa, baik yang ramai jemaatnya maupun yang sedikit, dijaga ketat oleh aparat keamanan. Jalan-jalan yang melewati gereja juga dijaga, lengkap dengan beberapa pemeriksaan bagi yang melintas atau bahkan pengalihan jalur lalu lintas.

Memang niatnya baik yaitu untuk menjaga kekhusyukan dalam beribadah. Membuat suasana ibadah menjadi khidmad tanpa ada gangguan. Gangguan. Sepertinya kata ini akrab di telinga kita seiring dengan konflik antaragama yang terjadi di beberapa wilayah tanah air dan beberapa peristiwa teror bom yang sering mewarnai perayaan natal. Yang menjadi permasalahannya adalah mampukah negeri ini menghadirkan momen perayaan natal yang tenang dan penuh kedamaian tanpa ada barikade aparat keamanan? Mampukah negeri ini mengusung kedamaian untuk sejenak berkhidmad dan memberikan keleluasaan saudara kita untuk merayakan Natal? Bukankah esensi dari perayaan natal adalah momen untuk memburu kedamaian?

Damai. Natal dalam damai. Saya pikir semua orang di dunia, semua umat dari semua agama ( atau umat tidak beragama) merindukan dan memburu kedamaian dalam hidupnya. Momen-momen damai menggiring seseorang untuk berpikir lebih jernih, mencerna lebih dalam, dan memaknai sesuatu mendekati kebenaran hakiki. Orang yang tenang pikirannya akan lebih mudah berpikir dan mencari jalan keluar atas permasalahan-permasalahan yang menggelayuti hidup. Hanya orang-orang yang tidak damai hatinya yang tidak pernah benar-benar mampu untuk menikmati hidup yang dititipkan kepadanya.

Perang, konflik, dan segala bentuk perpecahan yang terjadi di belahan bumi merupakan bentuk dari ketidakdamaian sebagian umat dalam memaknai kehidupan. Segala bentuk perdamaian berbenih dari perasaan tenang, hati yang ikhlas, dan pikiran yang teratur. Semua manusia mempunyai potensi untuk berpikir kalut, berpendirian tenang, maupun bermalas logika. Ibaratnya sebuah garis bilangan yang terdiri atas bilangan negatif, nol, bilangan positif. Kemalasan logika terletak dalam sumbu negatif, kedamaian hati dan pikiran ada di titik nol, dan kekalutan pikiran adalah sumbu positif. Pikiran dan hati seseorang bergerak secara fluktuatif mengikuti suasana menyesuaikan diri mengikuti gerak sumbu tersebut. Ada kalanya berada di sumbu positif, tak jarang di sumbu negatif, dan bisa jadi di titik nol. Membuat suasana hati dan pikiran untuk sedikit lebih lama berada di titik nol merupakan tujuan yang wajib direfleksikan dalam kehidupan jika menginginkan momen damai dalam hidup. Hal ini mungkin terjadi jika konsepsi serupa diadopsi oleh banyak orang dalam aktivitas hidupnya.

Momen damai dalam kehidupan tidak hadir melalui sebuah perundingan atau penandatanganan kesepakatan. Damai dalam hidup tidak membutuhkan pahlawan yang menggondol prasasti nobel. Menghadirkan momen damai juga tidak membutuhkan sebuah pelucutan senjata. Momen damai hadir dalam diri setiap manusia yang mampu membawa hatinya bertamasya ke alam titik nol. Momen damai menggiring setiap pribadi untuk mengalami apa yang disebut sebagai kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan sejati. Hidup yang berjalan saat harmoni antara alam jiwa, alam pikiran, alam jasmani, dan alam semesta bersinergi tanpa suatu tendensi untuk saling menguasai, saling melebihi, berlaku superior dari yang lain, memaksakan kehendak mayoritas, berlaku adikuasa, dan menyulut peperangan. Momen damai hadir saat pribadi sembuh dari segala penyakit hati.

Segala bentuk konflik, perang, perpecahan, pertengkaran, dan perkelahian adalah wujud nyata betapa dunia ini diisi oleh orang-orang yang tidak damai. Jika hari ini gereja ramai dikunjungi, siangnya masjid sesak oleh orang ibadah sholat jumat, dan tempat ibadah lainnya seperti vihara, pura, dan klenteng laris dikunjungi jemaat, apakah mereka-mereka mencari di tempat yang salah jika sekembalinya dari rumah ibadah, pribadinya tidak menyisakan paradigma baru akan jiwa yang bersih, damai, dan merindukan keindahan bertoleransi? Saya kira bukan sesederhana itu disimpulkan demikian. Setiap orang yang berkunjung ke rumah ibadah membawa niat dan tujuan yang berbeda. Jadi yang perlu diselaraskan adalah ikhlas dalam niat. Persepsi akan niat yang baik untuk mendamaikan hati dan pikiran melalui tangan Tuhan ini perlu diterapkan pada semua batok pemikiran di kepala masing-masing umat. Perlu pula dibenamkan persepsi untuk qonaah, menerima sesuatu sesuai dengan prosedur dan proporsinya.

Berlaku ikhlas menerima segala saat berinteraksi terhadap sesama manusia seolah-olah sedang bercengkerama dengan Tuhan merupakan sumber potensi pembentuk perdamaian dan ketenangan hidup. Semua bermula dari pembangunan pondasi kualitas hati. Saya jadi ingat perkataan guru agama saya bahwa ada segumpal daging, di mana jika daging itu bagus maka bagus semua seluruhnya, jika daging itu jelek, maka rusaklah semuanya. Itulah hati. Hati menjadi penuntun utama akan kinerja akal pribadi manusia. Kekuasaan nafsu akan sirna jika hati hadir sebagai segumpal pendirian yang kokoh memelihara nilai-nilai nurani.

Tidakkah kita semua merindukan momen-momen damai ini. Di mana tak akan kita dengar jerit tangis kelaparan, tak kita dengar nyanyian peluru meriam, tak kita saksikan kerusakan gedung dan sekolahan. Tidakkah kita mengharapkan suasana suka cita dan gegap gempita sebuah kehidupan baru yang tenang dan bebas dari ancaman dan kemampuan untuk mengancam. Bukankah hakikat natal adalah merayakan kehidupan baru, menyemarakkan dunia damai, dan mengamini sebuah ketenangan hidup. Tidak ada salahnya prinsip 'kasih' diadopsi oleh umat agama lain. Selalu terdapat nilai-nilai universal dalam setiap not-not keindahan dan kedamaian hidup. Tinggal kita saja yang memilih nadanya dan menempatkannya di tempat yang tepat. Membawa diri menerapkan dan menjaga keseimbangan hati sedikit lebih lama di titik nol merupakan tugas berat bagi siapa saja yang merindukan dan ingin menciptakan perdamaian. Sudah saatnya negeri ini mampu untuk menghadirkan momen perayaan hari raya tanpa dihiasi suatu ornamen senapan.

Gambar dipinjam dari sini.

Wednesday, December 23, 2009

Skenario Go Green untuk Mereka yang Teen

Satu lagi buku menarik untuk remaja hadir dari buah kreativitas Sitta Karina. Buku berjudul Skenario Dunia Hijau dan cerita-cerita lain ini berisi kompilasi cerpen-cerpen Sitta Karina yang dimuat dalam majalah remaja CosmoGirl. Seperti cerita-cerita Sitta sebelumnya, buku yang terdiri atas 208 halaman yang di dalamnya terkumpul 20 cerita pendek ini masih menghadirkan nuansa remaja dengan gaya hidupnya yang serba teen.

Sitta Karina sebagai penulis buku-buku teenlit, masih konsisten dengan gaya penceritaannya yang renyah, bahasa ringan sehingga mudah dimengerti, dan pesan moral yang senantiasa diselipkan di antara kisah-kisahnya yang menarik. Sitta piawai dalam bertutur, mencampurkan antara bahasa Indonesia baku, bahasa Indonesia gaul, dan tentu saja bahasa Inggris tanpa ada kesan yang dipaksakan penempatan kata atau kalimatnya. Ia selalu membuat tokoh-tokoh dan ceritanya merupakan campuran antara modernitas dan lokalitas. Antara yang gaul namun masih mematuhi kaidah-kaidah atau norma dalam masyarakat. Antara gaya yang 'barat' dan keinginan untuk menjadi 'timur'. Intinya Sitta mengajak remaja-remaja Indonesia untuk think globaly and act localy.

Hal-hal tersebut, yang mungkin menjadi ciri khas Sitta dalam menulis cerita-ceritta teenlit, tampak dalam pembuatan nama tokoh seperti Ramakrisna Syadiran, Lira Adinegoro, Heidi Suranto, dan lain-lain. Nama-nama di atas merupakan gabungan antara nama-nama remaja-remaja modern masa kini yang dipadukan dengan nama-nama keluarga Jawa yang memberi kesan urban, timur, dan lokal. Melalui kisahnya, Sitta ingin menunjukkan bahwa menjadi pribadi modern tidak harus segalanya serba kota, berpandangan barat, atau malah mengadopsi nama dan nilai yang kebarat-baratan. Bahwa yang terpenting dari semuanya adalah membuat diri pribadi berkembang sesuai dengan perubahan zaman tanpa harus larut dalam arus globalisasi yang mendorong ke arah negatif dan bertentangan dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Satu hal yang menjadi catatan menarik untuk buku ini adalah adanya tiga cerita inspiratif yang ikut hadir melengkapi buku ini dan membahas isu yang sangat hangat dibicarakan di seluruh dunia. Isu utama tersebut adalah mengenai global warming. Seperti kita ketahui bahwa suhu bumi telah meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir akibat dampak emisi karbon. Maka dari itu, perlu ada usaha berkesinambungan untuk secara sadar membawa pola pikir masyarakat ke arah penanggulangan percepatan kenaikan suhu udara bumi tersebut. Perlu ada upaya nyata dan peran aktif dari masyarakat untuk berperilaku dan mempunyai gaya hidup yang green. Tak terkecuali para remaja.

Melalui cerita pendek yang berjudul Skenario Dunia Hijau, for-REAL, dan Hujan Terakhir, kita diajak untuk kembali merenungkan bahwa dibalik kehidupan remaja yang ceria dan penuh gejolak asmara, selalu saja ada celah yang dapat diambil untuk ikut serta membuat bumi semakin hijau dengan berperilaku dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari yang dijalaninya. Tips-tips seperti tidak merokok, membuang sampah pada tempatnya, menggunakan kertas daur ulang sebagai bungkus belanjaan dan mengurangi penggunaan tas plastik, jalan kaki, sampai dengan pemilihan baju untuk fashion show yang berbahan dasar organic cotton yang lebih ramah lingkungan, hadir sebagai sebuah kampanye hidup sehat dan dapat dijadikan semacam green guide bagi remaja. Efeknya, selain para remaja tahu akan pentingnya isu tersebut, juga membuat mereka sadar bahwa kepedulian mereka untuk alam lingkungan berdampak besar bagi kelangsungan hidup umat manusia. Diharapkan remaja juga mampu menjadi semacam pelopor yang dapat memberikan penerangan dan ujung tombak bagi kesadaran masyarakat akan pentingnya peduli pada lingkungan. Para remaja dapat menularkan kebiasaan baiknya untuk bergaya hidup yang lebih hijau kepada masyarakat melalui lingkup keluarga, obrolan dengan teman sebaya, maupun dalam komunitas diskusi lintas usia.

Dalam buku ini pun tidak melulu bercerita tentang tema lingkungan dan global warming. Tema cinta dan persahabatan tetap menjadi topik dominan dalam cerita-ceritanya. Kisah-kisah patah hati, sibuk dengan urusan sekolah, persaingan memperebutkan pacar, hubungan orang tua-anak, dan kisah-kisah lainnya seperti umumnya terjadi pada usia pubertas bertaburan dalam buku ini. Remaja yang memang menjadi pangsa pasar untuk buku-buku teenlit diajak untuk berpikir ulang, menata pola pikir dan pola sikap, serta mengadopsi nilai-nilai positif dari efek globalisasi tanpa harus kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang berkepribadian luhur. Mendorong untuk berpikiran modern tanpa menghilangkan nuansa lokal dalam setiap kehidupan yang dijalani. Intinya, buku ini bukan hanya untuk hiburan tapi juga dapat digunakan sebagai sarana kampanye perubahan pola pikir bagi remaja. Setidaknya dapat mendorong remaja untuk lebih peduli kepada lingkungan. Baik lingkungan kehidupannya sebagai pribadi makhluk sosial maupun lingkungan alam tempat dirinya berpijak.

Cover buku dipinjam dari sini.

Thursday, December 17, 2009

Membangun Mimpi Bersama Sang Simpai Keramat

"Tanpa mimpi dan semangat, orang seperti kita akan mati"

Penggalan dialog di atas dikutip dari film Sang Pemimpi, sekuel dari pendahulunya yaitu Laskar Pelangi. Seperti bukunya yang berseri, film ini memvisualisasikan buku kedua dengan judul yang sama dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Masih disutradarai oleh Riri Riza, film ini berkisah tentang keluarga marginal yang bermimpi untuk sekolah setinggi (dan sejauh) mungkin. Seperti digadang-gadang oleh produsernya sebagai film Indonesia yang paling ditunggu di tahun 2009, film ini mengandung petuah, nasihat tentang hidup, khususnya bagi remaja dalam meraih cita-cita.

Film berdurasi 128 menit ini mengambil lokasi syuting di beberapa tempat seperti di Manggar (Pulau Belitong, Provinsi Bangka Belitong), Jakarta, dan Bogor. Fokus cerita ada pada tokoh Ikal (Vikri Septiawan) yang menapaki kehidupan remajanya. Segala permasalahan hidup dunia remaja hadir dalam film ini yang meliputi serunya kenakalan masa sekolah, godaan akan indahnya masa pubertas, sampai dengan perenungan akan pencarian jati diri. Masa-masa SMU yang katanya merupakan masa yang menentukan arah kehidupan seseorang diceritakan dengan bumbu komedi dan sedikit animasi yang mendukung film tersebut.

Di dalam film ini, tak ada lagi cerita tentang anggota Laskar Pelangi. Ikal remaja kali ini didampingi oleh sepupu jauhnya yang hidup sebatang kara sehingga disebut sebagai simpai keramat bernama Arai (Rendy Ahmad). Arai digambarkan sebagai orang yang riang, kadang misterius namun berhati emas. Ia menjadi pendorong semangat bagi Ikal. Membawanya mengurai mimpi-mimpi dan menambatkan harapan. Arai mengajarkan kepada Ikal pentingnya mempunyai mimpi setinggi langit dan bekerja keras mewujudkan mimpi tersebut. Alasannya seperti yang termaktub dalam kutipan di awal tulisan ini. Begitu sederhana. Sangat urban. Dan tentu saja, sarat makna yang mendalam.

Selain kedua tokoh tersebut, ada tokoh ketiga yaitu Jimbron (Azwir Fitrianto), manusia unik yang sangat terobsesi dengan kuda. Kuda baginya merupakan hewan yang sangat luar biasa, sampai-sampai obsesi terbesarnya ketika masih kecil adalah menjadi kuda. Trio sang pemimpi di atas mengajak kita bertamasya dalam kehidupan miskin Belitong era tahun 80-an.

Ketiga tokoh inspiratif di atas berkumpul dalam suatu SMU Negeri yang akhirnya mempertemukannya dengan Pak Balia (Nugie Nugraha) yang melecut mimpi mereka untuk membangun harapan menjelajahi Eropa sampai Afrika, menuntut ilmu di Universitas Sorbonne Paris, Perancis, tempat belajarnya orang-orang hebat di muka bumi. Namun, kenyataan akan keadaan membuat mereka berpikir ulang akan mimpi tersebut. Ditambah lagi ayah Ikal yang merupakan tulang punggung bagi Ikal dan Arai mendadak dipensiunkan dari pekerjaannya sebagai kuli oleh PN Timah akibat harga timah yang turun di pasaran dunia.

Seperti bukunya, film ini dibangun dari mozaik-mozaik kehidupan Ikal remaja dalam bentuk sebuah memoar. Penonton disuguhi oleh kepingan-kepingan peristiwa yang akhirnya membawa ke pokok persoalan cerita. Sebagai sebuah bangunan sinema, Sang Pemimpi hadir mengobati kerinduan akan tema-tema pendidikan, kemiskinan, dan filsafat kehidupan dalam khasanah film Indonesia setelah lebih dari setahun yang lalu menikmati Laskar Pelangi.

Riri Riza sebagai seorang sutradara berhasil memvisualisasikan cerita di buku untuk menghadirkan keadaan Belitong awal tahun 80-an lengkap dengan kondisi sosiologis kultural penduduknya. Film ini sarat akan pesan moral tidak hanya bagi kaum muda tetapi juga bagi siapa saja untuk berani bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpinya menjadi kenyataan. Film ini juga memberikan masukan bagi para guru untuk selalu setia sepenuh hati memberikan pengajaran terbaik bagi murid-muridnya dengan pelajaran budi pekerti dan pembangunan mimpi. Metode pengajaran yang bersahabat seperti dilakukan Pak Balia layak dijadikan teladan dalam merevolusi sistem pengajaran ortodok dan penuh kekerasan seperti dilakukan oleh Pak Mustar (Landung Simatupang) yang berpendapat bahwa hukuman adalah langkah yang harus diambil untuk menangani anak-anak bandel seperti trio sang pemimpi ini. Pendidikan yang baik bagi murid dan pembentukan karakter bangsa juga bisa berawal dari bangku sekolah. Oleh karena itu, guru juga merupakan faktor yang tak kalah menentukannya bagi kelangsungan perkembangan peradaban suatu bangsa.

Jika ada yang kurang dari film ini adalah beberapa scene yang agak membosankan dan terkesan berlama-lama. Adegan hening antara Pak Balia dan Pak Mustar saat berpapasan akan pulang sekolah merupakan adegan yang tidak perlu atau paling tidak terlalu lama penampilannya. Ada juga kecerobohan kecil tentang pemilihan peran. Ada pemain ibu-ibu yang yang dulu berperan sebagai juri cerdas cermat di film Laskar Pelangi, tiba-tiba di film ini menjadi petugas administrasi kenaikan pangkat bagi para kuli PN Timah. Kesalahan-kesalahan kecil tersebut mungkin saja luput dari kinerja sutradara dan segenap krunya. Ada juga kesalahan yang agak fatal mengenai fakta bahwa Arai merupakan lulusan Universitas Indonesia. Di buku diceritakan bahwa Arai adalah lulusan dari Jurusan Biologi Universitas Mulawarman. Sebagai sebuah cerita memoar harusnya fakta-fakta kecil seperti ini tidak boleh diubah. Namun, sebagai jalinan dari keseluruhan hasil karya kreatif, rasanya tidak berlebihan jika Sang Pemimpi dinobatkan sebagai film Indonesia terbaik tahun ini. Film yang mengajak penontonnya untuk berani bermimpi.

Paperless

Teman kantor saya selalu bilang, "Berapa banyak pohon ditebang percuma gara-gara kamu salah nge-print laporan?" Kalimat tersebut memang sedikit berlebihan, namun kalau dipikir lagi, ada benarnya juga kalau kita memikirkan ulang dan menilai diri kita pribadi, berapa banyak sebenarnya kertas yang kita pakai setiap hari? Di antara kertas yang kita pakai itu, berapa banyak yang benar-benar berguna?

Suatu kesempatan lain, saya menyaksikan bahwa setiap hari Jumat, masjid kantor saya selalu mengadakan acara sholat Jumat yang dihadiri selain oleh pegawai kantor juga pegawai atau karyawan yang bekerja di sekitar kantor. Karena daya tampung masjid dengan jumlah jemaah yang hadir tidak seimbang, alhasil banyak sekali jamaah yang terpaksa harus rela sholat di halaman masjid. Pihak kantor memang memfasilitasi dengan terpal dan tikar. Namun demikian, setelah sholat Jumat
selesai, kertas-kertas koran alas sholat itu dibiarkan begitu saja tanpa dibersihkan atau dilipat kembali. Saya jadi berkesimpulan bahwa nilai kehidupan kegunaan dari kertas koran tersebut ternyata singkat sekali. Dari pohon dibuat kertas, lalu diproduksi jadi koran, dibaca, setelah itu dipakai buat alas sholat untuk kemudian dibuang. Saya tidak tahu apakah setelah itu oleh petugas kebersihan dikumpulkan untuk direduksi atau dibakar dengan percuma. Namun hati kecil saya mengatakan bahwa telah terjadi kemubaziran atas deforestasi di masjid kantor saya. Itu saja.

Memang penggunaan kertas ini tidak terasa efeknya jika serampangan peruntukannya. Orang kebanyakan lupa tentang siklus darimana kertas berawal. Orang lebih suka permasalahannya teratasi daripada capek meribetkan bahwa penggunaan kertas tidak dihemat. Hal itu terjadi karena kertas murah harganya dan mudah didapat. Artinya, ada anggaran yang menanggung pembelian atau pengadaan kertas tersebut untuk keperluan kantor. Itu baru yang di kantor. Belum yang di rumah atau dalam kehidupan yang kita jalani selain di kantor dan di rumah.

Coba kita pikir lagi. Berapa banyak orang kos di Indonesia. Kalau tiap makan di luar mereka bungkus, dan tiap hari makannya tiga kali sehari, berapa banyak kertas dengan siklus pemakaian pendek sekali. Memang secara kimia, kertas bisa didaur ulang. Tapi, kalau jumlah kertas yang tidak berguna jumlahnya juga banyak, akan terjadi inefisiensi juga pada akhirnya. Maka dari itu, alangkah baiknya kalau kita mulai merevisi ulang segala sesuatu akan hidup kita yang berhubungan dengan kertas. Perlu ada langkah-langkah serius dalam produksi dan pemakaiannya.

Mulai dari yang kecil saja, kalau memang tidak sedang terburu-buru, lebih baik makan di tempat saja, tidak perlu dibungkus. Berkaitan dengan catat-mencatat, kalau memang bisa dicatat dalam bentuk digital (misalnya dalam komputer) tidak perlulah dicetak dalam lembaran kertas kecuali memang hasil cetakannya benar-benar diperlukan. Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah berkaitan dengan produksi dan konsumsi buku. Untuk produksi buku akan saya uraikan di akhir. Perihal konsumsi buku (kegiatan kreatif membaca) hendaknya perlu diterapkan langkah-langkah yang dapat mengondisikan buku tersebut mempunyai masa pakai yang relatif panjang. Dapat dibaca dan dinikmati selama bergenerasi-generasi yaitu dengan membaca tanpa merusaknya. Caranya dapat dilakukan sebagai berikut:
  1. Memberikan sampul pada setiap buku-buku bacaan atau majalah-majalah.
  2. Membaca dengan tanpa membuat buku tersebut menjadi kusut.
  3. Tidak melipat halaman buku untuk membatasi sampai mana buku yang bersangkutan dibaca. Lebih baik selipkan pembatas buku sebagai penanda.
  4. Simpan buku di tempat yang tidak lembab dengan penerangan yang cukup.
  5. Jauhkan buku dari jangkauan hewan-hewan pengerat dengan menempatkannya di tempat yang bersih dan kalau bisa diberi kapur barus.
Yang terakhir sebenarnya ada, tapi mungkin ini hanya berlaku bagi saya, tapi tidak ada salahnya untuk dibagi yaitu tidak meminjamkan buku kepada orang yang kelihatannya tidak suka membaca. Yakinlah, orang-orang seperti ini dari cara memegang buku pun mereka kelihatan kalau tidak bersahabat dengan buku. Alhasil, buku yang bersangkutan rusak, terlipat, atau menjadi kusut. Bukannya saya parno, tapi mungkin agak sedikit mempunyai banyak pengalaman dengan orang-orang jenis demikian.

Berkaitan dengan produksi buku, saya agak gembira melihat produksi buku di Indonesia sudah semakin semarak dengan timbulnya komunitas-komunitas menulis dan membaca. Tiap tahun, ratusan bahkan ribuan judul buku diproduksi di Indonesia, baik itu karya dari penulis-penulis Indonesia maupun terjemahan dari buku-buku berbahasa asing. Memang menyenangkan rasanya dapat berada di antara tumpukan buku. Perpustakaan dan toko buku merupakan surga dan sarangnya ilmu pengetahuan. Di balik itu semua, tingginya produksi buku akan berbanding lurus dengan permintaan kertas. Dan kebutuhan akan kertas yang semakin tinggi berakibat pada semakin banyaknya terjadi deforestasi pada hutan-hutan kita. Menurut Menteri Kehutanan Republik Indonesia Zulkifli Hasan, luas hutan Indonesia mencapai 120 juta hektar. Faktanya, kondisi hutan yang bertahan diperkirakan tinggal 60 juta hektar, bahkan kurang. (Kompas, Sabtu, 26 November 2009). Kalau hal ini tidak menjadi perhatian kita secara serius, bukan hal yang mustahil dalam beberapa tahun lagi, Indonesia akan kehilangan sumber daya hutannya. Hal itu juga berakibat pada jumlah produksi buku.

Sebenarnya, di era yang serba digital ini, banyak sekali tersedia buku-buku dalam bentuk elektronik. Buku-buku tersebut dikenal dengan nama e-book. Banyak sekali judul-judul buku yang sudah dibuat format e-book-nya. Namun demikian, produksi e-book juga menyisakan PR yang juga menjadi masalah serius terutama terhadap masalah hak cipta dan honorarium. Selain itu orang lebih familier dengan buku-buku yang tercetak daripada buku digital. Hal itu terjadi karena buku cetak lebih mudah dan praktis dibaca dan dibawa, sedangkan untuk buku digital masih harus diperlukan perangkat pembantu baca format digital tersebut. Sebenarnya langkah ini bisa dijadikan salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan kertas. Namun demikian, bagi yang belum atau tidak terbiasa, alternatif cara memanfaatkan buku seperti yang saya jelaskan di atas bisa dijadikan rujukan.

Kertas, memang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Kita tidak ingin segala faktor pendukung bagi kelancaran hidup kita terganggu sirkulasi dan ketersediaannya. Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita untuk senantiasa menjadi pribadi yang sadar diri akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan demi terciptanya keselarasan dan keberlangsungan kehidupan kita. Menjadi bijaksana dalam menggunakan kertas menjadi satu dari sekian hal mendasar demi lestarinya alam kita, menjadi satu dari sekian kebajikan hidup yang harus kita jalani demi tercukupinya kebutuhan kita akan kertas tanpa mengganggu kelestarian hutan. Dengan hanya melaksanakan langkah kecil yaitu membuat siklus penggunaan kertas menjadi lebih panjang, Anda telah berkontribusi untuk membuat bumi kita menjadi lebih sehat dan lebih nyaman untuk ditinggali. Mau kan Anda sejenak memikirkannya? Lalu apalagi yang Anda tunggu, sekaranglah waktunya bagi Anda untuk melakukan tindakan nyata demi hijaunya bumi kita tercinta. Salam lestari.

Gambar dipinjam dari sini.

Wednesday, December 09, 2009

Korupsi, Sebuah PR yang Belum Selesai

Membicarakan korupsi di Indonesia sama seperti menegakkan benang kusut. Membahasnya secara tuntas hanya akan berhenti sampai sebatas wacana. Memperdebatkannya dalam sebuah diskusi hanya akan mandek sebagai sebuah obrolan omong kosong yang jauh dari makna. Memperingatinya sebagai hari Anti Korupsi seperti hari ini pun hanya menambah daftar momentum yang sepertinya hanya repetisi atas kebiasaan lama yang hanya sebatas tradisi.

Berbagai formula sudah dan akan diterapkan untuk mengurangi atau (bahkan) menghilangkan praktek korupsi yang berlangsung di Indonesia. Berbagai jurus baru pun juga mulai dibuat dan dipraktekkan untuk membuat celah-celah baru dalam mengembangkan praktek korupsi. Bukannya bersikap pesimis akan proses pemberantasan korupsi, namun untuk saat ini, iklim di Indonesia memang belum sampai pada tahap di mana korupsi akan mendapat perlakuan sebagai mana mestinya.

Penegakan hukum yang seolah setengah hati pun menunjukkan kalau dunia hukum di Indonesia masih tampak seperti banci. Hal ini masih ditambah lagi dengan para birokratnya yang direkrut dengan sistem yang juga korup. Jadi, tak ada pangkal dan ujung kalau membicarakan korupsi. Prestasi-prestasi para penegak hukum seperti dilansir oleh media belum signifikan dengan jumlah kasus yang berlangsung di masyarakat. Dan, kalaupun hal-hal tersebut diusut, penyelesaiannya pun akan berakhir pada kompromi-kompromi yang menghasilkan proses akhir kurang memuaskan bagi masyarakat sebagai pihak yang selalu dikorbankan.

Seperti kita saksikan realitas di sekitar kita, hampir tidak ada rekruitmen pegawai atau pejabat di Indonesia yang bebas dari praktek KKN. Mulai dari pilihan anggota legislatif, eksekutif, sampai dengan rekruitmen pegawai pejabat publik tak jarang yang berujung dengan praktek 'uang bicara' dalam prosesnya. Istilah-istilahnya pun semakin beraneka ragam dan bernama unik. Mulai dari uang pelicin, ucapan terima kasih, sampai dengan yang bersembunyi malu-malu dengan menyebutnya sebagai biaya administrasi. Yang rekruitmennya masih bersih pun, masih tetap ada saja dalam praktek kerjanya yang masih 'nakal' dan main-main dengan sistem.

Kita tak pernah tahu apa sebenarnya yang menjadi kunci dari penyebab tumbuhnya korupsi di Indonesia. Seperti dijelaskan di atas, bahwa kalaupun tahu, tak banyak yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Kita sudah terkubur terlalu dalam di tempat yang memang lahan subur bagi dilakukannya praktek korupsi. Menjadi minoritas sebagai kelompok yang antikorupsi pun hanya sebatas teriakan-teriakan dan jeritan-jeritan yang sudah mulai membosankan untuk didengarkan. Protes-protes dan aksi demonstrasi hanya menjadi simbol penentangan saja. Tak sampai menjadi tonggak awal yang baru akan terciptanya sebuah permulaan yang bersih. Sejarah sudah membuktikan secara berulang-ulang bahwa demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dan masyarakat Indonesia hanya bertujuan untuk melengserkan pemerintahan yang sedang berkuasa, untuk akhirnya digantikan oleh mereka-mereka yang menjadi ujung tombak demonstrasi tersebut. Pada akhirnya pun, praktek korupsi yang dilakukan oleh pejabat sebelumnya akan dilanjutkan oleh pejabat yang baru menggantikannya.

Begitu seterusnya jika membicarakan tentang korupsi. Tak ada hasil yang benar-benar memuaskan terhadap praktek pemberantasan korupsi. Jadi, memperingati hari Anti Korupsi seperti hari ini, mari kita isi dengan sebuah perayaan-perayaan seperti layaknya sebuah tradisi. Mari kita putar kembali kenangan-kenangan lama akan betapa indahnya kompromi-kompromi politik yang meligitimasi praktek korupsi, kenangan akan betapa rapinya praktek korupsi berlangsung, dan tentu saja gambaran yang mencengangkan akan betapa cepat menjamurnya praktek korupsi merambat ke berbagai lini dalam lapisan kehidupan masyarakat di Indonesia. Maka dari itu, hari Anti Korupsi ini mari kita jadikan sebagai momentum untuk berandai-andai saja dan bermimpi bahwa praktek korupsi di Indonesia akan segera hilang diberantas karena dalam keadaan terjaga pun kita selalu berandai-andai dan digiring untuk bermimpi menjadi pribadi yang bersih tanpa pernah diajari cara kerjanya. Karena kita terlalu larut untuk berandai-andai dan bermimpi, maka banyak sekali PR yang belum selesai untuk dikerjakan.

Gambar dipinjam dari sini.

Tuesday, December 08, 2009

Bahasa Sholat, Bahasa Meditasi

Suatu ketika saya mendapatkan pesan pendek yang isinya kurang lebih begini:

Perkataan indah adalah Allah
Lagu merdu adalah adzan
Media terbaik adalah Al-Qur'an
Senam sehat adalah sholat
Diet sempurna adalah puasa
Kebersihan menyegarkan adalah wudhu
Perjalanan indah adalah haji
Khayalan terbaik adalah ingat akan dosa dan taubat

Saya senang membaca isi pesan pendek tersebut. Isinya mencerahkan dan mengingatkan kita untuk selalu istiqomah di jalan Allah. Pesan singkat itu masih tersimpan aman di dalam telepon genggam saya. Rasanya sayang sekali untuk menghapusnya.

Sholat merupakan ritual penghambaan umat muslim kepada Rabb-nya yaitu Allah SWT, Tuhan semesta alam. Kakak saya pernah memberi definisi bahwa sholat itu hiburan. Awalnya saya agak bingung mendengarnya. Jawaban atas kebingungan itu akhirnya saya dapatkan. Bukan dari keikutsertaan pengajian atau membaca suatu buletin. Bukan dari obrolan dengan ulama, apalagi hasil gosipan dengan teman-teman. Jawaban akan kebingungan saya tersebut saya dapatkan dengan 'mengalami' sholat. Suatu pengalaman yang menakjubkan adalah kesan yang kita dapat dari suatu perbuatan yang menimbulkan impresi dalam suatu ingatan. Saya tidak mengatakan bahwa sholat yang saya lakukan sudah sempurna dan khusyuk. Namun, saya merasakan semacam sensasi yang menenangkan ketika menghikmati melakukan wudhu secara perlahan-lahan, menikmati sejuknya air yang menghapus kepenatan. Merasakan tenteramnya jiwa saat merasakan betapa segarnya berwudhu.

Di kesempatan lain, saat melakukan sholat, saya merasakan anggota tubuh saya bergerak dengan lentur, mengikuti semacam irama tarian. Gerakan-gerakan sederhana yang biasanya ketika melakukannya dengan terburu-buru, saya merasa agak pegal setelah selesai sembahyang. Saya tidak tahu penjelasan medis dan ilmiahnya seperti apa, tapi saya sudah pernah merasakannya. Sensasi serupa saya rasakan saat yoga selama setengah jam. Bukankah lama sholat kira-kira paling lama sepuluh menit. Dan hasil instannya adalah ketenangan batin. Sungguh mencengangkan. Mungkin itu juga penjelasan menurut kakak saya, bahwa sholat itu merupakan hiburan. Saya belum pernah menanyakan kembali penjelasannya. Lalu, mengapa ada orang yang tidak damai setelah selesai sholat?

Saya kira penjelasannya akan lebih kompleks lagi. Mungkin lagi banyak masalah. Atau bisa jadi sholatnya tidak sempurna. Atau malah setengah hati saat melakukannya. Saya tidak menganggap sholat saya sudah sempurna. Namun, saya merasakan saat gerakan-gerakan sholat itu saya nikmati, bukan hanya saya ikuti, ada rasa yang hadir dalam pikiran ini untuk lagi dan lagi ingin memperoleh sensasi serupa demi mencapai kekhusyukan beribadah. Saya kira hakikat penghambaan kita kepada Allah bukan hanya merapalkan doa puja puji semata. Saya yakin Allah menghendaki kita menikmati proses penghambaan itu, bukan menganggapnya sebagai beban. Saya tidak tahu apakah sensasi yang saya rasakan juga dialami oleh penganut agama lain saat sedang beribadah. Jika Anda kebetulan nyasar ke blog ini dan membaca tulisan ini, jangan beranggapan bahwa tulisan ini berisi dakwah atau propaganda agama. Saya hanya ingin bertukar pendapat mengenai rasa yang ditimbulkan saat Anda menghadap Tuhan saat sembahyang. Jika berkenan, silakan tinggalkan pesan tentang sensasi yang Anda rasakan saat melakukan ritual ibadah yang Anda jalani di kolom komentar. Mari bertukar pengalaman dan kesan.

Gerakan sholat sebenarnya adalah suatu bentuk meditasi. Gerakan tersebut sebenarnya satu rangkaian dengan berwudhu. Wudhu pada dasarnya adalah sarana untuk melemaskan titik-titik ketegangan dalam tubuh. Itulah mengapa, sebelum tidur disunnahkan berwudhu. Silakan Anda coba, bahwa ketika sebelum tidur Anda mengawalinya dengan berwudhu, kualitas tidur yang Anda dapatkan akan semakin terasa menenangkan.

Tidur yang cukup, makan makanan yang bergizi seimbang, dan diet sehat adalah kombinasi pembentukan pribadi yang sehat. Dalam ilmu agama Islam sebenarnya ketiga hal tersebut juga telah diatur dalam ajarannya. Seperti penggalan isi pesan singkat yang saya terima di atas bahwa senam sehat adalah sholat, diet sempurna adalah puasa, dan kebersihan menyegarkan adalah wudhu, maka perpaduan ketiganya merupakan salah satu alternatif pencegahan terhadap penyakit. Saya pernah belajar mengenai kehidupan seorang bhiksu. Seorang bhiksu berusaha untuk menjaga makanannya. Ia tidak makan daging. Hanya makan roti dan sayuran. Hidupnya pun juga terbilang biasa-biasa saja. Tidak ada pesta pora atau hura-hura. Setiap jengkal kehidupan dihikmati sebagai sebuah perayaan keheningan menuju penyatuan diri dengan alam lingkungan.

Saya juga pernah belajar tentang kehidupan di pondok pesantren. Dalam pondok pesantren yang masih tradisional kadang kala ada yang masih sangat ekstrim dalam hal makanan yang dikonsumsi. Ada yang cuma makan nasi ditambah daun singkong rebus ditambah garam sedikit. Walaupun saya tidak sampai seperti itu, namun saya juga tidak terlalu banyak mengonsumsi daging. Terutama daging kambing dan sapi. Saya rasa asupan yang kita masukkan ke dalam tubuh juga berpengaruh terhadap tingkat kekhusyukan dalam beribadah. Yang saya tahu dari teman-teman saya yang sudah sering dan rutin melakukan meditasi, mereka yang berpola hidup vegetarian akan lebih mudah untuk merasakan sensasi ketenangan dalam meditasi.

Dalam hal ini saya tidak menganjurkan Anda untuk mengikuti apa yang saya lakukan. Saya hanya berusaha membeberkan sedikit alternatif yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan potensi pengistirahatan Anda secara total walaupun dalam keadaan beraktivitas. Wudhu dan sholat sebagai padu padan paket relaksasi. Jika Anda umat muslim dan sudah capek-capek mengeluarkan uang banyak hanya untuk mendapatkan ketenangan pikiran dalam sesi latihan yoga yang membosankan, atau menghabiskan waktu berharga Anda berkumpul bersama keluarga untuk melakukan relaksasi di spa, silakan mencoba untuk memaksimalkan gerakan sholat dan menyempurnakan wudhu Anda. Jika telah merasakan sensasinya, saya yakin Anda dapat berpikir ulang untuk mengalokasikan anggaran rumah tangga untuk keperluan yang lain daripada harus menanamkannya di pusat-pusat kebugaran.

Saya tidak menganggap olahraga di pusat kebugaran itu jelek. Olahraga tetap penting, namun usaha untuk memaksimalkan tujuan demi memperoleh ketenangan batin dan jiwa, bisa juga didapatkan melalui ritual ibadah. Jadi, ibadah yang kita jalani bukan hanya semacam ritual harian yang hanya berarti sebatas ritual semata. Ada semacam filosofi yang menyisip untuk dimengerti. Pernahkan Anda bertanya, mengapa orang sholat harus ada gerakan ruku', harus ada gerakan sujud, ada gerakan berdiri, dan ada gerakan duduk? Mengapa tidak berdiri saja, atau duduk saja, atau sujud saja? Tentu saja penjelasannya tidak hanya ' ya memang sudah begitu dicontohkannya'. Namun penjelasan yang lebih masuk akal adalah karena titik-titik dalam tubuh manusia yang harus dilenturkan dan harus direlaksasi tidak hanya ada di satu bagian tubuh saja. Saya yakin ada sesuatu yang tersembunyi mengenai keajaiban gerakan di balik ritual beribadah itu bagi kesehatan. Hanya saja saya belum tahu namanya.

Ibadah dan aktivitas kehidupan memang harus bersinergi. Alam jiwa, alam pikiran, dan alam jasmani harus bersinergi demi membentuk harmoni yang seimbang. Ketidakseimbangan salah satu darinya bukan tidak mungkin akan mengakibatkan penyakit yang tidak kita inginkan keberadaannya. Namun, ketika kita merasakan suatu ketiadaan harmoni antara tubuh dan jiwa, tidak ada salahnya kita mencoba untuk sejenak merenung, menjemput obat mujarab dari balik sajadah yang terhampar. Wudhu dan sholat bisa menjadi alternatif jalan keluar. Keluar dari hiruk pikuk kepenatan batin dan membebaskannya dengan menggapai kehidupan yang merdeka dalam suatu perayaan keheningan melalui meditasi islami. Selamat mengalami.


Gambar dipinjam dari sini.

Monday, December 07, 2009

Belajar dari Menteri Keuangan RI: Sri Mulyani Indrawati

Pertama kali melihat sosoknya secara langsung adalah ketika beliau menghadiri acara wisuda kelulusan saya pada pertengahan September 2007. Waktu itu menteri yang akrab disapa Bu Ani ini memberikan orasi dan wejangan secara khusus kepada para wisudawan. Memang agak aneh menyapa beliau dengan sebutan Ibu Ani mengingat nama panggilan yang sama juga dilekatkan kepada Ibu Negara Republik Indonesia, Ibu Ani Yudhoyono. Oleh karena itu, untuk kemudahan dalam penulisan di catatan saya kali ini, kita sebut beliau dengan Ibu Sri saja.

Waktu itu, yang saya rasakan ketika melihat sosok beliau. Boleh jadi saya agak kagum dengan gaya yang beliau bawakan dalam kesempatan tersebut. Kalau saya nilai, penampilannya tidak terlalu berlebihan, dalam artian make up yang tidak terlalu tebal dan baju yang tidak terlalu mewah namun tetap memperlihatkan keeleganan tersendiri. Saya semakin yakin bahwa apa yang melekat pada diri hanya sebagai faktor penunjang dari apa yang dapat menjadi faktor penentu penilaian orang lain terhadap kita. Faktor utama dari sesuatu yang dapat memperlihatkan diri kita adalah faktor dari dalam (inner), aura yang terpancar dari kombinasi beberapa hal: kecerdasan pikiran, kesopanan dalam bertindak, dan kepatutan dalam berperilaku. Hal ini pun saya perhatikan dalam setiap kesempatan beliau menghadiri suatu acara, walaupun hanya bisa saya lihat melalui televisi atau media cetak.

Latar belakang saya menulis catatan ini adalah karena tiba-tiba saja secara tidak sengaja saya menemukan salah satu lembar koran Kompas edisi Jumat, 30 Oktober 2009. Selain itu beberapa waktu lalu saya juga membeli majalah di toko buku bekas langganan saya, yang kebetulan belum sempat saya baca. Salah satu isinya pun ada yang memuat profil beliau sebagai kandidat Menteri Keuangan yang ternyata sekarang sudah menjadi kenyataan. Di luar itu semua, saya sering mendengar nama beliau sering disebut-sebut dalam beberapa minggu terakhir berkaitan dengan Hak Angket DPR atas kasus bailout Bank Century. Namun demikian, saya menulis catatan ini bukan untuk mengintervensi atau memberi dukungan tanpa sebab. Saya menulis catatan ini sebagai suatu kekagumanseorang rakya kepada menterinya, kekaguman seorang bawahan dalam suatu manajemen organisasi suatu negara di mana saya berada di bagian paling bawah, sementara beliau menempati posisi top management di lingkungan Departemen Keuangan.


Berdasarkan pada pidato dan wejangan beliau waktu acara wisuda saya berlangsung, dan beberapa wawancara atau kesempatan beliau menyampaikan suatu hal, saya percaya bahwa beliau adalah orang yang konsisten mengenai apa yang sudah menjadi keputusan final terhadap apapun yang sudah dilaksanakan. Ketegasan beliau saat mengambil langkah untuk mereformasi Departemen Keuangan pada awal masa kepemimpinannya membuktikan bahwa beliau adalah suatu sosok yang profesional dan tegas dalam mengemban salah satu amanat reformasi yaitu berusaha untuk menyajikan suatu konsep kinerja pemerintahan yang bersih dari segala praktek KKN. Memang, langkah yang diambil ini dalam kaitannya dengan modernisasi di lingkungan Departemen Keuangan bisa jadi tidak disukai oleh beberapa pihak yang justru merasa dirugikan dengan diterapkannya sistem baru ini. Pihak-pihak yang merasa terganggu tentu saja ada dua sisi, yaitu dari sisi pegawai dalam lingkup Departemen Keuangan sendiri dan dari sisi masyarakat yang berkepentingan dalam urusan yang berkaitan dengan keuangan negara.

Orang-orang lama yang notabene terbiasa dengan sistem konvensional merasa sumber-sumber penerimaan untuk kantongnya akan menjadi kering akibat diterapkannya undang-undang baru berkaitan dengan modernisasi di lingkungan Departemen Keuangan. Pegawai-pegawai lama yang sudah terbiasa dengan sistem konvensional terutama di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai merasa bahwa langkah yang diambil Bu Sri semakin membelenggu kebebasan kinerja pegawai. Namun, untuk pegawai-pegawai yang memang dari awal ingin berkontribusi mengemban amanah untuk mengawal keuangan negara dengan semangat untuk menerima penghasilan secara halal dan layak, menganggap bahwa langkah ini adalah langkah terbaik demi menjaga keuangan negara . Selain itu pihak dari luar (masyarakat) pun terbagi menjadi dua. Orang-orang (dalam hal ini kebanyakan pengusaha) yang sudah terbiasa untuk berbisnis dengan jujur akan mendapat angin segar atas apa yang diambil oleh menteri keuangan ini. Namun sebaliknya, orang-orang yang memang maunya mengemplang dari kewajibannya seakan tertindih beban berat seakan-akan bisnisnya jadi seret kalau mengikuti aturan yang beliau canangkan ini.

Memang, dalam mengemban amanah ini, tidak serta merta akan diikuti secara serentak oleh pegawai di jajaran Departemen Keuangan sendiri. Saya yakin, oknum-oknum yang memang merasa masih punya kuasa atau mempunyai kepentingan akan tetap berusaha untuk berspekulasi dengan aturan-aturan yang ada. Entah saya juga tidak menganggapnya itu mustahil atau apa, bahwa sangat sulit untuk mengubah pola yang sudah bertahun-tahun tertanam dan terpelihara rapi di lingkungan pemerintahan di Indonesia. Namun demikian, kalau dinilai secara umum, tingkat KKN di Departemen Keuangan semasa kepemimpinan Bu Sri menjabat sebagai menterinya terbilang cukup rendah. Saya pernah dengar ada lembaga survey yang yang cukup kompeten (World Bank kalau tidak salah) mengatakan bahwa Departemen Keuangan adalah lembaga terbersih kedua di Indonesia dari praktek KKN. Penilaian yang patut diapresiasi dan tentu dievaluasi untuk kepentingan kelanjutan kebijakan reformasi di Departemen Keuangan. Sebenarnya rumus yang digunakan untuk mereformasi Departemen Keuangan sangat sederhana yaitu menerapkan sistem reward and punishment di mana setiap jajaran pegawai yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan berkontribusi mengemban tugas negara akan mendapatkan reward berupa remunerasi penghasilan yang disesuaikan dengan tingkat resiko pekerjaan sesuai dengan direktorat yang membidangi suatu masalah tertentu dalam kaitannya dengan keuangan negara. Pegawai yang melakukan penyimpangan dalam menjalankan amanat yang diberikan oleh negara akan dikenai sanksi yang setimpal dengan kesalahannya. Penyimpangan yang tergolong berat pun akan berakibat pada pemutusan hubungan kerja dengan cara tidak hormat demi menjaga kredibilitas pegawai sebagai pelayan masyarakat.

Departemen Keuangan adalah departemen di Indonesia yang pertama kali menerapkan konsep remunerasi dalam sisitem penggajian pegawainya. Sistem ini mungkin akan dijadikan contoh dan akan diterapkan oleh departemen lain yang rawan timbulnya KKN. Namun demikian, saya akan memberikan catatan sedikit agar remunerasi yang akan diberlakukan di departemen atau di instansi lain tersebut akan berhasil dilaksanakan. Yang pertama tentu saja adalah perihal rekruitmen pegawai barunya. Selama rekruitmen pegawai baru tersebut masih menggunakan cara-cara lama yaitu dengan cara KKN maka mubasir sekali menerapkan konsep remunerasi karena praktek KKN akan terus menggurita sambung-menyambung untuk terus hidup dari lini yang paling bawah sekalipun. Yang kedua adalah adanya aturan yang jelas berkaitan dengan pegawai-pegawai lama, yang menurut ya lanjut dan yang nakal langsung segera dipindahkan atau dipensiunkan dini agar orang-orang seperti itu tidak jadi 'penyakit' dalam tubuh birokrasi. Hanya orang-orang yang kompeten, berdedikasi, dan berjiwa bersih saja yang harus semakin diberi kepercayaan dalam membangun negara dengan menjadi pelayan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab dalam bekerja. Jadi, keinginan untuk menerapkan sistem administrasi modern harus diikuti dengan manajemen sumber daya manusia yang mumpuni, bukan hanya sistem penggajian saya yang semakin besar take home pay-nya.

Kembali ke soal pribadi Bu Sri, saya kira setiap pribadi yang menginginkan dirinya menjadi sosok yang kompeten, berdedikasi, dan bertanggung jawab dalam bekerja dapat mencontoh dari sepak terjang beliau. Mengutip petikan wawancara beliau dengan Kompas (30/10/2009) bahwa sebagai pembantu Presiden, visi dan rencana Menteri Keuangan tidak bisa lain akan sesuai dengan tujuan nasional yang akan ditetapkan oleh Presiden. Keuangan negara dikelola secara baik, profesional, jujur, bersih, dan akuntabel. Keuangan negara harus mengambil peranan sentral dalam memperbaiki perekonomian termasuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Reformasi birokrasi di Departemen Keuangan akan diteruskan agar seluruh jajaran menjadi kompeten dan tidak korup serta berwibawa dalam menjaga kepentingan publik secara amanah. Secara khusus juga harus ditingkatkan reformasi pajak dan reformasi bea cukai sehingga pelayanan lebih baik dan di sisi lain penerimaan negara makin tinggi. Kita juga merencanakan pengelolaan kekayaan negara , belanja negara yang tepat sasaran dan tepat waktu, serta pembiayaan termasuk utang negara makin menurun risiko dan peranannya.

Mencetak generasi yang jujur dan mempunyai kredibilitas yang tinggi dalam menjalankan amanah negara bisa berawal dari pendidikan keluarga sedini mungkin. Pribadi Bu Sri sendiri yang memang berlatar belakang keluarga pendidik (guru/dosen) mendapatkan didikan keluarga atas penanaman nilai-nilai hidup berdasarkan agama Islam (karena beragama Islam) dan budaya Jawa (kebetulan berasal dari suku Jawa). Nilai-nilai pengajaran untuk cinta tanah air, menjaga persatuan di keluarga, selalu peka secara sosial, tenggang rasa, jujur, mengikuti ilmu padi, makin berisi makin menunduk, sepi ing pamrih, jangan pernah berlebihan, sederhana, dan selalu mengasah rasio, logika, atau pikiran yang diseimbangkan dengan hati, empati, dan rasa.

Saya kira tidak berlebihan jika saya sempat agak kagum melihat nilai-nilai positif yang bisa diambil dari pribadi beliau yang brilian itu. Yang paling saya kagumi adalah kemampuannya dalam berkomunikasi dengan semua pihak. Bahasanya terang dan langsung. Beliau dapat menjelaskan perihal perekonomian dari tingkat internasional sampai kepada pemahaman orang awam.

Namun demikian, berita yang akhir-akhir ini berhembus adalah mengenai adanya ganjalan kepada beliau untuk meletakkan jabatannya sebagai Menteri Keuangan berkaitan dengan korupsi Bank Century. Saya sebagai orang yang awam tentang permasalahan perbankan tidak bisa berkomentar banyak. Saya hanya berharap jangan sampai masalah tersebut berlarut-larut tanpa ada penyelesaian yang pasti sesuai dengan aturan yang berlaku. Jangan sampai karena adanya kepentingan politik yang menguntungkan beberapa pihak, Indonesia kehilangan penjaga gawang perekonomian yang menurut majalah The Economist merupakan Menteri Keuangan terbaik di dunia. Sebagai warga masyarakat biasa, saya tetap mendukung dilaksanakannya perbaikan di semua lini dalam tubuh birokrasi pemerintahan di Indonesia.

Jika memang Bu Sri terlibat suatu kasus hukum yang memang menyimpang dari aturan yang berlaku, semoga aparat hukum melakukan tindakan hukum sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Namun, jika ternyata permasalahan tersebut digulirkan dengan hanya untuk melapangkan urusan politis jangka panjang, saya pikir Presiden harus segera turun tangan untuk memberikan perlindungan agar kepentingan negara dan kepentingan rakyat diletakkan di atas segala kepentingan politis yang mengacu pada kepentingan individu maupun beberapa kelompok saja.

Memang masih jauh perjuangan yang harus kita lakukan demi membersihkan Indonesia dari cengkeraman pelaku KKN. Oleh karena itu, kita senantiasa dituntut untuk selalu banyak-banyak belajar. Belajar ilmu kehidupan.

Gambar dipinjam dari sini.

Wednesday, December 02, 2009

Selamat Ulang Tahun

Akhirnya semua sampai ke detik ini. Perjalanan mampir minum yang kita lakukan telah menemukan ruang sempit untuk sebuah jeda. Menyadari sepenuh hati bahwa jalan yang dilalui tak selamanya mulus dan nyaman untuk dititi. Selalu saja ada belokan yang menawarkan sejumput kesenangan dan pengalaman.

Apakah ingatanmu masih terpatri bahwa pertama kali menginjak bumi, kau tak lain hanyalah makhluk fana tak berdaya. Segenap kasih dan rengkuhan cinta mengantarmu sampai di sini. Mengurai takdir yang selamanya tercatat dalam sebuah kitab keabadian.

Engkau tak pernah benar-benar sendiri sekalipun kesepian akrab dengan hembus nafasmu. Lilin merah yang menyala lembut tak segan menjadi sahabat, menyadarkanmu dari serangkaian bahak yang khilaf terlontarkan. Cahayanya menghangatkan selaksa selimut yang berjodoh dengan gigil. Mengingatkanmu bahwa hakikat kita makhluk segumpal daging hanyalah individu. Yang hanya tetap satu meski berada di sejumlah tentu.

Seperti hari ini, bertambahnya usia bukan berarti segalanya. Bahwa kau masih bagian dari renik tak berarti tak sepenuhnya kau sadari. Setiap belokan yang kau hampiri dari rangkaian lurus jalan kehidupan telah mengajarkanmu akan nikmatnya tersungkur dan manisnya sebuah kemenangan hidup. Membawamu mengalami bahwa tak selamanya dosa membuatmu merasa tersiksa. Atau membuatmu menyadari bahwa menciptakan pahala tak semudah mengumpatkan sabda.

Sampai detik ini, engkau belum lelah berlari. Engkau adalah makhluk yang komplit terdefinisi. Sekalipun pandai berkelit, pemahamanmu yang baik akan pentingnya sebuah momentum membawamu untuk menciptakan serangkaian perayaan dan segenap pesta. Meski hambar kian terasa, kekeraskepalaanmu untuk memahami semua menjemputmu ke dalam arus absurditas. Kebinasaan tanpa makna. Menyeretmu ke dalam lingkaran setan bahwa setiap waktu patut diberi penanda.

Pengetahuan yang kau anggap mewah menuntunmu dalam kesadaran bahwa beberapa hal memang tak patut untuk diketahui sekalipun penting untuk diimani. Engkau percaya bahwa sakralnya panjat doa pukul 00.00 akan menghadiahimu semacam kemudahan yang akan kau terima sampai dirimu sadar bahwa tak ada sesuatu yang benar-benar berubah sampai pukul 00.00 hadir kembali ... setahun lagi.

Engkau lelah-lelah berencana dan menciptakan serangkaian resolusi. Walau prediksimu tak pernah terikuti evaluasi, kau tetap setia merangkainya. Bahwa 'sadar' yang kau harap, tak selamanya bersinergi dengan ambisi. Kehadiranmu memang selalu menyisakan cerita yang layak diapresiasi. Apakah untuk dipuji atau dicaci. Bahwa kebersamaan yang kita jalin sampai detik ini telah melahirkan sejuta pengalaman dan kenangan yang kokoh terpatri sampai suatu saat moksa ditelan masa.

Aku mengajakmu ke sini. Menikmati setiap detik yang selalu terburu-buru berlari. Bahwa hari ini, segenap bumi tunduk di sini, menghikmati hari istimewa dengan taburan dan panjatan doa mantra. Kau saksikan aneka warna celupan manusia. Yang bernorma dan beragama, begitu juga yang bermuka dua. Semua hadir dan berkumpul di sini. Menyemarakkan hari yang tak benar-benar layak untuk dirayakan. Aku ingin mengabadikan detik ini untukmu dan (terutama) untukku sendiri. Karena detik ini, sekalipun tak banyak berarti, takkan sanggup kita hadirkan kembali.

Lilin merah yang menyala sedari tadi menghangatkan momen ini, berangsur-angsur mulai padam. Menyisakan asap hitam yang menghapus jernihnya hening. Teruslah berjanji membuat jalan ini makin berarti. Karena HIDUP yang kita lalui benar-benar layak untuk kita 'hidupi'. Karena angan yang hinggap dalam benak sangat mumpuni untuk diperjuangkan. Karena semangat yang hendak surut sudah haus untuk dinyalakan kembali. Melalui ingatan tentang hari ini. Hari penting bagi kita. Hari istimewa bagi seluruh dunia. Hari peringatan kedatangan kita ke alam fana. Mengikuti jejak-jejak Adam dan Hawa.

Selamat menikmati. Selamat menghikmati. Selamat mengalami.
'Selamat Ulang Tahun'
Untukku
Untukmu
Untuk kita

Cheers!!!


Gambar dipinjam dari sini dan dari sini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...