Monday, August 24, 2009

Tentang Nama, Tentang Cerita

Minggu. Pekerjaan rumah telah selesai. Ramadhan. Percayalah, tak banyak tanggungan yang harus dilakukan oleh remaja tanggung yang baru lulus kuliah seperti saya, di hari libur yang penuh keceriaan ini. Karena bulan puasa dan cuaca yang panas, niat untuk bersosialisasi dengan teman-teman saya urungkan. Selain karena malas keluar rumah, ada satu keinginan kuat di diri ini untuk menghindari pembicaraan tak penting dan pemborosan waktu. Saya iseng-iseng membaca majalah favorit saya waktu kuliah, Reader's Digest.

Di salah satu halaman majalah tersebut, saya menemukan salah satu kutipan dari Albert Einstein yaitu 'Hal terindah yang dapat manusia alami adalah misteri. Itu adalah sumber dari segala bentuk seni dan ilmu pengetahuan. Mereka yang tidak mengenal misteri--tidak pernah berhenti untuk mempertanyakan atau mengagumi sesuatu--berarti dia telah meninggal karena matanya telah tertutup. Mengetahui dan merasakan bahwa ada banyak hal yang tidak kita pahami adalah inti dari segala bentuk kepercayaan.' Misteri. Kata itu sendiri kadang-kadang membuat bulu kuduk berdiri. Seakan ada kesan mistis yang melingkupinya. Berkenaan dengan hal itu, saya juga percaya bahwa hidup yang kita lalui juga misteri. Tak ada yang pernah tahu secara pasti apa yang akan terjadi atau tidak terjadi di kemudian hari. Oleh karena itu manusia, tak terkecuali saya, mempunyai semacam harapan dan doa (tentu saja) untuk melewati setiap ketidakpastian menuju sebuah kebermaknaan hidup. Saya memilih hidup yang bermakna daripada hidup yang bahagia karena saya pikir kebahagiaan hidup sangat relatif parameternya, sementara hidup yang penuh makna biasanya tak jauh-jauh dari kepuasan batin. Dan tak ada yang lebih membahagiakan dalam hidup ini selain terpenuhinya kepuasan batin kita.

Di waktu luang seperti ini, tak ada teman yang mampu memuaskan batin saya selain buku. Bukannya saya antisosial, tapi seperti saya katakan tadi, saya lagi tidak ingin keluar rumah. Sejak kecil saya memang suka membaca. Saya mempunyai sebuah perpustakaan pribadi yang koleksinya selain pemberian dari ayah, saya kumpulkan dengan membeli buku dari tabungan pribadi. Setelah sekian lama kegiatan tersebut saya lakukan, sampailah saya pada satu momen di mana saya duduk diam, mematut, dan memandangi perpustakaan tersebut. Pikiran saya mulai bergerak dan bertanya-tanya. Di antara ribuan buku yang tersimpan rapi di perpustakaan itu, tak ada (atau belum ada) satupun buku yang saya tulis sendiri. Belum ada. Mungkin ada beberapa tulisan yang berjilid dan sempat memenangkan beberapa sayembara penulisan saat SMU dan kuliah. Namun, yang secara spesifik berbentuk buku dengan nama Adie Riyanto tertulis di sampulnya, belum bertengger di perpustakaan tersebut. Sebuah ironi kalau saya pikir-pikir.

Berangkat dari hal tersebut, rasa-rasanya, tak ada hal yang menyenangkan selain menulis. Ya, harapan saya saat ini, yang mempunyai daya dorong sangat kuat dan meminta untuk segera dimobilisasi adalah menjadi seorang penulis.

Sindrom JK. Rowling.

Jakarta, 31 Januari 2004. Perkenalan pertama dengan JK. Rowling. Sebenarnya buku Harry Potter sendiri sudah saya kenal saat saya masih duduk di bangku SLTP. Akan tetapi, karena ayah saya menyarankan untuk membeli buku-buku tes lulus Ebtanas dahulu daripada buku cerita, akhirnya menurutlah sang anak tercinta ini. Baru ketika euforia film Harry Potter and The Prisoner of Azkaban melanda negeri ini, bersamaan dengan serangkaian tes-tes masuk perguruan tinggi, mulailah saya mengenal Harry Potter dan 'ibunya'. Saya tidak pernah tahu pasti mengapa saya menyukai cerita Harry Potter. Mungkin ketika saya membaca ulasan, biografi tak resmi, artikel, atau apapun menyangkut karier kepenulisan dan proses kreatif dari JK. Rowling, saya menemukan semacam benang merah atau ada semacam chemistry antara kita berdua menyangkut kehidupan masa kecil. Saya senang mengumpulkan kata-kata. Saya suka menulis jawaban uraian yang panjang-panjang. Sampai saat saya lulus kuliah--seingat saya--belum pernah ada yang mengalahkan panjang jawaban uraian saya. Dan selain itu semua, saya suka membuat nama-nama. Saya menikmati saat menciptakan nama-nama tersebut. Setidaknya, sudah lebih dari 200-an nama saya ciptakan untuk cerita-cerita yang akan saya tulis.

Saya merasa ada semacam malignant imagination dari JK. Rowling yang tumbuh dalam diri saya. Mulai saat itu, perburuan segala sesuatu yang berhubungan dengan JK. Rowling dan Harry Potter pun dimulai. Karena buku-buku Harry Potter terbilang tidak murah, maka untuk menyiasatinya urusan perut pun harus ditawar. Buku-buku serial Harry Potter dan buku-buku yang berhubungan dengannya, majalah, poster, tongkat sihir, dan pernak-perniknya akhirnya hadir menciptakan semesta mungil dunia Hogwarts di rumah.

Semua itu saya lakukan atas dasar kesukaan dan keinginan untuk belajar dari kepiawaian JK. Rowling dalam menulis. Pernah suatu ketika, dalam tidur saya bermimpi diundang ke istananya JK. Rowling bersama anak-anak beruntung dari seluruh penjuru dunia. Saya diberikan buku yang isinya dapat memudahkan saya dalam menulis cerita. Pada kesempatan lain, saya juga pernah bermimpi bahwa Gilderoy Lockhard, tokoh penulis dalam buku Harry Potter and The Chamber of Secrets, menghadiahi saya sebuah pena bulu burung merak yang biasa ia gunakan untuk menandatangani buku-buku karyanya dalam berbagai kesempatan. Mungkin ini yang dimaksud Bob Proctor dalam buku The Secret karya Rhonda Byrne bahwa 'segala sesuatu yang datang ke dalam hidup Anda, ditarik oleh Anda ke dalam hidup Anda. Dan segala sesuatu itu tertarik ke Anda oleh citra-citra yang Anda pelihara dalam benak; oleh apa yang Anda pikirkan. Apapun yang berlangsung dalam benak, Anda menariknya ke diri Anda'.

Saya merasa bahwa apapun yang saya lakukan dan ke manapun saya pergi, tanpa terduga-duga, saya menemukan arti atau makna di balik kata dan nama yang dipakai JK. Rowling dalam membangun jalinan cerita Harry Potter. Saya tidak tahu apakah mimpi dan serangkaian peristiwa kebetulan tersebut terjadi karena saya kelewat obsesif dengan JK. Rowling. Yang jelas setelah mimpi tersebut, saya jadi berpikir bahwa jika Inggris mempunyai JK. Rowling dan Amerika mempunyai Christopher Paolini sebagai penulis cerita fantasi, saya berharap suatu saat Indonesia punya seorang Adie Riyanto untuk mewakilinya.

Perihal Nama (Belakang).

Sampai saat ini, saya tidak tahu apa arti nama lengkap saya. Walaupun Shakespeare berkata apalah arti sebuah nama, bagi saya nama adalah doa. Pernah suatu ketika saya bertanya kepada ayah, apakah arti nama Riyanto pada nama belakang saya. Saya tak ingat lagi apa jawaban beliau waktu itu, yang jelas nama itu berarti bagus atau baik. Setidaknya menurut pemikiran ayah saya. Akhirnya, untuk menyenangkan hati ini, dibuatlah definisi hipotetif dari nama belakang saya itu. Riyanto = Ganteng. Jadi, Adie Riyanto berarti Adie Ganteng.

Jangan mengira saya biangnya orang narsis, tapi karena saya memang tidak tahu artinya, lebih baik menciptakan situasi yang dapat menciptakan dorongan atau semangat berkarya daripada tenggelam dalam alam pikiran yang stagnan. Tak bergerak.

Seiring berjalannya waktu dan masuknya saya ke Jakarta untuk menuntut ilmu, terbentang pula akses saya ke arah bidang yang saya sukai. Buku. Film. Fotografi. Musik. Selain kuliah, saya menyibukkan diri pada kegiatan yang saya sukai tersebut. Di atas itu semua, saya mulai menyadari bahwa pada bidang-bidang yang saya sukai tersebut banyak sekali tokoh-tokoh yang (secara tidak sengaja saya ketahui) memiliki nama belakang persis dengan nama belakang saya. Sebut saja Andi Rianto (musisi), Tukul Riyanto (populer dengan nama Tukul Arwana, komedian), Garin Nugroho Riyanto (sutradara), A. Riyanto (pencipta lagu, penyanyi), dan lain-lain. Belakangan saya baru tahu kalau ternyata Mbah Surip mempunyai nama belakang Riyanto juga. Nama asli Mbah Surip adalah Urip Achmad Riyanto. Wew, blessing name. Saya tidak tahu apakah ini yang dimaksud dengan sinkronisitas dalam ranah kehidupan.

Namun begitu, saya jadi paham juga akhirnya bahwa saya terpaksa berdamai dengan diri pribadi akan kenyataan yang ada. Maaf, bukannya saya mau mengoreksi fisik seseorang, tapi dari sederet nama-nama populer di ranah hiburan tanah air yang saya sebutkan di atas, semuanya menunjukkan bahwa secara fisik jauh dari kesan ganteng. Jadi, definisi hipotetif bahwa Riyanto = Ganteng terpatahkan dengan sebuah studi empiris kecil-kecilan. Tak usah tertawa. Karena saya pun tidak. Karena memang tak ada yang perlu ditertawakan.

Selain kesadaran akan definisi nama belakang tersebut di atas, saya juga menyadari satu hal. Belum ada nama penulis di Indonesia dengan nama belakang Riyanto (seingat saya lho). Garin Nugroho memang saya ketahui pernah menulis beberapa buku, tapi Garin lebih tersohor sebagai sutradara film daripada sebagai penulis. Buku-buku yang ditulis Garin pun berupa buku non-fiksi. Bukan fiksi. Jadi, kalau hipotesis saya kali ini benar, maka belum ada penulis di Indonesia yang mempunyai nama belakang Riyanto.

Oleh karena itu, sama seperti pendapat Albert Einstein di awal tulisan ini, bahwa hidup itu penuh dengan misteri, maka tak ada yang tahu juga kalau suatu saat nama Adie Riyanto ikut hadir dan berjajar dengan Riyanto-Riyanto populer di atas sebagai seorang penulis kenamaan. Menerima kenyataan tersebut, saya hanya ketawa-ketawa sendiri dalam hati dan bersyukur bahwa waktu berbuka puasa sudah hampir tiba. Alhamdulillah.


Lucky me
Cheers to everyone ;=)


~Adie Riyanto~

Tuesday, August 18, 2009

Membaca: Dari Hobi Menjadi Kebutuhan


Hari Sabtu kemarin, tanggal 15 Agustus 2009, saya iseng-iseng memperbarui status Facebook. Saya menulis bahwa pada saat itu saya sedang membaca buku Arok Dedes karangan Pramoedya Ananta Toer. Beberapa saat kemudian beberapa komentar bermunculan menanyakan perihal kebiasaan saya dalam membaca. Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa kalau kita memperbincangkan mengenai kegiatan membaca. Begitu pun, tak ada yang spesial menyangkut diri saya dalam kaitannya dengan membaca.

Saya tak tahu pasti apa yang membuat saya suka membaca. Keinginan itu seperti sebuah keinginan yang tiba-tiba muncul. Konsep tiba-tiba yang seakan-akan menimbulkan dorongan yang kuat inilah kadang-kadang yang sering mengejutkan diri saya sendiri untuk membaca. Tak ada paksaan atau intervensi dari pihak manapun layaknya sebuah pelaksanaan suatu kewajiban. Pun juga, tak ada hadiah atau penghargaan apapun yang siap menanti setelah sebuah buku selesai dibaca. Tak ada. Bisa dibilang, kegiatan membaca yang saya lakukan merupakan kegiatan personal yang telah memberikan semacam morfin dalam menjalani hari-hari ini.

Apakah kebiasaan membaca bisa ditumbuhkan? Saya kira semua kegiatan, baik itu baik untuk dilakukan maupun jelek sehingga harus ditinggalkan mempunyai potensi menjadi sikap hidup jika terjadi repetisi tanpa kita sadari. Orang yang biasa berbohong, selalu melakukan pengulangan-pengulangan atas kebiasaannya berbohong. Orang yang senang bergosip, sehingga setiap saat selalu tak lepas dari kegiatan menggosip, lama-kelamaan akan menjadi orang yang ahli gosip. Begitu pula dengan kegiatan membaca. Kebiasaan membaca bisa diinjeksikan kepada orang yang tidak suka membaca melalui perilaku-perilaku yang mendorong ke arah sikap sadar baca.

Untuk memulainya memang agak berat. Apalagi 'media' penginjeksian ini adalah orang dewasa yang notabene semakin banyak godaan untuk melakukan hal lain yang mungkin lebih menarik daripada membelai lembaran-lembaran kertas. Namun bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Yang diperlukan di sini adalah perihal sikap 'kecenderungan' dalam membaca. Kecenderungan membaca di sini maksudnya adalah menghimpun semua energi dan daya upaya untuk memberikan perhatian khusus terhadap kegiatan membaca. Kecenderungan membaca sendiri dapat ditumbuhkan dengan keteraturan. Hal ini bisa dilakukan dengan menyediakan waktu setiap hari untuk membaca. Untuk awal-awal dalam menumbuhkan minat baca, tak perlu waktu yang lama atau bacaan yang berat demi terciptanya keteraturan. Namun lebih kepada pendisiplinan diri untuk secara ajeg dan rutin melaksanakan kegiatan tersebut. Pilih waktu yang tepat dan tempat yang nyaman serta jauh dari jangkauan segala sesuatu yang dapat mengalihkan perhatian dari kegiatan membaca.

Apabila keteraturan itu juga sulit untuk dilaksanakan, hal yang perlu diambil adalah 'pemaksaan diri'. Pemaksaan diri di sini tentunya dalam arti yang positif karena pada dasarnya sesuatu yang lahir dari keterpaksaan akan membawa dampak pada keprematuran hasil. Misalnya begini, kondisikan bahwa 'jika saya tidak membaca hari ini, saya harus melakukan sesuatu yang sangat saya benci'. Bentuknya bisa bervariasi namun intinya adalah memberikan semacam hukuman bagi diri pribadi atas pelanggaran komitmen yang telah dibuat sendiri.

Selanjutnya memang tak ada hasil jika tak ada perbuatan. Hal yang paling penting dari ini semua adalah membaca itu sendiri. Hal-hal yang saya tulis di atas hanya semacam katalis atau jembatan menuju ke arah kebiasaan membaca.

Di atas itu semua, kebiasaan membaca bisa tumbuh jika diawali dengan niat yang baik. Sesuatu yang baik harus diawali dengan niat yang tulus, tanpa tendensi apapun, dan tanpa harapan untuk dipuji atau diberi penghargaan. Selain itu kebiasaan membaca juga bisa tumbuh manakala buku yang kita baca adalah hasil dari membeli sendiri, bukan buku pinjaman karena ketika kita menyadari bahwa buku yang kita beli tidak murah harganya, kita akan merasa sayang apabila buku tersebut hanya tersimpan rapi di almari. Mungkin ini juga yang membuat saya terdorong untuk menjadikan membaca sebagai sebuah kebutuhan hidup layaknya makan, minum, dan buang air. Dan juga kata-kata Joseph Brodsky selalu terpatri dalam benak saya bahwa 'kejahatan yang lebih buruk dari membakar buku ialah tidak membacanya'. Selamat membaca. ;=)


* Gambar diambil dari sini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...