Membaca dan menulis sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari saya. Seperti pernah saya tulis dalam postingan saya terdahulu, membaca sudah menjadi kebutuhan hidup layaknya makan, minum, dan buang air. Sedangkan menulis saat ini, sedang menjadi hobi yang terus-menerus meminta untuk diasah. Sejak memiliki netbook, gairah untuk menulis dalam diri saya semakin meningkat. Writing is my passion. Mungkin itu ungkapan yang dapat mewakili representasi dari animo menulis yang saya alami. Saat ini saya tidak akan berbicara banyak akan kegiatan kreatif saya dalam membaca. Pertama karena sudah terlalu sering saya membahas perihal membaca. Yang kedua, karena membaca sudah seperti semacam kebutuhan, rasanya tidak perlu mendapat porsi lebih untuk membahas sesuatu yang sudah dilakukan secara periodik atau setiap hari.
Menulis bagi saya adalah semacam terapi jiwa. Entah mengapa, setelah selesai menulis, walaupun itu hanya mengisi folder curhat di netbook, rasanya ada semacam perasaan plong yang menjalar di diri ini. Pikiran seakan lepas seperti kalau kita mengungkapkan isi hati, memuntabkan amarah, atau tertawa terbahak-bahak. Menulis juga menjadi semacam alternatif untuk membunuh waktu luang. Karena keasyikan untuk menulis, rasanya saya ingin diberi tambahan deposit waktu dalam sehari agar mempunyai waktu sedikit lebih lama untuk menulis.
Dari kecil saya memang suka menulis. Walaupun tidak ada satupun anggota keluarga saya yang berprofesi sebagai penulis, pekerjaan menulis rasa-rasanya bisa saya jadikan semacam profesi sampingan dalam hidup. Saat ini saya sedang membaca buku Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang dari jilid satu sampai dengan jilid empat. Isinya adalah proses kreatif dari para penulis-penulis Indonesia yang karya-karyanya sudah diterbitkan dan mendapatkan pengakuan. Menarik sekali membaca kisah-kisah mereka dalam berproduksi untuk menghasilkan karya. Ada yang menganggap dirinya tinggi maksudnya menganggap bahwa kerja menulis atau bersastra hanyalah privilage dari orang-orang yang ngerti sastra, walaupun tidak dengan kata-kata yang langsung terus terang, namun dapat dirasakan dari diksi yang beliau pilih. Ada yang cukup rendah hati, bahwa pekerjaan menulis adalah pekerjaan biasa saja yang dapat dikerjakan oleh semua orang asalkan rajin berlatih dan terus menerus mengasah kemampuannya dalam mengolah bahasa. Saya sedikit banyak belajar dari pengalaman mereka. Terutama sekali saya suka penjelasan Pak A.A. Navis, penulis cerpen Robohnya Surau Kami karena beliau menjelaskan proses kreatifnya dengan bahasa yang lugas, sederhana, tidak bertele-tele, dan mudah dimengerti. Dan tentu saja, tulisannya tersebut tidak terlalu memberikan jarak dari pembacanya, maksudnya diksi yang beliau gunakan seakan-akan orang yang akan membaca tulisan tersebut adalah sepadan. Beliau menempatkan dirinya sebagai mitra yang sedang membagi ilmu dan pengalamannya dalam berproses kreatif untuk menulis. Saya memang belum selesai membaca ke-empat jilid buku tersebut. Sampai saat saya menulis catatan ini, saya baru sampai pada jilid ke dua. Menyenangkan sekali memang rasanya kalau kita bisa menulis.
Mengacu pada para penulis yang sepertinya menganggap tinggi dirinya setelah ‘kerja sastra’ yang dilakoninya, saya ingat perkataan Ratih Kumala, penulis buku Kronik Betawi, bahwa seseorang yang belum mumpuni, artinya belum mempunyai kerja nyata dalam dunia kepenulisan hendaknya tidak perlu menganggap tinggi dirinya seolah-olah sudah menjadi sastrawan besar. Saya setuju dengan pendapatnya. Sampai saat ini, saya memang belum menghasilkan buku. Tapi saya akan berusaha untuk mengarah ke sana. Maka dari itu, saya berusaha untuk tidak membuang-buang waktu dan tenaga saya untuk melakukan hal-hal yang tidak perlu, yang mungkin akan menghambat jalan saya dalam berproses kreatif untuk menulis. Saya sebenarnya enggan untuk memberi komentar terhadap segala tulisan teman-teman saya yang minta untuk dikomentari. Yang pertama karena kita sama-sama sedang belajar. Menurut saya, ketika kita sedang belajar menulis, dan kita bermaksud untuk menuju ke arah produksi buku, saya rasa minta komentar atau kritik saran tidak perlu terlampau penting. Karena bisa jadi alih-alih memberi semangat kepada calon penulis yang bagus, akan berpotensi juga untuk menghancurkan semangat calon penulis tersebut untuk terus menulis. Yang kedua, dalam taraf saya sekarang, saya belum mempunyai reputasi apapun di bidang kepenulisan. Apalagi sastra. Jadi, saya merasa kurang pantas untuk dimintai pendapatnya dalam menilai bagus tidaknya sebuah karya. Biasanya, saya akan memberi komentar agar calon penulis yang bersangkutan terus semangat untuk menulis.
Menulis bagi saya juga semacam pembuktian atas pencarian jati diri. Saya benar-benar ingin untuk membuktikan diri bahwa saya mampu membuat cerita yang bagus dan bermutu. Saya yakin bahwa apapun yang saya pikirkan penting untuk ditulis. Saya tidak menganggap bahwa apa yang akan saya tulis adalah sesuatu yang brilian atau berpotensi menakjubkan orang lain. Tulisan ini murni untuk diri saya sendiri. Inisiatif itu datang karena adanya keinginan untuk menuruti keegoisan dahaga pribadi untuk menulis cerita akibat serangkaian perjalanan panjang membaca dan menonton film. Ada semacam dorongan di diri ini yang mengatakan bahwa saya juga mampu melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh orang lain di belahan lain dunia.
Memang, saya ingin sekali keliling dunia. Namun, saya tidak ingin perjalanan keliling dunia tersebut hanya berupa kunjungan wisata. Ada keinginan untuk berkomunikasi lebih jauh dengan orang-orang di luar negeri, bertukar pikiran dan ide, serta menjalin tali persaudaraan sehingga kunjungan yang saya lakukan akan mempunyai cerita dan kesan tersendiri. Oleh karena itu saya belajar menulis. Saya ingin menulis cerita yang bagus, yang dapat dibaca, diapresiasi, dan dinikmati oleh semua orang di seluruh dunia sehingga hal itu memungkinkan saya untuk roadshow ke beberapa negara. Saya melihat pengalaman JK. Rowling, Stephenie Meyer, dan Christopher Paolini saat mereka keliling dunia untuk mempromosikan bukunya. Selain itu tentu saja, ada festival-festival buku yang mengundang penulis-penulis dari seluruh dunia untuk berkumpul, duduk dalam satu meja membicarakan topik-topik dalam dunia literasi. Sungguh menyenangkan bisa menikmati pengalaman menarik seperti itu.
Berbicara mengenai festival yang dapat mengumpulkan penulis-penulis dari seluruh dunia, ada satu festival di Indonesia yang mewadahinya. Festival itu bernama Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Sebuah acara tahunan pertemuan penulis dunia dengan penulis Indonesia yang diselenggarakan di Ubud, Bali atas prakarsa Janet da Neefe yang bernaung di bawah Yayasan Mudra Swari Saraswati.
Saya mengenal Janet da Neefe karena tidak sengaja melihat akun facebooknya ada di daftar teman milik teman saya. Saya baru tahu kalau Janet (panggilan akrab Janet da Neefe) adalah Direktur Eksekutif UWRF. Waktu itu saya iseng menambahkan dia sebagai teman karena melihat dia adalah seorang cewek bule Australia yang cantik dan seksi. Baru-baru ini, saya baca profilnya di Kompas (edisi Minggu 11 Oktober 2009), ternyata dia adalah dewinya Ubud, anggun sekali mengenakan kebaya Bali.
Menurut berita-berita di koran UWRF sebenarnya sama seperti acara jumpa penulis yang biasa saya datangi di Jakarta, bedanya jumpa penulisnya kebanyakan adalah penulis dari luar negeri. Tentu saja bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris. Dengan reputasi tersebut tentunya UWRF mempunyai nilai tersendiri dan menjadi mimpi sebagian penulis tanah air agar karyanya dapat dinikmati oleh publik yang lebih luas. Artinya UWRF dapat menjadi jalan bagi penulis-penulis Indonesia untuk memperkenalkan karyanya di forum international.
Walaupun UWRF bukan satu-satunya jalan, tapi saya pikir suatu saat nanti, saya ingin sekali datang ke sana. Bukan sebagai peserta, tapi sebagai panelis yang diundang untuk mempresentasikan karya saya. Memang saat itu masih jauh dan saya sudah membuangnya jauh-jauh saat sedang berproduksi seperti ini. Tapi paling tidak saya sudah menyiapkan arah dan tujuan saya melangkah. Saya yakin bahwa kerja orang yang punya rencana lebih baik daripada kerja dadakan. Dan saya menyiapkannya dari sekarang. Saya agak sedikit iri dengan orang-orang yang saya kenal telah lebih dahulu diundang ke Ubud. Kalau saya perhatikan mereka-mereka adalah orang-orang yang bekerja keras mewujudkan mimpinya. Mereka kebanyakan adalah orang-orang yang keras kepala. Tidak mendengarkan celaan orang lain yang bermaksud untuk meremehkan dan mematahkan semangat. Dan hasilnya sudah bisa nilai dari kehebatan karya-karya mereka, buah dari kebebalan mengahadapi celaan yang tak beralasan.
Ubud memang menjadi primadona tensendiri bagi para pecinta buku dan mereka-mereka yang aktif dalam dunia literasi. Ibaratnya UWRF menjadi semacam tiket bagi penulis-penulis lokal untuk go international. Banyak mimpi diharapkan dan digantungkan dari UWRF. Sepertinya penulis Indonesia kurang afdhol kalau belum diundang di Ubud.
Selain magnet UWRF, ada rahasia kecil yang ingin saya bagi mengenai kenapa saya ingin berkunjung ke Ubud. Kata teman-teman saya, di Ubud ada tempat relaksasi dan tempat yoga yang nyaman sekali. Cocok sebagai sarana self healing dan media brainstrorming. Inilah yang menyebabkan Ubud dianggap sebagai surga untuk berkesenian. Self healing merupakan sarana untuk mengharmonikan medan magnet dalam tubuh dengan jiwa (soul) seseorang. Cara ini ditempuh sebagai upaya untuk menyatukan pikiran, ketenangan jiwa, dan harmoni alam. Efeknya sungguh luar biasa. Dampak dari stres akibat kepenatan hidup bisa berangsur-angsur menurun, peredaran darah lancar, dan tentu saja pikiran menjadi jernih. Pikiran yang jernih merupakan modal utama untuk melakukan brainstorming ide. Saya menyukai gabungan kedua konsep tersebut. Rasanya harmonisasi alam pikiran dengan olah jiwa tersebut dapat membuat kita mendapatkan sesuatu dengan bekerja keras tanpa kita merasa terlalu terbebani dengan apa yang tengah kita lakukan. Sebuah paket komplit yang menyatu menjadi paduan sempurna bagi para komuters Jakarta yang setiap harinya bersinggungan dengan deadline pekerjaan dan kemacetan lalu lintas.
Begitulah, betapa menakjubkannya hubungan menulis dengan mimpi untuk ke Ubud. Suatu jalan panjang yang layak dititi dengan kesungguhan dan kerja keras demi terwujudnya mimpi. Masih banyak hal perlu dipelajari, masih banyak waktu untuk koreksi diri, masih banyak jeda untuk mengambil sikap, dan tentu saja masih banyak yang harus dipersiapkan untuk ke Ubud. Jalan menuju kemerdekaan jiwa. Melalui medium kekuatan bahasa. Keajaiban kata.
Suatu ketika diriku terdampar di padang yang luas
Kusaksikan banyak sekali manusia berkumpul
Menunggu panggilan
Aku sadar perjalanan yang kulakukan adalah sebuah penjelajahan panjang
Hanya mampir minum seteguk, dalam hari yang sudah mulai lupa kuhitung
Kusaksikan aneka rupa celupan manusia
Menanti jemputan yang belum juga datang
Mereka menari dan menanti, merayakan betapa telatnya Izroil menjemput
Segenap pesta digelar
Tak lupa tuak dan arak untuk hidangan
Sebagai upacara pembuka kenikmatan sebenarnya: berzina dengan sesama pengantri
Ada juga yang harap-harap cemas
Menghitung tasbih sambil komat-kamit berkirim sms kepada Tuhan
"Tuhan, taruh diriku di sisi-Mu"
Ada yang jungkir balik mencium debu
Membujuk Tuhan untuk mengganti rapalan mantra dan doanya dengan sejengkal surga
Lengkap dengan bidadarinya yang--konon--halal dizina
Aku juga bertanya-tanya ke mana perginya Israfil
Ribuan tahun baru berlalu dengan absen alunan terompetnya yang merdu
Tiba-tiba kudengar teriakan dan cacian dari para pengantri
Mereka minta air dan makanan untuk bekal
Karena bekal mereka telah habis tak bersisa
Arak dan tuak sudah habis dikandung badan
Zina juga sudah mulai terasa bosan, hingga kantuk menjelang
Karena hari sudah malam
Air dan makanan tak kunjung datang
Padang yang luas kelihatan gersang
Para pengantri pun kering kerontang
"Apakah ini jamuan yang Kau beri untuk umatmu, wahai Tuhanku", kata seorang pengantri yang duduk di sampingku, meratap kelaparan
"Kau suruh kami mengantri, tapi tak Kau bekali kami uang saku", kata seorang lagi, yang tadi habis berzina sambil sesekali meneguk tuak
Kepala suku pun mulai beraksi
Dia perintahkan orang-orang berpesta lagi
Merapal mantra, melantunkan doa
Membujuk hujan sembari menari seperti orang gila
Tiba-tiba saja hujan ada
Membasahi kami semua seolah membuatnya telanjang
Aku masih di padang yang sama
Menanti jemputan yang suatu saat akan datang
Ketika kuhikmati rintik hujan yang mulai reda
Kudengar ada anak kecil bergumam
"Ternyata Tuhan juga baru saja selesai berpesta"
10 November 1945 - 10 November 2009 Hari ini bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Hari ini bangsa Indonesia (merasa) bangga akan jasa-jasa para pahlawannya. Hari ini bangsa Indonesia merayakan bahwa dirinya pernah punya pahlawan. Hari ini bangsa Indonesia (sangat) membutuhkan (jiwa) pahlawan.
Perayaan dan upacara adalah satu kegiatan yang sering dilakukan saat peringatan akan suatu hari istimewa. Hari ini adalah Hari Pahlawan. Dalam satu hari, suasana haru seakan melebur dengan rasa cinta tanah air yang (sesaat) membuncah gara-gara terbawa suasana. Kalau dipikir-pikir, perlukah sebenarnya memperingati Hari Pahlawan? Apakah para pahlawan itu, yang telah berkorban jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia menginginkan dirinya dikenang dan dirayakan? Tidakkah lebih penting bahwa peringatan Hari Pahlawan itu berlangsung dalam bentuk tindakan praktis dengan memberikan pembuktian bahwa tak diperlukan gegap gempita sebuah perayaan namun cukup dengan bahu-membahu melakukan sesuatu seperti apa yang mereka lakukan sesuai dengan zaman ini.
Kalau Anda ditanya, apa sebenarnya pahlawan itu? Siapa yang berhak menyandang gelar pahlawan? Pentingkah sebenarnya menyandang gelar pahlawan? Bagi saya pribadi kata pahlawan hanyalah sebuah label sematan. Cap yang diberikan oleh orang atau kelompok orang bahwa yang bersangkutan telah berjasa. Namanya juga label, bukan tidak mungkin terjadi salah dalam memberikannya, kurang tepat dalam penyematannya, dan ada kemungkinan kurang pas saat label itu dicapkan pada orang yang bersangkutan. Banyak sekali orang yang menginginkan dirinya untuk disebut sebagai seorang pahlawan. Dan anehnya, ada beberapa orang yang sangat senang dan nyaman, seperti ada kesan menikmati, disebut sebagai pahlawan. Padahal beban berat ada di pundak orang-orang yang secara sadar menginginkan label pahlawan tersemat di namanya.
Hari pahlawan yang setiap tahun diperingati oleh bangsa Indonesia terkesan hanya seremonial saja. Sepertinya semakin ke sini, semakin terasa kalau Indonesia miskin pahlawan. Yang terjadi pada tanggal 10 November setiap tahunnya adalah upacara, pengumandangan lagu-lagu kebangsaan dan kepahlawanan, orasi tentang kebesaran jiwa pahlawan, dan tentu saja himbauan untuk meneladani jiwa kepahlawanan tanpa diikuti oleh tindakan nyata yang menyertainya dalam konteks kehidupan sehari-hari di masyarakat. Hasilnya, pulang upacara hanya capek kepanasan saja yang didapat. Tak ada yang benar-benar membekas untuk secara sadar ingin, mau, mampu, dan secara ikhlas berani menjadi dan menerima konsekuensi sebagai manusia yang berjiwa pahlawan.
Hero dan Superhero
Sesuatu yang seolah sama tapi kalau kita tinjau ulang kedua istilah tersebut sangat berbeda maknanya. Walaupun kalau kita merujuk pada artian harfiah, keduanya akan sama-sama dipahami sebagai pahlawan.
Hero adalah pahlawan. Ia melakukan tindakan nyata dan tindakannya itu bermanfaat bagi orang banyak. Artinya pengorbanan seorang hero akan dilihat oleh khalayak. Hasil jerih payahnya juga akan mendapat apresiasi dari orang-orang yang menyaksikan keheroikan dari kinerja si hero. Selalu akan ada orang-orang yang setia memberikan bantuan dan dukungan di balik punggung sang hero. Karena banyaknya hal yang dapat mengantarkan seseorang untuk menjadi hero, banyak pula bermunculan hero-hero palsu. Atau hero gadungan, orang yang kehero-heroan, dan bahkan mengherokan diri. Memang disadari bahwa hero mempunyai suatu jasa yang patut diapresiasi dan diberi penghargaan yang setimpal atas pengabdian yang diberikan. Dan jasa itu memang nyata. Artinya, khalayak dapat melihat, mendengar, dan merasakan dengan jelas atas keheroan dari seorang hero. Mungkin hampir semua dari kita pernah berperan sebagai hero ini di dalam kehidupan yang kita jalani.
Lain hero, lain pula superhero. Superhero memang pahlawan. Tapi tidak semua hero layak disebut superhero. Ada tuntutan yang mungkin sulit untuk dilepaskan oleh hero-hero di dunia ini untuk layak disebut superhero. Sama seperti hero, superhero juga melakukan tindakan nyata dan tindakannya juga bermanfaat bagi orang banyak. Tapi tidak setiap tindakan superhero mendapat apresiasi dari masyarakat. Bahkan tidak menutup kemungkinan sang superhero mendapat cacian karena tingkah polahnya dianggap berseberangan dengan kehendak suatu kelompok yang lebih mayor. Seorang superhero mau dan mampu melepaskan identitas keheroannya. Ia hanya ingin melihat orang lain menikmati hasil dari sikap heronya tanpa merasa perlu untuk mendeklarasikan siapa sebenarnya dirinya. Dan tentu saja, seorang superhero selalu berjalan sendirian. Ia tak merasa perlu untuk mendapat dukungan dahulu dari sebuah komunitas. Yang menjadi motor penggerak keheroannya hanyalah jeritan kebenaran.
Seorang superhero mau dan menerima hakikat kesendiriannya sebagai seorang superhero. Ia pandai memisahkan kehidupan pribadinya sebagai seorang 'ia' sang manusia biasa dengan kehidupan superheronya. Ia tidak hanyut terbawa arus euforia genggap gempita saat khalayak mengelu-elukan prestasinya karena masyarakat tahunya adalah ia sebagai superhero bukan sebagai ia yang manusia biasa. Tidak menutup kemungkinan bahwa saat jubah keheroannya ditanggalkan, ia akan mendapat perlakuan yang sangat tidak berkenan dari masyarakat yang telah dibelanya. Karena seorang superhero sadar satu hal: ia akan selalu berjalan sendirian. Berjuang habis-habisan untuk kemudian ditinggalkan oleh yang dibelanya.
Saya bersimpati dengan tokoh komik superhero Spiderman. Dia adalah satu-satunya superhero yang hidupnya boleh dibilang biasa-biasa saja. Tidak kaya dan tidak memaksakan diri untuk kaya dengan cara yang sangat tidak terhormat. Ia percaya pada kemampuan sendiri. Dalam urusan pekerjaan pun demikian. Ia tidak mau diterima kerja dalam suatu perusahaan hanya karena mempunyai koneksi 'orang dalam' yang bagus. Ia bersyukur atas hidup yang dimiliki dan dijalaninya.
Indonesia yang merindukan superhero
Malam kemarin saya menyempatkan diri mengunjungi studio XXI untuk menonton film District 13 Ultimatum. Film tersebut disutradarai oleh Patrick Alessandrin dan dibintangi oleh David Belle serta Cyril Raffell. Film yang sangat menarik. Saya agak sedikit terkejut karena cerita dalam film tersebut agak-agak serupa dengan apa yang tengah terjadi di bumi pertiwi. Ceritanya tentang konspirasi pembunuhan polisi oleh oknum kepolisian juga yang bertujuan untuk mengadu domba suatu komunitas kulit hitam agar daerah yang ditinggali oleh komunitas tersebut dapat dimodernisasi untuk suatu bangunan yang lebih apik.
Pikiran saya kembali melintas ke beberapa dekade silam saat saya masih duduk di bangku SD. Dulu saya sering sekali nonton film India. Film India yang sarat dengan nyanyian dan tarian itu kebanyakan juga sering menceritakan tentang kinerja aparat kepolisian yang tidak beres. Saya percaya bahwa bahasa film adalah bahasa yang mudah diadopsi oleh masyarakat banyak karena paling tidak gambaran kehidupan yang ditampilkan dalam sebuah film merepresentasikan sebagian kecil dari wajah yang memang terjadi di dunia nyata.
Merangkai tiga film tadi, saya jadi berpikir sejenak, apakah semua polisi itu jelek perilakunya? Apakah semua pegawai peradilan itu berperilaku melenceng dari aturan yang ditetapkan? Saya yakin dalam diri pribadi manusia selalu ada potensi baik dan buruk. Bagian mana yang dominan akan muncul sebagai watak dari seseorang tergantung dari kehendak yang bersangkutan dan juga pengaruh lingkungan. Walaupun saya sering mendapat kesan yang tidak baik akan kinerja kepolisian, saya percaya bahwa tidak semua polisi itu tidak profesional. Mereka berbuat begitu karena tekanan kelompok mayoritas. Dan sebagaimana lazimnya sebuah arus deras, kelompok minoritas hanya punya dua pilihan yaitu ikut arus atau tertindas.
Dan kebanyakan orang akan memilih untuk ikut arus daripada mengedepankan sisi idealismenya. Saya juga yakin hal serupa juga terjadi di hampir semua instansi pemerintahan walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa instansi di bidang hukum dan peradilan menempati urutan paling atas kekurangberesan kinerjanya.
Suatu jaring-jaring kesalahan yang terjadi berlarut-larut, perjanjian konspirasi kejahatan yang dilakukan berjamaah, dan rencana terselubung yang merugikan bangsa dan negara mau tidak mau akan berpotensi menjadi boomerang bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Inilah yang mungkin kurang disadari oleh mereka-mereka yang terlibat dalam suatu tindak pidana korupsi.
Menjadi superhero seperti yang saya deskripsikan di atas memang tidak mudah. Orang kebanyakan sudah tidak kuat ketika mengalami hidup dalam kesusahan. Sifat manusiawi dari manusia saat ini mungkin adalah 'susah melihat orang senang, dan senang melihat orang kesusahan'. Sangat susah sekali ternyata menjadi orang baik di negeri yang katanya ramah ini. Mungkin ungkapan ramah = RAjin menjaMAH tepat dilabelkan bagi manusia Indonesia yang tidak kuat menempa hidupnya menjadi orang yang baik.
Solusi terbaik dari permasalahan yang berlarut-larut dan (sepertinya) berpotensi menjadi permasalahan yang hidup terus-menerus ini adalah perlu adanya suatu langkah tegas dan destruktif terhadap jaring-jaring kejahatan nasional tersebut. Berlomba-lomba untuk menjadikan diri pribadi menjadi orang baik sebaik-baiknya. Dengan mencetak diri pribadi menjadi orang yang baik, jujur, berintegritas tinggi, dan menjunjung tinggi amanah dengan penuh tanggung jawab berarti turut andil dalam memberikan pasokan orang baik di dalam kehidupan. Yang dibutuhkan bagi bangsa sakit ini sekarang adalah memperbanyak jumlah orang baik untuk membentuk jaringan-jaringan yang profesional di bidangnya di masa mendatang. Jika dominasi orang-orang baik dan berintegritas tinggi ada di segala bidang, saya yakin tak ada konspirasi kejahatan yang ujung-ujungnya sangat mencederai kepentingan nasional.
Tidak ada salahnya untuk meneladani langkah-langkah hidup para superhero walaupun itu bukan satu-satunya cara. Akan tetapi bisa dijadikan salah satu alternatif dan juga nasihat bijak bagi orang-orang yang sekarang sedang mengemban tampuk pimpinan dalam instansi negara dan yang mewakili rakyat, bahwa beranilah untuk menjadi pahlawan, tunjukkan bahwa orasi-orasi yang didengungkan saat acara pemilihan umum menjadi dorongan yang kuat untuk mengedepankan potensi sisi baik dalam diri menuju ke arah jiwa hidup seorang superhero: memberikan kebahagian, keamanan, dan kesejahteraan kepada khalayak tanpa merasa perlu untuk mendapatkan apa-apa dari orang-orang yang dibelanya. Karena seorang manusia berjiwa superhero adalah mereka yang selalu setia dan teguh memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Bukan mereka-meraka yang berteriak lantang di garis depan layaknya seorang ksatria seolah-olah menyuarakan keadilan namun berjiwa banci saat mengalami kejahatannya terbongkar.
Percayalah, tak ada ruginya meneladani sifat dan sikap hero ataupun superhero. Menjadi orang baik.
Sendirian di Uchisar Castle
-
.: Kastil Batu Karang Uchisar 🍁🍂 :.
Sewaktu berada di bukit belakang penginapan untuk menikmati panorama *Cappadocia
*dengan balon udara yang melayang...